IV. METODE PENELITIAN
4.2. Rancangan Penelitian
4.2.4. Analisis Penelitian
Analisis penelitian dilakukan terhadap beberapa sub tujuan penelitian dan analisis keberlanjutan adalah sebagai berikut :
4.2.4.1. Kesesuaian Lahan dan Agroklimat Jeruk
Analisis kesesuaian lahan dilakukan melalui interpretasi data tanah dan fisik lingkungan yang memberikan arahan penggunaan lahan sesuai potensi dan tingkat kesesuaian untuk jeruk, sehingga kegiatan usahatani, kerusakan lingkungan dapat ditekan sekecil mungkin. Analisis dan tahapannya seperti pada Gambar 11.
Gambar 11. Bagan Analisis kesesuaian lahan dan agroklimat jeruk Kelas kesesuain lahan
(S1, S2, S3, dan N) Kharakteristik dan
kualitas lahan (iklim, tanah, tekstur, kelerengan) Persyaratan tumbuh tanaman jeruk (S1, S2, S3, dan N) Overlay
Sub- Kelas kesesuain lahan (S1, S2nr, S3s, N)
Peta land used
Overlay
Lahan sesuai yang tersedia untuk tanamanan jeruk (S1, S2nr, S3s)
Faktor Pembatas
Analisis kesesuaian lahan dilakukan melalui beberapa tahapan berikut :
(1). Melakukan evaluasi data karakteristik tanah dan data fisik lingkungan pada Satuan Peta Tanah (SPT), serta melakukan overlay dengan persyaratan tumbuh tanaman jeruk (crop requirements) yang diwujudkan dalam kriteria kesesuaian lahan jeruk menggunakan Automatic Land Evaluation System atau ALES (Rossiter dan Wambeke,1997). Dalam hal Kabupaten Agam dievaluasi sebanyak 90 sheet SPT (Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, 2005). Sedangkan kriteria kesesuaiann lahan untuk tanaman jeruk disajikan pada Tabel 7.
(2). Melakukan pengkelasan kesesuaian lahan menurut kriteria Sangat Sesuai/ highly suitable (S1), Cukup Sesuai/ moderately suitable (S2), Sesuai Marginal/ marginally suitable (S3) dan Tidak Sesuai/ not suitable (N), serta melakukan penilaian sub kelas dengan faktor pembatasnya yang paling dominan sesuai dengan the limiting factors dari FAO, yang dinyatakan dalam simbol, seperti S2nr atau S2 dengan pembatas ketersediaan nutrisi menurut FAO tahun 1990.
(3). Melakukan overlay hasil pengkelasan kesesuaian lahan dengan land use untuk mengidentifikasi lahan yang sesuai yang tersedia. LAPAN (2003) mengelompokkan penggunaan lahan kedalam 8 satuan penggunaan lahan ialah hutan, belukar, danau, kebun campur/semak/tegalan, lahan bukaan sementara, perkebunan, permukiman dan sawah. Lahan yang tersedia bagi tanaman jeruk ialah kelompok belukar, kebun campur/semak/tegalan dan lahan bukaan sementara.
(4). Melakukan penghitungan luasan kelas kesesuaian lahan dan ketersediaan lahan untuk pengembangan jeruk.
(5). Melakukan penggambaran secara spasial lahan yang sesuai dan tersedia dengan GIS, Art.info dan Arc.view.
Hasil analisis ini akan diskor dan digunakan sebagai salah satu masukan dalam analisis keberlanjutan.
Tabel 7.Kriteria kesesuaian lahan untuk tanaman jeruk
No Persyaratan Penggunaan/ Kelas kesesuaian lahan
kharakteristik lahan S1 S2 S3 N
1 Temperatur ( tc)
- Temperatur rerata (oC) 19 - 33 33 – 36 >36 – 39 > 39
16 – <19 13 – 16 < 13
2 Ketersediaan air (wa)
- Curah hujan (mm) 1.200 - 3. 000 1.000 – 1.200 800 – 1.000 < 800 3.000 – 3.500 3.000 – 4.000 > 4.000 - Lamanya bulan kering (bln) 2,5 - 4 4 – 5 5 – 6 >6 - Kelembabn (%) 50 - 90 <50; > 90
3 Ketersediaan oksigen (oa)
- Drainase baik, sedang Agak Terhambat Sangat terhambat
Terhambat agak cepat Cepat
4 Media perakaran (rc) agak kasar,
- Tekstur agak kasar, sedang, Sangat - Kasar
sedang, agak halus, halus
agak halus Halus/ sangat
Halus halus - Bahan kasar (%) < 15 15 – 35 35 – 55 > 55 - Kedalaman tanah (cm) > 100 75 – 100 50 – 75 < 50 5 Gambut - Ketebalan (cm) < 60 60 – 140 140 – 200 > 200 - Ketebalan (cm), jk ada sisipan < 140 140 – 200 200 – 400 > 400 bahan pengkayaan mineral/ - Kematangan saprik saprik, hemik hemik, fibrik Fibrik
6 Retensi hara (nr) - KTK liat (cmol) > 16 - Kejenuhan basa (%) 20 < 20 < 20 < 20 - pH H2O 5,5 – 7,6 5,2 – 8,0 > 8,0 > 8,0 7,6 – 8,0 > 8,0 > 8,0 C - organik (%) > 0,8 7 Tosisitas (xc) - Salinitas (dS/m) < 3 '3 – 4 4-6 >6 8 Sodisitas (xn) - Alkalinitas/ ESP (%) < 8 8 – 12 12 – 15 >15 9 Bahaya sulfidik (xs) - Kedalaman sulfidik (cm) > 125 100 125 60 – 100 < 60
10 Bahaya erosi (eh)
- Lereng (%) < 8 8 – <16 16 – 30 > 30 - Bahaya erosi sangat rendah Rendah-sedang Berat sangat berat
4.2.4. 2. Analisis Petani
Analisis petani terdiri atas Analisis Respon Petani yang dicerminkan melalui respon dalam penggunaan input usahatani terhadap produksi per pohon dengan menggunakan fungsi produksi Cobb-Douglas dan Analisis Karakteristik Petani dengan menggunakan metoda statistik, seperti disajikan pada bagan alir Gambar 12.
