BAB IV ANALISIS MENGENAI EFEKTIVITAS MEDIASI DI
A. Analisis Peran Hakim Yang Bertugas Sebagai Mediator Terhadap
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti di Pengadilan Agama Sengeti, penerapan Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2016 Tentang Mediasi di Pengadilan, dalam proses mediasi di Pengadilan Agama Sengeti telah dilakukan secara maksimal dengan mengikuti semua prosedur dan ketentuan tanpa mengesampingkan unsur-unsur yang ada dalam Peraturan Mahkamah Agung tersebut, namun tingkat keefektifan dalam pemberlakuan Peraturan Mahkamah Agung Tentang Mediasi di Pengadilan ini masih jauh dari kata efektif. Angka keberhasilan mediasi yang ditunjukkan masih jauh dari ekspektasi yang diharapkan. Tingkat keberhasilan mediasi di Pengadilan Agama Sengeti dapat dilihat dalam buku laporan tahunan Pengadilan Agama Sengeti tahun 2017 yang tercatat bahwa Pengadilan Agama Sengeti telah melakukan upaya mediasi sebanyak 58 perkara, dengan rincian keberhasilan nihil atau 0% yang berarti bahwa dari 58 perkara keseluruhan mediasi pada tahun 2017 dinyatakan 100% gagal.57 Sedangkan untuk pelaksanaan mediasi di Pengadilan Agama Sengeti pada tahun 2018 tercatat dalam buku laporan 2018 bahwa Pengadilan Agama Sengeti telah melakukan upaya mediasi sebanyak 72 perkara dengan rincian sebanyak 8 atau 11,11% perkara dinyatakan berhasil dimediasi, sebanyak 62 atau 86,11 % perkara dinyatakan tidak berhasil dimediasi dan sebanyak 2 atau 2,78% perkara tidak dapat dimediasi.58
Berdasarkan teori efektifitas hukum yang dikemukakan oleh Soerjono Soekanto, efektif tidaknya suatu hukum ditentukan oleh 5 (lima)
57
Laporan Tahunan Pengadilan Agama Sengeti Kelas 1B Tahun 2017
58
unsur atau faktor.59 Pertama, faktor hukum itu sendiri atau subtansi hukum (legal subtance), dalam hal ini adalah Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2016 Tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan. Kedua, berkaitan dengan faktor penegak hukum atau format yang mencakup unsur-unsur kelembagaan, penegakan, pelayanan, pengelolaan hukum pada umumnya, seperti badan pembentuk undang-undang, peradilan, kepolisian, kejaksaan, dan administrasi negara yang mengelola pembentukan atau pemberian pelayanan hukum dan lain sebagainya. Ketiga, faktor sarana atau fasilitas yang mendukung penegakan hukum, faktor sarana atau fasilitas pendukung mencakup perangkat lunak dan perangkat keras sarana atau fasilitas pelayanan hukum dalam hal ini kaitannya dengan fasilitas ruang mediasi. Keempat, faktor dari masyarakat itu sendiri, berkenaan dengan sikap-sikap dan nilai-nilai terhadap hukum, sikap tersebut berkaitan dengan sikap budaya pada umumnya, karenanya akan memberi pengaruh baik positif maupun negatif kepada tingkah laku yang berkaitan dengan hukum. Kelima, yakni sebagai hasil karya, cipta dan rasa yang didasarkan pada karsa manusia di dalam pergaulan hidup. Kebiasaan yang hidup dalam masyarakat. Dari kelima unsur tersebut bisa menjadi alat ukur tingkat keberhasilan mediasi di Pengadilan Agama Sengeti. Berikut adalah penguraian mengenai analisa efektifitas mediasi:
1. Faktor Hukum Itu Sendiri (Undang-Undang)
Faktor hukum ini mencakup berbagai aturan formal, aturan yang hidup dalam masyarakat (the living Law) dan berbagai produk yang timbul akibat penerapan hukum. Subtansi hukum (legal substance) dalam hal ini adalah Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2016 Tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan. Landasan yuridis Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2016 adalah peraturan perundang- undangan, sehingga diakui keberadaannya dan mempunyai kekuatan hukum mengikat. Peraturan Mahkamah Agung merupakan pelengkap peraturan perundang- undangan yang lebih tinggi yaitu Undang-undang tentang
59
Soerjono Soekanto, Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penegakan Hukum, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2007), h. 8
Mahkamah Agung.
