• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis peragam (ANCOVA tebal lemak punggung

Curcumin Sifat Kimia dan Fisika

Curcumin berwarna kuning atau kuning jingga, berbentuk serbuk dengan sedikit rasa pahit, larut dalam aseton, alkohol, asam glasial dan alkali hidroksida. Curcumin tidak larut dalam air dan dietil eter, dan mempunyai aroma yang tidak bersifat toksik (Kiso 1985).

Curcumin mempunyai rumus molekul C21H20O6 dengan bobot molekul 368, desmetoksi Curcumin rumus molekul C20H18O5 dengan bobot molekul 338, diduga gugusan aktif dari Curcumin terletak pada gugus metoksi. Gugus hidroksil fenolat yang terdapat dalam struktur Curcumin kemungkinan menyebabkannya mempunyai aktivitas antibakteri. Asai dan Miyazawa (2000), menggunakan metode kromatographi menentukan komposisi Curcumin seperti yang terlihat pada Gambar 2.

Gambar 2 Struktur kimia Curcumin (Asai dan Miyazawa 2000)

Sifat kimia Curcumin yang menarik adalah terjadi perubahan warna akibat perubahan pH lingkungan. Dalam suasana asam, Curcumin mengalami degradasi bila proses pengeringan dengan menggunakan sinar matahari langsung diperlihatkan oleh perubahan warna yang lebih gelap. Dibandingkan dengan pengeringan tanpa terkena sinar matahari, oleh sifat foto sensitif ini maka kandungan Curcumin akan lebih rendah bila pengeringan dilakukan dengan cara penjemuran sinar matahari langsung.

Isolasi

Isolasi Curcumin dapat dilakukan dengan berbagai metode dan variasi. Sidik et al. (1985), melakukan penelitian berbagai teknik isolasi basah dan kering, cara kering dilakukan menggunakan pelarut organik, sedangkan cara basah

dengan menggunakan zat aktif permukaan seperti zat hasil penyabunan antara oleum riuni dan natrium hidroksida. Isolasi Curcumin dengan cara basah ini dilakukan dengan mencampur zat aktif dengan rimpang direfluks lalu disaring, pada filtrat ditambahkan asam sitrat hingga pH 6 lalu dibiarkan pada keadaan dingin, setelah terjadi pengendapan sempurna dalam waktu sekitar 24 jam, endapan Curcumin disaring dan dikeringkan.

Pelarut organik yang digunakan pada isolasi cara kering adalah eter minyak tanah, n-heksan, benzen, alkohol, dan aseton. Dua cara kering yang terbaik untuk memperoleh Curcumin yang tinggi adalah: menggunakan teknik soxletasi dengan aseton sebagai pelarut ekstrak aseton diuapkan hingga diperoleh endapan, kemudian endapan dicuci dengan eter minyak tanah lalu dikeringkan, dan dengan cara teknik refluks dengan etanol sebagai pelarut lalu disaring panas- panas, filtrat dipekatkan sehingga terjadi endapan Curcumin yang dikeringkan setelah pencucian dengan eter minyak tanah. Hasil Curcumin yang diperoleh dengan cara ini sekitar 18 – 19.9% (Sidik et al. 1985).

Aspek Farmakokinetik

Mutu dan pengendalian suatu bahan aktif tergantung pada kinetik bahan tersebut dalam tubuh yang dipengaruhi oleh absorpsi, distribusi, metabolisme dan sekresi bahan tersebut.

Ravindranath dan Chandrasekhara (1980), melakukan percobaan pada tikus putih selama dua minggu dengan pemberian 400 mg Curcumin per ekor per hari, setelah satu jam pemberian diperoleh sekitar 90% Curcumin terakumulasi di dalam lambung dan usus halus, dan setelah 24 jam kadarnya tinggal 1%, absorpsi dalam usus halus 3 - 7 jam setelah pemberian melalui oral. Setelah lima hari sekitar 40% Curcumin diekskresikan melalui tinja, dan sisanya 60% diabsorpsi oleh tubuh, pemeriksaan distribusinya dalam pembuluh darah portal hati dan ginjal. Penelitiannya juga menunjukkan, bahwa Curcumin tidak dieksresikan melalui urin.