Gambar 12. Bagan Alir Analisis Petani
(1). Analisis Respon Petani
Analisis respon petani dalam usahatani jeruk, yang direpresentasikan melalui perilaku produsen dapat dipelajari dengan menggunakan fungsi produksi Cobb- Douglas (C-D). Fungsi produksi C-D digunakan untuk mengetahui perilaku petani dalam menggunakan sumber daya input yang langka jumlahnya untuk memaksimalkan output. Melalui fungsi produksi (C-D) dapat digambarkan hubungan antara penggunaan agro-input yang sebelumnya dihipotesiskan memiliki pengaruh terhadap produksi jeruk per pohon (produktivitas). Beberapa hal yang ditetapkan dalam analisis respon petani adalah agro-input yang dihipotesakan
Analisis Respon Petani (Fungsi Produksi Cobb- Douglas) Analisis Karakteristik Petani (Statistik / Tabulasi) Aspek Sosial Aspek Ekologi Aspek Ekonomi Aspek Teknologi Aspek Kelembagaan Produksi/ph Analisis Petani Agro Input Jumlah tanaman Pupuk Organik Pupuk an-organik Pestisida Tenaga kerja
berpengaruh terhadap output atau produksi jeruk per pohon (produktivitas) ialah pestisida, pupuk, tenaga kerja, jumlah tanaman dan umur tanaman, dan respon petani dalam usahatani jeruk, menggambarkan hubungan antara variabel depednent (Y) dengan variabel independent (X), yang dibangun melalui formula:
. atau dilinierkan menjadi
Y* = A* + β1 X*1 + β2 X*2 + β3 X*3 + β4 X*4 + U ... 14
dimana * : Variabel log natural (ln) Y* : produktivitas jeruk
X1* : Jumlah pestisida yang digunakan (liter) X2* : Jumlah pupuk organik yang digunakan (kg) X3* : Jumlah pupuk an-organik yang digunakan (kg) X4* : Jumlah tenaga kerja (naker) dalam HOK A : Konstanta dan β1 sampai β4 : Koefisien elastisitas U : Gangguan acak
Hasil analisis ini akan digunakan sebagai salah satu masukan dalam analisis keberlanjutan.
(2). Analisis Karakteristik Petani
Analisis karakterisitk petani dilakukan untuk melihat karakteristik petani dalam pengambangan KSPJB. Untuk itu dilakukan evaluasi melalui tabulasi data yang diperoleh di lapang. Karakteristik petani yang dianalisis adalah meliputi berbagai aspek terkait dengan perilaku dalam usahatani jeruk, seperti umur dan pendidikan petani, luas lahan usahatani serta jumlah tanaman yang dimiliki petani. Hasil analisis karakteristik petani digunakan dalam memformulasikan kebijakan pengembangan KSPJB. eu 4 4 3 3 2 2 1 1 X X X X A Y ... 13
4.2.2.3. Analisis Finansial
Penghitungan kelayakan usahatani jeruk di lima kecamatan sentra produksi jeruk di Kabupaten Agam ialah di Tanjung Mutiara, Lubuk Basung, Matur, Tilatang Kamang dan Palupuh dilakukan untuk memastikan bahwa usahatani jeruk dapat menghasilkan keuntungan yang memadai. Untuk menentukan kelayakan suatu usaha dilakukan analisis finansial menggunakan metoda Discount Rate Cash Flow, menggunakan kriteria Net Benefit Cost Ratio (Net B/C), Net Present Value (NPV), dan Internal Rate of Return (IRR) (Lumby, 1987 dalam Anonim, 1998; Swastika, 2004).
