BAB III GAMBARAN UMUM PENGADILAN AGAMA SENGETI
A. Profil Pengadilan Agama Sengeti
Lahirnya Undang-undang Nomor 14 Tahun 1970 Tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman jo Undang-Undang Nomor 49 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman, maka kedudukan Peradilan Agama mulai nampak jelas. Undang-undang ini menegaskan prinsip-prinsip sebagai berikut :
Pertama, Peradilan dilakukan "Demi Keadilan Berdasarkan ketuhanan Yang Maha Esa";
Kedua, Kekuasaan kehakiman dilakukan oleh pengadilan dalam lingkungan Peradilan Umum, Peradilan Agama, Peradilan Militer dan Peradilan Tata Usaha Negara;
Ketiga, Mahkamah Agung adalah Pengadilan Negara Tertinggi. Keempat, Badan-badan yang melaksanakan peradilan secara organisatoris, administratif, dan finansial ada di bawah masing-masing departemen yang bersangkutan.
Kelima, susunan kekuasaan serta acara dari badan peradilan itu masing-masing diatur dalam undang-undang tersendiri.
Hal ini dengan sendirinya memberikan landasan yang kokoh bagi kemandirian peradilan agama, dan memberikan status yang sarna dengan peradilan-peradilan lainnya di Indonesia. Lahirnya Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan memperkokoh keberadaan pengadilan agama, dalam undang-undang ini tidak ada ketentuan yang bertentangan dengan ajaran Islam. Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 semakin mempertegas pelaksanaan ajaran Islam (Hukum Islam)
Suasana cerah kembali mewarnai perkembangan peradilan agama dengan keluarnya Undang- Undang Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama yang telah memberikan landasan untuk mewujudkan peradilan agama
yang mandiri, sederajat dan memantapkan serta mensejajarkan kedudukan peradilan agama dengan lingkungan peradilan lainnya.
Personil peradilan agama dalam sejarah perkembangannya sejak dulu selalu dipegang oleh para ulama yang disegani yang menjadi panutan masyarakat sekelilingnya. Hal itu sudah dapat dilihat sejak dari proses pertumbuhan peradilan agama. Pada masa kerajaan-kerajaan Islam, penghulu keraton sebagai pemimpin keagamaan Islam di lingkungan keraton yang membantu tugas raja di bidang keagamaan yang bersumber dari ajaran Islam, berasal dari ulama seperti Kanjeng Penghulu Tafsir Anom IV pada Kesunanan Surakarta. Ia pemah mendapat tugas untuk membuka Madrasah Mambaul Ulum pada tahun 1905. Demikian pula para personil yang telah banyak berkecimpung dalam penyelenggaraan peradilan agama adalah ulama-ulama yang disegani, seperti: KH. Abdullah Sirad Penghulu Pakualaman, KH. Abu Amar Penghulu Purbalingga, K.H. Moh. Saubari Penghulu Tegal, K.H. Mahfudl Penghulu Kutoarjo, KH. Ichsan Penghulu Temanggung, KH. Moh. Isa Penghulu Serang, KH. Musta'in Penghulu T1;1ban, dan KH. Moh. Adnan Ketua Mahkamah Islam Tinggi tiga zaman (Belanda, Jepang dan RI) (Daniel S. Lev: 5-7). Namun sejak tahun 1970-an, perekrutan tenaga personil di lingkungan peradilan agama khususnya untuk tenaga hakim dan kepaniteraan mulai diambil dati alumni IAIN dan perguruan tinggi agama.47
Eksistensi Pengadilan Agama Sengeti sendiri lahir berdasarkan pada Keputusan Presiden Indonesia Nomor 62 Tahun 2002 tanggal 28 Agustus 2002. Pengadilan Agama Sengeti sebelumnya merupakan bagian dari Pengadilan Agama Muara Bulian. Pengadilan Agama Sengeti diresmikan oleh Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam dan Penyelenggaraan Haji rs. H. Taufiq Kamil pada tanggal 23 April 2003 di Kantor Bupati Muaro Jambi. Pada periode awal Kantor Pengadilan Agama Sengeti menempati rumah penduduk Desa Sengeti yang bernama Drs. Thohri Yasin dan Endrawati. Pada
47 Endah P, Sejarah Peradilan Agama,
https://badilag.mahkamahagung.go.id/sejarah/profil-ditjen-badilag-1/sejarah-ditjen-badilag, diakses pada 10 Maret 2020
tahun 2004 Kantor Pengadilan Agama pindah dan memakai gedung Dinas Perkebunan Kabupaten Muaro Jambi.
