PENGARUH KARAKTERISTIK INDIVIDU DAN MOTIVASI TERHADAP KEPATUHAN DOKTER DALAM MENULIS RESEP OBAT GENERIK
PADA PASIEN UMUM RAWAT JALAN DI RUMAH SAKIT HAJI MEDAN TAHUN 2013
TESIS
Oleh
RATNA DEWI 117032033/IKM
PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
PENGARUH KARAKTERISTIK INDIVIDU DAN MOTIVASI TERHADAP KEPATUHAN DOKTER DALAM MENULIS RESEP OBAT GENERIK
PADA PASIEN UMUM RAWAT JALAN DI RUMAH SAKIT HAJI MEDAN TAHUN 2013
TESIS
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Kesehatan (M. Kes) dalam Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat
Minat Studi Administrasi dan Kebijakan Kesehatan pada Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Sumatera Utara
Oleh
RATNA DEWI 117032033/IKM
PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2013
Judul Tesis : PENGARUH KARAKTERISTIK INDIVIDU DAN MOTIVASI TERHADAP KEPATUHAN DOKTER DALAM MENULIS RESEP OBAT
GENERIK PADA PASIEN UMUM RAWAT JALAN DI RUMAH SAKIT HAJI MEDAN TAHUN 2013
Nama Mahasiswa : Ratna Dewi Nomor Induk Mahasiswa : 117032033
Program Studi : S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat
Minat Studi : Administrasi dan Kebijakan Kesehatan
Menyetujui Komisi Pembimbing
(Dr. Dra. Sitti Raha Agoes Salim, M.Sc) (dr. Heldy BZ, M.P.H) Ketua Anggota
Dekan
(Dr. Drs. Surya Utama, M.S)
Tanggal Lulus : 2 Juli 2013
Telah diuji
pada Tanggal : 2 Juli 2013
PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua :Dr. Dra. Sitti Raha Agoes Salim, M.Sc Anggota : 1. dr. Heldy BZ, M.P.H
2. Siti Khadijah Nasution, S.K.M., M.Kes 3. dr. Taufik Ashar, M.K.M
PERNYATAAN
PENGARUH KARAKTERISTIK INDIVIDU DAN MOTIVASI TERHADAP KEPATUHAN DOKTER DALAM MENULIS RESEP OBAT GENERIK
PADA PASIEN UMUM RAWAT JALAN DI RUMAH SAKIT HAJI MEDAN TAHUN 2013
TESIS
Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.
Medan, Juli 2013
Ratna Dewi 117032033/IKM
ABSTRAK
Obat merupakan salah satu komponen yang tak tergantikan dalam pelayanan kesehatan dan merupakan komponen terbesar dalam pembiayaan kesehatan.
Penggunaan obat yang rasional merupakan persyaratan yang harus diikuti dalam pemberian pengobatan. Penggunaan obat dikatakan rasional bila pasien menerima obat yang sesuai dengan kebutuhannya, untuk periode waktu yang cukup dan dengan harga atau biaya yang paling murah bagi pasien. Salah satu indikator untuk mengukur capaian keberhasilan upaya peningkatan penggunaan obat rasional adalah indikator peresepan yaitu persentase peresepan obat dengan nama generik.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh karakteristik individu dan motivasi terhadap kepatuhan dokter dalam menulis resep obat generik pada pasien umum rawat jalan di Rumah Sakit Haji Medan. Jenis penelitian adalah survei atau explanatory research. Populasi adalah seluruh dokter (dokter gigi dan dokter spesialis) di Rumah Sakit Haji Medan yang aktif dalam peresepan obat terhadap pasien umum rawat jalan berjumlah 30 dokter dan seluruh populasi dijadikan sampel.
Analisis bivariat menggunakan uji Chi-Square dan analisis multivariat menggunakan uji regresi logistik ganda.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh motivasi intrinsik k (p = 0,010 ; PR = 3,063) dan motivasi ekstrinsik (p = 0,027 ; PR = 2,676) terhadap kepatuhan dokter dalam menulis resep obat generik pada pasien umum rawat jalan.
Variabel yang paling berpengaruh terhadap kepatuhan dokter dalam menulis resep obat generik adalah motivasi intrinsik dengan nilai koefisien B = 3,153.
Disarankan kepada Manajemen Rumah Sakit Haji Medan perlu melakukan penyegaran kembali atau mengingatkan kembali para dokter untuk melaksanakan program pemerintah penggunaan obat generik, mensosialisasikan obat generik serta melakukan evaluasi pelaksanaan penulisan resep obat generik dan memberikan penghargaan dan sanksi yang jelas dan tegas bagi dokter terkait dengan penulisan resep obat generik.
Kata Kunci : Kepatuhan, Motivasi, Karakteristik Individu, Obat Generik
ABSTRACT
Medicine is one of the components which cannot be altered in health service and the biggest component in health cost. The rational use of medicine constitutes the requirements which must be obeyed in giving medication. The use of medicine can be said rational when the medicine received by patients is in accordance with what they need, with the appropriate time, and with reasonable price. One of the indicators to measure the achievement to increase the rational use of medicine is ‘perespar’ (the percentage of medicine prescription which is called generic.
The aim of the research was to analyze the influence of individual characteristics and motivation on doctors’ compliance in writing generic medicine prescriptions for outpatients at RS Haji Medan. The type of the research was a survey or explanatory research. The population was 30 doctors (dentists and other specialists) at RS Haji Medan, who had the authority to write prescriptions for outpatients, and all of them were used as the samples. The data were analyzed by using bivariate analysis with chi-square test, and with multiple logistic regression test.
The result of the research showed that there was the influence of intrinsic motivation (p = 0.010 ; PR = 3.063) and extrinsic motivation (p = 0.027; PR = 2.676) on doctors’ compliance in writing generic medicine prescriptions for the outpatients. The variable which mostly influenced doctors’ compliance in writing generic medicine prescriptions was intrinsic motivation with coefficient value of β = 3.153.
It is recommended that the Management of RS Haji Medan, should revitalize or remind the doctors to implement the government program in using generic medicine, evaluate the implementation of writing generic medicine prescriptions, and give transparent and firm reward and punishment to doctors who are involved in writing generic medicine prescriptions
Keywords: Compliance, Motivation, Individual Characteristics, Generic Medicine
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT atas seluruh berkat dan anugerahNya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan menyusun tesis ini dengan judul “Pengaruh Karakteristik Individu dan Motivasi terhadap Kepatuhan Dokter dalam Menulis Resep Obat Generik pada Pasien Umum Rawat Jalan di Rumah Sakit Haji Medan Tahun 2013”.
Penulisan tesis ini adalah merupakan salah satu syarat akademik untuk menyelesaikan pendidikan Program Studi Strata 2 Ilmu Kesehatan Masyarakat dengan Minat Studi Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
Dalam menyusun tesis ini, penulis mendapat bimbingan, petunjuk, dorongan, dan bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu, pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada :
1. Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H, M.Sc (CTM), Sp.A (K) selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.
2. Dr. Drs. Surya Utama, M.S selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan kesempatan menjadi mahasiswa Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
3. Prof. Dr. Dra. Ida Yustina, M.Si selaku Ketua Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara
4. Dr. Ir. Evawany Aritonang, M.Si selaku Sekretaris Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara
5. Dr. Dra. Sitti Raha Agoes Salim, M.Sc selaku Ketua Komisi Pembimbing dan dr.
Heldy BZ, M.P.H selaku anggota komisi pembimbing yang telah meluangkan waktu dengan penuh perhatian dan kesabaran untuk membimbing, mengarahkan penulis mulai dari pembuatan proposal hingga penulisan tesis ini selesai.
6. Siti Khadijah Nasution, SKM., M.Kes dan dr. Taufik Ashar, MKM selaku Komisi Penguji Tesis yang telah meluangkan waktu dengan penuh perhatian dan kesabaran untuk membimbing, mengarahkan penulis mulai dari pembuatan proposal hingga penulisan tesis ini selesai.
7. dr. Diah Retno Wilakskusuma Ningtyas Direktur Rumah Sakit Haji Medan yang telah memberikan izin kepada penulis untuk melakukan penelitian di Rumah Sakit Haji Medan.
8. Drs. H. Rahudman Harahap, M.M Walikota Medan dan jajarannya yang telah berkenan memberikan kesempatan kepada penulis untuk melanjutkan pendidikan sekaligus memberikan izin belajar pada Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
9. Kepala Dinas Kesehatan Kota Medan Drg. Hj. Usma Polita Nasution, M. Kes yang telah memberikan kesempatan dan kemudahan kepada penulis untuk melanjutkan pendidikan pada Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
10. Seluruh dosen dan staf di lingkungan Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
11. Terima kasih yang tulus dan ikhlas kepada kedua orang tua penulis, Ayahanda Marjanis dan Ibunda Syamsidar atas segala jasanya, dukungan dan doa yang tiada hentinya sehingga penulis mendapat pendidikan terbaik.
12. Teristimewa buat suami tercinta Drg. Andri Tino Sanubari yang penuh pengertian, kesabaran, pengorbanan dan doa serta rasa cinta yang dalam, setia menunggu, memotivasi dan memberikan dukungan moril agar penulis bisa menyelesaikan pendidikan ini tepat waktu.
