• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Peran P3N dan Respon Terhadap Peraturan Menteri Agama Nomor 24 Tahun 2014

PERATURAN MENTERI AGAMA NOMOR 24 TAHUN 2014

D. Analisis Peran P3N dan Respon Terhadap Peraturan Menteri Agama Nomor 24 Tahun 2014

Melihat dari penjelasan yang sudah dipaparkan di atas, penulis dapat menganalisis peran P3N di Kecamatan Pinang, Tangerang. P3N di Kecamatan Pinang, Tangerang masih berperan aktif di masyarakat sekitar. Namun dalam peraturan sebenarnya untuk daerah perkotaan sudah ditiadakan lagi P3N karena KUA daerah perkotaan itu bisa dijangkau oleh masyarakat.

Berdasarkan wawancara dengan Bapak Yayat selaku sekretaris Kelurahan Pakojan, beliau mengatakan bahwa diangkatnya P3N pada awalnya hanya untuk mengurus jenazah warga yang meninggal. Jadi, bisa disimpulkan bahwa sebenarnya P3N itu diangkat oleh Kelurahan setempat untuk menjadi amil. Akan tetapi yang terjadi P3N di Kecamatan Pinang masih mengurusi tentang proses administrasi pendaftaran pernikahan.

Pada Surat Inspektur Jenderal Kementrian Agama RI Nomor: 1J/INV/STL/R/PS. 01.5/0078/2013 tentang penataan dan batasan kewenangan

135

Wawancara dengan Bapak Mulyadi, Selaku Pembantu Pegawai Pencatat Nikah di kelurahan Pakojan pada hari Selasa tanggal 28 April 2015

P3N ditegaskan bahwa P3N yang melanggar atau mengabaikan tugas pokok dan fungsinya termasuk melibatkan diri dalam politik praktis dapat dikenakan sanksi pemberhentian. Akan tetapi yang terjadi di masyarakat, P3N mengurus semua mulai dari RT hingga KUA, jadi masyarakat hanya menerima beres. Sehingga ada beberapa P3N yang menaruh berkas-berkas yang seharusnya ada di kelurahan tetapi ada dirumahnya, seperti N1,N2,N3,N4 dan N5. Seharusnya dokumen-dokumen tersebut langsung diserahkan kepada Kelurahan, sehingga tidak ada potensi kesalahan dan manupulasi data.

Dampak masih berlakunya P3N pasca Peraturan Menteri Agama No. 24 tahun 2014, menurut pengamatan penulis terjadinya peningkatan tarif biaya pernikahan, yang sebelumnya pada Peraturan Menteri Agama No 71 tahun 2009 menarifkan Rp 30.000,- akan tetapi realisasi yang terjadi di masyarakat menjadi sekitar Rp 800.000-100.000,- Kemudian setelah adanya Peraturan Menteri Agama No 24 tahun 2014 P3N menaikkan tarif menjadi sekitar Rp 1.250.000-1.700.000. Tujuan utama dibuatnya Peraturan Menteri Agama No. 24 Tahun 2014 untuk zona integritas KUA bebas gratifikasi dan korupsi.

Meskipun P3N sudah tidak diperlukan akan tetapi menurut sebagian besar P3N, menyatakan penghapusan tersebut membuat P3N kecewa kepada pemerintah, karena mereka merasa sudah mengabdi diri kepada Departemen Agama khususnya mereka yang sudah lama menjabat menjadi P3N. Mereka yang hanya mengambil keuntungan sedikit, merasa sangat dipermasalahkan.

Berdasarkan wawancara kepada 10 responden P3N, yang mendapatkan honor dari Kelurahan hanya 4 orang, jadi hanya beberapa Kelurahan yang memberikan hak materil(uang) kepada P3N per 3 bulan dan itu dengan jumlah yang berbeda. Lebih mirisnya lagi seharusnya kelurahan yang membayar P3N akan tetapi yang terjadi P3N yang menyerahkan pemasukan kepada kelurahan.

Berdasarkan pengamatan penulis, yang seharusnya proses prosedur pembayaran administrasi pernikahan ditransfer melalui Bank akan tetapi yang terjadi masyarakat membayar tunai kepada P3N, dan P3N menyerahkan kepada KUA dengan besaran yag ditarifkan KUA kepada P3N adalah Rp 700.000,-800.000.