Aktivitas Kolagoga

Di Indonesia terutama oleh penduduk pulau Jawa, ekstrak atau seduhan rimpang temulawak telah digunakan sebagai obat untuk mengatasi gangguan

12

fungsi empedu seperti kolestiasis dan koleretis, atau untuk mengatasi gangguan pencernaan seperti kembung perut.

Steineger dan Hansel (1972), menemukan bahwa rimpang temulawak mempunyai aktivitas kolagoga, yaitu meningkatkan produksi dan sekresi empedu yang bekerja kolekinetik dan koleretik. Kalk dan Nielsen (1932), menyatakan Curcumin selain mempunyai aktivitas koleretik dan kolekinetik, ekstrak temulawak juga mempunyai pengaruh pada usus duabelas jari.

Ramprasad dan Sirsi (1956), melakukan penelitian dengan menggunakan anjing sebagai hewan percobaan, pemberian 5 mg natrium Curcuminat per kg bobot badan secara intravena ternyata meningkatkan sekresi empedu sebesar 13- 36% yang persisten selama 30 menit. Peningkatan dosis dengan kelipatan dua menyebabkan peningkatan sekresi empedu sebesar 30 - 60% selama 40 - 80 menit. Puncak sekresi empedu dicapai 10 menit setelah penyuntikan, kemudian menurun secara bertahap. Pemberian hingga dosis 25 mg/kg bobot badan tidak menunjukkan gejala toksis atau efek samping pada tekanan darah maupun sistem pernafasan.

Ekskresi Kolesterol

Kolesterol adalah sterol yang terdiri dari struktur cincin dasar dengan nukleus siklopentanoperhidrofenantrent. Kolesterol berperan sebagai precursor dari pembentukan hormon steroid, estrogen dan testosteron juga sebagai precursor dari perubahan asam empedu yang disintesa dalam hati yang berfungsi untuk menyerap trigliserida dan vitamin yang larut dalam lemak (Muchtadi et al. 1993).

Empedu diproduksi oleh sel hati kemudian masuk kedalam duodenum untuk membantu proses penyerapan. Empedu selain mengandung air, juga mengandung garam empedu, pigmen empedu, kolesterol dan lipida (Hadi 1983), dengan meningkatkan sekresi empedu, maka ekskresi melalui feses juga meningkat, menyebabkan ekskresi kolesterol juga meningkat sehingga diperoleh ternak yang sehat untuk konsumsi manusia dengan rendah kolesterol. Rao et al. (1970), menemukan bahwa tikus betina putih bobot 45 - 50 g umur 45 hari, diberikan 0.1 – 0.5% Curcumin dalam ransum selama tujuh minggu,

menunjukkan peningkatan ekskresi asam empedu dan kolesterol melalui feses, pada akhir penelitian kadar kolesterol darah dan sel hati menunjukkan penurunan.

Bowman (1983), mengadakan penelitian pada delapan penderita kelainan hati dengan pemberian 9.6 mg Curcumin, setiap 10 menit sekresi empedu diamati, ternyata terjadi peningkatan sekresi empedu yang terlihat nyata pada penurunan bilirubin, kolesterin dan lipase pada penderita. Secara umum peningkatan sekresi cairan empedu akan menyebabkan partikel padat dalam empedu berkurang, berdasarkan ini Curcumin mempunyai prospek baik untuk digunakan pada gangguan metabolisme lemak yang berhubungan dengan metabolisme kolesterol.

Djamhuri (1981), melakukan penelitian untuk membandingkan obat penurun kolesterol Atromid dengan Curcumin dari temulawak terhadap enam ekor anjing dewasa bobot 10 - 12 kg, diperoleh hasil bahwa dosis Atromid 75 dan 400 mg/kg bobot badan selama tiga hari menemukan penurunan kadar kolesterol darah yang tidak berbeda nyata pada kedua dosis tersebut.