Salah satu kekuasaan dan kewenangan Mahkamah Agung yang berkaitan dengan pengawasan tidak langsung ialah membuat peraturan. Kekuasaan dan kewenangan itu diatur dalam Pasal 79 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 Tentang Mahkamah Agung sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2004 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung dan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009 tentang perubahan kedua atas Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung. Menyebutkan bahwa; “Mahkamah Agung dapat mengatur lebih lanjut hal- hal yang diperlukan bagi kelancaran penyelenggaraan peradilan apabila terdapat hal-hal yang belum cukup diatur dalam Undang-undang ini”. Dimana dalam penjelasannya berbunyi, “Apabila dalam jalannya peradilan terdapat kekurangan atau kekosongan hukum dalam suatu hal, Mahkamah Agung berwenang membuat peraturan sebagai pelengkap untuk mengisi kekurangan atau kekosongan hukum dalam jalannya peradilan”. Dalam hal ini peraturan yang dikeluarkan oleh Mahkamah Agung dibedakan dengan peraturan yang disusun oleh pembentukan Undang-undang. Penyelenggaraan peradilan yang dimaksudkan Undang - undang ini hanya merupakan bagian dari hukum acara secara keseluruhan.
Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2016 Tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan merupakan salah satu unsur yang mempengaruhi efektivitas pelaksanaan mediasi di Pengadilan Agama Sengeti. Dengan ditetapkannya Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2016 Tentang Mediasi di Pengadilan telah terjadi perubahan fundamental dalam praktek mediasi, terkhusus mediasi yang dilangsungkan oleh badan peradilan. Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2016 Tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan memiliki kekuatan hukum mengikat dan daya paksa dalam perkara perdata bagi para pihak yang berperkara di pengadilan, dimana jika ada para pihak yang tidak menempuh mediasi maka putusan pengadilan menjadi batal demi hukum.
Hal paling baru dari Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2016 ini adalah ditekankannya pada iktikad baik dari para pihak, dengan adanya iktikad baik inilah diharapkan proses mediasi akan berjalan dengan efektif dan efisien. Akibat hukum apabila tidak beriktikad baik dari penggugat maka gugatan dinyatakan tidak diterima oleh hakim pemeriksa perkara sebagaimana dijelaskan dalam pasal 22 Undang-Undang Nomor 01 Tahun 2016 tentang akibat hukum apabila para pihak tidak beriktikad baik dan juga dikenai kewajiban pembayaran biaya mediasi.
2. Faktor Penegak Hukum
Faktor penegak hukum berkaitan dengan bentuk atau format yang mencakup unsur-unsur kelembagaan, penegakan, pelayanan, pengelolaan hukum pada umumnya, seperti badan pembentuk undang-undang, peradilan, kepolisian, kejaksaan, dan administrasi negara yang mengelola pembentukan atau pemberian pelayanan hukum dan lain sebagainya. Yakni pihak-pihak yang membentuk maupun menerapkan hukum, dalam hal ini adalah hakim mediator dan pelayanan hukum yang ada.
Di dalam berfungsinya hukum, kemampuan dan profesionalitas petugas penegak hukum memainkan peranan yang tidak kalah penting, apabila peraturan dirasa sudah cukup baik, namun kualitas petugas masih kurang baik pasti akan menimbulkan suatu masalah. Oleh karena itu, salah satu kunci keberhasilan dalam penegakan hukum adalah kemampuan dan profesionalitas penegak hukum.
Hakim yang berperan sebagai mediator harus menjalankan tugasnya secara maksimal agar dapat menciptakan komunikasi yang efektif dengan para pihak. Komunikasi yang efektif dengan para pihak akan terbentuk apabila hakim dapat memahami kondisi psikologis para pihak, serta mampu membangun kedekatan dan rasa percaya antara satu sama lain. Perasaan aman dan nyaman adalah syarat mutlak dalam sebuah komunikasi, sehingga mediator dituntut dapat menciptakan suasana demikian, suasana demikian bisa dibentuk melalui pendekatan-pendekatan
tertentu yang dapat dikuasai oleh hakim.
