V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.4. Dimensi Ekonomi
5.4.1. Atribut Dimensi Ekonomi
Dimensi ekonomi meliputi sembilan atribut keberlanjutan ialah sebagai berikut :
(1). Kelayakan Usahatani Jeruk
Hasil analisis kelayakan usahatani jeruk di Kabupaten Agam menunjukkan bahwa usahatani jeruk mulai menghasilkan pada tahun ke 3, walaupun produksinya masih sangat rendah ialah 8 kg/pohon. Pada tahun ke 9 dan 10 produksi jeruk mencapai 24 kg/pohon. Produksi akan terus meningkat sampai tercapai produksi maksimun yang diperkirakan mulai tahun ke 11 hingga tahun ke 13. Setelah mencapai maksimum produksi mengalami penurunan, sampai pada suatu saat tanaman tidak produktif lagi. Beberapa kajian menyebutkan bahwa umur produktif tanaman jeruk dapat mencapai 15 sampai 20 tahun (Davies dan Albrigo, 1998).
Secara garis besar, komponen biaya usaha tani jeruk di Kabupaten Agam dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu biaya tetap (fixed cost) dan biaya variabel (variable cost). Biaya tetap meliputi sewa lahan dan peralatan pertanian antara lain hand sprayer, cangkul, gunting pangkas, ember, drum, air dan garpu tanah. Sedangkan yang termasuk biaya variabel ialah pupuk, pestisida dan tenaga kerja. Komponen biaya yang paling banyak dikeluarkan petani jeruk selama ini adalah biaya tenaga kerja, terutama untuk penggunaan tenaga pemupukan dan
pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT ). Biaya penggunaan tenaga kerja, pestisida dan pupuk oleh petani tidak mengalami peningkatan yang berbedanyata dengan bertambahnya umur tanaman, yang dapat diketahui dari analisis statistik seperti disajikan pada Lampiran 7.
Dalam arus biaya petani jeruk, diperkirakan terjadi penyusutan alat- alat/perlengkapan pertanian yang diasumsikan setiap 5 tahun. Untuk menjaga tingkat produksi agar tidak menurun, diperlukan penggantian alat-alat pertanian tersebut. Oleh karena itu setiap 5 tahun sekali petani akan mengeluarkan biaya pemeliharaan (maintenance cost) untuk memperbaharui alat-alat pertanian seperti cangkul, gunting pangkas, ember dll. Selain untuk alat-alat pertanian, biaya yang harus dikeluarkan petani dengan tenggang waktu 5 tahun sekali adalah sewa lahan. Kedua komponen biaya tersebut (alat pertanian dan sewa lahan) pada awal tahun penanaman dimasukkan sebagai biaya investasi, sedangkan pada tahun-tahun selanjutnya menjadi biaya tetap. Untuk menghitung penerimaan petani maka harga jeruk yang saat ini sebesar Rp.2.500,-/kg diasumsikan mengalami peningkatan sebesar Rp.250,- setiap lima tahun sekali sehingga setelah tahun kelima meningkat menjadi Rp.2.750,-/kg. Arus biaya dan arus benefit usahatani jeruk disajikan pada Lampiran 8.
Penghitungan dilakukan terhadap Net BC ratio kondisi eksisting pengembangan jeruk di Agam menunjukkan pada tahun ke 5 sebesar 0,84. Nilai B/C mengalami peningkatan pada tahun ke 6 dan ke 7 sebesar 0,75 dan 0,85. Hasil ini sangat rendah karena usahatani dikatakan layak apabila memiliki nilai Net B/C lebih besar dari 1. Begitu juga penghitungan nilai IRR yang pada tahun ke 5, 6 dan 7 berturut-turut sebesar -19%, -7% dan 5% pada tingkat suku bunga 17%. Hal ini menunjukkan bahwa hasil penerimaan usahatani jeruk di Kabupaten Agam yang sebagian besar tanamannya berumur 5-7 tahun sangat rendah. Apabila petani meminjam uang di bank dengan bunga sebesar 17% maka besarnya penerimaan hasil usahatani tersebut tidak mampu untuk membayar bunga bank. Hal ini sesuai dengan hasil responden bahwa 100% petani sampel mengusahakan tanaman jeruk dengan modal sendiri. Dengan keterbatasan modal yang dimiliki oleh petani maka
usahatani jeruk tidak dapat dilakukan secara optimal. Hal tersebut berakibat pada rendahnya produktivitas dan mutu hasil, yang akan berdampak pada rendahnya keuntungan petani. Analisis finansial usahatani jeruk di Kabupaten Agam disajikan pada Lampiran 9.