METODE PENELITIAN

Waktu dan Tempat

Penelitian berlangsung selama tujuh bulan, dari bulan September 2005 sampai Maret 2006. Uji biologi ransum dilaksanakan di Laboratorium Penelitian Koperasi Peternakan Babi Indonesia PT. Obor Swastika Kecamatan Cisarua Kabupaten Bandung. Analisis sampel penelitian dilakukan di Laboratorium Pasca Panen, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pertanian Bogor.

Materi Penelitian Ternak

Penelitian ini menggunakan 20 ekor ternak babi jantan kastrasi berumur dua bulan (lepas sapih) dengan rataan bobot awal 16 + 0.70 kg dan koefisien variasi 4.24%.

Perlengkapan

Perlengkapan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kandang individual yang dilengkapi dengan water nipple dan tempat makan. Perlengkapan lain adalah timbangan berkapasitas 10 dan 150 kg, masing-masing untuk menimbang ransum dan ternak babi, karung penyimpanan ransum, sekop kecil dan besar, kantong plastik, ember, kamera, pita pengukur, plastik transparan dan milimeter blok berskala cm2 untuk mengukur luas loin eye area, obat cacing, termometer, penggaris untuk mengukur tebal lemak punggung dan kerangkeng besi untuk tempat menimbang ternak.

Ransum

Bahan makanan yang digunakan untuk menyusun ransum penelitian ini adalah jagung, dedak padi, tepung ikan, bungkil kelapa, tepung tulang, bungkil kedelai, dan premix. Curcumin yang berasal dari ekstraksi tepung kunyit diperoleh dari perusahaan farmasi PT. Phytochemindo Reksa, Jakarta. Penyusunan ransum dilakukan berdasarkan pada kebutuhan zat-zat makanan yang dianjurkan National Reserarch Council (1998).

Susunan ransum starter dan grower-finisher yang digunakan selama penelitian beserta kandungan zat makanan dari ransum percobaan terdapat pada Tabel 2.

Tabel 2 Bahan penyusun dan kandungan zat makanan ransum penelitian

Periode Pertumbuhan Komposisi Nutrisi Starter NRC 98 Grower - Finisher NRC 98 Bahan Kering (%)* 88.45 89.50 Protein Kasar (%)* 18.69 18.00 15.99 15.50

Energi Metabolisme (kkal)** 3 146.00 3 165.00 3 121.80 3 165.00

Serat Kasar (%)* 5.81 5.00 5.84 5.00

Kalsium (%)* 0.62 0.60 0.52 0.50

Phosfor (%)* 0.82 0.50 0.72 0.45

Lemak Kasar (%)* 6.00 6.10

Komposisi Bahan Baku (%)

Jagung Lokal 45 46 Dedak Padi 26 27 Tepung Ikan 6 3.5 Bungkil Kelapa 18 19 Bkl. Kedelai 4 3.5 Tepung Tulang 0.5 0.5 Premix 0.5 0.5 Jumlah Total 100.00 100.00

Keterangan : * Hasil Analisis Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak, Fakultas Peternakan, UNPAD (2006).

** Hasil perhitungan.

Ransum perlakuan adalah ransum basal dan dengan penambahan beberapa taraf

Curcumin masing-masing seperti berikut: R0: Ransum Basal tanpa Curcumin

R1: Ransum Basal dengan 4 mg Curcumin/Kg Bobot Badan R2: Ransum Basal dengan 8 mg Curcumin/Kg Bobot Badan R3: Ransum Basal dengan 12 mg Curcumin/Kg Bobot Badan

Sebelum penelitian dimulai ternak babi diberikan obat cacing, untuk prakondisi dilakukan pemberian ransum pendahuluan selama satu minggu. Untuk menjaga kebersihan babi dimandikan setiap hari pada pagi dan siang hari sebelum ransum diberikan.

16

Perlakuan Curcumin pada Ternak dan Penentuan Dosis

Penggunaan tepung kunyit 1 – 1.5 % dalam ransum broiler ternyata mengurangi persentase lemak abdominal dan tidak mempengaruhi persentase bobot karkas dibandingkan broiler yang mengkonsumsi ransum tanpa kunyit (Ramdhan 1998). Pemberian tepung kunyit dengan taraf 2% dalam ransum memberikan pertumbuhan bobot badan broiler yang tinggi dibanding tanpa mengkonsumsi tepung kunyit (Aziz 1998), Pada kelinci jantan yang mengkonsumsi kunyit 1 – 1.5% dalam ransum tidak berpengaruh nyata terhadap konsumsi ransum, pertambahan bobot badan, tetapi memperbaiki efisiensi penggunaan ransum (Martini 1998).

