• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN…

D. Analisis Penulis

Menimbang bahwa oleh karena Para Terdakwa dijatuhi pidana maka haruslah dibebani pula untuk membayar biaya perkara.

Memperhatikan Pasal 82 ayat (1) huruf b Jo Pasal 12 huruf b Undang-Undang RI Nomor 18 tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan dan Undang-Undang Nomor 8 tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana serta peraturan perundang-undangan lain bersangkutan.

Adapun yang menjadi amar putusan dalam perkara ini adalah:

1. Menyatakan terdakwa I M. Nasir C. Bin Caho, Terdakwa II Saddam Bin Puang Serang, Terdakwa III Abd. Latif alias Latif Bin Nurdin, dan Terdakwa IV Nurdin alias Sako Bin Sombala telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “Dengan sengaja melakukan penebangan pohon dikawasan hutan tanpa izin”;

2. Menjatuhkan pidana terhadap Para Terdakwa tersebut dengan pidana penjara selama 6 (enam) bulan dan 3 (tiga) hari;

3. Menetapkan masa penangkapan dan penahanan yang telah dijalani oleh Para Terdakwa masing-masing dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan;

4. Menetapkan barang bukti berupa

- 2 (dua) unit gergaji mesin (chainshaw);

- 8 (delapan) batang kulit kayu bekas olahan pohon pinus;

- 37 (tiga puluh tujuh) batang pohon pinus;

Dipergunakan dalam perkara terdakwa No.220/Pid.B/LH/2019/PN.Sgm;

5. Membebankan kepada Para Terdakwa tersebut untuk membayar biaya perkara masing-masing sejumlah Rp 5.000,- (lima ribu rupiah);

berlaku dengan mempertimbangkan aspek keadilan, kepastian dan kebermanfaatan hukumnya. Selain dari fakta persidangan, pembuktian, keterangan saksi, keterangan terdakwa, hakim juga telah menggali nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat sebelum menjatuhkan putusan. Di dalam persidangan para Terdakwa telah terbukti melakukan penebangan pohon tanpa izin dari pejabat yang berwenang.

Menurut analisis penulis, Hukum pidana materill memuat ketentuan-ketentuan dan rumusan tindak pidana, peraturan-peraturan mengenai syarat-sayarat tentang bilamana seseorang itu menjadi dapat dihukum, penunjukan dari orang-orang yang dapat dihukum dan ketentuan-ketentuan mengenai hukumanya sendiri. Sedangkan hukum pidana formil mengatur bagaimana caranya Negara dengan perantara alat-alat kekuasaanya menggunakan haknya untuk menghukum dan menjatuhkan hukumannya, dengan demikian ia memuat acara pidana.

Pertama yang harus dilihat dalam perkara ini adalah syarat formil dan materill surat dakwaan dan. Berdasarkan Pasal 143 ayat (2) KUHAP, yang menjadi syarat formil dari surat dakwaan yaitu berisi nama lengkap, tempat lahir, umur atau tanggal lahir, jenis kelamin, kebangsaan, tempat tinggal, agama dan pekerjaan tersangka, sedangkan syarat materilnya berupa uraian secara cermat jelas dan lengkap mengenai tindak pidana yang didakwakan dengan menyebutkan waktu dan tempat tindak pidana itu dilakukan. Jika dilihat dari surat dakwaan diatas, maka syarat formil dan materill surat dakwaan tersebut sudah memenuhi ketentuan yang diatur dalam KUHAP.

Dalam posisi kasus, surat dakwaan, tuntutan penuntut umum, pembuktian dan amar putusan diatas terdakwa telah secara sah dan terbukti telah melakukan tindak pidana penebangan pohon di kawasan hutan produksi tanpa hak atau tidak di lengkapi dengan surat izin dari pejabat yang berwenang sebagaimana diatur dalam Pasal 82 ayat (1) huruf b Jo Pasal 12 huruf b Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2013 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan.

Bahwa pasal yang didakwakan oleh penuntut umum adalah Pasal 82 ayat (1) huruf b Jo Pasal 12 huruf b UU No. 18 Tahun 2013 Tentang Pencegahan Dan Pemberantasan Perusakan Hutan sebagai berikut:

Pasal 82 ayat (1) huruf b:

Orang perseorangan yang dengan sengaja: melakukan penebangan pohon dalam kawasan hutan tanpa memiliki izin yang dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 huruf b.

Yang dimaksud dengan “pejabat yang berwenang adalah pejabat pusat dan daerah yang diberi wewenang oleh Undang-undang untuk memberikan izin.