13. Seluruh rekan-rekan di Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Studi Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan dukungan dalam menyelesaikan tesis ini.
Akhir kata penulis menyadari atas segala keterbatasan, untuk itu saran dan kritik yang membangun sangat penulis harapkan demi kesempurnaan tesis ini dengan
harapan semoga tesis ini bermanfaat bagi pengambil kebijakan di bidang kesehatan, dan pengembangan ilmu pengetahuan bagi penelitian selanjutnya.
Medan, Juli 2013 Penulis
Ratna Dewi 117032033/IKM
RIWAYAT HIDUP
Ratna Dewi lahir di Kota Medan pada tanggal 27 Januari Tahun 1982, anak kedua dari lima bersaudara dari pasangan Ayahanda Marjanis dan Ibunda Syamsidar.
Pendidikan formal penulis, dimulai dari pendidikan sekolah dasar di Sekolah Dasar Negeri No. 060898 Medan selesai Tahun 1994, Sekolah Menengah Pertama (SMP) di SMP Swasta Al-Ulum Medan selesai Tahun 1997, Sekolah Menengah Atas (SMA) di SMA Negeri 1 Medan selesai tahun 2000, dan melanjutkan ke Perguruan Tinggi di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) jurusan Farmasi Universitas Sumatera Utara selesai tahun 2004, selanjutnya melanjutkan ke Pendidikan Profesi Apoteker Universitas Sumatera Utara, selesai tahun 2006.
Mulai bekerja sebagai Apoteker di Dinas Kesehatan Kota Pematangsiantar pada tahun 2006 sampai tahun 2009, selanjutnya bertugas di Dinas Kesehatan Kota Medan sampai sekarang.
Pada tanggal 7 Juli tahun 2007, penulis menikah dengan Drg. Andri Tino Sanubari anak pertama dari dua bersaudara dari pasangan Bapak Alm. Suarno dengan Ibu Almh. Nurbaiti.
Tahun 2011 penulis mengikuti pendidikan lanjutan di Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Studi Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara dan menyelesaikan studi pada tahun 2013.
DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK ... i
ABSTRACT ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
RIWAYAT HIDUP ... vii
DAFTAR ISI ... viii
DAFTAR TABEL... xi
DAFTAR GAMBAR ... xiii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiv
BAB 1. PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Permasalahan ... 9
1.3 Tujuan Penelitian ... 9
1.4 Hipotesis ... ...10
1.5 Manfaat Penelitian ... 10
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ... 11
2.1 Motivasi ... 11
2.1.1 Pengertian Motivasi ... 11
2.1.2 Teori Motivasi ... 12
2.1.3 Faktor-faktor yang Memengaruhi Motivasi ... 18
2.1.4 Perangsang Motivasi ... 21
2.1.5 Manfaat Motivasi ... 21
2.2 Karakteristik Individu ... 22
2.3 Kepatuhan ... 24
2.3 Dokter ... 25
2.4.1 Profesi Dokter ... 25
2.4.2 Hak Dokter ... 27
2.4.3 Kewajiban Dokter ... 27
2.4.4 Obat ... 28
2.4.4.1 Obat Generik ... 30
2.4.4.2 Kebijakan Obat Generik ... 31
2.4.4.3 Peraturan Menteri Kesehatan RI No. HK.02.02/ Menkes/068/I/2010 tentang Kewajiban Menggunakan Obat Generik di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Pemerintah ... 32
2.4.5 Resep ... 34
2.4.5.1 Pengertian Resep ... 34
2.4.5.2 Penulisan Resep ... 34
2.5 Landasan Teori ... 37
2.6 Kerangka Konsep ... 39
BAB 3. METODE PENELITIAN ... 41
3.1 Jenis Penelitian ... 41
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 41
3.3 Populasi dan Sampel ... 41
3.4 Metode Pengumpulan Data ... 41
3.4.1 Pengumpulan Data ... 41
3.4.2 Uji Validitas dan Reliabilitas ... 42
3.5 Variabel dan Definisi Operasional ... 47
3.5.1 Variabel Dependen ... 47
3.5.2 Variabel Independen ... 47
3.6 Metode Pengukuran ... 50
3.6.1 Metode Pengukuran Variabel Dependen ... 50
3.6.2 Metode Pengukuran Variabel Independen ... 51
3.7 Metode Analisis Data ... 52
BAB 4. HASIL PENELITIAN ... 54
4.1 Deskripsi Lokasi Penelitian ... 54
4.1.1 Sejarah RS. Haji Medan ... 54
4.1.2 Visi dan Misi RS. Haji Medan ... 55
4.2 Analisis Univariat ... 56
4.2.1 Karakteristik Responden ... 56
4.2.2 Motivasi Intrinsik ... 57
4.2.3 Motivasi Ekstrinsik ... 61
4.2.4 Kepatuhan ... 66
4.3 Hubungan Karakteristik Responden dengan Kepatuhan Dokter dalam Menulis Resep Obat Generik pada Pasien Umum Rawat Jalan di Rumah Sakit Haji Medan Tahun 2013 ... 69
4.4 Hubungan Motivasi Intrinsik Responden dengan Kepatuhan Dokter dalam Menulis Resep Obat Generik pada Pasien Umum Rawat Jalan di Rumah Sakit Haji Medan Tahun 2013 ... 71
4.5 Hubungan Motivasi Ekstrinsik Responden dengan Kepatuhan Dokter dalam Menulis Resep Obat Generik pada Pasien Umum Rawat Jalan di Rumah Sakit Haji Medan Tahun 2013 ... 72
4.6 Analisis Multivariat ... 73
BAB 5. PEMBAHASAN ... 77
5.1 Karakteristik Individu ... 77
5.2 Faktor Motivasi Intrinsik ... 79
5.2.1 Motivasi Intrinsik Indikator Pekerjaan itu Sendiri ... 56
5.2.2 Motivasi Intrinsik Indikator Tanggung Jawab ... 81
5.2.3 Motivasi Intrinsik Indikator Prestasi yang Diraih ... 82
5.2.4 Motivasi Intrinsik Indikator Pengakuan Orang Lain ... 83
5.3 Faktor Motivasi Ekstrinsik ... 84
5.3.1 Motivasi Ekstrinsik Indikator Prosedur Kerja ... 84
5.3.2 Motivasi Ekstrinsik Indikator Imbalan ... 85
5.3.3 Motivasi Ekstrinsik Indikator Kondisi Kerja ... 86
5.3.4 Motivasi Ekstrinsik Indikator Hubungan Kerja ... 88
5.4 Kepatuhan ... 89
5.5 Pengaruh Motivasi Intrinsik terhadap Kepatuhan Dokter dalam Menulis Resep Obat Generik di Rumah Sakit Haji Medan Tahun 2013 ... 90
5.6 Pengaruh Motivasi Ekstrinsik terhadap Kepatuhan Dokter dalam Menulis Resep Obat Generik di Rumah Sakit Haji Medan Tahun 2013 ... 92
BAB 6. KESIMPULAN DAN SARAN ... 95
6.1 Kesimpulan ... 95
6.2 Saran ... 96
DAFTAR PUSTAKA ... 98 LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Nomor Judul Halaman
1.1 Peresepan Obat Generik Pada Pasien Umum yang Dilayani Pada
Bulan Juli s/d September 2012 ... 6
3.1 Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Pekerjaan itu Sendiri ... 43
3.2 Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Tanggung Jawab ... 43
3.3 Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Prestasi yang Diraih ... 44
3.4 Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Pengakuan Orang Lain ... 44
3.5 Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Prosedur Kerja ... 45
3.6 Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Imbalan ... 45
3.7 Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Kondisi Kerja ... 46
3.8 Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Hubungan Kerja ... 46
3.9 Pengukuran Variabel Dependen ... 50
3.10 Pengukuran Variabel Independen ... 51
4.1 Jumlah Dokter Praktek di RS. Haji Medan ... 55
4.2 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden pada Pasien Umum Rawat Jalan di RS. Haji Medan Tahun 2013 ... 56
4.3 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Motivasi Intrinsik dalam Menulis Resep Obat Generik pada Pasien Umum Rawat Jalan di RS. Haji Medan tahun 2013 ... 57
4.4 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Jawaban Pertanyaan Motivasi Intrinsik dalam Menulis Resep Obat Generik pada Pasien Umum Rawat Jalan di RS. Haji Medan Tahun 2013 ... 59
4.5 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Motivasi Ekstrinsik dalam Menulis Resep Obat Generik pada Pasien
Umum Rawat Jalan di RS. Haji Medan Tahun 2013 ... 62 4.6 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Jawaban
Pernyataan Motivasi Ekstrinsik dalam Menulis Resep Obat Generik pada Pasien Umum Rawat Jalan di RS. Haji Medan
Tahun 2013 ... 63 4.7 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Kepatuhan
dalam Menulis Resep Obat Generik pada Pasien Umum Rawat
Jalan di RS. Haji Medan Tahun 2013 ... 66 4.8 Kepatuhan Dokter Berdasarkan Jenis Spesialisasi dalam
Menulis Resep Obat Generik pada Pasien Umum Rawat
Jalan di RS. Haji Medan Tahun 2013 ... 67 4.9 Persentase Kepatuhan Dokter Berdasarkan Jenis Spesialisasi
dalam Menulis Resep Obat Generik pada Pasien Umum Rawat
Jalan di RS. Haji Medan Tahun 2013 ... 68 4.10 Hubungan Variabel Karakteristik Responden dengan Kepatuhan
Dokter dalam Menulis Resep Obat Generik pada Pasien Umum
Rawat Jalan di RS. Haji Medan Tahun 2013 ... 71 4.11 Hubungan Variabel Motivasi Intrinsik dengan Kepatuhan
Dokter dalam Menulis Resep Obat Generik pada Pasien Umum Rawat Jalan di RS. Haji Medan Tahun 2013 ... 72 4.12 Hubungan Variabel Motivasi Ekstrinsik dengan Kepatuhan
Dokter dalam Menulis Resep Obat Generik pada Pasien Umum Rawat Jalan di RS. Haji Medan Tahun 2013 ... 73 4.13 Pengaruh Variabel Motivasi terhadap Kepatuhan Dokter dalam Menulis Resep Obat Generik pada Pasien Umum Rawat Jalan di RS. Haji Medan Tahun 2013 ... 74 4.14 Nilai Probabilitas ... 76
DAFTAR GAMBAR
Nomor Judul Halaman
2.1 Kerangka Teori Penelitian... 38 2.2 Kerangka Konsep Penelitian ... 39
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Judul Halaman
1. Kuesioner Penelitian ... 102
2. Master Data Penelitian ... 110
3. Hasil Uji Validitas dan Reabilitas ... 114
4. Hasil Uji Statistik ... 125
5. Dokumentasi Penelitian... 151
6. Surat Izin Penelitian ... 153
7. Surat Keterangan Selesai Penelitian ... 154
ABSTRAK
Obat merupakan salah satu komponen yang tak tergantikan dalam pelayanan kesehatan dan merupakan komponen terbesar dalam pembiayaan kesehatan.