Khususnya pada ternak babi, tepung kunyit (Curcuma domestica) digunakan 10% dalam ransum mengakibatkan efisiensi penggunaan ransum sangat rendah . Curcumin akan menjadi racun bila diberikan sebanyak 2.5 g/kg BB, demikian juga Bile et al. (1985) melaporkan mengenai pemberian Curcumin

dalam ransum babi, dengan dosis 60, 240 dan 1 551 mg/kg BB menunjukkan kerusakan ginjal, hati dan kelenjar tiroid. Sinaga (2003), melakukan penelitian penggunaan tepung kunyit dalam ransum babi grower dengan taraf 0.2 sampai 0.6% dalam ransum sebagai aditif berpengaruh meningkatkan persentase bobot karkas dan mengurangi tebal lemak punggung. Tebal lemak punggung terendah terdapat pada babi yang mengkonsumsi ransum yang mengandung tepung kunyit 0.4%. Pemberian 0.4% tepung kunyit dalam ransum babi grower setara dengan pemberian Curcumin 9 mg/ kg BB pada babi starter, 6 mg/kg BB pada babi

grower dan 5.14 mg/kg BB pada babi finisher.

Rancangan Penelitian

Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari empat perlakuan, yaitu dosis Curcumin sebanyak empat taraf (0, 4, 8 dan 12 ppm) dalam ransum, masing-masing terdiri dari lima ulangan, dengan demikian penelitian ini menggunakan 20 ekor ternak babi dan tiap ekor merupakan satu satuan percobaan.

Model matematik yang digunakan (Steel dan Torrie 1989) dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

Yij = µ + α

i

+ β (Xij)+ ε

ij Keterangan :

Yij = nilai harapan dari perlakuan ke-i pada ulangan ke-j µ = nilai rataan umum

αi = pengaruh perlakuan ke-i = 1, 2, 3, 4

β = koefisien regresi yang menujukkan ketergantungan Yij pada Xij Xij = pengukuran lama pemeliharaan yang dihasilkan perlakuan ke-i

pada ulangan ke-j yang berkaitan dengan Yij

εij = galat perlakuan ke-i pada ulangan ke-j = 1, 2, 3, 4, 5

Pelaksanaan kegiatan yang dilakukan dalam penelitian adalah kegiatan rutin seperti membersih kandang. Tiap pengadukan ransum diambil sampel untuk dianalisis dari setiap akhir periode pemeliharaan. Pemberian ransum dilakukan dua kali dalam sehari yaitu pagi dan sore hari, sedangkan penimbangan sisa ransum dilakukan pada pagi hari berikutnya. Penimbangan ternak babi dilakukan tiap dua minggu (14 hari) sekali. Pemberian ransum dan minum dilakukan ad libitum atau selalu tersedia agar ternak babi tersebut tidak kekurangan ransum dan air minum.

Pada awal penelitian, masing-masing ternak ditimbang untuk mengetahui bobot badan awal, dan dimasukkan kedalam kandang yang telah diberi nomor untuk memudahkan tatalaksana. Setelah itu ternak diadaptasikan selama satu minggu untuk beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang baru.

Data yang diperoleh dianalisa dengan analysis of covariance (ANCOVA) dengan bobot awal dan lama pemeliharaan sebagai kovariabel menggunakan program SAS dengan prosedur General Linear Model (GLM) karena ulangan yang tidak sama pada salah satu perlakuan (SAS 1990). Ulangan tersebut adalah pada ransum perlakuan R3 (taraf Curcumin 12 ppm) yang hanya menggunakan empat ulangan karena kesalahan teknis.

