BAB IV TEMUAN LAPANGAN
DAFTAR PUSTAKA
B. Pengaruh Lingkungan dalam Industri
1. Pencemaran Air
Dalam penelitian ini akan dibahas mengenai kondisi air sehingga dapat diketahui apakah kondisi air terjadi penurunan kualitas dan mengalami pencemaran air atau tidak. Pencemaran air yang dimaksud akan dijelaskan yaitu sebagai berikut :
Air dikatakan terjadi pencemaran akibat limbah yang dihasilkan dari proses industri apabila tidak sesuai dengan kondisi semulanya. (Wisnu Arya Wardhana. Dampak Pencemaran Lingkungan. 1995:74). Sedangkan menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 81 Tahun 2001 Bab I Pasal 1 butir (11), yang dimaksud dengan pencemaran air adalah masuknya atau dimasukannya makhluk hidup, zat, energi dan atau komponen lain ke dalam air oleh kegiatan manusia, sehingga kualitas air turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan air tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukannya. Menurut Wisnu Arya Wardhana, air limbah industri tidak boleh langsung dibuang ke lingkungan karena dapat menyebabkan pencemaran. Indikator atau tanda air lingkungan yang telah tercemar adalah adanya perubahan atau tanda yang dapat diamati
commit to user
melalui: suhu air, pH, warna, bau, endapan, bahan terlarut dan mikroorganisme.
a. Parameter Kualitas Air Secara Fisika 1) Suhu
Suhu dipengaruhi oleh musim, letak lintang, ketinggian dari permukaan laut, waktu dalam hari, sirkulasi udara, penutupan awan. Perubahan suhu berpengaruh terhadap proses fisika, kimia dan biologi.
Dalam kegiatan industri seringkali proses disertai dengan timbulnya panas reaksi atau panas dari suatu gerakan mesin. Agar proses industri dan mesin-mesin yang menunjang kegiatan tersebut dapat berjalan baik maka panas yang terjadi harus dihilangkan. Menghilangkan panas dilakukan dengan proses pendinginan oleh air. Air pendingin akan mengambil panas yang terjadi, kemudian air menjadi panas. Air yang menjadi panas tersebut kemudian dibuang ke lingkungan. Apabila air yang panas tersebut dibuang ke sungai maka air sungai akan menjadi panas.
Air sungai yang suhunya naik akan mengganggu kehidupan hewan air dan organisme air lainnya karena kadar oksigen yang terlarut dalam air akan turun bersamaan dengan kenaikan suhu. Padahal setiap kehidupan memerlukan oksigen untuk bernapas. Oksigen yang terlarut dalam air berasal dari udara yang secara lambat terdifusi ke dalam air. Semakin tinggi kenaikan suhu air maka semakin sedikit oksigen yang terlarut di dalamnya (Wisnu Arya Wardhana. Dampak Pencemaran Lingkungan.1995:75).
Kenaikan suhu air akan menimbulkan beberapa akibat sebagai berikut: jumlah oksigen terlarut di dalam air, kecepatan reaksi kimia meningkat, kehidupan ikan dan hewan lainnya terganggu,
commit to user
jika batas suhu yang mematikan terlampaui maka ikan dan hewan air lainnya akan mati (Fardiaz, 1992:22-23).
2) TSS (Total Suspended Solid)
Bahan buangan dari kegiatan industri yang berbentuk padat apabila tidak dapat larut sempurna akan mengendap di air. Padatan tersuspensi adalah padatan yang menyebabkan kekeruhan, tidak terlarut dan tidak dapat mengendap langsung. Padatan tersuspensi terdiri dari partikel-partikel yang ukuran maupun beratnya lebih kecil daripada sedimen (diameter >1 mm), Padatan tersuspensi dalam air umumnya terdiri dari fitoplankton, zooplankton, kotoran manusia, kotoran hewan, lumpur dan limbah industri (Sastrawijaya, 1991:98).
3) Warna, Bau dan Rasa Air
Air yang tercemar dapat diketahui dengan indikator fisika yaitu dengan mengetahui kondisi air yang berwarna dan cenderung keruh tidak seperti kondisi normal, dan air berubah menjadi bau. Kualitas estetika air tergantung pada kejernihannya dan karakteristik alirannya. Ada dua macam warna pada air yaitu apparent color (suspensi zat organik) dan true color (suspensi zat anorganik ). Debu, sedimen dan algae dapat mengurangi kualitas air secara fisik. Selain itu, keputusan kualitatif juga harus diambil terhadap kejernihan air, yaitu jernih, moderat, agak keruh atau keruh. Sedangkan dalam air yang bersih (fisik) tidak terdapat seperti rasa asin, manis, pahit dan asam. Begitu pula terhadap bau. Air dapat dikatakan bersih secara fisik apabila air tersebut tidak mengeluarakan bau, seperti bau amis, busuk, dan sebagainya. Timbulnya bau pada air lingkungan secara mutlak dapat dipakai
commit to user
sebagai salah satu tanda terjadinya pencemaran. Timbulnya endapan, koloidal, dan bahan terlarut.
b. Parameter Kualitas Air Secara Kimia 1) pH
Karakteristik air limbah juga dapat ditinjau dari pH, yang menyatakan keasaman atau alkalinitas dari suatu cairan encer dan mewakili konsentrasi hidrogen ionnya. Pengukuran pH adalah sesuatu yang penting dan praktis, karena banyak reaksi-reaksi kimia dan biokimia yang penting terjadi pada tingkat PH yang khusus dan dalam kisaran pH sempit (Mahida, 1993: 36-38).
