BAB I PENDAHULUAN
3.6 Analisis Peluang Hemat Energi
Apabila peluang hemat energi telah diidentifikasi, selanjutnya perlu ditindak lanjuti dengan analisis peluang hemat energi, yaitu dengan cara membandingkan potensi perolehan hemat energi dengan biaya yang harus dibayar untuk pelaksanaan rencana penghematan energi yang direkomendasikan.
a. Analisis peluang hemat energi dapat juga dilakukan dengan penggunaan program komputer yang telah direncanakan untuk kepentingan itu dan diakui oleh masyarakat profesi.
c. Penghematan energi pada bangunan gedung harus tetap memperhatikan kenyamanan penghuni. Analisis peluang hemat energi dilakukan dengan usaha antara lain:
a). Menekan penggunaan energi hingga sekecil mungkin (mengurangi daya terpasang/terpakai dan jam operasi).
b).Memperbaiki kinerja peralatan.
c). Menggunakan sumber energi yang murah.
3.7 Perhitungan IKE (Intensitas Konsumsi Energi) Di PT Nasmoco Majapahit IKE merupakan salah satu cara perhitungan untuk mengetahui kebutuhan pemakaian energi suatu gedung. Yaitu dengan cara kWh konsumsi energi listrik (Keseluruhan, Pencahayaan dan AC) dalam waktu satu bulan terakhir dibagi luas keseluruhan gedung m2, dapat dihitung dengan persamaan 3.1
IKE = = kWh/m2 ………(3.1)
3.8 Karakteristik Jaringan Kelistrikkan Di PT Nasmoco Majapahit
Sumber energi listrik di PT Nasmoco Majapahit bersumber dari PT PLN (Persero) wilayah Jawa Tengah menggunakan Jaringan Tegangan Rendah (JTR) 380 V, Sebelum masuk ke trafo daya terdapat cubicle pelanggan tegangan menengah 20 KV yang terdiri dari incoming, metering, dan outgoing merk Schneider PM 5350.
Trafo daya yang digunakan berkapasitas 197 kVA merk STARLTE dengan kontrak daya listrik menggunakan tarif Bisnis B-2/Tegangan Rendah (TR) daya 6600 VA-200 Kva.
Gambar 3.2 Trafo Daya
Pengukuran jaringan kelistrikkan di PT Nasmoco Majapahit dilakukan pada tegangan rendah transformator yaitu sisi sekunder transformator atau incoming MDP (Main Distribution Panel). Pengukuran dilakukan selama hampir 9 jam (estimasi beban hari Jum’at,Sabtu dan Minggu) dengan interval pencuplikan data setiap 10 menit, Pada tanggal 21-23 Juni 2019.
Dapat dilihat pada lampiran, Pengukuran dilakukan dengan menggunakan Power Meter Schneider dengan merek PM 5350. Alat tersebut digunakan untuk mengukur seluruh karakteristik beban yaitu :
1. Voltase 2. Daya 3. Arus Listrik 4. Energi 5. Frekuensi 6. THD dan TDD
3.9 Konsumsi Energi Pencahayaan Dan AC Di PT Nasmoco Majapahit 3.9.1 Pengukuran Pencahayaan
Pengukuran pencahayaan dilakukan untuk mengetahui tingkat kuat penerangan pada seluruh bangunan PT Nasmoco Majapahit . Tingkat kuat penerangan harus disesuaikan dengan jenis aktifitas masing-masing, Jika aktifitasnya membutuhkan ketelitian yang tinggi, maka tingkat kuat penerangan yang dibutuhkan juga semakin besar. Audit energi sistem pencahayaan bertujuan untuk mengetahui efisiensi penggunaan energi serta menentukan peluang penghematan pada sistem
pencahayaan disetiap masing-masing ruangan atau tempat yang ada di PT Nasmoco Majapahit. Perhitungan daya maksimum lumen permeter persegi untuk masing–
masing ruangan dapat dicari dengan menggunakan persamaan 3.2 (SNI-03-6197-2000)
……….…...………...(3.2)
3.9.2 Pengukuran AC
Perhitungan kebutuhan kapasitas AC dilakukan untuk mengetahui apakah kebutuhan AC yang terpasang sudah mencukupi untuk memenuhi kebutuhan kapasitas AC setiap ruangan yang ada di PT Nasmoco Majapahit Semarang..
