• Tidak ada hasil yang ditemukan

Berisi tentang kesimpulan dan saran yang berhubungan dengan pekerjaan Audit Energi di PT Nasmoco Majapahit Semarang.

PT. New Ratna Motor merupakan satu dari 5 jaringan utama PT. Toyota Astra Motor yang merupakan Agen Tunggal Pemegang Merek Toyota di Indonesia dalam memasarkan produk Toyota untuk wilayah Jateng & DIY melalui jaringan Nasmoco Grup.

PT New Ratna Motor didirikan tanggal 15 April 1961 yang khusus menangani penjualan kendaraan merek Toyota dengan nama awal PT. Ratna Dewi Motor oleh Bapak Agustinus Hardjo Budi pimpinan sekaligus pemilik perusahaan ini.

Pada awalnya perusahaan bertindak sebagai dealer dari NV. Honas Jakarta untuk wilayah penjualan di Jawa Tengah dan DI Yogyakarta. Kemudian sekitar tahun 1965 perusahaan mengontrak bangunan di jalan MH Thamrin no. 14-16 Semarang yang digunakan sebagai ruang pamer dan bengkel. Dengan adanya tempat yang baru ini diharapkan semua pelayanan kepada konsumen dapat berjalan lancar dan memuaskan.

Mulai tahun 1965 PT. Ratna Dewi Motor banyak mengimpor kendaraan Toyota dalam bentuk SKD “Semi Knock Down” yang maksudnya kendaraan diimpor dalam bentuk bagian-bagian mobil, seperti : pintu mobil, kursi, kaca, dan asesoris (termasuk AC, sound mobil, dll). Setelah sampai di Indonesia hanya

6

tinggal merakitnya. Kendaraan tersebut antara lain: Pick-up Toyota 8000, Hilux, dan Land Cruiser.

Pada tahun 1970 kendaraan Toyota di Indonesia berpindah tangan untuk ketiga kalinya dari PT. Gaya Motor ke PT. Astra International Inc Toyota.

Riwayat usaha PT. Ratna Dewi Motor melaju dengan datangnya Tuan Z. kagoma sebagai representative dari Toyota Motor Thailand Co Ltd. Dorongan diberikan pada PT. Ratna Dewi Motor untuk melakukan investasi yang lebih besar, mengingat akan bertambah besarnya pemasarana kendaraan Toyota di Indonesia.

Atas usul Tuan Kagoma tersebut, maka pada tahun 1971 perusahaan membeli dan menempati ruang pamer dan bengkel. Saat itu pula dilakukan pergantian nama dari PT. Ratna Dewi Motor menjadi PT. New Ratna Motor.

Pada 30 Agustus 1972 PT. New Ratna Motor ditunjuk sebagai dealer resmi Toyota Jawa Tengah. Dengan bantuan PT. Toyota Astra Motor maka PT. New Ratna Motor semakin berkembang. Oleh sebab itu, PT. New Ratna Motor berkeinginan untuk mendirikan perwakilan di berbagai kota di Jawa Tengah dan DIY. Pada tahun 1974 PT. New Ratna Motor mulai mengembangkan usahanya dengan mendirikan dealer-dealer di Jawa Tengah dan DIY. Sampai saat ini PT.

New Ratna Motor memiliki 23 cabang perusahaan di Jawa Tengah dan DIY. Dan salah satu cabang yang menjadi tempat kerja praktik penulis adalah di PT.

Nasmoco Majapahit Semarang.

PT Nasmoco Majapahit Semarang memiliki Daya sebesar 197 KVA ,Tegangan sebesar 380V, Jenis Arus AC 3 Phasa,dan menggunakan Penghantar Utama NYY4 x185 mm2 serta Proteksi Utamanya menggunakan MCB 300 A

2.2. Audit Energi

Audit energi adalah teknik yang dipakai untuk menghitung besarnya konsumsi energi pada bangunan gedung dan mengenali cara-cara penghematannya. Bila gedung telah dibangun dan digunakan, tentunya perlu mengetahui sejauh mana efisieni penggunaan energi bangunan tersebut.(Badan Standarisasi Nasional,2012) Kegiatan audit energi merupakan kegiatan pengecekan berkala untuk menjamin apakah energi digunakan secara tepat, efisien dan rasional. Audit energi digunakan untuk mengidentifikasi kebocoran atau pemborosan energi dapat dilacak dan ditelusuri yang kemudian ditentukan langkah-langkah perbaikan (retrofitting).

