VI HASIL DAN PEMBAHASAN
6.1 Analisis Pola Pemanfaatan dan Pengelolaan Sumberdaya Air
PT Watertech Estate Cikarang merupakan salah satu perusahaan yang bergerak dibidang pelayanan jasa penyediaan air bersih di wilayah Cikarang, Bekasi. Sumber air utama yang digunakan oleh PT Watertech Estate Cikarang berasal dari Saluran Sekunder Bulak Mangga. Sumber air baku yang berasal dari Saluran Sekunder Bulak Mangga diperoleh dengan sistem kontrak dengan Perusahaan Umum Jasa Tirta II dengan harga kontrak Rp 106,46/m3.
Air yang mengalir dari Saluran Bulak Mangga mengandung tingkat pencemaran yang tinggi. Pencemaran air permukaan yang tinggi ini karena banyak terdapat industri dan pemukiman di sepanjang aliran sungai. Faktor alam antara lain curah hujan dan banyaknya hari hujan juga berpengaruh terhadap kualitas dan kuantitas air baku yang akan diolah. Pada saat musim hujan tingkat kekeruhan air permukaan tinggi karena air bercampur dengan endapan tanah yang mengalami erosi. Pada saat musim kemarau air memiliki kuantitas yang lebih sedikit dan mengandung tingkat pencemaran yang tinggi. Tingkat pencemaran ini karena pada saat musim kemarau masyarakat kebanyakan melakukan aktivitas mencuci di sungai sehingga sabun cuci, deterjen dan bahan kimia lainnya lebih banyak. Pada dasarnya perbedaan musim tidak berpengaruh secara signifikan pada pasokan air baku karena pembelian air yang bersifat kontrak, namun berpengaruh pada penggunaan jenis dan jumlah bahan kimia.
Jumlah kapasitas produksi yang terpasang di PT Watertech Estate Cikarang adalah 80 liter/detik dengan jumlah fasilitas produksi sebanyak satu unit Instalasi Pengolahan Air (IPA). Kapasitas IPA yang sudah termanfaatkan saat ini hanya 50 liter/detik sehingga masih terdapat sisa kapasitas sebesar 30 liter/detik. Air baku yang berasal dari sungai kemudian diolah melalui penangkap air melalui pemompaan, kemudian melalui proses kimia dan pengendapan dilakukan pengolahan air baku dalam instalasi pengolahan air. Air yang ada kemudian disimpan di bangunan reservoir untuk sebelumnya dialirkan ke pelanggan.
PT Watertech Estate Cikarang melakukan pelayanan air bersih untuk wilayah Desa Telagamurni. Cakupan pelayanan untuk Desa Telagamurni sudah
mencapai 50% pelayanan dari target pelayanan kebutuhan air total dan potensi untuk meningkatkan pelayanan masih tinggi karena sumber air baku masih tersedia serta kebutuhan dan permintaan masyarakat yang tinggi. Sumber air penduduk masih terbatas karena kondisi air tanah dan air permukaan kurang baik serta adanya dukungan dari pemerintah Kabupaten Bekasi dalam operasionalnya. Perkembangan jumlah pelanggan air bersih PT Watertech Estate Cikarang meningkat sepanjang tahun sejak berdiri tahun 2010. Gambar diagram dibawah ini memperlihatkan perkembangan pelanggan PT Watertech Estate Cikarang dari tahun 2011-2014. 0 500 1000 1500 2000 2500 3000 3500 4000 4500 5000 Jan-1 1 Mar- 11 Me i-11 Jul-1 1 Sep -11 Nov- 2011Jan-1 2 Mar- 12 Me i-12 Jul-1 2 Sep -12 Nov 2012Jan-1 3 Mar- 13 Me i-13 Jul-1 3 Sep -13 Nov 2013 Jumlah Pelanggan
Gambar 4 Perkembangan Pelanggan PT Watertech Estate Cikarang Tahun 2011-2013 Sumber : PT Watertech Estate Cikarang (2014)
Diagram diatas memperlihatkan terjadi peningkatan jumlah pelanggan setiap bulannya. Adanya peningkatan jumlah pelanggan dan prospek peningkatan permintaan air kedepannya maka jumlah produksi juga meningkat setiap bulannya walaupun peningkatannya bersifat fluktuatif. Hal ini karena semakin menurunnya kualitas air dan sulitnya masyarakat sekitar memenuhi kebutuhan air bersih. Mahalnya biaya yang dikeluarkan masyarakat jika tetap bertahan menggunakan pompa di rumah membuat masyarakat lebih memilih untuk beralih menjadi pengguna jasa pelayanan penyediaan air bersih PT Watertech Estate Cikarang.
