• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

ANALISIS PROFITABILITAS

Profitabilitas UPH Kakao di Trenggalek

Profitabilitas dihasilkan dari perkalian antara MOS dan MIR. Nilai MOS merupakan seberapa besar presentase penurunan produksi yang dapat ditolerir sehingga perusahaan tidak mengalami kerugian. Sedangkan nilai MIR menunjukan apakah produk olahan mampu memberikan pendapatan yang lebih besar dari biaya tetap dan laba. Komponen pembentuk nilai MOS tersebut adalah selisih antara penerimaan dengan nilai titik impas. Apabila nilai penerimaan lebih kecil dibandingkan nilai titik impas maka hasil dari MOS menjadi negatif. Hasil ini telah ditujukan pada usaha pengolahan kakao Trenggalek. Total penerimaan untuk semua jenis produk disini lebih kecil dibandingkan nilai titik impas. Dengan demikian nilai MOS menjadi negatif.

Nilai titik impas terbentuk dari biaya tetap sedangkan biaya tetap tersebut disusun oleh biaya penyusutan. Banyaknya mesin produksi mengakibatkan total biaya penyusutan yang sangat besar sehingga membentuk nilai titik impas yang tinggi pula. Akibat rendahnya volume produksi membentuk total penerimaan yang lebih kecil dibandingkan nilai titik impas. Dari kalkulasi perhitungan tersebut, presentase MOS yang dihasilkan menjadi negatif. Nilai MOS yang negatif mengakibatkan kondisi yang sama pada profitabilitas. Langkah awal penentuan profitabilitas terlebih dahulu diklasifikasikan biaya total produksi yang meliputi biaya variabel dan biaya tetap, berikut ini tabel biaya produksi

Berdasarkan perhitungan, penerimaan yang dihasilkan dari jumlah produksi dikali dengan harga menunjukan nilai (Rp 6 900 000) dibawah titik impas (Rp 7 069 257) pada contoh produk bubuk kakao dan produk lainnya pun mengikuti. Hal ini menyimpulkan bahwa saat ini usaha pengolahan biji kakao oleh kelompok petani di Trenggalek belum menerima keuntungan dalam produksinya untuk semua jenis produk. Nilai yang besar untuk BEP di pengaruhi dari proporsi total biaya tetap yang sangat tinggi. Umur usaha saat ini belum genap satu tahun dalam aktivitas produksi sedangkan nilai investasi yang sangat besar menimbulkan nilai penyusutan yang besar pula misal contoh pada pengolahan bubuk kakao dengan nilai penyusutan Rp 2 931 250 per periode produksi. Penerimaan yang lebih rendah dari nilai titik impas tersebut menjadi penyebab nilai MOS menjadi negatif. Dengan demikian profitabilitas yang dihitung dari komponen MOS pun menjadi negatif. Kondisi demikian memberikan dorongan bagi perusahaan untuk menggenjot jumlah produksi agar penerimaan bertambah.

Tabel 11 Biaya Variabel dan Tetap Pengolahan Kakao di Trenggalek No Keterangan Output Bubuk Kakao Cokelat Batangan Bubuk Cokelat 3in1 I Output, Input 1 Output (kg/produksi) 23 12 15 2 Input Utama(kg/produksi) 50 6,3 2 3 Tenaga Kerja (HOK/produksi) 5 5 5 4 Harga output ( Rp/ kg) 300 000 187 500 90 000 5 Upah Tenaga Kerja

(Rp/HOK) 40 000 40 000 40 000

6 Harga Bahan

Baku(Rp/kg) 35 000 82 857 60 000

7 Harga Bahan Baku

Tambahan ( Rp/kg) 3 500 10 000 15 643

II Biaya variabel (Variabel cost) 1. Biji Kakao 1 750 000 - - 2. Pasta cokelat - 225 000 - 3. Lemak cokelat - 297 000 - 4. Bubuk Kakao - - 120 000 5. Gula - 30 000 100 000 6. Susu - 27 000 23 100 7. Vanilla - - 47 250 8. Pengemasan 18 400 75 000 90 000 9. LPJ 5 000 - - 10. Listrik 4 500 - - Total 1 777 900 654 000 480 350

III Biaya tetap (Fix cost)

1 .

