• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peralatan Untuk Audit Energi

BAB I PENDAHULUAN

2.9 Peralatan Untuk Audit Energi

Untuk mempermudah dalam pelaksanaan pengukuran dalam rangka Audit Energi maka peralatan yang dibutuhkan adalah :

1. Power Meter Schneider 5350

Power analyser adalah suatu peralatan ukur yang digunakan untuk mengetahui kualitas daya dari tenaga listrik. Alat ini sangat kompleks, karena dapat mengukur tegangan, frekuensi, daya aktif, daya reaktif, daya semu, arus listrik,THD dan enegi.

Gambar 2.7 Power Meter Schneider 5350 2. Lux meter

Lux meter adalah alat untuk mengukur tingkat pencahayaan ruangan.

Alat ini dapat mencegah pemborosan ketika akan memilih lampu untuk mengganti lampu yang terlalu terang atau terlalu redup. Lux adalah terminologi untuk menyatakan jumlah sinar yang diterima oleh sebuah objek seluas 3 kaki persegi pada jarak 1 yard, oleh sebuah sumber sinar dengan daya 1 watt.

 Cara Penggunaan Lux Meter

Lux meter bekerja dengan sensor cahaya. Lux meter cukup diletakkan di atas meja kerja atau dipegang setinggi 75 cm di atas lantai. Layar penunjuknya akan menampilkan tingkat pencahayaan pada titik pengukuran.

Bila nilai tingkat pencahayaan ruangan jauh lebih tinggi dari standar berpotensi untuk menghemat energi dengan cara mengganti lampu dengan daya listrik lebih rendah atau mematikan sebagian lampu ruangan yang ada.

Bila nilai tingkat pencahayaan ruangan jauh lebih rendah dari standar, maka sebaiknya mengganti lampu tersebut dengan lampu yang lebih terang. Lux meter akan memandu menentukan lampu yang tepat untuk dipasang pada setiap ruangan. Untuk hasil tingkat pencahayaan yang sesuai standar. Tingkat pencahayaan yang sesuai standar akan menjaga kualitas pekerjaan serta kesehatan.

Gambar 2.8 Lux meter

3. Higrometer

Higrometer adalah sejenis alat untuk mengukur tingkat kelembaban relatif pada suatu tempat. Biasanya alat ini ditempatkan di dalam bekas (container) penyimpanan barang yang memerlukan tahap kelembapan yang terjaga seperti dry box penyimpanan kamera.

Kelembapan yang rendah akan mencegah pertumbuhan jamur yang menjadi musuh pada peralatan tersebut.

Hygrometer terdapat dua skala, yang satu menunjukkan kelembaban yang satu menunjukkan temperatur. Cara penggunaannya dengan meletakkan di tempat yang akan diukur kelembabannya, kemudian tunggu dan bacalah skalanya. Skala kelembaban biasanya ditandai dengan huruf h dan kalau suhu dengan derajat celcius.

Gambar 2.9 Higrometer

4. Infarared Thermoneter

Infrared Thermometer disebut juga Thermometer laser adalah sebuah alat ukur suhu yang dapat mengukur temperatur\ atau suhu tanpa bersentuhan dengan obyek yang akan diukur suhunya. Infrared Thermometer mengukur suhu menggunakan radiasi kotak hitam (biasanya inframerah) yang dipancarkan objek. Kadang disebut termometer laser jika menggunakan laser untuk membantu pekerjaan pengukuran, atau termometer tanpa sentuhan untuk menggambarkan kemampuan alat mengukur suhu dari jarak jauh. Dengan mengetahui jumlah energi inframerah yang dipancarkan oleh objek dan emisi nya, Temperatur objek dapat dibedakan.