Pada dasarnya masyarakat kecamatan Pinang mengetahui proses prosedur pendaftaran administrasi pernikahan dari tetangga atau mereka menanyakan kepada orang yang sudah menikah, oleh karena itu karena tidak adanya sosialisasi dari pihak KUA dan Kelurahan, dari mereka kebanyakan mengunakan jasa P3N.

Fakta yang terjadi di Kelurahan Kunciran Jaya, jarak desa saling berhadapan dengan KUA. Akan tetapi masyarakat yang ingin menikah tidak mandiri mendaftarkan ke KUA. Sehingga terjadi pembengkakan biaya administrasi pernikahan, menurut penulis seharusnya pihak KUA Pinang mensosialisasikan Peraturan Menteri Agama No 24 Tahun 2014 kepada masyarakat sehingga tidak ada lagi oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.

Secara garis besar terjadinya ketidaksesuaian antara peraturan yang ditetapkan pemerintah dengan praktek di lapangan adalah semata-mata masyarakat yang membudayakan menggunakan jasa P3N untuk mengurus masalah pernikahan, mulai dari pendaftaran di tingkat RT hingga selesai aqad nikah. Akibatnya masyarakat tidak mandiri mengurus pendaftaran nikahnya sendiri.

Kemudian ada banyak respon para P3N tentang Peraturan Menteri Agama No 24 Tahun 2014, yang akan penulis jelaskan menjadi beberapa poin di bawah ini:

1. P3N sudah mengetahui bahwa Kementrian Agama mengeluarkan peraturan terbaru dan menerima hal itu, jalani saja peraturan yang ada namun realitanya masih menetapkan uang daftar nikah melebihi Peraturan Menteri Agama No 24 Tahun 2014.

2. P3N merespon dengan baik dan setuju atas Peraturan Menteri Agama No. 24 Tahun 2014, akan tetapi pemerintah kurang trasparan mengenai dana pendaftaran nikah yang masuk. Selain itu, P3N juga tidak tahu mengenai hak mereka di dalam biaya nikah yang ditarifkan dalam Peraturan Menteri Agama No 24 Tahun 2014.

3. P3N mengharapkan kedepannya untuk masyarakat yang ingin mendaftarkan pernikahan harus melalui P3N terlebih dahulu atau perihal pendaftaran nikah dikhususkan dilakukan oleh P3N saja.

4. Masih ada P3N yang menarif biaya nikah di masyarakat sebesar 1.200.000-1.800.000 dan pembayaran bisa dengan mencicil. Karena

menurut penjelasan mereka, pihak KUA dan Kelurahan tidak memberikan honor kepada P3N.

5. P3N juga merasa sangat kecewa ketika mendengar P3N akan dihapuskan, padahal mereka sudah lama menjadi P3N dari belum ada lampu sampai sekarang yang sudah modern. Terlebih lagi bagi para P3N yang hanya mengandalkan tugasnya sebagai pembantu pencatatan nikah untuk mencari nafkah. Seharusnya pemerintah dapat lebih bijak dalam memutuskan peraturan dan mendengarkan aspirasi P3N langsung.

6. Ada pula P3N yang belum mendapatkan kabar mengenai Peraturan Menteri Agama No 24 Tahun 2014 dan tidak tahu isi peraturan ini sama sekali.

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

Pada penulisan skripsi ini selanjutnya penulis dapat simpulkan yang merupakan jawaban rumusan permasalahan, adapun kesimpulan yang didapat adalah sebagai berikut:

1. Peran Pembantu Pegawai Pencatat Nikah di Kecamatan Pinang terhadap pelayanan pernikahan setelah Peraturan Menteri Agama No. 24 Tahun 2014 adalah sebagai “Mitra Kerja” dalam

pendaftaran pernikahan karena SK mereka dari departemen agama sudah tidak berlaku lagi dalam masalah pendaftaran pernikahan. 2. Respon Pembantu Pegawai Pencatat Nikah terhadap pelayanan

pernikahan setelah Peraturan Menteri Agama No. 24 Tahun 2014, adalah:

a. Sebagian besar dari P3N sudah mengetahui bahwa Kementrian Agama mengeluarkan peraturan terbaru dan menerima hal itu, namun realitanya P3N menetapkan tarif biaya daftar nikah melebihi dari Peraturan Menteri Agama.

