HASIL DAN PEMBAHASAN
ANALISIS NILAI TAMBAH
Nilai Tambah Produk Olahan Kakao Oleh Kelompok Petani di Trenggalek
Dalam setiap periode produksi, total bubuk kakao, bubuk cokelat 3in1, dan cokelat batangan yang dihasilkan berturut – turut sebanyak 23 kg, 15 kg, dan 12 kg. Input utama produksi bubuk kakao sebanyak 50 kg biji fermentasi dengan biaya per kg Rp 35 000, sedangkan untuk bubuk cokelat 3in1 digunakan 2 kg bubuk kakao murni yang telah dialkalisasi dan biaya per kg Rp 60 000, dan untuk pembuatan cokelat batangan digunakan 6,3 kg campuran bubuk kakao, pasta, dan lemak cokelat dengan biaya berkisar Rp 82 000 per kg. Tenaga kerja yang digunakan untuk setiap produk 3in1 dan cokelat batangan sebanyak 5 orang, sedangkan untuk bubuk kakao sebanyak 10 orang dengan jumlah jam kerja per periode 7 jam, sedangkan upah HOK ( hari orang kerja tersebut atau 7 jam kerja) untuk setiap produksi sebesar Rp 40 000. Upah tersebut dibayarkan setiap hari masuk kerja. Jika hari libur atau pabrik tidak melakukan aktivitas operasional, maka tenaga kerja tidak mendapatkan upah kerja.
Harga jual per kilogram untuk bubuk kakao murni adalah Rp 300 000. Sedangkan pemasaran produk dikemas per 250 gram yaitu dengan harga Rp 75 000. Untuk produk minuman cokelat instant 3in1, penjualan produk dikemas per 25 gram dengan harga jual Rp 2250 dan harga jual per kg sebesar Rp 90 000. Produk cokelat batangan yang dikemas dengan netto 40 gram per kemasannya dijual dengan harga harga Rp 7500. Khusus jenis cokelat batangan “converture” atau cokelat murniseperti pada UPH kakao Kabupaten Trenggalek ini yang seluruh komposisinya menggunakan lemak cokelat dan tidak menggunakan bahan pengganti lemak nabati seperti cokelat batangan pada umumnya, maka harga jual Rp 7500 per 40 gram merupakan harga yang relatif sangat rendah dalam pasar cokelat.
Sumbangan input tambahan selain dari pada input utama untuk produk bubuk kakao murni adalah gula dan susu dengan komposisi yang sangat sedikit. Hal ini didasarkan pada jenis bubuk kakao yang mengandung rasa pahit sebagai bahan baku utama dalam industri kue, bakery, maupun pembuatan produk cokelat turunanya. Akumulasi biaya input tambahan tersebut sebesar Rp 3500. Sedangkan
41 untuk produk bubuk minuman cokelat 3in1, jenis input tambahannya adalah gula, susu, dan krimmer dengan total biaya sebesar Rp 15 643 per kg pengolahan bubuk kakao murni. Untuk produk cokelat batangan, tambahan bahan baku berupa susu dan gula dengan total per kg bahan baku utama (lemak, pasta, dan bubuk kakao murni) sebesar Rp 10 000.
Nilai tambah yang diperoleh dengan formula nilai output di kurangi dengan biaya input tambahan dan harga input utama di hasilkan berturut – turut untuk produk bubuk kakao murni, bubuk minuman cokelat 3in1, dan cokelat batangan adalah Rp 99 500 (74.33%), Rp 599 357 (88.79%), dan Rp 263 393 (73.93%). Nilai ini menjelaskan bahwa pengolahan biji kakao menjadi produk turunan berupa bubuk kakao dengan tambahan input lain berupa sedikit gula dan susu memberikan nilai tambah untuk produsen sebesar 74.33 persen dari nilai produk. Sedangkan pengolahan bubuk kakao murni menjadi produk bubuk minuman cokelat 3in1memberikan nilai tambah sebesar 88.79 persen dari nilai output, dan untuk cokelat batangan rasio nilai tambah yang dihasilkan sebesar 73.93 persen dari nilai output. Hasil nilai tambah untuk ketiga produk telah menunjukan bahwa usaha pengolahan kakao telah memberi nilai tambah lebih dari 50 persen dri nilai output. Dengan demikian usaha telah memberi nilai ekonomi relatif tinggi bagi produsen.