Biaya administrasi dan

umum (Gaji, listrik pabrik) 2 300 000 200 000 200 000 2

. Penyusutan peralatan 2 931 250 2 119 792 795 833

Total 5 231 250 2 319 792 995 833

IV Total biaya produksi (TC) 7 009 150 2 973 792 84 904 850

Nilai MOS yang diperoleh (misal pada bubuk kakao) mempunyai nilai negatif 2.5 persen. Hal ini berarti penjualan bagi produk bubuk kakao harus naik diatas 2.5 persen dari volume saat ini agar pendapatan mulai memberi keuntungan. Sedangkan kemampuan dalam menutup biaya tetap dan menghasilkan laba tersebut dapat dilihat pada perhitungan MIR (Marginal Income Ratio). Nilai MIR bubuk kakao misalnya menunjukan bahwa produk bubuk kakao dapat memberikan laba bersih sebesar 74.23 persen dari hasil penjualannya dan telah

49 mampu menutupi biaya tetap usaha dan biaya variabel. Pada produksi cokelat batangan, kerugian yang diterima adalah 34 persen dari nilai penjualan saat ini. Berdasarkan nilai MOS sebesar 7.29 persen maka produksi cokelat batangan harus bertambah diatas 47.29 persen dari produksi saat ini. Demikian pula untuk produk bubuk cokelat 3in1 dengan kerugian sebesar 9.83 persen dari total penerimaan. Upaya memperoleh keuntungan pada produksi bubuk cokelat 3in1 adalah meningkatkan produksi diatas nilai MOS yakni diatas 15.26 persen dari produksi saat ini.

Hasil penelitian ini menggambarkan bahwa saat ini usaha pembuatan cokelat oleh kelompok petani belum menguntungkan. Aktivitas pengolahan mulai dari biji kakao mentah menjadi jenis produk antara maupun produk akhir membutuhkan mesin dan teknologi canggih sehingga mengakibatkan biaya investasi tinggi namun belum didukung dengan volume produksi yang besar untuk menutup titik impas. Biaya produksi yang tinggi dapat dikendalikan apabila aktivitas bisnis didukung dengan pemasaran yang luas sehingga volume produksi besar. Penerimaan yang besar membantu agar perusahaan dapat segera menerima kembali biaya investasi yang telah dikeluarkan untuk pengeluaran mesin produksi. Selain itu, kondisi demikian juga disebabkan karena usaha pengolahan kakao tersebut saat ini masih terbatas pada sumberdaya manusia yang memiliki kemampuan berkompetisi dalam industri cokelat. Perusahaan yang dikoordinasi oleh pegawai pemerintah daerah yang sekaligus menjadi objek binaan menjadi salah satu faktor terhambatnya orientasi perusahaan untuk berkembang dibawah prinsip perusahaan komersial dengan target mencapai keuntungan yang diharapkan.

Tabel 12 Perhitungan titik impas dan profitabilitas

No Variabel Bubuk Kakao Cokelat Batangan Bubuk cokelat 3in1 1 Harga 300 000 187 500 90 000 2 Jumlah Output (kg) 23 12 15

3 TFC (total biaya tetap) 5 231 250 2 319 792 995 833 4 TVC (total biaya

variabel) 1 777 900 654 000 480 350

5 AVC (biaya rata-rata) 77 300 54 500 32 023

6 P – AVC 222 700 133 000 57 977 7 BEP (unit) 23 17 17 8 BEP ( rupiah) 7 069 257 3 313 989 1 555 989 9 Total penerimaan (TR) 6 900 000 2 250 000 1 350 000 10 TR – BEP ( 169 257) ( 1 063 989) ( 205 989) 11 MOS ( %) (2.5) (47.29) (15.26) 12 TR – VC 5 122 100 1 596 000 869 650 13 MIR 74.23 71.93 64.42 Profitabilitas (%) ( 1.86) ( 34.00) ( 9.83)

