• Tidak ada hasil yang ditemukan

VI HASIL DAN PEMBAHASAN

6.4 Analisis Penetapan Tarif Air

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 23 Tahun 2006 tentang Pedoman Teknis dan Tata Cara Pengaturan Tarif Air Minum pada Perusahaan Daerah Air Minum terdapat biaya dasar yang merupakan biaya usaha yang dibagi volume air terproduksi setelah dikurangi dengan volume kehilangan air standar atau dengan kata lain sebagai jumlah air terdistribusi. Biaya pengelolaan PT Watertech Estate Cikarang yang meliputi biaya sumber air, biaya pengolahan air, biaya transmisi dan distribusi, biaya kemitraan, biaya umum dan administrasi dan biaya keuangan dalam periode satu tahun.

Produksi air bersih oleh PT Watertech Estate Cikarang setiap waktu membutuhkan biaya rutin yang dikeluarkan setiap periodenya oleh perusahaan tersebut. Biaya rutin yang dikeluarkan PT Watertech Estate Cikarang mencakup dua komponen yaitu biaya langsung dan biaya tidak langsung. Biaya langsung terdiri dari biaya yang terkait langsung dengan produksi air, yaitu biaya air baku, biaya penggunaan listrik, biaya bahan bakar dan pelumas, biaya bahan kimia, biaya pemeriksaan air, biaya pengurasan bak reservoir, biaya pemeliharaan, biaya tetap yang terkait dengan kontrak instalasi pengolahan air dan biaya tambahan lainnya. Terdapat biaya tidak langsung yang terdiri dari biaya gaji pegawai, tunjangan, iuran pensiun dan asuransi, biaya penyusutan, biaya pelatihan karyawan dan biaya tambahan lainnya.

Dari tabel 7 dibawah ini dapat dilihat biaya langsung dalam produksi air bersih PT Watertech Estate Cikarang bernilai Rp 1.441.242.132 sedangkan biaya tidak langsung yang terkait dengan biaya umum, administrasi dan keuangan bernilai Rp 4.082.877.741. Total biaya usaha dalam memproduksi air bersih oleh PT Watertech Estate Cikarang pada tahun 2013 adalah Rp 5.524.119.846.

Biaya retribusi air baku pada tahun 2013 dibayarkan setiap bulannya dengan total biaya retribusi air baku sebesar Rp 131.805.236 atau dengan rata-rata biaya retribusi/m3 adalah Rp 50/m3. Produksi air juga membutuhkan daya listrik baik untuk pengolahan air baku menjadi air bersih maupun untuk operasional dan kegiatan administrasi perkantoran perusahaan. Total biaya penggunaan listrik pada tahun 2013 adalah Rp 494.191.207. Solar digunakan oleh PT Watertech Estate Cikarang baik untuk pelumas maupun sebagai bahan bakar untuk

menghidupkan generator. Generator digunakan pada saat terjadi pemadaman listrik bergilir oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN), hal ini dilakukan agar pelanggan tetap mendapatkan pasokan air dari PT Watertech Estate Cikarang. Tabel 7 Biaya Usaha PT Watertech Estate Cikarang Tahun 2013

