HASIL PENELITIAN
4.4. Analisis Multivariat (Uji Regresi Logistik Ganda)
31 - 25,4 78 91 100 74,6 78(100) 122(100) Jumlah 31 15,5 169 84,5 200(100) 23,455 0,000
4.4. Analisis Multivariat (Uji Regresi Logistik Ganda)
Untuk menganalisis pengaruh faktor-faktor yang memengaruhi pemanfaatan
program Jamkesmas di Kabupaten Labuhanbatu secara bersama-sama digunakan
analisis regresi logistik. Pada tahap awal, melakukan pemilihan variabel yang
potensial dimasukkan dalam model. Variabel yang dipilih atau yang dianggap
signifikan yaitu variabel yang mempunyai nilai signifikan pada uji bivariat atau
memiliki p-value <0,25, sedangkan variabel yang memiliki nilai p-value >0,25 akan
dikeluarkan secara bertahap (backward selection). Selanjutnya dilakukan pengujian
secara bersamaan dengan Metode Enter untuk mengidentifikasi faktor paling
dominan yang berpengaruh terhadap pemanfaatan program Jamkesmas.
Pada uji logistik tahap pertama ini yang mempunyai nilai signifikan <0,25
yaitu pekerjaan, pendapatan, pengetahuan, sarana dan prasarana, informasi, dan
kondisi kesehatan. Sedangkan variabel sikap dan pelayanan Jamkesmas dikeluarkan
Tabel 4.19. Hasil Uji Regresi Logistik Tahap Pertama Analisis Faktor-faktor yang Memengaruhi Pemanfaatan Program Jamkesmas di Kabupaten Labuhanbatu
Variabel B p Exp( )
Pekerjaan Pendapatan Pengetahuan
Sarana dan prasarana Informasi Kondisi Kesehatan -0.363 0,395 1,785 -2,469 0,579 1,033 0,408* 0,145* 0,041 0,001 0,263* 0,046 0,696 1,484 1,560 0,085 1,784 2,811 * = Dikeluarkan secara bertahap (backward selection)
Variabel yang dikeluarkan karena mempunyai nilai signifikan >0,05 yaitu
pekerjaan, pendapatan, dan informasi, selanjutnya pengetahuan, sarana dan
prasarana, kondisi kesehatan dimasukkan ke dalam uji logistik tahap kedua. Dari
hasil uji logistik tahap kedua menunjukkan bahwa variabel yang berpengaruh
paling dominan pada pemanfaatan program Jamkesmas (p<0,05) di Kabupaten
Labuhanbatu adalah kondisi kesehatan dengan nilai OR (odd rate)
3,606(95%CI:1,535-8,470) artinya masyarakat dengan kondisi kesehatan sakit
(kurang sehat) 3,6 kali memanfaatkan Jamkesmas lebih sering dibandingkan
masyarakat dengan kondisi kesehatan baik.
Tabel 4.20. Hasil Uji Regresi Logistik Tahap Kedua Analisis Faktor-faktor yang Memengaruhi Pemanfaatan Program Jamkesmas di Kabupaten Labuhanbatu
Variabel B p OR(95% CI)
Pengetahuan
Sarana dan Prasarana Kondisi Kesehatan Konstanta 1,182 -2,421 1,283 5,241 0,007 0,001 0,003 0,003 2,438(0,180-1,066) 0,089(0,020-0,392) 3,606(1,535-8,470) 188,893
Dari hasil uji regresi logistik ganda di atas diperoleh persamaan sebagai
berikut :
Y = 5,241 + 1,182(pengetahuan) - 2,421(sarana prasarana) + 1,283(Kondisi Kesehatan)
Dari model persamaan di atas dapat dinyatakan bahwa pemanfaatan
Jamkesmas oleh masyarakat akan meningkat seiiring dengan meningkatnya
pengetahuan dan kondisi kesehatan.
Nilai koefisien regresi variabel X1 sebesar 1,182 bahwa ada pengaruh yang
searah (tanda positif) yang berarti apabila terjadi peningkatan 1 skor pada
pengetahuan masyarakat maka pemanfaatan Jamkesmas akan meningkat sebesar
1,182, sehingga dapat dinyatakan bahwa pengetahuan yang baik akan meningkatkan
pemanfaatan Jamkesmas.
Nilai koefisien regresi variabel X2 sebesar -2,421 bahwa ada pengaruh yang
berlawanan (tanda negatif) yang berarti apabila terjadi peningkatan 1 skor pada
sarana dan prasarana maka pemanfaatan Jamkesmas akan menurun sebesar 2,421
atau sebaliknya, sehingga dapat dinyatakan bahwa walaupun sarana dan prasarana
kurang memadai pemanfaatan Jamkesmas oleh masyarakat akan meningkat.
Nilai koefisien regresi variabel X3 sebesar 1,283 bahwa ada pengaruh yang
searah (tanda positif) yang berarti apabila terjadi peningkatan 1 skor pada kondisi
kesehatan masyarakat maka pemanfaatan Jamkesmas akan meningkat sebesar 1,283,
sehingga dapat dinyatakan bahwa dengan kondisi kesehatan yang sakit akan
Dengan persamaan tersebut dapat dibuat ramalan tentang probabilitas
pemanfaatan Jamkesmas sebagai berikut :
ln p p − 1 = (5.2411,182 2,4211,283) e 1 1 + − + − +
Misalkan pemanfaatan Jamkesmas memiliki nilai variabel prediktor, seperti :
a. Pengetahuan (P=1, yaitu pengetahuan baik).
b. Sarana dan Prasarana (SP=1, yaitu sarana dan prasarana baik).
c. Kondisi kesehatan (KK=1, yaitu kondisi kesehatan kurang baik).