Infrared Thermometer ini cara penggunaannya hanya diarahkan ke media atau benda yang akan diukur suhunya, maka alat ini akan membaca

suhu media tersebut. Alat ini biasanya dan sangat berguna dalam pengukuran dapur tinggi/furnace dalam industri peleburan atau suhu permukaan yang tidak memungkinkan untuk di sentuh, dan juga dalam pemakaian umum lainnya, seperti :

1. Mengukur suhu benda yang bergerak, contoh : Conveyor, Mesin, dll).

2. Mengukur suhu benda berbahaya, seperti : tegangan tinggi, jarak yang tinggi dan sulit dijangkau, dll.

3. Suhu yang terlalu tinggi dan sulit untuk didekati ataupun disentuh, misalnya : Furnace, thermocouple, dll.

4. Mendeteksi awan untuk sistem operasi teleskop jarak jauh.

5. Memeriksa peralatan mekanika atau kotak sakering listrik atau saluran hotspot.

6. Memeriksa suhu pemanas atau oven, untuk tujuan kontrol dan kalibrasi.

7. Mendeteksi titik api/menunjukkan diagnosa pada produksi papan rangkaian listrik.

8. Memeriksa titik api bagi pemadam kebakaran.

9. Mendeteksi suhu tubuh makhluk hidup, seperti manusia, hewan, dll.

Gambar 2.10 Infrared Thermometer

Diagram Alir Proses Audit Energi :

`

Gambar 3.1 Diagram Alir Proses Audit Energi

39

3.1 Ruang Iingkup

1. Standar ini memuat prosedur audit energi pada bangunan gedung.

2. Standar ini diperuntukkan bagi semua pihak yang terlibat dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan pengelolaan gedung.

3. Bangunan gedung yang dicakup dalam standar ini meliputi perkantoran, hotel, pertokoan/pusat belanja, rumah sakit, apartemen dan rumah tinggal.

3.2 Acuan

1. SNI 05-3052-1992; Cara uji unit pengkondisian udara.

2. BOCA, International energi conservation code 2000.

3. ASHRAE, Standard 90.1: energi efficiency.

4. BOMA, Standard method for measuring floor area in office buildings .

3.3 Istilah dan definisi 1. Audit Energi

Teknik yang dipakaiuntuk menghitung besarnya konsumsi energi pada banagunan gedung dan mengenali cara-cara untuk penghematannya.

2. Energi

Kemampuan dari suatu system untuk melakukan kerja pada system yang lain.

3. Konsumsi Energi

Besarnya energi yang digunakan oleh bangunangedung dalam periode waktu tertentu dan merupakan perkaitan antara waktu daya dan operasi.

4. Intensitas Konsumsi Enegi (IKE)

Pembagian antara konsumsi energi dengan satuan luas bangunan gedung

5. Konservasi Energi

Upaya mengefisienkan pemakaian energi untuk suatu kebutuhan agar pemborosan energi dapat dihindarkan

6. Pengelolaan Energi

Segala upaya untuk mengatur dan mengelola penggunaan energi seefisien mungkin pada bangunan gedung tanpa mengurangi tingkat kenyamanan di lingkungan hunian ataupun produktivitas di lingkungan kerja

7. Bangunan Gedung

Bangunan yang didirikan dan atau diletakkan dalam suatu lingkungan sebagian atau seluruhnya pada, di atas, atau di dalam tanah dan atau perairan secara tetap yang berfungsi sebagai tempat manusia untuk melakukan kegiatan, bertempat tinggal, berusaha, bersosial budaya, dan kegiatan lainnya.

8. Peluang Hemat Energi (PHE)

Cara yang mungkin bias diperoleh dalam usaha mengurangi pemborosan energi.

9. Potret Penggunaan Energi

Gambaran menyeluruh tentang pemanfaatan energi pada bangunan gedung meliputi:jenis, jumlah penggunaan energi, intensitas energi, profil beban penggunaa energi, kinerja peralatan energi, dan peluang hemat energi, serta keseluruhan maupun pe area di bangunan gedung pada periode tertentu.

10. Target

Hasil yang harus dicapai.