Parameter yang digunakan untuk menghitung kebutuhan AC yaitu :
Keterangan : 1 meter = 3,28 kaki P = Panjang ruangan L = Lebar ruangan T = Tinggi ruangan
I = Jika lantai dasar Nilai = 10 Jika lantai atas Nilai = 18 E = Arah penempatan AC
Utara = 16
Selatan = 18
Timur = 17
Barat = 20
Perhitungannya menggunakan rumus 3.3
= ………(3.3)
3.10 Peluang Penghematan Energi Pencahayaan Dan AC Di PT Nasmoco Majapahit
3.10.1 Penghematan Medium / High Cost
Penghematan medium / high cost adalah peluang penghematan energi yang membutuhkan biaya investasi besar, karena biasanya berhubungan dengan pembongkaran jaringan listrik eksisting atau pembangunan instalasi listrik tambahan. Melaksanakan peluang penghematan energi medium/high cost dibutuhkan analisis ekonomi karena pada peluang jenis ini membutuhkan biaya investasi besar untuk penghematan energi dalam jangka waktu yang panjang. Jika penghematan medium/high cost dilaksanakan, dapat menghemat energi 15 – 30% penghematan energi. Peluang penghematan medium/high cost yang dapat dilakukan di PT Nasmoco Majapahit adalah sebagai berikut.
Sebelum PT Nasmoco Majapahit akan melaksanakan investasi untuk peluang penghematan medium / high cost maka dibutuhkan analisis biaya yang dibutuhkan untuk pelaksanaan investasi tersebut. Hal ini perlu dilaksanakan agar pihak Nasmoco Majapahit Semarang dapat mengetahui bahwa investasi yang diberikan dapat dikembalikan setelah beberapa lama, disebut juga dengan payback periode. Perhitungan payback periode dapat dihitung dengan menggunakan persamaan 3.4 (SNI 03-6090-2000)
Payback periode = ……….(3.4)
3.11 Peralatan Untuk Audit Energi
Untuk mempermudah dalam pelaksanaan pengukuran dalam rangka Audit
Energi maka peralatan yang dibutuhkan adalah : 1. Power Meter Schneider 5350
Gambar 3.3 Power Meter Schneider 5350
2. Lux meter
Gambar 3.4 Lux meter 3. Higrometer
Gambar 3.5 Higrometer
4. Infarared Thermometer
Gambar 3.6 Infrared Thermometer
4.1 Perhitungan Konsumsi Energi
Intensitas Konsumsi Energi di suatu bangunan atau gedung dapat dijadikan acuan untuk mengetahui koefisien penggunaan energy di dalam gedung atau bangunan tersebut.Standar yang digunakan adalah standar Intensitas Konsumsi Energi menurut Permen ESDM No.13 tahun 2012.
4.2.1 IKE (Intensitas Konsumsi Energi) Di PT Nasmoco Majapahit Semarang
Besar energi yang digunakan suatu bangunan gedung perluas area yang dikondisikan dalam satu bulan atau satu tahun. Area yang dikondisikan adalah area yang diatur temperatur ruangannya sedemikian rupa sehingga memenuhi standar kenyamanan dengan udara sejuk disuplai dari sistem tata udara gedung.
Oktober
Grafik 4.1 Rekening Listrik di PT Nasmoco Majapahit Semarang
53
Pada bulan Juli 2018-Juni 2019 Energi yang di keluarkan setiap bulannya berbeda beda tergantung dari pemakain konsumsi listrik setiap bulannya, didapatkan Energi terbesar yang keluar yaitu pada bulan Juni 2019 yaitu sebesar 30.669 kWh, dikarenakan kosumsi enrgi listrik pada bulan Juni 2019 sangat besar hal itu merupakan efek dari kondisi bengkel yang sangat ramai sehingga konsumsi Energi yang di keluarkan sangat banyak, sedangkan pada bulan September 2018 Energi yang dikeluarkan yaitu sebesar 22.873 kWh hal itu dikarenakan kondisi bengkel yang sepi sehingga mempengaruhi Total konsumsi Energi pada bulan September 2018.
