H11: Total aset mempunyai pengaruh signifikan terhadap profit inefficiency Islamic Bank Malaysia
4.6 Analisis Nilai Profit efficiency Islamic Bank Indonesia dan Malaysia
Gambar 4.8. Profit efficiencyIslamic Bank Indonesia dan Malaysia Gambar 4.8 merupakan hasil estimasi Maximum Likelihood Estimation
(MLE) atas besaran profit efficiencyIslamic Bank Indonesia dan Malaysia dengan mengikutsertakan profit inefficiency effect model. Dari Gambar tersebut dapat dilihat bahwa terdapat persamaan dan juga perbedaan yang bisa diinterpretasikan secara analitik antara profit effciency Islamic Bank Indonesia dan Islamic Bank
Malaysia. Selain itu dari Grafik yang ditampilkan juga dapat diketahui bahwa secara umum Islamic Bank Malaysia mempunyai nilai rerata profit efficiency yang lebih besar daripada nilai rerata profit efficiency Islamic Bank Indonesia, yaitu 67,34% berbanding dengan 42,75%.
Islamic Bank Indonesia mempunyai profit efficiency lebih besar pada tahun 2007 dan 2008 dibandingkan Islamic Bank Malaysia, yaitu 72,87% dan 66,61%. Namun selanjutnya dari tahun 2009 sampai dengan 2012 profit efficiency Islamic Bank Malaysia lebih besar dari Islamic Bank Indonesia. Dari Gambar 4.3 juga terlihat bahwa pada tahun 2008 baik Islamic Bank Indonesia maupun Islamic Bank Malaysia mengalami penurunan profit efficiency. Ini menunjukkan
fenomena adanya dampak krisis keuangan global 2008 terhadap profit efficiency Islamic Bank Indonesia dan Malaysia. Menariknya, pasca 2008 Islamic Bank
Malaysia mampu bangkit dan menunjukkan tren kenaikan secara berkelanjutan sampai dengan tahun 2012. Sementara itu Islamic Bank Indonesia terus mengalami penurunan profit efficiency sampai mencapai titik nadir pada tahun 2010 dengan nilai profit efficiency 30,26%. Nilai ini bermakna bahwa Islamic Bank Indonesia hanya mampu bekerja atau mempunyai kinerja sebesar 30,26% dari kinerja-dalam hal ini profit maksimum yang seharusnya masih bisa dicapai jika beroperasi secara efisien.
Faktor-faktor yang memengaruhi profit efficiency Islamic Bank Indonesia dan Malaysia dapat dikaitkan kepada variabel input dan variabel penjelas. Pada
Islamic Bank Indonesia, total deposit dan biaya tenaga kerja memberikan kontribusi negatif terhadap profit efficiency, sedangkan variabel aset tetap dan total aset berkontribusi secara positif. Sementara itu pada Islamic Bank Malaysia, variabel yang berkontribusi positif terhadap profitefficiency adalah biaya tenaga kerja dan aset tetap, sedangkan total deposit dan aset tetap berkontribusi secara negatif.
Secara umum, setidaknya terdapat tiga faktor yang bisa dijadikan alasan mengapa Islamic Bank Malaysia berkembang dan menghasilkan nilai profit efficiency yang lebih baik dari Islamic Bank Indonesia, yaitu:
1. Dari sisi kebijakan, pemerintah Malaysia memberikan dukungan yang jauh lebih besar dari pemerintah Indonesia terkait pengembangan Islamic Bank.
Islamic Bank Malaysia tumbuh berkembang karena dukungan penuh dari pemerintahnya (government driven). Penempatan dana perusahaan milik
Negara (BUMN) dan dana haji pada Islamic Bank merupakan salah satu bentuk dukungan nyata pemerintah Malaysia. Sementara itu Islamic Bank
Indonesia berkembang secara bottom up, lebih mengandalkan dukungan pasar ( Infobank, 2012).
2. Dari sisi produk, Islamic Bank Malaysia menghasilkan produk yang lebih inovatif. Penguasaan market share sukuk terbesar di dunia merupakan salah satu bukti. Selain itu transaksi trade finance dan valuta asing pada juga lebih baik dari Islamic Bank Indonesia.