b. Ada pula P3N yang belum mendapatkan kabar mengenai Peraturan Menteri Agama No 24 Tahun 2014 dan tidak tahu isi peraturan ini sama sekali. Sehingga P3N mengharapkan ke depannya untuk masyarakat yang ingin mendaftarkan

pernikahan harus melalui P3N terlebih dahulu terutama perihal pendaftaran nikah dilakukan oleh P3N saja.

c. P3N merespon dengan baik dan setuju terhadap Peraturan Menteri Agama No 24 Tahun 2014, akan tetapi pemerintah kurang trasparan mengenai dana pendaftaran nikah yang masuk. Selain itu, P3N juga tidak tahu mengenai hak mereka di dalam biaya nikah yang ditarifkan dalam Peraturan Menteri Agama No 24 Tahun 2014.

d. Masih ada P3N yang menarifkan biaya nikah di masyarakat sebesar 1.200.000-1.800.000 dan pembayaran bisa dengan mencicil. Karena menurut penjelasan mereka, pihak KUA dan Kelurahan tidak memberikan honor kepada P3N.

e. P3N juga merasa sangat kecewa ketika mendengar P3N akan dihapuskan, padahal mereka sudah lama menjadi P3N. Terlebih lagi para P3N yang hanya mengandalkan tugasnya sebagai pembantu pencatatan nikah untuk mencari nafkah. Seharusnya pemerintah dapat lebih bijak dalam memutuskan peraturan dan mendengarkan aspirasi P3N langsung.

3. besaran biaya yang dikeluarkan masyarakat kecamatan pinang untuk pendaftaran perkawinan pasca Peraturan Menteri Agama No. 24 Tahun 2014 sekitar Rp

1.250.000,00-1.700.000,-B. Saran-saran

1. Hendaknya kepala KUA kecamatan Pinang atau pihak-pihak yang berada di KUA Kecamatan Pinang mensosialisasikan tentang Peraturan Menteri Agama (PMA) No 24 Tahun 2014 tentang biaya nikah di luar Kantor Urusan Agama Kecamatan, karena selama ini pihak KUA Pinang belum pernah mensosialisasikan.

2. Hendaknya pihak KUA dan Kelurahan lebih memperbaiki kordinasi khususnya dalam administrasi pendaftaran pernikahan. 3. Kepada pemerintah tingkat Kelurahan, setelah dihapusnya P3N dan

kembali lagi menjadi amil yang diarahkan sebagaimana fungsi kemasjidan dan ubudiyah.

4. Hendaknya pihak kelurahan memberikan perhatian kesejahteraan hidup bagi para amil, berikan hak mereka yang memang haknya. 5. Kepada Kementrian Agama kota Tangerang, hendaknya

memberikan salinan Peraturan Menteri Agama (PMA) No 24 Tahun2014 tentang biaya nikah di luar kantor urusan agama kecamatan kepada seluruh kelurahan.

6. Kepada Kementerian Agama pusat dalam hal ini hendaknya agar memberikan perhatian yang lebih kepada KUA Kecamatan, karena KUA merupakan ujung tombak Kementerian Agama di tingkat Kecamatan

7. Kepada masyarakat hendaknya tidak mengunakan jasa orang kepercayaan/ calo ketika mendaftarkan pernikahan di KUA dan

tidak memberikan tips lain kepada selain petugas yang telah ditetapkan dalam peraturan

Abdurrahman, bin Abdul Aziz.Perkawinan Dan Masalahnya.Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 1993

Abdurrahman.Kompilasi Hukum Islam. Jakarta: Akademika Presindo 2010

AF, Hasanuddin. Perkawinan dalam perspektif Al-Qur’an Nikah Talak Cerai Ruju’. Jakarta: Nusantara Damai Press, 2011

Ali, Faried. Teori dan Konsep Administrasi Dari Pemikiran Paradigmatik Menuju Redefinisi. Jakarta: PT Raja Grafaindo Persada, 2011

Ali, Zainuddin. Hukum Perdata Islam di Indonesia. Jakarta: Sinar Grafika, 2006

____________.Metode penelitian Hukum. cet II. Jakarta: Sinar Grafika, 2010

____________.Hukun Perdata Islam di Indonesia. Jakarta: Sinar Grafika 2007

Alimin dan Nurlaelawati, Euis. Potret Administrasi Keperdataan Islam di Indonesia. Ciputat Tangerang Selatan: Orbit Publishing 2013

Amin Suma, Muhammad. Hukum Keluarga Islam Di Dunia Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005