(2). Daya saing jeruk
Daya saing jeruk yang direpresentasikan melalui mutu ekternal (penampilan), maupun mutu internal (rasa) merupakan hal penting dalam penentuan harga jual produk. Mutu internal dinilai berdasar tingkat kemanisan jeruk dan mutu eksternal berdasar penampilan buah. Daya saing ditentukan dari penampilan buah a) warna cerah/ menarik, b). bebas dari kotor/ cacat kulit karena OPT, c). Rasa manis/segar. Nilai (0). Penampilan buah yang tidak memenuhi ketiga kriteria di atas; (1) Penampilan buah memenuhi satu kriteria diatas; (2). Memenuhi dua kriteria; (3). Memenuhi tiga kriteria di atas. Hasil responden petani menunjukkan daya saing buah memenuhi dua dari kriteria tersebut. Oleh karena itu skornya adalah 2 dari nilai maksimum 3.
(3). Tanaman Sela
Tanaman sela diantara tanaman jeruk pada umur kurang dari 4 tahun adalah tanaman yang dapat menopang kebutuhan hidup, sehingga skoringnya adalah 2 dari nilai terbaik 3. Sedangkan tanaman sela diatas 4 tahun adalah tumbuhan tidak terawat tetapi tidak mengnggu, sehingga skoringnya adalah 1 dari skor terbaik 3. (4). Tempat dan Cara Menjual Jeruk
Pada umumnya petani menjual jeruk secara curah kepada pedagang pengumpul. Skoring cara menjual jeruk adalah 1 dari skor terbaik 3. Sedangkan tempat penjualan jeruk, pada umumnya di pasar lokal, dengan demikian skoringnya adalah 1 dari skor terbaik 3.
(5). Akses Pasar dan Akses Jalan
Secara keseluruhan jumlah pasar di Kabupaten Agam ialah 37 unit. Sebanyak 15 unit diantaranya berada di wilayah ialah di Kecamatan Tanjung
Mutiara, Lubuk Basung, Matur, Tilatang Kamang dan Palupuh, berturut-turut sebanyak 1, 6, 3, 4 dan 1 unit. Jumlah pasar yang memadai ini belum diikuti dengan kemudahan pencapaiannya dari sentra produksi. Oleh karena itu skor untuk akses pasar adalah cukup memadai, atau skor 1,5 diantara skor terbaik 3.
Akses jalan yang dimaksud adalah jalan produksi/ jalan usahatani yang menghubungkan kawasan satu dengan lainnya, serta lokasi kebun-kebun petani. Berdasarkan responden petani bahwa semua jalan produksi dan jalan usahatani dalam keadaan buruk, rusak/berlubang dan sulit dijangkau dengan kendaraan roda empat. Bila hujan, jalan tersebut akan menjadi licin dan bagian yang berlubang akan menimbulkan genangan air. Dengan demikian untuk akses jalan termasuk dalam kriteria kurang memadai atau dengan skor 0 dari yang terbaik 3.