6.2 Analisis Struktur Produksi dan Biaya Pengelolaan Air
Peningkatan jumlah penduduk mengakibatkan tingginya jumlah kebutuhan air bersih. PT Watertech Estate Cikarang sebagai penyedia air bersih di Desa Telagamurni, Cikarang dituntut untuk dapat melayani pelanggan air bersih yang meningkat seiring dengan pertumbuhan penduduk dan pengembangan infrastruktur di kawasan industri. Proses yang higienis dan efisien dibutuhkan dalam penyediaan air bersih untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat dan faktor pendorong kehidupan ekonomi.
Pada pelaksanaannya, PT Watertech Estate Cikarang dihadapkan pada masalah efisiensi sehingga belum dapat melayani masyarakat secara optimal. Peluang penyediaan air di masa yang akan datang semakin besar namun tantangannya juga semakin berat. Keadaan dan sifat kualitas air membatasi pemanfaatan sumber daya air walaupun ketersediaan air permukaan dari waktu ke waktu relatif tetap. Konsumen air PT Watertech Estate Cikarang saat ini tidak hanya menuntut kuantitas air yang dihasilkan tetapi juga segi kualitas.
Pada bahasan berikut periode waktu yang digunakan adalah 36 bulan yaitu tahun 2011 sampai 2013 karena perusahaan ini baru beroperasi tahun 2011. Dalam kurun waktu tersebut telah terjadi kebijakan kenaikan tarif yang dilakukan oleh PT Watertech Estate Cikarang, sehingga perlu adanya analisis struktur prduksi serta biaya pengelolaan air pada perusahaan yang baru berdiri ini. Biaya pengelolaan air PT Watertech Estate Cikarang mengalami perubahan setiap waktu dalam aktivitas produksinya. Hal ini bergantung pada berbagai macam faktor yang mempengaruhinya, seperti jumlah air yang diproduksi. Jika suatu perusahaan berencana untuk meningkatkan produksinya, maka biaya pengelolaan juga akan mengalami peningkatan. Namun ada kalanya jika perusahaan berupaya untuk menurunkan produksi airnya, maka biaya pengelolaan tidak lantas mengalami penurunan, akan tetapi yang terjadi adalah biaya pengelolaan air akan tetap atau bahkan mengalami peningkatan.
Biaya pengelolaan air cenderung bersifat kaku atau stricky sehingga apabila telah mengalami kenaikan maka akan sulit untuk diturunkan kembali walaupun pemicu kenaikannya telah mengalami penurunan. Komponen biaya
pengelolaan air PT Watertech Estate Cikarang tahun 2011-2013 dijelaskan pada Lampiran 1.
Data tersebut menunjukkan bahwa komponen biaya pengelolaan mengalami fluktuasi setiap tahunnya. Namun terdapat sedikit perbedaan, yaitu biaya ekspansi cenderung mengalami penurunan. Sedangkan biaya tetap dan biaya variabel cenderung meningkat. Biaya ekspansi disini merupakan biaya yang dikeluarkan untuk investasi dalam rangka pengembangan kapasitas pelayanan perusahaan kepada masyarakat pelanggan. Yang termasuk antara lain aktiva tetap, aktiva tetap dalam penyelesaian, aktiva tetap tidak berfungsi, bahan instalasi, beban biaya yang ditangguhkan serta biaya sambungan baru yang belum diterima. Jumlah biaya ekspansi dipengaruhi oleh jumlah air yang ditawarkan dan banyaknya pelanggan baru. Rata-rata biaya ekspansi per bulan selama periode 2011-2013 sebesar Rp 306 586 517.
