BAB II TINJAUAN PUSTAKA
B. Pidana dan Pemidanaan
2. Jenis-Jenis Pidana
b. Hukum pidana merupakan bagian kecil (subsistem) dari sarana control sosial yang tidak mungkin mengatasi masalah kemanusiaan dan kemasyarakatan yang sangat kompleks (sebagai masalah sosio-psikologis, sosio-ekonomi, sosio-kultural dan sebagainya);
c. Pengunaan hukum pidana dalam menanggulangi kejahatan hanya merupakan “kurieren am symptom”, oleh karena itu hukum pidana hanya merupakan “pengobatan simptomatik” dan bukan pengobatan (kausatif);
d. Sanksi hukum pidana merupakan “remidium” yang mengandung sifat kontradiktif/pradoksal dan mengandung unsur-unsur serta efek samping yang negative;
e. Sistem pemidanaan yang bersifat pragmentair dan individual/personal, tidak bersifat structural/fungsional;
f. Keterbatasan jenis sanksi pidana dan sistem perumusan sanksi pidana yang bersifat kaku dan imperative;
g. Bekerjanya/berfungsinya hukum pidana memerlukan sarana pendukung yang lebih bervariasi dan lebih menuntut biaya tinggi.
pokok dan pidana tambahan. Pidana tambahan hanya dijatuhkan jika pidana pokok dijatuhkan. Pidana itu ialah:33
a. Pidana pokok:
1. Pidana mati;
2. Pidana penjara;
3. Pidana kurungan;
4. Pidana denda;
5. Pidana tutupan (KUHP terjemahan BPHN, berdasarkan Undang-undang Nomor 20 Tahun 1946).
b. Pidana tambahan:
1. Pencabutan hak-hak tertentu;
2. Perampasan barang-barang tertentu;
3. Pengumuman putusan hakim.
Adapun penjelasan dari jenis-jenis pidana di atas adalah:
a. Pidana Pokok:
1) Pidana Mati
Hukum pidana tidak pernah melarang orang mati, akan tetapi akan melarang orang menimbulkan kematian, karena perbuatannya. Keberadaan pidana mati (death penalty) dalam hukum pidana (KUHP), merupakan sanksi yang paling tertinggi apabila dibandingkan dengan sanksi pidana lainnya. Dilihat dari rumusan-rumusan perbuatan di dalam KUHP, memperlihatkan bahwa ancaman pidana mati ditujukan atau dimaksudkan hanya terhadap perbuatan-perbuatan
33 Op.cit, Andi Hamzah, hlm. 178
yang sangat serius dan berat. Pidana mati (doodstraft) adalah pidana yang merampas satu kepentingan hukum, yakni jiwa atau nyawa manusia.34
Penentang yang paling keras pada pidana mati adalah C. Beccaria, ia menghendaki supaya di dalam penerapan pidana lebih memerhatikan perikemanusiaan.beliau meragukan apakah Negara mempunyai hak untuk menjatuhkan pidana mati, keraguannya ini didasarkan pada ajaran “kontrak sosial”.
Beberapa alasan dari mereka yang menentang hukuman mati antara lain adalah sebagai berikut:35
1. Sekali pidana mati dijatuhkan dan dilaksanakan, maka tidak ada jalan lagi untuk memperbaiki apabila ternyata di dalam keputusannya hukum tersebut mengandung kekeliruan.
2. Pidana mati itu bertentangan dengan perikemanusiaan.
3. Dengan menjatuhkan pidana mati akan tertutup usaha untuk memperbaiki terpidana.
4. Apabila pidana mati itu dipandang sebagai usaha untuk menakut-nakuti calon penjahat, maka pandangan tersebut adalah keliru karena pidana mati biasanya dilakukan tidak di depan umum.
5. Penjatuhan pidana mati biasanya mengandung belas kasihan masyarakat yang dengan demikian mengundang protes-protes pelaksanaannya.
6. Pada umumnya kepala negara lebih cenderung untuk mengubah pidana mati dengan pidana terbatas maupun pidana seumur hidup.