Luas bangunan gedung PT Nasmoco Majapahit Semarang adalah 1842,5 m2 dengan rincian ruangan yang ber AC adalah 794 m2 sedangkan ruangan yang tidak ber-AC adalah 1048,5 m2. Persentase ruangan ber AC adalah 43 % dan Persentase ruangan tak ber AC sebesar 57 %. Dari data konsumsi energy dan data luasan bangunan,maka dapat di hitung besarnya IKE daya terpasang 197 KVA.
Adapun perhitungannya sebagai berikut:
a. Hasil Perhitungan IKE dari data rekening listrik
PT Nasmoco Majapahit Semarang mempunyai luas bangunan gedung 1842,5m2. Hasil dari rekening listrik konsumsi energi pada bulan Juni 2019 selama 24 jam penuh sebesar 30.669 kWh.
1. IKE PT Nasmoco Majapahit Semarang IKE= 30.669 kWh
1842,5 m2
=
16,6 kWh/m2/bulan ...(4.1)
= 16,6 kWh/m2/bulan
Berdasarkan perhitungan IKE di PT Nasmoco Majapahit Semarang didapatkan nilai sebesar 16,64 kWh/m2/bulan. Nilai ini termasuk kategori cukup efisien didalam Kriteria IKE Bangunan Gedung Ber-AC Menurut Permen ESDM No.13 tahun 2012 yaitu sebesar (14<IKE<18,5).. Kegiatan audit energi rinci dapat diteruskan untuk memperoleh IKE yang lebih rendah lagi.
Tabel 4.1 Tabel IKE PT Nasmoco Majapahit Semarang dari Rekening Listrik
Tahun Bulan KWH
Luas (m2) IKE Kriteria menurut ESDM
2018-2019
Juli 26.662 1842,5 15,55 Cukup
Efisien
Agustus 28.321 1842,5 15,37 Cukup
Efisien
September 22.873 1842,5 12,41 Efisien
Oktober 29.185 1842,5 15,83 Cukup
Efisien
November 25.996 1842,5 14,10 Cukup
Efisien
Desember 26.989 1842,5 14,64 Cukup
Efisien
Januari 27.987 1842,5 15,18 Cukup
Efisien
Februari 28.758 1842,5 15,60 Cukup
Efisien
Maret 22.892 1842,5 12,42 Efisien
April 23.412 1842,5 12,70 Efisien
Mei 24.897 1842,5 13,56 Efisien
Juni 30.669 1842,5 16,66 Cukup
Efisien
b. Hasil Perhitungan IKE dengan menggunakan alat ukur PQA
Grafik 4.2 Pemakaian kWh pada Hari Jum’at
1:00 3:00 5:00 7:00 9:00 afik 4.3 Pemakaian kWh pada Hari Sabtu
1:00
Grafik 4.3 Pemakaian kWh pada Hari Minggu Konsumsi Energi daya terpasang adalah sebagai berikut
1) Konsumsi hari Jum’at =1.164,32 kWh 2) Konsumsi hari Sabtu =786 kWh 3) Konsumsi hari Minggu =432 kWh
4) Konsumsi dalam satu Bulan =(1.164,32 kWh x 20)+(796,24 kWh x 5)+(532,31 x 5)
=23.286,4+3981,2+2661,5
=29.929,1 kWh 5) Perhitungan IKE bangunan Ber-AC sebagai berikut:
29.929,1
1842,5 =16,24 kWh/m2/bulan
Hasil Perhitungan dengan alat ukur menunjukan IKE pada daya 197 KVA sebesar 16,24 kWh/m2,makan nilai ini termasuk cukup efisien karena memenuhi standar IKE (14<IKE<18,5).
c. Hasil Perhitungan IKE setelah Penghematan
Perhitungan IKE setelah penghematan bulan Juni :
= kWhdari Rekening Listrik−(Penghemata Lampu+Penghematan AC) Luas(m2)
= 30.669−(873,99 kWh+1.524,96 kWh)
1842,5 =15,34 kWh/m2/Bulan
4.2 Karakteristik Jaringan Listrik PT Nasmoco Majapahit Semarang
4.2.1 Fluktuasi Tegangan
Tegangan lebih pada sistem akan mengakibatkan arus listrik yang mengalir menjadi besar, mempercepat kemunduran isolasi (deteriorationo finsulation) sehingga menyebabkan kenaikan rugi-rugi daya dan operasi, memperpendek umur kerja peralatan.
