DAN KESELAMATAN PELAYARAN
B. Analisis Perbandingan dari Berbagai Macam Lintas Layar
Untuk dapat memahami secara baik dan benar pe- ngertian ketiga macam lintas pelayaran di wilayah perairan suatu negara, terutama di wilayah perairan RI, maka perlu diadakan perbandingan di antara ketiganya yang memper- lihatkan adanya persamaan-persamaan serta perbedaan- perbedaan antara rezim hukum hak lintas damai di satu pihak dengan rezim hukum hak lintas alur laut kepulauan dan rezim hukum hak lintas transit di lain pihak.
Adapun kesamaan-kesamaannya adalah sebagai beri- kut. Pertama, Ketiga macam rezim lintas pelayaran menetap- kan adanya kewajiban bagi setiap kapal asing dalam segala jenisnya untuk mematuhi peraturan-peraturan hukum nasio- nal dari negara pantai, dalam hal ini peraturan hukum Indo- nesia serta peraturan hukum internasional yang dapat diber- lakukan di dalam wilayah perairannya, termasuk peraturan
hukum keselamatan pelayaran seperti SOLAS Convention dan
COLREG Regulation.
Kewajiban seperti ini akan menjadi jelas apabila kita membahas kesembilan belas persyaratan yang harus dipenuhi oleh kapal dan pesawat udara asing yang melintasi wilayah perairan Republik Indonesia sebagaimana diatur di dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia tanggal 5 Desember Tahun 1998 yang mulai berlaku tanggal 5 Juni 1999. Itu
persamaan pertama. Kedua, ketiga macam rezim lintas pelayaran juga menetapkan adanya kewajiban bagi kapal asing dalam semua jenisnya untuk melakukan navigasi
secara terus menerus dan cepat (continuous and expeditious).
Akan tetapi kewajiban seperti ini tidak berarti bahwa kapal asing yang melewati wilayah perairan Indonesia samasekali tidak boleh berhenti atau membuang jangkar.
Kapal asing boleh saja berhenti dan membuang jangkar sepanjang hal tersebut berkaitan dengan navigasi
yang lazim atau perlu dilakukan karena force majeure atau
mengalami kesulitan atau guna memberikan pertolongan kepada orang, kapal atau pesawat udara yang berada dalam bahaya atau mengalami kesulitan. Walaupun pada dasarnya kapal asing tidak diperkenankan untuk berhenti dan mem- buang jangkar, namun dalam keadaan-keadaan tertentu kapal tersebut boleh saja melakukannya asal saja dilakukan dalam keadaan terpaksa, seperti kapal tersebut mengalami kesulitan teknis berupa gangguan pada mesin kapal, atau kapal harus berhenti dan membuang jangkar karena kapal tersebut harus memberikan bantuan kemanusiaan kepada orang, kapal, pesawat udara yang sedang mengalami musibah di tengah-tengah laut dalam wilayah perairan Indonesia.
Ketiga, Ketiga macam rezim lintas pelayaran itu mene- tapkan adanya kewajiban bagi kapal asing dalam segala jenis- nya yang melewati atau melintasi wilayah perairan Indonesia untuk menggunakan atau mengikuti alur-alur laut yang telah
ditetapkan maupun jalur pemisah lalu lintas yang telah ditentukan oleh Pemerintah Republik Indonesia. Terdapat tiga macam alur-alur laut kepulauan (ALKI) yang telah dipersiap- kan sejak tahun 1995 melalui rapat kerja nasional yang diha- diri oleh wakil departemen-departemen dan lembaga-lembaga terkait yang menghasilkan konsep ALKI Utara-Selatan yang pada dasarnya sama dengan konsep ALKI yang dihasilkan melalui Forum Strategi Angkatan Laut tahun 1991.
Ketiga konsep ALKI Utara-Selatan yang telah ditetap- kan adalah 1) ALKI I yang mempunyai dua cabang di Utara, dimulai dari Laut Cina Selatan atau Laut Natuna, lalu ke Selat Karimata, lalu ke Laut Jawa, ke Selat Sunda, lalu menuju ke Samudera Hindia. 2) ALKI II dimulai dari Laut Sulawesi, lalu ke Selat Makassar, lalu ke Selat Lombok, lalu menuju ke Samudera Hindia. 3) ALKI III yang mempunyai 3 jalur atau cabang di Selatan. Dengan begitu ada ALKI III A, ada ALKI III B dan ada ALKI III C. dimulai dari Samudera Pasifik, lalu ke Laut Maluku, lalu ke Laut Seram, lalu ke Laut Banda, lalu ke Selat Ombai, lalu menuju ke Laut Sawu (ALKI III A), atau menuju Laut Timor (ALKI III B),atau menuju Laut Arafura (ALKI III C).