Berdasarkan nilai tambah tersebut diselisihkan dengan pembayaran untuk tenaga kerja, maka diperoleh keuntungan untuk setiap produk yaitu sebesar Rp 107 500 untuk bubuk kakao murni, Rp 499 356,855 untuk bubuk cokelat 3in1, dan Rp 231 393 untuk produk cokelat batangan. Sedangkan margin produk diperoleh dengan menselisihkan antara nilai produk dengan biaya bahan baku utama nya. Margin untuk produk bubuk kakao, bubuk cokelat 3in1, dan cokelat batangan berturut – turut adalah Rp 115 000, Rp 533 356,855, dan Rp 180 535,857. Dari margin tersebut terkandung nilai untuk pendapatan tenaga kerja, sumpangan input lain, dan keuntungan perusahaan untuk setiap presentasenya.
Faktor konversi merumuskan berapa satuan output yang dihasilkan per satuan input yang digunakan pada satuan tertentu. Pada kasus ini input berupa biji kakao misalnya dan output berupa bubuk kakao murni. Dari hasil penelitian, ditunjukan bahwa faktor konversi untuk bubuk kakao adalah 0.46. Nilai ini menunjukan dalam 1 kg (satuan) biji kakao yang digunakan menghasilkan output (bubuk kakao murni) sejumlah 0.46 kg. Jika dalam UPH mengolah biji kakao 50 kg maka bubuk kakao yang dihasilkan adalah 23 kg. Nilai tambah terbesar dihasilkan dari produk bubuk cokelat 3in1, disusul oleh cokelat batangan dan bubuk kakao murni. Nilai tambah terbesar berimplikasi pula pada nilai keuntungan. Bubuk cokelat 3in1 memberikan keuntungan terbesar.
Dalam jangka panjang, agar produsen yakni sekelompok petani sebagai pengurus unit usaha pengolahan kakao ini dapat meningkatkan penerimaan usaha dengan menambah produksi cokelat 3in1 karena nilai tambah yang paling besar. Nilai tambah ini menunjukan selisih nilai produk antara nilai yang diterima diselisihkan dengan biaya total bahan baku. Nilai tambah besar ini berpengaruh secara linear terhadap keuntungan. Keuntungan merupakan nilai tambah bersih karena diselisihkan dengan biaya untuk tenaga kerja dalam proses produksi. Saat ini volume produksi cokelat 3in1 masih dibawah bubuk kakao. Oleh karena itu, dengan dukungan harga per kg dibawah produk bubuk kakao dan keuntungan yang lebih besar, maka untuk menambah keuntungan produksi dapat dilakukan
dengan kenaikan jumlah produksi cokelat 3in1. Kedua, keuntungan besar berikutnya diterima dari produksi cokelat batangan kemudian terakhir bubuk kakao.
Dari hasil tersebut, maka menjadi implikasi bahwa setiap kelompok petani yang berkeinginan mendapatkan nilai tambah dengan melakukan aktivitas pengolahan lebih menguntungkan dengan mengolah produk intermediet menjadi produk akhir yaitu cokelat 3in1 dan cokelat batangan. Berdasarkan tahap proses produksi, bubuk kakao diolah dari biji kakao mentah dengan tahapan produksi yang lebih panjang dan membutuhkan tenaga kerja lebih banyak. Berdasarkan pertimbangan untuk menekan biaya produksi dan biaya investasi alat dan mesin produksi, maka dalam jangka pendek perusahaan skala kelompok petani akan lebih menguntungkan dengan menerima keuntungan lebih besar dan biaya pengeluaran yang lebih rendah dengan tanpa mengolah dari biji mentah.
Tabel 9 Nilai Tambah Produk Olahan Kakao di Trenggalek
VARIABEL