Tabel 5. Komponen Biaya Pengelolaan Air Tahun 2011-2013 Produksi Air (m3) Jumlah Pelang gan Biaya Ekspansi (Rp) Biaya Tetap (Rp) Biaya Variabel (Rp) Biaya Total (Rp) Rata-rata 54.258 2.758 306.586.517 411.434.146 1.001.289.412 1.719.310.074 Laju Pertumbuhan 20,6% 24,30% 9,48% 14,93% 19,36% 13,89% Jan11-Feb13 27,6% 19,94 % 12,18 % 20,38 % 27,67 % 19,07 % Mar13- Des13 30,3% 1,55 % 28,97 % 27,52 % 29,82 % 29,01 % Sumber : PT Watertech Estate Cikarang, 2014 (diolah)
Biaya ekspansi memiliki laju pertumbuhan sebesar 9,48 persen selama periode tiga tahun. Pada periode bulan operasional Januari 2011 sampai Februari 2013, laju pertumbuhan mencapai 12,18 persen, lebih kecil dibandingkan laju pertumbuhan pada periode setelah adanya kebijakan kenaikan tarif yaitu bulan Maret 2013 yang mencapai 28,97 persen. Artinya pada periode tersebut jumlah biaya ekspansi yang dikeluarkan lebih besar dibandingkan periode sebelumnya seiring dengan meningkatnya jumlah air yang diproduksi, serta biaya operasional pengembangan kapasitas pelayanan perusahaan kepada pelanggan setelah adanya kenaikan tarif.
Biaya tetap adalah biaya yang umumnya dikeluarkan secara tetap pada setiap tahun, namun kenyataan yang terjadi adalah jumlah biaya tetap juga mengalami fluktuasi. Kondisi ini terjadi akibat adanya pengaruh faktor ekonomi
di luar perusahaan seperti nilai inflasi yang berdampak pada kenaikan harga kebutuhan pokok operasional perusahaan. Rata-rata biaya tetap per bulan sebesar Rp 411 434 146 dengan laju pertumbuhan secara keseluruhan sebesar 14,93 persen. Pada periode sebelum adanya kebijakan kenaikan tarif, laju pertumbuhan sebesar 20,38 persen semantara periode setelah diterapkannya kebijakan kenaikan tarif, laju pertumbuhan mengalami peningkatan menjadi 28,97 persen per bulan.
Biaya variabel yang relatif meningkat setiap tahunnya dipengaruhi oleh nilai tukar rupiah dan tingkat inflasi. Sering terjadi biaya variabel yang meningkat pada bulan tertentu walaupun jumlah air yang diproduksi mengalami penurunan. Rata-rata biaya variabel per bulan secara keseluruhan sebesar Rp 1 001 289 412 dengan laju pertumbuhan sebesar 19,36 persen per bulan. Pada periode awal perusahaan beroperasi hingga sebelum ditetapkan kebijakan kenaikan tarif, laju pertumbuhan biaya variabel sebesar 27,67 persen. Hal ini lebih kecil dibandingkan laju pertumbuhan pada periode setelah adanya kenaikan tarif kepada pelanggan yaitu sebesar 29,82 persen per bulan. Peningkatan biaya penggunaan listrik dan bahan baku serta biaya operasional proses produksi air berpengaruh terhadap peningkatan jumlah biaya variabel setiap bulannya.
Dengan adanya fluktuasi yang terjadi pada komponen biaya pengelolaan air, maka hal ini berpengaruh juga pada biaya total. Biaya total dipengaruhi oleh besarnya biaya ekspansi, biaya variabel, dan biaya tetap serta jumlah air yang diproduksi. Berdasarkan tabel pada lampiran 1, dapat disimpulkan bahwa biaya total mengalami fluktuasi setiap bulannya. Namun pada bulan Desember tahun 2011, biaya total mengalami peningkatan yang cukup tajam. Hal ini disebabkan adanya peningkatan yang besar pada proses produksi sehingga berdampak pada biaya total. Rata-rata biaya total per bulan selama periode Januari 2011 hingga Desember 2013 sebesar Rp 1 719 310 074 dengan laju pertumbuhan sebesar 13,89 persen. Peningkatan laju pertumbuhan biaya total pengelolaan air PT Watertech Estate Cikarang terjadi pada periode setelah adanya kebijakan kenaikan tarif sebesar 29,01 persen.
Dari tabel pada Lampiran 1, dapat disimpulkan bahwa selama kurun waktu 2011-2013 secara keseluruhan komponen biaya pengelolaan dan produksi air mengalami pertumbuhan yang positif. Biaya pengelolaan secara keseluruhan
menunjukkan kondisi yang relatif meningkat setiap bulannya. Hal ini dapat diasumsikan bahwa meningkatnya biaya pengelolaan menunjukkan kondisi pengelolaan yang semakin membaik. Artinya telah terjadi peningkatan pelayanan setelah diterapkannya tarif baru dengan adanya penambahan fasilitas serta investasi perusahaan yang berujung pada kesejahteraan masyarakat.