Mediator memiliki peran menentukan dalam suatu proses mediasi, gagal tidaknya mediasi juga sangat ditentukan oleh peran yang ditampilkan mediator. Pasal 13 ayat (1) Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2016 Tentang Mediasi di Pengadilan disebutkan bahwa setiap mediator pada asasnya wajib memiliki sertifikat mediator yang diperoleh setelah mengikuti dan dinyatakan lulus dalam pelatihan sertifikasi mediator yang diselenggarakan oleh Mahkamah Agung atau lembaga yang telah memperoleh akreditasi dari Mahkamah Agung. Namun dalam praktiknya Pengadilan Agama Sengeti masih belum bisa memenuhi apa yang menjadi perintah dari pasal tersebut karena sebagian besar hakim yang bertugas dan ditunjuk sebagai mediator di Pengadilan Agama Sengeti belum memiliki sertifikat mediator dari Mahkamah Agung atau lembaga yang telah memperoleh akreditasi dari Mahkamah Agung.60
Salah satu unsur pendukung mediasi adalah kemampuan profesional mediator. Keadaan mediator di Pengadilan Agama Sengeti sampai saat ini masih didominasi oleh hakim yang diberi tugas untuk menjalankan fungsi mediator berdasarkan surat penetapan ketua pengadilan dalam hal tidak ada atau terdapat keterbatasan jumlah mediator bersertifikat tanpa keterampilan yang mumpuni dalam melaksanakan tugas mediator terutama yang belum pernah mendapatkan pelatihan mediator secara profesional.
Kemampuan profesional hakim sebagai mediator dipengaruhi oleh berbagai faktor yang diantaranya dapat berupa latar belakang pendidikan, pengalaman kerja hakim, dan pelatihan-pelatihan mediasi. Adapun di pengadilan Agama Sengeti kualifikasi hakim dengan pendidikan strata 1 dibidang hukum sebanyak 6 orang / 100% dari total 6 hakim sekaligus mediator yang tersedia di Pengadilan Agama Sengeti, kualifikasi hakim dengan pendidikan strata 2 dibidang hukum sebanyak 4 orang / 67% dan
yang memiliki sertifikat hakim mediator sebanyak 1 orang / 17% , selebihnya 5 orang / 83% hakim terdaftar belum memiliki sertifikat mediator. Hakim yang melaksanakan fungsi mediator dan telah bersertifikat paling tidak memiliki tingkat kemampuan dan keberhasilan lebih dibanding yang melaksanakan fungsi mediator namun tidak bersertifikat.61
Hakim yang melaksanakan fungsi mediator dan telah bersertifikat paling tidak memiliki tingkat kemampuan dan keberhasilan lebih dibanding yang melaksanakan fungsi mediator namun tidak bersertifikat.
3. Faktor Sarana atau Fasilitas Pelayanan yang Mendukung Penegakan Hukum
Faktor sarana atau fasilitas pendukung mencakup perangkat lunak dan perangkat keras, salah satu contoh perangkat lunak adalah pendidikan. Masalah perangkat keras dalam hal ini adalah sarana fisik yang berfungsi sebagai faktor pendukung. Apabila hal-hal itu tidak terpenuhi, maka mustahil penegakan hukum akan tercapai penegakannya.
Pasal 11 ayat 2 dan 3 Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2016 Tentang Mediasi di Pengadilan menyatakan bahwa Mediator Hakim dan Pegawai Pengadilan dilarang menyelenggarakan Mediasi di luar pengadilan dan Mediator non-hakim dan bukan Pegawai Pengadilan yang dipilih atau ditunjuk bersama-sama dengan Mediator Hakim atau Pegawai Pengadilan dalam satu perkara wajib menyelenggarakan Mediasi bertempat di pengadilan. Untuk itu pengadilan harus menyediakan fasilitas berupa ruangan dan fasilitas pendukung lainnya untuk melaksanakan kegiatan mediasi. Sarana dan prasarana yang baik mampu membangun kondisi yang nyaman dan kondusif, agar para pihak dapat lebih nyaman dan tenang dalam pelaksanaan mediasi. Perasaan aman dan nyaman adalah
syarat mutlak dalam sebuah komunikasi sehingga para pihak akan lebih santai dan lebih mudah untuk mengutarakan keterangannya secara lebih maksimal.
Fasilitas pelayanan hukum dalam hal ini kaitannya dengan fasilitas ruang mediasi, di Pengadilan Agama Sengeti hanya terdapat satu ruangan dengan ukuran yang tidak terlalu luas namun cukup nyaman dimana di dalamnya terdapat sebuah meja dan beberapa kursi yang biasa digunakan oleh mediator dan para pihak untuk melaksanakan proses mediasi, proses mediasi biasanya dilaksanakan dalam ruang tersebut dengan estimasi waktu kurang lebih 30 menit karena harus bergantian dengan yang lain yang sudah menunggu giliran dimediasi. Fasilitas ruang mediasi di Pengadilan Agama Sengeti yang mana hanya terdapat satu ruangan bisa dibilang kurang ideal dan tidak sebanding dengan jumlah para pihak berperkara yang akan melakukan mediasi. Dari faktor tersebut bisa menjadi kendala belum optimalnya proses mediasi di Pengadilan Agama Sengeti.