Grafik 4.5 Hasil Pengukuran Tegangan R S T Outgoing Trafo pada hari Jumat 21 Juni 2019
Dari Grafik Tersebut dapat disimpulkan bahwa semakin banyak beban yang digunakan maka voltage nya semakin sedikt dan apabila semakin rendah beban yang di gunakan voltage nya akan semakin tinggi, hal itu di buktikan dengan voltage yang rendah ketika pukul 08:00 ketika dimulainya jam kerja dan alat-alat yang menggunakan listrik mulai dinyalakan dan beban bertambah, apabila mulai mendekati puku 12:00 grafik mulai naik hal itu dikarenakan beban yang di gunakan semakin sedikit karena akan memasuki waktu istirahat beban yang menggunakan peralatan listrik mulai berkurang dan ketika pukul 13:00 grafik mulai turun hal itu berarti beban mulai bertambah dan voltage mulai turun dan semakin mengarah ke puku 16:30 grafik mulai naik hal itu dikarenakan beban mulai berkurang karena semakin sore pemakain listrik di bengkel mulai turun dan voltage semakin naik dan setelah pukul 16.30 hingga jam 07:00 pagi Fluktuasi Tegangan tidak terlalu signifikan karena di area PT Nasmoco Majapahit sudah tidak ada aktivitas dan beban sudah mulai sedikit dan stabil..
Fluktuasi tegangan merupakan perubahan tegangan maksimum dan minimum. Besarnya tegangan sangat mempengaruhi operasi dari suatu peralatan, apabila tegangan disuplai keperalatan melebihi tegangan nominalnya akan terjadi beberapa kerugian diantaranya adalah timbulnya arus yang melebihi nominalnya, selain akan memperburuk operasi peralatan juga dapat memperpendek life time peralatan tersebut. Fluktuasi tegangan menunjukkan kondisi beban yang baik.
Berdasarkan hasil pengukuran yang dilakukan di PT Nasmoco Majapahit Semarang pada tanggal 21-23 Juni 2019 pukul 08:00-16:30 wib di outgoing trafo didapatkan hasil tegangan rata-rata fasa R 230,4 Volt, fasa S sebesar 233,6 V, fasa T sebesar 230,6 Volt. Berdasarkan Tabel 4.1 hasil pengukuran memberikan
gambaran bahwa besarnya fluktuasi tegangan 226.09 volt – 238,03 volt. Batas minimun toleransi -10% dan batas maksimum toleransi +5% [5], dari tegangan nominal PLN yaitu 220 Volt. Batas toleransi tegangan tersebut adalah :
Batas toleransi -10 % = 220 volt - (220 x 10 %) (Batas Min) = 198 volt
Batas toleransi +5 % = 220 volt + (220 x 5%) (Batas Max) = 231 volt
Berdasarkan perhitungan toleransi tegangan maka fluktuasi tegangan di PT Nasmoco Majapahit Batas minimal masih memenuhi toleransi sedangkan Batas maksimal sudah tidak memenuhi toleransi.
Tabel 4.2 Hasil Pengukuran Tegangan R S T
Tegangan (Volt)
R S T
Min 226,09 229,12 226,05
Rata-rata 230,4 233,6 230,6
Max 234,50 238,03 235,12
Pengaruh Fluktuasi Tegangan, seperti Tegangan Lebih (Over Voltage), Tegangan Turun (Drop Voltage) dan tegangan getar (flicker voltage) adalah mengakibatkan arus listrik yang mengalir menjadi besar dan mempercepat kemunduran isolasi (deterioration of insulation) sehingga menyebabkan kenaikan
rugi-rugi daya dan operasi, memperpendek umur kerja peralatan dan yang lebih fatal akan terbakarnya peralatan tersebut.
