• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Pemanfaatan Program Jamkesmas Di Kabupaten Labuhanbatu

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Analisis Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Pemanfaatan Program Jamkesmas Di Kabupaten Labuhanbatu"

Copied!
169
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI

PEMANFAATAN PROGRAM JAMKESMAS

DI KABUPATEN LABUHANBATU

T E S I S

Oleh

SOPAR SITORUS

067012024/IKM

PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA M E D A N

(2)

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI

PEMANFAATAN PROGRAM JAMKESMAS

DI KABUPATEN LABUHANBATU

T E S I S

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat

untuk Memperoleh Gelar Magister Kesehatan (M.Kes) dalam Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Minat Studi Administrasi dan Kebijakan Kesehatan

pada Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara

Oleh

SOPAR SITORUS

067012024/IKM

PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA M E D A N

(3)

Judul Tesis : ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG

MEMENGARUHI PEMANFAATAN PROGRAM JAMKESMAS DI KABUPATEN LABUHANBATU Nama Mahasiswa : Sopar Sitorus

Nomor Induk Mahasiswa : 067012024

Program Studi : S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Minat Studi : Administrasi dan Kebijakan Kesehatan

Menyetujui, Komisi Pembimbing

(Prof.Dr. Ade Fatma Lubis, SE,Ak,M.B.A,M.A.F.I.S) (dr. Jules H. Hutagalung, M.P.H)

Ketua Anggota

Ketua Program Studi Dekan

(Dr. Drs. Surya Utama, M.S) (dr. Ria Masniari Lubis, M.Si)

(4)

Telah diuji

Pada Tanggal : 09 September 2009

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua : Prof. Dr. Ade Fatma Lubis, SE,Ak, M.B.A, M.A.F.I.S Anggota : 1. dr. Jules H. Hutagalung, M.P.H

(5)

PERNYATAAN

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI PEMANFAATAN PROGRAM JAMKESMAS

DI KABUPATEN LABUHANBATU

T E S I S

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Medan, 9 September 2009

(6)

ABSTRAK

Terjadinya krisis moneter dan multidimensi di Indonesia pada tahun 1997 meningkatkan jumlah penduduk miskin. Di Kabupaten Labuhanbatu jumlah penduduk miskin meningkat dari 176.301 pada tahun 2006 menjadi 233.895 pada tahun 2007. Masalah derajat kesehatan masyarakat miskin yang masih rendah salah satunya adalah akses sarana dan prasarana terhadap pelayanan kesehatan yang sulit. Program Jamkesmas diselenggarakan agar terjadi subsidi silang antara pelayanan kesehatan dan pembiayaan kesehatan dalam rangka mewujudkan jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat miskin.

Jenis penelitian ini explanatory research yang bertujuan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi pemanfaatan program Jamkesmas di Kabupaten Labuhanbatu. Populasi penelitian sebanyak 6526 KK masyarakat miskin, sampel dipilih sebanyak 200 orang dengan teknik sampling random. Data dianalisis dengan menggunakan uji statistik Chi-Square, analisis multivariat dengan uji regresi logistik ganda.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan Jamkesmas di Kabupaten Labuhanbatu oleh masyarakat sejak Januari 2008-Desember 2008 yaitu 84,5%, sedangkan yang tidak pernah memanfaatkan Jamkesmas yaitu 15,5%. Uji regresi logistik ganda menunjukkan variabel yang berpengaruh secara signifikan yaitu pengetahuan, sarana dan prasarana, dan kondisi kesehatan. Faktor yang paling dominan berpengaruh terhadap pemanfaatan Jamkesmas adalah kondisi kesehatan dengan OR (odd rate) 3,606(95%CI:0,180-1,066).

Diharapkan kepada Dinas Kesehatan Labuhanbatu melakukan upaya pendataan dan verifikasi dengan benar agar program Jamkesmas tepat sasaran dan seluruh masyarakat miskin di Kabupaten Labuhanbatu dapat menjadi peserta Jamkesmas. Diharapkan peserta Jamkesmas memanfaatkan Jamkesmas untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang optimal dan meningkatkan derajat kesehatan individu dan keluarga.

Kata Kunci : Jamkesmas, Pelayanan Kesehatan, Pemanfaatan.

(7)

ABSTRACT

The incident of multidimension and monetary crisis in Indonesia in 1997 increased the number of poor population. In Labuhanbatu District, the number of poor population increased from 176,301 in 2006 to 233,895 in 2007. the low poor community’s health level is caused by many factors and one of them is the difficult access of facility and infrastructure to get health service. Jamkesmas (Community Health Guarantee) program has been carried out to generate a cross-subsidy between health service and health finance in an attempt to materialize a guarantee of health maintenance for poor community.

The purpose of this explanatory research is to analyze the factors which influence the utilization of Jamkesmas program in Labuhanbatu District. The population of this study was 6,526 heads of households and 200 of them were selected to be the samples for this study. The data obtained were statistically analyzed through univariate analysis, bivariate analysis with Chi-square test, and multivariate analysis with the double logistic regression test.

The result of this study shows that the utilization of Jamkesmas program in Labuhanbatu District by community from January 2008 to December 2008 was 84.5%, while 15.5% of the community never utilized the Jamkesmas program. The multiple regression logistics test shows the variable which had influence on utilization of Jamkesmas were: knowledge, facility and infrastructure, and condition of health. The most influenced factor was the condition of health with OR (odds rate) 3,606(95%CI:0.180-1.066).

It is suggested that Labuhanbatu District Health Office to collect and verify the data correctly in order to make the Jamkesmas program effective and efficient that all of the poor community in Labuhanbatu District can be the members of the

Jamkesmas. It is expected that the members of the Jamkesmas can utilize the

Jamkesmas optimally and improve the individual and family health standard.

(8)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas segala rahmat dan

karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini dengan judul “Analisis Faktor-Faktor yang Memengaruhi Pemanfaatan Program Jamkesmas di Kabupaten Labuhanbatu”.

Penulis menyadari begitu banyak dukungan, bimbingan, bantuan dan

kemudahan yang diberikan berbagai pihak, sehingga tesis ini dapat diselesaikan.

Dengan penuh ketulusan hati, penulis menyampaikan ucapan terima kasih,

semoga sukses dan berbahagia selalu dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa kepada

Prof. Dr. Ade Fatma Lubis, SE, Ak, M.B.A, M.A.F.I.S, dr. Jules H. Hutagalung,

M.P.H selaku Pembimbing yang memberi perhatian, dukungan dan pengarahan sejak

mulai hingga selesai tesis ini.

Terima kasih tiada terkira juga kami sampaikan dengan tulus kepada yang

terhormat Prof. Dr. Ritha F. Dalimunthe, M.Si, dr. Ria Masniari Lubis, M.Si dan

Drs. Amru Nasution, M.Kes, selaku Penguji yang telah memberi masukan sehingga

dapat meningkatkan bobot tesis ini.

Di samping itu penulis ucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada :

1. Prof. Dr. Ir. T. Chairun Nisa B., M.Sc, sebagai Direktur Sekolah Pascasarjana

USU.

2. dr. Ria Masniari Lubis, M.Si, sebagai Dekan Ilmu Kesehatan Masyarakat

(9)

3. Dr. Drs. Surya Utama, M.S, sebagai Ketua Program Studi S2 Ilmu Kesehatan

Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara

Medan.

4. Seluruh Staf Pengajar dan Pegawai pada Program Studi S2 Ilmu Kesehatan

Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara

Medan.

5. dr. Fuad Nazmi, M.Kes, selaku Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Labuhanbatu

yang memberi izin dan dukungan.

6. Ronald Siagian, selaku Kepala Cabang PT. Askes Rantauprapat yang telah

memberi masukan dalam penulisan tesis ini.

7. Direktur RSU Rantauprapat yang memberi kesempatan untuk mengikuti Program

Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas

Sumatera Utara Medan.

8. Kepala Puskesmas dan Staf juga pegawai dimana telah membantu saya selama

penelitian.

9. Rekan mahasiswa/i Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas

Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara Angkatan Tahun 2006.

Pada kesempatan ini penulis juga mengucapkan terima kasih kepada adik

Aulia tercinta serta seluruh keluarga besar sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis

(10)

Penulis menyadari tesis ini jauh dari sempurna, karenanya saran untuk

memperbaiki sangat diperlukan. Semoga penelitian ini bermanfaat bagi peningkatan

kesehatan masyarakat Indonesia, khususnya Kabupaten Labuhanbatu.

Medan, September 2009

Penulis,

(11)

RIWAYAT HIDUP

Sopar Sitorus, lahir pada tanggal 12 Desember 1970 di Kecamatan Porsea

Kabupaten Toba Samosir, anak keduabelas (12) dari tigabelas (13) bersaudara, dari

seorang almarhumah K. br. Manurung dan seorang ayah almarhum W. Sitorus. Orang

tua saya penganut Agama Kristen Protestan demikian juga dengan saya adalah

penganut Agama Kristen Protestan. Saya bersama keluarga tinggal di Jl. Merathon

(Huta Ginjang) No. 42 Rantauprapat, Kabupaten Labuhanbatu.

Penulis menyelesaikan Sekolah Dasar di SD Negeri 9, Rantauprapat,

Kabupaten Labuhanbatu yaitu dari tahun 1977 – 1983, kemudian pindah ke

Kecamatan Porsea kabupaten Toba Samosir dan melanjutkan Sekolah Menengah

Pertama (SMP) Negeri 1 tahun 1983 dan penulis menamatkan Sekolah Menengah

Pertama pada tahun 1986 kemudian meneruskan pendidikan ke Sekoah Perawat

Kesehatan di Kota Tarutung Kabupaten Tapanuli Utara dari tahun 1986 sampai

dengan tahun 1989.