Komponen Biaya Usaha PT Watertech Estate Cikarang Tahun 2013

Jumlah Biaya (Rp/tahun) 1. Biaya Langsung Usaha

1.1 Biaya Air Baku

1.1.1 Biaya Retribusi Air Baku 131.805.236

1.1.2 Pajak Pengambilan/Pemanfaatan Air Permukaan 34.801.990

1.2 Biaya penggunaan Listrik 494.191.207

1.3 Biaya Bahan Bakar dan Pelumas 885.000

1.4 Biaya pemakaian Bahan Kimia dan Bahan Pembantu 255.934.000

1.5 Biaya Pengurasan Bak Reservoir 875.000

1.6 1.7

Biaya Pemeriksaan Air Biaya Penyusutan

1.021.000 465.183.599

1.8 Biaya Pemeliharaan Instalasi Pompa 1.561.000

1.9 Biaya Pemeliharaan Instalasi Listrik 19.875.700

1.11 Rupa-rupa Biaya Produksi Air Tanah 9.176.500

1.12 Pemeliharaan Bangunan dan Tanah 250.000

1.13 Biaya Pemeliharaan Instalasi Pengolahan Air 25.681.900

Total Biaya Langsung 1441.242.132

2. Biaya Tidak Langsung

1.1 Biaya Pegawai 1.170.538.764

1.2 Biaya Tunjangan 44.000.000

1.3 Iuran Pensiun dan Asuransi 18.338.950

Bunga dan Hutang Lancar 2.850.000.000

Total Biaya Tidak Langsung 4.082.877.714

Total Biaya Usaha 5.524.119.846

Sumber: PT Watertech Estate Cikarang (2014), diolah

Pada tahun 2013, komponen bahan kimia yang utama digunakan adalah PAC cair. PT Watertech Estate Cikarang juga melakukan uji coba bahan kimia lainnya yaitu PAC Powder dan Sudflok A pada akhir tahun 2013 yaitu bulan September, Oktober, November dan Desember. Uji coba bahan kimia ini dilakukan untuk mencapai efisiensi dalam produksi dan melakukan penekanan biaya produksi. Jumlah pemakaian bahan kimia total dan pemakaian bahan kimia pembantu adalah sebesar Rp 255.934.000. Evaluasi tarif ini merupakan evaluasi untuk tahun 2013, dimana pada periode ini perusahaan telah menetapkan kebijakan kenaikan tarif untuk pelanggan dan pembelian air baku untuk produksi air merupakan kontrak kerjasama antara PT Watertech Estate Cikarang dengan Perum Jasa Tirta II.

Tarif air pada dasarnya terbagi menjadi empat yaitu tarif rendah, tarif dasar, tarif penuh dan tarif yang ditetapkan berdasarkan ketetapan. PT Watertech Estate Cikarang memberlakukan penetapan tarif berdasarkan Peraturan Dalam Negeri Nomor 23 Tahun 2006 tentang Pedoman Teknis dan Tata Cara Pengaturan Tarif Air Minum pada PDAM yang terlampir pada Lampiran 3. Setiap PDAM pada dasarnya diberikan kebebasan dalam menentukan kebijakan jenis-jenis pelanggan untuk tiap kelompok berdasarkan kondisi objektif dan karakteristik pelanggan di daerah masing-masing asalkan sesuai dengan Permendagri No.23 tahun 2006. Seperti halnya perusahaan air pada umumnya, PT Watertech Estate Cikarang juga membagi lima kelompok penetapan tarif.

Tarif dasar memiliki nilai yang sama dengan biaya dasar dalam produksi air. Pelanggan yang memperoleh tarif air dalam kelompok tarif dasar tidak memperoleh subsidi dan tidak memberikan subsidi kepada pelanggan lainnya. Tabel 8 Perhitungan Tarif Dasar PT Watertech Estate Cikarang

No Uraian Satuan Jumlah Keterangan

1 Biaya Dasar A Total Biaya Usaha

(TBU)

Rp/tahun 5.524.119.846 Jumlah Total Biaya Usaha

B Volume Air Terjual

(VAT)

m3/tahun 1.953.293 Data bagian produksi

C Tingkat Kehilangan Air (TKA)

%/tahun 20 Rataan Kehilangan air

D Volume Kehilangan Air

(VKA)

m3/tahun 390.695 VKA=TKA x VAT

E Biaya Dasar Rp/m3 3.535 BD=TBU/(VAP-VKA)

2 Tarif Dasar

A Biaya Dasar (BD) Rp/m3 3.535

B Tarif Dasar (TD) Rp/m3 3.535 TD=BD

Sumber : PT Watertech Estate Cikarang (2014), diolah

Tabel 8 diatas memperlihatkan volume air yang terjual oleh PT Watertech Estate Cikarang tahun 2013 adalah sebesar 1.953.293 m3/tahun yang diperoleh dari bagian produksi PT Watertech Estate Cikarang. Tingkat kehilangan air yang digunakan rata-rata 20% dengan volume kehilangan air sebesar 390.659 m3/tahun. Biaya dasar didapatkan dari biaya usaha dibagi selisih antara volume air terproduksi dan volume kehilangan air. Biaya dasar produksi air per m3 adalah Rp 3.535. Tarif dasar adalah tarif yang sama dengan biaya dasar yang dikeluarkan, sehingga tarif dasar adalah Rp 3.535/m3.