6.3 Analisis Fungsi Produksi Air
Model fungsi produksi air PT Watertech Estate Cikarang dibangun oleh beberapa variabel yaitu jumlah air baku (m3), penggunaan bahan kimia total (Kg), dan penggunaan daya listrik (Kwh).
Tabel 6. Hasil Regresi Fungsi Produksi Air PT Watertech Estate Cikarang Tahun 2011-2013 Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t P- value Collinearity Statistics B Std.
Error Beta Tolerance VIF
(Constant) -67565,92 51739,70 -1,306 0,024 ln Air Baku 6838,317 5564,800 0,156 1,229 0,023 0,111 2,987 Ln Bahan Kimia -0,490 0,423 -0,071 -1,158 0,025 0,481 1,079 Ln Daya Listrik 165,215 20,711 0,870 7,977 0,000 0,151 2,611 R Square 0,957 Adjusted R Square 0,951 Durbin- Watson 1,295
Berdasarkan tabel tersebut maka dapat dilihat bahwa koefisien determinasi (R2) sebesar 95,7 % artinya keragaman produksi air PT Watertech Estate Cikarang dapat dijelaskan secara linier sebesar 95,7 % oleh variabel-variabel penjelasnya, sisanya sebesar 4,3 % digambarkan oleh variabel lain di luar model. Hasil uji keseluruhan (Uji F) terhadap persamaan menunjukan bahwa nilai P-value=0,000 < α=0,05 sehingga tolak H0 yang artinya model layak secara keseluruhan pada taraf nyata alpha 5 % atau variabel bebas berpengaruh nyata terhadap variabel tidak bebas secara bersama-sama.
Hasil analisis uji parsial (uji t) menunjukan bahwa variabel yang sudah memiliki cukup bukti berpengaruh nyata terhadap produksi air pada taraf nyata alpha 5 % adalah ln AB, ln BKT, dan ln PDL. ln AB memiliki P-value = 0,023 <
α = 5%, ln BKT memiliki P-value = 0,025 < α = 5% dan ln PDL memiliki P-value = 0,000 < α = 5%.
Berdasarkan hasil olahan regresi berganda yang telah ditransformasi maka didapatkan persamaan regresi sebagai berikut :
Ln PA = - 67.565,9 + 6.838,3 ln AB - 0,49 ln BKT + 165,2 ln PDL Keterangan:
Ln PA = Produksi air dalam Logaritma Natural (m3)
ln AB = Pemakaian air baku dalam Logaritma Natural (m3)
ln BKT = Pemakaian bahan kimia total dalam Logaritma Natural (Kg) ln PDL = Pemakaian daya listrik dalam Logaritma Natural (Kwh)
Interpretasi yang didapatkan untuk air baku menggunakan logaritma natural sehingga apabila ln air baku meningkat maka produksi air akan berubah sebesar parameternya. Hal ini juga dapat berarti apabila rata-rata ln air baku meningkat sebesar 1% maka akan merubah besarnya produksi air sebesar parameter dikalikan dengan 1/100.
Air baku memiliki pengaruh positif dan signifikan pada produksi air dimana interpretasinya adalah apabila rata-rata air baku naik sebesar 1% maka akan meningkatkan rata-rata produksi air sebesar 6.838,3 m3. Penggunaan daya listrik memiliki interpretasi secara statistik yaitu apabila rata-rata penggunaan daya listrik naik sebesar 1 % maka rata-rata produksi air akan naik sebesar 165,2 m3. Tingkat penggunaan bahan kimia memiliki tanda negatif artinya apabila rata- rata penggunaan bahan kimia naik sebesar 1 % maka rata-rata produksi air akan turun sebesar 0,49 m3. Adanya eror menunjukan bahwa nilai dari model merupakan nilai dugaan yang memiliki perbedaan dengan nilai pada data asli.
Berdasarkan hasil analisis regresi dapat diperoleh bahwa variabel yang berpengaruh nyata dan positif terhadap produksi air adalah banyaknya air baku yang digunakan serta jumlah pemakaian listrik. Penggunaan bahan kimia dalam model ini tidak berpengaruh secara statistik namun secara ekonomi bahan kimia dalam produksi air merupakan komponen penting, akan tetapi ketika terdapat variabel pencemaran didalamnya maka dapat dilihat bahwa pada dasarnya yang lebih berpengaruh adalah kualitas air yang akan diolah yang kemudian akan menentukan jumlah penggunaan bahan kimia.