3. Sumber daya manusia yang tersedia secara kuantitatif dan kualititatif juga menjadi faktor keunggulan Islamic Bank Malaysia. Pendirian INCEIF (International Center for Education in Islamic Finance) berskala global pada tahun 2005 oleh Bank Negara Malaysia dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan sumber daya manusia Islamic Bank Malaysia. Riset-riset mengenai Islamic Bank juga dilakukan secara lebih intensif oleh berbagai institusi di Malaysia.
Selain tiga faktor tersebut, Islamic Bank Indonesia yang masuk sebagai objek penelitian ini sebagian besar baru berdiri, relatif jika dibandingkan dengan Islamic Bank Malaysia. Kondisi ini memunculkan implikasi atau dampak pada kurang atau lebih rendahnya kemampuan bersaing dari Islamic Bank Indonesia (Pratikto
et al. 2005). Isik dan Hassan (2002) juga mengemukakan pendapat yang senada, yaitu size merupakan faktor penting yang membuat perbedaan tingkat efisiensi.
Size bank berkaitan dengan kompetisi atau persaingan, dan bank yang mempunyai keunggulan bersaing akan menginduksi bank tersebut menjadi lebih efisien.
Mohamad et al.(2008) berpendapat bahwa size bank akan memengaruhi nilai
profit efficiency, tetapi tidak memengaruhi cost efficiency.
Hasil penelitian yang telah dilakukan sebagaimana tercermin pada Gambar 4.8 berbeda dengan hasil penelitian Mohamad et al. (2008). Nilai profit efficiency
yang didapatkan untuk Islamic Bank di Asia adalah 75,50% dengan menggunakan metode Stochastic Frontier Analysis (SFA). Perbedaan yang terjadi disebabkan oleh tahun observasi (1990-2005), bank objek penelitian, dan model fungsi yang berbeda. Hasil yang tidak jauh berbeda dihasilkan oleh penelitian Tahir dan Haron (2010), profit efficiency Islamic Bank wilayah Asia Timur dan Asia Tengah adalah sebesar 41,80%. Penelitian tersebut dilakukan dengan menggunakan metode Stochastic Frontier Analysis dengan variabel input yang berbeda. Peneliti lainnya, Said (2012) dalam penelitian dengan menggunakan metode Data Envelopment Analysis (DEA) mengemukakan bahwa efisiensi Islamic Bank
negara-negara di Asia mengalami kenaikan dalam rentang waktu 2006-2008 dan menurun selama tahun 2009. Hasil ini kontras dengan Gambar 4.8 dimana Islamic Bank Malaysia mengalami tren menurun dari 2007 sampai 2008, bahkan Islamic Bank Indonesia mengalami penurunan profit efficiency sampai tahun 2010. Lin dan Tseng (2005, Karmann et al. (2006) serta Kasman dan Turgutlu (2007) dalam penelitian mereka masing-masing mengambil kesimpulan bahwa DEA dan SFA menghasilkan output yang sejalan walaupun dengan nilai yang berbeda. Said (2012) menggunakan total pinjaman, aset lancar, dan pendapatan lainnya sebagai output, sementara penelitian ini menggunakan profit sebagai satu-satunya output. Selain itu perlu diingat bahwa sekitar tahun 2008 awal sampai tahun 2009 merupakan masa-masa krisis keuangan dunia (global financial crisis) yang
digerakkan oleh subprime mortgage crisis dimana terjadi penurunan pertumbuhan ekonomi, kenaikan inflasi, dan kenaikan tingkat suku bunga yang berimbas pada profitabilitas perbankan (Wie, 2010). Parashar dan Venkatesh (2010) memperkuat atau mendukung hasil estimasi profit efficiency Islamic Bank Indonesia dan Malaysia. Dalam penelitian terhadap Islamic Bank negara-negara yang tergabung dalam Gulf Cooperation Council (GCC) mereka menemukan bahwa ROAE (Return On Average Equity) dan CAR (Capital Adequacy Ratio) mengalami penurunan signikan selama terjadinya krisis keuangan global.