Analisa kelayakan usahatani jeruk yang dilakukan dalam studi ini menggunakan beberapa asumsi yang mengikat sebagai dasar dari perhitungan indikator-indikator kelayakan finansial usaha tani jeruk, ialah sebagai berikut : (1). Penilaian kelayakan usaha tani jeruk dilakukan selama 10 tahun, namun demikian dengan data petani yang ada dapat digambarkan pula tren hubungan antara keuntungan petani dengan umur tanaman jeruk selama 20 tahun
(2). Tanaman mulai berproduksi pada tahun ketiga setelah tanam, dimana tingkat produktifitas yang dihasilkan tidak sama untuk setiap umur tanaman, yaitu dimulai dari 8 kg/pohon pada umur tanaman 3 tahun, selanjutnya mengalami peningkatan terus dan pada tahun ke 10 sebesar 24 kg/pohon. Produktivitas jeruk pada tahun- tahun selanjutnya yang diperoleh dari data petani yang ada mencapai maksimal pada tahun ke-11, 12 dan ke-13 ialah sebanyak 28 kg/pohon, yang selanjutnya pada tahun ke 16 mengalami penurunan dengan tajam.
(3). Jumlah pohon yang dikelola setiap petani sebanyak 300 pohon, yang diasumsikan tanpa ada penyusutan jumlah sampai umur tanaman 20 tahun. Harga produksi jeruk yang berlaku adalah Rp. 2.500 per kg dan mengalami peningkatan sebesar Rp.250,- setiap lima tahun.
(4). Sewa lahan sebesar Rp. 3.000.000 untuk setiap pemakaian lahan selama lima tahun.
(5). Biaya investasi terdiri atas sewa lahan dan peralatan produksi. Sedangkan biaya produksi dibagi atas biaya tenaga kerja, pupuk, pestisia. Biaya tenaga kerja
digunakan untuk persiapan lahan, penanaman, pemupukan, pengendalian OPT, pengendalian gulma, penggemburan, pemanenan, pembuatan guludan, pemangkasan dan penjarangan buah.
(6). Biaya produksi dari tahun ke tahun dihitung tetap berdasarkan atas penghitungan statistik bahwa tidak ada pebedaan penggunaan agro-input oleh petani dengan bertambahnya umur tanaman.
(7). Tingkat bunga yang digunakan dalam perhitungan Net Present Value (NPV) dan Net Benefit Cost Ratio (Net B/C Ratio) adalah sebesar 17%.
4.2.2.4. Analisis Keberlanjutan
Pemilihan dimensi dilakukan dengan acuan studi literatur tentang analisis keberlanjutan beberapa sistem yang telah dikaji ialah sistem perikanan, peternakan, padi dan kehutanan, yang meliputi dimensi ekologi, sosial, ekonomi, teknologi, kelembagaan, etika dan hukum. Pemilihan dimensi dilakukan melalui Forum Group Discussion (FGD) sebanyak tiga kali ialah FGD untuk membangun asumsi, FGD untuk membuat kerangka dan FGD untuk memverifikasi dimensi (Eriyatno, 2005/ pers.com.). FGD untuk membangun asumsi melibatkan PPL, KCD, PHP, Kepala Dinas dan Staf Dinas Pertanian Kabupaten Agam yang menangani jeruk, BPTPH dan BPPT Sumatera Barat. Sedangkan FGD untuk membangun kerangka dan verifilasi dilakukan dengan ekspert dari Balai Penelitian Buah, Balai Penelitian Jeruk dan Hortikultura Sub Tropika, Balai Penelitian Tanah dan Agroklimat, Sub Balai Penelitian Klimatologi dan Direktorat Jenderal Hortikultura. Dari hasil FGD tersebut telah dipilih lima dimensi yang erat kaitannya dengan pengembangan jeruk ialah dimensi ekologi, sosial, ekonomi, teknologi dan kelembagaan. Kelima dimensi tersebut dipilih berdasar kriteria penggunaan biaya, efektivitas pelaksanaan pengembangan jeruk dan capaian kebijakan pengembangan KSPJB. Dari kajian pustaka, pemilihan kelima dimensi ini juga merupakan pengembangan dari tiga dimensi keberlanjutan yang dikemukakan oleh Munashinghe (1993) ialah dimensi ekologi, sosial dan ekonomi, dengan memunculkan/menambah dimensi teknologi dan kelembagaan yang erat kaitannya dengan pengembangan jeruk sehingga analisis dan pembahasan untuk dimensi teknologi dan kelembagaan menjadi lebih terfokus. Melalui proses yang sama, pemilihan atribut pada masing-masing dimensi
dilakukan, sehingga dari 76 atribut telah dipilih menjadi 61 atribut dan kemudian menjadi 58 atribut. Ke 58 atribut keberlanjutan pada dimensi ekologi, sosial, ekonomi, teknologi dan kelembagaan, berturut-turut sebanyak 17, 8, 9, 14, dan 10 atribut. Setelah dikonsultasikan dengan ekspert, dimensi dan atribut yang dipilih tersebut didiskusikan kembali melalui FGD di Diperta Kabupaten Agam kepada PPL, PHP dan KCD yang akan membantu melakukan pengambilan data di lapang.