(Badan Standarisasi Nasional,2012)

Lingkup kegiatan audit energi mencakup hal-hal sebagai berikut:

1) Melakukan identifikasi penggunaan energi khususnya yang berkaitan dengan jenis energi, komponen penggunaan energi, sistem pemakaian dan biaya energi.

2) Observasi tingkat penggunaan energi sesuai dengan kondisi bangunan dan jenis penggunaanya.

3) Mengetahui dimana potensi terbesar untuk memperbaiki efisiensi penggunaan energi yang dapat dilakukan.

4) Bagaimana melakukan perbaikan efisiensi tersebut. Audit didefinisikan sebagai proses mengevaluasi sebuah bangunan dalam penggunaan serta,

mengidentifikasi peluang untuk mengurangi konsumsi energi.

2.2.1 Prosedur Audit Energi Pada Bangunan Gedung

Kegiatan audit energi dilakukan secara bertahap yang terdiri dari audit energi awal dan audit energi rinci.

1. Audit Energi Awal

Kegiatan audit energi awal meliputi pengumpulan data konsumsi energi gedung yang sudah tersedia dan tidak memerlukan pengukuran. Audit energi awal pada prinsipnya dilakukan berdasarkan data rekening pembayaran energi dan pengamatan visual. Kegiatan yang dilakukan pada saat audit energi awal adalah sebagai berikut:

1.1 Dokumen bangunan merupakan gambar teknik bangunan yang sesuai dengan pelaksanaan konstruksi (as built drawing), terdiri dari:

a. Tapak, denah dan potongan bangunan gedung seluruh lantai.

b. Denah instalasi pencahayaan bangunan seluruh lantai c. Diagram satu garis listrik, lengkap dengan penjelasan

penggunaan daya listriknya dan besarnya penyambungan daya listrik PLN serta besarnya daya listrik cadangan dari Diesel (jika ada).

2.1 Pembayaran rekening listrik bulanan bangunan gedung selama satu tahun terakhir.

3.1 Tingkat hunian bangunan (occupancy rat) 2. Audit Energi Rinci

Audit energi rinci dilakukan bila nilai IKE (Intensitas Konsumsi Energi) Iebih besar dari nilai target yang ditentukan

a. Audit energi rinci perlu dilakukan bila audit energi awal memberikan gambaran nilai IKE listrik lebih dari target yang ditentukan

b. Audit energi rinci perlu dilakukan untuk mengetahui profil penggunaan energi pada bangunan gedung sehingga dapat diketahui peralatan pengguanaan energi apa saja yang pemakaian energinya cukup besar

c. Kegiatan yang dilakukan dalam penelitian enegi adalah mengumpulkan dan meneliti sejumlah masukan yang dapat mempengaruhi besarnya kebutuhan energi banmgunan gedung dari hasil penelitian dan pengukuran energi

2.2.2 Audit Energi Sistem Pencahayaan Pada Bangunan Gedung

Audit energi sistem pencahayaan bertujuan untuk mengetahui tingkat kuat penerangan dalam suatu ruangan.Tingkat kuat penerangan dalam suatu ruangan harus disesuaikan dengan jenis aktifitas didalam ruangan tersebut.Jika aktifitasnya membutuhkan ketelitian yang tinggi, maka tingkat kuat penerangan yang dibutuhkan juga semakin besar.Audit energi sistem pencahayaan juga bertujuan untuk mengetahui efisiensi penggunaan energi untuk sistem pencahayaan dalam suatu ruangan.(Endro,Herman, 2003)

