BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
B. Analisis Hasil Penelitian
2. Analisis Nilai Final IPA Fisika dan Nilai Final Pendidikan IPA 2
Nilai final IPA Fisika dan nilai final Pendidikan IPA 2 berupa skor final dari keseluruhan proses pembelajaran. Skor tersebut merupakan jenis data interval (data kontinum). Tetapi untuk mengetahui kriteria nilai IPA Fisika dan nilai final Pendidikan IPA 2, nilai-nilai tersebut diubah ke dalam data ordinal untuk pendeskripsian nilai mahasiswa. Karena rentang nilai final adalah antara 0-100, dapat dibuat kriteria nilai sebagai berikut:
Tabel 3.7.
Tabel Kriteria Nilai IPA Fisika dan Nilai Pendidikan IPA 2
Nilai Kriteria Nilai
81–100 Sangat Baik
61–80 Baik
41–60 Cukup
21–40 Kurang
Untuk menentukan kriteria nilai IPA Fisika dan nilai Pendidikan IPA 2 setiap mahasiswa, dapat dilihat dari tabel di bawah ini:
Tabel 3.8.
Tabel Kriteria Nilai IPA Fisika dan Nilai Pendidikan IPA 2 Setiap Mahasiswa
Mahasiswa Nilai IPA Fisika dan Nilai
Pendidikan IPA 2
Kriteria Nilai
1 2
3. Analisis Hasil Observasi
Setelah dilakukan observasi selama proses pembelajaran, dilakukan analisis berupa membuat transkrip dari hasil rekaman video, dan
coding (hasil-hasil observasi yang sudah ditranskrip, dibaca teliti sekali lagi dan diberi tanda atau coding). Analisis hasil observasi yang didokumentasikan dengan lembar observasi, dilakukan seperti pada cara menentukan nilai peringkat kuesioner. Di setiap aspek sikap terdapat angka-angka yang menyatakan intensitas sikap mahasiswa. Semakin tinggi intensitasnya, semakin positif sikapnya. Pemberian nilai peringkat untuk aspek sikap, dilakukan dengan mengamati jumlah mahasiswa dalam setiap kolom intensitas sikap. Kolom nomor 1 menunjukkan nilai intensitas tertinggi yaitu 3, kolom nomor 2 menunjukkan nilai intensitas 2, dan kolom nomor 3 menunjukkan nilai intensitas terendah yaitu 1. Jumlah mahasiswa dalam setiap kolom dikalikan dengan nilai intensitas yang
bersangkutan, kemudian dibagi dengan jumlah mahasiswa dari ketiga kolom. Setelah didapatkan nilai peringkat dari semua aspek sikap, selanjutnya ditentukan kriteria nilai-nilai tersebut sebagai berikut:
Tabel 3.9.
Tabel Kriteria Nilai Peringkat Aspek Sikap
Nilai Peringkat Kriteria
2 - 3 Tinggi
1 - 2 Sedang
0 - 1 Rendah
Kriteria aspek sikap yang ditentukan seperti pada tabel di atas
disesuaikan dengan jumlah pengelompokkan intensitas sikap
sebanyak tiga kelompok, yaitu intensitas tinggi, sedang, dan rendah. Semakin tinggi intensitas sikap, semakin positif sikap mahasiswa terhadap IPA Fisika.
4. Analisis Hasil Wawancara
Membuat transkrip dari keseluruhan wawancara kemudian
menganalisis isi atau konten wawancara dengan mencari kata-kata atau kalimat yang sering muncul dari jawaban mahasiswa yang diwawancarai agar diketahui sikap mereka terhadap IPA Fisika.
5. Analisis Korelasi antara Sikap dengan Nilai Final IPA Fisika dan Nilai Final Pendidikan IPA 2
Kemudian, untuk mendapatkan korelasi antara sikap terhadap IPA Fisika dengan nilai final IPA Fisika dan nilai final Pendidikan IPA 2,
digunakan statistik korelasi product moment Pearson, dengan
memasukkan skor hasil kuesioner ke dalam variabel X serta skor final IPA Fisika dan skor final Pendidikan IPA 2 ke dalam variabel Y. Nilai korelasi adalah antara 0 dan ±1. Koefisien mendekati -1 atau +1 berarti mempunyai relasi yang tinggi. Rumus korelasi product momentPearson yaitu:
r = N ∑ XY − (∑ X)(∑ Y)
{N ∑ X − (∑ X) }{N ∑ Y − (∑ Y) }
Keterangan:
rXY : Koefisien korelasi antara variabel X dan Y, yaitu dua variabel yang dikorelasikan.