Ketiga konsep ALKI yang dihasilkan tadi dan juga
tentunya apa yang disebut Skema Pemisah Lalu Lintas (Traffic
Separation Scheme) kemudian diserahkan dan diajukan
kepada Organisasi Maritime Internasional untuk mendapat- kan persetujuannya. Setelah IMO melalui Komite Keselamatan
Maritim (Maritime Safety Committee) melakukan persidangan
sebanyak 3 kali (MSC – 67 IMO tanggal 2-6 Desember 1996;
MSC – 43 IMO tanggal 14-18 Juli 1997; MSC - 69 IMO tanggal
11-20 Mei 1998), maka pada tanggal 19 Mei 1998 Konsep ALKI yang telah diajukan oleh Pemerintah RI telah diadopsi
oleh MSC – 69 IMO.
Masing-Masing ALKI mempunyai pintu masuk (entry
point) di sebelah Utara di luar laut teritorial Indonesia dan
juga mempunyai pintu keluar (exit point) di sebelah Selatan di
luar laut territorial Indonesia, demikian pula sebaliknya masing-masing ALKI mempunyai pintu masuk di sebelah Selatan dan pintu keluar di sebelah Utara, di mana kebera- daan pintu masuk dan pintu keluar sangat ditentukan oleh keberadaan dari suatu kapal asing yang akan melintasi wilayah perairan Republik Indonesia. Sesuai ketentuan yang ada setiap ALKI harus dibuat melalui pendekatan garis
sumbu (axis lines approach) yang memberikan gambaran
mengenai adanya garis-garis sumbu atau maya yang sifatnya sambung me-nyambung tanpa terputus-putus yang dimulai dari Utara sampai ke Selatan atau sebaliknya dari Selatan hingga ke Utara dengan melintasi laut territorial dan perairan kepulauan Indonesia.
Melalui pendekatan garis sumbu tersebut ALKI dapat diasumsikan sebagai sebuah lorong atau koridor kendati sesungguhnya tidak demikian yang secara imaginative seakan-akan lebarnya maksimal 25 mil laut yang dapat digu-
nakan dan diikuti oleh kapal asing ketika melintasi wilayah perairan Indonesia di mana kapal asing tidak boleh menyim- pang melebihi batas 25 mil laut baik pada sisi kiri maupun sisi kanan dari jalur lintasannya serta kapal tersebut tidak boleh mendekati pantai dari pulau-pulau yang terdekat dengan alur-alur laut atau jalur lintasannya.
Keempat, Indonesia sebagai negara pantai dan negara kepulauan mempunyai kewajiban untuk tidak menghalang- halangi lintas pelayaran yang dilakukan kapal asing karena pada azasnya ketiga macam lintas pelayaran merupakan hak untuk melakukan navigasi secara terus menerus dan cepat dan tidak terhalang kecuali aparat hukum dan keamanan mempunyai alasan kuat untuk menghalang-halanginya seper- ti melakukan pelanggaran atas peraturan-peraturan hukum yang berlaku di dalam wilayah perairan Republik Indonesia seperti pencurian ikan, penyelundupan, pencemaran lingku- ngan laut, pelanggaran aturan keselamatan pelayaran dan lain-lainnya.
Di samping itu negara Republik Indonesia berkewa- jiban untuk menyampaikan pemberitahuan pada waktunya mengenai adanya bahaya-bahaya yang terdapat di dalam wilayahnya. Kewajiban-kewajiban seperti itu sebagaimana ter- dapat dalam KHL 1982 dan Undang-Undang Republik Indo- nesia Nomor 6 Tahun 1996 sesungguhnya merupakan pene- gasan kembali dari kaidah hukum kebiasaan internasional yang telah mendapat pengukuhan dari Mahkamah Inter-
nasional berdasarkan keputusannya terkait kasus Selat Cor-
fu (the Corfu Channel Case) antara Inggeris dan Albania pada
tahun 1949 (L.C. Green, 1978:228-237).