Nilai profitabilitas yang dipengaruhi oleh nilai titik impas berhubungan dengan biaya produksi baik biaya variabel maupun biaya tetap. Kedua komponen

biaya tersebut membentuk nilai tiik impas. Adapun rincian nilai penyusutan dari investasi alat dan teknologi pengolahan kakao dapat dilihat pada tabel berikut,

Tabel 13 Perhitungan Biaya Penyusutan

No Biaya Tetap Umur

(th) Biaya (Rp / unit) d ( ) D 1 Mesin sangrai kakao (roaster) 4 36 500 000 25% 9 125 000 2 Mesin pemecah kulit dan pemisah biji kakao sangrai (desheller) 4 40 500 000 25% 10 125 000 3 Pemasta kasar 4 32 000 000 25% 8 000 000 4 Pengempa lemak 4 c.18 500 000 d.60 500 000 25% a.4 625 000 b.15 125 000 5 Mesin penghancur bungkil cokelat (cocoa powder) 4 49 750 000 25% 12 437 500 6 Mesin pembubuk cokelat 4 41 250 000 25% 10 312 500 7 Mesin pengayak bubuk 4 20 900 000 25% 5 225 000 7 Mesin penyangrai bubuk 4 36 500 000 25% 9 125 000 8 Mesin ballmill 4 24 500 000 25% 6 125 000 9 Mesin pencampur (blending) 4 46 750 000 25% 11 687 500 10 Mesin choncing 4 47 250 000 25% 11 812 500 11 Mesin tempering dan pencetak permen cokelat 4 37 500 000 25% 9 375 000 12 Penyimpan bahan cokelat 4 43 500 000 25% 10 875 000 13 Lemari es 4 4 000 000 25% 1 000 000 14 Pengemas manual 4 5 500 000 25% 1 375 000 15 Pengemas otomatis (packing roll) 4 70 900 000 17 725 000

Total biaya mesin dan peralatan (Rp) 576 300 000 Total biaya penyusutan (Rp) 154 075 000 Keterangan:

D = Biaya penyusutan per tahun d = presentase penyusutan pert ahun

51 Permasalahan yang menghambat pemasaran produk adalah kondisi teknologi. Mesin penghalus cokelat atau ballmill masih memiliki kapasitas dibawah standar sehingga mengakibatkan tekstur cokelat yang dihasilkan masih kasar. Kondisi demikian menjadi faktor manajemen merasa belum percaya diri untuk memperluas pasar. Akibatnya, pemasaran produk masih bergantung pada pesanan konsumen di lingkungan pemerintah daerah dan kebutuhan untuk mengikuti bazar atau promo produk di daerah sekitar provinsi Jawa Timur. Oleh karena itu, agar produk cokelat ini dapat diterima oleh masyarakat luas maka manajemen perusahaan harus dapat mengganti mesin ballmill dengan standar yang sesuai harapan untuk menciptakan tekstur cokelat dengan tingkat kehalusan yang tinggi.

Produksi olahan kakao dengan kerugian terbesar adalah produk cokelat batangan. Hal ini disebabkan karena nilai mos yang paling negatif. Saat ini produksi cokelat batangan masih 47.29 persen dari nilai titik impas. Proses pembuatan cokelat batangan dimulai dari pengolahan biji kakao mentah menjadi produk bubuk kakao yang kemudian diproses lanjut menjadi cokelat batangan yang siap dikonsumsi. Oleh karena itu, berdasarkan tahapan proses yang lebih panjang mesin dan teknologi yang dibutuhkan pun lebih banyak sehingga biaya produksi lebih tinggi. Akan tetapi saat ini jumlah produksi cokelat batangan masih paling rendah dibanding produksi bubuk kakao dan bubuk cokelat 3in1. Produksi cokelat batangan harus ditingkatkan jauh diatas nilai tiitk MOS agar perusahaan dapat segera menerima biaya investasi mesin yang telah dikeluarkan.