18

Parameter Penelitian

Peubah yang diamati dalam penelitian ini adalah:

1. Rataan Konsumsi Ransum Harian: Konsumsi ransum harian diperoleh dari banyaknya ransum yang dikonsumsi (dari awal perlakuan hingga mencapai bobot potong) dibagi dengan jumlah hari mencapai bobot potong.

2. Rataan Pertambahan Bobot Badan Harian: Pertambahan bobot badan harian diperoleh dari hasil penimbangan ternak saat mencapai bobot potong, dikurangi dengan penimbangan bobot badan awal, dibagi dengan jumlah hari mencapai bobot potong.

3. Efisiensi Penggunaan Ransum: Efisiensi pengunaan ransum diperoleh dari hasil bagi antara konsumsi ransum harian dengan pertambahan bobot badan harian dalam satuan waktu yang sama.

4. Karakteristik Karkas

a. Bobot Potong (kg), diperoleh dari hasil penimbangan terakhir sebelum ternak dipotong.

b. Bobot Karkas (kg), diperoleh setelah tubuh ternak dipisahkan dari isi rongga perut, bulu dan kepala yang disebut dengan karkas, kemudian karkas ditimbang sebelum mengalami proses pelayuan.

c. Persentase Karkas (%), diperoleh dari bobot karkas (BK) dibagi bobot potong (BP) dikali 100% atau (BK/BP x 100%).

d. Tebal Lemak Punggung (TLP, cm), diukur setelah ternak dipotong dan sudah menjadi karkas, dengan menggunakan alat penggaris pada tiga tempat pengukuran, yaitu diatas tulang rusuk pertama, diatas tulang rusuk terakhir dan tepat diatas persendian paha (Gambar 3). Hasil pengukuran dari tiga tempat tersebut dijumlahkan lalu dihitung rataannya, dan merupakan TLP babi bersangkutan.

e. Panjang Karkas (cm), diukur dari tulang rusuk pertama sampai aitch bone

dengan menggunakan alat meteran (Gambar 4).

f. Loin Eye Area (LEA), diperoleh dengan mengukur penampang otot

Longisumus dorsi yang terdapat diantara tulang rusuk ke-10 dan ke-11 seperti diperlihatkan pada Gambar 5. Pengukuran dilakukan dengan cara

melukis penampang tersebut lalu dipetakan pada plastik transparan kemudian dihitung luas LEA dengan menggunakan milimeter blok.

Gambar 3 Lokasi pengukuran tebal lemak punggung babi (National livestock and meat board 1973)

Gambar 4 Teknik pengukuran panjang karkas babi (National livestock and meat board 1973)

Gambar 5 Lokasi pengukuran loin eye area (LEA) (National livestock and meat board 1973)

20

5. Karakteristik Lemak

a. Lipida Lemak Tubuh, dalam peubah ini yang diukur adalah kolesterol dalam lemak tubuh

b. Lipida Darah, dalam peubah ini yang diukur adalah kadar total kolesterol, HDL, LDL dan trigliserida darah

c. Lipida Hati, dalam peubah ini yang diukur adalah kadar total kolesterol dalam hati.

Penentuan kolesterol dikerjakan dengan metode Liebermann- Burchard. Senyawa kompleks warna merah terbentuk dari hasil reaksi kolesterol dengan asam glacial-FeCl3 dalam asam sulfat pekat dan ditentukan dengan Spectrofotometer, model Spectronic 20+.Penentuan HDL menggunakan metode phosphotungstic acid/magnesium chlorid. Pengukuran trigliserida

menggunakan metode test kolorimetri enzimatik dengan glyserol

phosphateoxidase dan POD sebagai katalis indikator reaksi. Penentuan LDL = Kolesterol – ( Trigliserida/5) – HDL.

6. Bobot Hati (g), babi yang telah dikarkas dipisahkan hatinya, kemudian dilakukan penimbangan hati.

7. Bobot Empedu (g), diperoleh dengan menimbang empedu setelah dilakukan pemisahan empedu dari hati.

Pengaruh Curcumin terhadap Penampilan Produksi

Penampilan produksi ternak yang diamati (Lampiran 1) pada penelitian ini meliputi rataan konsumsi ransum harian, rataan pertambahan bobot badan harian dan efisiensi penggunaan ransum. Tabel 3 memperlihatkan rataan penampilan produksi dari masing-masing perlakuan. Pengaruh taraf pemberian Curcumin dalam ransum tidak nyata mempengaruhi penampilan produksi babi penelitian ini.

