BAB IV. ANALISIS PENDIDIKAN AKHLAK MENURUT M. QURAISH
A. Analisis Pendidikan Akhlak Menurut M. Quraish Shihab
Konsep pendidikan akhlak yang dipaparkan oleh Quraish Shihab dalam bukunya Yang Hilang dari Kita Akhlak, meliputi pengertian akhlak, pembagian akhlak, akhlak luhur, hal-hal yang perlu diperhatikan mengenai akhlak dan cara membentuk akhlak. Di dalamnya juga tersaji contoh akhlak kepada Allah, Rasul, sesama manusia, makhluk lain dan benda-benda tak bernyawa. Semua
pendapat yang diutarakannya bersumber pada Al Qur‟an dan Hadits yang mana
memang Quraish Shihab adalah mufassir ternama di Indonesia.
Ditegaskan dalam bukunya bahwa akhlak tengah hilang dalam diri umat muslim secara umum dan perlu upaya sungguh-sungguh untuk mencarinya. Dikatakan demikian karena banyak sekali peristiwa yang terjadi terkhusus di Indonesia menunjukkan bahwa krisis moral tengah merajalela. Kemaslahatan umat seperti tidak lagi menjadi perhatian dikarenakan masing-masing individu mengedepankan emosi daripada hati nurani. Sedangkan yang dinamakan hati nurani adalah suatu reaksi yang berasal dari dalam hati. Menurut Quraish Shihab (Shihab, 2016: 44) perihal hati nurani yaitu:
Jika patuh pada petunjuk hati nurani, mereka akan menghargai diri mereka sendiri di samping kepuasan yang tampak pada diri mereka, yakni kepuasan akhlaki, tetapi jika tidak mengikutinya, mereka akan merasakan kehinaan pada diri mereka atau lebih dikenal dengan istilah
Moral yang diajarkan dan dipraktikkan oleh para leluhur bangsa kita, tidak lagi terlihat dalam kehidupan keseharian kita (Shihab,2016:xii). Dapat dikatakan bahwa akhlak yang hilang adalah akhlak luhur yang sesuai dengan tuntunan agama, bahkan tanpa sadar banyak nilai-nilai ajaran Islam yang justru diterapkan oleh orang-orang bukan pemeluk Islam. Sangat disayangkan ketika hilangnya akhlak telah begitu jelas terlihat terutama oleh para pemuka negara seperti wakil rakyat yang mana gerakan sedikitpun akan menarik perhatian seluruh media. Perlu adanya pengetahuan tentang baik dan buruk secara luas serta dalam untuk dapat menemukan kembali sesuatu yang hilang itu.
Quraish Shihab menyatakan kebaikan adalah sesuatu yang mengantar pada perolehan yang diharapkan selama mendapat penilaian positif oleh agama/masyarakat (Shihab,2016:60). Sedangkan keburukan adalah kebalikannya. Penilaian baik dan buruk pun dapat berubah antara satu tempat dengan yang lain. Meskipun begitu, tetap harus didasarkan kepatuhan kepada Allah swt. karena kuasa tetap berada di tangan-Nya. Tidak ada satu pun yang terjadi tanpa campur tangan Allah swt. Sedang yang paling utama dalam konteks akhlak kepada Allah adalah menisbahkan segala yang baik kepada-Nya dan menafikan segala yang buruk (Shihab,2016:217). Allah adalah sumber kebaikan dan yang menurut manusia buruk pada hakikatnya adalah kebaikan bagi manusia itu sendiri apabila mau menelaah, merenungkan dan mengambil hikmah darinya.
Manusia diciptakan oleh Allah swt. disertai dengan fithrah. Adapun pengertian fithrah disini berdasar pada hadits Nabi saw.:
Artinya:“Setiap manusia diciptakan dalam keadaan fitrah (kesucian)
hanya saja kedua orang tuanya (lingkungan) yang
menjadikannya Yahudi, Nasrani, dan Majusi” (HR.Muslim).
Menurut Quraish Shihab (Shihab,2016 25) hadits tersebut mengisyaratkan dua hal pokok, yang pertama adanya fithrah yang melekat sejak kelahiran anak dan yang kedua adalah pengaruh lingkungan. Yang dibawa antara lain fithrah keagamaan yang suci, yakni pengakuan yang terpendam di dalam jiwa tentang kehadiran Tuhan Yang Maha Esa. Meski dapat redup pada akhirnya akan muncul lagi sebelum kematiannya. Kecenderungan kepada kebaikan dapat dilihat melalui keleluasaan dalam berbuat, kebaikan akan cenderung dilakukan dengan santai, sedang keburukan dilakukan dengan sembunyi-sembunyi. Potensi ini lah yang perlu adanya asah dan asuh sehingga muncul sebagai kebiasaan berperilaku baik tanpa sadar yaitu berakhlak luhur.