Pasal 12 huruf b:

Setiap orang dilarang: melakukan penebangan pohon dalam kawasan hutan tanpa memiliki izin yang dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang.

Rumusan tindak pidana sebagimana yang didakwakan dengan unsur sebagai berikut:

1. Unsur orang perseorangan

Unsur ini menunjuk kepada seseorang sebagai subjek hukum yang perbuatannya dapat dipertanggung jawabkan, sehat secara jasmani dan rohani.

Terdakwa I M. Nasir C. Bin Caho, Terdakwa II Saddam Bin Puang Serang,

Terdakwa III Abd. Latif alias Latif Bin Nurdin, dan Terdakwa IV Nurdin alias Sako Bin Sombala dihadapkan ke persidangan sebagai terdakwa dalam perkara ini sebagaimana yang diuraikan dalam surat dakwaan, serta keterangan saksi-saksi dan keterangan terdakwa sendiri, benar bahwa para terdakwa sebagai pelaku dalam perkara ini dengan demikian unsur tindak pidana orang perseorangan ini telah terpenuhi.

2. Unsur dengan sengaja menebang pohon di kawasan hutan

Berdasarkan “teori kesengajaan” ada tiga yakni sengaja sebagai niat atau maksud, sengaja sebagai kepastian dan sengaja insaf akan kemungkinan, unsur dengan sengaja ini mempunyai maksud terdakwa mengetahui dan menghendaki.

Bahwa berdasarkan fakta persidangan keterangan saksi Putra syarif Bin Abd.

Rasyid dg. Tiro, Antonius Birana, Nihmal Yuding Kahar Bin Kahar dan Dahlan Bin Puang Bangka yang telah dibacakan didepan persidangan diperoleh fakta bahwa para Terdakwa I M. Nasir C. Bin Caho, Terdakwa II Saddam Bin Puang Serang, Terdakwa III Abd. Latif alias Latif Bin Nurdin, dan Terdakwa IV Nurdin alias Sako Bin Sombala telah sengaja melakukan penebangan pohon di dalam kawasan hutan produksi Dusun Matteko Kecamatan Tombolo Pao Kabupaten Gowa dengan menggunakan mesin chainsaw. Dengan demikian unsur tindak pidana ini terpenuhi.

3. Unsur tanpa memiliki hak atau izin dari pejabat yang berwenang.

Berdasarkan Pasal 1 angka 12 UU No. 18 Tahun 2013 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan memberikan definisi bahwa

yang di maksud dengan Izin pemanfaatan Hasil Hutan Kayu adalah izin usaha yang diberikan oleh Mentri untuk memanfaatkan hasil hutan berupa kayu pada hutan produksi malalui kegiatan pemanenan atau penebangan, pengayaan, pemeliharaan, dan pemasaran.

Bahwa berdasarkan keterangan saksi-saksi dan keterangan terdakwa serta barang bukti yang dihadirkan di persidangan, terdakwa tidak dapat menunjukkan kepemilikan izin penebangan kayu dan diperoleh fakta bahwa benar terdakwa I M. Nasir C. Bin Caho, Terdakwa II Saddam Bin Puang Serang, Terdakwa III Abd. Latif alias Latif Bin Nurdin, dan Terdakwa IV Nurdin alias Sako Bin Sombala tidak memiliki izin dari pihak yang berwenang yakni keputusan Mentri Kehutanan Nomor : SK-434/Menhut-II/2009 tanggal 23 Juli 2009 tentang penunjukan Kawasan Hutan dan Konservasi Perairan di wilayah Provinsi Sulawesi Selatan. Bahwa gambaran peta dari Dinas Kehutanan didalam berkas Penyidik diketahui bahwa lokasi dimaksud berada di dalam kawasan hutan produksi terbatas di dalam Areal IUPHHBK PT. Adi Mitra Pinus Utama Nomor:

I/L.15/PTSP/2018 tanggal 9 juli 2018. Sehingga tidak boleh ada kegiatan menebang pohon atau memanen atau memungut hasil hutan di dalam kawasan hutan tanpa izin dari pejabat berwenang. Dengan demikian unsur tindak pidana ini telah terpenuhi.

Berdasarkan uraian-uraian diatas sudah memenuhi unsur tindak pidana dan telah terbukti secara sah dan meyakinkan para terdakwa bersalah melakukan tindak pidana penebangan pohon tanpa hak atau izin dari pejabat yang berwenang, sesuai Dakwaan Jaksa Penuntut Umum dakwaan Pasa 82 ayat (1) huruf b Jo Pasal

12 huruf b UU No. 18 Tahun 2013 Tentang Pencegahan Dan Pemberantasan Perusakan Hutan. Dengan melihat fakta-fakta yang terungkap di persidangan yang ternyata tidak ditemukan adanya unsur pemaaf maupun alasan pembenar, dan para terdakwa mampu mempertanggung jawabkan perbuatannya.