Penggunaan obat yang rasional merupakan persyaratan yang harus diikuti dalam pemberian pengobatan. Penggunaan obat dikatakan rasional bila pasien menerima obat yang sesuai dengan kebutuhannya, untuk periode waktu yang cukup dan dengan harga atau biaya yang paling murah bagi pasien. Salah satu indikator untuk mengukur capaian keberhasilan upaya peningkatan penggunaan obat rasional adalah indikator peresepan yaitu persentase peresepan obat dengan nama generik.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh karakteristik individu dan motivasi terhadap kepatuhan dokter dalam menulis resep obat generik pada pasien umum rawat jalan di Rumah Sakit Haji Medan. Jenis penelitian adalah survei atau explanatory research. Populasi adalah seluruh dokter (dokter gigi dan dokter spesialis) di Rumah Sakit Haji Medan yang aktif dalam peresepan obat terhadap pasien umum rawat jalan berjumlah 30 dokter dan seluruh populasi dijadikan sampel.
Analisis bivariat menggunakan uji Chi-Square dan analisis multivariat menggunakan uji regresi logistik ganda.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh motivasi intrinsik k (p = 0,010 ; PR = 3,063) dan motivasi ekstrinsik (p = 0,027 ; PR = 2,676) terhadap kepatuhan dokter dalam menulis resep obat generik pada pasien umum rawat jalan.
Variabel yang paling berpengaruh terhadap kepatuhan dokter dalam menulis resep obat generik adalah motivasi intrinsik dengan nilai koefisien B = 3,153.
Disarankan kepada Manajemen Rumah Sakit Haji Medan perlu melakukan penyegaran kembali atau mengingatkan kembali para dokter untuk melaksanakan program pemerintah penggunaan obat generik, mensosialisasikan obat generik serta melakukan evaluasi pelaksanaan penulisan resep obat generik dan memberikan penghargaan dan sanksi yang jelas dan tegas bagi dokter terkait dengan penulisan resep obat generik.
Kata Kunci : Kepatuhan, Motivasi, Karakteristik Individu, Obat Generik
ABSTRACT
Medicine is one of the components which cannot be altered in health service and the biggest component in health cost. The rational use of medicine constitutes the requirements which must be obeyed in giving medication. The use of medicine can be said rational when the medicine received by patients is in accordance with what they need, with the appropriate time, and with reasonable price. One of the indicators to measure the achievement to increase the rational use of medicine is ‘perespar’ (the percentage of medicine prescription which is called generic.
The aim of the research was to analyze the influence of individual characteristics and motivation on doctors’ compliance in writing generic medicine prescriptions for outpatients at RS Haji Medan. The type of the research was a survey or explanatory research. The population was 30 doctors (dentists and other specialists) at RS Haji Medan, who had the authority to write prescriptions for outpatients, and all of them were used as the samples. The data were analyzed by using bivariate analysis with chi-square test, and with multiple logistic regression test.
The result of the research showed that there was the influence of intrinsic motivation (p = 0.010 ; PR = 3.063) and extrinsic motivation (p = 0.027; PR = 2.676) on doctors’ compliance in writing generic medicine prescriptions for the outpatients. The variable which mostly influenced doctors’ compliance in writing generic medicine prescriptions was intrinsic motivation with coefficient value of β = 3.153.
It is recommended that the Management of RS Haji Medan, should revitalize or remind the doctors to implement the government program in using generic medicine, evaluate the implementation of writing generic medicine prescriptions, and give transparent and firm reward and punishment to doctors who are involved in writing generic medicine prescriptions
Keywords: Compliance, Motivation, Individual Characteristics, Generic Medicine
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kesehatan merupakan hak azasi manusia dan setiap penduduk berhak mendapatkan pelayanan kesehatan yang optimal sesuai dengan kebutuhannya tanpa memandang kemampuannya membayar. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan menyatakan bahwa kesehatan merupakan hak asasi manusia dan salah satu unsur kesejahteraan yang harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pancasila dan Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Untuk itu pemerintah bersifat wajib menyelenggarakan pemenuhan hak dasar perlindungan kesehatan masyarakat dalam meningkatkan status kesehatannya melalui institusi penyelenggara pelayaanan kesehatan.
Salah satu institusi penyelenggara pelayanaan kesehatan adalah rumah sakit.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit menyatakan bahwa rumah sakit merupakan institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yaitu pelayanan kesehatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan dan gawat darurat. Selanjutnya, hampir seluruh kegiatan pelayanan kesehatan di rumah sakit tidak terlepas dari pelayanan obat-obatan.
Obat merupakan salah satu komponen yang tak tergantikan dalam pelayanan kesehatan dan merupakan komponen terbesar dalam pembiayaan kesehatan yaitu mencapai hingga 70 % (Kemenkes RI, 2010). Dalam pelayanan kesehatan, ketersediaan obat dalam jenis yang lengkap, jumlah yang cukup, terjamin khasiatnya, aman, efektif dan bermutu, dengan harga terjangkau adalah sasaran yang harus dicapai.
Penggunaan obat yang rasional merupakan persyaratan yang harus diikuti dalam pemberian pengobatan. Menurut WHO (1985) penggunaan obat dikatakan rasional bila pasien menerima obat yang sesuai dengan kebutuhannya, untuk periode waktu yang cukup dan dengan harga atau biaya yang paling murah bagi pasien.
Dalam hal peresepan obat oleh dokter, masih ditemukan peresepan obat yang tidak rasional seperti peresepan obat tanpa indikasi yang jelas, penentuan dosis, cara dan lama pemberian yang keliru, serta peresepan obat yang mahal. Hal ini merupakan masalah yang harus mendapatkan perhatian yang lebih serius dalam pelayanan kesehatan karena dapat menimbulkan dampak negatif bagi pasien yang dapat berupa dampak klinik (efek samping dan resistensi kuman) dan juga dampak ekonomi (biaya tidak terjangkau) (Kemenkes RI, 2011).
Untuk melakukan monitoring dan evaluasi penggunaan obat rasional, WHO menyusun indikator yang menjadi acuan dalam melakukan pengukuran capaian keberhasilan upaya dalam meningkatkan penggunaan obat yang rasional. Salah satu
indikator tersebut adalah indikator peresepan yaitu persentase peresepan obat dengan nama generik (Kemenkes RI, 2011).
Obat umumnya di produksi dan dipasarkan dengan menggunakan merk dagang (brand name) yaitu nama yang menjadi milik produsen obat yang bersangkutan. Disamping itu obat dapat pula di produksi dengan nama generik yaitu obat yang menggunakan nama sesuai dengan nama zat berkhasiat yang dikandungnya, yang dapat digunakan oleh setiap produsen yang memproduksi obat tersebut. Obat generik dikenal dari logonya yang menjadi ciri khasnya dikenal sebagai Obat Generik Berlogo (OGB). OGB yang lebih umum disebut obat generik saja memiliki harga lebih rendah dari pada harga obat dengan merk dagang untuk jenis dan efek pengobatan yang sama, karena kemasannya yang sederhana dan tidak di promosikan. Walaupun harganya murah, mutu obat generik terjamin, pengawasan mutu dilakukan secara ketat pada industri yang memproduksinya dengan menerapkan Cara Produksi Obat yang Baik (CPOB).