1. Tingkat Kuat Penerangan

Selain tingkat penerangan, hal-hal yang harus diperhatikan pada ruangan adalah kualitas warna cahaya lampu, yang dibedakan menjadi:

1) Warna cahaya lampu ( Correlted Colour Temperature = CCT)

Warna cahaya lampu tidak merupakan indikasi tentang efeknya cahaya terhadap warna obyek, tetapi lebih banyak memberi suasana. Warna cahaya lampu dikelompokkan menjadi:

a) Kelompok 1 (<3.300 K)

Warna putih kekuning-kuningan (warm white) b) Kelompok 2 (3.300-5.000 K)

Warna putih netral (cool white) c) Kelompok 3(>5.000K)

Warna putih(daylight)

Pemilihan warna lampu tergantung pada tingkat iluminasi yang diperlukan agar diperoleh pencahayaan supaya nyaman.Lampu yang digunakan adalah jenis lampu dengan CCT sekitar >5.000 K (daylight) sehingga tercipta pencahayaan dengan baik. Kebutuhan tingkat iluminasi tidak terlalu tinggi, warna lampu yang digunakan

<3.300 K (warm white).

2) Renderensi Warna

Efek suatu lampu kepada warna obyek akan berbeda-beda. Lampu diklasifikasikan dalam kelompok renderensi warna yang dinyatakan dengan Ra indeks, sebagai berikut:

a. Efek warna kelompok 1 : Ra indeks 80 – 100 % b. Efek warna kelompok 2 : Ra indeks 60 – 80 % c. Efek warna kelompok 3: Ra indeks 40 – 60 % d. Efek warna kelompok 4 : Ra indeks < 40 %

Tabel 2.1 Rekomendasi tingkat kuat penerangan secara horizontal (horizontal illuminance recommendation) berdasarkan Badan Standarisasi Nasional SNI-03-6197-2000.

Jenis Sistem

Level Iluminasi (lux) Tempat atau Jenis Kegiatan Penerangan

20 Minimum area bebas

General Lighting Untuk 30 Gudang/toko di luar bangunan

50 Jalan setapak luar bangunan, area parkir mobil ruangan Atau Area

Dengan Aktifitas visual 75 Dok, dermaga Sederhana

100 Ruang Teater, aula/hall, Tempt tidur hotel, kamar mandi

150 Ruang stok barang, toko, Area bebas Indoor indistri

200 Minimum pada benda kerja

300 Ruang kerja kasar, Ruang mesin, industry makanan, General proses pada industri kimia, General Lighting Untuk Ruang kerja medium, kantor perakitan

500 kendaraan bermotor, Ruang mesin cetak, ruang

ruang kerja kantor umum, toko.

dalam ruangan 750 Ruang gambar, Laboratorium, Ruang kantor dengan mesin khusus.

1000 Ruang kerja halus, Ruang pemeriksaan gambar, Atau membedakan warna, ruang instrument perakitan, lebih tinggi ruang kerja presisi lainnya.

Penerangan Tambahan 2000 Ruang kerja yang membutuhkan presisi tinggi, untuk jenis Penerangan Atau Ruang operasi.

Terlokalisir lebih tinggi

2. Perhitungan Tingkat Kuat Penerangan

Tingkat kuat penerangan (E) dinyatakan dalam satuan lux (lm/m2). Flux cahaya yang diperlukan untuk suatu bidang kerja seluas A m2,

ditunjukkan pada persamaan 2.1

ϕg = E x A ...

(2.1) Keterangan :

ϕg = flux cahaya berguna untuk mencapai bidang kerja , langsung atau tidak langsung setelah dipantulkan oleh dinding langit-langit.

E = Intensitas penerangan yang diperlukan dibidang kerja (lux).

A = Luas bidang kerja (m2).

Tabel 2.2 Rekomendasi tingkat penerangan berbagai jenis ruang dalam bangunan Menurut Badan Standarisasi Nasional SNI 03-6197-2000.