Asmawi, Mohammad. Nikah Dalam Perbincangan Dan Perbedaan. Yogyakarta: Darussalam, 2004

Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementrian Agama RI. Himpunan Peraturan Perundang-undangan Perkawinan. Jakarta: Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementrian Agama RI, 2010

Bayumedia 2008

Jailani, Abdul Qadir. Keluarga Sakinah. Surabaya: PT Bina Ilm, 1995

Kamarusdiana dan Aripin, Jaenal. Perbandingan Hukum Perdata,cet ke-1.Jakarta: UIN Jakarta Press, 2007

Kantor Kementrian Agama. Pedoman Pelaksanaan Akad Nikah Dan Beberapa Kasus Perkawinan.Jakarta: Kantor Kementrian Agama, 2010

Kementrian Agama Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Direktorat Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Kementrian Agama, 2010

Manan, Abdul.Aneka Masalah Hukum Perdata Islam Di Indonesia. Jakarta: Kencana, 2008

Mardani.Hukum Perkawinan Islam di Dunia Islam Modern.Yogyakarta: Graha Ilmu,

Mustofa.Kepaniteraan Peradilan Agama. Jakarta: kencana, 2005

Nazah Bakry, Sidi.Kunci Keutuhan Rumah Tangga (keluarga yang sakinah. Jakarta: Pedomaan Ilmu Jaya, 1993

Nuruddin, Amiur dan Tarigan, Azhari Akmal. Hukum Perdata Islam di Indonesia (Studi Kritis Perkembangan Hukum Islam dari Fikih,UU No. 1974 Sampai KHI). Jakarta: Kencana, 2004

Nuruddin, Amiur dkk. Hukum Perdata Islam di Indonesia. Jakarta: Prenada Media Andi ahir Hamid.Peradilan Agama Dan Bidangnya.Jakarta:Sinar Grafika, 1996

Prakoso, Djoko dan I ketut Murtika. Asas-Asas Hukum Perkawinan di Indonesia. Jakarta: Rajawali Press 1990

Aksara, 1987

Rofiq, Ahmad.Hukum Perdata Islam di Indonesia.Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. 2013

Shihab, M. Quraish. Tafsir al-Misbah, vol. 1. Jakarta: Lentera Hati, 2004

Shomad, Addul. Hukum Islam Penormaan Prinsip Syariah dalam Hukum Indonesia. Jakarta: Kencana, 2010

Soekanto, Soerjono. Penelitian Hukum Normatif: Suatu Tinjauan Singkat,cet.I. Jakarta:

Soekanto, Soerjono. Pengantar Penelitian Hukum,cet.I. Jakarta: UI Pres 1986

Sofyan, Yayan. Islam-Negara (Transformasi Hukum Perkawinan Islam dalam Hukum Nasional).Jakarta:UIN Syarif Hidayatullah, 2011

Sofyan, Yayan. Islam Negara Transformasi Hukum Perkawinan Islam Dalam Hukum Nasional. Jakarta: PT. Wahana Semesta Intermedia Anggota IKAPI, 2012

Sumarno, Sonny. Metode Riset Sumber Daya Manusia, cet I .Yogyakarta: Graha Ilmu Surat dan Intruksi Dirjen Bimas Islam Nomor DJ.II/ 1 Tahun 2015 Tentang Pengangkatan Pembantu Pengawai Pencatat Nikah

Surat dan Intruksi Dirjen Bimas Islam Nomor DJ.II/113 Tahun 2009 Tentang Penggunan Dana Peneriman Negara Bukan Pajak Nikah dan Rujuk Termasuk Penataan Pembantu Pengawai Pencatat Nikah

Surat dan Intruksi Dirjen Bimas Islam Nomor DJ.II/113 Tahun 2009 Tentang Penggunan Dana Peneriman Negara Bukan Pajak Nikah dan Rujuk Termasuk Penataan Pembantu Pengawai Pencatat Nikah

Surat Edaran Nomor: D/Kep. 002/02/1990 Tentang Pelaksanaan Peraturan Menteri Agama RI No. 2 Tahun 1989 Tentang Pembantu Pengawai Pencatat Nikah.