Untuk lebih meningkatkan dan memeratakan pelayanan kesehatan, pemerintah Indonesia meluncurkan Program Obat Generik sejak tahun 1989 yang tujuannnya memudahkan akses masyarakat terhadap obat yang mutunya terjamin dengan harga terjangkau. Selanjutnya pemerintah melalui Menteri Kesehatan Republik Indonesia memutuskan, menetapkan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Republik Indonesia Nomor HK. 02.02/MENKES/068/I/2010 tentang Kewajiban Menggunakan Obat Generik Di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Pemerintah. Permenkes tersebut mewajibkan dokter yang bertugas di fasilitas pelayanan kesehatan pemerintah menulis resep obat generik bagi semua pasien sesuai indikasi medis.
Selanjutnya, setelah dikeluarkannya peraturan tersebut dokter diharapkan mematuhi peraturan dan meresepkan obat generik agar semua lapisan masyarakat dapat memenuhi kebutuhan obat dengan harga terjangkau dan mutu terjamin serta dapat memperbaiki derajat kesehatan masyarakat.
Rumah Sakit Haji Medan merupakan salah satu rumah sakit kelas B yang berada di Kota Medan milik Pemerintah Propinsi Sumatera Utara dan merupakan salah satu rumah sakit rujukan. Rumah Sakit Haji Medan memiliki 16 Staf Medis Fungsional (SMF), 34 orang dokter tetap, 91 orang dokter tidak tetap, serta jumlah rata-rata kunjungan rawat jalan pasien umum berjumlah 487 kunjungan perbulan dan 167 kasus perbulan untuk jumlah rata-rata kunjungan rawat inap pasien umum.
Fenomena yang sering terjadi menyangkut pelayanan obat di Rumah Sakit Haji Medan adalah dalam hal penulisan resep obat generik oleh dokter yang masih rendah seperti yang dapat dilihat pada Tabel 1.1, sehingga pasien harus mengeluarkan uang lebih untuk membeli obat karena obat yang diresepkan bukan obat generik yang harganya lebih mahal dibandingkan obat generik. Penyebab rendahnya peresepan obat generik di Rumah Sakit Haji Medan diduga terkait dengan rendahnya motivasi dokter dalam menulis resep obat generik, dan hal ini memengaruhi kepatuhan dokter dalam menulis resep obat generik.
Peran manajemen rumah sakit dalam hal pemberian penghargaan (reward) dan sanksi (punishment) juga belum ada guna menyikapi rendahnya peresepan obat generik di Rumah Sakit Haji Medan. Pedoman yang mengatur sistem pemberian insentif dan penghargaan bagi para dokter yang menulis resep obat generik juga belum tersedia.
Penyebab lainnya diduga adanya peran dari detailer (sales) obat sebagai duta- duta farmasi yang sangat intens, sabar dan tak kenal lelah mendekati dokter untuk meresepkan obat sesuai dengan produk obat yang ditawarkan oleh detailer tersebut.
Bukan menjadi rahasia lagi bahwa dokter juga mendapatkan imbalan atau bonus dibalik peresepan obat yang ditawarkan oleh detailer tersebut (Iwan, 2010). Hal ini bisa mengakibatkan harga obat semakin mahal karena harus menanggung biaya atas imbalan atau bonus tersebut dan juga biaya promosi obat yang cukup besar, serta pada akhirnya pasien yang menjadi dirugikan.
Dari survei pendahuluan yang dilakukan dengan cara mengambil secara acak sejumlah resep pada pasien umum dan menghitung persentase (%) jumlah obat generik yang ditulis dalam resep, dengan target yang ingin dicapai oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia adalah sebesar 80-90%, diperoleh data peresepan obat generik pada pasien umum yang dilayani pada bulan Juli sampai dengan September 2012 adalah sebagai berikut:
Tabel 1.1. Peresepan Obat Generik pada Pasien Umum yang Dilayani pada Bulan Juli s/d September 2012
No Bulan Pelayanan Obat Generik Obat Generik Target (2012) Rawat Inap (%) Rawat Jalan (%) Kemenkes (%)
1 Juli 51,93 40,17
2 Agustus 43,72 41,21 80 - 90 3 September 53,25 42,16
Selain itu, hasil survei pendahuluan melalui wawancara dengan Kepala Instalasi Farmasi Rumah Sakit Haji Medan pada bulan November 2012 menunjukan bahwa ada keluhan pasien sehubungan dengan pelayanan obat-obatan yaitu adanya obat-obatan yang diresepkan oleh dokter untuk pasien umum yang tidak tersedia seluruhnya di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Haji Medan, sehingga terkesan obat di Instalasi Farmasi tidak lengkap. Hal yang menyebabkan ketidaksesuaian antara resep dengan ketersediaan obat generik di Instalasi Farmasi diduga terkait perilaku dokter yang menuliskan resep bukan obat generik sehingga tidak semua item obat tersedia di Instalasi Farmasi.
Upaya yang dilakukan di Rumah Sakit Haji Medan terkait dengan peresepan obat generik adalah dengan melakukan sosialisasi penggunaan obat generik untuk pelayanan kesehatan, namun kepatuhan dokter dalam menulis resep obat generik sebagaimana yang terlihat dalam Tabel 1.1 masih rendah. Hal tersebut yang mendorong penulis ingin melakukan penelitian lebih lanjut mengenai pengaruh motivasi terhadap kepatuhan dokter dalam menulis resep obat generik pada pasien umum rawat jalan di Rumah Sakit Haji Medan. Pada penelitian ini, peneliti juga
menganalisis apakah karakteristik individu dilihat dari usia, jenis kelamin, lama kerja dan pendidikan dapat memengaruhi kepatuhan dokter dalam menulis resep obat generik pada pasien umum rawat jalan di Rumah Sakit Haji Medan.
Menurut Kelman yang dikutip dalam Sarwono (1997) perubahan sikap dan perilaku individu dimulai dengan tahap kepatuhan, identifikasi, kemudian baru menjadi internalisasi. Mula-mula individu mematuhi anjuran atau instruksi petugas tanpa kerelaan untuk melakukan tindakan tersebut dan seringkali karena ingin menghindari hukuman atau sanksi jika tidak patuh, atau memperoleh imbalan yang dijanjikan jika mematuhi anjuran tersebut. Tahap ini disebut tahap kepatuhan.
Biasanya perubahan yang terjadi dalam tahap ini bersifat sementara, artinya bahwa tindakan itu dilakukan selama masih ada pengawasan petugas. Tetapi begitu pengawasan itu mengendur atau hilang, perilaku itupun ditinggalkan. Salah satu aspek yang turut menentukan perilaku individu dalam hal ini kepatuhan adalah motivasi.
Herzberg dalam Hasibuan (2005), mengemukakan bahwa motivasi terdiri dari 2 (dua) faktor meliputi Faktor Intrinsik yaitu: tanggung jawab, prestasi yang diraih, pengakuan orang lain, pekerjaan itu sendiri, kemungkinan pengembangan, dan kemajuan. Sedangkan Faktor Ektstrinsik meliputi: gaji, keamanan dan keselamatan kerja, kondisi kerja, hubungan kerja, prosedur perusahaan dan status.
Hasil penelitian Maricella (2010) tentang Tingkat Kepatuhan Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Pemerintah dalam Meresepkan Obat Generik di
Rumah Sakit Umum dr. Pirngadi Medan diperoleh hasil bahwa tingkat kepatuhan peresepan obat generik oleh dokter di Rumah Sakit Umum dr. Pirngadi Medan tergolong dalam kategori kurang patuh yaitu peresepan obat generik kurang dari 50%.
Hasil penelitian lain oleh Hastuti (2005) tentang Analisis Faktor Motivasi yang Berpengaruh Terhadap Kepatuhan Dokter Spesialis Dalam Penulisan Resep Sesuai Formularium di Instalasi Rawat Jalan RSUD Kota Semarang diperoleh hasil bahwa variabel yang berhubungan dengan kepatuhan dokter spesialis dalam menulis resep sesuai formularium adalah insentif penulisan resep, kebebasan memberi usulan tentang ketersediaan obat, kebebasan memberikan kritik, mematuhi peraturan pekerjaan dan sanksi peraturan.
Sementara hasil penelitian Alwi (2002) tentang Analisis Kepatuhan Dokter Menulis Resep Berdasarkan Formularium Di Rumah Sakit Dokter Mohammad Hoesin (RSMH) Palembang Pada Tahun 2002 mengungkapkan bahwa faktor-faktor dominan yang mempengaruhi kepatuhan dokter menulis resep berdasarkan Formularium RSMH Palembang adalah sikap, jenis kelamin, peran detailer, tingkat pendidikan, peran Komite Medik dan motivasi.
Penelitian lain oleh Daniel (2001) tentang Faktor-Faktor Perilaku Dokter yang Berhubungan Dengan Penulisan Resep Obat Dengan Nama Generik Pada Pasien Rawat Jalan di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Fatmawati Jakarta mengungkapkan bahwa faktor perilaku dokter yang berhubungan secara bermakna
dengan penulisan resep dengan nama generik adalah sikap terhadap program obat generik dan lama kerja di RSUP Fatmawati.