Profitabilitas tidak selalu berhubungan linear dengan nilai tambah yang diperoleh. Pada kasus usaha pengolahan kakao di Trenggalek ini meskipun telah dihitung nilai tambah yang menunjukan nilai yang positif dan relatif tinggi, namun profitabilitas usaha untuk ketiga jenis produk amsih negatif. Sehubungan dengan komponen penyusun, nilai tambah hanya mengkaitkan nilai output dan harga produk namun belum dikaitkan dengan biaya tetap yang terkandung biaya penyusutan teknologi pengolahan diadalamnya. Biaya yang dihitung dalam perhitungan nilai tambah hanya biaya variabel berupa biaya input utama dan tambahan serta upah te naga kerja. Sedangkan pada analisis profitabilitas semua komponen biaya dalam proses produksi dilibatkan termaasuk biaya penyusutan mesin – mesin produksi.

Dalam analisis profitabilitas ini, produsen dapat mendapatkan informasi sejauh mana selisih volume produksi saat ini dengan titik impas. Apabila selisih antara kedua nilai tersebut mnunjukan positif maka usaha dikatakan aman dan dapat terus beroperasi. Titik aman tersebut disebut dengan margin of safety atau MOS. Saat ini nilai MOS untuk ketiga produk masih negatif. Oleh karena itu, produsen di Trenggalek harus segera menambah produksi sebesar diatas nilai MOS yang dihasilkan untuk masing – masing produk diikuti dengan perluasan pemasaran agar usaha dapat menutup biaya tetap dalam jangka pendek dan berkelanjutan dalam jangka panjang.

Profitabilitas Usaha Pengolahan Kakao di Blitar

Penerimaan dari aktivitas usaha pengolahan kakao oleh kelompok petani di Blitar yang mengolah dari produk antara menjadi cokelat batangan dan bubuk cokelat 3in1 telah memberikan keuntungan. Profitabilitas produk cokelat batangan sebesar 15.88 persen yang menunjukan bahwa sebesar 15.88 persen dari

penerimaan merupakan laba bersih. Nilai yang sama juga ditujukan oleh produk cokelat batangan jenis susu dan produk bubuk cokelat 3in1. Nilai profitabilitas positif dihasilkan karena penerimaan usaha sudah lebih dari nilai pada titik impas. Oleh karena itu, sesuai pada tabel hasil dari margin of safety (MOS) menunjukan nilai yang positif. Perhitungan hasil nilai MOS, MIR, dan titik impas ditujukan pada Tabel 19. Berikut ini rincian nilai biaya produksi yang meliputi biaya variabel dan biaya tetap.

Tabel 14 Perhitungan Total Biaya Produksi

No Variabel

Output Dark

Cokelat 100%

Milk Cokelat Bubuk

Cokelat 3in1 I Output, Input 1 Output (kg/ produksi) 45 45 156 2 Input Utama (kg/produksi) 6 6 56 3 Tenaga Kerja (HOK/produksi) 2 2 19 4 Harga output (Rp/ kg ) 250 000 250 000 147 000

5 Upah Tenaga Kerja

(Rp/HOK) 50 000 50 000 50 000

6 Harga Bahan Baku

(Rp/kg) 70 000 70 000 70 000

7 Harga Bahan Baku

Tambahan ( Rp/kg) 35 000 39 560 100 000

(1 HOK = 7 jam)

II Biaya Variabel (Variabel Cost)

1 Bubuk kakao 3 500 000 000 3 500 000 910 000 2 Lemak cokelat 900 000 900 000 - 3 Bahan baku tambahan 35 000 39 560 15 600 000 4 Gas - - 64 000

Total variabel cost 4 435 000 4 439 560 16 574 000

III Biaya Tetap (Fix Cost)

1 Penyusutan 2 495 834 2 495 835 666 667

2 Administrasi dan umum

(Gaji, Listrik, AC) 2 567 290 2 567 290 3 767 290 Total Fix Cost 5 063 124 5 063 124 4 433 957

53 Berdasarkan klasifikasi biaya tetap dan biaya variabel maka dapat digunakan dalam perhitungan titik impas, MIR, MOS, dan selanjutnya di hasilkan nilai profitabilitas sebagai berikut,