4.2.2 Frekuensi
Frekuensi dengan satuan hertz (Hz) merupakan salah satu parameter untuk mengetahui keandalan kualitas listrik suatu sistem kelistrikan. Frekuensi yaitu jumlah siklus arus bolak-balik (Alternating Curren,AC) per detik
1:00
Grafik 4.6 Pengukuran Frekuensi di Outgoing Trafo Pada Hari Jumat 21 Juni 2019
Dari Grafik Tersebut dapat disimpulkan bahwa semakin banyak beban yang digunakan maka frekuensi nya semakin tinggi dan apabila semakin rendah beban yang di gunakan frekuensi nya akan semakin rendah, hal itu di buktikan dengan fkuensi yang mulai tinggi ketika pukul 08:00 ketika dimulainya jam kerja dan alat-alat yang menggunakan listrik mulai dinyalakan dan beban bertambah, apabila mulai mendekati puku 12:00 grafik mulai turun hal itu dikarenakan beban
yang di gunakan semakin sedikit karena akan memasuki waktu istirahat beban yang menggunakan peralatan listrik mulai berkurang dan ketika pukul 13:00 grafik mulai naik hal itu berarti beban mulai bertambah dan frekuensi mulai naik dan semakin mengarah ke pukul 16:30 grafik mulai turun hal itu dikarenakan beban mulai berkurang dan setelah pukul 16.30 hingga jam 07:00 pagi Fluktuasi Frekuensi tidak terlalu signifikan karena di area PT Nasmoco Majapahit sudah tidak ada aktivitas dan beban sudah mulai sedikit dan stabil.
Berdasarkan hasil pengukuran yang dilakukan di PT Nasmoco Majapahit Semarang pada bulan 21-23 Juni 2019 di outgoing trafo didapatkan hasil, frekuensi rata-rata sebesar 50,00 Hz. Berdasarkan hasil pengukuran memberi gambaran bahwa besarnya frekuensi tegangan sebesar 49,91 Hz - 50.16 Hz.
Berarti frekuensi di PT Nasmoco Majapahit Semarang masih diijinkan. Standar frekuensi Indonesia menggunakan 50 Hz. Batas toleransi minimun - 0,5 Hz (49,5 Hz) dan batas maksimum toleransi +1 Hz (51Hz) .
Tabel 4.3 Hasil Pengukuran Frekuensi
Pasokan energi dengan frekuensi yang berkualitas baik akan menghindarkan peralatan konsumen dari kerusakan dan ketika tejadi keadaan dimana frekuensi < 50 Hz dapat dilakukan dengan cara menambahkan jumlah
Frekuensi Hz
Min 49,91
Rata-rata 50,00
Max 50,16
total energi yang di suplai ke sistem melalui cara menambah unit pembangkit yang bekerja.
4.2.3 Arus Listrik
Arus listrik adalah mengalirnya elektron secara terus menerus dan berkesinambungan pada konduktor akibat perbedaan jumlah elektron dibeberapa lokasi yang jumlah elektronnya tidak sama.
1:00
Grafik 4.7 Hasil Pengukuran Arus Outgoing Trafo Pada Hari Jumat 21 Juni 2019
Dari Grafik Tersebut dapat disimpulkan bahwa semakin banyak beban yang digunakan maka Arusnya nya semakin tinggi dan apabila semakin rendah beban yang di gunakan arus nya akan semakin rendah, hal itu di buktikan dengan arus yang mulai tinggi ketika pukul 08:00-09:00 ketika dimulainya jam kerja dan alat-alat yang menggunakan listrik mulai dinyalakan dan beban bertambah, apabila mulai mendekati puku 12:00 grafik mulai turun hal itu dikarenakan beban yang di gunakan semakin sedikit karena akan memasuki waktu istirahat beban
yang menggunakan peralatan listrik mulai berkurang dan ketika pukul 13:00 grafik mulai naik hal itu berarti beban mulai bertambah dan arus nya mulai tinggi dan semakin mengarah ke puku 16:30 grafik mulai turun hal itu dikarenakan beban mulai berkurang karena semakin sore pemakain listrik di bengkel mulai turun dan arus semakin turun. hal itu dikarenakan beban mulai berkurang dan setelah pukul 16.30 hingga jam 07:00 pagi Fluktuasi Frekuensi tidak terlalu signifikan karena di area PT Nasmoco Majapahit beban sudah mulai sedikit dan stabil..
Berdasarkan hasil pengukuran yang dilakukan di PT Nasmoco Majapahit Semarang pada tanggal 21-23 Juni 2019 pukul 08:00-16:30 wib di outgoing trafo didapatkan hasil, arus rata – rata fasa R sebesar 1,2682 Ampere, fasa S sebesar 1,1279 Ampere, fasa T sebesar 1,0428 Ampere, dan N sebesar 2,2471 Ampere.
