BAB IV ANALISIS PROGRAM WISATA RELIGI
2. Analisis Pelaksanaan Produksi Program Wisata Religi
Produksi pada televisi merupakan suatu proses kreatif yang melibatkan penggunaan peralatan-peralatan yang rumit dan koordinasi sekelompok individu yang memiliki kemampuan tehnis untuk mengkomunikasikan pikiran dan perasaan kepada penonton. Pelaksanaan produksi dilakukan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya pada pra produksi dengan menggunakan naskah atau roundow sebagai panduan.
Ada beberapa hal yang harus benar-benar menjadi perhatian tim produksi. Program Wisata Religi dalam pelaksanaan produksi diantaranya:
a. Materi Produksi
Program Wisata Religi berawal dari ide yang ditentukan bersama antara produser dengan tim inti yang bertugas dalam proses produksi tersebut, lokasi atau tempat yang dilakukan produksi harus mengandung unsur Islam dan sejarahnya. Setelah itu bersama antara produser dan narasumber (masyarakat sekitar yang memberikan informasi) membentuk rundown sekaligus naskah yang sekiranya bisa menarik khalayak/masyarakat (penonton)
b. Sarana dan Prasarana
Sarana produksi yang menjadi penunjang terwujudnya sebuah ide agar menjadi sebuah program yang siap untuk ditayangkan, dengan diperhatikan kualitas alat sesuai dengan standart broadcastyang mampu menghasilkan suara secara baik, jika kualitas penunjangnya
terpenuhi maka proses produksi akan berjalan sesuai dengan apa yang direncanakan. Sarana-sarana yang menunjang antara lain:
1) Kamera, dalam program Wisata Religi menggunakan 2 kamera ini dikarenakan setting gambarnya berpindah-pindah melaikan diberbagai tempat pengambilan gambarnya. Karena produksi program Wisata Religi diluar studio/Outdoor jadi tidak memerlukan banyak kamera.
2) CCU, (Camera Control Unit) alat pengontrol fungsinya dapat mengatur pencahayaan, tempratur warna, kecepatan.
3) VTR (Video Tape Recorder), alat yang digunakan untuk merekam hasil shooting.
4) Lighting, alat yang digunakan untuk pencahayaan dalam proses shooting.
5) Character Generator, merupakan alat yang digunakan untuk membuat serta menampilkan title, subtitle, serta grafik yang digunakan dalam produksi program Wisata Religi.
Selain sarana yang digunakan sebagai penunjang, prasarana juga merupakan bagian dari produksi program Wisata Religi diantaranya:
1) Tempat Shooting, pelaksanaan produksi dilakukan sesuai dengan tema atau judul acara yang akan ditayangkan, dengan berbagai macam property yang disesuaikan.
2) Property, yaitu aksesoris yang menghiasi ruang shooting sehingga dapat menunjang proses produksi program.
3) Wardrobe/kostum, pakaian yang telah disediakan tim produksi, hal ini guna menunjang penampilan dari host maupun narasumber yang terlibat, agar terlihat lebih menarik di kamera.
4) Set up dan Reheasal, Set Up adalah yang bersifat teknis yang dilakukan oleh tim inti bersama anggota kerabat lainnya. Tugasnya mempersiapkan peralatan shooting, dan mempersiapkan tempat shooting yang sudah ditentukan. Rehearsal atau pelatihan bagi talent. Sedangkan untuk tim produksi untuk mengetahui seberapa jauh persiapan produksi.
c. Biaya Produksi
Setelah materi dan sarana, selanjutnya hal yang diperlukan dalam pelaksanaan produksi Wisata Religi adalah biaya produksi. Dalam proses produksi program Wisata Religi TVRI biaya produksi tergantung dari pengarahan kru, bensin, dan uang makan. Karena produksi program Wisata Religi ini menggunakan latar belakang Outdoor maka estimasi biaya sangat dan perlu diperhatikan untuk menghindari over budget. Hal ini sangat diperhatikan karena setiap lokasi berbeda-beda jarak, dan kebutuhan lainnya. Dalam setiap produksi Wisata Religi diberikan biaya sebesar 5 juta rupiah biaya tersebut harus digunakan secara maksimal dengan tidak melebihi budget yang telah ditentukan dan dalam penggunaan biaya.
d. Organisasi Pelaksanaan Produksi
Untuk organisasi pelaksanaan produksi program Wisata Religi sudah diungkapkan penulis pada gambaran umum TVRI dan program Wisata Religi. (pada tabel 1).
e. Tahap Pelaksanaan Produksi
Pelaksanaan produksi program Wisata Religi dimulai dengan rapat tim yang bertugas, menentukan lokasi yang akan dilakukan produksi, mencari tahu tempat atau lokasi yang akan dilakukan shooting. Proses produksi Wisata Religi dalam setiap timnya hanya melibatkan 7-8 orang, hal ini karena produksinya menggunaan latar Outdoor tidak melibatkan banyak SDM, berbeda dengan produksi yang berlatar Indoor bisa melibatkan 30 orang bahkan lebih.