Demikian persamaan-persamaan di antara ketiga macam lintas pelayaran. Sedangkan perbedaan-perbedaannya dapat dipaparkan sebagai berikut. Pertama, rezim hukum
lintas damai (innocent passage) menetapkan adanya kewa-
jiban bagi kapal selam (submarine) untuk muncul di atas per-
mukaan air laut serta menunjukkan bendera kebangsaannya pada waktu melintasi wilayah perairan Indonesia. Kewajiban bagi kapal selam untuk muncul di atas permukaan air laut dan memperlihatkan bendera negaranya tidak berlaku bagi kapal selam yang melintasi wilayah perairan Indonesia ber- dasarkan rezim hak lintas transit ataupun hak lintas alur- alur kepulauan sehingga kapal selam tetap dapat menyelam
sebagaimana lazimnya (in normal mode) sesuai dengan
karakteristik dari kapal selam maupun kendaraan bawah air
lainnya (underwater vehicle).
Kedua, Hak lintas damai hanya dapat dinikmati oleh kapal asing dalam segala jenisnya sebab rezim hukum lintas damai hanya berlaku di dalam wilayah perairan, termasuk di wilayah perairan Republik Indonesia. Pesawat udara asing yang melakukan penerbangan melalui rute-rute udara di atas wilayah perairan Indonesia dapat melakukannya berdasarkan persetujuan atau perizinan dari otoritas yang berwenang dan tidak berdasarkan hak lintas damai sebab hak ini hanya
berlaku bagi kapal asing dan tidak bagi pesawat udara asing. Sebaliknya hak lintas transit dan hak lintas alur laut kepu- lauan selain dapat dinikmati oleh kapal asing dalam segala jenisnya, juga dapat dinikmati oleh pesawat udara asing di mana pesawat ini dapat menerbangi rute-rute udara yang berada di atas alur laut kepulauan Indonesia.
Pesawat udara termasuk pesawat militer yang berada di atas sebuah kapal induk yang sedang melintasi wilayah perairan di dalam alur laut kepulauan Indonesia dapat melakukan penerbangan secara bebas tanpa meminta perse- tujuan atau izin dari Pemerintah RI ditinjau dari segi penaf- siran teoretis atas rezim lintas transit ataupun rezim lintas alur laut kepulauan berdasarkan KHL 1982. Hal ini berarti bahwa apa yang ditentukan di dalam KHL 1982 dan Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 1996 mengenai wilayah perairan Indonesia, yakni adanya kebebasan melaku- kan pelayaran dan penerbangan di Alur Laut Kepulauan Indonesia sudah tidak sejalan dengan ketentuan Konvensi Chicago 1944 yang telah menjadi hukum positif Indonesia yang pada prinsipnya menekankan bahwa penerbangan pesawat udara asing melalui ruang udara termasuk yang berada di atas ALKI hanya dapat dilakukan berdasarkan persetujuan atau izin dari Republik Indonesia sebagai negara kolong.
Namun demikian kedua ketentuan tersebut tidak perlu dipertentangkan sebab keduanya dapat berjalan berda-
sarkan azas yang di dalam Ilmu Hukum disebut azas lex
specialis derogat legi generali, yang berarti hukum khusus
(KHL !982 atau Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 1996) mengesampingkan hukum umum (Konvensi
Chicago) ataupun berdasarkan azas lex posterior derogat legi
priori, yang berarti hukum yang dibuat kemudian dapat
mengesampingkan hukum yang dibuat sebelumnya.
Namun demikian pengaturan KHL 1982 dan Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 1996 dalam kaitan dengan hak lintas alur laut kepulauan bagi kapal asing khususnya kapal perang serta pesawat udara asing telah diimplementasikan melalui Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Tahun Nomor 37 Tahun 2002 mengenai Alur-Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) yang memuat 19 persya- ratan melalui ALKI. Salah satu persyaratan yang disebutkan di dalam PP tersebut menyatakan bahwa kapal perang asing dan pesawat terbang militer asing dilarang melakukan latihan perang-perangan.