Tabel 15 Perhitungan Titik Impas dan Profitabilitas

No Variabel

Dark chocolate

100%

Milk

Cokelat Cokelat 3in1

1 Harga ( Rp/kg) 250 000 250 000 147 000 2 Jumlah Output (kg) 45 45 156 3 TFC 5 063 124 5 063 124 4 433 957 4 TVC 4 435 000 4 439 560 16 574 000 5 AVC 98 556 98 657 106 244 6 BEP (unit ) 44 44 132 7 BEP (rupiah ) 8 300 203 8 300 203 15 835 561 8 Total penerimaan 11 250 000 11 250 000 22 932 000 9 TR – BEP 241 410 241 410 3 763 107 10 MOS (%) 26.22 26.22 30.95 11 MIR ( %) 60.58 60.54 27.73 Profitabilitas (%) 15.88 15.87 8.6

Hasil perhitungan profitabilitas seperti pada tabel diatas terlihat bahwa produk bubuk cokelat 3in1 diproduksi dalam jumlah yang paling besar dibandingkan cokelat batangan. Keuntungan yang diperoleh menujukan nilai yang berkebalikan yakni terendah meskipun penerimaan dari penjualan paling besar. Hal ini disebabkan nilai titik impas produksi cokelat bubuk 3in1 menunjukan nilai sangat besar dan jauh lebih tinggi dari produksi cokelat batangan. Faktor yang menjadi penyebab timbulnya nilai titik impas yang besar tersebut bukan dari biaya tetap atau investasi melainkan dari komponen biaya variabel. Oleh karena itu, semakin tinggi produksi cokelat bubuk 3in1 maka biaya variabel akan menjadi lebih besar. Dalam jangka pendek, agar produsen dapat menerima keuntungan yang lebih besar maka kebijakan penentuan harga dengan meningkatkan harga jual dapat dilakukan agar selisih antara harga jual dengan biaya variabel lebih besar.

Berdasarkan nilai MOS, produksi cokelat batangan jenis dark dan susu saat ini telah diatas titik impas berturut – turut sebesar 26.22 persen dan 30.95 persen. Nilai tersebut menunjukan bahwa penjualan cokelat batangan dan bubuk cokelat tidak boleh turun dibawah sebesar 26.22 persen dari produksi saat ini dan 30.95 persen untuk cokelat 3in1. Produksi dapat turun dengan rentang nilai paling besar sesuai presentase mos dan kondisi tersebut perusahaan berada pada titik impas dimana tidak mendapatkan keuntungan maupun kerugian. Sedangkan kemampuan dalam menutup biaya tetap dan menghasilkan laba tersebut dapat dilihat pada perhitungan (Marginal Income Ratio) MIR. Nilai MIR bubuk cokelat 3in1 menunjukan bahwa produk bubuk kakao dapat memberikan 27.73 persen dari hasil penjualannya dalam menutupi biaya tetap usaha dan mendapatkan laba.

Profitabilitas perusahaan ini dapat dilihat dari perkalian antara MIR dan MOS. Nilai titik impas yang lebih rendah ditunjang dengan nilai penerimaan yang tinggi. Penerimaan yang besar tersebut disebabkan karena kampung cokelat telah

menghasilkan produk dengan volume yang tinggi dan investasi peralatan yang dimiliki pun tidak memberikan resiko pada tingginya nilai penyusutan. Dalam jangka pendek, perusahaan dapat meningkatkan produksi cokelat batangan agar semakin didapatkan penerimaan yang lebih besar untuk memberikan kenaikan keuntungan. Saat ini margin antara titik impas dengan penerimaan menunjukan nilai yang besar. Oleh karena itu, penambahan produksi akan semakin menghasilkan nilai MOS yang lebih besar dan positif. Semakin besar nilai MOS menggambarkan bahwa perusahaan telah dalam kondisi aman dan memiliki peluang besar untuk terus beroperasi dalam jangka panjang.