Menurut Ludwie Anggara Samodra yang bertugas sebagai pengarah acara, ia juga bertanggung jawab dalam mencari, mengumpulkan, dan menghimpun yang memilik nilai informasi dan layak untuk di produksi dan di tonton oleh khalayak. 6
Dalam setiap produksi dibutuhkan komponen atau peralatan yang harus sudah tersedia sebelum proses produksi berlangsung. Penanganan dan penggunaan peralatan produksi memerlukan pengetahuan, pengalaman dan penghayatan atau seri yang baik. Beberapa peralatan penting tersebut seperti: Kamera, Lighting, Audio, Video Tape Recording (VTR), Visual Effects, dan Production Control . Lokasi Indoor maupun lokasi Outdoor, baik dari tahap set up atau rehearsal sampai general rehearsal.7Proses produksi juga ada yang secara record yang disebut taping (siaran tunda).
6
Wawancara pribadi dengan Ludwie Anggara Samodra, Pengarah Acara Program Wisata Religi, Jakarta, 31 Januari 2013.
7
Departemen Program TVRI, Standar Operating Procedure Produksi, Jakarta, PT. TVRI, 2008.
Dalam pelaksanaan proses produksi ini, sutradara menentukan jenis shot yang akan diambil didalam adegan (scene). Biasanya sutradara mempersiapkan suatu daftar shot atau tine code pada akhir pengambilan adegan, kode waktu (time code) adalah nomor pada pita. Nomor itu dihidupkan ketika kamera dihidupkan dan terekam dalam gambar. Catatan kode waktu ini nanti akan berguna dalam proses editing. Biasanya hasil shooting dikontrol setiap diakhir proses produksi hari itu untuk melihat apakah hasil pengambilan gambar sudah cukup baik apa belum baik. Apabila tidak cukup baik maka adegan itu perlu diulang pengambilan gambarnya sampai dianggap baik dan maksimal. Setelah adegan dalam naskah selesai diambil, maka hasil gambar asli (original material or row footage) dibuat catatannya (logging) untuk kemudian masuk dalam proses (post production) yaitu editing.
Wisata Religi pelaksanaan produksinya tidak dilakukan dengan live melainkan dengan menggunakan taping (siaran tunda). Selama pelaksanaan produksi program ini terbagi 5 segmen diselingi dengan beberapa iklan, berhubung TVRI merupakan TV pemerintah maka iklan yang ditayangkan lebih kepada layanan masyarakat atau acara-acara seputaran TVRI saja. Dalam rundown terdapat beberapa susunan program Wisata Religi yang akan diproduksi antara lain: pertama diawali dengan menampilkan latar tempat tema yang diangkat setelah itu Opening atau pembukaan oleh host (pembawa acara) dilanjutkan
dengan gambar-gambar atau cuplikan tentang tema yang akan ditayangkan.Dilanjutkan dengan mengelilingi tempat atau latar produksi yang dianggap memiliki nilai sejarah dan menanyakan dengan narasumber bagaimana dan asal mula dari tempat tersebut, setelah itu diselingi sekitar 3-5 menit iklan, diulang-ulang dengan terus mengeliling tempat tersebut diemani dengan narasumber yang terus menginformasikan.
Dalam program Wisata Religi seorang produser selalu memantau perjalanan pelaksanaan produksi, secara keseluruhan seorang produser berperan sebagai pengawas kerja tim produksi dan tim kreatif agar tidak terjadi kesalahan dalam pelaksanaan produksinya. Supaya selesai sesuai dengan waktu yang ditentukan dan hasilnya sesuai dengan yang diharapkan.
Pelaksanaan produksi ini memiliki perbedaan dengan program-program lain karena ketika shooting berlangsung antara host dan narasumber berimprovisasi maksudnya disini yaitu tetap mengikuti tema yang sudah dibuat berdasarkan naskah namun tidak terlalu terpaku, hal ini membuat suasana antara narasumber dan host lebih hangat dan tidak kaku dan berjalan seperti apa adanya tanpa dibuat-buat. Hal ini yang membuat program Wisata Religi berbeda dari program-program lainnya.