Kapal perang asing dan pesawat terbang asing yang merupakan unit-unit kapal perang asing, juga kapal yang menggunakan tenaga nuklir diharapkan untuk melakukan pemberitahuan kepada Pemerintah RI dalam hal ini Panglima TNI terlebih dahulu. Perlunya ada pemberitahuan terlebih da- hulu oleh kapal-kapal seperti itu mempunyai tujuan untuk menjamin kepentingan keselamatan pelayaran serta untuk
mengambil tindakan permulaan yang diperbolehkan jika terja- di sesuatu yang tidak menguntungkan.
Akhirnya perbedaan ketiga, rezim hukum lintas damai memperkenankan negara Republik Indonesia untuk melaku- kan penangguhan terhadap pelayaran kapal asing di wilayah perairannya, sementara rezim hukum lintas transit dan lintas alur laut kepulauan tidak memperkenankan Indonesia untuk melakukan tindakan penangguhan seperti itu. Kalau dalam konteks hak lintas damai penangguhan itu perlu dilakukan, maka harus diperhatikan syarat-syarat berikut ini.
Pertama, tindakan penangguhan itu hanya dapat dila- kukan pada bagian-bagian tertentu dari wilayah perairan Republik Indonesia. Kedua, tindakan penangguhan itu hanya dapat dilakukan untuk sementara waktu. Ketiga, tindakan tersebut dilakukan di samping untuk membuktikan kedaula- tan Indonesia di wilayah perairannya, juga untuk menjamin keselamatan pelayaran bagi kapal asing. Keempat, tindakan tersebut hanya dapat berlaku efektif setelah diadakan pengumuman yang sewajarnya. Dalam pengertian praktis
tindakan penangguhan (suspension) tersebut dilakukan
dengan menutup untuk sementara waktu bagian-bagian laut yang biasa digunakan oleh kapal asing dalam segala jenisnya. Pemerintah RI tidak sekedar menutup bagian-bagian laut tertentu saja sebab kalau ini yang terjadi berarti Pemerintah menghambat dan menghalangi hak kapal asing untuk melintasi wilayah perairan, padahal ini samasekali
dilarang terkecuali kapal asing melakukan pelanggaran hukum. Dengan demikian Pemerintah atau otoritas terkait mempunyai kewajiban untuk menyediakan bagian-bagian laut lainnya sebagai alternative yang dapat digunakan sehingga kapal asing tetap dapat menikmati haknya dalam melintasi wilayah perairan Indonesia dengan mengikuti alur laut kepulauan yang telah ditentukan.
Selanjutnya dalam memahami secara baik dan benar soal implementasi atau penerapan atas ketiga macam lintas pelayaran yang memiliki persamaan-persamaan (di samping
perbedaan-perbedaannya) sehingga sering tidak dapat
dipisahkan satu sama lain di dalam wilayah perairan
sebelumnya pernah disinggung mengenai adanya sembilan belas persyaratan yang harus ditaati oleh kapal dan pesawat udara asing yang melaksanakan hak lintas alur laut kepulauan Indonesia (Penyuluhan Hukum ALKI, Dinas Pembinaan Hukum TN I AL, MABES TNI AL Cilangkap, 1998:2-3) :
1. Kapal-kapal yang berada di ALKI tidak akan mengganggu
kedaulatan (souvereignty), keutuhan teritorial (territorial
integrity) atau kemerdekaan (independence) dan persa-
tuan nasional Indonesia (national union of Indonesia).
Kapal-kapal yang dimaksud tentu semua jenis kapal (kapal dagang, kapal perang, kapal berbendera Republik Indonesia ataupun kapal asing dan lain-lain) tidak akan melaksanakan setiap kegiatan yang bertentangan de- ngan azas-azas hukum internasional sebagaimana dite- tapkan di dalam Piagam PBB.
2. Pesawat terbang (tentu saja yang dimaksud disini pesa-
wat terbang dalam segala jenisnya baik itu pesawat sipil maupun pesawat militer) dalam melaksanakan hak lintas alur laut kepulauan tidak diperbolehkan untuk melakukan penerbangan di luar alur-alur laut (di atas atau dengan pengecualian Rezim Organisasi Penerba- ngan Sipil Internasional/Regime ICAO) dan pesawat terbang tersebut tidak akan terbang terlalu dekat dengan pulau-pulau atau daratan di dalam wilayah teritorial Indonesia, termasuk daerah di dalam ALKI. Penerbangan
disertai dengan maneuver pesawat militer AS yang ter- jadi beberapa tahun lalu di ruang udara diatas Pulau Bawean (Propinsi Jawa Timur) di samping melakukan penerbangan tanpa persetujuan dari dan tanpa pemberi- tahuan kepada Pemerintah RI, juga melakukan pener- bangan di luar alur-alur laut kepulauan serta mendekati pantai pulau Bawean dalam wilayah kedaulatan sehing- ga mengancam dan membahayakan kedaulatan serta keutuhan territorial NKRI.
