BAB IV TEMUAN LAPANGAN
1 12. XI Sembung Wetan
E. Analisis Pengaruh Industri Alkohol terhadap Ekonomi
1. Keterkaitan Industri (Keterkaitan ke depan/ pemasaran hasil produksi maupun ke belakang/ asal bahan baku).
Menurut Hirschman pertumbuhan yang cepat dari satu atau beberapa sektor industri mendorong perluasan industri-industri lainnya yang terkait dengan industri yang lebih dahulu tumbuh.
Keterkaitan-keterkaitan ini (linkages) bisa keterkaitan ke depan dan keterkaitan ke belakang. Industri alkohol di Desa Bekonang merupakan industri rumah tangga yang dapat dikatakan sebagai industri hulu atau industri yang produksinya digunakan oleh industri lain sebagai bahan
commit to user
baku untuk proses produksi selanjutnya. Produksi alkohol ini (70-90 %) biasanya dijual dan dipasarkan untuk memenuhi permintaan pabrik kimia, pabrik rokok, keperluan farmasi dan rumah sakit. Industri alkohol ini berperan sebagai industri hulu karena industri lain menggunakan alkohol sebagai bahan baku untuk diproses atau diolah kembali. Hal ini disebut keterkaitan ke depan.
Keterkaitan kebelakang yaitu industri alkohol ini membutuhkan industri besar yaitu industri gula yang mengahasilkan limbah yang disebut dengan tetes tebu. Tetes tebu ini sudah tidak dapat diolah menjadi gula lagi sehingga tetes tebu merupakan limbah proses pengolahan tebu menjadi gula. Akan tetapi, bagi industri alkohol di Desa Bekonang, tetes tebu merupakan bahan baku utama yang kemudian dapat diolah menjadi alkohol. Menurut Scitovsky (Arsyad, 1992:92-93) mengatakan bahwa misalnya industri x melakukan investasi untuk memperluas kegiatannya, maka industri tersebut akan menguntungkan beberapa jenis perusahaanya. Jenis-jenis perusahaan yang akan dapat memperoleh eksternalitas ekonomi tersebut akan menguntungkan beberapa jenis perusahaan. Jenis-jenis perusahaan yang akan dapat memperoleh eksternalitas ekonomi keuangan dari industri x tersebut adalah :
1) Perusahaan-perusahaan yang akan menggunakan produksi x sebagai bahan mentah industri mereka karena harganya lebih murah.
2) Industri-industri yang menghasilkan bahan mentah bagi industri x. 3) Industri-industri yang menghasilkan barang komplementer untuk
barang yang diproduksikan industri x, karena dengan naiknya produksi dan penggunaan hasil industri x maka jumlah permintaan akan barang-barang komplementer tersebut bertambah.
4) Industri-industri yang menghasilkan barang-barang substitusi bahan mentah yang digunakan oleh industri x.
commit to user
Dari pendapat Scitovsky (Arsyad, 1992:92-93) tersebut maka dapat dilakukan analisis bahwa industri alkohol merupakan industri yang menguntungkan bagi perusahaan-perusahaan yang akan menggunakan produksi alkohol sebagai bahan mentah industri mereka dan selain itu harganya lebih murah dan keuntungan dari perusahaan lebih besar daripada memproduksi sendiri.
2. Analisis Pekerjaan Sampingan dan Utama Pengusaha Alkohol.
Analisis ini untuk mengetahui seberapa besar pengaruh industri alkohol terhadap jenis pekerjaan utama. Dengan keberadaan industri alkohol ini maka dapat diketahui apakah pekerjaan responden (sampel yang menjadi pengusaha alkohol) lebih banyak bekerja sebagai pengusaha alkohol ataukah memiliki pekerjaan lain untuk menambah pendapatan keluarganya. Berikut tabel untuk mengetahui menjadi pengusaha alkohol adalah pekerjaan utama atau sampingan bagi responden:
3. Analisis Perbandingan Keuntungan Produksi Alkohol 30 % dan 90 %. Untuk menganalisis keuntungan antara produksi alkohol 30 % dan 90 % adalah dengan melakukan perbandingan yaitu dihitung antara biaya produksi yang dikeluarkan dan pendapatan yang diperoleh dari produksi alkohol 30 % dan 90 %. Dengan perbandingan hal tersebut maka akan diketahui keuntungan mana yang lebih besar yang diperoleh pengusaha yang memproduksi alkohol kadar 30 % atau 90 %. Perhitungan dinyatakan bahwa setiap pengusaha alkohol memiliki larutan sebesar 200 liter dengan komposisi tetes tebu 60 %, air 60 %, sisa proses 60 %, ragi 20 %, maka perbandingan pendapatan antara kadar 30 % dengan kadar 90 % per hari Kontribusi pendapatan bersih pengusaha alkohol terhadap konsumsi, kemampuan menabung, kondisi perumahan, kepemilikan kendaraan pribadi dan tingkat pendidikan anak.
commit to user
a. Pendapatan Bersih Berdasarkan wawancara dengan 30 responden yang menjadi sampel maka dapat diketahui pendapatan bersih pengusaha alkohol. Pendapatan bersih dihitung dengan mengetahui biaya produksi baik biaya pegawai untuk buruh, pengeluaran bahan baku (tetes tebu, kayu bakar, soda api), biaya pemakaian air dan listrik. Pendapatan bersih pengusaha alkohol dianalisis dengan periode satu bulan. Dari diagram tersebut maka dapat diketahui bahwa terdapat 43,34 % pengusaha alkohol memiliki pendapatan bersih dari pengolahan alkohol antara Rp 2.000.000-Rp 3.000.000; 33,33 % pengusaha alkohol memiliki pendapatan bersih dari pengolahan alkohol antara Rp 1.000.000-Rp 2.000.000; dan 23,33 % pengusaha alkohol memiliki pendapatan bersih dari pengolahan alkohol > Rp 3.000.000.