Jenis Bangunan Fungsi Ruangan Level Iluminasi/lux

Teras, garasi 60

Ruang tamu 120 – 150

Ruang makan 120 – 250

Rumah tinggal Ruang kerja 120 – 250

Kamar tidur 120 – 250

Kamar mandi 250

Lembaga Pendidikan Ruang kelas 250

Perpustakaan 300

Laboratorium 500

Ruang gambar 750

Kantin 200

Rumah Masjid 200

Ibadah Gereja 200

Vihara 200

Flux cahaya yang dipancarkan lampu-lampu tidak semuanya mencapai bidang kerja. Untuk menentukan flux cahaya yang diperlukan harus diperhitungkan efisiensi dan rendemennya. Efisiensi ditentukan dengan persamaan 2.2

π =ϕg ϕ0

...

(2.2) Keterangan:

ϕ0 = flux cahaya yang dipancarkan oleh semua sumber cahaya didalam ruangan.

ϕg = flux cahaya berguna untuk mencapai bidang kerja , langsung atau tidak langsung setelah dipantulkan oleh dinding langit-langit.

rumus flux cahaya ditentukan dengan persamaan (2.3).

ϕ0 = E x A

m ...(2.3) Keterangan :

A = Luas bidang kerja (m2)

E = Intensitas penerangan yang diperlukan dibidang kerja (lux)

= Efisiensi penerangan

Perhitungan daya maksimum lumen per meter persegi untuk masing – masing ruangan di PT Nasmoco Majapahit Semarang dapat dicari dengan

menggunakan persamaan (2.4).

W/m2 = Daya Terpasang(W ) Luas Ruangan(m2) ...(2.4)

Tabel 2.3 Standar Daya Pencahayaan Maksimum Ruangan Menurut Badan Standarisasi Nasional SNI-03-6197-2000.

Ruang Kantor 15 Tangga 10

Auditorium 25 Ruang Parkir 5

Pasar swalayan 20 Ruang perkumpulan 20

Hotel Industri 20

Kamar tamu 17 Pintu masuk dengan

kanopi

Daerah umum 20 Lalulintas sibuk (hotel, bandara, teater) 30

Rumah sakit Lalulintas sedang

(kantor, sekolah) 15

Ruang Pasien 15 Jalan Lapangan

Gudang 5 Tempat Penimbunan

/tempat kerja 2

Kafetaria 10 Tempat untuk santai

(taman rekereasi) 1

Garasi 2 Jalan kendaraan dan

pejalan kaki 1,5

Restauran 25 Tempat parkir 2

2.3 Intensitas Konsumsi Energi (IKE) Listrik dan Standar

Intensitas Konsumsi Energi (IKE) adalah pembagian antara konsumsi energi dengan satuan luas bangunan gedung. Penentuan Intensitas Konsumsi Energi listrik untuk bangunan gedung dapat menggunakan KWh/m2/bulan atau dengan persamaan (2.5).(Badan Standarisasi Nasional,2012)

IKE kWh

m2

=

Total konsumsi energi(kWh)

Luas lantaitotal m2 ...

(2.5)

Intensitas Konsumsi Energi disuatu bangunan atau gedung dapat dijadikan acuan untuk mengetahui keefisian penggunaan energi di dalam gedung atau bangunan tersebut. Standar Intensitas Konsumsi Energi menurut pedoman Permen ESDM No.13 tahun 2012 ditunjukan pada tabel 2.4

Tabel 2.4 Kriteria IKE Bangunan Gedung Tidak Ber-AC Menurut Permen ESDM No.13 tahun 2012

Kriteria Konsumsi Energi Spesifik (KWh/m2/bulan) Sangat Efisien IKE < 3,4

Efisien 3,4 ≤ IKE < 5,6 Cukup Efisien 5,6 ≤ IKE < 7,4

Boros IKE ≥ 7,4

Tabel 2.5 Kriteria IKE Bangunan Gedung Ber-AC Menurut Permen ESDM No.13 tahun 2012

