HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian
H. M BASRI MARKETING
4.2.1 Analisis Pencatatan Saat Perolehan Aset Tetap
Berikut ini merupakan uraian dan analisis terhadap pembelian aset tetap yang terjadi di PT Paku Alam Muara Beliti.
1. Pada tanggal 11/6/2010, dibeli 1 unit mesin genset dengan harga Rp 4.900.000,-. Atas pembelian ini perusahaan dibebankan biaya angkut
Rp 75.000,- (istilah biaya yang dicatat perusahaan sama seperti beban). Pencatatan yang dilakukan perusahaan adalah sebagai berikut :
Peralatan dan Mesin Rp 4.900.000,-
Biaya Angkut Rp 75.000,-
Kas Rp 4.975.000,-
Berikut ini adalah hasil analisis yang berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan, perhitungan yang seharusnya adalah
Pembelian 1 unit mesin genset
Harga beli Rp 4.900.000,-
Beban angkut Rp 75.000,-
Harga perolehan Rp 4.975.000,-
Jurnal yang seharusnya dicatat perusahaan untuk pembelian 1 unit mesin genset pada tanggal 11/6/2010 yaitu
Peralatan dan Mesin Rp 4.975.000,-
Kas Rp 4.975.000,-
Jadi, berdasarkan analisis dapat dijelaskan bahwa harga perolehan yang dicatat oleh perusahaan sebesar Rp 4.900.000,- sedangkan menurut Standar Akuntansi Keuangan harga perolehannya Rp 4.975.000,- terdapat selisih Rp 75.000,- akibat dari perusahaan tidak memasukkan biaya angkut pada harga perolehan aset tetap.
2. Pada tanggal 2/3/2011, dibeli 4 unit komputer dengan harga Rp 4.250.000,-. Totalnya Rp 17.000.000,-. Atas pembelian ini perusahaan dibebankan biaya pemasangan Rp 200.000,- (istilah biaya yang dicatat perusahaan sama seperti beban). Pencatatan yang dilakukan perusahaan adalah sebagai berikut :
Peralatan Kantor Rp 17.000.000,- Biaya Lain-lain Rp 200.000,-
Kas Rp 17.200.000,-
Berikut ini adalah hasil analisis yang berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan, perhitungan yang seharusnya adalah
Pembelian 4 unit komputer
Harga beli Rp 17.000.000,-
Beban lain-lain Rp 200.000,- Harga perolehan Rp 17.200.000,-
Jurnal yang seharusnya dicatat perusahaan untuk pembelian 4 unit komputer pada tanggal 2/3/2011 yaitu
Peralatan Kantor Rp 17.200.000,-
Kas Rp 17.200.000,-
Jadi, berdasarkan analisis dapat dijelaskan bahwa harga perolehan yang dicatat oleh perusahaan sebesar Rp 17.000.000,- sedangkan menurut Standar Akuntansi Keuangan harga perolehannya Rp 17.200.000,- terdapat selisih Rp 200.000,- akibat dari perusahaan tidak memasukkan biaya lain-lain pada harga perolehan aset tetap.
37
3. Pada tanggal 13/3/2012, dibeli 2 unit filling kabinet dengan harga Rp 2.125.000,-. Totalnya Rp 4.250.000,-. Atas pembelian ini perusahaan
dibebankan biaya angkut Rp 50.000,- (istilah biaya yang dicatat perusahaan sama seperti beban). Pencatatan yang dilakukan perusahaan adalah sebagai berikut :
Peralatan Kantor Rp 4.250.000,-
Biaya Angkut Rp 50.000,-
Kas Rp 4.300.000,-
Berikut ini adalah hasil analisis yang berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan, perhitungan yang seharusnya adalah
Pembelian 2 unit filling kabinet
Harga beli Rp 4.250.000,-
Beban angkut Rp 50.000,-
Harga perolehan Rp 4.300.000,-
Jurnal yang seharusnya dicatat perusahaan untuk pembelian 2 unit filling kabinet pada tanggal 13/3/2012 yaitu :
Peralatan Kantor Rp 4.300.000,-
Kas Rp 4.300.000,-
Jadi, berdasarkan analisis dapat dijelaskan bahwa harga perolehan yang dicatat oleh perusahaan sebesar Rp 4.250.000,- sedangkan menurut Standar Akuntansi Keuangan harga perolehannya Rp 4.300.000,- terdapat selisih Rp 50.000,- akibat dari perusahaan tidak memasukkan beban angkut pada harga perolehan aset tetap.