Berdasarkan data hasil pengukuran memberi gambaran bahwa besarnya fluktuasi arus sebesar 0,2847 Ampere – 3,6674 Ampere.
Tabel 4.4 Hasil Pengukuran Arus
4.2.4 Power Factor (Faktor Daya) Arus
(Ampere)
R S T N
Min 0,4815 0,3609 0,2847 0,8269 Rata-rata 1,2682 1,1279 1,0428 2,2471 Max 2,0550 1,8950 1,8010 3,6674
Faktor daya merupakan pergeseran fasa antara tegangan dan arus, faktor daya yang rendah dapat menimbulkan efek-efek merugikan, seperti memperbesar rugi-rugi saluran, pemborosan kapasitas sistem (VA), mengurangi efisiensi sistem (W).
8:00 9:00 10:00 11:00 12:00 13:00 14:00 15:00 16:00 16:30 0.8
0.82 0.84 0.86 0.88 0.9 0.92
Pf R S T
R S T
JAM
cosπ
Grafik 4.8 Hasil Pengukuran Power Factor ( cos π ) Pada 21 Juni 2019 Berdasarkan hasil pengukuran yang dilakukan di PT Nasmoco Majapahit Semarang pada tanggal 21-23 Juni 2019 pukul (08:00-16:30 wib) di outgoing trafo didapatkan hasil tegangan rata-rata fasa R 0,86099, fasa S sebesar 0,8712, fasa T sebesar 0,88163. Berdasarkan Tabel 4.5 hasil pengukuran memberikan gambaran bahwa besarnya fasa R 0,82527 - 0,89672, fasa S 0,8345 - 0,9079, fasa T 0,79566 - 0,96760.
Tabel 4.5 Hasil Pengukuran Power Factor
Power Factor R S T
(Pf)
Min 0,82527 0,8345 0,79566
Rata-rata 0,86099 0,8712 0,88163
Max 0,89672 0,9079 0,96760
Nilai batas minimum power faktor dari PLN yaitu 0,87 tertinggal dalam tagihan tenaga listrik. Dapat dikatakan bahwa power faktor di PT Nasmoco Majapahit Semarang masih diijinkan. Perawatan Power Factor yang baik, diharapkan dapat mengurangi rugi – rugi daya pada instalasi listrik serta dapat meningkatkan kualitas daya di PT Nasmoco Majapahit Semarang. Dengan pemasangan capacitor bank dapat memperbaiki tegangan jaringan dan untuk menyuplai daya reaktif ke beban yang berfungsi untuk memperbaiki nilai faktor daya dari sistem.
4.2.5 Total Harmonic Distortion (THD)
Arus harmonik merupakan gelombang distorsi yang merusak bentuk gelombang fundamental (sinusoidal) arus, bentuk gelombang arus menjadi tidak sinusoidal murni. Penyebab utama timbulnya harmonik adalah peralatan yang bersifat non-linier, seperti komputer, peralatan elektronik, robotics (sistem kontrol), ballast lampu elektronik, variable speed drives, frequency inverters, UPS (Uninterruptable Power Supply), DC drives, battery chargers. Arus harmonik ini akan menyebabkan beberapa kerugian pada operasi peralatan diantaranya overheating, netral overloading, penurunan life time peralatan dan peningkatan konsumsi kWh. Standar untuk bentuk gelombang arus tidak sinusoidal dengan distorsi total harmonisa arus (THDI) tidak boleh melebihi batas 15% dan distorsi total harmonisa tegangan (THDV) tidak boleh melebihi batas
5% (Standar IEEE No. 519-1992) .
Gambar 4.9 Grafik Hasil Pengukuran THD Tegangan
Berdasarkan hasil pengukuran yang dilakukan di PT Nasmoco Majapahit Semarang pada 21-23 Juni 2019 di outgoing trafo didapatkan hasil,tegangan harmonik rata – rata fasa R sebesar 2,5664 %, fasa S sebesar 2,3412 %, fasa T sebesar 2,4291 %. Berdasarkan data hasil pengukuran memberi gambaran bahwa besarnya fluktuasi tegangan harmonik sebesar 2,0156 – 2,7923 %. Nilai ini masih dibawah standar yaitu THD sebesar 5%, maka dapat disimpulkan bahwa THD tegangan di PT Nasmoco Majapahit Semarang masih dalam batas yang diijinkan.