Kriteria Konsumsi Energi Spesifik (KWh/m2/bulan) Sangat Efisien IKE < 8,5

Efisien 8,5 ≤ IKE < 14 Cukup Efisien 14 ≤ IKE < 18,5

Boros IKE ≥ 18,5

2.3.1 Efisiensi Penggunaan Beban Listrik

Langkah-langkah yang dilakukan dalam mewujudkan efisiensi penggunaan beban listrik antara lain:

a. Beban dalam ruangan yang dapat dimatikan tanpa menggangu fungsi ruangan merupakan salah satu peluang penghematan energi, misalnya mematikan lampu pada zona eksterior siang hari jika pencahayaan alami sudah cukup memadai dan mematika beban elektronik apabila tidak digunakan.

b. Pada beban pendingin secara umum infiltrasi udara luar perlu dicegah karena akan sulit mengendalikan kondisi ruang sampai batas maksimum yang berada didalam zona nyaman, sistem “on-off” pada umumnya tidak dianjurkan untuk konvervasi energi karena kurang mampu mengatur kapasitas sistem tata udara agar mendekati perubahan beban pendingin.

2.4 Karakteristik Jaringan Kelistrikan

Berikut ini merupakan beberapa faktor yang menentukan karakteristik listrik, diantaranya:

1. Fluktuasi Tegangan

Fluktuasi tegangan adalah suatu perubahan tegangan yang sistematis

atau serangkaian perubahan tegangan secara acak, dimana magnitud dari tegangan mempunyai nilai yang tidak semestinya (Roger C.

Dugan, 1996), yaitu di luar rentang tegangan ditentukan oleh ANSI C84.1 sebesar 0,9 sampai 1,1 pu. Menurut IEC 61000-2-1 salah satu fluktuasi tegangan, mempunyai karakteristik sebagai rangkaian tegangan acak yang berfluktuasi secara terus menerus. Beban yang berubah sangat cepat dan terjadi terus-menerus, dan menghasilkan arus beban yang besar dapat menyebabkan variasi tegangan yang sering disebut sebagai flicker atau kedip tegangan. Istilah flicker atau kedip tegangan berasal dari dampak adanya fluktuasi tegangan terhadap lampu, yang dianggap seperti mata manusia yang berkedip.

Gambar 2.1. Fluktuasi Tegangan

Gambar 2.1 adalah contoh dari gelombang tegangan yang menghasilkan flicker yang disebabkan oleh sebuah busur bunga api, salah satu faktor paling umum penyebab fluktuasi tegangan pada

transmisi dan distribusi sistem tenaga listrik. Sinyal flicker didefinisikan dengan besarnya rms tegangan dan dinyatakan sebagai persentase dari nilai dasarnya. Flicker tegangan diukur dengan sensitivitas mata manusia. Biasanya, flicker yang besarnya lebih rendah 0,5 persen dapat menyebabkan lampu nampak berkedip, jika frekuensi berada dalam kisaran antara 6 sampai 8 Hz. Standar dari PLN adalah 220 Volt dengan batas bawah toleransi -10% dan batas atas toleransi +5% [5].

IEC 61000-4-15 mendefinisikan suatu metodologi dan spesifikasi untuk mengukur flicker. IEEE mengadopsi standar yang berasal dari sistem tenaga 60Hz yang digunakan di Amerika Utara.

Standar ini secara sederhana menggambarkan potensi cahaya berkelip melalui pengukuran tegangan. Metode pengukuran tersebut mensimulasikan lampu/mata/otak sebagai transfer fungsi dan menghasilkan suatu metrik dasar yang disebut sensasi flicker jangka pendek. Nilai ini normalnya sampai 1.0, di mana nilai tersebut mempresentasikan tingkat fluktuasi tegangan yang cukup menyebabkan kedip 50 persen dari sampel yang diamati. Gambar 2.2 mengilustrasikan kecenderungan yang merupakan hasil dari pengukuran pada bus gardu induk 161 kV yang melayani suatu beban yang menghasilkan busur api. Sampel biasanya dilaporkan pada setiap interval 10-mnt.(Novian,2014)

Gambar 2.2. bus gardu induk 161 Kv

2. Frekuensi

Tegangan dan arus listrik yang digunakan pada sistem kelistrikan merupakan listrik bolak-balik yang berbentuk sinusoidal. Tegangan dan arus listrik sinusoidal merupakan gelombang yang berulang, sehingga gelombang sinusoidal mempunyai frekuensi. Frekuensi adalah ukuran jumlah putaran ulang per peristiwa dalam selang waktu yang diberikan.