Pada Tahun 1998 sampai dengan 2000 penulis melanjutkan pendidikan D-III

Keperawatan Depkes Medan, kemudian tahun 2002 – 2004 melanjutkan pendidikan

ke Tingkat S1 – Sarjana Kesehatan Masyarakat di STIKes Mutiara Indonesia Medan.

Kini penulis sedang mengikuti pendidikan Program Studi S2 Ilmu

Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara

(12)

Pada tahun 1995, penulis bekerja di rumah Sakit Umum daerah Kabupaten

Labuhanbatu sebagai Pegawai Negeri Sipil dan ditempatkan dengan jabatan Staf

(13)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... ii

KATA PENGANTAR... iii

RIWAYAT HIDUP ... vi

DAFTAR ISI... viii

DAFTAR TABEL ... x

DAFTAR GAMBAR... xii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Permasalahan ... 8

1.3 Tujuan Penelitian ... 9

1.4 Hipotesis... 9

1.5 Manfaat Penelitian ... 9

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Jaminan Kesehatan Masyarakat ... 11

2.2 Faktor-faktor yang Memengaruhi dalam Memanfaatkan Pelayanan Kesehatan ... 25

2.3 Landasan Teori ... 42

2.4 Kerangka Konsep ... 44

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian ... 46

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 46

3.3 Populasi dan Sampel ... 46

3.4 Metode Pengumpulan Data ... 50

3.5 Variabel dan Definisi Operasional ... 54

3.6 Metode Pengukuran ... 55

3.7 Metode Analisis Data ... 57

BAB IV HASIL PENELITIAN 4.1. Deskripsi Kabupaten Labuhanbatu ... 59

4.2. Analisis Univariat ... 64

4.3. Analisis Bivariat... 71

(14)

BAB V PEMBAHASAN

5.1. Pemanfaatan Jamkesmas... 83 5.2. Pengaruh Pekerjaan Terhadap Pemanfaatan Jamkesmas

di Kabupaten Labuhanbatu ... 86 5.3. Pengaruh Pendapatan Terhadap Pemanfaatan Jamkesmas

di Kabupaten Labuhanbatu ... 87 5.4. Pengaruh Pengetahuan Terhadap Pemanfaatan Jamkesmas

di Kabupaten Labuhanbatu ... 90 5.5. Pengaruh Sarana dan Prasarana Terhadap Pemanfaatan

Jamkesmas di Kabupaten Labuhanbatu ... 91 5.6. Pengaruh Informasi Terhadap Pemanfaatan Jamkesmas

di Kabupaten Labuhanbatu ... 93 5.7. Pengaruh Kondisi Kesehatan Terhadap Pemanfaatan

Jamkesmas di Kabupaten Labuhanbatu ... 94

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan ... 97 6.2 Saran ... 98

(15)

DAFTAR TABEL

Nomor Judul Halaman

1.1 Jumlah dan Cakupan Angka Kematian Bayi serta Angka

Kematian Ibu Tahun 2006-2007 ... 5

3.1 Data Penduduk Kabupaten Labuhanbatu ... 48

3.2 Jumlah Sampel Kepala Keluarga Masyarakat Miskin di Kecamatan Wilayah Pesisir Kabupaten Labuhanbatu ... 50

3.3 Validitas Instrumen Penelitian ... 52

3.4 Pengukuran Variabel Independen ... 56

3.5 Pengukuran Variabel Dependen... 57

4.1 Distribusi Karakteristik Responden di Kabupaten Labuhanbatu Tahun 2009... 65

4.2 Distribusi Responden Berdasarkan Pekerjaan di Kabupaten Labuhanbatu Tahun 2009... 66

4.3 Distribusi Responden Berdasarkan Pendapatan di Kabupaten Labuhanbatu Tahun 2009... 67

4.4 Distribusi Responden Berdasarkan Pengetahuan di Kabupaten Labuhanbatu Tahun 2009... 67

4.5 Distribusi Responden Berdasarkan Sikap di Kabupaten Labuhanbatu Tahun 2009... 68

4.6 Distribusi Pernyataan Responden tentang Pelayanan Jamkesmas di Kabupaten Labuhanbatu Tahun 2009 ... 68

4.7 Distribusi Pernyataan Responden tentang Sarana dan Prasarana di Kabupaten Labuhanbatu Tahun 2009... 69

(16)

4.9 Distribusi Pernyataan Responden tentang Kondisi Kesehatan

di Kabupaten Labuhanbatu Tahun 2009 ... 70

4.10 Distribusi Responden Berdasarkan Pemanfaatan Jamkesmas di

Kabupaten Labuhanbatu Tahun 2009 ... 71

4.11 Pengaruh Pekerjaan Responden Terhadap Pemanfaatan

Jamkesmas di Kabupaten Labuhanbatu Tahun 2009 ... 72

4.12 Pengaruh Pendapatan Responden Terhadap Pemanfaatan

Jamkesmas di Kabupaten Labuhanbatu Tahun 2009 ... 73

4.13 Pengaruh Pengetahuan Responden Terhadap Pemanfaatan

Jamkesmas di Kabupaten Labuhanbatu Tahun 2009 ... 74

4.14 Pengaruh Sikap Responden Terhadap Pemanfaatan Jamkesmas

di Kabupaten Labuhanbatu Tahun 2009 ... 75

4.15 Pengaruh Pelayanan Jamkesmas Terhadap Pemanfaatan

Jamkesmas di Kabupaten Labuhanbatu Tahun 2009 ... 76

4.16 Pengaruh Sarana dan Prasarana Terhadap Pemanfaatan

Jamkesmas di Kabupaten Labuhanbatu Tahun 2009 ... 77

4.17 Pengaruh Informasi Terhadap Pemanfaatan Jamkesmas

di Kabupaten Labuhanbatu Tahun 2009 ... 78

4.18 Pengaruh Kondisi Kesehatan Terhadap Pemanfaatan Jamkesmas

di Kabupaten Labuhanbatu Tahun 2009 ... 79

4.19 Hasil Uji Regresi Logistk Tahap Pertama Analisis Faktor-faktor yang Memengaruhi Pemanfaatan Program Jamkesmas di Kabupaten

Labuhanbatu... 80

4.20 Hasil Uji Regresi Logistk Tahap Kedua Analisis Faktor-faktor yang Memengaruhi Pemanfaatan Program Jamkesmas di Kabupaten

(17)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Judul Halaman

2.1. Siklus Kesehatan dan Kemiskinan ... 24

2.2. Skema Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan oleh Individu ... 44

(18)

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Judul Halaman

1. Lembar Kuesioner ... 104

2. Tabel Hasil Ujicoba Kuesioner ... 127

3. Hasil Uji Validitas ... 128

4. Uji Reliabilitas ... 135

5. Master Data Penelitian ... 135

6. Output SPSS ... 148

7. Surat Izin Penelitian dari Sekolah Pascasarjana USU... 163

8. Surat Balasan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Labuhanbatu dan UPTD ...

(19)

ABSTRAK

Terjadinya krisis moneter dan multidimensi di Indonesia pada tahun 1997 meningkatkan jumlah penduduk miskin. Di Kabupaten Labuhanbatu jumlah penduduk miskin meningkat dari 176.301 pada tahun 2006 menjadi 233.895 pada tahun 2007. Masalah derajat kesehatan masyarakat miskin yang masih rendah salah satunya adalah akses sarana dan prasarana terhadap pelayanan kesehatan yang sulit. Program Jamkesmas diselenggarakan agar terjadi subsidi silang antara pelayanan kesehatan dan pembiayaan kesehatan dalam rangka mewujudkan jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat miskin.

Jenis penelitian ini explanatory research yang bertujuan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi pemanfaatan program Jamkesmas di Kabupaten Labuhanbatu. Populasi penelitian sebanyak 6526 KK masyarakat miskin, sampel dipilih sebanyak 200 orang dengan teknik sampling random. Data dianalisis dengan menggunakan uji statistik Chi-Square, analisis multivariat dengan uji regresi logistik ganda.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan Jamkesmas di Kabupaten Labuhanbatu oleh masyarakat sejak Januari 2008-Desember 2008 yaitu 84,5%, sedangkan yang tidak pernah memanfaatkan Jamkesmas yaitu 15,5%. Uji regresi logistik ganda menunjukkan variabel yang berpengaruh secara signifikan yaitu pengetahuan, sarana dan prasarana, dan kondisi kesehatan. Faktor yang paling dominan berpengaruh terhadap pemanfaatan Jamkesmas adalah kondisi kesehatan dengan OR (odd rate) 3,606(95%CI:0,180-1,066).

Diharapkan kepada Dinas Kesehatan Labuhanbatu melakukan upaya pendataan dan verifikasi dengan benar agar program Jamkesmas tepat sasaran dan seluruh masyarakat miskin di Kabupaten Labuhanbatu dapat menjadi peserta Jamkesmas. Diharapkan peserta Jamkesmas memanfaatkan Jamkesmas untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang optimal dan meningkatkan derajat kesehatan individu dan keluarga.

Kata Kunci : Jamkesmas, Pelayanan Kesehatan, Pemanfaatan.

(20)

ABSTRACT

The incident of multidimension and monetary crisis in Indonesia in 1997 increased the number of poor population. In Labuhanbatu District, the number of poor population increased from 176,301 in 2006 to 233,895 in 2007. the low poor community’s health level is caused by many factors and one of them is the difficult access of facility and infrastructure to get health service. Jamkesmas (Community Health Guarantee) program has been carried out to generate a cross-subsidy between health service and health finance in an attempt to materialize a guarantee of health maintenance for poor community.

The purpose of this explanatory research is to analyze the factors which influence the utilization of Jamkesmas program in Labuhanbatu District. The population of this study was 6,526 heads of households and 200 of them were selected to be the samples for this study. The data obtained were statistically analyzed through univariate analysis, bivariate analysis with Chi-square test, and multivariate analysis with the double logistic regression test.