Tabel 4.6 Hasil Pengukuran THD Tegangan
THD (%) R S T
Min 2,3365 2,0156 2.2258
Rata-rata 2,5644 2,3412 2,4291
Gambar 4.10 Grafik Hasil Pengukuran Arus Harmonik
Berdasarkan hasil pengukuran yang dilakukan di PT Nasmoco Majapahit Semarang di outgoing trafo didapatkan hasil, arus harmonisa rata – rata fasa R sebesar 9,331 %, fasa S sebesar 8,215 %, fasa T sebesar 8,757 %. Berdasarkan data hasil pengukuran memberi gambaran bahwa besarnya fluktuasi arus harmonisa sebesar 4,600 – 13,50 %. THD arus rata–rata di PT Nasmoco Majapahit Semarang masih dalam batas yang diijinkan, nilainya masih dibawah batas standar yaitu kurang dari 15%[4], tetapi pada fasa T perlu adanya perhatian lebih lanjut, besar THD maksimal di fasa T sudah mencapai nilai sebesar 13,50
%, sudah akan mencapai ambang batas nilai standar yaitu 15%. Perlu adanya perhatian khusus apabila dibiarkan dapat mengakibatkan terjadinya penambahan rugi daya ahibat arus harmonisa. Arus harmonisa ini dapat dikurangi dengan cara memasang filter diinstalasi listrik.
Tabel 4.7 Hasil Pengukuran Arus Harmonik
Pengukuran Daya yang dilaksankan di PT Nasmoco Majapahit Semarang di bagian outgoing trafo adalah pengukuran daya aktif (kW),daya Reaktif (KVAR),dan daya semu (KVA).Berikut hasil pengukuran daya di bagian outgoing trafo di PT Nasmoco Majapahit Semarang.
1:00 3:00 5:00 7:00 9:00
Gambar 4.11 Grafik Hasil Pengukuran Daya AktiF (kW)
Tabel 4.8 Hasil Pengukuran Daya Aktif
Berdasarkan hasil pengukuran yang dilakukan di PT Nasmoco Majapahit Semarang pada hari Jumat 21 Juni 2019 di outgoing trafo di dapatkan hasil,daya aktif rata-rata fasa R sebesar 0,31891 kW fasa S sebesar 0,30565 kW fasa T sebesar 0,28899 kW.Berdasarkan data hasil pengukuran memberi gambaran bahwa besarnyatotal fluktuasi daya aktif sebesar 0,20581kW-0,39837 kW
1:00 3:00 5:00 7:00 9:00
Gambar 4.12 Grafik Hasil Pengukuran Daya Semu (KVA)
Tabel 4.9 Hasil Pengukuran Daya Semu DAYA (KVA) R(KVA) S(KVA) T(KVA)
Min 0,26633 0,27227 0,23922
Rata-rata 0,35319 0,32793 0,31953
Max 0,44006 0,38360 0,39985
Berdasarkan hasil pengukuran yang di lakukan di PT Nasmoco Majapahit Semarang pada hari Jumat 21 Juni 2019 di Outgoing trafo di dapatkan hasil,daya semu rata-rata fasa R sebesar 0,35319 KVA,fasa S sebesar 0,32793 KVA,fasa T sebesar 0,31953 KVA. Berdasarkan data hasil pengukuran memberi gambaran bahwa besarnya total fluktuasi daya semu di outgoing trafo PT Nasmoco Majapahit Semarang sebesar 0,23922 KVA- 0,44006 KVA .