.
Gambar 4.9. Rerata profit efficiencyIslamic Bank Indonesia
Dari Gambar 4.9 dapat dilihat rerata profit efficiency masing-masing
Islamic Bank Indonesia dalam kurun waktu 2007-2012. Kode bank merujuk kepada nama-nama bank sebagaimana tercantum pada Tabel 4.21. Nilai rerata
profit efficiency tertinggi diraih oleh Bank Syariah mandiri dengan nilai 75,19%. Hal ini bermakna bahwa secara rerata Bank Syariah Mandiri menghasilkan profit
aktual sebesar 75,19% dari profit maksimum yang bisa dicapai jika beroperasi secara efisien. Nilai profit efficiency terbesar berikutnya adalah Maybank Syariah Indonesia (59,85%), Bank Muamalat Indonesia (55,48%) dan Bank Mega Syariah (50,95%). Bank Syariah Mandiri adalah Islamic Bank dengan total aset terbesar di
juga termasuk dalam lima besar pemilik aset terbesar. Isik dan Hassan (2002) telah menjustifikasi hubungan yang erat antara size dan efisiensi.
Tabel 4.21. Profit efficiencyIslamic Bank Indonesia No Nam a Bank Tahun Rerata Efisiensi 2007 2008 2009 2010 2011 2012 1 Bank M uamalat Indonesia 67,80% 90,59% 19,77% 51,82% 52,10% 50,80% 55,48% 2 Bank Syariah M andiri 58,36% 82,54% 86,44% 72,05% 51,80% 99,96% 75,19% 3 Bank M ega Syariah 92,44% 26,69% 51,85% 26,73% 22,21% 85,78% 50,95%
4 Bank BRI Syariah - - 12,67% 10,76% 5,87% 41,44% 17,69%
5 Bank Bukopin
Syariah - - 1,86% 20,96% 19,42% 22,47% 16,18%
6 Bank Panin
Syariah - - - - 28,14% 41,98% 35,06%
7 Bank Vict oria
Syariah - - - 4,75% 36,61% 19,24% 20,20%
8 Bank BCA Syariah - - - 51,50% 17,13% 20,83% 29,82%
9 Bank Jabar
Bant en Syariah - - - 31,09% 39,03% 33,14% 34,42%
10 Bank BNI Syariah - - - 19,06% 44,92% 46,01% 36,66%
11 M aybank Syariah
Indonesia - - - 13,83% 86,55% 79,18% 59,85%
Rerata Efisiensi 72,87% 66,61% 34,52% 30,26% 36,71% 49,17% Sumber: Data diolah
Tabel 4.21 berisikan rincian nilai profit efficiency Islamic Bank Indonesia pada rentang waktu 2007-2012. Kontradiksi terjadi pada fenomena profit efficiency Bank BRI Syariah dan Bank BNI Syariah. Walaupun keduanya termasuk lima terbesar pemilik total aset di Islamic Bank Indonesia namun keduanya tidak mampu menghasilkan profit efficiency sebagaimana Bank Syariah Mandiri, Bank Muamalat Indonesia, dan Bank Mega Syariah. Tiga bank dengan nilai profit efficiency terendah pada Islamic Bank Indonesia berturut-turut adalah
Bank Bukopin Syariah, Bank BRI Syariah, dan Bank Victoria Syariah dengan nilai 16,18%, 17,69%, dan 20,20%. Fenomena yang menarik juga terlihat pada Maybank Syariah Indoensia. Walaupun memiliki total deposit dan size yang jauh lebih kecil, namun Maybank Syariah Indonesia bisa mencapai nilai profit efficiency nomor dua terbaik dengan nilai 59,84%. Hal ini merupakan suatu hal yang memungkinkan karena bank kecil mempunyai keunggulan pada biaya
overhead yang juga kecil sehingga memungkinkan untuk mendapatkan nilai profit efficiency yang lebih besar (Isik dan Hassan, 2002).