Perhitungan indeks keberlanjutan (IKB) diolah dengan menggunakan alat analisis Rapid Apprasisal CITRUS atau Rap-CITRUS, yang merupakan modifikasi dari RAPFISH yang disesuaikan dalam perspektif pengembangan Kawasan Sentra Produksi Jeruk Berkelanjutan (KSPJB). Teknik Multi Dimension Scalling (MDS) digunakan dalam simulasi Rap-CITRUS yang merupakan modifikasi dari RAPFISH yang oleh beberapa peneliti telah digunakan untuk menghitung IKB pada beberapa sistem yang dikaji. Multi Dimension Scalling melakukan pengukuran atribut lima dimensi dan ordinasi serta memproyeksikan posisi/ tingkat keberlanjutan masing- masing dimensi dan dimensi gabungan pada garis lurus antara 0% (bad) sampai 100% (good). Nilai indeks keberlanjutan (IKB) yang kurang dari 50% atau <50% termasuk dalam kriteria “tidak berkelanjutan”. Sedangkan IKB dengan nilai lebih besar dari 50% atau >50% termasuk kriteria “Berkelanjutan” (Alder, et al. 2003; Fauzi dan Anna, 2005).
Langkah-langkah teknik Multidimensional Scaling (MDS) pada pengukuran atribut-atribut dimensi keberlanjutan KSPJB adalah sebagai berikut :
(1). Menetapkan dimensi dan atribut keberlanjutan KSPJB berdasar atas pemahaman literatur, pengalaman lapang, pendapat praktisi, pakar pengembangan jeruk, stakeholders serta berdasarkan beberapa penelitian tentang keberlanjutan yang telah dilakukan. Dimensi beberapa sistem dan KSPJB seperti pada Tabel 8.
Tabel 8.Dimensi dari keberlanjutan beberapa sistem yang dikaji
Penelitian Ekolg Ekon Sos- bud
Tekn Hukum Kelemb Etik Perikanan di Atlantik Utara
(Alder et.al, 2003)
v v v v - - v
Perairan pesisir Jakarta (Fauzy & Suzy, 2005)
v v v v - - v
Sapi potong (Mersyah, 2005)
v v v v v - -
Pola padi sawah -sapi potong (Suwandi, 2005)
v v v - - - -
Peternakan sapi perah di kawasan pariwisata (Ridwan, 2006) v v v - v v - Kehutanan (Marhayudi, 2006) v v v v V1 V1 - KSPJB V V V V V
Disamping mengacu pada studi literatur, pemilihan dimensi KSPJB juga berdasarkan pada pertimbangan biaya, efektivitas pelaksanaan pengembangan jeruk dan kemudahan capaian dalam kebijakan. Selanjutnya dilakukan uji statistik dengan uji Kruskal-Wallis yang merupakan uji statistik data-data ordinal dalam k kelompok untuk mengetahui pengaruh dimensi terhadap keberlanjutan KSPJB (Wibisono, 2005; Uyanto, 2006), Uji Kruskal-Wallis menggunakan formula sebagai berikut :
Uji Kruskal-Wallis:
... 3
1
1 12 2 2 2 2 1 2 1 n n R n R n R n n H k k ….15](2). Menentukan atribut-atribut yang terkait keberlanjutan KSPJB. Sebanyak 58 atribut dari 5 dimensi digunakan dalam penelitian ini, ialah dimensi ekologi (17 atribut), sosial (8 atribut), ekonomi (9 atribut), teknologi (14 atribut) dan kelembagaan (10 atribut).
(3). Melakukan skoring atau menetapkan peringkat pada masing-masing atribut, termasuk skoring hasil analsis lainnya, yang mencerminkan keberlanjutan dari dimensi yang bersangkutan. Skor memiliki nilai ekstrim 0 dan 3. Skor ini menunjukkan nilai dari yang buruk ke yang baik. Nilai yang buruk atau 0 menunjukkan kondisi terburuk atribut tersebut atau mencerminkan kondisi yang paling tidak menguntungkan bagi keberlanjutan. Sebaliknya skor yang baik mencerminkan kondisi yang paling menguntungkan bagi keberlanjutan pengembangan KSPJB. Sesuai Kavanagh (2001), sebelum simulasi RAPFISH atau
dalam penelitian ini telah dimodifikasi menjadi Rap-CITRUS terlebih dahulu dilakukan standardisasi skoring dengan formula :
bad good bad good x s x 2 ) ( ……… 16]
Atribut-atribut lima dimensi dan skoring keberlanjutan KSPJB disajikan pada Tabel 9.