Tabel 3 Rataan penampilan produksi babi penelitian Penampilan Produksi Perlakuan Konsumsi Ransum (g/ekor/hari) PBBH (g/ekor/hari)

Efisiensi Penggunaan Ransum (feed/gain) R0 2 092.29 + 48.58 434.32 + 27.28 4.84 + 0.37 R1 2 120.59 + 57.63 435.81 + 46.28 4.90 + 0.44 R2 2 089.85 + 88.72 421.35 + 20.66 4.97 + 0.38 R3 2 055.74 + 123.76 421.80 + 18.66 4.88 + 0.37 KK (%) 3.55 3.83 4.04

Keterangan : PBBH = Pertambahan Bobot Badan Harian KK = Koefisien Keragaman

Rataan Konsumsi Ransum Harian

Hasil pengamatan selama penelitian menunjukkan bahwa rataan umum konsumsi ransum harian adalah 2 091.42 + 78.00 g/ekor/hari. Rataan konsumsi ransum harian tertinggi adalah ternak dengan perlakuan R1 (2 120.59 + 57.63 g/ekor/hari). kemudian diikuti secara berturut-turut oleh ternak dengan perlakuan R0 (2 092.29 + 48.58 g/ekor/hari), R2 (2 089.85 + 88.72 g/ekor/hari), dan R3 (2 055.74 + 123.76 g/ekor/hari). Secara biologis perbedaan konsumsi ransum akibat taraf penambahan Curcumin tidak nyata memberikan pengaruh.

Faktor yang mempengaruhi ternak dalam mengkonsumsi ransum, diantaranya adalah palatabilitas dan bentuk fisik ransum. bobot badan, jenis kelamin, temperatur lingkungan, keseimbangan hormonal dan fase pertumbuhan (Lubis 1963). Analisis ragam pada Lampiran 2 menunjukkan bahwa konsumsi tidak dipengaruhi oleh perlakuan taraf Curcumin dan lama pemeliharaan. akan

22

tetapi dipengaruhi (berbeda nyata P<0.05) oleh bobot awal. Berdasarkan analisis regresi diperoleh hubungan fungsional antara bobot awal/BA (g) dengan rataan konsumsi ransum harian/RKRH (g), dengan persamaan regresi sebagai berikut: RKRH = 3 017.48 – 0.056BA dan koefisien korelasi (R2 = 0.288). Persamaan regresi ini menunjukkan bahwa setiap kenaikan 1 g bobot awal akan mengurangi 0.056 g konsumsi ransum harian.

Penelitian terdahulu menyatakan bahwa konsumsi ransum ternak babi dari periode pertumbuhan hingga pengakhiran dengan efek pemberian serat kasar dalam ransum pada taraf 6.8% diperoleh rataan konsumsi ransum harian 1.7 kg/ekor (Sihombing 1997). Konsumsi ransum pada penelitian ini (2.09 kg) lebih banyak daripada penelitian tersebut. dimana kandungan serat kasar pada penelitian ini adalah 5.8%.

Rataan Pertambahan Bobot Badan Harian

Rataan umum pertambahan bobot badan harian adalah 427.89 + 29.03 g/ekor/hari. Hasil penelitian pada Tabel 3 memperlihatkan pertambahan bobot badan harian tertinggi adalah babi penelitian yang diberi perlakuan R1 (435.81 + 46.28 g/ekor/hari) diikuti oleh R0 (434.32 + 27.28 g/ekor/hari), R3 (421.80 + 18.66 g/ekor/hari) dan R2 (421.35 + 20.66 g/ekor/hari).