Endri (2008) dalam penelitiannya terhadap Islamic Bank Indonesia mendapatkan nilai profit efficiency sebesar 61,09%. Perbedaan ini disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, bank objek penelitian yang berbeda. Penelitian ini menggunakan 11 Bank Umum Syariah (BUS) sementara Endri (2008) menggunakan 15 bank, kombinasi dari Bank Umum Syariah (BUS) dan Unit Usaha Syariah (UUS). Kedua, tahun observasi yang berbeda. Penelitian ini menggunakan rentang waktu observasi 2007-2012, sementara Endri (2008) menggunakan rentang waktu 2005-2007. Ketiga, penelitian ini mengikutsertakan
profitinefficiencyeffectmodel dalam penelitian ini, sementara Endri (2008) tidak mengikutsertakan komponen tersebut. Pada penelitian lainnya, Pramuka (2011) mempublikasikan hasil yang berbeda dari hasil penelitian ini. Rerata profit efficiency Islamic Bank Indonesia yang didapatkan pada kurun waktu observasi 2003-2009 adalah 96,32% (2007), 98,42% (2008), dan 99,70% (2009).
Gambar 4.10. Rerata profit efficiency Islamic Bank Malaysia
Sama seperti Islamic Bank Indonesia, grafik nilai rerata profit efficiency
masing-masing bank pada Islamic Bank Malaysia juga bervariasi satu bank dengan bank lainnya, sebagaimana terlihat pada Gambar 4.10. Sebagai catatan, kode bank mengikut ke list nama bank sesuai Tabel 4.22. Nilai rerata profit efficiency terbesar diraih oleh Bank Islam Malaysia Berhad yaitu sebesar 86,23%. Hal ini bermakna bahwa secara rerata Bank Islam Malaysia Berhad menghasilkan
profit aktual sebesar 86,23% dari profit maksimum yang bisa dicapai jika beroperasi secara efisien. Berikutnya, nilai rerata profit efficiency terbesar diraih oleh RHB Islamic Bank Berhad (79,89%), CIMB Islamic Bank Berhad (79,73%),
AmIslamic Bank Berhad (79,29%), Public Islamic Bank Berhad (76,30%), dan
Hong Leong Islamic Bank Berhad (75,76%). Ke-enam bank tersebut merupakan pemilik aset terbesar pada Islamic Bank Malaysia. Isik dan Hassan (2002) mengatakan bahwa bank-bank besar mempunyai keunggulan dalam size, kemampuan berkompetisi, dan kemampuan menghasilkan profit yang lebih besar. Oleh karena itu menjadi sesuatu hal yang wajar jika bank-bank besar mempunyai level profit efficiency yang lebih tinggi. Di lain pihak Isik dan Hassan (2002) juga mengatakan bahwa adanya bank-bank besar dengan tingkat profit efficiency yang
lebih kecil bisa disebabkan oleh penggunaan sumber daya manusia dan aset tetap yang tidak efisien, kemampuan bersaing yang lemah, serta keberadaan agency cost.