4. Pada tanggal 15/3/2012, dibeli 6 unit meja dan kursi kerja dengan harga Rp 750.000,- Totalnya Rp 4.500.000,-. Atas pembelian ini perusahaan dibebankan biaya angkut Rp 100.000,- (istilah biaya yang dicatat perusahaan sama seperti beban). Pencatatan yang dilakukan perusahaan adalah sebagai berikut :
Peralatan Kantor Rp 4.500.000,-
Biaya Angkut Rp 100.000,-
Kas Rp 4.600.000,-
Berikut ini adalah hasil analisis yang berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan, perhitungan yang seharusnya adalah
Pembelian 6 unit meja dan kursi kerja
Harga beli Rp 4.500.000,-
Beban angkut Rp 100.000,-
Harga perolehan Rp 4.600.000,-
Jurnal yang seharusnya dicatat perusahaan untuk pembelian 6 unit meja dan kursi kerja pada tanggal 15/3/2012 yaitu :
Peralatan Kantor Rp 4.600.000,-
Kas Rp 4.600.000,-
Jadi, berdasarkan analisis dapat dijelaskan bahwa harga perolehan yang dicatat oleh perusahaan sebesar Rp 4.500.000,- sedangkan menurut Standar Akuntansi Keuangan harga perolehannya Rp 4.600.000,- terdapat selisih Rp 100.000,- akibat dari perusahaan tidak memasukkan beban angkut pada harga perolehan aset tetap.
38 5. Pada tanggal 28/4/2012, dibeli 3 unit kipas angin dengan harga Rp 350.000,- totalnya Rp 1.050.000,-. Atas pembelian ini perusahaan dibebankan biaya angkut Rp 50.000,- (istilah biaya yang dicatat perusahaan sama seperti beban). Pencatatan yang dilakukan perusahaan adalah sebagai berikut :
Peralatan Kantor Rp 1.050.000,-
Biaya Angkut Rp 50.000,-
Kas Rp 1.100.000,-
Berikut ini adalah hasil analisis yang berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan, perhitungan yang seharusnya adalah
Pembelian 3 unit kipas angin
Harga beli Rp 1.050.000,-
Beban angkut Rp 50.000,-
Harga perolehan Rp 1.100.000,-
Jurnal yang seharusnya dicatat perusahaan untuk pembelian 3 unit kipas angin pada tanggal 28/4/2012 yaitu :
Peralatan Kantor Rp 1.100.000,-
Kas Rp 1.100.000,-
Jadi, berdasarkan analisis dapat dijelaskan bahwa harga perolehan yang dicatat oleh perusahaan sebesar Rp 1.050.000,- sedangkan menurut Standar Akuntansi Keuangan harga perolehannya Rp 1.100.000,- terdapat selisih Rp 50.000,- akibat dari perusahaan tidak memasukkan beban angkut pada harga perolehan aset tetap.
6. Pada tanggal 11/6/2012, dibeli 1 unit Meja dan Kursi Tamu set dengan harga Rp 3.500.000,-. Atas pembelian ini perusahaan dibebankan biaya angkut Rp 100.000,- (istilah biaya yang dicatat perusahaan sama seperti beban). Pencatatan yang dilakukan perusahaan adalah sebagai berikut :
Peralatan Kantor Rp 3.500.000,-
Biaya Angkut Rp 100.000,-
Kas Rp 3.600.000,-
Berikut ini adalah hasil analisis yang berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan, perhitungan yang seharusnya adalah
Pembelian 1 (satu) unit Meja dan Kursi Tamu set
Harga beli Rp 3.500.000,-
Beban angkut Rp 100.000,-
Harga perolehan Rp 3.600.000,-
Jurnal yang seharusnya dicatat perusahaan untuk pembelian 1 unit Meja dan Kursi Tamu set pada tanggal 11/6/2012 yaitu :
Peralatan Kantor Rp 3.600.000,-
Kas Rp 3.600.000,-
Jadi, berdasarkan analisis dapat dijelaskan bahwa harga perolehan yang dicatat oleh perusahaan sebesar Rp 3.500.000,- sedangkan menurut Standar Akuntansi Keuangan harga perolehannya Rp 3.600.000,- terdapat selisih Rp 100.000,- akibat dari perusahaan tidak memasukkan beban angkut pada harga perolehan aset tetap.