The result of this study shows that the utilization of Jamkesmas program in Labuhanbatu District by community from January 2008 to December 2008 was 84.5%, while 15.5% of the community never utilized the Jamkesmas program. The multiple regression logistics test shows the variable which had influence on utilization of Jamkesmas were: knowledge, facility and infrastructure, and condition of health. The most influenced factor was the condition of health with OR (odds rate) 3,606(95%CI:0.180-1.066).

It is suggested that Labuhanbatu District Health Office to collect and verify the data correctly in order to make the Jamkesmas program effective and efficient that all of the poor community in Labuhanbatu District can be the members of the

Jamkesmas. It is expected that the members of the Jamkesmas can utilize the

Jamkesmas optimally and improve the individual and family health standard.

(21)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Keadaan sehat dan sejahtera adalah hak setiap warga negara. Pemerintah

selalu berusaha untuk memenuhi hak warga negaranya. Jumlah warga negara yang

terganggu kesehatannya sangat meningkat tajam sejak terjadinya krisis multi dimensi

pada tahun 1997, khususnya pada kelompok masyarakat miskin. Oleh karena itu

pemerintah pada tahun 1998 melaksanakan Program Jaringan Pengaman Sosial,

termasuk di Bidang Kesehatan (JPS-BK), yang dananya berasal dari Bank

Pembangunan Asia yang ditujukan untuk pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat

miskin (Depkes RI, 2006).

Terjadinya krisis multi dimensi mengakibatkan meningkatnya beban anggaran

negara, maka melalui Undang-undang No. 25 Tahun 2000 tentang Propenas

2000-2004, disepakati untuk mengurangi subsidi bahan bakar minyak (BBM) sejak tahun

2001 dan diharapkan tanpa subsidi BBM pada akhir tahun 2004 mengalihkan dana

subsidi BBM yang dikurangi tersebut untuk pembiayaan keluarga miskin bagi

pemenuhan hak warga negara agar tetap sehat dan sejahtera. Program yang dimulai

sejak tahun 2002 tersebut dikenal dengan Program Kompensasi Pengurangan Subsidi

BBM, termasuk Bidang Kesehatan (PKPS-BBM Bidkes), Program Jaringan

Pengaman Sosial (JPS-BK) Tahun 1998-2001 dan Program Dampak Pengurangan

(22)

Pada tahun 2003, ketiga program bantuan bagi keluarga miskin dipadukan

dalam satu program yang disebut PKPS-BBM Bidkes Pemerintah mengalihkan biaya

subsidi BBM menjadi biaya untuk melayani keluarga miskin agar tetap terpelihara

kesehatannya, bahkan ditingkatkan derajat kesehatannya dengan melalui pengaruh

kebijakan Pemerintah Kabupaten terhadap program tersebut dalam meningkatkan

status kesehatan masyarakat miskin. Pada tahun 2003 dilakukan uji coba penyaluran

dana PKPS BBM Bidkes melalui mekanisme pra-bayar (Program Jaminan

Pemeliharaan Kesehatan Keluarga Miskin - Program JPK Gakin) di Propinsi dan

Kabupaten/Kota yang ditetapkan. Hasil uji coba tersebut membuat Program

PKPS-BBM Bidkes kurang efektif dan efisien dilaksanakan di mana pihak ke tiga menjadi

pengelola (Dinas Kesehatan Kabupaten Labuhanbatu, 2007).

Pada akhir Tahun 2004, Menteri Kesehatan melalui SK Nomor

1241/Menkes/SK/XI/2004, tanggal 12 November 2004, menugaskan PT.ASKES

(Persero) dengan berbasis asuransi sosial dalam mengelola pemeliharaan kesehatan

masyarakat miskin. PT.ASKES (Persero) sebagai pihak ketiga dalam

penyelenggaraan kesehatan masyarakat miskin agar dapat bekerja sama dengan lintas

sektoral yang terkait dalam pemanfaatan dan peningkatan pemeliharaan kesehatan

keluarga miskin (Depkes RI, 2006).

Penyelenggaraan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Keluarga Miskin sejak

Januari 2005 dikelola sepenuhnya oleh PT.ASKES (Persero) meliputi pelayanan

kesehatan dasar di Puskesmas dan jaringannya, serta pelayanan kesehatan rujukan di

(23)

ditetapkan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota melalui Tim Koordinasi

Kabupaten/Kota dengan melibatkan tim desa dalam mengidentifikasi nama dan

alamat keluarga miskin secara tepat, sesuai dengan kriteria keluarga miskin.

Pemerintah sangat memperhatikan kebutuhan masyarakat miskin khususnya

dalam pelayanan kesehatan sesuai dengan Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 28 Ayat

(1), Bahwa setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan bathin, bertempat tinggal

dan mendapat lingkungan yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan

kesehatan. Saat ini Pemerintah memperhatikan penjaminan kesehatan bagi

masyarakat miskin sebagai bagian pengembangan jaminan secara menyeluruh.

Berdasarkan pengalaman masa lalu dan belajar dari pengalaman berbagai negara lain

yang telah lebih dahulu mengembangkan jaminan kesehatan. Maka Pemerintah pusat

membuat kebijakan baru dalam melaksanakan pelayanan kesehatan terhadap

masyarakat miskin dengan surat edaran Nomor JP.01.01/I/289/2008, tanggal 31

Januari 2008 tentang Pelaksanaan Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan Masyarakat

Miskin. Sehingga mulai Januari 2008 Penyelenggaraan Jaminan Pemeliharaan

Masyarakat Miskin dikelola Departemen Kesehatan Pusat, meliputi bahwa pelayanan

dasar dilakukan oleh Puskesmas dan jaringannya serta pelayanan kesehatan rujukan

di Rumah Sakit (Depkes RI, 2008).

Adanya perubahan ASKESKIN diganti menjadi Jamkesmas (Jaminan

Kesehatan Masyarakat Miskin) keputusan Menteri Kesehatan melalui SK Nomor

125/Menkes/SK/II/2008, Tanggal 6 Februari 2008 telah diterbitkan Pedoman

(24)

masyarakat miskin. Kenyataan yang terjadi, derajat kesehatan masyarakat miskin

masih rendah, hal ini tergambarkan dari angka kematian bayi kelompok masyarakat

miskin tiga setengah sampai dengan empat kali lebih tinggi dari kelompok

masyarakat tidak miskin. Masyarakat miskin biasanya rentan terhadap penyakit dan

mudah terjadi penularan penyakit karena berbagai kondisi seperti kurangnya

kebersihan lingkungan dan perumahan yang saling berhimpitan, perilaku hidup bersih

masyarakat belum membudaya, pengetahuan tentang kesehatan dan pendidikan yang

umumnya masih rendah. (Depkes RI, 2008)

Menurut Hendrik L. Blum dalam Notoatmodjo (2003), salah satu faktor yang

memengaruhi derajat kesehatan masyarakat adalah lingkungan. Lingkungan

memberikan pengaruh yang besar terhadap status kesehatan masyarakat. Hal yang

sama disampaikan Soemirat (1994), bahwa peran lingkungan sangat berpengaruh

terhadap terjadinya penyakit menular dan wabah. Dengan demikian penyakit infeksi

menular masih tetap merupakan masalah kesehatan masyarakat yang menonjol.

Derajat kesehatan masyarakat miskin berdasarkan indikator angka kematian

bayi (AKB) dan angka kematian ibu (AKI) di Indonesia masih cukup tinggi, yaitu

AKB sebesar 26,9 per 1000 kelahiran hidup dan AKI sebesar 248 per 100.000

kelahiran hidup serta umur harapan hidup 70,5 tahun (BPS, 2007).

Survei awal berdasarkan data Profil Program KIA DINKES Kabupaten

Labuhanbatu (2007) tentang jumlah AKB dan AKI pada tahun 2006 s/d tahun 2007,

dan cakupan AKB masyarakat miskin tahun 2006 sebesar 279 orang, tahun 2007

sebesar 51 dan AKI tahun 2006 sebesar 290 orang dan tahun 2007 sebanyak 37 orang

(25)

Tabel 1.1 Jumlah dan Cakupan Angka Kematian Bayi Serta Angka Kematian Ibu Tahun 2006 – 2007

Jumlah AKB dan AKI pada tahun 2006 s/d tahun 2007

Angka Kematian Bayi Angka Kematian Ibu No Tahun

Umum MISKIN Total Umum Miskin Total

1 2006 70 279 349 72 290 362

2 2007 13 51 64 9 37 46

Cakupan AKB di Kabupaten Labuhanbatu dan Indikator IS 2010.

Program Umum Miskin Total No Tahun

AKB KH % % %

Indikator Indonesia Sehat 2010

1 2006 349 18715 3,7 14,9 18,6

2 2007 362 18847 3,8 15,4 19,2 40/1000 KH

Cakupan AKI di Kabupaten Labuhanbatu dan Indikator IS 2010.

Program Umum Miskin Total No Tahun

AKI KH % % %

Indikator Indonesia Sehat 2010

1 2006 64 18715 69,4 272,5 342

2 2007 46 18847 47,7 196,3 244

150/100.000 KH

Jumlah kunjungan ibu hamil tahun 2006 sebesar 22.212, pada tahun 2007

sebesar 22.422. persalinan oleh tenaga kesehatan pada tahun 2006 sebesar 18.782 dan

tahun 2007 sebesar 18.927 kunjungan. Adanya perbedaan kunjungan ibu hamil

dengan persalinan oleh tenaga kesehatan tahun 2006 sebesar 15,44 % tahun 2007

sebesar 15,59 %.