Satuan frekuensi dinyatakan dalam hertz (Hz) yaitu nama pakar fisika Jerman Heinrich Rudolf Hertz yang menemukan fenomena ini pertama kali.

Frekuensi sebesar 1 Hz menyatakan peristiwa yang terjadi satu kali per detik, di mana frekuensi (f ) sebagai hasil kebalikan dari periode (T ), seperti rumus ditentukan dengan persamaan (2.6).

f =1 T

...(2.6)

Di setiap negara mempunyai frekuensi tegangan listrik yang

berbeda-beda. Frekuensi tegangan listrik yang berlaku di Indonesia adalah 50 Hz, dengan batas minimum toleransi – 0,5 (49,5 Hz) dan batas maximum toleransi +1 (51 Hz). Sedangkan di Amerika berlaku frekuensi 60 Hz.

(Badan Standarisasi Nasional no 75,2102).

Gambar 2.3. Gelombang Tegangan Sinusoidal 3. Arus Listrik

Arus listrik didefinisikan sebagai laju aliran sejumlah muatan listrik yang melalui suatu luasan penampang melintang. Menurut konvensi, arah arus listrik dianggap searah dengan aliran muatan positif.

Arus listrik diukur dalam satuan Ampere (A), adalah satu Coulomb per detik. Arus listrik dirumuskan ditentukan dengan persamaan (2.7).

(Aprianto,Anafi Dwi,2017).

I=dq

dt ...

....(2.7)

Keterangan : I = arus listrik (A) dq = sejumlah muatan (C)

dt = waktu (detik)

4. Daya dan Faktor Daya

Daya adalah suatu ukuran terhadap penggunaan energi dalam suatu waktu tertentu dan nilai batas minimum power faktor dari PLN adalah 0,85 batas maksimumnya adalah 1. Rumus faktor daya ditentukan dengan persamaan (2.8)

Pf = W

vA = Daya aktif

Daya semu ...(2.8)

Keterangan : Pf = Faktor daya (Power factor)

W = Watt (daya aktif)

VA = Volt Ampere (daya semu)

Terdapat tiga macam daya listrik yang digunakan untuk menggambarkan penggunaan energi listrik, yaitu daya nyata atau daya aktif, daya reaktif serta daya semu atau daya kompleks (Sanjeev Sharma, 2007). Daya nyata atau daya aktif adalah daya listrik yang digunakan secara nyata, misalnya untuk menghasilkan panas, cahaya atau putaran pada motor listrik. Daya nyata dihasilkan oleh bebanbeban listrik yang bersifat resistif murni (Heinz Reiger, 1987).

Besarnya daya nyata sebanding dengan kuadrat arus listrik yang mengalir pada beban resistif dan dinyatakan dalam satuan Watt (Sanjeev Sharma, 2007), di tunjukan dengan persamaan (2.9) :

P=I2R ...

(2.9)

Keterangan: P = daya (Watt)

I = arus listrik (Ampere) R = tahanan (Ohm)

Daya reaktif dinyatakan dengan satuan VAR (Volt Ampere Reaktansi) adalah daya listrik yang dihasilkan oleh beban-beban yang bersifat reaktansi. Terdapat dua jenis beban reaktansi, yaitu reaktansi induktif dan reaktansi kapasitif. Beban – beban yang bersifat induktif akan menyerap daya reaktif untuk menghasilkan medan magnet. Contoh beban listrik yang bersifat induktif antara lain transformator, motor induksi satu fasa maupun tiga fasa yang biasa digunakan untuk menggerakkan kipas angin, pompa air, lift, eskalator, kompresor, konveyor dan lain-lain. Beban – beban yang bersifat kapasitif akan menyerap daya reaktif untuk menghasilkan medan listrik. Contoh beban yang bersifat kapasitif adalah kapasitor (Heinz Reiger, 1987).