5.4.2. Indeks Keberlanjutan Dimensi Ekonomi
Hasil analisis keberlanjutan menggunakan simulasi Rap-CITRUS dimensi ekonomi yang menyertakan 9 atribut menunjukkan bahwa besarnya IKB dimensi ekonomi 48,37 % yang termasuk dalam kriteria tidak berkelanjutan. Angka tersebut diantara selang keberlanjutan 0% (buruk) dan 100% (baik) yaitu nilai maksimum keberlanjutan yang dapat dicapai. Besarnya nilai B/C pada tanaman jeruk tahun ke 5, 6 an 7 sebesar 0,64, 0,75 dan 0,85, dengan nilai IRR berturut-turut sebesar -19%, -7% dan 5%. Dengan B/C yang sangat rendah maka usahatani jeruk eksisting tidak menguntungkan. Nilai IRR yang negatif dan relatif kecil ialah sebesar 5% pada tahun ke 7 menunjukkan bahwa dengan peminjaman uang ke bank maka petani sampai tahun ke 7, belum mampu membayar bunga bank dari keuntungan usahatani yang diperoleh. Oleh karena itu 100% petani sampel menyatakan bahwa usahatani jeruk dilakukan dengan modal sendiri. Dengan keterbatasan modal maka usahatani jeruk tidak mampu untuk meningkatkan mutu dan produksinya. Demikian juga dukungan faktor-faktor ekonomi lainnya seperti akses pasar, akses modal, usahatani selain jeruk dan daya saing jeruk tidak cukup untuk mewujudkan pengembangan KSPJB dimensi ekonomi yang berkelanjutan. Upaya-upaya perbaikan faktor-faktor ekonomi dalam rangka meningkatkan IKB dapat dilakukan melalui perbaikan faktor-faktor sensitif melalui pentahapan/ skala prioritas. Perbaikan secara prioritas
dilakukan melalui peningkatan nilai skoring faktor-faktor mulai yang paling sensitif berpengaruh terhadap keberlanjutan dimensi ekonomi dan dilanjukan dengan perbaikan skoring faktor sensitif lainnya. Besarnya IKB KSPJB dimensi ekonomi dan atribut sensitif berpengaruh terhadap keberlanjutan KSPJB disajikan pada Gambar 42 dan 43. O rd in a t R a p -C IT R US (R a p -C IT R U S O rd in a tio n ) 55 ,58 GOO D BA D UP DO W N -60,00 -40,00 -20,00 0,00 20,00 40,00 60,00 0,00 10,00 20,00 30,00 40,00 50,00 60,00 70,00 80,00 90,00 100,00 K e b e r la n ju ta n J e r u k (C i tr u s S u s ta i n a b i l i ty ) Hal lain yan g tid ak t erka it ke berl anju tan (Oth er Dist ingi shin g Fe atur es)
R eal C itrus Referenc es Anc hors
Gambar 42. Bagan tingkat keberlanjutan KSPJB dimensi ekonomi Keterangan :
Bad dan good : titik ekstrim buruk (0%) dan baik (100%) Sumbu X adalah terkait dengan keberlanjutan
Up dan down : adalah batas atas dan bawah atribut
Sumbu Y : adalah hal-hal yang tidak terkait dengan keberlanjutan
S e n s itiv ita s d a ri A trib u t (L e v e ra g e o f A ttrib u te s ) 1 ,4 3 2 ,2 8 0 ,5 6 3 ,5 2 1 ,6 6 1 ,6 1 1 ,1 2 3 ,4 4 1 ,5 8 0 0,75 1,5 2,25 3 3,75
Has il se lain Je ruk T anam se la (je ruk < 4 thn ) T anam an se la je ruk um ur > 4 th n K e untung an Je ruk C ara Me njual Je ruk T e m p at p e njualan je ruk D aya saing P ro d uk A kse s J alan A kse s P asar Atrib ut (Attr ibute )
Pe rubahan N ilai RM S atau Roo t M ean Squ are Change in O rd inatio n w hen Selected A ttribute Rem o ved (on Sustaina bility scale 0 to 100)
Gambar 43. Bagan analisis Leverage dimensi ekonomi pada pengembangan KSPJB
Hasil analisis Leverage/sensitivitas dimensi ekonomi menunjukkan bahwa atribut yang paling dominan/ paling sensitif terhadap keberlanjutan pengembangan KSPJB dimensi ekonomi ialah keuntungan jeruk yang ditunjukkan memiliki nilai RMS terbesar ialah 3,52%. Atribut sensitif selanjutnya yang terletak dalam satu skala dengan atribut tersensitif ialah akses jalan. Keuntungan jeruk merupakan atribut yang paling sensitif terhadap keberlanjutan KSPJB. Ini berarti bahwa keuntungan ekonomi yang menjamin peningkatan kesejahteraan petani akan mendukung keberlanjutan pengembangan KSPJB. Menurut Flora (1995), peningkatan pertanian berkelanjutan akan memberikan efek ganda (multiplier effect) peningkatan ekonomi pada suatu komunitas. Petani yang menerapkan pertanian berkelanjutan cenderung menambah penggunaan tenaga kerja, menambah pembelanjaannya dalam lingkungan masyarakat serta meningkatkan kontribusinya dalam transaksi bisnis di dalam komunitas tersebut. Keuntungan ekonomi ini juga
terkait dengan mobilisasi sumber daya lokal dalam komunitas untuk pengembangan berbagai usaha home industri yang memberikan manfaat bagi komunitas.