Tabel 9. Atribut-atribut dan skor untuk menilai keberkelanjutan ekologi, sosial, ekonomi, teknologi dan kelembagaan pada KSPJB
No .
Dimensi/Atribut Skor Buruk
(Bad) Baik (Good) Keterangan Ekologi 1 Luas lahan usahatani jeruk yang dikelola :
0;1;2;3 0 3 (0). < 0,25 ha; (1). 0,25 –< 0,5 ha; (2). 0,5 – 1 ha; (3). > 1 ha.
2 Luas lahan usahatani bukan jeruk yang dikelola :
0;1;2;3 0 3 (0). < 0,25 ha; (1). 0,25 – <0,5 ha; (2). 0,5 – 1 ha; (3). > 1 ha.
3 Jumlah tanaman jeruk yang dimiliki
0;1;2;3 0 3 (0). < 100; (1). 100 – 200; (2). 201 – 500; (3). > 500.
4 Jumlah tanaman yang mati selama pertumbuhan :
0;1;2;3 0 3 (0). >20 %; (1). >10 – 20%; (2).5– 10%; (3). <5%.
5 Rata-rata u mur tanaman jeruk yang dimiliki
0;1;2;3 0 3 (0). >15 tahun. (1). < 3 tahun; (2). 3-5 tahun; (3). >5- 15 tahun;
6 Produktivitas per tanaman :
0;1;2;3 0 3 Produktivitas tanaman terhadap prduktivitas nasional untuk jenis jeruk Siam : (0). Sangat rendah; (1). Rendah; (2). Sedang; (3). Tinggi.
(0). Sangat rendah : produktivitas 0 - 25% produktivitas jeruk Indone sia (Balitjestro, 2007) sesuai umu r tanaman; (1). Rendah ialah >25-50%; (2). Sedang ialah >50-75%; (3). Tinggi ialah >75% produktivitas jeruk Indonesia (Balitjestro, 2007) sesuai umur tanaman
7 Tingkat serangan kutu sisik :
0;1;2;3 0 3 (0) Serangan pada ranting >5 0%- >80%, luasan >50%, penurunan produksi >90%Tingkat serangan kutu sisik: (1).. Serangan pada ranting 25 - 50%, luasan 20 -<50%, penurunan
No .
Dimensi/Atribut Skor Buruk
(Bad)
Baik (Good)
Keterangan
produksi <90%;(2). Serangan pa da ranting <25%, luasan <20%, penurunan produksi <20%; (3). Tidak ada serangan/ serangan ringan <10%; 8 Tingkat serangan
Phytophthora sp:
0;1;2;3 0 3 (0). Puso >10%. (1). Ada serangan berat >10% , puso <10%; ( 2). Ada serangan ringan & sedang >10%, berat <10%; (3). Tidak ada serangan/ serangan ringan <10%;
9 Tingkat serangan CVPD :
0;1;2;3 0 3 (0). >40%, tanpa vektor, bibit ya/tidak berlabel, tidak menerapkan PSKJS (1). >10 %<40%, tanpa vektor, bibit ya/tidak berlabel, tidak mener apkan PSKJS; (2). <10 %, tanpa vektor, alat tak steril, tidak ada gerakan eradikasi (3). Tidak ada serangan, tidak ada vektor, peralatan pertanian sterilbibit berlabel, menerapkan PSKJS;
10 Jarak kebun dengan rumah
0;1;2;3 0 3 (0). >1 km dan akses sulit. (1). 0- < 1 km dan akses sulit ; (2). >1 2 km dan akses mudah; (3). 0-1 km dan akses mudah;
11 Lama tanaman terendam air/banjir
0;1;2;3 0 3 (0). > 3 hari. (1). 1 – 3 hari; (2). < 1 hari; (3). Tidak pernah;
12 Tindakan konservasi pada lahan miring yang dilakukan :
0;1;2;3 0 3 (0). Tidak dilakukan; (1). Penanaman rumput atau pembuatan teras at au guludan; (2). Penanaman rumput dan pembuatan teras; atau rumput d an guludan, atau guluan dan teras ; (3).Rumput, teras, guludan & saluran drainase. 13 Pengelolaan lahan dan lingkungan 0; 0,75; 1,5; 2,25; 3
0 3 (0).Tidak mengerjakan dan tida k paham; (0,75). Tidak mengerjakan dan sedikit paham; (1,5). Sedikit mengerjakan dan sedikit paham; (2,25). Mengerjakan dan cukup paham (3 ). Mengerjakan dan sangat paham . 14 Curah Hujan 0;1;2;3 0 3 (0)<800mm/thatau>4000mm/th (1).800-<1000mm/th atau 3000-4000
mm/th (2).1000-<1200mm/th atau 3000-3500 mm/th (3).1200-3000mm/th 15 Lama masa kering 0; 0,75; 1,5;
2,25; 3
0 3 (0)>6 bulan (0,75).<2,5 bulan (1,5). >5-6 bulan (2,25)>4-5 bulan (3).2,5-4 bulan
16 Penggunaan bibit 0; 1,5; 3
0 3 (0) Hampir semua bibit tidak dapat ditelusuri asal usulnya dan ti dak melalui alur bibit yang benar. (1,5) Sebagian bibit tidak dapat ditelusuri asal usulnya dan tidak sepenuh nya sesuai alur yang ditentukan; (3) Bibit
No .