3. Pesawat terbang sipil asing yang melalui ALKI harus
mengikuti aturan-aturan penerbangan sipil internasional sebagaimana ditetapkan oleh Organisasi Penerbangan
Sipil Internasional (International Civil Aviation Organiza-
tion) seperti misalnya The Chicago Convention tahun
1944.
4. Kapal perang asing dan pesawat terbang militer asing
ketika sedang melewati alur-alur laut, tidak diperbo- lehkan melakukan latihan perang-perangan. Larangan seperti ini tentu terkait masalah pertahanan dan keama- nan negara, masalah kedaulatan serta keutuhan terito- rial NKRI. Dengan demikan insiden udara di atas Pulau Bawean oleh pesawat militer AS yang melakukan maneuver tanpa persetujuan dari Panglima TNI (seakan- akan mengadakan latihan perang-perangan) yang terjadi beberapa tahun sebelumnya sesungguhnya merupakan pelanggaran atas kedaulatan dan keutuhan territorial
NKRI sekalipun pihak AS merasa tidak terikat terhadap KHL 1982 karena negeri Paman Sam ini belum meratifi- kasinya hingga saat ini. Namun alasan ini tidak dapat dipertanggungjawabkan dilihat dari sudut Piagam PBB yang mewajibkan AS untuk menghormati kedaulatan dan keutuhan territorial setiap negara berdaulat, apalagi AS berstatus sebagai anggota tetap dari Dewan Keama- nan yang mempunyai tanggungjawab utama dalam me- melihara perdamaian serta keamanan internasional.
5. Kapal perang asing dan pesawat terbang asing yang
merupakan satuan-satuan atau unit-unit kapal perang asing, di samping kapal-kapal yang menggunakan tenaga nuklir, yang sedang melewati alur laut, diharapkan untuk memberitahukan kepada Pemerintah Republik Indonesia (yaitu Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia atau Panglima TNI) terlebih dahulu demi untuk kepentingan keselamatan pelayaran dan untuk mengambil tindakan permulaan yang diperlukan jika
terjadi sesuatu yang tidak menguntungkan. Kata “diha-
rapkan” tentu saja berbeda dengan kata “diwajibkan atau diharuskan” sehingga kapal perang asing, pesawat
terbang asing dan kapal yang bertenaga nuklir sebe- narnya harus melakukan pemberitahuan kepada Pang- lima TNI sebelum melintasi wilayah perairan Indonesia. Pemerintah RI dalam hal ini Panglima TNI hanya mengharapkan agar kapal-kapal yang disebutkan di atas
sebelum melewati ALKI sebaiknya terlebih dahulu me- nyampaikan notifikasi dengan tujuan untuk menjamin keselamatan pelayaran serta untuk mengambil tindakan permulaan yang memang diperlukan apabila terjadi se- suatu yang tidak menguntungkan navigasi yang dilaku- kan oleh kapal-kapal tersebut.
6. Kapal-kapal yang membawa bahan nuklir diharuskan
memiliki peralatan perlindungan keamanan dan diharus- kan untuk tetap melakukan kontak dan hubungan yang terus menerus dengan pihak TNI Angkatan Laut sesuai dengan Konvensi Perlindungan Fisik Bahan-Bahan Nuklir. Pengertian kapal-kapal tentu saja mencakup segala jenis kapal, entah kapal dagang, kapal penelitian, kapal ikan, kapal perang dan bermacam-macam kapal lainnya, juga entah kapal itu kapal berbendera Indonesia ataupun kapal berbendera asing atau kapal asing kalau membawa dan mengangkut bahan-bahan nuklir dengan melintasi wilayah perairan Indonesia dibebani dengan kewajiban untuk membawa alat perlindungan keama nan serta kewajiban untuk melakukan hubungan secara terus menerus dengan pihak TNI Angkatan Laut dalam rangka menjamin keselamatan pelayaran.