Berdasarkan hasil penelitian Surjanto (2001) mengenai beban biaya yang timbul akibat ketidakpatuhan pemberian obat generik pada pasien rawat inap di Rumah Sakit Umum Pusat Hasan Sadikin Bandung menunjukkan bahwa beban biaya tambahan yang harus ditanggung pasien atau keluarga pasien karena ketidakpatuhan pemberian obat generik secara financial mencapai Rp. 10.600.000 atau 55,46 % dari belanja obat pasien atau dengan estimasi sekitar Rp. 600.000 per pasien rawat inap.
Berdasarkan paparan di atas, maka perlu dikaji apakah karakteristik individu dan motivasi dapat berpengaruh terhadap kepatuhan dokter dalam menulis resep obat generik pada pasien umum rawat jalan di Rumah Sakit Haji Medan.
1.2 Permasalahan
Berdasarkan uraian pada latar belakang diatas, maka dirumuskan permasalahan sebagai berikut : Apakah ada pengaruh karakteristik individu dan motivasi terhadap kepatuhan dokter dalam menulis resep obat generik pada pasien umum rawat jalan di Rumah Sakit Haji Medan.
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh karakteristik individu dan motivasi terhadap kepatuhan dokter dalam menulis resep obat generik pada pasien umum rawat jalan di Rumah Sakit Haji Medan.
1.4 Hipotesis
Terdapat pengaruh karakteristik individu dan motivasi terhadap kepatuhan dokter dalam menulis resep obat generik pada pasien umum rawat jalan di Rumah Sakit Haji Medan.
1.5 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi : 1. Rumah Sakit
Penelitian ini dapat memberikan masukan dalam rangka pengambilan keputusan untuk menentukan Kebijakan sistem pelayanan obat rumah sakit serta memperhatikan dampaknya bagi peningkatan pelayanan pasien.
2. Bagi Pengembangan Ilmu Pengetahuan
Memperkaya khasanah ilmu pengetahuan terutama yang berkaitan dengan karakteristik individu, motivasi dan kepatuhan dokter dalam menulis resep obat generik dalam pelayanan kesehatan.
3. Bagi Peneliti
Mendapat pengalaman dan wawasan yang menunjang aplikasi nyata ilmu Administrasi dan Kebijakan Kesehatan.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Motivasi
2.1.1 Pengertian Motivasi
Menurut Winardi (2001) dan Hasibuan (1996) istilah motivasi (motivation) berasal dari bahasa latin yakni movere, yang berarti “dorongan” atau “menggerakan”.
Kata dasar motivasi adalah motif (motive) yang berarti dorongan, sebab atau alasan seseorang melakukan sesuatu. Motivasi mempersoalkan bagaimana caranya mendorong gairah kerja bawahan agar dapat bekerja secara optimal untuk mencapai serta mewujudkan tujuan yang ditetapkan. Motivasi adalah daya pendorong yang mengakibatkan seseorang mau dan rela mengerahkan kemampuan dalam bentuk keahlian atau ketrampilan, tenaga dan waktunya untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya dan menunaikan kewajibannya dalam rangka pencapaian tujuan dan berbagai sasaran yang ditentukan (Siagian, 2003).
Sedangkan Harold Koontz dalam Hasibuan (1996), menambahkan bahwa motivasi mengacu pada dorongan dan usaha untuk memuaskan kebutuhan atau pencapaian suatu tujuan.
Gibson et.al (1996), menyatakan bahwa motivasi sebagai suatu dorongan yang timbul pada atau di dalam diri seorang individu yang menggerakkan dan mengarahkan perilaku. Oleh karena itu, motivasi dapat berarti suatu kondisi yang mendorong atau menjadi sebab seseorang melakukan suatu perbuatan atau kegiatan.
Berdasarkan pada beberapa pengertian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah kondisi yang menggerakan atau mendorong seseorang untuk memuaskan kebutuhan dan mencapai tujuan.
2.1.2 Teori Motivasi
Menurut Gibson et.al. (1996), teori motivasi dikelompokan pada 2 (dua) kategori :
1. Teori Kepuasan (Content Theory), yang memusatkan perhatian kepada faktor dalam diri seseorang yang menguatkan (energize), mengarahkan (direct), mendukung (sustain) dan menghentikan (stop) perilaku.
2. Teori Proses (Process Theory) menguraikan dan menganalisis bagaimana perilaku itu dikuatkan, diarahkan, didukung dan dihentikan.
Lebih lanjut Gibson et.al. (1996), mengelompokkan teori motivasi sebagai berikut :
1. Teori Kepuasan terdiri dari :
a. Teori Hirarki kebutuhan dari Abraham Maslow b. Teori Dua Faktor dari Frederick Herzberg
c. Teori ERG (Existence, Relatednes, Growth) dari Alderfer d. Teori Kebutuhan dari McClelland
2. Teori Proses terdiri dari : a. Teori Harapan
b. Teori Modifikasi Perilaku
c. Teori Keadilan
Lebih jelas berikut ini dipaparkan teori tentang motivasi yang dikemukakan di atas sebagai berikut :
a. Teori Hirarki Kebutuhan dari Abraham Maslow
Teori ini dikemukakan oleh Abraham Maslow tahun 1943. Teori ini menyatakan bahwa kebutuhan manusia tersusun dalam suatu hirarki atau urutan.
Kebutuhan-kebutuhan tersebut di definisikan sebagai berikut :
1. Fisiologi (Phisiological Needs), antara lain kebutuhan makanan, minuman, tempat tinggal, dan bebas dari sakit (disebut kebutuhan paling dasar).
2. Keamanan, Keselamatan (Safety and Security Needs), antara lain bebas dari ancaman diartikan sebagai aman dari peristiwa atau lingkungan yang mengancam.
3. Rasa Memiliki, sosial dan cinta (Belongingness, Sosial and Love) antara lain persahabatan, afiliasi, interaksi, dan cinta.
4. Harga Diri atau Penghargaan (Esteem), antara lain status, titel, promosi, pengakuan dan perhatian.
5. Aktualisasi Diri (Self Actualization), antara lain memenuhi kebutuhan diri sendiri dengan cara maksimal menggunakan kemampuan, keahlian, dan potensi.
Teori Maslow mengasumsikan bahwa manusia akan berusaha memenuhi kebutuhan yang lebih mendasar (kebutuhan fisiologi) sebelum mengarahkan perilaku untuk memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi. Teori ini juga didasarkan atas anggapan bahwa menusia memiliki keinginan untuk berkembang dan maju.
b. Teori Dua Faktor dari Herzberg
Teori dua faktor dikembangkan oleh Frederick Herzberg yang merupakan pengembangan dari teori hirarki kebutuhan menurut Maslow. Menurut teori ini ada dua faktor yang memengaruhi kondisi pekerjaan seseorang, yaitu faktor pemuas (motivation factor) yang disebut juga dengan satisfier atau instrinsic motivation dan faktor kesehatan (hygienes) yang juga disebut disatisfier atau ekstrinsic motivation.
Teori Herzberg ini melihat ada dua faktor yang mendorong karyawan termotivasi yaitu faktor intrinsik, merupakan daya dorong yang timbul dari dalam diri masing- masing orang, dan faktor ekstrinsik, yaitu daya dorong yang datang dari luar diri seseorang (Siagian, 2003).
c. Teori ERG (Existence, Relatedness, Growth) dari Alderfer
Menurut teori ERG dari Clayton Alderfer, ada 3 (tiga) kebutuhan pokok manusia yaitu: 1).Existence (eksistensi); Kebutuhan yang dipuaskan oleh faktor- faktor keberadaan materil dasar seperti makanan, air, udara (kebutuhan psikologis dan keamanan). 2).Relatednes (keterhubungan); Kebutuhan yang dimiliki untuk memelihara hubungan antar pribadi (kebutuhan sosial dan penghargaan). 3).Growth (pertumbuhan); Kebutuhan intrinsik untuk perkembangan pribadi (kebutuhan aktualisasi diri).
Berbeda dengan teori Maslow, teori ERG tidak berasumsi bahwa terdapat sebuah hirarki yang kaku dimana seseorang harus memenuhi kebutuhan tingkat rendah terlebih dahulu sebelum naik ke tingkat selanjutnya. ERG menunjukan bahwa
seseorang bisa mengusahakan kebutuhan pertumbuhan meskipun kebutuhan dasar dan hubungan belum terpenuhi (Robbins, 2008).
d. Teori Kebutuhan dari McClelland
Teori kebutuhan dikemukakan oleh David McClelland. Teori ini berfokus pada tiga kebutuhan. Hal-hal yang memotivasi seseorang menurut Mc.Clelland dalam Hasibuan (1996), adalah :
1. Kebutuhan Akan Prestasi (Need for Achievement).
Kebutuhan akan prestasi merupakan daya penggerak yang memotivasi semangat bekerja seseorang untuk mengembangkan kreativitas dan mengarahkan semua kemampuan serta energi yang dimilikinya guna mencapai prestasi kerja yang maksimal. Seseorang menyadari bahwa hanya dengan mencapai prestasi kerja yang tinggi akan memperoleh pendapatan yang besar yang akhirnya bisa memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.