Menurutnya ada 4 potensi diri yang harus bergabung menjadi satu secara seimbang untuk mencapai puncak akhlak, apabila sebagian saja maka hanya dinamai relatif berakhlak luhur. Potensi tersebut adalah potensi ilmu, potensi amarah, potensi syahwat/keinginan, dan potensi adil. Keempat potensi tersebut hendaknya berada di tengah-tengah, tidak kurang karena akan menjadi lumpuh mengakibatkan kemunduran diri atau berlebihan yang akan mencelakakan diri sendiri. Kadar yang sedang atau secukupnya akan melahirkan akhlak luhur. Dari keempat potensi tersebut puncaknya adalah adil dalam segala hal yaitu menempatkan sesuatu pada tempat dan kadarnya.
Quraisy Shihab (Shihab,2016:39) menyatakan bahwa bila manusia menyadari dan mengetahuai bagaimana mengharmoniskan tiga hal (akal, emosi dan syahwat) dengan menjadikan akal sebagai pengendali yang adil/moderat sehingga tidak mengakibatkan lumpuhnya emosi dan syahwat, tidak juga membiarkan larut memenuhi keinginan emosi dan syahwat maka akan membuahkan akhlak yang luhur yaitu hikmah, keberanian,‟iffah, dan keadilan. Sekali lagi ditegaskan (Shihab,2016:69) bahwa akal adalah yang pertama, sedangkan keadilan menjadi yang terakhir karena merupakan hasil dari aneka kebajikan, keduanya saling membutuhkan.
Apabila berbicara tentang akhlak tentu terbesit ungkapan hati nurani, begitu pula dalam satu bagian buku ini membahasnya (Shihab,2016:45-46) yaitu dinyatakan bahwa tidak mustahil mereka semua mendengar bisikan dari hatinya yang dinamai hati nurani. Hati nurani terbentuk dari pendidikan, pengalaman, dan lingkungan sehingga tidak mustahil ada bisikan nurani yang dibisikkan oleh setan atau nafsu. Seperti terjadi pergulatan dalam diri manusia untuk menerima bisikan malaikat yang mendorong pada kebaikan atau setan yang mendorong pada keburukan. Apabila dijadikan sebagai tolok ukur maka hati nurani yang telah terbentuk melalui pendidikan dan lingkungan yang sesuai dengan nilai-nilai kebenaran universal serta nilai-nilai agama dan norma budaya positif.
Adapun cara membentuk akhlak Quraish Shihab menyatakan ada dua cara yaitu pembiasaan dan meniru keteladanan. Pertama, kebiasaan dapat lahir dari pembiasaan. Dinyatakan dalam bukunya ( Shihab,2016:91) dalam bahasa
agama pembiasaan dinamai takhalluq yang seakar dengan kata akhlak.
Takhalluq adalah “memaksakan diri dan membiasakannya untuk melakukan
sesuatu dengan berulang-ulang.” Diriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda:
Artinya:“Ilmu yang diperoleh dengan belajar (memaksakan diri dan mengulang-ulangi belajar). Kelapangan dada melalui pembiasaan melapangkan dada. Siapa yang selalu berusaha mencari kebaikan, ia akan dianugerahi dan siapa yang senantiasa berusaha menghindarkan diri dari keburukan, ia
akan dihindarkan darinya” (HR. al-Khatib).
Pembiasaan yang dianjurkan adalah perilaku baik berdasarkan ajaran Islam, karena ada kegiatan buruk yang telah menjadi kebiasaan seperti minum
khamr oleh masyarakat Jahiliyah. Al Qur‟an pun mencegah secara bertahap dimulai dengan mengisyaratkan tidak baiknya minuman keras, dilanjutkan dengan pernyataan bahwa keburukannya lebih banyak kemudian melarang meminumnya pada saat tertentu seperti shalat wajib dan akhirnya melarangnya secara total (Shihab,2016:92). Tuntunan Al Qur‟an yang bertahap mengajarkan
bahwa kebiasaan buruk pun dapat dihilangkan perlahan melalui penjelasan dan pembiasaan meninggalkannya serta mengisi dengan kebaikan.
Pembiasaan yang berikutnya adalah perintah untuk menyuruh anak-anak shalat sejak berusia tujuh tahun, meski belum wajib baginya. Pembiasaan yang dianjurkan dalam Islam yaitu selama 40 hari. Sepertinya hal ini lah yang dikehendaki dengan adanya puasa Ramadhan disusul dengan 6 hari puasa syawal.