7. Pesawat terbang militer asing yang terbang di atas ALKI
harus memperhatikan keselamatan penerbangan sipil
serta tetap berhubungan dengan ATC (Air Traffic Control)
mantau frekuensi darurat. Penerbangan pesawat militer AS di wilayah udara di atas Pulau Bawean (Propinsi Jawa Timur) yang terjadi beberapa tahun lalu selain merupakan pelanggaran kedaulatan serta mengancam dan membahayakan keutuhan territorial Indonesia, juga sangat membahayakan keselamatan penerbangan sipil sebab masuk ke wilayah RI tanpa meminta izin ataupun tanpa menyampaikan pemberitahuan kepada otoritas terkait, apalagi pesawat-pesawat yang tidak diundang ini ternyata melakukan manuver-manuver yang membaha- yakan keselamatan penerbangan baik terhadap pesawat sipil maupun pesawat TNI Angkatan Udara yang ditu- gaskan untuk melakukan tindakan pencegatan atau
intersepsi (interception) terhadap pesawat AS yang sudah
jelas melakukan tindakan provokasi.
8. Kapal-kapal asing atau pesawat terbang yang sedang
transit sebaiknya bergerak secara hati-hati di ALKI yang penuh dengan kegiatan ekonomi (baik kegiatan di bidang perikanan maupun pertambangan). Untuk itu kapal atau pesawat terbang yang sedang transit sebaiknya memper hatikan aturan-aturan yang menetapkan batas daerah
pelayaran (restricted zone) dengan radius sejauh1.250
meter dari batas terluar daerah aman (prohibited zone)
instalasi minyak dan gas, dan dilarang memasuki batas
daerah aman (prohibited zone) yang radiusnya 500 meter
hatikan serta berhati-hati terhadap saluran pipa dan kabel laut. Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1973 mengenai Landas Kontinen Indo- nesia yang masih berlaku hingga sekarang, setiap instalasi atau bangunan khususnya instalasi pertamba- ngan minyak dan gas bumi yang didirikan di Landas Kontinen harus memiliki apa yang disebut daerah ter-
larang (prohibited area) dan daerah terbatas (restricted
area). Daerah terlarang lebarnya tidak boleh melebihi
500 meter yang dihitung dari setiap titik terluar pada instalasi, kapal-kapal dan atau alat-alat lainnya yang terdapat di Landas Kontinen dan atau di atasnya, sedangkan daerah terbatas lebarnya tidak boleh melebihi 1.250 meter terhitung dari titik-titik terluar dari daerah terlarang itu, di mana kapal-kapal pihak ketiga dilarang membuang atau membongkar jangkar. Kapal-kapal ha- rus berlayar secara terus menerus dalam radius antara 500 meter dengan 1.250 meter di sekeliling instalasi, kapal maupun alat-alat lainnya. Kapal asing dan pesa- wat terbang asing tidak boleh memasuki daerah terla- rang atau daerah aman yang radiusnya maksimal 500 meter terhitung dari titik-titik terluar dari instalasi dengan segala perlengkapannya sebab daerah aman ini ditetapkan sebagai daerah pabean di mana berlaku semua peraturan hukum Republik Indonesia. Kapal asing dan pesawat terbang asing hanya bisa melintasi
daerah terbatas dengan radius 1.250 meter terhitung dari titik-titik terluar dari instalasi serta segala perlengkapannya.
9. Kapal-kapal ikan asing harus tetap menyimpan
peralatan penangkapan ikan sewaktu transit, dan dilarang melaksanakan kegiatan penangkapan ikan ketika melakukan transit di wilayah perairan Indonesia.
10. Kapal-kapal yang melintas transit di perairan alur-alur
laut harus berhati-hati dan harus menggunakan peraturan system keselamatan navigasi internasional serta dapat menunjukkan kemampuannya sebagai- mana yang dimiliki oleh kapal setempat maupun nela- yan dan pelaut setempat.
11. Setiap kapal yang melintasi wilayah perairan Indonesia
dilarang membuang benda-benda sisa beracun atau benda berbahaya termasuk sampah di perairan Indonesia. Wilayah perairan Republik Indonesia tidak boleh dijadikan sebagai tempat pembuangan limbah baik limbah yang mengandung racun atau zat-zat berbahaya lainnya karena Pemerintah dapat menerap- kan peraturan perundang-undangan yang mengatur masalah lingkungan hidup (Undang-Undang Republik