Tabel 4.22. Profit efficiencyIslamic Bank Malaysia
No Nam a Bank Tahun Rerata
Efisiensi 2007 2008 2009 2010 2011 2012
1 Affin Islamic Bank
Berhad 35,05% 42,12% 50,13% 53,48% 75,44% 86,66% 57,15%
2 Alliance Islamic
Bank Berhad 26,13% 24,68% 80,12% 67,21% 77,00% 58,90% 55,67%
3 AmIslamic Bank
Berhad 77,77% 71,11% 85,99% 72,97% 75,06% 92,84% 79,29%
4 Bank Islam M alaysia
Berhad 88,12% 86,69% 70,59% 92,76% 89,36% 89,86% 86,23%
5 Bank M uamalat
M alaysia Berhad 43,42% 30,05% 71,84% 81,84% 62,26% 89,72% 63,19%
6 CIM B Islamic Bank
Berhad 78,08% 60,62% 80,65% 92,06% 84,01% 82,95% 79,73%
7 Hong Leong Islamic
Bank Berhad 72,22% 73,73% 77,61% 81,37% 68,26% 81,34% 75,76%
8 HSBC Amanah
M alaysia Berhad - 34,13% 67,05% 57,26% 83,84% 88,04% 66,06%
9 Kuw ait Finance
House Berhad 26,23% 31,89% - - - 75,22% 44,45%
10 OCBC Al-Amin Bank
Berhad - - 24,20% 28,52% 23,51% 61,09% 34,33%
11 Public Islamic Bank
Berhad - 21,66% 87,12% 92,67% 90,43% 89,64% 76,30%
12 RHB Islamic Bank
Berhad 90,60% 82,00% 67,63% 67,45% 85,54% 86,14% 79,89%
13 St andar d Chart ered
Saadiq Berhad - - 8,05% 61,98% 61,34% 70,90% 50,57%
Rerata Efisiensi 59,74% 50,79% 64,25% 70,80% 73,00% 81,02% Sumber: Data diolah
Tabel 4.22 berisikan rincian nilai profit efficiency Islamic Bank Malaysia pada rentang waktu 2007-2012. Dari Tabel tersebut dapat dilihat bahwa bahwa
efficiency terendah, masing-masing 34,33%, 44,45%, dan 50,57%. Ketiga bank tersebut merupakan pemilik aset terendah pada Islamic Bank Malaysia. Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa skala ekonomi sangat menentukan nilai
profit efficiency pada Islamic Bank Malaysia.
Noor et al. (2010) mempublikasikan hasil riset mereka terhadap 10 Islamic Bank di beberapa negara Asia dengan metode Data Envelopment Analysis (DEA) dan mendapatkan nilai rerata profit efficiency sebesar 61,40%. Nilai profit efficiency untuk Islamic Bank Malaysia adalah 50,50%, berbeda dengan profit efficiency yang didapatkan dari penelitian ini. Perbedaan hasil secara jelas disebabkan oleh metode, objek bank penelitian, variabel, dan tahun observasi yang berbeda. Sejalan dengan Noor et al. (2010), Kamaruddin et al. (2008) mengadakan penelitian pada Islamic Bank Malaysia dengan bank objek sebanyak 14 bank dalam rentang waktu 1998-2004, dan menemukan bahwa nilai rerata
profit efficiency-dalam hal ini technicalefficiency sebesar 85,30%. Perbedaan nilai
profit efficiency dengan metode Data Envelopment Analysis (DEA) dan Stochastic Frontier Analysis (SFA) merupakan sesuatu hal yang memungkinkan, mengingat bahwa DEA menggunakan pendekatan non parametrik dan SFA menggunakan pendekatan parametrik (Coelli et al. 2005). Penelitian lain yang dilakukan oleh Aik dan Tan (2012) juga menunjukkan hasil yang berbeda. Profit efficiency Islamic Bank Malaysia dari penelitian tersebut menghasilkan nilai rerata sebesar 96,30%. Kamaruddin et al. (2008) mempublikasikan hasil profit efficiencyIslamic Bank Malaysia adalah 62,5% secara rerata untuk tahun observasi 1998-2004. Dalam hal ini perlu untuk diketahui bahwa metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah berbeda. Aik dan Tan (2012) serta Kamaruddin et al. (2008)
menggunakan metode Data Envelopment Analysis (DEA), sementara penelitian ini menggunakan Stochastic Frontier Analysis (SFA) dan mengikutsertakan profit inefficiency effect model. Terakhir, rentang waktu observasi yang dilakukan atau diambil juga berbeda.
4.7. Uji Beda Profit efficiencyIslamic Bank Indonesia dan Malaysia
Uji beda nilai rerata tahunan profit efficiencyIslamic Bank Indonesia dan Malaysia dilakukan untuk menjawab hipotesis yang diajukan, yaitu:
H7: Terdapat perbedaan signifikan antara nilai profit efficiency Islamic Bank
Indonesia dengan nilai profit efficiency Islamic Bank Malaysia.
Uji beda terhadap nilai rerata profit efficiency pada penelitian ini menggunakan
independent sample t-test. Software SPSS 19 digunakan sebagai alat bantu analisis. Jika nilai probabilitas < 0,05 maka hipotesis H7 dapat diterima, dan sebaliknya jika probabilitas > 0,05 maka hipotesis H7 ditolak. Hasil uji beda tersebut dapat dilihat pada Tabel 4.23.