Laju pertumbuhan pada ternak babi dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya umur, nutrisi, lingkungan, bobot lahir dan penyakit. Analisis ragam pada Lampiran 3 menunjukkan bahwa konsumsi ransum tidak dipengaruhi oleh perlakuan taraf Curcumin dan bobot awal, akan tetapi dipengaruhi oleh lama pemeliharaan. Berdasarkan analisis regresi diperoleh hubungan fungsional yang erat antara lama pemeliharaan/LP (hari) dengan pertambahan bobot badan/PBB (g), dengan persamaan regresi PBB = 987 – 3LP dan koefisien determinasi (R2 = 0.756). Persamaan regresi ini menunjukkan bahwa penambahan satu hari pemeliharaan akan menurunkan pertambahan bobot badan harian sebanyak 3 g.

Peneliti terdahulu (Sihombing 1997), menyatakan bahwa pertambahan bobot badan ternak babi dari periode pertumbuhan hingga pengakhiran dengan efek pemberian serat kasar dalam ransum pada taraf 6.8% diperoleh pertambahan bobot badan 0.51 kg. Pertambahan bobot badan tersebut lebih baik jika

dibandingan dengan hasil penelitian ini. dimana kandungan serat kasar pada penelitian ini adalah 5.8% dengan konsumsi ransum harian yang juga lebih rendah.

Efisiensi Penggunaan Ransum

Efisiensi penggunaan ransum adalah hasil perhitungan dari pembagian rataan konsumsi ransum harian dengan rataan pertambahan bobot badan harian. Rataan umum efisiensi penggunaan ransum adalah 4.90 + 0.36. Semakin kecil nilai efisiensi penggunaan ransum yang diperoleh maka semakin efisien ternak babi menggunakan ransum tersebut. Data efisiensi penggunaan ransum menunjukkan perlakuan R0 (4.84 + 0.37) paling efisien dalam penggunaan ransum kemudian diikuti secara berturut-turut oleh perlakuan R3 (4.88 + 0.37). R1 (4.90 + 0.44). dan R2 (4.97 + 0.38).

Penelitian terdahulu menyatakan bahwa efisiensi penggunaan ransum ternak babi dari periode pertumbuhan hingga pengakhiran dengan efek pemberian serat kasar dalam ransum pada taraf 6.8% diperoleh efisiensi penggunaan ransum 3.3 (Sihombing 1997). Efisiensi penggunaan ransum tersebut lebih baik jika dibandingan dengan hasil penelitian ini, dimana kandungan serat kasar pada penelitian ini adalah 5.8% dengan penggunaan ransum yang lebih tidak efisien.

Analisis ragam pada Lampiran 4 menunjukkan bahwa efisiensi penggunaan ransum tidak dipengaruhi oleh perlakuan taraf Curcumin dan bobot awal, akan tetapi dipengaruhi oleh lama pemeliharaan. Berdasarkan analisis regresi diperoleh hubungan fungsional antara lama pemeliharaan/LP (hari) dengan efisiensi penggunaan ransum (EPR), dengan persamaan regresi EPR = -1.711 + 0.038LP dan koefisien determinasi (R2 = 0.671). Persamaan regresi ini menunjukkan bahwa penambahan satu hari lama pemeliharaan maka meningkatkan 0.038 efisiensi penggunaan ransum (feed/gain) sehingga semakin tidak efisien.

Pengaruh Curcumin terhadap Karakteristik Karkas

Karakteristik karkas yang diamati dalam penelitian ini mencakup bobot potong. bobot karkas, persentase karkas, panjang karkas, tebal lemak punggung

24

(TLP) dan Loin Eye Area (LEA). Data hasil penelitian tentang karakteristik karkas terdapat pada Lampiran 5, sedangkan rataan karakteristik karkas babi penelitian terlihat pada Tabel 4 Analisis ragam pada Lampiran 6 – 12 menunjukkan bahwa karakteristik karkas tidak dipengaruhi oleh perlakuan taraf Curcumin, bobot awal, dan lama pemeliharaan.