Air normal yang memenuhi syarat untuk suatu kehidupan mempunyai pH berkisar antara 6,5-7,5. Air dapat bersifat asam atau basa tergantung pada besar kecilnya pH air atau besarnya konsentrasi ion Hidrogen di dalam air. Air yang mempunyai pH lebih besar dari normal akan bersifat basa.
Air limbah dan bahan buangan dari kegiatan industri yang dibuang ke sungai akan mengubah pH perairan yang pada akhirnya dapat mengganggu kehidupan organisme di dalam air (Wisnu Arya Wardhana. Dampak Pencemaran Lingkungan.1995:75). Nilai pH yang normal adalah sekitar netral yaitu antara 6-8, sedangkan pH air yang tercemar misalnya air limbah buangan berbeda-beda tergantung dari jenis limbahnya (Kristanto,2002 :73).
2) BOD (Biological Oxygen Demand)
BOD (Biological Oxygen Demand) atau kebutuhan oksigen biologis adalah jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh mikroorganisme di dalam air lingkungan untuk memecah (mendegradasi) bahan buangan organik yang ada di dalam air
commit to user
lingkungan. (Wisnu Arya Wardhana. Dampak Pencemaran Lingkungan. 1995:93).
Pemeriksaan BOD diperlukan untuk menentukan beban pencemaran akibat air buangan industri. Penguraian zat organis adalah peritiwa alamiah. Apabila suatu daerah air dicemari oleh zat organis, bakteri dapat menghabiskan oksigen terlarut dalam air, selama proses oksidasi tersebut dapat mengakibatkan kematian ikan-ikan dalam air dan keadaan menjadi anaerobik dan dapat menimbulkan bau busuk pada perairan tersebut (Alaerts dan Santika, 1984 :159).
Nilai BOD perairan dipengaruhi oleh suhu, densitas, plankton, keberadaan mikroba serta jenis dan kandungan bahan organik (Hefni Effendi, 2003 : 123).
3) COD (Chemical Oxygen Demand)
COD (Chemical Oxygen Demand) atau kebutuhan oksigen kimia adalah jumlah oksigen yang diperlukan agar bahan buangan yang ada di dalam air dapat teroksidasi melalui reaksi kimia (Wisnu Arya Wardhana. Dampak Pencemaran Lingkungan.1995:92). Angka COD merupakan ukuran bagi pencemaran air oleh zat-zat organik yang secara alamiah dapat dioksidasikan dengan proses kimia dan mengakibatkan berkurangnya oksigen terlarut di dalam air (Alaerts dan Santika. 1984 :149). Keberadaan bahan organik dapat berasal dari alam atau aktivitas rumah tangga dan industri. Nilai COD yang tinggi tidak sesuai untuk lahan pertanian dan perikanan. Nilai COD pada perairan yang tidak tercemar biasanya kurang dari 20 mg/ltr, sedangkan pada perairan tercemar dapat lebih dari 200 mg/ltr dan pada limbah industri dapat mencapai
commit to user
60.000 mg/ltr (UNESCO/WHO/UNEP, 1992 dalam Hefni Effendi, 2003 :127).
c. Baku Mutu
1) Baku Mutu Air Limbah/ Baku Mutu Limbah Cair
Menurut Peraturan Daerah Propinsi Jawa Tengah Nomor 10 Tahun 2004 Bab I Pasal 1 Butir (13), yang dimaksud baku mutu air limbah adalah ukuran batas atau kadar unsur pencemar dan atau jumlah unsur pencemar yang diperbolehkan keberadaannya dalam air limbah yang akan dibuang ke lingkungan.
2) Baku Mutu Air
Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2001 Bab I Pasal 1 butir (9), yang dimaksud baku mutu air adalah ukuran batas atau kadar makhluk hidup, zat energi atau komponen yang ada atau harus ada dan atau unsur pencemar yang ditenggang keberadaannya di dalam air.
3) Nilai Baku Mutu Air
Nilai baku mutu air dapat digunakan untuk mengetahui kadar unsur pencemar dari air limbah yang dihasilkan dari industri dan kadar unsur pencemar yang ada di sungai yang berhubungan langsung dengan buangan limbah industri.
Tabel 2.1. Baku Mutu Air Limbah
Menurut Perda Propinsi Jawa Tengah Nomor 10 Tahun 2004 Untuk Industri Alkohol/ Etanol.
No. Parameter Satuan Baku Mutu
1. TSS/ Total Suspended Solids Mg/L 100
2. pH - 6,0-9,0
3. COD/ Chemical Oxygen Demand Mg/L 300 4. BOD/ Biological Oxygen Demand Mg/L 100
commit to user
Tabel 2.2. Baku Mutu Air Sungai
Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2001
No. Parameter Satuan
Baku Mutu Klasifikasi Mutu Air Kelas II Klasifikasi Mutu Air Kelas III Klasifikasi Mutu Air Kelas IV 1. TDS Mg/L 1.000 1.000 2.000 2. TSS Mg/L 50 400 400 3. pH - 6-9 6-9 6-9
4. COD/ Chemical Oxygen
Demand Mg/L 25 50 100
5. BOD/ Biological Oxygen
Demand Mg/L 3 6 12
Sumber : Peraturan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2001.