Pembangunan Hukum Nasional. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada 2006

Syaukani, Imam. Rekonstuksi Epistemology Hukum Islam Indonesia. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2006

Taat Nasution, Amir. Rahasia Perkawinan Dalam Islam, Cet ke-3. Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1994

Tahir Hamid, Andi. Peradilan Agama Dan Bidangnya.Jakarta:Sinar Grafika

Thalib, Sayuti. Hukum kekeluargaan Indonesia, cet.5. Jakarta: Universitas Indonesia, 1986

Tholabi Kharlie, Ahmad .Hukum Keluarga Indonesia.Jakarta: Sinar Grafika, 2013

Tholabi Kharlie, Ahmad dan Asep Syarifuddin Hidayat. Hukum Keluarga Di Dunia Islam Kontemporer. UIN Syarif Hidayatullah. Jakarta: 2011

Tholabi Kharlie, Ahmad. Hukum Keluarga Indonesia. Jakarta: Sinar Grafika, 2013

Tihami dan Sohari. FikihMunakahat Kajian Fikih Nikah Lengkap. Jakarta: kencana 2010

Usman, Husaini dan Purnomo Setiady Akbar. Metode Penelitian Sosial. Jakarta: PT Bumi Aksara, 1996

Zaid, Muhammad dan Alshodiq, Mukhtar.Membangun Keluarga Humanis (Counter Legal Draft

Undanng-undang

Kompilasi Hukum Islam yang Kontroversial itu). Jakarta: Graha Cipta, 2005 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan

Peraturan Menteri Agama Nomor 24 Tahun 2014 Tentang Biaya Nikah dan Rujuk di Luar Kantor Urusan Agama Kecamatan

Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 2014 Tentang Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak

WEB

http://bimasislam.kemenag.go.id/post/opini/pp-48-2014-dan-pma-24-2014-menuju-kua-berintegritas#sthash.5Jr9Xrph.dpuf, di akses pada tanggal 23 Februari 2015

https://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=profil%20kecamatan%20pinang%20kota%2 0tangerang&source=web&cd=1&ved=OCBsQFjAAahUKEwin9PDtcvIAhWNo4KHVnZAv4&

url=http%3A2F%2Fkec-pinang.tangerangkota.go.id%2F&usg=AFQjCNGsUbzNOSonbZaOPSBLj9LfKqNpBA, di akses pada tanggal 18 oktober 2015, pukul 18.05WIB

Wawancara dengan Bapak Amiruddin. Selaku Pembantu Pegawai Pencatat Nikah di kelurahan Kunciran Indah

Wawancara dengan Bapak H. Arifin. Selaku Pembantu Pegawai Pencatat Nikah di kelurahan Nerogtok

Wawancara dengan Bapak H. Sukardi. Selaku Pembantu Pegawai Pencatat Nikah di kelurahan Kunciran Jaya

Wawancara dengan Bapak Mansur Suryadi. Selaku Pembantu Pegawai Pencatat Nikah di kelurahan Nerogtok

Wawancara dengan Bapak Aman. Selaku Pembantu Pegawai Pencatat Nikah di kelurahan Pinang

Wawancara dengan Bapak H. Badri. Selaku Pembantu Pegawai Pencatat Nikah di kelurahan Pinang

Wawancara dengan Bapak Hasan. Selaku Pembantu Pegawai Pencatat Nikah di kelurahan Kunciran Jaya

Wawancara dengan Bapak Lukman Hakim, M.Ag. selaku Kepala KUA Pinang, Tangerang

Wawancara dengan Bapak M. Asepsaipun S. Ag. Selaku Penghulu di KUA Pinang

Wawancara dengan Bapak Mulyadi. Selaku Pembantu Pegawai Pencatat Nikah di kelurahan Pakojan

Wawancara dengan Bapak Naim. Selaku Pembantu Pegawai Pencatat Nikah di kelurahan Kunciran Induk

Wawancara dengan Bapak Sidik. Selaku Pembantu Pegawai Pencatat Nikah di kelurahan Sudimara Pinang

Wawancara dengan Megawati warga Nerogtok Rt 001/ Rw 06,masyarakat yang memakai jasa P3N bapak Mansur Suryadi