N : Jumlah subjek penelitian
X : Skor sikap (yang telah dikonversikan) mahasiswa terhadap IPA
Fisika.
Y : Nilai final IPA Fisika dan nilai final Pendidikan IPA 2 mahasiswa.
Untuk menginterpretasikan nilai koefisien korelasi, digunakan batasan seperti pada tabel di bawah:
Tabel 3.10.
Tabel Interpretasi Nilai Koefisien Korelasi
Nilai Koefisien Korelasi Interpretasi
Antara 0,800 sampai dengan 1,000 Tinggi
Antara 0,600 sampai dengan 0,800 Cukup
Antara 0,400 sampai dengan 0,600 Agak rendah
Antara 0,200 sampai dengan 0,400 Rendah
35
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Berdasarkan instrumen-instrumen yang digunakan untuk memperoleh data dalam penelitian ini, maka pembahasannya nanti akan mencakup hasil penelitian utama yaitu skor kuesioner, nilai final IPA Fisika dan nilai Pendidikan IPA 2 serta hasil penelitian pendukung yaitu hasil observasi dan hasil wawancara mahasiswa.
1. Hasil Kuesioner
Hasil kuesioner berupa skor total dari 30 item pernyataan yang memiliki lima opsi yaitu sangat setuju, setuju, netral, tidak setuju dan sangat tidak setuju. Pernyataan-pernyataan dalam kuesioner terdiri dari 26 pernyataan positif dan 4 pernyataan negatif.
Kuesioner diisi oleh mahasiswa PGSD sebanyak 110 orang. Mahasiswa sebagai responden berasal dari kelas 4C sebanyak 44 orang, dari kelas 6A sebanyak 40 orang dan dari kelas 6B sebanyak 26 orang. Skor total kuesioner mewakili sikap mahasiswa PGSD terhadap IPA Fisika.
Data mentah hasil kuesioner dibuat pada tabel (terlampir pada lampiran 6).
2. Nilai Final IPA Fisika dan Nilai Pendidikan IPA 2
Nilai final IPA Fisika dan nilai Pendidikan IPA 2 yang diberikan oleh dosen pengampu, mewakili prestasi belajar mahasiswa dalam mata kuliah IPA Fisika dan mata kuliah Pendidikan IPA 2. Nilai final IPA Fisika dan
nilai Pendidikan IPA 2 diperoleh dari nilai UTS 1, UTS 2, dan UAS serta presensi. Data nilai final dibuat pada tabel (terlampir pada lampiran 8, 9, dan 10).
3. Hasil Observasi Proses Pembelajaran
Hasil observasi diperoleh dari lembar pengamatan yang berisi tujuh item pernyataan dan koding video pembelajaran di kelas.
Hasil observasi dibuat dalam transkrip (terlampir pada lampiran 12, 13, dan 14).
4. Hasil Wawancara
Hasil wawancara diperoleh dari koding tanya jawab yang terdiri dari delapan pertanyaan. Mahasiswa yang diwawancarai sebanyak 12 orang dari tiga kelas yang dijadikan subjek penelitian dan dari masing-masing kelas terdiri atas empat orang. Keempat orang yang diwawancarai memiliki kriteria sebagai berikut:
a. Skor kuesioner tinggi dan nilai IPA Fisika serta nilai Pendidikan IPA 2 tinggi.
b. Skor kuesioner tinggi dan nilai IPA Fisika serta nilai Pendidikan IPA 2 rendah.
c. Skor kuesioner rendah dan nilai IPA Fisika serta nilai Pendidikan IPA 2 tinggi.
d. Skor kuesioner rendah dan nilai IPA Fisika serta nilai Pendidikan IPA 2 rendah.