Maka nilai probabilitasnya adalah :
p = 1,283(1)) 2,421(1) 1,182(1) (5.241 e 1 1 + − + − + = 0,6784 Æ 67,84%
artinya, masyarakat miskin dengan pengetahuan baik, sarana dan prasarana baik,
serta kondisi kesehatan kurang baik maka memiliki probabilitas pemanfaatan
BAB 5 PEMBAHASAN
Dalam pembahasan ini yang dibahas adalah variabel dependen
(pemanfaatan program Jamkesmas) dan variabel-variabel independen yang
berpengaruh secara signifikan berdasarkan uji statistik regresi logistik berganda
yang telah dilakukan yaitu pengetahuan, sarana dan prasarana, dan kondisi
kesehatan.
5.1. Pemanfaatan Jamkesmas
Pemanfaatan Jamkesmas oleh masyarakat yaitu penggunaan program
Jamkesmas oleh masyarakat untuk memperoleh pelayanan kesehatan baik di
puskesmas maupun di rumah sakit. Pertanyaan yang diajukan dalam penelitian ini
yaitu tentang pemanfaatan Jamkesmas oleh masyarakat sejak bulan Januari 2008
sampai dengan Desember 2008. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa
sebagian besar responden memanfaatkan Jamkesmas yaitu 84,5%, sedangkan yang
tidak pernah memanfaatkan Jamkesmas sejak Januari 2008-Desember 2008 yaitu
15,5%.
Hasil ini sejalan dengan penelitian Simbolon (2005) yang meneliti persepsi
pasien keluarga miskin (GAKIN) terhadap pelayanan kesehatan di ruang rawat
responden yang berminat terhadap JPKM ada 76,6% dan tidak berminat terhadap
JPKM 27,4%.
Hasil penelitian Jangkan (2006) yang meneliti implementasi program
jaminan kesehatan masyarakat miskin di Kabupaten Sentang mendapati hasil
bahwa kebijakan Pemda yang mendukung pelaksanaan pelayanan kesehatan bagi
masyarakat miskin baru sebatas penetapan jumlah masyarakat miskin dan
pembentukan tim safe guarding PJKMM, belum ada dukungan dan (pembiayaan)
untuk pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin. Dari hasil penelitian ini
diperoleh data bahwa semua pasien yang datang ke pelayanan puskesmas sudah
memenuhi kriteria masyarakat miskin. Prosedur pelayanan masyarakat miskin
oleh puskesmas sudah cukup baik, dengan tidak membedakan pelayanan antara
yang menggunakan kartu Askeskin dan yang membayar. Pemanfaatan pelayanan
di puskesmas Emparu sudah cukup baik, mendekati target yang ditentukan,
sedangkan di Puskesmas Sepauk pemanfaatannya masih rendah, jauh dari target.
Hambatan-hambatan yang dijumpai adalah masih belum meratanya pemberian
kartu Askeskin, masih banyak penderita yang betul-betul miskin tapi tidak punya
kartu Askeskin, dan juga masih belum menggunakan SKTM.
Pemanfaatan Jamkesmas oleh masyarakat merupakan salah satu tujuan
pembangunan bidang kesehatan yaitu menjadikan masyarakat sehat dan sejahtera.
Dengan memanfaatkan Jamkesmas masyarakat akan mendapat pelayanan
rujukan rawat jalan tingkat lanjutan (RJTL), rawat inap tingkat lanjutan (RITL),
dan pelayanan gawat darurat secara gratis.
Sesuai dengan UUD 1945 pasal 28 H dan UU No. 23/1992 tentang
Kesehatan, bahwa setiap orang berhak mendapatkan pelayanan kesehatan. Karena
itu setiap individu, keluarga dan masyarakat berhak memperoleh perlindungan
terhadap kesehatannya, dan negara bertanggungjawab mengatur agar terpenuhi
hak hidup sehat bagi penduduknya termasuk bagi masyarakat miskin dan tidak
mampu (Depkes, 2008).
Kenyataan yang terjadi di Indonesia umumnya dan khususnya di
Kabupaten Labuhanbatu, bahwa derajat kesehatan masyarakat miskin masih
rendah, hal ini tergambarkan dari angka kematian dan kesakitan kelompok
masyarakat miskin lebih tinggi dari kelompok masyarakat tidak miskin.
Masyarakat miskin biasanya rentan terhadap penyakit dan mudah terjadi
penularan penyakit karena berbagai kondisi seperti kurangnya kebersihan
lingkungan dan perumahan yang saling berhimpitan, perilaku hidup bersih
masyarakat yang belum membudaya, pengetahuan terhadap kesehatan dan
pendidikan yang umumnya masih rendah.
Dalam hal pemanfaatan Jamkesmas, berdasarkan hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa pemanfaatan Jamkesmas oleh masyarakat sudah baik, karena
lebih dari 80% masyarakat sudah memanfaatkan Jamkesmas. Namun demikian,
masih harus terus dilakukan sosialisasi dan implementasi tentang penggunaan
masyarakat miskin dapat menggunakan program ini sebagai peningkatan derajat
kesehatannya.
5.2. Pengaruh Pekerjaan Terhadap Pemanfaatan Jamkesmas Di Kabupaten