NIP: 197002221998031001 Usia: 45

Pendidikan; S2

Hari/Tanggal: Selasa, 21 April 2015 Jabatan : Kepala KUA Pinang

1. Bagaimana prosedur yang baik dalam administrasi pernikahan?

Kedua calon mempelai (catin) membawa surat dari kelurahan setempat dan mengajukan dokumen yang ada ke KUA Pinang, seperti:

a. Surat keterangan untuk nikah(N1) b. Surat keterangan asal-usul(N2) c. Surat keterangan mempelai(N3) d. Surat keterangan orang tua(N4)

e. Surat izin orang tua apabila calon pengantin di bawah umur 21 tahun (N5) f. Surat keterangan kematian suami/istri (N6) untuk janda/duda mati

g. Dispensasi Pengadilan agama apabila di bawah umur 19 tahun bagi calon pengantin laki-laki dan 16 tahun bagi calon pengantin perempuan.

h. Akte cerai dari pengadilan apabila calon pengantin janda atau duda cerai hidup i. Surat izin dari atasan atau kesatuan jika calon pengantin adalah anggota TNI/PORLI j. Rekomendasi dari camat apabila kurang dari 10 hari

k. Foto kedua calon pengantin

2. Sebagai Kepala KUA /PPN, apa saja wewenang bapak? a. Adminitrasi Nikah dan rujuk

b. Mencatat pembuatan Akta Ikrar Wakaf c. Pembinaan keluarga sakinah

3. Ada berapa PPN di KUA Kec. Pinang?

Dalam menjalani tugas-tugas administrasi Kantor Urusan Agama (KUA) Pinang Kota Tangerang, Saya dibantu oleh 12 karyawan/staf. Diantaranya 2 orang Penghulu, 6 orang staf dan 4 orang honorer. KUA Pinang juga dibantu oleh 28 orang tenaga P3N yang diangkat oleh kepala desa(kelurahan).

4. Apa tugas P3N dalam administrasi pernikahan?

Tugas pembantu pengawai pencatat nikah di KUA kecamatan pinang membaca khutbah

nikah pada acara upacara pernikahan, membaca do’a ketika selesai melakukan aqad nikah. Kemudian dalam tugas kegamaan yaitu bertugas sebagai Amil, lebe dan modin. 5. Apakah Bapak/Ibu mengetahui mengenai KMA No. 24 Tahun 2014?

Iya, mengetahui. Respon saya terhapat KMA terbaru tersebut adalah supaya kementrian agama menyerahkan dana atau bisa dibilang jangan mempersulit pencarian dana yang seharusnya untuk kegiatan di KUA Pinang

6. Apa peran P3N di luar KUA kecamatan pinang pasca KMA No. 24 Tahun 2014?

Hanya sebatas Mitra Kerja, mengantarkan calon mempelai ke KUA pinang dan menghadiri pada saat pelaksanaan akad nikah berlangsung.

7. Apakah keberadaan P3N dibutuhkan untuk tugas-tugas KUA?

Tidak, pada dasarnya sekarang sebagian besar masyarakat atau calon mempelai memahami prosedur pendaftaran pernikahan.

masyarakat yang mendaftarkan nikahnya melalui jasa P3N belum mendapatkan Buku nikah karena P3N belum menyerahkan dokumen dengan lengkap.

9. Apakah bapak pernah dikecewakan oleh kinerja P3N?

Pernah. Rawan manipulasi data, manipulasi yang pernah terjadi adalah mengenai identitas usia calon mempelai yang masih dibawah umur, dan mengenai status mempelai (jejaka/perawan dan duda/janda).

10. Apa respon bapak tentang keberadaan P3N? Apakah membantu atau tidak? a. Membantu dalam mensosialiasi undang-undang

b. Menghambat karena sebagian P3N terkadang masih kurang menyerahkan dokumen yang dibutuhkan, sehingga menghambat untuk membuat buku nikah.

c. Mencemarkan nama baik KUA, tentang tingginya biaya pendaftaran nikah di masyarakat.

11. Berapa biaya pencatatan nikah di KUA?

KUA kecamatan Pinang, merujuk pada Keputusan Menteri Agama Nomor 24 Tahun 2014 yaitu sebesar Rp 600.000,- jika dilaksanakan diluar KUA pada jam kerja maupun bukan jam kerja. Dan Rp 0,- Rupiah jika di KUA pada jam kerja. Maka sering saya inggatkan kepada masyarakat yang nikah di Kantor KUA jangan bayar.