B. Analisis Hasil Penelitian
Analisis hasil penelitian meliputi analisis sikap mahasiswa terhadap IPA Fisika melalui kuesioner, observasi dan wawancara, analisis nilai final IPA Fisika dan nilai final Pendidikan IPA 2, serta analisis korelasi antara sikap dengan nilai final IPA Fisika dan nilai Pendidikan IPA 2. Penjabaran analisis-analisis tersebut sebagai berikut:
1. Analisis Sikap Mahasiswa Melalui Hasil Kuesioner
Untuk mengetahui gambaran sikap mahasiswa terhadap IPA Fisika, kuesioner dianalisis dengan menjumlahkan skor setiap item pernyataan. Kemudian skor tersebut digolongkan ke dalam kriteria sikap yang telah dirancang pada bab III.
Kriteria sikap mahasiswa semester IV menunjukkan adanya sikap sangat positif, sikap positif, dan sikap netral terhadap IPA Fisika. Sedangkan untuk mahasiswa semester VI tidak menunjukkan adanya sikap netral. Gambaran sikap mahasiswa PGSD menurut semester terlihat dalam tabel berikut:
Tabel 4.1.
Tabel Sikap Mahasiswa PGSD Menurut Semester
Kriteria Sikap Semester IV Semester VI Jumlah (orang) Persentase Sikap Mahasiswa PGSD Kelas C (orang) Kelas A (orang) Kelas B (orang) Sangat positif 4 1 3 8 7,27 % Positif 36 39 23 98 89,09 % Netral 4 0 0 4 3,64 % Negatif 0 0 0 0 0 % Sangat negatif 0 0 0 0 0 % Total subjek penelitian 110 orang
Ketika mahasiswa se mahasiswa ya dengan jumlah positif. Secara hanya 3,64% keseluruhan m sikap yaitu sika positif mendom grafik, persent Grafik P Analisi menentukan i Menentukan p
ka mahasiswa berada pada semester yang lebi semakin positif dan tidak muncul lagi sikap yang memiliki sikap netral lebih sedikit jika lah mahasiswa yang memiliki sikap sangat posi ara keseluruhan, lebih dari 50% mahasiswa bersi
3,64% mahasiswa yang bersikap netral sehin
menunjukkan sikap mahasiswa PGSD terdiri d sikap sangat positif, sikap positif, dan sikap netr ndominasi sikap mahasiswa PGSD terhadap IPA
entase sikap digambarkan sebagai berikut:
Gambar 4.1.
k Persentase Sikap Mahasiswa PGSD Terhad
lisis item kuesioner sebanyak 30 pernyataan di n item mana yang memiliki peringkat nilai
n peringkat item dengan mengamati banyakn
lebih tinggi, sikap kap netral. Jumlah jika dibandingkan t positif dan sikap bersikap positif dan hingga persentase ri dari tiga macam netral. Tetapi sikap IPA Fisika. Dalam
adap IPA Fisika
dilakukan dengan nilai paling tinggi. yaknya centangan
dalam setiap kolom jawaban yang menunjukkan nilai tertentu. Banyaknya centangan dalam kolom dikalikan dengan nilai kolom yang bersangkutan, kemudian dibagi dengan jumlah subjek penelitian (Arikunto, 2006:242).
Urutan peringkat nilai item kuesioner pada tabel di bawah ini untuk menentukan pada item kuesioner mana sikap mahasiswa yang paling positif sampai dengan yang paling negatif.
Tabel 4.2.