Dalam usahatani jeruk peningkatan status keberlanjutan dimensi ekonomi identik dengan peningkatan keuntungan ekonomi yang dapat dinikmati oleh petani secara berkelanjutan. Hal ini dapat dicapai melalui upaya-upaya efisiensi berbagai aspek antara lain efisiensi proses produksi melalui penerapan Standard Operational Procedur (SOP untuk menghasilkan produk yang beraya saing. Disamping itu perlu dilakukan efisiensi rantai pasokan dengan penataan, pembegian keuntungan yang proporsional pada simpul-simpul dalam rantai serta fasilitasi infrastukrtur ekonomi yang diperlukan seperti akses jalan dan akses pasar. Keuntungan ekonomi dapat pula diperoleh dengan mendorong deversifikasi usaha seperti home industry melalui pembuatan juice, sirup, manisan jeruk dan lain-lain.
Peningkatan keberlanjutan ekonomi dapat pula dilakukan dengan mengusahakan tanaman sela pada tanaman jeruk yang umurnya masih muda atau dibawah empat tahun. Hasil usahatani selain jeruk seperti penanaman tanaman sela dapat meningkatkan pendapatan petani dan mengatasi kesulitan ekonomi saat jeruk belum berproduksi. Penanaman tanaman sela padi gogo dan kacang tanah diantara tanaman jeruk muda dapat meningkatkan pendapatan petani sebesar 31% untuk tanaman padi gogo dan 99% untuk tanaman kacang tanah (Yunimar dan Syam, 2004). Selain memberikan keuntungan ekonomi, penggunaan tanaman kacang jogo dan kacang tanah terutama pada usahatani di lahan miring dapat menekan tinggi erosi tanah berturut-turut sebesar 22,41% dan 39,65% (Sumarni et.al. 2006).
Keberlanjutan ekonomi dalam pengembangan KSPJB dapat dilakukan dengan tetap mempertahankan keuntungan ekonomi melalui peremajaan tanaman yang sudah tidak produktif lagi. Berdasarkan keuntungan maksimum yang dicapai maka diperoleh umur ekonomis usahatani jeruk di Kabupaten Agam ialah pada tahun ke 12 dan 13, seperti disajikan pada Gambar 44.
-15000000 -10000000 -5000000 0 5000000 10000000 15000000 20000000 25000000 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20
Umur tanaman (tahun)
Profit (Rp.)
Gambar 44. Hubungan antara profit (keuntungan) dengan umur tanaman jeruk Pada Gambar 44 ditunjukkan bahwa profit (keuntungan) maksimum usahatani jeruk dicapai pada tanaman berumur 12-13 tahun. Pada tahun-tahun selanjutnya keuntungan mulai menurun, bahkan pada tahun ke 16 keuntungan mengalami penurunan secara drastis. Oleh karena itu, setelah periode keuntungan maksimum tercapai maka secara teknis petani harus mulai melakukan penggantian tanaman baru (peremajaan tanaman) agar tetap dapat mempertahankan keuntungan ekonomi yang berkelanjutan.
5.4.3. Validasi Keberlanjutan Ekonomi
Validasi hasil simulasi Rap-CITRUS menunjukkan bahwa daya penjelas atau koefisien determinasi (R2) dimensi ekonomi cukup tinggi ialah sebesar 0,95, yang berarti bahwa atribut-atribut yang disertakan memiliki peran yang cukup besar dalam menjelaskan keragaman dari model dimensi ekonomi yang dibangun. Begitu juga besarnya nilai S stress ialah 0,14 atau lebih rendah dari 0,25 yang berarti ketepatan konfigurasi titik-titik (goodness of fit) model yang dibangun untuk keberlanjutan dimensi ekonomi dapat merepresentasikan model yang baik (Alder et
al. 2003). Disamping itu, perbedaan nilai hasil penghitungan MDS dengan hasil analisis Monte Carlo yang relatif kecil ialah 0,04 menunjukkan bahwa hasil penghitungan MDS memiliki tingkat presisi yang tinggi (Kavanagh and Pitcher, 2004).