Besarnya daya reaktif sebanding dengan kuadrat arus listrik yang mengalir pada beban reaktansi di mana (Sanjeev Sharma, 2007).

Q=I2X ...

(2.10) X =X L−X C

Keterangan : Q = daya (VAR)

X = reaktansi total (Ohm)

X L = reaktansi induktif (Ohm) X C = reaktansi kapasitif (Ohm)

Daya kompleks atau lebih sering dikenal sebagai daya semu adalah penjumlahan secara vektor antara daya aktif dan daya reaktif, di mana :

S=P+ jQ ...

(2.11)

Keterangan : S = daya kompleks (VA) V = tegangan (Volt)

I = arus listrik (A)

Hubungan ketiga buah daya listrik yaitu daya aktif P, daya reaktif Q serta daya kompleks S, dinyatakan dengan sebuah segitiga, yang disebut segitiga daya (B. L. Theraja, 1984) :

Gambar 2.4. Segitiga Daya

Dari gambar segitiga daya tersebut, hubungan antara ketiga daya listrik dapat dinyatakan dengan persamaan :

S=

P2+Q2

P=S cos φ P=VI cos φ Q=S sin φ Q=VI sin φ

cosφ= pf =P

S

...

(2.12) φ adalah sudut antara daya aktif dan daya kompleks S, sehingga cos φ didefinisikan sebagai faktor daya (power factor, pf ). Untuk beban yang bersifat induktif, pf lagging di mana arusnya tertinggal dari tegangannya. Dan untuk beban yang bersifat kapasitif, pf leading di mana arusnya mendahului tegangannya.

2.5 Jenis-jenis beban yang digunakan dalam penelitian di PT Nasmoco Majapahit adalah :

1. Lampu penerangan TL dan SL

Lampu TL (Fluorescent Lamp) adalah lampu listrik yang memanfaatkan gas NEON dan lapisan Fluorescent sebagai pemancar cahaya pada saat dialiri arus listrik. Tabung lampu TL dan SL ini diisi oleh semacam gas yang pada saat elektrodanya mendapat tegangan tinggi gas ini akan terionisasi sehingga menyebabkan elektron-elektron pada gas tersebut bergerak dan memendarkan lapisan fluorescent pada lapisan tabung lampu TL dan SL.

2. Sistem pendingin (Air Conditioner)

Secara garis besar prinsip kerja AC adalah penyerapan panas oleh evaporator, pemompaan panas oleh kompresor, pelepasan panas oleh kondensor serta proses ekspansi. Proses ini berkaitan erat dengan temperatur didih dan temperatur kondensasi refrigerant. Refrigerant adalah zat yang mudah berubah bentuk (menjadi uap atau cair) sehingga cocok jika digunakan sebagai media pemindah

panas dalam mesin pendingin. Temperatur didih dan temperatur kondensasi berkaitan dengan tekanan. Titik didih dan titik embun dapat digeser naik atau main dengan mengatur besarnya tekanan yang diberikan. Hal ini berpengaruh besar terhadap proses perpindahan panas yang terjadi pada AC (Maulana,Agus,2003).

Gambar 2.5 Sistem cara kerja AC (air conditioner)

Sistem cara kerja AC (air conditioner) dapat dilihat pada gambar 2.5 :

1. Pada mulanya terjadi perpindahan panas dari dalam ruangan ke luar ruangan.Kompresor (4) yang berfungsi mengalirkan zat pendingin (refrigerant) ke dalam pipa tembaga yang berbentuk kumparan

2. Udara dititipkan oleh kipas udara (blower atau fan) di sela-sela kumparan (1),

3. Panas yang ada dalam udara diserap oleh pipa refrigerant dan kemudian mengembun (2).

4. Udara yang melalui kumparan dan telah diserap panasnya, masuk ke dalam ruangan dalam keadaan sejuk/dingin (3). Selanjutnya udara dalam ruang dihisap dan selanjutnya proses penyerapan panas diulang kembali.