Tabel Urutan Nilai Peringkat Item Kuesioner Pernyataan
nomer Pernyataan
Nilai
peringkat Kriteria
24 Saya akan kecewa jika nilai ujian IPA Fisika
saya jelek 4,33 Sangat Positif
3 IPA Fisika sangat penting dalam kehidupan kita 4,32 Sangat Positif
15 Saya ingin tahu banyak tentang alam di sekitar
saya 4,28 Sangat Positif
10 Kerja kelompok sering dibutuhkan untuk
memecahkan persoalan IPA Fisika yang sulit 4,27 Sangat Positif
25 Saya mempelajari IPA Fisika agar kelak bisa
mengajar IPA 4,20 Sangat Positif
6
Saya senang menemukan jawaban-jawaban dari
pertanyaan “mengapa” dalam IPA Fisika
melalui percobaan/ eksperimen daripada melalui penjelasan kata-kata
4,03 Sangat Positif
13
Saya merasa senang bila saya bisa memecahkan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari dengan menggunakan pengetahuan IPA Fisika yang sudah saya pelajari
4,01 Sangat Positif
23 Saya berusaha belajar dengan tekun supaya nilai
IPA Fisika saya baik 3,99 Positif
29 Saya selalu ingin mendapat jawaban untuk
setiap fenomena alam 3,92 Positif
27 Saya senang melakukan kegiatan penelitian IPA
Fisika 3,89 Positif
7
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam IPA Fisika, saya akan memikirkannya dahulu sebelum bertanya untuk minta bantuan
3,85 Positif
11
Saya ingin mencoba bermacam-macam cara untuk mengetahui lebih banyak tentang IPA Fisika
Pernyataan
nomer Pernyataan
Nilai
peringkat Kriteria
18 Saya mengerjakan tugas IPA Fisika dengan
sungguh-sungguh dan teliti 3,74 Positif
1 Saya merasa sangat suka belajar IPA Fisika 3,71 Positif
22 Saya selalu memperhatikan penjelasan dosen
sewaktu kuliah IPA Fisika 3,64 Positif
14 Saya senang menonton acara TV yang
berhubungan dengan IPA Fisika 3,56 Positif
8 Hal terpenting dalam mempelajari IPA Fisika
adalah mengingat teori dan konsep ilmiahnya
3,51
Positif 26
Saya merasa bosan belajar IPA Fisika karena sudah belajar IPA Fisika sejak masih di bangku sekolah
3,47 Positif
2 Saya merasa belajar IPA Fisika mempermudah
saya belajar mata kuliah yang lain 3,46 Positif
5 Saya senang membantu teman mengerjakan
soal-soal IPA Fisika 3,34 Positif
4 Saya sering membicarakan IPA Fisika bersama
teman-teman 3,24 Positif
17 Saya senang mengemukakan ide/gagasan saat
berdiskusi tentang IPA Fisika 3,19 Positif
9 Saya suka membaca buku tentang IPA Fisika 3,12 Positif
28 Saya merasa bersaing dengan teman-teman
untuk mendapatkan nilai IPA Fisika yang baik 3,05 Positif
30 Saya meluangkan sebagian besar waktu saya di
rumah/kos untuk belajar IPA Fisika 2,87 Netral
16 Saya merasa IPA Fisika sangat sulit untuk
dipahami 2,78 Netral
21 Saya merasa jenuh ketika mempelajari rumus
dalam IPA Fisika 2,72 Netral
12
Ketika berdiskusi tentang IPA Fisika, saya selalu memiliki pendapat yang berbeda dengan teman
2,71 Netral
20 Saya senang bila jam mata kuliah IPA Fisika
ditambah 2,66 Netral
19 Saya ingin menjadi ilmuwan 2,58 Netral
Dari analisis di atas, didapatkan bahwa item soal kuesioner nomer 24 (saya akan kecewa jika nilai ujian IPA Fisika saya jelek) memiliki nilai peringkat paling tinggi 4,33. Tingginya nilai tersebut menunjukkan adanya
sikap mahasiswa terhadap IPA Fisika dalam kecenderungan tingkat sangat
positif. Kata “kecewa” menunjukkan bahwa sebelumnya ada harapan
untuk memperoleh nilai yang baik dan harapan itu memberikan suatu ekspresi sikap positif untuk mendapatkan nilai (prestasi) yang baik sebagai tolak ukur kemampuan belajar IPA Fisika. Hal ini memperkuat pernyataan Weinburgh dalam Cracker (2006:1)as would be expected, positive attitude toward science lead to better results on achievement measures of science capability. Pernyataan Weinburgh itu menyampaikan bahwa sikap yang positif terhadap sains mampu mengarahkan seseorang menuju prestasi yang lebih baik dalam kemampuan sains.
Kemudian, peringkat kedua nilai tertinggi untuk item soal nomer 3 (IPA Fisika sangat penting dalam kehidupan kita). Nilai peringkatnya sebesar 4,32. Nilai ini menunjukkan bahwa sikap seseorang terhadap suatu objek yang dalam hal ini adalah IPA Fisika dilihat dari segi pentingnya ilmu pengetahuan tersebut bagi kehidupan. Anggapan tersebut melibatkan pengalaman dan pengetahuan seseorang tentang IPA Fisika, dimana pengetahuan merupakan unsur kognitif yang menjadi salah satu dimensi dari sikap.