Bahwa oleh karena itu terdakwa dinyatakan bersalah dan dijatuhi pidana, maka terdakwa harus dibebankan untuk membayar biaya perkara. Bahwa perlu dipertimbangkan tujuan pemidanaan menurut hukum pidana Indonesia yang berlandaskan Pancasila dan mengandung unsur-unsur yang bersifat kemanusiaan, edukatif dan keadilan.

Adapun rumusan masalah yang kedua, yaitu: Apakah pidana yang dijatuhkan oleh majelis hakim dalam Putusan No.219/Pid.B/LH/2019/PN.Sgm telah mendukung usaha perlindungan dan pelestarian hutan?.

Berdasarkan hasil wawancara penulis bersama Hakim yang memutus perkara tersebut dalam hal ini bapak Amiruddin, S.H.,M.H yang menjelaskan bahwa Hakim memandang telah mendukung upaya perlindungan dan pelestarian hutan dengan menyikapi bahwa kegiatan menebang pohon di kawasan hutan adalah kegiatan yang tidak dibenarkan apalagi kegiatan penebangan pohon tersebut tidak memiliki izin, sebagaimana telah di atur didalam undang-undang kehutanan, oleh karena itu Hakim menjatuhkan pidana kepada para Terdakwa, sekaligus sebagai bentuk upaya Hakim untuk memberikan pembelajaran bagi masyarakat agar tidak menebang pohon sembarangan.

Menurut analisis penulis, Hakim dalam memutus perkara berdasarkan asas bebas, jujur, dan tidak memihak, pertimbangan Hakim sebelum memutus

perkara itu sangat penting. Biasanya hal-hal yang dipertimbangkan itu berasal dari pertimbangan yuridis, sosiologis, dan filosofis. Hakim juga harus menjunjung tinggi tiga asas peradilan yaitu sederhana, cepat dan biaya ringan.

Setelah Majelis Hakim mendengarkan keterangan para saksi, keterangan terdakwa, melihat barang bukti dan memperoleh fakta hukum persidangan, sehingga Hakim berkeyakinan bahwa benar perbuatan terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana yang didakwakan oleh penuntut umum.

Dalam persidangan Hakim tidak menemukan bahwa terdakwa tidak mampu bertanggungjawab atas perbuatannya baik alasan pembenar ataupun pemaaf sebagai alasan yang dapat menghapuskan sifat melawan hukum dari perbuatan terdakwa.

Dari pertimbangan hakim diatas, perbuatan para terdakwa telah memenuhi unsur-unsur yang ada didalam Pasal 82 ayat (1) huruf b Jo Pasal 12 huruf b Undang-Undang RI Nomor 18 tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan dan segala ketentuan hukum yang bersangkutan.

Maka terdakwa di nyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan menurut hukum berdasarkan fakta-fakta hukum yang terungkap dipersidangan, telah melakukan tindak pidana “penebangan pohon tanpa hak atau izin dari pejabat yang bewenang”.

Adapun pertimbangan hakim dalam menjatuhkan putusan dilihat dari hal-hal yang memberatkan para terdakwa yaitu penebangan pohon dilakukan tanpa hak atau izin dari pejabat yang berwenang, sedangakan hal-hal yang

meringankan terdakwa adalah karena terdakwa belum pernah dihukum, terdakwa mengakui semua perbuatannya dan karena terdakwa adalah tulang punggung keluarga.

Sanksi yang dijatuhkan oleh majelis hakim telah sesuai dengan sanksi yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan, sehingga terdakwa dipidana dengan pidana penjara 6 (enam bulan) dan 3 (tiga hari) serta barang bukti berupa 2 (dua) unit gergaji mesin (chainshaw), 8 (delapan) batang kulit kayu bekas olahan pohon pinus, 37 (tiga puluh tujuh) batang pohon pinus.

Tujuan daripada pemidanaan adalah bukan semata-mata pembalasan dendam atas perbuatan yang telah dilakukan oleh terdakwa, tetapi agar mendidik dan membina terdakwa sehingga menjadi masyarakat yang taat hukum di kemudian hari, sehingga diharapkan terdakwa tidak melakukan perbuatan yang sama dikemudian hari, pemidanaan juga sebagai tindakan preventif, sehingga terdakwa dan orang lain tidak melakukan atau mengulangi perbuatan yang sama.