Jumlah penduduk miskin di Kabupaten Labuhanbatu pada tahun 2006 sebesar

(26)

Pada tahun 2007 jumlah penduduk miskin sebesar 233.895 jiwa dari total jumlah

penduduk Kabupaten Labuhanbatu sebesar 1.007.185 jiwa, yang mendapat Jaminan

Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Miskin pada tahun 2007 sebesar 131,302 jiwa

(56,14%) dari total jumlah penduduk miskin di Kabupaten Labuhanbatu disamping

surat keterangan tidak mampu (SKTM) yang dimiliki oleh masyarakat. Hal ini

mengakibatkan permasalahan yang sering dihadapi oleh petugas pelayanan kesehatan

karena belum tercapai cakupan jaminan pemeliharaan kesehatan keluarga miskin dan

masyarakat rentan sesuai standar pelayanan minimal bidang kesehatan di

kabupaten/kota (100%). Kerja sama lintas program dan lintas sektoral sangat

diperlukan dalam memotivasi masyarakat untuk meningkatkan pembangunan

kesehatan namun dewasa ini kerjasama yang diharapkan tersebut sangat menurun

kualitasnya (Dinkes Kabupaten Labuhanbatu, 2007).

Derajat kesehatan masyarakat miskin yang masih rendah tersebut diakibatkan

karena sulitnya akses terhadap pelayanan kesehatan. Kesulitan akses pelayanan ini

dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti tidak adanya kemampuan secara ekonomi

dikarenakan biaya kesehatan memang mahal. Peningkatan biaya kesehatan yang

diakibatkan oleh berbagai faktor seperti perubahan pola penyakit, perkembangan

teknologi kesehatan dan kedokteran, pola pembiayaan kesehatan berbasis

pembayaran out of pocket, kondisi geografis yang sulit untuk menjangkau sarana

kesehatan. Derajat kesehatan yang rendah berpengaruh terhadap rendahnya

produktifitas kerja yang pada akhirnya menjadi beban masyarakat dan pemerintah

(27)

Keberhasilan yang telah dicapai program terdahulu dalam Penyelenggaraan

Jaminan Pemeliharaan Masyarakat Miskin masih terdapat beberapa permasalahan

yang perlu dibenahi antara lain : kepesertaan yang belum tuntas, peran fungsi ganda

sebagai pengelola, verifikator belum berjalan dengan optimal, kendala dalam

kecepatan pembayaran, kurangnya pengendalian biaya, penyelenggara tidak

menanggung resiko.

Program Jamkesmas ini diselenggarakan secara nasional agar terjadi subsidi

silang dalam rangka mewujudkan jaminan pemeliharaan kesehatan yang aman

menyeluruh bagi penduduk Indonesia khususnya Kabupaten Labuhanbatu, yang saat

ini dimulai dengan sasaran pada masyarakat miskin. Pada hakekatnya pelayanan

kesehatan terhadap masyarakat miskin menjadi tanggung jawab bersama antara

pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Supaya masing-masing pihak memberikan

kontribusi sehingga menghasilkan pelayanan yang optimal. UU No. 40 Tahun 2004

tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional Pasal 17, Undang-undang ini mengatur

sumber pembiayaan program Jamkesmas sebagaimana dinyatakan dalam butir 4 :

“Iuran program jaminan sosial bagi fakir miskin dan orang yang tidak mampu dibayar

oleh pemerintah”.

Rendahnya cakupan masyarakat yang mendapatkan pelayanan Jamkesmas itu

menjadi suatu hal yang menarik untuk dikaji dan digali untuk menganalisa sampai

sejauhmana Faktor-faktor yang memengaruhi pemanfaatan program Jamkesmas di

(28)

untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi pemanfaatan program Jamkesmas

di Kabupaten Labuhanbatu dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat miskin

tersebut ada beberapa kendala berupa kebijakan Pemerintah Kabupaten Labuhanbatu

yang perlu dianalisa untuk mengetahui seberapa besar pengaruhnya program

Jamkesmas dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat miskin tersebut di

lihat dari pelaksanaan penerbitan dan pendistribusian serta penyebaran kartu

Jamkesmas, keterbatasan SDM petugas pelayanan Jamkesmas, keterbatasan fasilitas,

informasi, kondisi kesehatan, sikap, kinerja, pengetahuan serta pendapatan. Oleh

sebab itu dengan melihat permasalahan di atas, maka perlu diadakan penelitian

tentang Analisis Faktor-faktor yang memengaruhi pemanfaatan program Jamkesmas

di Kabupaten Labuhanbatu dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat miskin

Tahun 2009.

1.2. Permasalahan

Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas dapat dirumuskan

permasalahan penelitian : Apakah Faktor-faktor yang memengaruhi pemanfaatan

Program Jamkesmas (pekerjaan, pendapatan, pengetahuan, sikap, pelayanan

Jamkesmas terdiri dari tenaga kesehatan Jamkesmas di dinas kesehatan, puskesmas

dan rumah sakit, sarana dan prasarana, informasi, kondisi kesehatan) di Kabupaten

(29)

1.3. Tujuan Penelitian

Mengetahui faktor-faktor (pekerjaan, pendapatan, pengetahuan, sikap,

pelayanan Jamkesmas terdiri dari tenaga kesehatan Jamkesmas di dinas kesehatan,

puskesmas dan rumah sakit, sarana dan prasarana, informasi, kondisi kesehatan)

berpengaruh terhadap pemanfaatan Program Jaminan Kesehatan Masyarakat Miskin

di Kabupaten Labuhanbatu.

1.4. Hipotesis

Hipotesis penelitian ini adalah faktor-faktor (pekerjaan, pendapatan,

pengetahuan, sikap, pelayanan Jamkesmas terdiri dari tenaga kesehatan Jamkesmas di

dinas kesehatan, puskesmas dan rumah sakit, sarana dan prasarana, informasi, kondisi

kesehatan) berpengaruh terhadap pemanfaatan Program Jaminan Kesehatan

Masyarakat Miskin di Kabupaten Labuhanbatu.

1.5. Manfaat Penelitian

1.5.1 Bagi Pemerintah Daerah

Sebagai masukan kepada pemerintah daerah Kabupaten Labuhanbatu

sehingga dapat membuat strategi dan kebijakan dalam penanganan pelayanan

kesehatan masyarakat miskin serta mengevaluasi Program Jamkesmas.

1.5.2 Bagi Dinas Kesehatan

Sebagai bahan masukan bagi Dinas Kesehatan Kabupaten

Labuhanbatu agar Program Jamkesmas dapat dilaksanakan sebaik-baiknya

(30)

1.5.3 Bagi Ilmu Pengetahuan

Sebagai informasi dan pengembangan ilmu pengetahuan kesehatan

masyarakat, khususnya di bidang administrasi kebijakan kesehatan. Sehingga

memperoleh suatu pengembangan yang mendukung kualitas pelayanan

(31)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Jamkesmas (Jaminan Kesehatan Masyarakat Miskin) 2.1.1. Pengertian Jamkesmas

Jamkesmas adalah program bantuan sosial untuk pelayanan kesehatan bagi

masyarakat miskin dan tidak mampu. Program ini diselenggarakan secara nasional

agar terjadi subsidi silang dalam rangka mewujudkan pelayanan kesehatan yang

menyeluruh bagi masyarakat miskin

Memenuhi hak masyarakat miskin diamanatkan konstitusi dan

Undang-Undang, maka Departemen Kesehatan mempunyai kebijakan untuk lebih

memfokuskan pada pelayanan kesehatan masyarakat miskin. Dasar pemikirannya

adalah bahwa selain memenuhi kewajiban pemerintah juga berdasarkan kajian bahwa

indikator-indikator kesehatan akan lebih baik apabila lebih memperhatikan pelayanan

kesehatan yang terkait dengan kemiskinan dan kesehatan. Melalui jaminan

pemeliharaan kesehatan masyarakat miskin ini diharapkan dapat menurunkan angka

kematian ibu melahirkan, menurunkan angka kematian bayi dan balita serta

penurunan angka kelahiran di samping dapat terlayaninya kasus-kasus kesehatan

masyarakat miskin umumnya. Pemeliharaan kesehatan bagi masyarakat miskin

dengan prinsip jaminan kesehatan melalui mekanisme asuransi sosial sebagai awal

dari pengembangan sistem jaminan kesehatan sosial secara menyeluruh yang bersifat

(32)

miskin (Jamkesmas) ini dapat mendorong perubahan-perubahan mendasar seperti

penataan standarisasi pelayanan, standarisasi tarif yang didasari perhitungan yang

benar, penataan formularium dan penggunaan obat rasional, yang berdampak pada

kendali mutu dan kendali biaya. (Depkes RI, 2008)

Untuk menjamin akses penduduk miskin terhadap pelayanan kesehatan, sejak

tahun 2005 semester I pemerintah melaksanakan penyelenggaraan jaminan

pemeliharaan kesehatan bagi masyarakat miskin dikelola sepenuhnya oleh PT.Askes

(Persero). Berdasarkan pengalaman-pengalaman pelayanan kesehatan di masa lalu

dan upaya untuk mewujudkan sistem pembiayaan yang efektif dan efisien masih

perlu diterapkan mekanisme jaminan kesehatan yang berbasis asuransi sosial.

Program ini sudah berjalan 4 (empat) tahun, dan telah memberikan banyak manfaat

bagi peningkatan akses pelayanan kesehatan masyarakat miskin dan tidak mampu.

Pada tahun 2008 ini terjadi perubahan pada penyaluran dana dan pengelolaannya.

(Pedoman Pelaksanaan Jamkesmas, 2008)

Jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat bertujuan untuk mengumpulkan

sumber daya (pooling resources) dengan cara membayar premi dan membagi atau

menyebarkan atau memindahkan resiko sakit (spreading or transfer risk) dari resiko

individu ke kelompok, dengan kata lain bertujuan untuk saling gotong royong dan

saling membantu mengatasi resiko sakit dan akibat yang ditimbulkan dari resiko sakit

(33)

Saat ini masyarakat miskin memerlukan jaminan pemeliharaan kesehatan,

untuk memperoleh jaminan kesehatan paripurna dan berkesinambungan yang dibiayai

dengan iuran prabayar bersama karena :

1. Biaya pemeliharaan kesehatan cenderung semakin mahal seiring dengan

perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta pola penyakit degeneratif

akibat penduduk yang makin menua.