Tabel 4.23. Uji beda profit efficiencyIslamic Bank Indonesia dan Malaysia Uji-t t df Sig. (2-sisi) Beda Nilai Rerata Beda Std. Error 95% Confidence Interval Lower Upper -5,17 110 0,00 -0,25 0,05 -0,34 -0,15
Sumber: Data diolah
Uji beda dengan menggunakan metode independent sample t-test di atas menghasilkan nilai t sebesar -5,17 dengan probalitas sebesar 0,00 atau lebih kecil dari 0,05. Oleh karena itu hipotesis ke tujuh (H7) dapat diterima, dengan kata lain
mean atau nilai rerata profit efficiency Islamic Bank Indonesia dan Islamic Bank
Malaysia berbeda secara signifikan.
4.8. Analisis ProfitInefficiency Effect Model
Model umum profitinefficiency effect untuk Islamic Bank Indonesia dan Malaysia sebagaimana persamaan (10) dapat dituliskan kembali dalam bentuk umum sebagai U = δ0 + δ1Z1 + δ2Z2 + W. Variabel terikat U adalah profit inefficiency, δ adalah parameter yang akan diestimasi, Z1 adalah variabel waktu, Z2 adalah variabel total aset, dan W adalah random error. Analisis terhadap profit inefficiency effect model pada Islamic Bank Indonesia dan Malaysia diperlukan untuk menjawab hipotesis berikut:
H8: Waktu mempunyai pengaruh signifikan terhadap profit inefficiency Islamic
Bank Indonesia
H9: Waktu mempunyai pengaruh signifikan terhadap profit inefficiency Islamic
Bank Malaysia
H10: Total Aset mempunyai pengaruh signifikan terhadap profit inefficiency
Islamic Bank Indonesia
H11: Total Aset mempunyai pengaruh signifikan terhadap profit inefficiency
Islamic Bank Malaysia
Ringkasan komparasi hasil estimasi parameter dengan Maximum Likelihood Estimation (MLE) untuk Islamic Bank Indonesia dan Malaysia dapat dilihat pada Tabel 4.24.
Tabel 4.24. Nilai parameter fungsi profitinefficiency Variabel Parameter Keterangan Islamic Bank Indonesia Islamic Bank Malaysia
Konstanta (δ0) 1,06@ 1,83* *Signifikan pada α=1% Waktu (δ1) 0,02@ -0,22*** ***Signifikan pada α=10% Total Aset (δ2) -0,11* -0,14** @Tidak signifikan
Gamma 99,99%* 92,57%*
Sumber: Data diolah
Dalam bentuk persamaan matematis, fungsi profit inefficiency Islamic Bank Indonesia dapat dituliskan sebagai berikut:
= 1,06 + 0,02 1 −0,11 2 + (19) Sementara itu model matematis yang terbentuk untuk profit inefficiency Islamic Bank Malaysia adalah:
= 1,83−0,22 1 −0,14 2 + (20) Dari Tabel 4.24 atau persamaan (19) dan persamaan (20) dapat dilihat fenomena pengaruh waktu dan total aset terhadap profitinefficiencyIslamic Bank
Indonesia dan Malaysia pada rentang waktu observasi 2007-2012. Variabel penjelas Z1 (waktu) pada Islamic Bank Indonesia mempunyai koefisien sebesar 0,02, bernilai positif namun tidak signifikan. Hal ini bermakna bahwa profit inefficiency Islamic Bank Indonesia mengalami peningkatan seiring waktu. Arti lainnya adalah profit efficiency Islamic Bank Indonesia mengalami penurunan seiring waktu, akan tetapi penurunan tersebut tidak siginifikan secara statistik (time invariant). Sementara itu parameter δ1 (koefisien dari variabel waktu)
Islamic Bank Malaysia mempunyai nilai -0,22 dan berlaku signifikan pada α = 10%. Hal ini mengandung makna bahwa profitinefficiencyIslamic Bank Malaysia
mengalami penurunan seiring waktu, atau dengan arti lainnya profit efficiency Islamic Bank Malaysia mengalami peningkatan signifikan secara statistik seiring waktu (time variant).