Tahun 2005 mulai dibangun Gedung Pengadilan Agama Sengeti yang permanen dan selesai pada tahun itu. Gedung Pengadilan Agama Sengeti terletak di komplek perkantoran Bukit Cinto Kenang Pemerintahan Daerah Kabupaten Muaro Jambi yang diresmikan pada hari Senin tanggal 20 Februari 2006 M bertepatan dengan tanggal 21 Muharram 1427 H oleh Wakil Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia Bidang Non Yudisial dan ditanda tangani oleh Drs. H. Syamsuhadi Irsyad, SH.,MH. Pada saat yang sama diresmikan pula Gedung Pengadilan Agama Tebo dan Sabak yang juga masuk Wilayah Pengadilan Tinggi Agama Jambi.
Ketua Pengadilan Agama Sengeti yang pertama dijabat oleh Drs. Usman Karim dan wakilnya adalah Drs. H. Wachid Ridwan. Panitera/Sekretaris dijabat oleh Drs. Thohri Yasin. Setelah Ketua memasuki masa purnabakti tahun 2004, jabatan Ketua dilaksanakan oleh wakil ketua sebagai PLH Ketua Pengadilan Agama Sengeti.48
Sengeti merupakan ibu Kota Kabupaten Muaro Jambi, yang mana berdasarkan Undang-Undang Nomor 54 Tahun 1999 Tentang Pembentukan Kabupaten Sorolangun, Kabupaten Tebo, Kabupaten Muaro Jambi dan Kabupaten Tanjung Jabung Timur sebagai daerah pemekaran dari Kabupaten Batang Hari, secara resmi Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi mulai dilaksanakan pada tanggal 12 Oktober 1999. Pusat Pemerintahan di Kota Sengeti sebagai ibu kota Kabupaten Muaro Jambi dengan Pusat Perkantoran di Bukit Baling Kecamatan Sekernan. Letak geografis wilayah yang cukup strategis berada di hinterland Kota Jambi, hal ini memberikan keuntungan bagi Kabupaten Muaro Jambi karena Kabupaten ini memiliki peluang yang cukup besar sebagai daerah pemasok kebutuhan kota Jambi, seperti pemasaran untuk hasil pertanian, perikanan, industri dan jasa.
Luas wilayah Kabupaten Muaro Jambi ± 5.246 KM2, secara
48 Admin Pengadilan Agama Sangeti, Sejarah Pengadilan Agama Sangeti,
administrasi mempunyai batas-batas wilayah, sebagai berikut :
Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Sebelah Selatan berbatasan dengan Propinsi Sumatera Selatan. Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Batang Hari.
Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Tanjung Jabung Timur.
Secara Geografis Kabupaten Muaro Jambi terletak antara 10 511 Lintang Selatan sampai dengan 20 011 Lintang Selatan dan diantara 1030 151 Bujur Timur sampai dengan 1040 301 Bujur Timur. Kabupaten Muaro Jambi merupakan daerah dataran rendah dengan ketinggian dari permukaan laut, antara lain:
0 – 10 Meter = 11,80% 11 – 100 Meter = 23,70% 101- 300 Meter = 4,50%
Termasuk daerah yang beriklim tropis dengan curah hujan merata sepanjang tahun rata-rata 186 mm per hari dengan Intensitas hujan rata-rata 16 hari hujan. Temperatur rata-rata 32 ºC dengan variasi Temperatur antara musim hujan dengan kemarau relatif kecil. Secara Administratif Kabupaten Muaro Jambi sampai tahun 2012 ini terdiri dari 11 (sebelas) Kecamatan, 5 Kelurahan, dan 146 Desa.