2.5.1 Sistem Tata Udara Atau Pendingin AC

Perhitungan beban pendingin ditunjukkan pada persamaan (2.17) (Susanto, 2016)

Beban Pendingin =

Px 3,28 Tx 3,28¿

x (Lx 3,28)x (¿)x Ix E

¿¿

... (2.17)

Dengan ketentuan : 1. 1 meter = 3,28 kaki 2. L = Lebar ruangan 3. T = Tinggi ruangan

4. I = Jika lantai dasar Nilai = 10

= Jika lantai atas Nilai = 18 5. E = Arah penempatan AC

a) Utara = 16 b) Timur = 17 c) Selatan = 18 d) Barat = 20

Berdasarkan perhitungan diatas dapat ditentukan kapasitas PK AC setiap ruangan:

a) AC 1

2 pk = ± 5.000 BTU/h b) AC 3

4 pk = ± 7.000 BTU/h c) AC 1 pk = ± 9.000 BTU/h d) AC 1 1

2 pk = ± 12.000 BTU/h e) AC 2 pk = ±18.000 BTU/h f) AC 2 1

2 pk = ± 24.000 BTU/h g) AC 5 pk = ± 45.000 BTU/h

2.6 Identifikasi Peluang Hemat Energi

Identifikasi peluang hemat energi dilakukan dengan langkah - langkah berikut : 1. Hasil pengumpulan data, selanjutnya ditindak lanjuti dengan penghitungan

besarnya IKE, dan penyusunan profil penggunaan energi bangunan gedung.

2. Apabila besarnya IKE hasil penghitungan ternyata sama atau kurang dari IKE target, maka kegiatan audit energi rinci dapat dihentikan atau diteruskan untuk memperoleh IKE yang lebih rendah lagi.

3. Bila hasilnya lebih dari IKE target, berarti ada peluang untuk melanjutkan proses audit energi rinci berikutnya guna memperoleh penghematan energi.

Analisis peluang hemat energi berdasarkan (Standar Nasional Indonesia (SNI) 03-6196-2000) :

a. Apabila peluang hemat energi telah diidentifikasi, selanjutnya perlu ditindak lanjuti dengan analisis peluang hemat energi, yaitu dengan cara

membandingkan potensi perolehan hemat energi dengan biaya yang harus dibayar untuk pelaksanaan rencana penghematan energi yang direkomendasikan.

b. Analisis peluang hemat energi dapat juga dilakukan dengan penggunaan program komputer yang telah direncanakan untuk kepentingan itu dan diakui oleh masyarakat profesi.

c. Penghematan energi pada bangunan gedung harus tetap memperhatikan kenyamanan penghuni. Analisis peluang hemat energi dilakukan dengan usaha antara lain:

a. Menekan penggunaan energi hingga sekecil mungkin (mengurangi daya terpasang/terpakai dan jam operasi).

b. Memperbaiki kinerja peralatan.

c. Menggunakan sumber energi yang murah.

2.7 Peluang Penghematan di PT Nasmoco Majapahit Semarang.

2.7.1 Peluang Penghematan No – Cost

Penghematan no – cost adalah peluang penghematan energi tanpa memerlukan biaya, hal ini dapat dilakukan dengan merubah kebiasaan perilaku para pengguna energi agar dapat menerapkan perilaku hemat energi. Peluang penghematan energi

Penghematan no – cost adalah peluang penghematan energi tanpa memerlukan biaya, hal ini dapat dilakukan dengan merubah kebiasaan perilaku para pengguna energi agar dapat menerapkan perilaku hemat energi. Peluang penghematan energi

Dokumen terkait