2. Kebutuhan Akan Kekuasaan (Need for Power)
Kebutuhan akan kekuasaan merupakan daya penggerak yang memotivasi semangat kerja seseorang, yang dapat merangsang dan memotivasi gairah kerja seseorang serta mengerahkan semua kemampuannya demi mencapai kekuasaan atau kedudukan yang terbaik. Ego seseorang yang ingin lebih berkuasa dari orang lain dapat menimbulkan persaingan. Persaingan ini oleh manajer dapat ditumbuhkan secara sehat dalam memotivasi bawahannya agar dapat lebih termotivasi untuk bekerja lebih giat.
3. Kebutuhan Akan Afiliasi (Need for Affiliation)
Kebutuhan akan afiliasi menjadi daya penggerak yang memotivasi semangat bekerja seseorang. Karena kebutuhan akan afiliasi akan merangsang gairah bekerja seseorang yang menginginkan kebutuhan akan perasaan diterima oleh orang lain, perasaan dihormati, perasaan maju dan tidak gagal, dan perasaan ikut serta.
e. Teori Harapan (Expectancy Theory)
Teori harapan ini dikemukan oleh Victor H. Vroom. Teori ini berpendapat bahwa orang-orang atau petugas akan termotivasi untuk bekerja atau melakukan hal- hal tertentu jika mereka yakin bahwa dari prestasinya itu mereka akan mendapatkan imbalan besar. Seseorang mungkin melihat jika bekerja dengan giat kemungkinan adanya suatu imbalan, misalnya kenaikan gaji, kenaikan pangkat dan inilah yang menjadi perangsang seseorang dalam bekerja dengan giat.
f. Teori Modifikasi Perilaku (Operant Conditioning)
Teori ini berasumsi bahwa perilaku pegawai dapat dibentuk dan diarahkan kearah aktivitas pencapaian tujuan. Teori modifikasi perilaku sering disebut dengan istilah-istilah lain seperti : behavioral modification, positive reinforcement dan skinerian conditioning. Menurut Siagian (2003) perilaku seseorang ditentukan pula oleh berbagai konsekuensi eksternal dari perilaku, artinya berbagai faktor di luar diri seseorang turut berperan sebagai penentu atau bahkan pengubah perilaku. Dalam hal ini berlakulah “hukum pengaruh” yang menyatakan bahwa seseorang cenderung untuk mengulangi perilaku yang mempunyai konsekuensi yang menguntungkan
dirinya dan mengelakkan perilaku yang mengakibatkan timbulnya konsekuensi yang merugikan.
g. Teori Keadilan (Equity Theory)
Teori motivasi ini didasarkan pada asumsi bahwa pegawai akan termotivasi untuk meningkatkan produktivitas kerjanya, apabila ia diperlakukan secara adil dalam pekerjaannya. Keadilan merupakan daya penggerak yang memotivasi semangat kerja seseorang, dalam hal ini atasan harus bertindak adil terhadap semua bawahannya bukan atas dasar suka atau tidak suka serta pemberian kompensasi atau hukuman harus berdasarkan atas penilaian yang objektif dan adil (Hasibuan, 1996).
Dari pembahasan tentang berbagai teori motivasi maka dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah keseluruhan daya penggerak atau tenaga pendorong baik yang berasal dari dalam maupun dari luar diri yang menimbulkan adanya keinginan untuk melakukan suatu kegiatan atau aktivitas dalam menjalankan tugas untuk mencapai tujuan.
Pada penelitian ini digunakan teori motivasi dua faktor yang dikemukakan oleh Frederick Herzberg, yang mengemukakan ada dua faktor yang mendorong karyawan termotivasi yaitu faktor intrinsik, merupakan daya dorong yang timbul dari dalam diri masing-masing orang, dan faktor ekstrinsik, yaitu daya dorong yang datang dari luar diri seseorang.
2.1.3 Faktor-faktor yang Memengaruhi Motivasi
Faktor motivasi dikelompokan menjadi dua, yang pertama disebut faktor intrinsik dan yang kedua adalah faktor ekstrinsik.
Faktor-faktor motivasi dua faktor Herzberg dalam Meliala (2011) yang mengutip pendapat Hasibuan (2005), yang disebut faktor intrinsik meliputi :
1) Tanggung Jawab (Responsibility)
Setiap orang ingin diikutsertakan dan ingin diakui sebagai orang yang berpotensi, dan pengakuan ini akan menimbulkan rasa percaya diri dan siap memikul tanggung jawab yang lebih besar.
2) Prestasi yang Diraih (Achievement)
Setiap orang menginginkan keberhasilan dalam setiap kegiatan. Pencapaian prestasi dalam melakukan suatu pekerjaan akan menggerakkan yang bersangkutan untuk melakukan tugas-tugas berikutnya.
3) Pengakuan Orang Lain (Recognition)
Pengakuan terhadap prestasi merupakan alat motivasi yang cukup ampuh, bahkan bisa melebihi kepuasan yang bersumber dari kompensasi.
4) Pekerjaan itu Sendiri (The Work it Self)
Pekerjaan itu sendiri merupakan faktor motivasi bagi pegawai untuk berforma tinggi. Pekerjaan atau tugas yang memberikan perasaan telah mencapai sesuatu, tugas itu cukup menarik, tugas yang memberikan tantangan bagi pegawai,
merupakan faktor motivasi, karena keberadaannya sangat menentukan bagi motivasi untuk berforma tinggi.
5) Kemungkinan Pengembangan (The possibility of growth)
Karyawan hendaknya diberi kesempatan untuk meningkatkan kemampuannya misalnya melalui pelatihan-pelatihan, kursus dan juga melanjutkan jenjang pendidikannya. Hal ini memberikan kesempatan kepada karyawan untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan rencana karirnya yang akan mendorongnya lebih giat dalam bekerja.
6) Kemajuan (Advancement)
Peluang untuk maju merupakan pengembangan potensi diri seorang pegawai dalam melakukan pekerjaan, karena setiap pegawai menginginkan adanya promosi kejenjang yang lebih tinggi, mendapatkan peluang untuk meningkatkan pengalaman dalam bekerja. Peluang bagi pengembangan potensi diri akan menjadi motivasi yang kuat bagi pegawai untuk bekerja lebih baik.
Sedangkan yang berhubungan dengan faktor ketidakpuasan dalam bekerja menurut Herzberg dalam Luthans (2003), dihubungkan oleh faktor ekstrinsik antara lain :
1). Gaji
Tidak ada satu organisasipun yang dapat memberikan kekuatan baru kepada tenaga kerjanya atau meningkatkan produktivitas, jika tidak memiliki sistem
kompensasi yang realitis dan gaji bila digunakan dengan benar akan memotivasi pegawai.
2). Keamanan dan Keselamatan Kerja
Kebutuhan akan keamanan dapat diperoleh melalui kelangsungan kerja.
3). Kondisi Kerja
Dengan kondisi kerja yang nyaman, aman dan tenang serta didukung oleh peralatan yang memadai, karyawan akan merasa betah dan produktif dalam bekerja sehari-hari.
4). Hubungan Kerja
Untuk dapat melaksanakan pekerjaan dengan baik, haruslah didukung oleh suasana atau hubungan kerja yang harmonis antara sesama pegawai maupun atasan dan bawahan.
5). Prosedur Perusahaan
Keadilan dan kebijakasanaan dalam mengahadapi pekerja, serta pemberian evaluasi dan informasi secara tepat kepada pekerja juga merupakan pengaruh terhadap motivasi pekerja.
6). Status
Merupakan posisi atau peringkat yang ditentukan secara sosial yang diberikan kepada kelompok atau anggota kelompok dari orang lain. Status pekerja memengaruhi motivasinya dalam bekerja. Status pekerja yang diperoleh dari pekerjaannya antara lain ditunjukkan oleh klasifikasi jabatan, hak-hak istimewa
yang diberikan serta peralatan dan lokasi kerja yang dapat menunjukkan statusnya.
2.1.4 Perangsang Motivasi
Azwar (2010) mengemukakan bahwa perangsang (insentive) motivasi adakalanya dibutuhkan atau perlu agar seseorang bersedia melakukan hal-hal seperti yang diharapkan. Perangsangan motivasi ini dibedakan atas dua macam yaitu :
a. Perangsang Positif
Perangsang Positif (positive incentive) ialah imbalan yang menyenangkan yang disediakan untuk karyawan yang berprestasi. Rangsangan positif ini banyak macamnya, antara lain hadiah, pengakuan, promosi dan ataupun melibatkan karyawan tersebut pada kegiatan yang bernilai gengsi yang lebih tinggi.
b. Perangsangan Negatif
Perangsangan negatif (negative incentive) ialah imbalan yang tidak menyenangkan berupa hukuman bagi karyawan yang tidak berprestasi dan ataupun yang berbuat tidak seperti yang diharapkan. Perangsangan negatif ini antara lain denda, teguran, pemindahan tempat kerja (mutasi) dan ataupun pemberhentian.