2. Pemeliharaan kesehatan memerlukan dana yang berkesinambungan.

3. Masyarakat tidak mampu membiayai pemeliharaan kesehatannya sendiri, sakit

dan musibah dapat datang secara tiba-tiba.

4. Biaya pemeliharaan kesehatan dilakukan secara perorangan cenderung mahal.

5. Beban biaya perorangan dalam pemeliharaan kesehatan menjadi lebih ringan bila

ditanggung bersama. Dana dari uraian bersama yang terkumpul pada Jamkesmas

dapat menjamin pemeliharaan kesehatan peserta.

Secara umum, Jamkesmas mempunyai tujuan yaitu meningkatnya akses dan

mutu pelayanan kesehatan kepada seluruh masyarakat miskin dan tidak mampu agar

tercapai derajat kesehatan masyarakat yang optimal secara efektif dan efisien.

Sedangkan tujuan khusus Jamkesmas yaitu :

1. Meningkatnya cakupan masyarakat miskin dan tidak mampu yang mendapatkan

pelayanan kesehatan di Puskesmas serta jaringannya dan Rumah Sakit.

2. Meningkatnya kualitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin.

(34)

Sasaran Jamkesmas yaitu : masyarakat miskin dan tidak mampu di seluruh

Indonesia sejumlah 76,4 juta jiwa (BPS 2006), tidak termasuk yang sudah

mempunyai jaminan kesehatan lainnya

Untuk kelancaran pelaksanaan Program Jamkesmas di daerah, Departemen

Kesehatan Pusat mengeluarkan Pedoman Pelaksanaan Jaminan Kesehatan

Masyarakat Miskin dengan ketentuan yang ada. Adapun prosedur untuk memperoleh

pelayanan kesehatan bagi peserta, sebagai berikut :

1. Peserta yang memerlukan pelayanan kesehatan dasar berkunjung ke Puskesmas

dan jaringannya

2. Untuk mendapatkan pelayanan kesehatan, peserta harus menunjukkan kartu yang

keabsahan kepesertaannya merujuk kepada daftar masyarakat miskin yang

ditetapkan oleh Bupati/Walikota setempat. Penggunaan SKTM hanya berlaku

untuk setiap kali pelayanan kecuali pada kondisi pelayanan lanjutan terkait dengan

penyakitnya.

3. Apabila peserta Jamkesmas memerlukan pelayanan kesehatan rujukan, maka yang

bersangkutan dapat dirujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan rujukan dengan

disertai surat rujukan dan kartu peserta yang ditunjuk sejak awal sebelum

mendapatkan pelayanan kesehatan, kecuali pada kasus emergency.

4. Pelayanan rujukan sebagaimana butir-3 (tiga) di atas meliputi :

a. Pelayanan rawat jalan lanjutan (spesialistik) di Rumah Sakit, BKMM/

BBKPM/BKPM/BP4/BKIM.

(35)

c. Pelayanan obat-obatan

d. Pelayanan rujukan spesimen dan penunjang diagnostik

5. Untuk memperoleh pelayanan rawat jalan di BKMM/BBKPM/BKPM/BP4/BKIM

dan Rumah Sakit peserta harus menunjukkan kartu peserta atau SKTM dan surat

rujukan dari puskesmas di loket pusat pelayanan Administrasi terpadu Rumah

Sakit (PPATRS). Kelengkapan berkas peserta diverifikasi kebenarannya oleh

petugas kesehatan Jamkesmas, bila berkas telah lengkap maka petugas

mengeluarkan SKPdan peserta mendapatkan pelayanan kesehatan

6. Untuk memperoleh pelayanan rawat inap di BKMM/BBKPM/BKPM/BP4/BKIM

dan Rumah Sakit peserta harus menunjukkan kartu peserta atau SKTM dan surat

rujukan dari puskesmas di loket pusat pelayanan Administrasi terpadu Rumah

Sakit (PPATRS). Kelengkapan berkas peserta diverifikasi kebenarannya oleh

petugas kesehatan Jamkesmas, bila berkas telah lengkap maka petugas

mengeluarkan SKPdan peserta mendapatkan pelayanan kesehatan dan selanjutnya

memperoleh pelayanan rawat inap

7. Pada kasus tertentu yang dilayani di IGD termasuk kasus Gawat Darurat di

BKMM/BBKPM/BKPM/BP4/BKIM dan Rumah Sakit peserta harus menunjukkan

kartu peserta atau SKTM dan surat rujukan dari puskesmas di loket pusat

pelayanan Administrasi terpadu Rumah Sakit (PPATRS). Kelengkapan berkas

peserta diverifikasi kebenarannya oleh petugas kesehatan Jamkesmas, bila berkas

telah lengkap maka petugas mengeluarkan SKP dan peserta mendapatkan

(36)

8. Bila peserta tidak dapat menunjukkan kartu peserta atau SKTM sejak awal

sebelum mendapatkan pelayanan kesehatan, maka yang bersangkutan di beri

waktu maksimal 2 x 24 jam hari kerja untuk menunjukkan kartu tersebut.

Pelayanan kesehatan komprehensif meliputi : pelayanan yang wajib untuk

pemeliharaan kesehatan dasar di Puskesmas dan jaringannya adalah :

1. Rawat Jalan Tingkat Pertama (RJTP), dilaksanakan pada Puskesmas dan

jaringannya baik dalam maupun luar gedung meliputi pelayanan :

a. Konsultasi medis, pemeriksaan fisik dan penyuluhan kesehatan

b. Laboratorium sederhana (darah, urin, dan feses rutin)

c. Tindakan medis kecil

d. Pemeriksaan dan pengobatan gigi, termasuk cabut/tambal.

e. Pemeriksaan ibu hamil/nifas/menyusui, bayi dan balita

f. Pelayanan KB dan penanganan efek samping

g. Pemberian obat.

2. Pelayanan kesehatan di Rumah Sakit

Rawat jalan tingkat lanjutan (RJTL), dilaksanakan pada poliklinik spesialis RS

Pemerintah/BP4/BKMM, meliputi :

a. Konsultasi medis, pemeriksaan fisik dan penyuluhan kesehatan oleh dokter

spesialis/umum.

b. Rehabilitasi medik

c. Penunjang diagnostik : laboratorium klinik, radiologi dan elektromedik.

(37)

e. Pemeriksaan dan pengobatan gigi tingkat lanjutan

f. Pelayanan KB, konsep efektif, kontap pasca persalinan/keguguran,

penyembuhan efek samping dan komplikasinya.

g. Pemberian obat generik

h. Pelayanan darah

i. Pemeriksaan kehamilan dengan resiko tinggi dan penyulit

3. Pelayanan rawat inap dilaksanakan pada ruang perawatan kelas III RS pemerintah,

meliputi :

a. Akomodasi rawat inap pada kelas III

b. Konsultasi medis, pemeriksaan fisik dan penyuluhan kesehatan

c. Penunjang diagnostik laboratorium klinik, radiologi dan elektromedik

d. Tindakan Medis

e. Operasi sedang dan besar

f. Pelayanan rehabilitasi medis.

g. Perawatan Intensif (ICU, ICCU, dan seterusnya)

h. Pemberian obat mengacu Formularium RS program

i. Pelayanan darah

j. Bahan dan alat kesehatan habis pakai

k. Persalinan dengan resiko tinggi dan penyulit.

Kemiskinan merupakan persoalan yang kompleks dan kronis. Oleh karena itu

cara penanggulangan kemiskinan membutuhkan analisis yang tepat, melibatkan

(38)

berkelanjutan dan tidak bersifat temporer. Sejumlah variabel dapat dipakai untuk

melacak persoalan kemiskinan. Dari variabel dihasilkan serangkaian strategi dan

kebijakan penanggulangan kemiskinan yang tepat sasaran dan berkesinambungan.

Dari dimensi kesehatan, rendahnya mutu kesehatan masyarakat menyebabkan

terjadinya kemiskinan. Dari dimensi ekonomi, kepemilikan alat-alat produktif yang

terbatas, penguasaan teknologi dan kurangnya keterampilan, dilihat sebagai alasan

mendasar mengapa terjadi kemiskinan. Hal ini senada dengan yang disampaikan oleh

(Supriatna, 1997), yang mengemukakan lima karakteristik penduduk miskin, antara

lain :

1. Tidak memiliki faktor produksi sendiri.

2. Tidak mempunyai kemungkinan untuk memperoleh aset produksi dengan

kekuatan sendiri.

3. Tingkat pendidikan pada umumnya rendah.

4. Banyak diantara mereka tidak mempunyai fasilitas.

5. Diantara mereka berusia relatif muda dan tidak mempunyai keterampilan atau

pendidikan yang memadai.

Konsep kemiskinan menurut Sahdan (2003), bahwa konsep kemiskinan

sangat beragam, mulai dan sekedar ketidakmampuan memenuhi kebutuhan konsumsi

dasar dan memperbaiki keadaan, kurangnya kesempatan berusaha, hingga pengertian

yang lebih luas yang memasukkan aspek sosial dan moral. Kemiskinan juga

merupakan ketidakberdayaan sekelompok masyarakat terhadap sistem yang

diterapkan oleh pemerintah sehingga mereka berada pada posisi yang sangat lemah

(39)

2.1.2. Miskin

Nasikun (2001) menyatakan bahwa hidup dalam kemiskinan bukan hanya

dalam kekurangan uang dan tingkat pendapatan rendah, tetapi juga banyak hal lain,

seperti: tingkat kesehatan, pendidikan rendah, perlakuan tidak adil dalam hukum,

kerentanan terhadap ancaman tindak kriminal, ketidakberdayaan menghadapi

kekuasaan, dan ketidakberdayaan dalam menentukan jalan hidupnya sendiri. Bahwa

kemiskinan adalah suatu Integrated concept yang memiliki lima dimensi, yaitu :

1. Kemiskinan (proper)

2. Ketidakberdayaan (powerless)

3. Kerentanan menghadapi situasi darurat (state of emergency)

4. Ketergantungan (dependence)

5. Keterasingan (isolation) baik secara geografis maupun sosiologis.

Kemiskinan dapat dibagi dalam empat bentuk, yaitu (Nasikun, 2001):

1. Kemiskinan absolut: bila pendapatannya di bawah garis kemiskinan atau tidak

cukup untuk memenuhi pangan, sandang, kesehatan, perumahan, pendidikan yang

diperlukan untuk bisa hidup dan bekerja.