7. Pada tanggal 5/9/2012, dibeli 2 unit AC LG 1 PK dengan harga Rp 2.500.000,- totalnya Rp 5.000.000,-. Atas pembelian ini perusahaan
39 perusahaan sama seperti beban). Pencatatan yang dilakukan perusahaan adalah sebagai berikut :
Peralatan Kantor Rp 5.000.000,- Biaya Lain-lain Rp 200.000,-
Kas Rp 5.200.000,-
Berikut ini adalah hasil analisis yang berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan, perhitungan yang seharusnya adalah
Pembelian 2 unit AC LG 1 PK
Harga beli Rp 5.000.000,-
Beban lain-lain Rp 200.000,- Harga perolehan Rp 5.200.000,-
Jurnal yang seharusnya dicatat perusahaan untuk pembelian 2 unit AC LG 1 PK pada tanggal 5/9/2012 yaitu :
Peralatan Kantor Rp 5.200.000,-
Kas Rp 5.200.000,-
Jadi, berdasarkan analisis dapat dijelaskan bahwa harga perolehan yang dicatat oleh perusahaan sebesar Rp 5.000.000,- sedangkan menurut Standar Akuntansi Keuangan harga perolehannya Rp 5.200.000,- terdapat selisih Rp 200.000,- akibat dari perusahaan tidak memasukkan biaya lain-lain pada harga perolehan aset tetap.
8. Pada tanggal 24/8/2009, dibeli 1 unit Sepeda Motor Honda dengan harga Rp 13.000.000,-. Atas pembelian ini perusahaan dibebankan biaya angkut Rp 100.000,- (istilah biaya yang dicatat perusahaan sama seperti beban). Pencatatan yang dilakukan perusahaan adalah sebagai berikut :
Kendaraan Kantor Rp 13.000.000,- Biaya Angkut Rp 100.000,-
Kas Rp 13.100.000,-
Berikut ini adalah hasil analisis yang berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan, perhitungan yang seharusnya adalah
Pembelian 1 unit Sepeda Motor Honda
Harga beli Rp 13.000.000,-
Beban angkut Rp 100.000,- Harga perolehan Rp 13.100.000,-
Jurnal yang seharusnya dicatat perusahaan untuk pembelian 1 unit Sepeda Motor Honda pada tanggal 24/8/2009 yaitu :
Sepeda Motor Rp 13.100.000,-
Kas Rp 13.100.000,-
Jadi, berdasarkan analisis dapat dijelaskan bahwa harga perolehan yang dicatat oleh perusahaan sebesar Rp 13.000.000,- sedangkan menurut Standar Akuntansi Keuangan harga perolehannya Rp 13.100.000,- terdapat selisih Rp 100.000,- akibat dari perusahaan tidak memasukkan beban angkut pada harga perolehan aset tetap.
9. Pada tanggal 5/4/2012, dibeli 1 unit Mobil Kijang Innova (second) dengan harga Rp 135.000.000,-. Atas pembelian ini perusahaan dibebankan biaya pemasangan accesories Rp 850.000,- (istilah biaya yang dicatat perusahaan sama seperti beban). Pencatatan yang dilakukan perusahaan adalah sebagai berikut :
40 Kendaraan Kantor Rp 135.000.000,-
Biaya Lain-lain Rp 850.000,-
Kas Rp 135.850.000,-
Berikut ini adalah hasil analisis yang berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan, perhitungan yang seharusnya adalah
Pembelian 1 unit Mobil Kijang Innova (second)
Harga beli Rp 135.000.000,-
Biaya lain-lain Rp 850.000,- Harga perolehan Rp 135.850.000,-
Jurnal yang seharusnya dicatat perusahaan untuk pembelian 1 unit Mobil Kijang Innova (second) pada tanggal 5/4/2012 yaitu :
Kendaraan Kantor Rp 135.850.000,-
Kas Rp 135.850.000,-
Jadi, berdasarkan analisis dapat dijelaskan bahwa harga perolehan yang dicatat oleh perusahaan sebesar Rp Rp 135.000.000,- sedangkan menurut Standar Akuntansi Keuangan harga perolehannya Rp 135.850.000,- terdapat selisih Rp 850.000,- akibat dari perusahaan tidak memasukkan biaya lain-lain pada harga perolehan aset tetap.