Tabel 9 Perhitungan Tarif Rendah PT Watertech Estate Cikarang

No Uraian Satuan Jumlah Keterangan

Penetapan Tarif Rendah

A Tarif Dasar (TD) Rp/m3 3.535

B Volume Air Terjual (VAT) m3/tahun 892.213 data historis

E Subsidi pelanggan sosial umum (SSU) % 0,48

F Subsidi pelanggan sosial khusus (SSK) % 0,52

I Besarnya subsidi sosial umum (BSU) Rp/m3 1.697 BSU=SSUxTD

J Besarnya subsidi sosial khusus (BSK) Rp/m3 1.838 BSK=SSKxTD

M Total subsidi sosial umum (TSU) Rp/tahun 1.513.907.018 TSU=BSUxVAT

N Total subsidi sosial khusus (TSK) Rp/tahun 1.640.065.937 TSK=BSKxVAT

Q Rata-rata subsidi sosial umum (RSU) Rp/m3 1.697 RSU=TSU/VAT

R Rata-rata subsidi sosial khusus (RSK) Rp/m3 1.838 RSK=TSK/VAT

U Tarif rendah sosial umum (TRSU) Rp/m3 1.838 TRSU=TD-RSU

V Tarif rendah sosial khusus (TRSK) Rp/m3 1.697 TRSK=TD-RSK

Sumber : PT Watertech Estate Cikarang (2014), diolah

Tarif rendah berada dibawah tingkat tarif lainnya, hal ini karena merupakan tarif bersubsidi. Penetapan tarif diharapkan tidak lebih rendah dengan biaya produksi air. Subsidi ditetapkan agar dapat menutupi biaya produksi sekaligus mencapai ketersediaan air yang adil bagi seluruh masyarakat. Persentase subsidi dalam penelitian ini dibagi dua yaitu untuk pelanggan sosial umum (hidran umum, tempat ibadah, asrama yatim piatu) dan kelompok pelanggan sosial khusus (rumah sakit pemerintah, puskesmas, lembaga pendidikan sosial).

Besarnya subsidi diperoleh dari perkalian antara persentase subsidi dengan tarif dasar. Total subsidi untuk masing-masing kategori diperoleh dari mengalikan jumlah air yang terjual dengan besarnya masing-masing subsidi. Pada dasarnya berdasarkan Permendagri No.23 tahun 2006 hanya ada satu tarif rendah yang diperhitungkan. PT Watertech Estate Cikarang berdasarkan peraturan tarifnya membagi beberapa kelompok pelanggan, hal ini diperbolehkan karena masing- masing perusahaan penyedia jasa air memiliki keunikan masing-masing tergantung wilayah dan sistem manajemen pengelolaannya. Penetapan tarif penuh mengandung subsidi silang kepada pelanggan yang membayar tarif yang rendah.

Perhitungan total subsidi didapat dari selisih antara total penerimaan air berdasarkan tarif aktual dengan penerimaan air berdasarkan tarif dasar. Berdasarkan tabel 10, diperoleh besarnya total subsidi dengan tarif yang berlaku saat ini adalah Rp 453.042.830. Tingkat rata-rata subsidi pada tarif yang berlaku

saat ini adalah Rp 1.558/m3 yang diperoleh dari total subsidi dibagi dengan jumlah air yang terjual pada golongan pelanggan yang berada dibawah tarif dasar. Tabel 10 Perhitungan penerimaan air berdasarkan tarif aktual dan tarif dasar

Pelanggan Air terjual TR Aktual (Rp) TR Tarif Dasar (Rp)

Tarif baru Tarif lama

Kelompok I 193.815 387.630.000 193.815.000 685.136.025 Kelompok II 290.723 872.169.000 581.446.000 1.027.705.805 Kelompok III 839.891 3.359.564.000 2.519.673.000 2.969.014.685 Kelompok IV A 224.432 1.122.160.000 897.728.000 793.367.120 Kelompok IV B 170.994 1.025.966.400 854.972.000 604.465.204 Kelompok IV C 127.330 1.018.636.800 763.977.600 450.110.136 Kelompok V 106.108 1.061.080.000 848.864.000 375.091.780 Total 1.953.293 8.847.206.200 6.660.475.600 6.904.890.755

Total subsidi berdasarkan tarif baru (Rp) 453.042.830

Total subsidi berdasarkan tarif lama (Rp) 1.386.922.515

Sumber : PT Watertech Estate Cikarang (2014), diolah

Rata-rata subsidi silang merupakan jumlah subsidi yang diberikan pelanggan tarif penuh kepada tarif rendah. Perhitungannya diperoleh dengan membagi total subsidi yang didapatkan dengan volume air terjual. Total subsidi adalah jumlah subsidi untuk pelanggan sosial umum dan khusus sehingga didapatkan Rp 1.386.922.515 berdasarkan tarif lama dan Rp 453.042.830 berdasarkan tarif baru setelah adanya kenaikan tarif.

Berdasarkan mekanisme penetapan tarif dasar sebesar Rp 3.535/m3 maka terdapat lima kelompok pelanggan yang mendapatkan subsidi dengan total subsidi sebesar Rp 1.386.922.515 dan rata-rata subsidi sebesar Rp 1.047/m3. Setelah adanya kenaikan tarif, terdapat tiga kelompok pelanggan yang mendapatkan subsidi dengan total subsidi sebesar Rp 453.042.830 dan rata-rata subsidi adalah Rp 1.558/m3.

Dokumen terkait