2. Kemiskinan relatif: kondisi miskin karena pengaruh kebijakan pembangunan

yang belum menjangkau seluruh masyarakat, sehingga menyebabkan

ketimpangan pada pendapatan.

3. Kemiskinan kultural: mengacu pada persoalan sikap seseorang atau masyarakat

yang disebabkan oleh faktor budaya, seperti tidak mau berusaha memperbaiki

tingkat kehidupan, malas, pemborosan, tidak kreatif meskipun ada bantuan dari

(40)

4. Kemiskinan struktural: situasi miskin yang disebabkan karena rendahnya akses

terhadap sumber daya yang terjadi dalam suatu sistem sosial budaya dan sosial

politik yang tidak mendukung pembebasan kemiskinan, tetapi seringkali

menyebabkan suburnya kemiskinan.

Perkembangan terakhir, menurut Jarnasy (2004) kemiskinan struktural lebih

banyak menjadi sorotan sebagai penyebab tumbuh dab berkembangnya ketiga

kemiskinan yang lain.

2.1.3. Indikator Kemiskinan menurut Badan Pusat Statistik (BPS)

Penduduk miskin menurut konsep kemiskinan BPS (2005), adalah terkait

dengan kemampuan seseorang/rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan dasar, baik

untuk makanan maupun non makanan. Seseorang/rumah tangga dikatakan miskin bila

kehidupannya dalam kondisi serba kekurangan, sehingga tidak mampu memenuhi

kebutuhan dasarnya. Batas kebutuhan dasar minimal dinyatakan melalui ukuran garis

kemiskinan yang disertakan dengan jumlah rupiah yang dibutuhkan.

Kriteria penduduk miskin dapat dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu (BPS,

2005):

1. Penduduk dikatakan sangat miskin apabila kemampuan untuk memenuhi konsumsi

makanan hanya mencapai 1.900 kalori per orang per hari plus kebutuhan dasar non

makanan, atau setara dengan Rp 120.000 per orang per bulan

2. Penduduk dikatakan miskin apabila kemampuan memenuhi konsumsi makan

hanya mencapai 1.900 sampai 2.100 kalori per orang per hari plus kebutuhan dasar

(41)

3. Penduduk dikatakan mendekati miskin apabila kemampuan memenuhi konsumsi

makanan hanya mencapai 2.100 kalori sampai 2.300 plus kebutuhan dasar non

makanan setara Rp. 175.000 per orang per bulan.

Bila diasumsikan suatu rumah tangga memiliki jumlah anggota keluarga

rumah tangga rata-rata 4 orang, maka batas garis kemiskinan rumah tangga adalah

(BPS, 2005):

1. Rumah tangga dikatakan sangat miskin apabila tidak mampu memenuhi kebutuhan

dasarnya sebesar 4 x Rp 120.000 = Rp 480.000 per rumah tangga per bulan.

2. Rumah tangga dikatakan miskin apabila tidak mampu memenuhi kebutuhan

dasarnya sebesar 4 x Rp 150.000 = Rp 600.000 per rumah tangga per bulan.

3. Rumah tangga dikatakan mendekati miskin apabila tidak mampu memenuhi

kebutuhan dasarnya sebesar 4 x Rp 175.000 = Rp 700.000 per rumah tangga per

bulan.

2.1.4 Penelitian Terdahulu

Beberapa penelitian terdahulu yang melakukan penelitian tentang Jamkesmas

yaitu penelitian Jangkan (2006) dengan judul Implementasi Program Jaminan

Kesehatan Masyarakat Miskin di Kabupaten Sentang. Variabel yang digunakan

adalah Puskesmas, Masyarakat Miskin. Hasil diperoleh Kebijakan Pemda yang

mendukung pelaksanaan pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin baru sebatas

pent jumlah masyarakat miskin dan pembentukan tim safe guarding JPKMM, belum

(42)

Dari hasil penelitian ini diperoleh data bahwa semua masyarakat yang datang ke

pelayanan puskesmas sudah memenuhi kriteria miskin. Prosedur pelayanan

masyarakat miskin oleh puskesmas sudah cukup baik, dengan tidak membedakan

pelayanan antara yang menggunakan kartu Askeskin dan yang membayar.

Pemanfaatan pelayanan di Puskesmas Emparu sudah cukup baik, mendekati target

yang ditentukan, sedangkan di Puskesmas Sepauk pemanfaatannya masih rendah,

jauh dari target. Hambatan-hambatan yang dijumpai adalah masih belum meratanya

pemberian kartu Askeskin, masih banyak penderita yang betul-betul miskin tapi tidak

punya kartu Askeskin, dan juga masih belum menggunakan SKTM.

Penelitian yang dilakukan Emmi S. Simbolon (2005) yang melakukan

penelitian dengan judul Persepsi Pasien Keluarga Miskin (GAKIN) Terhadap

Pelayanan Kesehatan di Ruang Rawat Inap RSU Dr. Pirngadi Medan. Variabel yang

digunakan yaitu Krisis Multi Dimensi, Keluarga Miskin Meningkat, Derajat

Kesehatan, Kebijakan Pemerintah, Persepsi Pasien GAKIN. Hasil yang diperoleh

adalah untuk variabel minat diperoleh responden yang berminat terhadap JPKM ada

76,6% dan tidak berminat terhadap JPKM 27,4%.

Penelitian Isaat (2008), dengan judul Implementasi Program Pengembangan

Kecamatan Dalam Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat. Variabel adalah:

Ekonomi, Pendidikan, Kesehatan, Perumahan, Lingkungan Perumahan. Hasil yang

diperoleh kemiskinan menyebabkan akses masyarakat kampung untuk memperoleh

layanan pendidikan, kesehatan, maupun sarana dan prasarana sosial lainnya menjadi

(43)

Penelitian yang dilakukan Usma Polita Nasution (2006) dengan judul

Analisis Indikator Kemiskinan Pada Program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan

Masyarakat Miskin. Komponennya yaitu: Kemiskinan, Karakteristik penduduk.

Indikatornya yaitu SDM, Perumahan, Lingkungan Perumahan. Hasil yang diperoleh

bahwa masyarakat miskin Kota Medan sebanyak 61,1% dan hanya 38,89% yang

diduga kategori miskin atau kaya karena memiliki rumah dan halaman yang luas.

Penelitian lainnya, oleh Febrian (2005) dengan judul Analisis Manajemen

Pelaksanaan Program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Miskin Tahap

Kedua Tahun 2005 di Puskesmas di Kota Padang. Variabel input yaitu Dana, Tenaga,

Manlak dan Juknis, Pembinaan. Variabel Proses : Perencanaan, Pengorganisasian,

Pengarahan, Pengawasan. Variabel Output : Indikator Program JPKMM. Hasil yang

diperoleh bahwa manajemen pelaksanaan program JPKMM di Puskesmas Kota

Padang masih belum baik terutama dari fungsi perencanaan dan pengawasan.

Memberikan pelatihan dan kursus manajemen kepada pimpinan, meningkatkan

pengawasan secara berkala, mengizinkan realokasi dana dan membantu puskesmas

mendapatkan data.

Sedangkan penelitian Alwi (2007) dengan judul Pengaruh Pelayanan Tenaga

Kesehatan, Sarana dan Prasarana Puskesmas, Serta Tarif Terhadap Permintaan

Masyarakat dalam Pelayanan Kesehatan di Puskesmas. Variabelnya yaitu Pelayanan

Tenaga Kesehatan, Sarana dan Prasarana, Tarif. Hasilnya bahwa ada pengaruh yang

signifikan pelayanan tenaga kesehatan dan tarif terhadap permintaan masyarakat

(44)

2.1.5 Hubungan Kemiskinan dan Kesehatan

Wagstaff (2001), memberikan pandangan dalam suatu riset mengenai

hubungan antara kemiskinan dan kesehatan dengan fokus bagaimana merencanakan

suatu kebijakan untuk meningkatkan kesehatan di negara-negara yang berpendapatan

rendah, juga fokus terhadap pemerataan pendapatan. Hasilnya langsung untuk

mendefinisikan kemiskinan dalam konteks pengembangan manusia terhadap

peningkatan pendapatan dan kebutuhan. Wagstaff menggambarkan kembali tentang

ketidakmerataan kesehatan di negara-negara berkembang dan mengidentifikasi

penyebab serta mengusulkan pendekatan-pendekatan untuk mengevaluasi dampak

dari kebijakan yang anti terhadap ketidakmerataan.

- Utilisasi pelayanan tidak memadai - Ill - health - Lingkungan tidak sehat - Malnutrition

Penyebabnya : - High fertility

- Kurangnya pengetahuan dalam - Kehilangan

meningkatkan pendapatan mata pencarian

- Miskinnya norma sosial, lemahnya - Biaya

lnstitusi dan infrastruktural serta kepedulian

lingkungan buruk kesehatan

- Miskinnya sarana/prasarana kesehatan - Kemampuan

pelayanan, tidak relevan, kualitas rendah dalam

- Sistem pembiayaan kesehatan tidak pengobatan

[image:44.612.112.530.393.660.2]

mencukupi asuransi terbatas.