Tabel 4 Rataan karakteristik karkas babi penelitian

Karakteristik Karkas Perlakuan Bobot Potong (kg) Bobot Karkas (kg) Persentase Karkas (%) Panjang Karkas (cm) TLP (cm) LEA (cm2) R0 90.60+4.05 70.20+3.27 77.48+ 0.29 64.80+ 2.88 3.02+0.36 35.40+2.07 R1 91.50+3.91 71.72+2.99 78.39+ 0.89 65.60+ 1.19 2.86+0.29 36.00+2.35 R2 90.50+1.50 70.60+1.29 78.01+ 0.52 67.00+ 2.12 2.70+0.42 37.40+7.09 R3 91.63+2.07 71.80+1.68 78.36+ 0.65 66.25+ 1.26 2.95+0.23 38.50+4.43 KK (%) 3.18 3.25 0.86 2.93 12.47 11.08

Keterangan : TLP = Tebal Lemak Punggung LEA = Loin Eye Area

KK = Koefisien Keragaman

Pencapaian bobot potong tertentu dipengaruhi oleh banyak hal, diantaranya adalah faktor genetik, laju pertumbuhan, jenis kelamin, konsumsi ransum, efisiensi penggunaan ransum. dan lama pemeliharaan.

Rataan umum hasil penelitian bobot karkas adalah 71.04 + 2.40 kg dengan bobot karkas tertinggi R3 (71.80 + 1.68 kg), kemudian secara berurut diikuti oleh R1 (71.72 + 2.99 kg), R2 (70.60 + 1.29 kg), dan R0 (70.20 + 3.27 kg). Berdasarkan analisis regresi diperoleh hubungan fungsional yang erat antara bobot potong/BP (kg) dengan bobot karkas/BK (kg), dengan persamaan regresi sebagai berikut: BK= -0.978 + 0.79BP dan koefisien determinasi (R2 = 0.93). Persamaan regresi ini menunjukkan bahwa setiap kenaikan satu kg bobot potong akan meningkatkan bobot karkas sebesar 0.79 kg. Bobot potong yang tinggi tidak selalu menghasilkan bobot karkas yang tinggi atau sebaliknya karena bobot karkas dipengaruhi juga oleh bobot saluran pencernaan dan organ-organ yang tidak termasuk dalam karkas, ini terlihat pada perlakuan R0 dan R2.

Analisis regresi yang lain diperoleh hubungan fungsional antara rataan pertambahan bobot badan harian/PBB (g) dengan bobot karkas/BK (kg), dengan persamaan regresi BK= 45.61 + 59.92PBB dan koefisien determinasi (R2 = 0.52). Persamaan regresi ini menunjukkan bahwa setiap kenaikan satu kg pertambahan bobot badan harian akan meningkatkan bobot karkas sebesar 59.92 g.

Nilai persentase karkas (%) diperoleh dari bobot karkas dibagi bobot potong. Oleh karena itu, persentase karkas dipengaruhi oleh bobot organ dan saluran pencernaan ternak tersebut. Penelitian yang dilakukan oleh Whittemore dan Elsley (1976), menyatakan bahwa persentase karkas babi periode pengakhiran adalah 73% dari bobot hidup. Hasil penelitian menunjukkan rataan umum persentase karkas adalah 78.04 + 0.69%, dengan urutan dari tertinggi hingga terendah secara berurutan adalah perlakuan R1 (78.39 + 0.89%), R3 (78.36 + 0.65%), R2 (78.01 + 0.52%), dan R0 (77.48 + 0.29%).

Rataan umum panjang karkas adalah 65.89 + 2.04 cm dengan urutan dari yang terpanjang hingga yang terpendek adalah pada perlakuan R2 (67.00 + 2.12 cm), R3 (66.25 + 1.26 cm), R1 (65.60 + 1.19 cm), dan R0 (64.80 + 2.88 cm).

Pola panjang karkas ini cenderung diikuti oleh pola tebal lemak punggung Rataan umum tebal lemak punggung adalah 2.88 + 0.33 cm, dengan urutan dari yang paling tipis hingga paling tebal adalah R2 (2.70 + 0.42 cm), R1 (2.86 + 0.29 cm), R3 (2.95 + 0.23 cm), dan R0 (3.02 + 0.36 cm). Panjang karkas dan loin eye area dipengaruhi oleh bertumbuhan ruas-ruas tulang belakang (columna vertebralis) yang berada diantara batas-batas depan (tulang rusuk pertama) dan

Dokumen terkait