Dimensi/Atribut Skor Buruk
(Bad)
Baik (Good)
Keterangan
unggul bermutu yang klonal yang dapat ditelusuri asal usulnya, serta melalui alur bibit yang benar;
17 Kesesuaian lahan dan agroklimat jeruk
0;1;2;3 0 3 (0). (Tidak sesuai ; (1) Sesuai marginal; (2). Cukup sesuai; (3). Sangat sesuai
Sosial
1 Kepemilikan lahan 0;1;2;3 0 3 (0) Buruh; (1) Penggarap/sewa; (2). Bagi hasil; (3) Pemilik penggarap 2 Status lahan yang digunakan : 0;3 0 3 (0). Tanpa surat /Tanah Adat (3). Sertifikat 3 Tingkat Pendidikan : 0;1;2,3 0 3 (0). Tidak sekolah; (1). Tidak tamat SD; (2). Tamat SD; (3). Tamat SLTP
atau SLTA
4 Umur petani: 0;1;2;3 0 3 (0). < 20 tahun; (1). > 54 tahun; (2). 40 – 54 tahun ; (3). 20 – 40 tahun. 5 Penggunaan waktu untuk usahatani
jeruk :
0;1,5;3 0 3 (0). Sambilan; (1,5). Paruh waktu (sesuai kebutuhan tanaman); (3). Penuh waktu. 6 Partisipasi keluarga (usia kerja 16-54 tahun) dalam usahatani jeruk :
0;3 0 3 (0). Tidak Ada; (3). Ada.
7 Pandangan masyarakat terhadap usahatani jeruk : 0; 0,75; 1,5; 2,25; 3; 0 3
(0). Antipati; (0,75). Tidak tertarik; (1,5). Netral; (2,25). Sedikit tertarik (3) Sangat tertarik.
8. Respon petani terhadap pengguanaan tenaga kerja dengan bertambahnya umur tanaman 0,1,2,3 0 3
(0) Tidak berpengaruh; (1) Ada pengaruh kecil; (2) Ada pengaruh sedang dari 0,5- sampai 1; (3) Ada pengaruh besar lebih dari 1
Ekonomi
1 Hasil selain jeruk 0;1;2;3 0 3 (0). Merugikan bagi usahatani jeruk Hasil usahatani selain jeruk: (1). Tidak untuk mendukung usahatani jeruk; (2). Sedikit untuk mendukung usahatani jeruk; (3). Mendukung usahatani jeruk;
2 Tanaman sela (jrk <4 th) 0;1;2;3 0 3 Tanaman sela pada kebun jeruk berumur 0 – 4 tahun : (0). Tidak; (1) Ya, seadanya; (2). Ya, dengan tanaman untuk kebutuhan hidup; (3). Ya, dengan tanaman bernilai ekonom i tinggi.
3 Tanaman sela
(jrk >4 th) 0;1;2;3 0 3 Tanaman sela pada kebun jeruk berumur > 4 tahun: (0). Ada tumbuhan yang tidak terawat dan
No .
Dimensi/Atribut Skor Buruk
(Bad)
Baik (Good)
Keterangan
mengganggu; (1). Ada tumbuhan tidak terawat tetapi tidak mengnggu; (2). Ada tumbuhan/rumput yang kadang disiangi; (3). Ada tanaman penutup tanah/kacang-kacangan. 4 Keuntungan dari
usahatani jeruk yang diperoleh :
0; 0,75; 1,5; 2,25; 3
0 3 (0). Rugi besar atau lebih dari setengah modal. (0,75). Rugi sedikit atau tidak lebih ari setengah modal; (1,5 ). Impas/balik modal; (2,25). Cukup atau kurang dari dua kali lipat; (3). Untung besar atau lebih dari dua kali lipat; 5 Cara menjual buah jeruk yang
dihasilkan :
0;1;2;3 0 3 (0). Sistem ijon; (1). Jual ke pedagang pengumpul, tengkulak; (2). Jual sendiri ke pasar. (3). Melalui koperasi / mitra. 6 Tempat penjualan buah jeruk : 0;1;2;3 0 3 (0). Tidak tahu; (1). Pasar lokal; (2).
Pasar di kota; (3). Pasar di luar kota / nasional.