Gambar 2.1. Siklus kesehatan dan kemiskinan (Wagstaff, 2001) Karakteristik

miskin Miskin

kesehatan

(45)

2.2. Faktor-faktor yang memengaruhi dalam memanfaatkan pelayanan kesehatan

Menurut pendapat Wirick yang dikutip oleh Tetty (2006) terdapat 4 (empat)

faktor-faktor yang memengaruhi permintaan pelayanan kesehatan yaitu :

1. Kebutuhan, seseorang yang menderita suatu penyakit akan mencari pelayanan

atau pemeriksaan medis.

2. Kesadaran akan kebutuhan tersebut, seseorang harus tahu dan memahami bahwa

ia membutuhkan pelayanan medis.

3. Kemampuan finansial harus tersedia untuk memperoleh pelayanan yang

dibutuhkan

4. Tersedia fasilitas dan sarana pelayanan

Berbagai karakteristik masyarakat memengaruhi pembayaran Jaminan

Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat, diantaranya adalah karakteristik demografi.

Faktor umur merupakan dasar penggunaan kesehatan yang utama, umur tidak

hanya berhubungan dengan tingkat pelayanan melainkan juga jenis pelayanan dan

penerimaan pelayanan.

Faktor jenis kelamin juga merupakan faktor lain yang memengaruhi

penerimaan pelayanan, tuntutannya terhadap sistem pemeliharaan kesehatan termasuk

diantaranya masalah dokter, obat dan fasilitas pelayanan kesehatan

Tingkat penghasilan, pengetahuan masyarakat juga sebagai salah satu dasar

utama dalam tingkat kemauan dan kemampuan dalam membayar premi asuransi.

(46)

melainkan juga berhubungan dengan permintaan pelayanan kesehatan dan jenis

pelayanan yang diterima.

Menurut Suharto (2005), menyarankan empat parameter masalah, yaitu:

1. Faktor, yang mempertanyakan apakah masalah tersebut merupakan faktor

penentu dalam mengatasi masalah lain yang lebih luas dan dapat diukur.

2. Dampak, apakah respons dalam bentuk kebijakan akan memberikan impak

kepada masyarakat.

3. Kecenderungan, yaitu apakah masalah seiring dengan kecenderungan terkini,

yaitu kecenderungan global.

4. Nilai, apakah masalah tersebut sesuai dengan nilai dan harapan masyarakat

setempat. Pengembangan alternatif kebijakan dilakukan dengan mengajukan tiga

alternatif kebijakan yang diurutkan sesuai dengan alternatif yang paling

menjanjikan. Seleksi alternatif terbaik dilakukan dengan menggunakan dua

kriteria : fisibilitas (feasibility) dan efektivitas (effectiveness).

Evaluasi kebijakan memiliki empat fungsi, yaitu eksplanasi, kepatuhan, audit,

dan akunting. Melalui evaluasi dapat di potret realitas pelaksanaan program dan dapat

dibuat generalisasi tentang pola-pola hubungan antar - berbagai dimensi realitas yang

diamatinya dari evaluasi, elevator dapat mengidentifikasi masalah, kondisi, dan aktor

yang mendukung keberhasilan atau kegagalan kebijakan eksplanasi. Melalui evaluasi

dapat diketahui apakah tindakan yang dilakukan para pelaku, baik birokrasi maupun

pelaku lainnya, sesuai dengan standar dan prosedur yang ditetapkan kebijakan

(47)

tangan kelompok sasaran kebijakan atau ada kebocoran, atau penyimpangan audit,

dan melalui evaluasi dapat diketahui apa akibat ekonomi kebijakan tersebut.

Evaluasi kinerja kebijakan dilakukan untuk menilai hasil yang dicapai suatu

kebijakan setelah kebijakan itu dilaksanakan. Hasil yang dicapai dapat diukur dalam

ukuran jangka pendek atau output, dan jangka panjang atau outcome. Evaluasi kinerja

kebijakan dilakukan dengan melakukan penilaian comprehensive terhadap :

1. Pencapaian target kebijakan (output)

2. Pencapaian tujuan kebijakan (outcome)

3. Kesenjangan (gap) antara target dan tujuan dengan pencapaian

4. Pembandingan (bench marking) dengan kebijakan yang sama di tempat lain yang

berhasil.

5. Identifikasi faktor pendukung keberhasilan dan kegagalan sehingga menyebabkan

kesenjangan dan memberikan rekomendasi untuk menanggulangi kesenjangan.

Pemeliharaan kesehatan, sebagaimana dimaksud pasal 10 UU No. 23/1992

merupakan pelayanan kesehatan yang paripurna (promotif, preventif, kuratif dan

rehabilitatif), terpadu, berkesinambungan, dengan mutu yang terjamin dan bertujuan

melindungi dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Jaminan pemeliharaan

kesehatan masyarakat merupakan sistem yang menggunakan konsep pre-payment

berbasis pada kapitasi. Jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat merupakan salah

satu bentuk dari sistem pelayanan kesehatan yang menggunakan konsep “managed

(48)

Menurut Anderson (1968) dalam Notoatmodjo (2007), bahwa beberapa faktor

yang memengaruhi pemanfaatan pelayanan kesehatan adalah:

1. Komponen yang memengaruhi (predisposing), ada banyak orang memiliki

kecenderungan untuk memanfaatkan layanan lebih banyak dari pada individu

lainnya, dimana kecenderungan ke arah penggunaannya bisa diketahui dengan

karakteristik individu yang ada sebelumnya dengan permulaan episode tertentu

penyakit tersebut. Orang-orang tertentu yang karakteristik ini lebih

memungkinkan memanfaatkan layanan kesehatan walaupun karakteristiknya

tidak secara langsung bertanggungjawab terhadap pemanfaatan layanan

kesehatan. Karakteristik demikian mencakup demografi, struktur sosial, dan

variabel-variabel keyakinan bersikap. Usia dan jenis kelamin, misalnya diantara

variabel-variabel demografis, adalah hal yang sangat terkait dengan kesehatan dan

kesakitan. Namun, semua ini masih dianggap menjadi kondisi memengaruhi

kalau sejauh usia tidak dianggap suatu alasan untuk memperhatikan perawatan

kesehatan. Lain lagi orang-orang pada kelompok usia berbeda memiliki jenis

berbeda dan jumlah kesakitan dan akibat pola berbeda dalam perawatan

kesehatan. Kesakitan yang lalu dimasukkan dalam kategori ini karena ada bukti

jelas bahwa orang-orang yang telah mengalami masalah kesehatan di masa

lampau adalah mereka yang kemungkinan mempunyai sifat menuntut terhadap

sistem perawatan kesehatan di masa mendatang. Variabel-variabel struktur sosial

mencerminkan lokasi (status) individu dalam masyarakat sebagaimana diukur

(49)

gaya hidup individu, kondisi fisik serta lingkungan sosial dan pola perilaku yang

akan menghubungkan dengan pemanfaatan layanan kesehatan.

Karakteristik demografis dan struktur sosial juga terkait dengan sub

komponen ketiga kondisi yang memengaruhi sikap atau keyakinan mengenai

perawatan kesehatan, dokter, dan penyakit. Apa yang seorang individu pikir

tentang kesehatan pada hakekatnya bisa memengaruhi kesehatan dan perilaku

kesakitan. Seperti halnya variabel-variabel lain yang memengaruhi, keyakinan

kesehatan tidak dianggap menjadi suatu alasan langsung terhadap pemanfaatan

layanan namun betul-betul bisa berakibat pada perbedaan dalam kecenderungan

ke arah pemanfaatan layanan kesehatan. Misalnya, keluarga yang sangat yakin

dalam hal kemanjuran pengobatan dokter mereka akan mencari dokter seketika

dan memanfaatkan lebih banyak layanan daripada keluarga yang kurang yakin

dalam hasil pengobatan tersebut.

2. Komponen pemungkin (enabling), Walaupun individu akan lebih cenderung

memanfaatkan layanan kesehatan, harus pula banyak perangkat yang wajib

tersedia bagi mereka. Kondisi yang memungkinkan suatu keluarga bisa bertindak

menurut nilai atau memenuhi kebutuhan terkait layanan kesehatan

pemanfaatannya dianggap sebagai faktor pemungkin. Kondisi pemungkin

menyebabkan sumberdaya layanan kesehatan tersedia wajib bagi individu.

Kondisi pemungkin bisa diukur menurut sumberdaya keluarga seperti

pendapatan, tingkatan pencakupan asuransi kesehatan. Atau sumber lain dari

(50)

kesehatan berkala atau tidak, maka sifat dari sumberdaya perawatan kesehatan

berkala atau tidak, maka sifat dari sumberdaya perawatan kesehatan berkala, dan

akses kesumberdaya menjadi hal sangat penting. Terlepas dari sifat-sifat keluarga,

karakteristik pemungkin tertentu pada komunitas dimana keluarga tersebut hidup

bisa juga memengaruhi pemanfaatan layanan. Satu karakteristik demikian adalah

pokok dari fasilitas kesehatan dan petugas dalam suatu komunitas. Apabila

sumberdaya menjadi melimpah dan bisa dipakai tanpa harus bertunggu, maka

semuanya bisa dimanfaatkan lebih sering oleh masyarakat. Dari sudut pandang

ekonomi, orang bisa berharap orang-orang yang mengalami pendapatan rendah

agar menggunakan lebih banyak layanan kesehatan medis. Ukuran lain

sumberdaya masyarakat mencakup wilayah negara bagian dan sifat pola pedesaan

dan perkotaan dari masyarakat dimana keluarga tinggal. Variabel-variabel ini

akan dikaitkan dengan pemanfaatan dikarenakan norma-norma setempat

menyangkut bagaimana pengobatan sebaiknya dipraktekkan atau melombai

nilai-nilai masyarakat yang memengaruhi perilaku individu yang tinggal di masyarakat

tersebut.