3.4 PROSES AUDIT ENERGI

Proses audit energi dilakukan secara bertahap sebagaimana ditunjukkan pada gambar 3.1

3.4.1 Audit Energi Awal

Audit energi awal pada prinsipnya dapat dilakukan pemilik atau pengelola bangunan gedung yang bersangkutan berdasarkan data rekening pembayaran energi yang dikeluarkan dan pengamatan visual.

3.4.1.1 Pengumpulan dan Penyusunan Data Energi Bangunan Gedung.

Kegiatan audit energi awal meliputi pengumpulan data energi bangunan gedung dengan data yang tersedia dan tidak memerlukan pengukuran. Data tersebut meliputi

1. Dokumentasi bangunan yang dibutuhkan adalah gambar teknik banguna sesuai pelaksanaan konstruksi,terdiri dari :

a. Tapak, denah dan potongan bangunan gedung seluruh lantai.

b. Denah instalasi pencahayaan bangunan seluruh lantai.

c. Diagram satu garis listrik, lengkap dengan penjelasapenggunaan daya listriknya dan besarnya penyambungan daya listrik PLN serta besarnya daya listrik cadangan dari Diesel Generating Set.

2. Pembayaran rekening listrik bulanan bangunan gedung selama satu tahun terakhir dan rekening pembelian bahan bakar minyak(bbm), bahan bakar gas (bbg), dan air.

3. Tingkat hunian bangunan(occupancy rate)

3.4.1.2 Menghitung besarnya IKE gedung

Berdasarkan data seperti disebutkan pada butir 3.4.1.1 dapat dihitung : 1. Rincian Luas bangunan gedung dan luas total bangunan

gedung (m2).

2. Konsumsi Energi bangunan gedung per tahun (kWh/m2).

3. Intensitas Konsumsi Energi (IKE) bangunan gedung per tahun (kWh/m2/tahun)

4. Biaya energi bangunan gedung (Rp/kWh).

3.4.2 Audit Energi Rinci

3.4.2.1 Penelitian dan pengukuran konsumsi energi

a. Audit energi rinci perlu dilakukan bila audit energi awal memberikan gambaran nilai IKE listrik lebih dari nilai target yang ditentukan

b. Audit energi listrik perlu dilakukan untuk mengetahui profil penggunan energi pada bangunan gedung, sehingga dapat diketahui peralatan penggunan energi apa saja yang pemakaian energinya cukup besar.

c. Kegiatan yang dilakukan dalam penelitian energi adalah mengumpulkan dan meneliti sejumlah masukan yang dapat mempengaruhi besarnya kebutuhan energi bangunan gedung,dan hasil penelitian dan pengukuran energi dibuat profil pengguna energi bangunan gedung.

3.4.2.2 Pengukuran Energi

Seluruh analisa energi bertumpu pada hasil pengukuran. Hasil pengukuran harus dapat diandalkan dan mempunyai kesalahan (error) yang masih dapat diterima. Untuk itu penting menjamin bahwa alat ukur yang digunakan telah di kalibrasi oleh instansi yang berwenang.

Alat ukur yang digunakan dapat berupa alat ukur yang dipasang tetap pada instalasi atau alat ukur yang di pasang tidak tetap.

3.5 Identifikasi Peluang Hemat Energi

Identifikasi peluang hemat energi dilakukan dengan langkah - langkah berikut :

1. Hasil pengumpulan data, selanjutnya ditindak lanjuti dengan penghitungan besarnya IKE, dan penyusunan profil penggunaan energi bangunan gedung.

2. Apabila besarnya IKE hasil penghitungan ternyata sama atau kurang dari IKE target, maka kegiatan audit energi rinci dapat dihentikan atau diteruskan untuk memperoleh IKE yang lebih rendah lagi.

3. Bila hasilnya lebih dari IKE target, berarti ada peluang untuk melanjutkan proses audit energi rinci berikutnya guna memperoleh penghematan energi.

Dokumen terkait