4. Faktor Perilaku Masyarakat Terhadap Penegakan Hukum
Salah satu faktor yang mengefektifkan suatu peraturan adalah warga masyarakat. Yang dimaksud di sini adalah kesadarannya untuk mematuhi suatu peraturan perundang-undangan, yang kerap disebut derajat kepatuhan. Derajat kepatuhan baru dapat diukur jika telah ada pengetahuan masyarakat terhadap hukum. Bila suatu peraturan perundang-undangan telah diundangkan dan diterbitkan menurut prosedur yang sah dan resmi, maka secara yuridis peraturan perundang-undangan itu berlaku. Kemudian timbul asumsi bahwa setiap warga masyarakat dianggap mengetahui adanya undang-undang tersebut, namun, asumsi tersebut tidaklah seperti demikian adanya.62
Kepatuhan masyarakat terhadap hukum sangat dipengaruhi oleh
62 Soerjono Soekanto, Penelitian Hukum Normatif: Suatu Tinjauan Singkat, (Jakarta: Raja Grafindo, 2001), h.64-67
kesadaran masyarakat terhadap hukum itu sendiri. dalam hal ini kesadaran para pihak mengenai pentingnya perdamaian atau mediasi di Pengadilan Agama Sengeti masih rendah, dilihat dari banyaknya mediasi yang gagal diselesaikan karena tidak adanya iktikad baik dari para pihak. Iktikad baik para pihak menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat keberhasilan mediasi, karena pada dasarnya proses pelaksaan mediasi tidak dapat dilaksanakan apabila salah satu pihak tidak beriktikad baik untuk menghadiri panggilan pengadilan dalam pelaksanaan mediasi. Sekalipun para pihak menghadiri panggilan pengadilan untuk melaksanakan mediasi namun kehadirannya tanpa disertai dengan iktikad baik untuk berdamai maka mediasi yang dilaksanakan akan sulit untuk mencapai keberhasilan.
Mencapai keberhasilan mediasi harus diawali dengan iktikad baik para pihak, iktikad baik untuk hadir dalam proses mediasi maupun iktikad baik untuk mencari solusi atas permasalahan yang ada dalam mencapai perdamaian. Iktikad baik mejadi salah satu faktor yang paling mempengaruhi keberhasilan mediasi dikarenakan para pihak merupakan aktor utama dalam proses mediasi, apapun yang terjadi selama proses mediasi merupakan tanggung jawab para pihak untuk menentukan sendiri keinginannya, mediator hanya mengarahkan dan membantu memberikan pilihan bukan untuk mengambil keputusan atas apa yang diinginkan para pihak. Para pihak harus bisa menentukan keinginannya apakah hubungan perkawinan mereka masih ingin diupayakan perdamaian atau tidak, nantinya keputusan mereka sendiri yang akan menentukan hasil akhir dari mediasi tersebut. Berikut disertakan beberapa contoh perkara yang di putus verstek oleh Hakim Pengadilan Agama Sengeti dikarenakan salah satu pihak tidak beriktikad baik untuk hadir memenuhi panggilan persidangan:
a. Putusan Nomor 421/Pdt.G/2017/PA.Sgt. disebutkan bahwa Tergugat tidak pernah hadir di persidangan dan tidak pula mewakilkan kepada orang lain sebagai wakil atau kuasanya yang sah, maka quod est
ketentuan Pasal 149 dan Pasal 150 R.Bg. gugatan Penggugat dikabulkan dengan verstek.63
b. Putusan Nomor 78/Pdt.G/2018/PA.Sgt. dalam pertimbangan hakim disebutkan bahwa Termohon tidak pernah hadir di persidangan dan tidak pula mewakilkan kepada orang lain sebagai wakil atau kuasanya yang sah, maka quod est ketentuan Pasal 149 dan 150 R.Bg. permohonan Pemohon dikabulkan dengan verstek.64
5. Faktor kebudayaan
Kebudayaan menurut Soerjono Soekanto, mempunyai fungsi yang sangat besar bagi manusia dan masyarakat, yaitu mengatur agar manusia dapat mengerti bagaimana seharusnya bertindak, berbuat, dan menentukan sikapnya kalau mereka berhubungan dengan orang lain. Dengan demikian, kebudayaan adalah suatu garis pokok tentang perikelakuan yang menetapkan peraturan mengenai apa yang harus dilakukan, dan apa yang dilarang.