NIP: 197302151999031001 Usia: 42

Pendidikan; S1

Hari/Tanggal: Rabu, 22 April 2015 Jabatan : Penghulu KUA Pinang

1. Apa tugas P3N dalam administrasi pernikahan?

Pembantu PPN di Jawa dan Luar Jawa dalam pelaksanaan kewenangannya. Pembantu PPN di Jawa hanya menerima dan memeriksa persyaratan peristiwa Nikah tanpa memiliki kewenangan untuk mengawasi jalannya peristiwa perkawinan yang menjadi kewenangan Penghulu. Sedangkan Pembantu PPN di luar Jawa memiliki kewenangan menerima, memeriksa persyaratan dan mengawasi jalannya peristiwa perkawinan. 2. Bagaiana respon bapak mengenai KMA No. 24 Tahun 2014?

Bagus, lebih teratur.

3. Apa peran P3N di luar KUA kecamatan pinang pasca KMA No. 24 Tahun 2014?

4. Apakah keberadaan P3N dibutuhkan untuk tugas-tugas KUA? Sama saja si seperti yang pak haji lukman jelaskan, Dampak Positifnya adanya P3N ya kaya seperti membantu kita pas akad nikah dilakukan seperti baca do’a, ceramah, menenagkan ketika acara aqad dilaksanankan, datang lebih awal waktu ketika ada acara tambahan seperti acara adat masing-masing karena kan kita penghulu tugasnya banyak di tempat lain jadi masalah waktu benar-benar di perhatikannya, dan terkadang juga jemput kita kalau ada yang nikah ya di gedung. Ya walaupun tidak ada P3N pelaksanakan aqad tetap

5. Apakah P3N menyerahkan administrasi dengan lengkap?

Sebagian P3N terkadang masih kurang menyerahkan dokumen yang dibutuhkan, disini terkadang kurang rapi atau kurang lengkap. Sehingga menghambat untuk membuat buku nikah. Atau yang biasa terjadi penulisannya kurang jelas.

6. Apakah bapak pernah dikecewakan oleh kinerja P3N?

Pernah, sifat manusiawi.karena terkadang rawan manipulasi data, manipulasi yang pernah terjadi adalah mengenai identitas usia calon mempelai yang masih dibawah umur, dan mengenai status mempelai (jejaka/perawan dan duda/janda).

7. Berapa biaya pencatatan nikah di KUA?

KUA kecamatan Pinang, merujuk pada Keputusan Menteri Agama Nomor 24 Tahun 2014 yaitu sebesar Rp 600.000,- jika dilaksanakan diluar KUA pada jam kerja maupun bukan jam kerja. Dan Rp 0,- Rupiah jika di KUA pada jam kerja. Tapi kan lebih baik mereka nikah di rumah aja, karena kan kalau di KUA tempat y kecil.

NIP: 197006262003121001 Usia:

Pendidikan; S1

Hari/Tanggal: Rabu, 22 April 2015 Jabatan : Penghulu KUA Pinang

1. Apa tugas P3N dalam administrasi pernikahan?

Membantu masyarakat yang mau mendaftarkan nikah, serta dalam Ibadan mereka memandikan mayit.

2. Bagaiana respon bapak mengenai KMA No. 24 Tahun 2014?

Bagus, Kemudian mengenai P3N yang meminta uang lebih kalau kata saya wajar saja, karena manusia juga punya kebutuhan.

3. Apa peran P3N di luar KUA kecamatan pinang pasca KMA No. 24 Tahun 2014?

Saya juga sebenarnya gimana yah jawabnya, karena walau bagaimanapun usianya lebih dari saya dan mereka sudah lama berjabat sebagai P3N, dan orang asli sini jadi lebih tau masyarakat disini.

4. Apakah keberadaan P3N dibutuhkan untuk tugas-tugas KUA?

Untuk sosialisasi pentingnya pencatatan nikah, kemudian kalau untuk dilapangan aqad nikah Ya walaupun tidak ada P3N pelaksanakan aqad tetap dilaksanakan. Tidak ada P3N juga KUA tetap bekerja, P3N membantu masyarakat yang kurang paham atau sibuk untuk proses pendaftran nikah.

5. Apakah P3N menyerahkan administrasi dengan lengkap?

Sebagian P3N terkadang masih kurang menyerahkan dokumen yang dibutuhkan, sehingga menghambat untuk membuat buku nikah. Sehingga pada saat itu pernah terjadi

nikah yang masih belum jadi dipakai untuk foto simbolis saja, kemudan nanti saya ambil lagi

6. Apakah bapak pernah dikecewakan oleh kinerja P3N?

Pernah, sifat manusiawi.karena terkadang rawan manipulasi data, manipulasi yang