Kedua, meniru keteladanan. Pada dasarnya sifat manusia adalah mudah meniru. Cara ini membutuhkan adanya sosok teladan yang dianggap memiliki kelebihan atau kesempurnaan. Dalam Islam tiada kesempurnaan yang dapat menandingi kesempurnan Allah swt. seperti firman-Nya dalam QS. Ar Rum [30]: 27 sebagai berikut:
Artinya: “...Dia memiliki sifat yang Mahatinggi di langit dan di bumi...” (Depag,2008:573).
Maka sudah sepatutnya bahwa seorang makhluk meneladani sifat Tuhannya sesuai dengan kedudukan sebagai makhluk. Sumber keteladanan yang utama adalah kesempurnaan Allah melalui 99 sifatnya yang tertuang dalam asmaul husna. Dijelaskannya sifat-sifat itu melalui Kitab Suci lalu memberi contoh penerapannya untuk manusia melalui para nabi yang diutus-Nya. Karena itu Nabi Muhammad saw. adalah teladan yang paling sempurna, antara lain dalam menerapkan peneladanan manusia menyangkut sifat-sifat Allah (Shihab,2016:77). Meski tidak mungkin seorang hamba dapat menyamai Tuhannya, maka upaya yang dilakukan adalah sebisa mungkin mendekati sifat/akhlak-Nya dengan sifat-sifat Allah Yang Mahasempurna.
Sebagai contoh meneladani sifat ar-Rahman dan al-afwu. Ar-Rahman
(pelimpah kasih sayang bagi seluruh makhluk dalam kehidupan dunia ini), seorang mukmin akan berusaha memberi kasih kepada semua makhluk tanpa kecuali (Shihab,2016:87). Sedang al-Afwu (Maha Pemaaf, seseorang akan selalu bersedia memberi maaf dan menghapus bekas-bekas luka hatinya, serta
tidak lagi terlintas dalam benaknya (Shihab,2016:88). Dengan kesungguhan meneladani dua sifat-Nya saja maka tak akan ada kekerasan serta kejahatan (kriminalitas) karena manusia dapat saling menyayangi dan memaafkan satu sama lain. Betapa terasa damai kehidupan ini jikalau semua orang dapat berlaku demikian, bahkan Allah pun bersifat as-Salam (Mahadamai/Pemberi kedamaian kepada siapa dan apa pun yang wajar menerimanya).
Manusia cenderung memperhatikan sesuatu yang jelas tampak oleh mata baru kemudian memikirkan makna yang terkandung dibaliknya. Dalam hal keteladanan orang tua pun memiliki peran yang utama. Hasan (2015: 33) memberikan contoh saat menyuruh anak untuk solat misalnya, orang tua juga harus melakukannya. Begitu pula shodaqoh, puasa dan hal-hal positif lainnya. Jadi, tidak sebagai penyuruh yang hanya memerintah anak untuk melakukan melainkan menjadi sosok teladan yang layak diteladani dalam hidup seorang anak.
Berikutnya adalah keteladanan seorang pendidik kepada anak didiknya. Sosok pendidik seringkali menjadi idola anak didik. Anak-anak pun tak jarang lebih mempercayai pendidik daripada orang tuanya. Oleh karena itu hedaknya pendidik benar-benar menjaga akhlak Islami karena dengan begitu secara otomatis akan lahir ketersambungan atara pendidik, ilmu yang disampaikan dengan anak didik sesuai dengan tujuan pendidikan. Quraisy Shihab (2016: 30-31) menyimpulkan bahwa pengetahuan tentang akhlak sebagai ilmu, demikian juga mempelajarinya—selama dalam bentuk dan cara yang benar—akan mengantar seseorang kea rah pemahaman yang benar tentang hidup dan
kehidupan, baik sebagai makhluk sosial maupun sebagai mkhluk individu. Saat anak didik mengagumi keindahan dan kebaikan pendidiknya maka akan lebih mudah dalam mengimplementasikan pengetahuan ayng telah disampaikan secara langsung maupun tidak langsung.
Selain dua cara di atas disebutkan sebagai berikut: (a) Melakukan introspeksi, (b) Menyibukkan diri dengan hal positif, (c) Memperhatikan dampak buruk ketiadaan akhlak, (d) Berada di lingkungan yang baik, (e) Membaca yang bermanfaat, (f) Bergaul dengan yang berbudi, dan (h) Yang amat penting pula adalah bermohon kepada Allah.