1:00
Gambar 4.13 Grafik Hasil Pengukuran Daya Reaktif (KVAR)
Tabel 4.10 Hasil Pengukuran Daya Reaktif
DAYA (KVAR) R S T
Min 0,1251
5
0,1129 0,1237 8 Rata-rata 0,17211 0,1493
5
0,1709 6
Max 0,2190
8
0,1858 0,2181 5
Berdasarkan hasil pengukuran yang di lakukan di PT Nasmoco Majapahit Semarang pada 21 Juni 2019 di outgoing trafo di dapatkan hasil,daya reaktif rata-rata fasa R sebesar 0,17211 KVAR, fasa S sebesar 0,14935 KVAR, fasa T sebesar 0,17096 KVAR. Berdasarkan data hasil pengukuran memberi gambaran bahwa besarnya total fluktuasi daya reaktif di outgoing trafo PT Nasmoco Majapahit Semarang sebesar 0,12515 KVAR-0,21908 KVAR. Di Nasmoco Majapahit kapasitor bank pemakaian KVAR tidak terkena denda dikarenakan daya yang digunakan di Nasmoco Majapahit yaitu 197 KVA sedangkan yang terkena denda adalah gedung atau bangunan yang menggunkan Daya diatas 200KVA
4.3. Konsumsi Energi Di PT Nasmoco Majapahit Semarang
4.3.1 Perhitungan kebutuhan kapasitas Pencahayaan pada Bangunan PT Nasmoco Majapahit Semarang
Sistem pencahayaan di PT Nasmoco Majapahit Semarang menggunakan jenis lampu TL dan SL, dapat dilihat pada lampiran
Tabel 4.11 Total daya yang dibutuhkan untuk sistem pencahayaan di PT Nasmoco Majapahit Semarang
Total Daya Lampu Terpasang 38,008 kWatt Pencahayaan Lampu Perhari 304,064 kWh/hari Pencahayaan Lampu Perbulan 8.209,728kWh/bulan Biaya untuk pencahayaan Perbulan Rp.12.045.969,7
Berdasarkan tabel 4.9 data yang diperoleh dari pengukuran, total daya yang dibutuhkan untuk sistem pencahayaan di PT Nasmoco Majapahit adalah sebesar 38,008 kWatt.
Pencahayaan lampu perhari = 38,008 kWatt x 8 jam (perhari) = 304,064 kWh/hari
Pencahayaan lampu perbulan = 304,064 kWh x 27 hari (perbulan)
= 8.209,728kWh/bulan
= 8.209,728 kWh/bulan x Rp 1.467,28 (TDL bulan Juni)
= Rp.12.045.969,7
Perhitungan daya maksimum lumen per meter persegi untuk masing–masing ruangan di PT Nasmoco Majapahit Semarang dapat dicari dengan menggunakan persamaan 4.2
W
m2= Terpasang (W )
Luas Ruangan(m 2) ………...……...(4.2)
1. Contoh perhitungan yang sesuai, diambil dari Ruang Genset Lantai 1 PT Nasmoco Majapahit Semarang
Ruang Genset
Daya Terpasang = 36 Watt Luas Ruangan = 22 m2
36
22=1,6 w /m 2
Hasil perhitungan kebutuhan pencahayaan setiap w /m2 untuk Ruang Genset Lantai 1 di PT Nasmoco Majapahit dengan ukuran
36 w
22 m 2adalah sebesar 1,6 w /m2 . Standar daya pencahayaan maksimum w /m2 untuk Ruang Industri adalah sebesar 20 w /m2 [11]. Pencahayaan Ruang Genset memenuhi kebutuhan kapasitas pencahayaan, berdasarkan perhitungan tidak melebihi standar daya pencahayaan maksimum ruangan
2. Contoh perhitungan yang tidak sesuai diambil dari Ruang Teknisi di PT Nasmoco Majapahit Semarang
Ruang Teknisi
Daya Terpasang = 1328 Watt Luas Ruangan = 36 m2
1328 w
36 m2=36 w /m2
Hasil perhitungan kebutuhan pencahayaan setiap w /m2 untuk Ruang Teknisi PT Nasmoco Majapahit Semarang dengan ukuran
1328 w
36 m2 adalah sebesar 36 w/m2 . Standar daya pencahayaan maksimum w /m2 untuk Ruang Perkumpulan adalah sebesar 20 w /m2 . Pencahayaan Ruang Teknisi melebihi kebutuhan kapasitas pencahayaan, berdasarkan perhitungan melebihi standar daya pencahayaan maksimum ruangan.
36 m2 adalah sebesar 36 w/m2 . Standar daya pencahayaan maksimum w /m2 untuk Ruang Perkumpulan adalah sebesar 20 w /m2 . Pencahayaan Ruang Teknisi melebihi kebutuhan kapasitas pencahayaan, berdasarkan perhitungan melebihi standar daya pencahayaan maksimum ruangan.