3. Komponen tingkatan kesakitan (illness level), ada faktor memengaruhi dan

pemungkin, individu atau keluarganya harus merasa kesakitan ataupun

kemungkinan kejadiannya dalam hal pemanfaatan layanan kesehatan akan terjadi.

Tingkatan kesakitan memperlihatkan penyebab paling langsung pemanfaatan

layanan kesehatan. Ukuran kesakitan dievaluasi adalah upaya mendapatkan

masalah pesakitan sesungguhnya yang individu alami dan secara klinis tetapkan

(51)

2.2.1 Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan

Rendahnya pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan menurut Depkes RI

(1999) dapat disebabkan oleh :

1. Jarak yang jauh (faktor geografi)

2. Tidak tahu adanya suatu kemampuan fasilitas (faktor informasi)

3. Biaya yang tidak terjangkau (faktor ekonomi)

4. Tradisi yang menghambat pemanfaatan fasilitas (faktor budaya)

Pemanfaatan pelayanan kesehatan dapat dipengaruhi oleh :

1. Keterjangkauan lokasi tempat pelayanan

Tempat pelayanan yang tidak strategis sulit dicapai, menyebabkan berkurangnya

pemanfaatan pelayanan kesehatan oleh para ibu hamil

2. Jenis dan kualitas pelayanan yang tersedia

Jenis dan kualitas pelayanan yang kurang memadai menyebabkan rendahnya

akses ibu hamil terhadap pelayanan kesehatan

3. Keterjangkauan informasi

Informasi yang kurang menyebabkan rendahnya penggunaan pelayanan kesehatan

yang ada (Depkes, 1999).

Demand (permintaan) adalah pernyataan dari kebutuhan yang dirasakan yang

dinyatakan melalui keinginan dan kemampuan membayar.

Beberapa faktor yang memengaruhi tingkat permintaan pemanfaatan

pelayanan kesehatan telah digolongkan oleh beberapa ahli dalam beberapa model,

(52)

Menurut Wolinsky (2000) telah menggolongkan menjadi beberapa model

berdasarkan tipe variabel yang digunakan sebagai faktor penentu, yaitu :

1. Model Demografi (Demographic Model)

Variabel yang digunakan dalam model ini adalah : umur, jenis kelamin, status

perkawinan dan besarnya keluarga. Perbedaan akan derajat kesehatan, derajat

kesakitan dan tingkat penggunaan pelayanan kesehatan diasumsikan akan

berhubungan dengan seluruh variabel di atas. Variabel yang digunakan dalam

model ini adalah variabel yang berasal dari dalam individu sendiri (intrinsic), yang

secara langsung akan memengaruhi kebutuhan seseorang yang apabila

direalisasikan dalam perbuatan akan menjadi permintaan.

2. Model Struktur Sosial (Social Structure Model)

Variabel yang digunakan dalam model ini adalah : pendidikan, pekerjaan dan

suku bangsa atau etnis. Penggunaan pelayanan kesehatan adalah suatu aspek gaya

hidup (life style) seseorang yang dipengaruhi oleh lingkungan fisik dan sosial

psikologisnya. Seseorang yang sedang sakit perut (diare) mencari pengobatan

dengan cara tradisional (memakan daun sirih atau bawang dengan minyak). Sesuai

dengan kebiasaan yang ada di desa tersebut sedangkan orang lain yang memiliki

latar belakang pendidikan SLTA juga menderita diare merasakan membutuhkan

pertolongan dokter dan langsung pergi ke dokter untuk mendapatkan pertolongan.

Sehingga latar belakang sosial seseorang sangat berpengaruh pada kebutuhan

seseorang dan pada akhirnya memengaruhi juga tingkat penggunaan pelayanan

(53)

3. Model Sosial-Psikologis (Social Psychological Model)

Variabel yang digunakan dalam model ini adalah sikap dan keyakinan (belief)

individu. Variabel sosial psikologis pada umumnya terdiri dari 4 kategori, yaitu (1)

kerentanan terhadap penyakit atau sakit yang dirasakan, (2) keseriusan penyakit

atau parahnya penyakit yang diderita, (3) keuntungan yang diharapkan dalam

mengambil tindakan untuk mengatasi penyakit atau sakitnya, dan (4) kesiapan

tindakan individu seperti contoh berikut : (1) seseorang ibu mengetahui anak

rentan terhadap penyakit TBC paru, (2) proses tersebut dianggap sebagai suatu

yang serius, (3) Ibu membawa anaknya ke dokter spesialis paru dan mendapatkan

pertolongan yang memadai untuk mengatasi penyakitnya, (4) tindakan ibu didasari

oleh pengetahuan yang dimilikinya.

4. Model sumber daya keluarga (family resources model)

Model yang digunakan dalam model ini adalah pendapatan keluarga, biaya

pengobatan cakupan asuransi kesehatan, keanggotaan dalam asuransi kesehatan.

Variabel ini digunakan untuk mengukur kemampuan membayar (daya beli tingkat

ekonomi) individu atau keluarga.

5. Model sumber daya masyarakat (community resources model)

Variabel yang digunakan dalam model ini adalah penyediaan pelayanan

kesehatan dan sumber-sumber dalam masyarakat yang dapat dicapai (accessible),

(54)

6. Model organisasi (organization model)

Menurut Kenneth dan Anne Mils yang dikutip Ascorbat (2000),

mengemukakan bahwa kebutuhan akan pelayanan kesehatan terdiri atas kebutuhan

yang tidak dirasakan dan kebutuhan yang dirasakan (felt need). Kebutuhan yang

dirasakan membuat individu mengambil kebutuhan untuk mencari pelayanan

kesehatan atau tidak. Ekspresi dari felt need terhadap pelayanan kesehatan adalah

merupakan penggunaan dari pelayanan kesehatan atau demand dari pelayanan

kesehatan.

Model sistem kesehatan mengintegrasikan ke enam model di atas menjadi

satu yang sempurna. Dengan demikian apabila hendak dilakukan analisa terhadap

penggunaan atau pemanfaatan pelayanan kesehatan maka akan diperhitungkan

keenam model di atas (Notoatmodjo, 2003).

Departemen of Health Education and Well Fare, USA yang dikutip oleh

Lapau (1997) telah menerbitkan sebuah buku yang berisi faktor-faktor yang

memengaruhi penggunaan atau pemanfaatan pelayanan kesehatan, yaitu :

1. Faktor regional dan residence

Regional misalnya ; wilayah Sumut, Aceh, dan lain-lain.

2. Faktor dari sistem pelayanan kesehatan yang bersangkutan

a. Tipe dari organisasi, antara lain ;rumah sakit, puskesmas, balai pengobatan,

dll.

b. Kelengkapan program kesehatan.

(55)

d. Teraturnya pelayanan.

e. Hubungan antara dokter/tenaga kesehatan lainnya dengan penderita.

f. Adanya asuransi

3. Faktor adanya fasilitas kesehatan lainnya

4. Faktor-faktor dari konsumen yang menggunakan pemanfaatan pelayanan

kesehatan meliputi:

a. Faktor sosio demografis yang meliputi umur, jenis kelamin, status

perkawinan, besar keluarga, kebangsaan, dan suku bangsa, serta agama.

b. Faktor sosio psikologis yang meliputi sikap/persepsi terhadap pelayanan

kesehatan dan tabiat terhadap pelayanan kesehatan sebelumnya.

c. Faktor ekonomis yang meliputi status sosio ekonomi pendidikan, pekerjaan

dan pendapatan.

d. Jarak dapat digunakan pelayanan kesehatan meliputi jarak antara rumah

penderita dengan tempat pelayanan kesehatan.

e. Kebutuhan (need) yang meliputi morbidity, gejala penyakit yang dirasakan

penderita, status terbatasnya keaktifan yang kronis, hari-hari di mana tidak

dapat melakukan tugas dan diagnosa.

Menurut Arrow

Gambar

Tabel 1.1 Jumlah dan Cakupan Angka Kematian Bayi Serta Angka Kematian Ibu Tahun 2006 – 2007
Gambar 2.1.  Siklus kesehatan dan kemiskinan (Wagstaff, 2001)
Gambar 2.2. Skema pemanfaatan pelayanan kesehatan oleh individu
Gambar 2.3. Kerangka Konsep Penelitian
+7

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan dilakukan penelititan ini adalah untuk melihat faktor yang memengaruhi rendahnya kunjungan K4 di Puskesmas Kota Batu Kecamatan Na IX-X Kabupaten

Sasaran Penanggulangan Kemiskinan adalah keluarga miskin yang terdata lewat kegiatan pendataan penduduk miskin di Desa dan atau Kelurahan berdasarkan criteria /indicator

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor yang memengaruhi rendahnya cakupan K4 di Puskesmas Aek Kota Batu Kecamatan Na IX-X Kabupaten Labuhanbatu Utara1. Penelitian

TINGKAT KEBISINGAN DAN KELUHAN KESEHATAN PEKERJA DAN OPERATOR TURBIN DI PT ASAM JAWA KECAMATAN TORGAMBA KABUPATEN LABUHANBATU SELATAN” ini beserta seluruh isinya adalah

Masyarakat miskin di Kecamat- an Baturetno yang telah mendapatakan pelayanan kesehatan sebagaimana mestinya seperti yang telah tertera di Juknis Jamkesmas, masyarakat

Jamkesmas adalah program penjaminan pelayanan kesehatan untuk masyarakat miskin dan tidak mampu dengan menggunakan prinsip asuransi kesehatan sosial.Adapun tujuannya adalah

Dinas Kesehatan Kabupaten Labuhanbatu Selatan diharapkan meningkatkan sosialisasi kepada petugas kesehatan dan masyarakat, membina kerjasama lintas sektor, meningkatkan

107 Faktor- Faktor Yang Mempengaruhi Implementasi Program Vaksinasi Covid-19 Di Kabupaten Labuhanbatu Selatan Factors Affecting Program Implementation Covid-19 Vaccination In The