Tabel 16 Perhitungan biaya penyusutan

No Biaya Tetap Umur

(th) Biaya (Rp/unit) d ( ) D 1 Mesin ballmill 2 283 000 000 50% 1 179 167 2 Mesin pencampur (blending/mixer) 2 160 000 000 50% 666 667 3 Mesin choncing 2 120 000 000 50% 500 000 4 Lemari es 2 8 000 000 50% 33 333 5 Mesin pemotong kertas 2 28 000 000 50% 116 667

Total biaya mesin dan

peralatan produksi (Rp) 599 000 000 Total biaya penyusutan (Rp) 2 495 834 Keterangan:

D = Biaya penyusutan per tahun d = presentase penyusutan pert ahun

Berdasarkan nilai profitabilitas antara usaha kelompok petani di Blitar dan Trenggalek ini menunjukan bahwa usaha pengolahan kakao akan lebih baik tidak mengendalikan aktivitas pengolahan produk mulai dari biji mentah yang menuntut nilai investasi dan biaya penyusutan yang besar. Untuk ukuran usaha skala kecil dengan pemasaran yang masih terbatas, pengelolaan aktivitas usaha mulai dari biji mentah menjadi produk intermediet sampai produk akhir membutuhkan strategi pemasaran untuk menggenjot jumlah produksi. Oleh karena itu, saat ini usaha pengolahan kakao oleh kelompok petani di Blitar telah memberikan keuntungan meskipun usaha baru. Hal ini disebabkan biaya investasi yang lebih rendah untuk menekan total biaya produksi dengan didukung volume yang besar. Jumlah produksi yang besar di Blitar telah dilakukan karena didukung dengan strategi pemasaran dalam bentuk bisnis wisata yaitu “kampung cokelat” sehubungan dengan kapasitas teknologi dan mesin pengolahan khususnya ballmill yang sudah lebih baik standarnya sehingga menghasilkan produk cokelat dengan kualitas kehalusan lebih tinggi. Strategi pemasaran kampung cokelat dengan pelayanan wisata pendidikan ini mengajak konsumen tidak hanya untuk membeli cokelat namun mendapatkan pengetahuan secara langsung bagaimana proses pembuatan cokelat dari biji kakao mentah yang kemudian setelah selesai membeli cokelat

55 sebagai oleh – oleh khas Blitar. Jumlah produksi yang masih rendah dan hanya dua kali periode produksi dalam sebulan disebabkan mesin penghalus cokelat yang masih belum sesuai standar. Akibatnya, kualitas kehalusan cokelat belum sesuai dengan cokelat pada umumnya di pasar. Dengan demikian, sampai saat ini para manajemen masih terus mencari formula untuk menciptakan kualitas cokelat yang dapat memberikan kepuasan tinggi untuk konsumen agar distribusi pemasaran segera meluas.

Profitabilitas pada usaha pengolahan kakao di Blitar ini berhubungan secara linear atau positif terhadap nilai tambah. Profitabilitas terbesar yaitu pada produk cokelat batangan jenis dark menunjukan kondisi yang sama dengan nilai tambah yang diperoleh, disusul kedua oleh cokelat batangan jenis susu dan terakhir bubuk cokelat 3in1. Berdasarkan analisis komponen penyusn nilai profitabilitas, biaya variabel dan biaya tetap usaha yang besar diikuti oleh volume produksi yang tinggi. Dengan demikian penerimaan usaha saat ini telah lebih tinggi dari nilai titik impas. Oleh karena itu, nilai MOS untuk masing – masing produk telah positi yang artinya usaha telah aman untuk berproduksi dalam jangka panjang. Berdasarkan nilai tambah dan profitabilitas usaha yang tinggi maka lebih menguntungkan produsen untuk memasok bahan baku berupa bubuk kakao murni dari perusahaan besar seperti yang dilakukan oleh kelompok petani di Blitar dibandingkan memproduksi sendiri. Hal ini untuk menekan biaya produksi sehubungan dengan jumlah produksi yang masih rendah dan keterbatasan akses pemasaran untuk usaha pembuatan cokelat skala kelompok petani ini yang baru beroperasi dengan keterbatasan faktor – faktor operasional yang ada.

Dokumen terkait