Kebudayaan Indonesia didasari hukum adat. Hukum adat tersebut merupakan hukum kebiasaan yang berlaku di kalangan rakyat terbanyak. Di samping itu, berlaku pula hukum tertulis (perundangundangan) yang timbul dari golongan tertentu dalam masyarakat yang mempunyai kekuasaan dan wewenang yang resmi. Hukum perundang-undangan tersebut harus mencerminkan nilai-nilai yang menjadi dasar dari hukum adat supaya hukum perundang-undangan tersebut dapat berlaku secara efektif.65
Suatu kecenderungan yang kuat dalam masyarakat saat ini untuk mematuhi hukum didasari oleh rasa takut terkena sanksi apabila hukum itu dilanggar. Banyak dari para pihak yang kooperatif, namun sikap tersebut
63
Admin, Putusan PA Sengeti Nomor 421/Pdt.G/2017/PA.Sgt https://putusan3.
mahkamahagung.go.id/direktori/putusan, diaskes pada 26 Juli 2020
64
Admin, Putusan PA Sengeti Nomor 78/Pdt.G/2018/PA.Sgt https://putusan3.
mahkamahagung.go.id/direktori/putusan, diaskes pada 28 Juli 2020
65 Soerjono Soekanto, Penelitian Hukum Normatif: Suatu Tinjauan Singkat, (Jakarta: Raja Grafindo, 2001), h. 64- 65.
mereka lakukan agar proses mediasi cepat selesai hingga dapat dilanjutkan ke proses persidangan selanjutnya. Karena para pihak banyak yang mengikuti mediasi hanya sebagai formalitas saja, sehingga esensi dari mediasi atau perdamaian itu tidak ada. Dalam hal mediasi di pengadilan agama kita ketahui pencari keadilan adalah umat Islam, nilai-nilai Islam menjadi sarat pedoman dalam kehidupan masyarakat muslim, namun pemahaman masyarakat yang rendah terhadap upaya damai menyebabkan pelaksanaan mediasi di Pengadilan Agama Sengeti kurang efektif. Masyarakat sebagai pendukung berjalannya sistem hukum mediasi di pengadilan bersikap enggan untuk melaksanakan mediasi. Berdasarkan apa yang didapat oleh peneliti keengganan para pihak untuk dimediasi karena permasalahan yang sudah komplek sehingga sulit untuk didamaikan. Masyarakat (para pihak) beranggapan penyelesaian perkara dengan jalan damai dan hasilnya adalah perceraian dipandang lebih ber maslahat dan menjadi jalan terbaik bagi para pihak ketimbang terus terjadi percekcokan terus-menerus yang akan menyebabkan tindak kekerasan dalam rumah tangga.
Konsep efektivitas sistem hukum yang telah diuraikan diatas merupakan 5 (lima) unsur keberhasilan mediasi menurut Soerjono Soekanto. Efektif tidaknya penegakan hukum ini, terkait erat dengan efektif tidaknya semua unsur atau faktor tersebut dijalankan. Apabila unsur-unsur tersebut tidak berjalan efektif maka penegakan hukum akan sulit terealisasikan. Melihat unsur-unsur dalam sistem hukum diatas tidak semua unsur memenuhi konsep sistem hukum yang dikemukakan, sehingga sulit untuk tercapai keberhasilan mediasi. Ketidakefektifan mediasi tersebut terlihat jelas dari laporan data mediasi, jumlah perkara yang masuk di Pengadilan Agama Sengeti, dan jumlah perkara yang diputus di Pengadilan Agama Sengeti.
Efektivitas berfokus pada hasilnya, apabila tujuan yang diharapkan memenuhi target maka dapat dikatakan efektif, begitupun sebaliknya. Tingkat efektifitas dihitung dari jumlah keberhasilan mediasi kemudian dibagi dengan
jumlah perkara yang dimediasi dan dikalikan seratus persen (100%) untuk mengetahui jumlah persentase keberhasilannya.