Peringkat ketiga untuk nilai tertinggi untuk item soal nomer 15 (saya ingin tahu banyak tentang alam di sekitar saya) memiliki nilai peringkat sebesar 4,28. Dalam pernyataan ini, rasa ingin tahu merupakan sikap seseorang yang melibatkan pikiran dan perasaan. Sikap ini menjadi
motivasi untuk bertindak mencari informasi lebih banyak tentang apa yang ingin diketahui.
Sebaliknya, item soal kuesioner nomer 19 (saya ingin menjadi ilmuwan) mendapat peringkat terendah dengan nilai peringkat sebesar 2,58. Sebanyak 54 mahasiswa memilih untuk bersikap netral terhadap pernyataan ini. Sikap netral terhadap item ini menunjukkan sikap yang berada di tengah-tengah antara mendukung dan tidak mendukung. Terdapat 5 orang mahasiswa yang setuju dengan pernyataan ini dan 4 orang yang sangat setuju. Jumlah ini terhitung sedikit dibandingkan dengan jumlah mahasiswa yang bersikap netral bahkan tidak setuju. Sebanyak 32 mahasiswa memilih tidak setuju dan 13 orang sangat tidak setuju. Sikap tersebut menyatakan tidak ada keinginan untuk menjadi seorang ilmuwan. Tetapi sikap mereka terhadap sosok seorang ilmuwan adalah netral. Sikap tersebut muncul karena pendidikan yang sedang digeluti saat ini adalah keguruan, dimana mahasiswa adalah calon guru bukan calon ilmuwan.
Gambaran yang jelas tentang seorang ilmuwan mempengaruhi mahasiswa dalam menentukan sikap. Gambaran seorang ilmuwan itu meliputi gambaran fisik, kegiatan yang dilakukan, penampilan, karakter, usia, gender, dan tempat bekerja seorang ilmuwan. Penelitian yang
dilakukan oleh Demirbas (2009:3) dalam artikel “The Relationship
Between The Scientist Perception and Scientific Attitudes of Science
pandangan atau sikap yang positif tentang ilmuwan mempengaruhi sikap terhadap sains dan menjadikan siswa tertarik untuk memilih pekerjaan yang berkaitan dengan sains. (Analisis peringkat item soal kuesioner terdapat pada lampiran 7).
2. Analisis Nilai Final IPA Fisika dan Nilai Final Pendidikan IPA 2 Mahasiswa PGSD
Nilai final IPA Fisika dan nilai final Pendidikan IPA 2 mewakili prestasi belajar mahasiswa dalam mata kuliah IPA Fisika dan mata kuliah Pendidikan IPA 2. Nilai final IPA Fisika dan nilai final Pendidikan IPA 2 diperoleh dari nilai UTS 1, UTS 2, dan UAS serta presensi (data nilai final terdapat pada lampiran 8,9 dan 10). Nilai final mahasiswa dikriteriakan seperti pada bab III. Nilai final mahasiswa di ketiga kelas yaitu kelas 4C, kelas 6A dan kelas 6B berada di rentang nilai 81–100 dan rentang 61–80. Rentang ini menunjukkan kriteria nilai yang sangat baik dan nilai yang baik. Nilai IPA Fisika dan nilai Pendidikan IPA 2 tersebut nampak dalam tabel berikut:
Tabel 4.3.
Tabel Nilai Final IPA Fisika dan Nilai Final Pendidikan IPA 2 Mahasiswa PGSD beserta Kriterianya
Nilai Kriteria Nilai Jumlah Mahasiswa
81–100 Sangat Baik 31 orang
61–80 Baik 79 orang
41–60 Cukup 0
21–40 Kurang 0
0–20 Sangat Kurang 0
Dari tabel di atas, terlihat bahwa mahasiswa sebagian besar memiliki nilai yang baik dalam mata kuliah IPA Fisika dan sisanya adalah mahasiswa yang nilainya sangat baik. Dalam penelitian ini, tidak ada mahasiswa di semester IV dan semester VI yang memiliki nilai cukup bahkan kurang. Sehingga, ketika nilai di atas dikaitkan dengan sikap mahasiswa terhadap IPA Fisika yang didominasi oleh sikap positif, ternyata nilai IPA Fisika dan nilai Pendidikan IPA 2 juga berada di rentang nilai baik sampai dengan rentang nilai sangat baik.
3. Analisis Korelasi Skor Kuesioner Sikap dengan Nilai Final IPA Fisika