Variabel Z2 (total aset) memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap
profit inefficiency pada Islamic Bank Indonesia dan Islamic Bank Malaysia. Arti lainnya yaitu variabel total aset mempunyai dampak positif dan signifikan terhadap profit efficiency. Pada Islamic BankIndonesia, parameter δ2 (aset tetap) mempunyai nilai sebesar -0,11 dan berlaku signifikan pada α = 1%. Ini bermakna bahwa profit efficiency Islamic Bank Indonesia akan mengalami peningkatan sebesar 0,11% seiring peningkatan total aset 1% dan berlaku kebalikannya, dengan asumsi ceteris paribus. Demikian pula pada Islamic Bank Malaysia, parameter δ2 mempunyai nilai sebesar -0,14 dan berlaku signifikan pada α = 5%. Maknanya adalah profit efficiencyIslamic Bank Malaysia akan meningkat 0,14% jika total aset mengalami peningkatan 1%, demikian juga sebaliknya, dengan asumsi ceteris paribus.
Dari Tabel 4.24 juga dapat dilihat besaran parameter gamma (γ). Estimasi MLE menghasilkan output nilai γ yang relatif tinggi, masing-masing 99,99% dan 92,57% untuk Islamic Bank Indonesia dan Malaysia. Gamma (γ) merupakan parameter yang dikaitkan dengan variansi (σ) dari variabel acak V dan U yang dapat dirumuskan sebagai γ = σ2
U/(σ2 U+ σ2
V). Jika nilai γ sama dengan nol maka variansi dari profit inefficiency juga sama dengan nol, dan ini bermakna bahwa model stochastic profitfrontier tereduksi menjadi bentuk fungsi tradisional/biasa (Battese dan Coelli, 1993). Dengan demikian, nilai γ sebesar 99,99% dan 92,57% untuk Islamic Bank Indonesia dan Malaysia menandakan bahwa 99,99% dan
93,42% perbedaan (discrepancy) yang terbentuk antara profit aktual dan profit
maksimum (profit frontier) masing-masing pada Islamic Bank Indonesia dan Malaysia adalah disebabkan oleh pengaruh profitinefficiency (U).
Hasil yang diperoleh penelitian ini terkait pengaruh variabel waktu dan total aset sejalan dengan apa yang ditemukan oleh Baten dan Kamil (2010) pada penelitian mereka terhadap Commercial Bank di Bangladesh. Mereka menemukan bahwa variabel waktu dan total aset mempunyai nilai parameter negatif dan signifikan terhadap profit inefficiency atau dengan kata lain profit efficiency dari
Commercial Bank Bangladesh meningkat seiring bertambahnya waktu dan total aset. Al-Farisi dan Hendrawan (2012) pada penelitian mereka terhadap perbankan Indonesia (konvensional dan Islamic Bank) menemukan bahwa variabel waktu mempunyai pengaruh positif tetapi tidak signifikan terhadap profit efficiency. Selain itu mereka mendapatkan bahwa pembiayaan yang disalurkan ke masyarakat (channeled loans) berpengaruh positif dan signifikan terhadap profit efficiency. Dengan demikian apa yang ditemukan oleh Al-Farisi dan Hendrawan (2012) sejalan dengan hasil penelitian ini. Suhaimi et al. (2012) menemukan bahwa size (total aset) berpengaruh negatif terhadap profitefficiencyCommercial Bank Malaysia. Mereka menganalisis bahwa kondisi ini merupakan fenomena temporer yang disebabkan oleh proses transisi merger perbankan Malaysia sejak tahun 2001. Sementara itu Muazaroh et al. (2012) dalam penelitian mereka terhadap perbankan Indonesia menemukan hasil yang sejalan dengan penelitian ini, yaitu total aset berpengaruh positif dan signifikan terhadap profitefficiency.