b. Kontribusi pendapatan bersih terhadap konsumsi atau pengeluaran. Dengan pendapatan bersih tersebut maka pengusaha alkohol dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari yaitu kebutuhan untuk makan, sandang, papan, kendaraan atau transportasi, rekreasi, pendidikan, kesehatan, biaya tak terduga, dan lain-lain. Berikut besarnya konsumsi yang dikeluarkan oleh pengusaha alkohol setiap bulan:
Dari diagram pendapatan bersih dan diagram konsumsi pengusaha alkohol maka dapat dianalisis bahwa semakin meningkat jumlah pendapatan bersih/ bulan yang diterima pengusaha alkohol maka semakin meningkat pula jumlah konsumsi yang dikeluarkan setiap bulannya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Untuk pengeluaran kebutuhan makan, dari hasil wawancara kepada 30 pengusaha alkohol, menyatakan bahwa semua responden mampu mengkonsumsi daging/ telur/ susu lebih dari satu kali dalam seminggu.
commit to user
c. Kontribusi pendapatan bersih terhadap perumahan.
Berdasarkan wawancara dari responden yang menjadi sampel yaitu sebanyak 30 pengusaha alkohol maka dapat diketahui apakah kondisi rumah, pembangunan rumah dan perbaikan rumah berasal dari pendapatan hasil industri alkohol. Berikut hasil tabel yang menyajikan pernyataan responden :
Dari tabel dan diagram tersebut maka dapat dianalisis bahwa kondisi perumahan pengusaha alkohol sangat dipengaruhi oleh pendapatan dari hasil produksi alkohol. Hal ini dapat dilihat dari 67 % pengusaha alkohol untuk memenuhi keperluan fisik bangunan rumah (perbaikan dan pembangunan), berasal dari pendapatan hasil produksi alkohol. d. Kontribusi pendapatan bersih terhadap kepemilikan kendaraan pribadi.
Berdasarkan wawancara dari responden yang menjadi sampel yaitu sebanyak 30 pengusaha alkohol maka digunakan untuk mengetahui pengusaha alkohol memiliki kendaraan bermotor atau tidak, dan apabila memiliki kendaraan bermotor, maka dianalisis terkait kontribusi pendapatan alkohol terhadap kepemilikan kendaraan bermotor. Berikut hasil tabel yang menyajikan pernyataan responden: Dari tabel dapat diketahui bahwa semua pengusaha alkohol memiliki kendaraan bermotor. Kepemilikan kendaraan bermotor tiap-tiap pengusaha berbeda jenis dan jumlahnya. Jenis-jenisnya adalah sepeda motor, mobil dan truk kecil. Pengusaha alkohol yang memiliki truk kecil digunakan untuk membantu membeli bahan bahan baku ataupun untuk memasarkan hasil produksi. Setelah mengetahui kepemilikan kendaraan maka dapat dianalisis kontribusi pendapatan dari industri alkohol terhadap kepemilikan kendaraan tersebut.
commit to user
Berdasarkan wawancara dari responden yang menjadi sampel yaitu sebanyak 30 pengusaha alkohol maka digunakan untuk menganalisis kemampuan pengusaha untuk memberikan pendidikan kepada anak-anaknya. Berikut hasil tabel yang menyajikan pernyataan responden: f. Tingkat Kesejahteraan Pengusaha Alkohol.
Sesuai dengan analisis kontribusi pendapatan terhadap pengeluaran, perumahan dan kepemilikan kendaraan pribadi maka dengan mengacu pada pembagian tingkat kesejahteraan penduduk berdasarkan standar BKKBN, dapat dianalisis bahwa semua pengusaha alkohol termasuk keluarga sejahtera.
4. Pendapatan, Konsumsi (pengeluaran), Tabungan (Saving) Pekerja sebelum dan sesudah bekerja di industri alkohol.
a. Pendapatan Pekerja Sebelum dan Sesudah Bekerja di Industri
1) Perbandingan Pendapatan Pekerja Sebelum dan Sesudah Bekerja di Industri Alkohol
Berikut ini merupakan diagram yang menyatakan perbandingan pendapatan pekerja sebelum dan sesudah bekerja di industri alkohol:
2) Uji T Pendapatan Sebelum dan Sesudah Bekerja di Industri Alkohol
Dari tabel tersebut maka dapat dianalisis bahwa rata-rata pendapatan pekerja sebelum bekerja di industri alkohol adalah sebesar Rp 533.333,33 sedangkan sesudah bekerja di industri alkohol, rata-rata pendapatan pekerja adalah sebesar Rp 1.025.000,00
commit to user
b. Pengeluaran Pekerja Sebelum dan Sesudah Bekerja di Industri
1) Perbandingan Pengeluran Pekerja Sebelum dan Sesudah Bekerja di Industri Alkohol.
Berikut ini merupakan diagram yang menyatakan perbandingan pengeluaran pekerja sebelum dan sesudah bekerja di industri alkohol:
2) Uji T Konsumsi atau Pengeluaran Sebelum dan Sesudah Bekerja di Industri Alkohol.
Dari tabel tersebut maka dapat dianalisis bahwa rata-rata pengeluaran pekerja sebelum bekerja di industri alkohol adalah sebesar Rp 445.000 sedangkan sesudah bekerja di industri alkohol, rata-rata pendapatan pekerja adalah sebesar Rp 776.666,67.
commit to user BAB VI PENUTUP
A. Kesimpulan