Akan tetapi penulis melihat bahwa niat/kehendak baik selalu ditekankan dalam buku tersebut. Niat sangat penting sebelum melakukan berbagai kegiatan. Dinyatakan dalam bukunya (Shihab,2016:43) ia baru menjadi baik dan buruk akibat kehendak pelakunya. Maka tidak wajar sesuatu/perbuatan disifati sebagai baik dan buruk tanpa melihat kehendak dari pelaku. Karena suatu perbuatan hanyalah sarana untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
Dalam kehidupan sehari-hari tentunya banyak kita jumpai hal-hal yang tampak sederhana justru bernilai pendidikan tinggi. Adapun sebagian darinya adalah pendidikan orang tua kepada anak. Dalam lingkup pendidikan, keluarga merupakan lingkungan terdekat yang memiliki pengaruh besar dalam perkembangan anak. Abdillah Firman Hasan (Hasan, 2015: 29) menyatakan
bahwa “orang tua adalah pihak pertama dan utama dalam mengawal kehidupan
anak-anaknya. Seolah-olah dikatakan bahwa anak yang baik dan buruk adalah sama-sama produk dari orang tuanya”. Untuk memiliki anak yang berakhlakul
karimah tentunya harus diimbangi dengan upaya mendidik anak sesuai dengan bingkai keagamaan yaitu nilai-nilai keIslaman sejak dini.
Sebagai contoh yang pertama adalah pengawasan terhadap anak. Merupakan hal wajar seorang anak bermain bersama teman sebaya nya ketika pulang sekolah atau hari libur. Akan tetapi orang tua terutama ibu seringkali marah apabila mengetahui anaknya belum sampai rumah padahal jam telah larut. Pengaruh lingkungan bermain (bergaul) tak kalah berpengaruh pada kepribadian anak, maka orang tua memiliki peran penting dalam mengawasi pergaulan anak. Seperti dikatakan Hasan (2015: 31) tugas orang tua adalah mengarahkan agar anak dapat memilih pergaulan yang dapat memberi pengaruh positif bagi kehidupannya. Hal ini terjadi di sekitar kita bahkan terjadi pada diri sendiri. Pada dasarnya orang tua tengah melaksanakan pembentukan akhlak melalui perhatian/pengawasan terhadap anak.
Setelah pengawasan yang dilakukan dalam mendidik anak, yang selanjutnya adalah pemberian sanksi terhadap perilaku yang tidak seharusnya dilakukan oleh anak. Ketika orang tua menjewer telinga/mencubit lengan anaknya, sebenarnya pendidikan tengah berlangsung. Berdasarkan logika, orang tua tidak akan menjewer telinga anaknya dengan tanpa sebab, maka dapat dikatakan jeweran tersebut adalah jeweran kasih sayang. Dapat dikatakan demikian karena dalam teori pendidikan pun dikenal Reward and punishment. Reward hanya akan diperoleh apabila melakukan suatu kebaikan sedang punishmen pasti didapat akibat perbuatan buruknya. Dalam agama pun dikenal pahala untuk pelaku kebaikan dan dosa untuk pelaku keburukan, bahkan
kebaikan seberat zarrah pun mendapat balasan, seperti dalam Q.S al-zalzalah: 7-8 berikut ini:
Artinya: “ maka barang iapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat
(balasan)nya.” (Depag,2008:909)
Sanksi/hukuman yang diberikan hendaknya disertai dengan pemberian pengertian agar anak tidak mengalami kebingungan. Dalam teori pembelajaran (Sriyanti, dkk, 2014: 52) Willian Estes menyatakan bahwa:
Hukuman memiliki efek emosional yang tidak menguntukngkan karena ketakutan anak tergeneralisir pada perilaku lainnya. Hukuman memang memberitahu perilaku yang tidak diinginkan, tetapi tidak memberitahu perilaku mana yang dikehendaki atau yang harus dilakukan.
Seorang anak seringkali mengatakan “orang tua saya tidak sayang,
karena sering memarahi saya” ketika ditanya kenapa orang tua memarahinya
anak tersebut tidak mengatahui alasan sebenarnya. Dalam hal ini tengah terjadi kesalahpahaman yang fatal. Alangkah lebih baik apabila membiasakan untuk berkomunikasi dua arah dengan baik antara orang tua dan anak. Dengan demikian maka tidak terjadi kesalahpahaman dari pesan pendidikan yang dimaksudkan orang tua melalui penjeweran (sanksi) karena perilaku anak yang tidak sesuai, kepada penerimaan jeweran. Sehingga menjadi pemahaman yang utuh karena disertai dengan penjelasan tentang hal yang boleh dilakukan dan tidak dengan cara yang baik yaitu kasih sayang
B. Relevansi Pendidikan Akhlak menurut M. Quraish Shihab dengan Pendidikan