Wahyudi et al. (2013) mengatakan bahwa komponen terbesar dari aset perbankan berisikan aset produktif (earning asset). Dengan demikian menjadi
sesuatu hal yang wajar jika total aset menjadi driver penggerak pertumbuhan
profit bank. Selain itu, size bank juga berkaitan dengan kompetisi atau persaingan, dan bank yang mempunyai keunggulan bersaing akan menginduksi bank tersebut menjadi lebih efisien (Isik dan Hassan, 2002).
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan terhadap hasil penelitian, maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1. A) Islamic Bank Malaysia mempunyai profit efficiency yang relatif lebih tinggi daripada Islamic Bank Indonesia dalam rentang waktu observasi 2007-2012. Islamic Bank Malaysia menghasilkan rerata profit efficiency sebesar 67,34%, sedangkan Islamic Bank Indonesia 42,75%. Makna lainnya adalah masih terdapat ruang gerak atau potensi yang besar bagi Islamic Bank
Indonesia dan Malaysia untuk meningkatkan nilai profit efficiency.
B) Nilai profit efficiencyIslamic Bank Malaysia mengalami penurunan pada tahun 2008 dari 59,74% (2007) menjadi 50,79% (2008), kemudian mengalami kenaikan secara kontinyu sampai tahun 2012. Sementara itu
Islamic Bank Indonesia terus mengalami penurunan profit efficiency dari tahun 2007 (72,87%) sampai mencapai titik terendah pada tahun 2010 (30,26%). Pada tahun 2011 Islamic Bank Indonesia mulai mengalami peningkatan profit efficiency dan berlanjut sampai tahun 2012.
C) Nilai tertinggi profit efficiency Islamic Bank Indonesia diraih oleh Bank Syariah Mandiri dengan (75,19%), diikuti oleh Maybank Syariah Indonesia (59,85%) dan Bank Muamalat Indonesia (55,48%). Sementara itu tiga bank dengan nilai profit efficiency terendah adalah Bank Bukopin Syariah (16,18%), Bank BRI Syariah (17,69%), dan Bank Victoria Syariah (20,20%).
Catatan khusus diberikan kepada Maybank Syariah Indonesia, dengan size
yang relatif lebih kecil mampu menempati urutan ke-dua nilai tertinggi. D) Nilai profit efficiency tertinggi Islamic Bank Malaysia diraih oleh bank-bank dengan size atau total aset terbesar. Tiga bank peraih nilai profit efficieny tertinggi adalah Bank Islam Malaysia Berhad (86,23%), RHB Islamic Bank Berhad (79,89%), dan CIMB Islamic Bank Berhad (79,73%). Sementara itu OCBC Al-Amin Bank Berhad, Kuwait Finance House Berhad, dan Standard Chartered Saadiq Berhad meraih nilai profit efficiency
terendah, masing-masing sebesar 34,33%, 44,45%, dan 50,57%.
2. Dari hasil estimasi Maximum Likelihood Estimation (MLE) didapatkan bahwa total deposit mempunyai pengaruh negatif dan signifikan terhadap nilai profit efficiency Islamic Bank Indonesia dalam rentang waktu 2007-2012.
3. Total deposit mempunyai pengaruh negatif dan signifikan terhadap nilai
profit efficiencyIslamic Bank Malaysia dalam rentang waktu 2007-2012. 4. Biaya tenaga kerja berpengaruh negatif dan signifikan terhadap profit
efficiency Islamic Bank Indonesia dalam rentang waktu 2007-2012. Pertumbuhan biaya tenaga kerja pada Islamic Bank Indonesia tidak seiring dengan pertumbuhan profit yang dihasilkan. Kekurangan sumber daya manusia secara kuantitatif dan atau kualitatif menjadi alasan logis terjadinya pembengkakan biaya tenaga kerja Islamic Bank Indonesia pada rentang waktu 2007-2012.
5. Biaya tenaga kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap profit efficiency Islamic Bank Malaysia dalam rentang waktu 2007-2012.
Pertumbuhan biaya tenaga kerja pada Islamic Bank Malaysia seiring dengan