34 Ariman.H.M.R. dan Raqhib.F., hlm. 294-295
35 Op.cit, Teguh Prasetyo, hlm. 118-119
Adapun alasan-alasan bagi mereka yang cenderung untuk mempertahankan adanya hukuman atau pidana mati mereka mengemukakan pendapatnya sebagai berikut:36
1. Dipandang dari sudut yuridis dengan dihilangkannya pidana mati, maka hilanglah alat yang penting untuk penerapan yang lebih baik dari hukum pidana.
2. Mengenai kekeliruan hakim, itu memang dapat terjadi bagaimanapun baiknya undang-undang itu dirumuskan. Kekeliruan itu dapat diatasi dengan pertahapan dalam upaya-upaya hukum dan pelaksanaannya.
3. Mengenai perbaikan dari terpidana, sudah barang tentu dimaksudkan supaya yang bersangkutan kembali ke masyarakat dengan baik apakah jika dipidana seumur hidup yang dijatuhkan itu kembali lagi dalam kehidupan masyarakat.
2) Pidana Penjara
Pidana penjara adalah bentuk pidana yang berupa kehilangan kemerdekaan. Pidana penjara disebut pidana hilang kemerdekaan, bukan hanya dalam arti sempit bahwa ia tidak merdeka bepergian, tetapi juga narapidana itu kehilangan hak-hak tertentu seperti di bawah ini:37
a. Hak untuk memilih dan dipilih.
b. Begitu pula hak untuk memangku jabatan publik. Alasanya ialah agar publik bebas dari perlakuan manusia yang tidak baik.
36 Ibid.
37 Op.cit, Andi Hamzah, hlm. 187-189
c. Sering pula disyaratkan untuk bekerja pada perusahaan-perusahaan. Dalam hal ini, telah dipraktikkan pengenduran dalam batas-batas tertentu.
d. Hak untuk mendapat perizinan-perizinan tertentu. Misalnya saja izin usaha, izin praktik (seperti dokter, advokat, notaris dan lain-lain).
e. Hak untuk mengadakan asuransi hidup.
f. Hak untuk tetap dalam ikatan perkawinan. Pemenjaraan merupakan salah satu alasan untuk minta perceraian menurut hukum perdata.
g. Begitu pula hak kawin.
Sekarang ini jika terhadap seseorang dikenakan pidana penjara, maka ia akan ditempatkan dalam Lembaga Pemasyarakatan dan terhadapnya diterapkan sistem pemasyarakatan. Dengan demikian, jenis pidananya tetap bernama pidana penjara, tetapi pelaksanaan pidana penjara itu berdasarkan sistem pemasyarakatan.
Adapun beberapa sistem dalam pidana penjara, yaitu:38
1. Pensylvanian system: terpidana menurut sistem ini dimasukkan dalam sel-sel tersendiri, ia tidak boleh menerima tamu baik dari luar maupun sesama narapidana, ia tidak boleh bekerja di luar sel satu-satunya pekerjaan adalah membaca buku suci yang diberikan padanya. Karena pelaksanaanya dilakukan di sel-sel maka disebut juga cellulaire system.
2. Auburn system: pada waktu malam ia dimasukkan dalam sel secara sendiri-sendiri, pada waktu siangnya diwajibkan bekerja dengan narapidana lainnya, tetapi tidak boleh saling berbicara di antara mereka, bisa disebut dengan silent system.
38 Op.cit, Teguh Prasetyo, hlm. 120-121
3. Progressive system: cara pelaksanaan pidana menurut sistem ini adalah bertahap, biasa disebut dengan English/ire system.
3) Pidana Kurungan
Sifatnya sama saja dengan pidana penjara, yakni sama-sama bersifat merampas kemerdekaan orang. Secara yuridis pidana ini lebih ringan dari pidana penjara. (lihat Pasal 69 KUHP: Berat pidana pokok ditentukan oleh urutannya dalam Pasal 10).
Terhadap pidana kurungan ini yang dianggap oleh pembentuk undang-undang lebih ringan dari pidana penjara dan ini sekaligus merupakan perbedaan antara kedua pidana itu, ialah:39
1. Batas umum maksimum pidananya:
a. penjara: maks. 15 tahun, dapat dinaikkan 20 tahun.
b. kurungan: maks. 1 tahun, dapat dinaikkan 1 tahun 4 bulan.