2.1.5 Manfaat Motivasi
Arep dan Tanjung (2003), menyatakan bahwa manfaat motivasi yang terutama adalah menciptakan gairah kerja, sehingga produktivitas kerja meningkat.
Sementara itu, manfaat yang diperoleh karena bekerja dengan orang-orang yang
termotivasi adalah pekerjaan dapat diselesaikan dengan tepat. Artinya pekerjaan diselesaikan sesuai standar yang ditetapkan dan dalam skala waktu yang ditentukan serta orang akan senang melakukan pekerjaannya.
Sesuatu yang dikerjakan dengan adanya motivasi yang mendorongnya akan membuat orang senang melakukannya. Orang pun akan merasa dihargai atau diakui, hal ini terjadi karena pekerjaannya itu betul-betul berharga bagi orang yang termotivasi, sehingga orang tersebut akan bekerja keras. Hal ini dimaklumi karena dorongan yang begitu tinggi untuk menghasilkan sesuai target yang mereka tetapkan.
Kinerjanya akan dipantau oleh individu yang bersangkutan dan tidak akan membutuhkan terlalu banyak pengawasan serta semangat juangnya akan tinggi.
2.2 Karakteristik Individu
Karakteristik individu merupakan faktor yang menggerakkan dan memengaruhi prilaku dan prestasi kerja. Menurut Gibson (1996) dan Sunarto (2003), karakteristik individu meliputi Umur, Jenis kelamin, Lama kerja dan Pendidikan.
Lebih jelas, berikut ini akan dipaparkan karekteristik individu tersebut : 1. Umur
Umur adalah lamanya hidup dihitung sejak dilahirkan hingga saat ini. Umur berkaitan erat dengan tingkat kedewasaan. Berdasarkan Lubis (2009) yang mengutip pendapat Ericson (1950), umur usia produktif pada usia dewasa muda (20-40 tahun), usia dewasa matang (40-60 tahun) pada usia ini diharapkan usia telah mapan dan tingkat kedisiplinan terhadap pekerjaan baik, dan usia lanjut pada usia > 60 tahun.
Robbins (2008) mengungkapkan bahwa ada kualitas positif pada pekerja yang berusia tua, meliputi pengalaman, pertimbangan, etika kerja yang kuat, dan komitmen terhadap mutu.
2. Jenis Kelamin
Jenis kelamin merupakan karakteristik individu yang dibedakan antara laki- laki/pria dan perempuan/wanita yang dilihat secara fisik. Sunarto (2003) mengemukakan bahwa tidak ada perbedaan yang konsisten antara pria dan wanita dalam kemampuan memecahkan masalah, ketrampilan analisis dorongan kompetitif, motivasi, sosiabilitas, atau kemampuan belajar. Sementara studi psikologis telah menemukan bahwa wanita lebih bersedia untuk mematuhi wewenang, dan pria lebih agresif dan lebih besar kemungkinannya daripada wanita dalam memiliki pengharapan untuk sukses.
3. Lama Kerja
Lama kerja merupakan masa atau lamanya seseorang bekerja pada suatu organisasi. Lama kerja diekspresikan sebagai pengalaman kerja (Sunarto, 2003).
Lebih lanjut, Soekidjo (2005) menyatakan bahwa pengalaman adalah guru yang baik, oleh sebab itu pengalaman merupakan sumber pengetahuan atau cara untuk memperoleh pengetahuan seperti pengalaman pribadi.
4. Pendidikan
Pendidikan adalah usaha sadar dan sistematis yang berlangsung seumur hidup dalam rangka mengalihkan pengetahuan oleh seseorang kepada orang lain.
Pendidikan dapat bersifat formal, akan tetapi dapat bersifat non formal. Pendidikan yang bersifat formal ditempuh melalui tingkat-tingkat pendidikan, mulai dari sekolah taman kanak-kanak hingga bagi sebagian orang pendidikan di lembaga pendidikan tinggi, terjadi di ruang kelas dengan program yang pada umumnya bersifat
“structured”. Dipihak lain, pendidikan yang sifatnya non formal dapat terjadi di mana saja karena sifatnya yang “ unstructured”. Pada kedua situasi pendidikan itu, pengalihan pengetahuan dan ketrampilan tetap terjadi (Siagian, 1992)
Sasaran pendidikan bukan hanya pengalihan pengetahuan dan ketrampilan saja, akan tetapi pembinaan watak (character building), yang dimaksudkan antara lain untuk mengembangkan kemampuan berfikir secara rasional, mengembangkan kemampuan analisis, mengembangkan kepekaan terhadap perubahan yang terjadi di masyarakat, menumbuhkan dan mengembangkan nilai-nilai etika, menumbuhkan kesadaran tentang pentingnya bekerja sama dengan orang lain dalam rangka membina kehidupan. Jadi jelaslah bahwa pendidkan memainkan peran yang sangat penting dalam pembentukan perilaku (Siagian, 1992).
2.3 Kepatuhan
Kepatuhan (compliance) berasal dari kata patuh yang berarti suka menurut, taat pada perintah, aturan, dan disiplin. Selanjutnya, kepatuhan adalah taat atau tidak taat pada perintah, aturan atau disiplin (Ridwan, 2012).
Kelman dalam Sarwono (1997) mengemukakan bahwa perubahan sikap dan perilaku individu dimulai dengan tahap kepatuhan, identifikasi, kemudian
internalisasi. Kepatuhan dapat didasarkan karena ingin menghindari hukuman/sangsi, atau ingin memperoleh imbalan yang dijanjikan jika mematuhi anjuran. Kepatuhan seperti ini adalah kepatuhan sementara. Sedangkan kepatuhan yang diharapkan adalah kepatuhan dimana seseorang memahami makna, dan mengerti akan pentingnya suatu tindakan atau suatu keadaan.
2.4 Dokter
2.4.1 Profesi Dokter
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran menyatakan bahwa dokter adalah dokter, dokter spesialis, dokter gigi dan dan dokter gigi spesialis lulusan pendidikan kedokteran atau kedokteran gigi baik di dalam maupun diluar negeri yang diakui Pemerintah Republik Indonesia sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Menurut Meliala (2011) yang mengutip pendapat Iswandari (2006), strategi WHO yang dikenal dengan sebutan Five Stars Doctor dimana setiap dokter diharapkan dapat berperan :
a. Sebagai health care provider yang bermutu, berkesinambungan dan komprehensif dengan mempertimbangkan keunikan individu, berdasarkan kepercayaan dalam jangka panjang.
b. Sebagai decision maker yang mampu memilih teknologi yang tepat dengan pertimbangan etika dan biaya.
c. Sebagai communicator yang mampu mempromosikan gaya hidup sehat melalui Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) serta memberdayakan masyarakat untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal.
d. Sebagai community leader, yang mampu memperoleh kepercayaan, membangun kesepakatan tentang kesehatan serta berinisiatif meningkatkan kesehatan bersama.
e. Sebagai manager yang mampu menggerakkan individu dan lingkungan demi kesehatan bersama dengan menggunakan data yang akurat.
2.4.2 Hak Dokter
Menurut Hanafiah dan Amir (2008), dokter dalam melaksanakan praktek kedokteran mempunyai hak, antara lain :
1. Melakukan praktik dokter setelah memperoleh Surat Izin Dokter dan Surat Izin Praktik (SIP).
2. Memperoleh informasi yang benar dan lengkap dari pasien/keluarga tentang penyakitnya.
3. Bekerja sesuai standar profesi.
4. Menolak melakukan tindakan medik yang bertentangan dengan etika, hukum, agama, dan hati nuraninya.
5. Mengakhiri hubungan dengan seorang pasien jika menurut penilaiannya kerja sama pasien dengannya tidak berguna lagi, kecuali dalam keadaan darurat.
6. Menolak pasien yang bukan bidang spesialisasinya, kecuali dalam keadaan darurat atau tidak ada dokter lain yang mampu menanganinya.
7. Hak atas kebebasan pribadi (privacy) dokter.
8. Hak atas ketentraman bekerja.
9. Mengeluarkan surat-surat keterangan dokter.
10. Menerima imbalan jasa.
11. Menjadi anggota perhimpunan profesi.
12. Hak membela diri.
2.4.3 Kewajiban Dokter
Undang-undang No. 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran menyatakan bahwa kewajiban dokter adalah :
1. Memberikan pelayanan medis sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional serta kebutuhan medis pasien.
2. Merujuk pasien ke dokter lain yang mempunyai keahlian atau kemampuan yang lebih baik, apabila tidak mampu melakukan suatu pemeriksaan atau pengobatan.
3. Merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang pasien, bahkan juga setelah pasien itu meninggal dunia.
4. Melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan, kecuali bila ia yakin pada orang lain yang bertugas dan mampu melakukannya.
5. Menambah ilmu pengetahuan dan mengikuti perkembangan ilmu kedokteran.
6. Meminta persetujuan pada setiap melakukan tindakan kedokteran, khusus untuk tindakan yang berisiko persetujuan dinyatakan secara tertulis. Persetujuan
dimintakan setelah dokter menjelaskan tentang : diagnosa, tujuan tindakan, alternatif tindakan, risiko tindakan, komplikasi dan prognose.