7 Daya saing produk 0;1;2;3 0 3 (0). Sangat Rendah; (1). Randah; (2) Sedang; (3). Tinggi.
Daya saing ditentukan dari penampilan buah a) warna cerah/ menarik , b). bebas dari kotor/ cacat kulit karena OPT, c). Rasa manis/segar
(0). Penampilan buah yang tida k memenuhi ketiga kriteria di atas; (1) Penampilan buah memenuhi satu kriteria diatas; (2). M emenuhi dua kriteria; (3). Memenuhi tiga kriteria di atas.
8 Akses jalan 0;1,5;2 0 3 Tingkat ketersediaan akses jal an di kebun: (0). Kurang memadai; (1,5). cukup memadai; (3). Sangat memadai. 9 Akses pasar 0;1,5;3 0 3 Jumlah pasar terhadap pasar yang ada
di seluruh Kabupaten Agam: (0) . Kurang memadai; (1,5). Cukup memadai; (3). Sangat memadai..
Teknologi
1 Sarana pengairan 0;1;2;3 0 3 Teknologi pengairan ditentukan ada/tidaknya fasilitas a). saluran air/saluran drainase, b). embung/bak- bak air sederhana/ sumur dan pompanya, c). saluran air yang lengkap/ dip/sprinkler irrigation
Penilaian; (0). Tidak ada fasilitas; (1). Ada a atau b; (2) Ada a dan b (3). Ada a, b dan c. atau ada c
No .
Dimensi/Atribut Skor Buruk
(Bad)
Baik (Good)
Keterangan
(2). Buku budidaya jeruk; (3). Buku SOP/GAP.
3 Pengkelasan buah 0;3 0 3 (0) Petani; ( 3.)Bukan petani/pengumpul.
4 Penerapan teknologi budidaya 0; 0,75; 1,5; 2,25; 3
0 3 Teknologi budidaya jeruk yang diterapkan (boleh dipilih lebih dari satu) : a). Tidak menerapkan/ Teknologi tradisional b). Bib it bermutu/ berlabel c). Pemupukan, d.) Pengendalian OPT e). Pemangkasan (tanaman / buah)
Cara menilai : (a) nilai 0 ; (b) atau (c) atau (d), atau (e) nilai 0,75
Jika mengisi 2 (bukan a), nilai 1,5 ; mengisi 3 (bukan a), nilai 2,25 ; mengisi 3 (bukan a), nilai 3
5 Penerapan teknologi panen
0; 0,75; 1,5;2 ,25; 3
0 3 Pemahaman teknologi panen jeru k optimal (boleh dipilih lebih dari satu) a). Tidak b). Tingkat kematan gan optimal c). Cara panen yang baik dan benar d). Waktu panen yang tepat e). Alat panen yang baik
Cara menilai : (a) nilai 0 ; (b) atau (c) atau (d), atau (e) nilai 0,75; Jika mengisi 2 (bukan a), nilai 1,5 ; 3 (bukan a), nilai 2,25 ; 4 (bukan a), nilai 3 6 Tindakan
pemupukan
0;1;2;3 0 3 Tindakan pemupukan yang dilakukan (boleh dipilih lebih dari satu) : a. Tidak memupuk b. Memberi pupuk organik c. Memberi pupuk N, P, K waktu sesuai anjuran d. Memberi pupuk mikro Cara menilai : (a) nilai 0 ; (b) atau (c) atau (d), atau (e) nilai 1 ; Jika mengisi 2 (bukan a), nilai 2 ; 3 (bukan a), nilai 3 7 Waktu pemupukan 0;1;2;3 0 3 Waktu pemupukan (boleh dipilih lebih
dari satu) : a. Kapan Saja b. Setelah hujan turun c. Saat buah sebes ar kelereng (c) d. Setelah panen
Cara menilai : (a) nilai 0 ; (b) atau (c) atau (d), nilai 1 ; Jika mengisi 2 (bukan a), nilai 2 ; 3 (bukan a), nilai 3
8 PHT 0;1;2;3 0 3 Penerapan teknologi PHT : (0) Tidak; (1). Sedikit; (2). Cukup; (3 ). Menerapkan dengan baik.
9 Cara penggunaan pestisida
0; 0,75; 1,5; 2,25; 3
0 3 Penggunaan pestisida untuk mengendalikan OPT yang dilakukan (boleh dipilih lebih dari satu) :
No .
Dimensi/Atribut Skor Buruk
(Bad)
Baik (Good)
Keterangan
a). Sesuai dengan jenis OPT b). Menggunakan pestisida anjuran c). Dilakukan saat mencapai ambang ekonomi d). Sesuai dosis anjuran e). Sesuai waktu, cara, dan alat yan g dianjurkan
Cara menilai : Jika mengisi (a) atau (b) atau (c) atau (d), atau (e) nilai 0,75 Jika mengisi 2, nilai 1,5, Jika mengisi 3, nilai 2,25, Jika mengis 4, nilai 3 10 Pengairan 0;1;2;3 0 3 Pengairan usahatani: (0). Kekurangan
air sepanjang tahun; (1). Kekurangan air pada musim kemarau, kelebihan pada musim hujan; (2). Ada sedikit kekurangan air pada musim kemarau, cukup pada musim hujan; (3). Cukup air sepanjang tahun.