Oleh karena itu menurut penulis Hakim telah Mendukung Usaha Perlindungan dan Pelestarian Hutan dengan menjatuhkan pidana kepada para terdakwa tanpa mengesampingkan rasa kemanusiaan, edukatif dan keadilan serta kebermanfaatan dari hukum itu sendiri.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan uraian dari hasil pembahasan yang terdapat pada bab sebelumnya dan hasil penelitian yang telah diperoleh, maka penulis menarik kesimpulan, bahwa.

1. Dalam kasus tindak pidana penebangan pohon Sebagaimana dalam Putusan Nomor 19/Pid.B/LH/2019/PN.Sgm penerapan hukum pidana materill terhadap pelaku tindak pidana yang dilakukan oleh terdakwa I M. Nasir C. Bin Caho, Terdakwa II Saddam Bin Puang Serang, Terdakwa III Abd. Latif alias Latif Bin Nurdin, dan Terdakwa IV Nurdin alias Sako Bin Sombala sudah tepat. Perbuatan terdakwa telah memenuhi unsur-unsur yang didakwakan oleh penuntut umum, yaitu melakukan tindak pidana penebangan pohon tanpa hak atau izin dari pihak yang berwenang.

2. Adapun Hakim telah Mendukung Usaha Perlindungan dan Pelestarian Hutan. Secara yuridis terdakwa dengan sengaja melakukan penebangan pohon tanpa hak atau izin dari pihak yang berwenang diwilayah kawasan Hutan Produksi Kecamatan Tombolopao Kabupaten Gowa, dalam kasus ini hakim telah menjatuhkan pidana penjara kepada para terdakwa tanpa mengesampingkan unsur keadilan dan kebermanfaatan bagi para terdakwa dan umumnya kepada masyarakat agar menjadi pembelajaran

sekaligus sebagai upaya prepentif untuk mencegah perbuatan yang sama dikemudian hari.

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan diatas, maka penulis memberikan beberapa saran sebagai berikut:

1. Diharapkan sebagai warga Negara yang berpengetahuan dan bertanggung jawab perlunya kesadaran diri untuk menjaga dan melestarikan kawasan hutan agar kelak dapat dinikmati anak cucu kita.

2. Diharapkan bagi penegak hukum agar kiranya dapat lebih bijak menghadapi kasus-kasus ringan dan lebih mempertimbangkan aspek sosiologis masyarakat, serta memberikan hukuman yang seadil-adilnya.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Muis Yusuf, 2011, Hukum Kehutanan Di Indonesia, PT. Rineka Cipta, Jakarta.

Andi Hamzah, 2014, Asas-Asas Hukum Pidana, Cetakan Keempat, Rineka Cipta, Jakarta.

, 2017, Hukum Pidana Indonesia, Cetakan Pertama, Sinar Grafika, Jakarta.

Ariman.H.M.R., Raghib.F.,2016,Hukum Pidana, Cetakan Kedua, Setara Press, Malang.

Andi Zainal Abidin Farid, 2014, Hukum Pidana 1,Cetakan Ketiga, Sinar Grafika, Jakarta.

Dr. Wartiningsih, 2014, Pidana Kehutanan Keterlibatan dan Pertanggung Jawaban Penyelenggara Kebijakan Kehutanan, Setara Press, Jatim.

Frans Maramis, 2016, Hukum Pidana Umum Dan Tertulis Di Indonesia, Cetakan Ketiga, Rajawali Pers, Jakarta.

Joni, 2018, Model Penegakan Hukum Pembalakan Liar Menuju Kelestarian Lingkungan Hidup, Cetakan Pertama, Pustaka Pelajar.Yogyakarta.

Leden Marpaung, 2009, Asas-Teori-Praktik Hukum Pidana, Cetakan Keenam, Sinar Grafika, Jakarta.

Muhammad Ainul Syamsu, 2016, Penjatuhan Pidana Dan Dua Prinsip Dasar Hukum Pidana, Cetakan Pertama, Prenadamedia Group, Jakarta.

Ruslan Renggong, 2017, Hukum Pidana Khusus, Cetakan Kedua, Kencana, Jakarta.

, 2018, Hukum Pidana Lingkungan, Cetakan Pertama, Prenadamedia Group, Jakarta.

Salim H.S, 2006, Dasar-Dasar Hukum Kehutanan, Edisi Revisi, Sinar Grafika, Jakarta.

Supriadi, 2010, Hukum Kehutanan Dan Hukum Perkebunan Di Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta.

Dokumen terkait