Berdasarkan data yang telah peneliti peroleh maka dapat dilihat perkara cerai baik talak maupun gugat yang masuk di Pengadilan Agama Sengeti pada tahun 2017 adalah sebesar 532, dari jumlah perkara keseluruhan yang dimediasi dan keberhasilan mediasi dapat dilihat pada laporan mediasi tahun 2017, angka persentase keberhasilannya bisa dikatakan sangat kecil, jumlah perkara yang dimediasi pada tahun 2017 sebesar 58 dengan tidak satu pun perkara yang dimediasi berhasil dilaksanakan atau dengan kata lain mediasi dinyatakan 100% gagal, jika dipresentasikan tingkat keberhasilan mediasi di Pengadilan Agama Sengeti pada tahun 2017 adalah jika dihitung berdasarkan rumus efektivitas, yaitu jumlah keberhasilan 0 dibagi dengan jumlah perkara yang dimediasi sebanyak 58 perkara, maka hasilnya adalah sekitar 0 %.66
Sedangkan pada tahun 2018 sebanyak 584 perkara cerai talak dan cerai gugat yang terdaftar di Pengadilan Agama Sengeti kemudian dilakukan mediasi sebesar 72 perkara, dari 72 perkara tersebut sebanyak 8 atau 11,11% perkara dinyatakan berhasil dimediasi, sebanyak 62 atau 86,11 % perkara dinyatakan tidak berhasil dimediasi dan sebanyak 2 atau 2,78% perkara tidak dapat dimediasi.67 Artinya tingkat keberhasilan mediasi yang dilaksanakan di Pengadilan Agama Sengeti selama kurun waktu 2 tahun pasca diterbitkannya Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2016 Tentang mediasi di Pengadilan, masih jauh dari kata efektif, hal ini ditandai masih tingginya angka perceraian dan kegagalan dalam pelaksanaan mediasi yang ditunjukkan dalam laporan tahunan Pengadilan Agama Sengeti.
Peneliti berkesimpulan faktor dominan penghambat tidak efektifnya mediasi di Pengadilan Agama Sengeti yaitu sebagian besar dari para pihak berperkara yang masih rendah akan kesadaran mengenai pentingnya perdamaian, hal ini dibuktikan dengan banyaknya pihak yang tidak beriktikad
66 Laporan Tahunan Pengadilan Agama Sengeti Tahun 2017
baik dalam proses mediasi. Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2016 Tentang Mediasi di Pengadilan padahal sudah mengatur mengenai keharusan para pihak menempuh mediasi dengan iktikad baik dan akibat hukum tidak beriktikad baik bagi para pihak, namun nampaknya peraturan tersebut tidak berdampak banyak terhadap keberhasilan mediasi. Hakim Pengadilan Agama Sengeti berpendapat bahwa dalam perkara perceraian sebagian besar permasalahannya sudah komplek, sulit untuk mencapai perdamaian jika bukan berasal dari iktikad baik para pihak sendiri, terkadang dalam perkara perceraian memang ada beberapa masalah sepele yang mengakibatkan pertengkaran, masalah yang awalnya kecil terus dibiarkan sehingga terjadi pertengkaran terus-menerus dalam jangka waktu yang panjang dan mengakibatkan keharmonisan dalam menjalin hubungan menjadi berkurang, dari sini timbul masalah-masalah baru sehingga sulit untuk diselesaikan, yang berujung pada perceraian.
Kemudian faktor lainnya yang menghambat keberhasilan mediasi di Pengadilan Agama Sengeti ialah minimnya kemampuan dan profesionalitas penegak hukum. Di dalam berfungsinya hukum, kemampuan dan profesionalitas petugas penegak hukum memainkan peranan yang tidak kalah penting, apabila peraturan dirasa sudah cukup baik, namun kualitas petugas masih kurang baik pasti akan menimbulkan suatu masalah. Oleh karena itu, salah satu kunci keberhasilan dalam penegakan hukum adalah kemampuan dan profesionalitas penegak hukum. Selain iktikad baik para pihak sendiri hakim sebagai mediator juga memiliki peranan yang sangat penting dalam mencapai keberhasilan mediasi, maka dari itu hakim harus memiliki kemampuan dan keahlian sebagai mediator.
Minimnya pengetahuan hakim tentang mediasi merupakan salah satu penghambat bagi terlaksananya proses mediasi dengan baik. Salah satu dan satu-satunya yang menjadi standar kualitas bagi hakim mediator yang tertera dalam Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2016 adalah sertifikat pelatihan mediasi yang diselenggarakan oleh Mahkamah Agung atau lembaga yang memiliki akreditasi dari Mahkamah Agung, sedangkan untuk
kualifikasi hakim bersertifikat mediator di Pengadilan Agama Sengeti hanya sebanyak 17 % atau 1 dari 6 orang hakim mediator yang tertera di daftar mediator Pengadilan Agama Sengeti,68 yang mana berarti bahwa 83% mediator