2. Pidana penjara umumnya diancamkan untuk kejahatan dengan sengaja, sedangkan kurungan untuk kejahtan yang tidak di sengaja (culpose misdrijven) dan pelanggaran.
3. Pedana penjara dapat dilaksanakan di mana saja, kurungan hanya di tempat narapidana.
4. Jam kerja pidana penjara 9 jam sehari, pidana kurungan hanya 8 jam.
5. Satu hal yang tidak ada dalam pidana penjara ialah apa yang dimaksud dalam Pasal 23 KUHP: orang yang dijatuhi pidana kurungan boleh
39 Op.cit, Ariman.H.M.R. dan Raqhib.F., hlm. 300-301
memperbaiki nasibnya dengan biaya sendiri. Patut dicatat lembaga ini disebut lembaga “pistole”.
4) Pidana Denda
Pidana denda adalah hukuman berupa kewajiban seseorang untuk mengembalikan keseimbangan hukum atau menebus dosanya dengan pembayaran sejumlah uang tertentu. Minimum pidana denda adalah Rp.0,25 (dua puluh lima sen) x 15, meskipun tidak di tentukan secara umum melainkan dalam pasal-pasal tindak pidana yang bersangkutan dalam Buku I dan Buku II KUHP. Di luar KUHP biasanya ditentukan adakalanya dalam 1 atau 2 pasal bagian terakhir dari undang-undang tersebut, untuk norma-norma tindak pidana yang ditentukan dalam pasal yang mendahuluinya.
Jika terpidana tidak mampu membayar pidana denda yang dijatuhkan kepadanya, maka dapat diganti dengan pidana kurungan. Pidana ini kemudian disebut pidana kurungan pengganti, maksimal pidana kurungan pengganti adalah 6 bulan, dan boleh menjadi 8 bulan dalam hal terjadi pengulangan, perbarengan atau penerapan Pasal 52 atau Pasal 52a KUHP.40
5) Pidana Tutupan
Dasar hukum diformulasikannya pidana tutupan ini dalam KUHP terdapat di dalam Undang-Undang RI 1946 No. 20, Berita Republik Indonesia tahun II No. 24. Dalam ketentuan Pasal 2 ayat (1) dinyatakan bahwa: Dalam mengadili orang yang melakukan kejahatan yang diancam pidana penjara, karena terdorong oleh maksud yang patut dihormati, Hakim boleh menjatuhkan pidana
40 Op.cit, Teguh Prasetyo, hlm. 123
tutupan. Pidana ini tidak boleh dijatuhkan bila perbuatan itu atau akibatnya sedemikian rupa, sehingga Hakim menimbang pidana penjara lebih pada tempatnya.
Tempat dan cara menjalankan pidana ini diatur tersendiri dalam PP 1948 No.8. dalam peraturan ini narapidana diperlakukan jauh lebih baik dari pada pidana penjara, antara lain: uang rokok, pakaian sendiri, dan sebagainya. Sayang sekali Rumah Tutupan itu hingga sekarang belum ada, sehingga praktis, pidana tutupan tidak dapat di jalankan, dan memang hanya baru satu kali Hakim menjatuhkannya.41
b. Pidana Tambahan
1) Pencabutan Hak-hak Tertentu
Pidana tambahan berupa pencabutan hak tertentu tidak berarti hak terpidana dapat dicabut. Pencabutan tersebut tidak meliputi pencabutan hak-hak kehidupan dan juga hak-hak-hak-hak sipil (perdata) dan hak-hak-hak-hak ketatanegaraan.
Dahulu dikenal pidana terhadap kehormatan dan yang paling berat ialah pidana kematian perdata, yang dalam UUD 1950 dahulu tegas dilarang.