7. Membuat catatan rekam medis yang baik secara berkesinambungan berkaitan dengan keadaan pasien.
8. Memenuhi hal- hal yang telah disepakati/perjanjian yang telah dibuatnya.
9. Bekerjasama dengan profesi dan pihak lain yang terkait secara timbal balik dalam memberikan pelayanan kepada pasien.
10. Dalam melakukan praktik kedokteran di Indonesia wajib memiliki surat izin praktik dokter.
11. Dalam melakukan praktik kedokteran di Indonesia wajib memiliki surat tanda registrasi dokter.
12. Dokter yang berhalangan menyelenggarakan praktik kedokteran harus membuat pemberitahuan atau menunjuk dokter pengganti.
13. Wajib menyelenggarakan kendali mutu dan kendali biaya dalam memberikan pelayanan kesehatan.
14. Wajib menjunjung tinggi, menghayati dan mengamalkan sumpah dokter dan kode etik kedokteran Indonesia.
2.4.4 Obat
Kebijakan Obat Nasional (KONAS) menyatakan bahwa obat adalah bahan atau paduan bahan-bahan yang digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosis,
pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan dan kontrasepsi.
Sedangkan menurut Tjay dan Rahardja (2002), obat merupakan semua zat baik kimiawi, hewani, maupun nabati yang dalam dosis layak dapat menyembuhkan, meringankan, atau mencegah penyakit berikut gejalanya. Dalam pengertian umum, obat adalah substansi yang melalui efek kimianya membawa perubahan dalam fungsi biologik.
Idris (2008), mengemukakan bahwa secara internasional obat hanya dibagi menjadi 2 yaitu obat paten dan obat generik.
a. Obat Paten
Merupakan obat yang baru ditemukan berdasarkan riset dan memiliki masa paten yang tergantung dari jenis obatnya. Menurut UU No. 14 Tahun 2001 masa berlaku paten di Indonesia adalah 20 tahun. Selama 20 tahun itu, perusahaan farmasi tersebut memiliki hak eksklusif di Indonesia untuk memproduksi obat yang dimaksud. Perusahaan lain tidak diperkenankan untuk memproduksi dan memasarkan obat serupa kecuali jika memiliki perjanjian khusus dengan pemilik paten.
b. Obat Generik
Setelah obat paten berhenti masa patennya, obat paten kemudian disebut sebagai obat generik (generik = nama zat berkhasiatnya). Obat generik dibagi lagi menjadi 2 yaitu generik berlogo dan generik bermerek. Obat generik berlogo (OGB) yang lebih umum disebut obat generik saja adalah obat yang menggunakan nama zat
berkhasiatnya dan mencantumkan logo generik pada kemasan obat, sedangkan obat generik bermerek yang lebih umum disebut obat bermerk adalah obat yang diberi merek dagang oleh perusahaan farmasi yang memproduksinya.
2.4.4.1 Obat Generik
Obat generik adalah obat dengan nama resmi International Non-Proprietary Names (INN) yang telah ditetapkan dalam Farmakope Indonesia atau buku standar lainnya untuk zat berkhasiat yang dikandungnya. Obat generik merupakan obat yang masa patennya sudah habis, sehingga dapat diproduksi oleh semua perusahaan farmasi tanpa perlu membayar royalti. Selanjutnya, obat generik adalah program pemerintah Indonesia yang bertujuan memberikan alternatif obat bagi seluruh lapisan masyarakat, dengan kualitas obat yang terjamin, serta harga yang terjangkau. Obat generik biasanya dikenal dari logo yang menjadi ciri khasnya, dikenal sebagai Obat generik Berlogo (OGB). Logo OGB adalah lingkaran hijau bergaris putih dengan tulisan “generik” di bagian tengah lingkaran. Logo OGB tersebut menunjukan bahwa obat generik telah lulus uji kualitas, khasiat, dan keamanan. Garis-garis putih menunjukkan obat generik dapat digunakan oleh berbagai lapisan masyarakat (Purwatiningtiyas, 2012).
OGB diluncurkan pemerintah Indonesia sejak tahun 1989. Kualitas obat generik tidak perlu diragukan lagi. Baik OGB, obat bermerek, maupun obat yang dipatenkan, mengandung zat aktif atau komponen utama yang sama. OGB telah memenuhi berbagai persyaratan sebagaimana obat yang dipatenkan. Persyaratan-
persyaratan tersebut di antaranya mengikuti aturan pembuatan obat internasional, memenuhi Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) yang telah ditentukan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia, dan lolos uji bioavailabilitas atau bioekivalensi (BA/BE) untuk menjamin obat generik setara dengan obat yang dipatenkan. Jadi, dalam hal kualitas, OGB sama baiknya dengan obat yang dipatenkan maupun obat generik bermerek. OGB mempunyai kelebihan dari segi harga yang terjangkau. Jika dibandingkan dengan obat yang dipatenkan maupun teman sejawatnya, yaitu obat bermerek, OGB menempati posisi harga yang paling murah karena harga jual OGB tidak memerlukan biaya penelitian dan biaya promosi OGB tidak setinggi obat yang dipatenkan. Di samping itu, kesederhanaan kemasan OGB juga menjadikannya lebih murah jika dibandingkan obat bermerek.
Kemasan OGB hanya berupa kemasan sederhana dengan logo OGB. Pengemasan OGB hanya bertujuan untuk melindungi obat di dalamnya (Purwatiningtyas, 2012).
Jadi, beberapa hal yang perlu dipahami tentang OGB adalah kualitasnya yang tidak perlu diragukan lagi, dan OGB mempunyai kelebihan dari segi harga yang terjangkau.
2.4.4.2 Kebijakan Obat Generik
Menurut Depkes RI (2000), Kebijakan obat generik merupakan kebijakan untuk memudahkan akses masyarakat terhadap obat yang mutunya terjamin dengan harga terjangkau. Agar upaya pemanfaatan obat generik ini dapat mencapai tujuan yang diinginkan, maka kebijakan tersebut mencakup komponen-komponen berikut :
1. Produksi obat generik dengan Cara Produksi Obat yang baik (CPOB).
2. Pengendalian mutu obat generik secara ketat.
3. Distribusi dan penyediaan obat generik di unit-unit pelayanan kesehatan.
4. Peresepan berdasarkan atas nama generik, bukan nama dagang.
5. Penggantian (substitusi) dengan obat generik diberlakukan di unit-unit pelayanan kesehatan.
6. Informasi dan komunikasi mengenai obat generik bagi dokter dan masyarakat luas secara berkesinambungan.
7. Pemantauan dan evaluasi penggunaan obat generik secara berkala.
2.4.4.3 Peraturan Menteri Kesehatan RI No. HK.02.02/MENKES/068/I/2010 tentang Kewajiban Menggunakan Obat Generik di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Pemerintah
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/MENKES/068/I/2010 tentang Kewajiban Menggunakan Obat Generik Di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Pemerintah mengemukakan beberapa ketentuan yang berhubungan dengan penulisan resep obat generik, sebagai berikut :
1. Pasal 2 menyatakan bahwa Fasilitas Pelayanan Kesehatan Pemerintah, Pemerintah Daerah wajib menyediakan obat generik untuk kebutuhan pasien rawat jalan dan rawat inap dalam bentuk formularium.
2. Pasal 4 ayat (1) menyatakan bahwa Dokter yang bertugas di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Pemerintah wajib menulis resep obat generik bagi semua pasien sesuai indikasi medis.
3. Pasal 4 ayat (2) menyatakan bahwa Dokter dapat menulis resep untuk diambil di Apotek atau di luar fasilitas pelayanan kesehatan dalam hal obat generik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak tersedia di fasilitas pelayanan kesehatan.
4. Pasal 7 menyatakan bahwa Apoteker dapat mengganti obat merek dagang/obat peten dengan obat generik yang sama komponen aktifnya atau obat merek dagang lain atas persetujuan dokter dan/atau pasien.
5. Pasal 8 menyatakan bahwa Dokter di Rumah Sakit atau Puskesmas dan Unit pelaksana Teknis lainnya dapat menyetujui pergantian resep obat generik dengan obat generik bermerek/bermerek dagang dalam hal obat generik tertentu belum tersedia.
6. Pasal 10 ayat (1) menyatakan bahwa Pemerintah, Pemerintah Provinsi/Kabupaten/Kota dapat memberikan peringatan lisan atau tertulis kepada dokter, tenaga kefarmasian dan pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan pemerintah yang melakukan pelanggaran terhadap ketentuan dalam Peraturan Menteri ini.
7. Pasal 10 ayat (2) menyatakan bahwa Peringatan lisan atau tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan sebanyak 3 (tiga) kali dan apabila peringatan tersebut tidak dipatuhi, Pemerintah dan Pemerintah Provinsi/Kabupaten/Kota dapat menjatuhkan sanksi administratif kepegawaian kepada yang bersangkutan.
Selanjutnya, Peraturan tersebut mengharapkan dokter mematuhi peraturan dan meresepkan obat generik agar semua lapisan masyarakat dapat memenuhi kebutuhan