Berdasarkan perhitungan yang peneliti peroleh dari PT Paku Alam Muara Beliti dan analisis yang peneliti lakukan, maka peneliti akan menunjukkan perbandingan nilai aset tetap menurut peneliti dan perusahaan
1. Pada kelompok aset peralatan dan mesin harga perolehan menurut perhitungan perusahaan sebesar Rp 4.900.000,- sedangkan harga perolehan setelah dianalisis berdasarkan SAK adalah sebesar Rp 4.975.000,- terdapat selisih Rp 75.000,-. Pada kelompok inventaris kantor harga perolehan menurut perhitungan perusahaan sebesar Rp 36.800.000,- sedangkan menurut analisis peneliti sebesar Rp 37.500.000,- terdapat selisih sebesar Rp 700.000,- sehingga total selisih kedua aset tetap tersebut adalah Rp 775.000,-.
2. Pada kelompok aset kendaraan kantor, harga perolehan menurut perhitungan perusahaan sebesar Rp 161.000.000,- sedangkan harga perolehan setelah dianalisis berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan adalah sebesar Rp 161.950.000,- sehingga terdapat selisih Rp 950.000,-. Selisih ini karena adanya biaya lain-lain dan biaya angkut sehubungan dengan pembelian kendaraan kantor yang tidak menambah harga perolehan aset tersesbut.
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dilihat hasil perhitungan harga perolehan aset tetap menurut perusahaan dan hasil analisis peneliti yang disajikan pada tabel berikut :
41 Tabel 4.11
Selisih Harga Perolehan Aset Tetap Berdasarkan Perusahaan dan Analisis
No Aset Tanggal
Perolehan UNIT Jumlah
Biaya Angkut Biaya Lain-lain Harga Perolehan Selisih Perusahaan Analisis
I Tanah dan Bangunan
1 Tanah 15/3/2005 1 45,000,000 45,000,000 45,000,000 0
2 Gedung Kantor 15/3/2005 1 220,000,000 220,000,000 220,000,000 0
Sub Total 265,000,000 265,000,000 265,000,000 0
II Peralatan dan Mesin
1 Mesin Genset 11/6/2010 1 4,900,000 75,000 4,900,000 4,975,000 75,000
Sub Total 4,900,000 4,900,000 4,975,000 75,000
III Peralatan Kantor
1 Komputer 2/3/2011 4 17,000,000 200,000 17,000,000 17,200,000 200,000
2 Mesin Tik 2/3/2011 1 1,500,000 1,500,000 1,500,000 0
3 Filling Kabinet 13/3/2012 2 4,250,000 50,000 4,250,000 4,300,000 50,000
4 Meja dan Kursi Kerja 15/3/2012 6 4,500,000 100,000 4,500,000 4,600,000 100,000
5 Kipas Angin 28/4/2012 3 1,050,000 50,000 1,050,000 1,100,000 50,000
6 Meja dan Kursi Tamu set 11/6/2012 1 3,500,000 100,000 3,500,000 3,600,000 100,000
7 AC LG 1 PK 5/9/2012 2 5,000,000 200,000 5,000,000 5,200,000 200,000
Sub Total 36,800,000 36,800,000 37,500,000 700,000
IV Kendaraan Kantor
1 Motor Honda 24/8/2009 2 26,000,000 100,000 26,000,000 26,100,000 100,000
2 Mobil Kijang Innova (second) 5/4/2012 1 135,000,000 850,000 135,000,000 135,850,000 850,000
Sub Total 161,000,000 161,000,000 161,950,000 950,000
Total 467,700,000 475,000 1,250,000 467,700,000 469,425,000 1,725,000
42 Berdasarkan tabel di atas, peneliti telah melakukan analisis terhadap nilai aset tetap yaitu perusahaan terlalu rendah dalam menilai aset tetap yaitu sebesar Rp 467.700.000,- sedangkan menurut hasil analisis peneliti nilai aset tetap perusahaan adalah Rp 469.425.000,-. Jadi aset tetap dinilai terlalu rendah dari yang seharusnya sehingga terdapat selisih Rp 1.725.000,-
4.2.2 Analisis Perhitungan Beban Penyusutan Aset Tetap Berdasarkan