Menurut Vos, pencabutan hak-hak tertentu itu ialah suatu pidana di bidang kehormatan, berbeda dengan pidana hilang kemerdekaan, pencabutan hak-hak tertentu, dalam dua hal:
a) tidak bersifat otomatis, tetapi harus ditetapkan dengan putusan hakim;
41 Op.cit, Ariman.H.M.R. dan Raqhib.F., hlm. 302
b) tidak berlaku seumur hidup, tetapi menurut jangka waktu menurut undang-undang dengan suatu putusan hakim.42
Hak-hak yang dapat dicabut itu tercantum dalam Pasal 35 ayat (1) yaitu:
a) hak menjabat segala jabatan atau jabatan tertentu (pemberhentian dari jabatan, berdasarkan putusan Hakim itu dilakukan oleh atasan yang bersangkutan);
b) hak masuk Angkatan Bersenjata (A.B.);
c) hak pilih: aktif dan pasif;
d) hak jadi penasehat, wali, wali pengawas, kurator anaknya;
e) kuasa bapak, wali dan curatele atas anak (No.4 dan 5 ini tidak dapat dilakukan atas orang yang berlaku B.W., Pasal 35 ayat (2);
f) hak melakukan pekerjaan tertentu.
2) Perampasan Barang-barang Tertentu
Pidana perampasan merupakan pidana kekayaan, seperti halnya juga pidana denda.Diantara pidana tambahan, maka pidana tambahan berupa perampasan barang barang tertentu ini yang banyak dijatuhkan. Pasal 39 menentukan dalam hal apa pidana perampasan barang-barang tertentu ini dapat dijatuhkan.
Barang-barang yang diperoleh dari kejahatan disebut: “corpora delicti”, dan menurut keputusan M.A tanggal 13 November 1962 barang-barang yang dibeli dengan uang hasil kejahatan termasuk corpora delicti.43
3) Pengumuman Putusan Hakim
42 Op.cit, Andi Hamzah, hlm. 199-200
43 Ibid. Hlm. 303
Pengumuman putusan hakim yang dimaksud ialah publikasi ektra dari putusan Hakim itu.Hakim bebas menentukan di mana atau bagaimana publikasi itu harus dijalankan.Biayanya dibebankan kepada narapidana. Maksud pidana ini ialah disamping mencegah orang lain berbuat jahat, juga supaya masyarakat umum berhati-hati. Tidak tiap putusan dapat dipublikasikan ekstra itu, tetapi hanya yang tegas disebutkan dalam undang-undang.44
Jenis pidana dalam RUU KUHP baru menjadi lain, sesuai dengan perkembangan sistem pemidanaan, yang tersebut dalam Pasal 58, yaitu sebagai berikut.45
1. Pidana Pokok:
Ke-1 pidana penjara;
Ke-2 pidana tutupan;
Ke-3 pidana pengawasan;
Ke-4 pidana denda;
Ke-5 pidana kerja sosial (community service).
Urutan pidana pokok di atas menentukan berat ringannya pidana.Pidana mati diatur di dalam pasal berikutnya, Pasal 59 menagatakan pidana mati bersifat khusus.Pidana tambahan juga diatur di dalam pasal lain, yaitu Pasal 60, sebagai berikut.
2. Pidana Tambahan:
Ke-1 pencabutan hak-hak tertentu
Ke-2 perampasan barang-barang tertentu dan tagihan;
44 Ibid, hlm. 304-305
45 Op.cit, Andi Hamzah, hlm. 179
Ke-3 pengumuman putusan hakim;
Ke-4 pembayaran ganti kerugian;
Ke-5 pemenuhan kewajiban adat.
Pidana tambahan hanya dijatuhkan apabila tercantum secara tegas dalam perumusan tindak pidana.Pidana tambahan berupa pemenuhan kewajiban adat dan pencabutan hak yang diperoleh korporasi dapat dijatuhkan oleh hakim sesuai dengan kebutuhan walaupun tidak tercantum dalam perumusan tindak pidana. Pidana tambahan untuk percobaan dan pembantuan adalah sama dengan tindak pidananya.
Dalam yurisprudensi tentang hukuman, berdasarkan Putusan Mahkamah Agung RI tanggal 11 Mei 1970 Nomor 59 K/Kr/1969, Mahkamah Agung berpendapat antara lain sebagai berikut. “Menambah jenis hukuman yang ditetapkan dalam Pasal 10 KUHP adalah tidak dibenarkan”.Dan juga Putusan Mahkamah Agung RI tanggal 26 September 1970 Nomor 74/K/Kr/1969, Mahkamah Agung berpendapat sebagai berikut.“Pengadilan negeri sebagai hakim pidana tidak berwenang menjatuhkan putusan selain yang ditentukan dalam Pasal 10 KUHP”.46