Pada Tahun 2010 yang lalu dilakukan pemekaran terhadap Kecamatan Sungai Bahar menjadi Kecamatan Sungai Bahar Utara dan Kecamatan Sungai Bahar Selatan, Kecamatan Maro Sebo dimekarkan 1 Kecamatan, yaitu Kecamatan Taman Rajo dan pada tahun 2009, ada beberapa desa yang dimekarkan diantaranya di Kecamatan Sungai Bahar dibentuk 2 Desa baru yaitu Desa Mekar Sari Makmur dan Desa Bhakti Mulya, di kecamatan Sungai Bahar Utara dibentuk 4 Desa Baru yaitu Desa Talang Datar, Desa Pinang Tinggi, Desa Mulya Jaya dan Desa Sungai Dayo, Selanjutnya Kecamatan Sungai Bahar Selatan dibentuk 2 Desa Baru yaitu Desa Mekar Jaya dan Desa Tanjung Baru, Kecamatan Kumpeh dibentuk 2 Desa Baru yaitu Desa Rondang dan Desa Maju Jaya, Kecamatan Mestong dibentuk 2 Desa Baru yaitu
Desa Muaro Sebapo dan Desa Tanjung Pauh Talang Pelita. Kemudian di Kecamatan Sungai Gelam dibentuk 3 Desa Baru yaitu Desa Mingkung, Desa Trimulya Jaya dan Desa Mekar Jaya serta Kecamatan Jambi Luar Kota dibentuk 2 Desa Baru, yaitu Desa Danau Sarang Elang dan Desa Simpang Lima. Wilayah-wilayah yang termasuk ke dalam administratif Kabupaten Muaro Jambi seperti yang telah disebutkan diatas merupakan wilayah yuridiksi Pengadilan Agama Sengeti.49
Gambar 1. Peta wilayah yuridiksi Pengadilan Agama Sengeti
49 Admin Pengadilan Agama Sangeti, Peta Yuridiksi Pengadilan Agama Sangeti,
http://www.pa-sengeti.go.id/tentang-pengadian/profil-pengadilan/wilayah-yuridiksi, diakses pada 12 Maret 2020
Gambar 2. Tampak depan kantor Pengadilan Agama Sengeti
Pengadilan Agama Sengeti menjaga integritasnya dalam menjalankan tugas memiliki visi dan misi, yaitu;
“TERWUJUDNYA PENGADILAN AGAMA SENGETI YANG AGUNG“
Visi Pengadilan Agama Sengeti tersebut merupakan kondisi yang diharapkan dapat memotivasi seluruh karyawan-karyawati Pengadilan Agama Sengeti dalam menjalankan aktivitas. Pernyataan visi Pengadilan Agama Sengeti tersebut memiliki pokok pengertian sebagai berikut :
Bahwa yang ingin dicapai melalui visi ini adalah menjadikan Pengadilan Agama Sengeti sebagai lembaga peradilan yang dihormati, yang di kelola dan diawasi oleh hakim dan pegawai yang memiliki kemuliaan, kebesaran dan keluhuran sikap dan jiwa dalam melaksanakan tugas pokoknya memutus perkara.
Berdasarkan visi Pengadilan Agama Sengeti yang telah ditetapkan tersebut, maka ditetapkan beberapa misi Pengadilan Agama Sengeti sebagai fokus program kerja untuk mewujudkan visi tersebut. Misi Pengadilan Agama Sengeti tersebut adalah :
2. Memberikan pelayanan hukum yang berkeadilan, 3. Meningkatkan kualitas kepemimpinan badan peradilan, 4. Meningkatkan kredibilitas dan transparansi badan peradilan.
Penjelasan Makna Misi:
Misi pertama yakni “Menjaga Kemandirian Badan Peradilan”, maksudnya adalah bahwa Syarat utama terselenggaranya suatu proses peradilan yang obyektif adalah adanya kemandirian lembaga yang menyelenggarakan peradilan, yaitu kemandirian badan peradilan sebagai sebuah lembaga (kemandirian institusional), serta kemandirian hakim dalam menjalankan fungsinya (kemandirian individual/fungsional). Kemandirian menjadi kata kunci dalam usaha melaksanakan tugas pokok dan fungsi badan peradilan secara efektif.
Sebagai konsekuensi dari penyatuan atap, di mana badan peradilan telah mendapatkan kewenangan atas urusan organisasi, administrasi dan finansial (konsep satu atap), maka fungsi perencanaan, pelaksanaan, serta pengawasan organisasi, administrasi, dan finansial seluruh badan peradilan di Indonesia harus dijalankan secara baik. Hal ini dimaksudkan agar tidak mengganggu pelaksanaan tugas kekuasaan kehakiman yang diembannya. Hal penting lain yang perlu diperjuangkan adalah kemandirian pengelolaan anggaran berbasis kinerja dan penyediaan sarana pendukung dalam bentuk alokasi yang pasti dari APBN. Kebutuhan adanya kepastian ini untuk memberikan jaminan penyelenggaraan pengadilan di seluruh Indonesia.