11 Pemangkasan 0;0,75;1 ,5;2,25; 3;
0 3 Tindakan pemangkasan yang dilakukan (boleh dipilih lebih dari satu) : a). Tidak dilakukan
b). Pemangkasan bentu c). Pemangkasan pemeliharaan d). Pemangkasan setelah panen, e). Penjarangan buah
Cara menilai : (a) nilai 0 ; (b) atau (c) atau (d), atau (e) nilai 0,75 ; Jika mengisi 2 (bukan a), nilai 1,5 ; 3 (bukan a), nilai 2,25 ; 4 (bukan a), nilai 3
12 Upaya penggunaan pemupukan An-org
0;1;2;3; 0 3 Upaya petani terhadap pemupukan dalam hubungannya dengan bertambahnya umur tanaman: (0 ). Menurun; (1). Sama atau sedikit meningkat; (2). Meningkat namu n belum sesuai kebutuhan tanaman; (3). Meningkat sesuai kebutuhan tanaman. 13 Upaya penggunaan pemupukan
Organik
0;1;2;3 0 3 Upaya petani terhadap pemupuka n dalam hubungannya dengan bertambahnya umur tanaman : (0). Menurun; (1). Sama atau sediki t meningkat; (2). Meningkat namu n belum sesuai kebutuhan tanaman; (3). Meningkat sesuai kebutuhan tanaman. 14 Upaya penggunaan
pestisida
0;1;2;3 0 3 Upaya petani terhadap penggunaan pestisida dalam hubungannya dengan bertambahnya umur tanaman: (0) . Menurun; (1). Sama atau sediki t meningkat; (2). Meningkat namu n belum sesuai kebutuhan tanaman; (3). Meningkat sesuai kebutuhan tanaman .
No .
Dimensi/Atribut Skor Buruk
(Bad) Baik (Good) Keterangan Kelembagaan 1 Frekwensi penyuluhan :
0;1,5;3 0 3 (0). lebih dari sebulan sekali (1,5).>1 kali sebulan (3) Satu kali seminggu;. 2 Keikutsertaan dlm pelatihan 0;1,5;2 0 3 Pelatihan tentang jeruk yang diikuti: a.
Tidak pernah (0) b. Pernah (1 ,5) c. Sering (3)
3 Kehadiran pada
penyuluhan : 0;1;2;3 0 3 (0). Tidak pernah datang; (1). Pernah datang; (2). Sering datang; (3). Selalu datang.
4 Bahan penyuluhan 0; 0,75; 1,5; 2,25; 3
0 3 Bahan penyuluhan tentang teknologi budidaya jeruk anjuran : (0). Tidak ada; (0,75). Ada sedikit, tapi tidak sesuai keperluan di lapang; (1,5). Ada, tapi kurang sesuai (2,25). Ada, sesuai namun sedikit digunakan; (3). Ada, sesuai dengan keperluan dan digunakan.
5 Asal modal untuk memulai usahatani jeruk :
0;0,75; 1,5;2,25 ;3;
0 3 (0). Modal sendiri; (0,75). Pinjam ke tengkulak/rentenir; (1,5). Bantuan pemerintah; (2,25). Pinjam ke kelompok tani / koperasi; (3). Pinjam ke Bank.
6 Keberadaan kios Saprotan
0;1;2;3 0 3 Ketersediaan kios penjualan saprotan di sekitar kebun / rumah : (0). Tidak ada; (1). Ada tapi jauh; (2). Ada tapi agak jauh; (3). Ada dan dekat.
7 Keikutsertaan dalam kelompok tani : 0; 0,75; 1,5; 2,25; 3
0 3 Keikutsertaan dalam kelompok tani : (0).Tidak ikut; (0,75).Ikut tetapi tidak aktif (1,5). Ikut dan kadang -kadang aktif; (2,25). Ikut dan aktif kegiatan internal kelompok; (3) Ikut dan aktif kegiatan internal dan eksternal. 8 Mitra jeruk/ usahatani
dalam hal:
0; 0,75; 1,5; 2,25; 3
0 3 a). Tidak ada, b). Penyuluhan, c). Permodalan, d). Penyediaan inp ut usahatani, e). Pemasaran.
Cara menilai : (0) Jawaban a; (0,75). Jawaban b) atau c) atau d) atau e) ; (1,5). Jika menjawab 2 hal (tapi bukan a), nilai 2 ; (2,25) (bukan a), nilai 3 ; 3 (bukan a), nilai 4
9 Peran kelembagaan dalam usahatani jeruk :
0; 0,75; 1,5; 2,25; 3
0 3 a).Tidak ada, b). Konsultasi / penyuluhan budid aya jeruk, c). Membantu penyediaan input usahatani d). Membantu permodalan, e). Membantu pemasaran