Selain kemandirian institusional, kemandirian badan peradilan juga mengandung aspek kemandirian hakim untuk memutus (kemandirian individual/fungsional) yang terkait erat dengan tujuan penyelenggaraan pengadilan. Tujuan penyelenggaraan pengadilan yang dimaksud adalah untuk menjamin adanya pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil bagi setiap manusia. Selain itu, juga perlu dibangun pemahaman dan kemampuan yang setara di antara para hakim mengenai masalah-masalah hukum yang berkembang.
Misi kedua yakni “Memberikan Pelayanan Hukum Yang
Berkeadilan Kepada Pencari Keadilan”, maksudnya adalah Tugas badan
peradilan adalah menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan. Menyadari hal ini, orientasi perbaikan yang dilakukan Pengadilan Agama Sengeti mempertimbangkan kepentingan pencari keadilan dalam memperoleh keadilan. Keharusan bagi setiap badan peradilan untuk meningkatkan pelayanan publik dan memberikan jaminan proses peradilan yang adil. Keadilan, bagi para pencari keadilan pada dasarnya merupakan suatu nilai yang subyektif, karena adil menurut satu pihak belum tentu adil bagi pihak lain. Penyelenggaraan peradilan atau penegakan hukum harus dipahami sebagai sarana untuk menjamin adanya suatu proses yang adil, dalam rangka menghasilkan putusan yang mempertimbangkan kepentingan (keadilan) menurut kedua belah pihak.
Perbaikan yang akan dilakukan oleh Pengadilan Agama Sengeti, selain menyentuh aspek yudisial, yaitu substansi putusan yang dapat dipertanggungjawabkan, juga akan meliputi peningkatan pelayanan administratif sebagai penunjang berjalannya proses yang adil. Sebagai contoh adalah adanya pengumuman jadwal sidang secara terbuka dan pemberian salinan putusan, sebagai bentuk jaminan akses bagi pencari keadilan.
Misi ketiga yakni “Meningkatkan Kualitas Kepemimpinan Badan
Peradilan”. Kualitas kepemimpinan badan peradilan akan menentukan
kualitas dan kecepatan gerak perubahan badan peradilan. Dalam sistem satu atap, peran pimpinan badan peradilan, selain menguasai aspek teknis yudisial, diharuskan juga mampu merumuskan kebijakan-kebijakan non-teknis (kepemimpinan dan manajerial). Terkait aspek yudisial, seorang pimpinan pengadilan bertanggungjawab untuk menjaga adanya kesatuan hukum di pengadilan yang dipimpinnya. Untuk area non-teknis, secara operasional, pimpinan badan peradilan dibantu oleh pelaksana urusan administrasi. Dengan kata lain, pimpinan badan peradilan harus memiliki kompetensi yudisial dan non-yudisial. Demi terlaksananya upaya-upaya tersebut, Pengadilan Agama Sengeti menitikberatkan pada peningkatan kualitas kepemimpinan badan
peradilan dengan membangun dan mengembangkan kompetensi teknis yudisial dan non-teknis yudisial (kepemimpinan dan manajerial).
Misi keempat yakni “Meningkatkan kredibilitas dan transparansi
badan peradilan”. Kredibilitas dan transparansi badan peradilan merupakan
faktor penting untuk mengembalikan kepercayaan pencari keadilan kepada badan peradilan. Upaya menjaga kredibilitas akan dilakukan dengan mengefektifkan sistem pembinaan, pengawasan, serta publikasi putusan-putusan yang dapat dipertanggungjawabkan. Selain sebagai bentuk pertanggungjawaban publik, adanya pengelolaan organisasi yang terbuka, juga akan membangun kepercayaan pengemban kepentingan di dalam badan peradilan itu sendiri. Melalui keterbukaan informasi dan pelaporan internal, personil peradilan akan mendapatkan kejelasan mengenai jenjang karir, kesempatan pengembangan diri dengan pendidikan dan pelatihan, serta penghargaan ataupun hukuman yang mungkin mereka dapatkan. Terlaksananya prinsip transparansi, pemberian perlakuan yang setara, serta jaminan proses yang jujur dan adil, hanya dapat dicapai dengan usaha para personil peradilan untuk bekerja secara profesional dan menjaga integritasnya.