• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pelbagai Macam Lintas Layar di Wilayah Perairan Indonesia

Dalam dokumen Hukum Laut Indonesia dan id (Halaman 91-96)

DAN KESELAMATAN PELAYARAN

A. Pelbagai Macam Lintas Layar di Wilayah Perairan Indonesia

Perairan yang terletak pada bagian dalam dari garis pangkal lurus kepulauan Indonesia disebut perairan kepulau- an yang status hukumnya sama seperti laut teritorial (yang terletak pada bagian luar dari garis pangkal lurus kepulauan) di mana Negara Republik Indonesia mempunyai kedaulatan atas perairan kepulauan serta laut teritorialnya, yang juga meliputi ruang udara, dasar laut dan tanah di bawahnya maupun sumber daya alam yang terkandung di dalamnya.

Akan tetapi kedaulatan tersebut tidak bersifat mutlak sebab negara Republik Indonesia mempunyai kewajiban untuk memperkenankan kapal-kapal asing dalam segala

jenisnya untuk melaksanakan hak lintas damai (innocent pas-

sage) maupun hak lintas transit (transit passage) dan hak lin-

tas alur-alur laut kepulauan (archipelagic sealanes passage).

Apa yang dimaksud dengan hak lintas damai, hak lintas transit dan hak lintas alur laut kepulauan? KHL 1982 dan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 1996 telah mengatur hal ini.

Hak lintas damai (the right of innocent passage) adalah

untuk berlayar melewati laut teritorial dan atau perairan kepulauan suatu negara yang dalam hal ini melewati laut teritorial dan atau perairan kepulauan Indonesia. Dari penger- tian ini terdapat beberapa kemungkinan terkait dengan kapal asing yang melintasi perairan Indonesia. Kemungkinan perta- ma kapal asing datang dari laut bebas, lalu melewati laut territorial dan atau perairan kepulauan Indonesia dan menyinggahi perairan pedalaman di suatu pelabuhan atau tempat persinggahan.

Kemungkinan kedua, kapal asing itu meninggalkan pelabuhan atau tempat persinggahan, lalu melintasi laut territorial dan atau perairan kepulauan Indonesia untuk se- terusnya menuju ke laut bebas atau periran internasional. Kemungkinan ketiga, kapal asing itu datang dari laut bebas menuju ke laut bebas lainnya, dengan hanya semata-mata melintasi laut territorial dan atau perairan kepulauan Indo- nesia. Hak lintas damai harus dilaksanakan secara terus menerus, langsung dan secepat mungkin.

Akan tetapi kapal asing dapat berhenti, membuang sauh atau jangkar asal kegiatan ini terkait dengan navigasi yang sudah lazim terjadi ataupun kegiatan ini perlu dilakukan

karena kapal asing tadi mengalami keadaan memaksa (force

majeure) atau mengalami kesulitan ataupun kegiatan berhenti

dan membuang jangkar itu perlu dilakukan dengan maksud untuk memberikan pertolongan kepada orang, kapal atau pesawat udara yang berada dalam bahaya atau kesulitan.

Kapal asing yang sedang melintasi wilayah perairan Indonesia tidak boleh menimbulkan gangguan terhadap kedamaian atau ketenteraman, ketertiban umum dan keamanan di wilayah RI.

Kapal asing juga tidak boleh melakukan kegiatan-

kegiatan yang dilarang oleh KHL 1982 (Pasal 19 juncto Pasal

52), dan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 1996 yang menetapkan kurang lebih 12 kegiatan yang tidak boleh dilakukan oleh kapal asing selama melewati laut territorial dan atau perairan kepulauan Indonesia. Pemerintah Republik Indonesia telah menindaklanjuti ketentuan Pasal 19 (lintas damai di laut teritorial), Pasal 38 (lintas transit di Selat yang digunakan untuk pelayaran internasional), Pasal 45 (lintas damai di Selat yang digunakan untuk pelayaran internasional), Pasal 52 (lintas damai di perairan kepulauan) dan Pasal 53 (lintas alur laut kepulauan) di dalam sebuah Rancangan Peraturan Pemerintah yang ditetapkan pada tahun 1998, tetapi berlakunya pada tahun 2002 berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2002, yang mengatur mengenai Alur Laut Kepulauan Indo- nesia (ALKI) serta adanya 19 persyaratan yang harus dipenuhi kapal asing yang melewati Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI).

Akan tetapi sebelum dibentangkan ke-19 persyaratan berdasarkan Peraturan Pelaksanaan dari Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 1996, perlu dijelaskan

right of transit passage) berdasarkan ketentuan Pasal 38 KHL 1982 dan apa yang dimaksud dengan hak lintas alur-alur laut

kepulauan (the right of archipelagic sealanes passage)

berdasarkan ketentuan Pasal 53 KHL 1982. Hak lintas transit berlaku di Selat yang digunakan untuk pelayaran inter-

nasional (Straits Used for International Navigation), yaitu

bagian laut yang terletak di antara dan menghubungkan satu bagian dari ZEE atau laut lepas dengan bagian lain dari ZEE atau laut lepas.

Selat tersebut merupakan bagian dari laut teritorial yang dimiliki bukan oleh satu negara saja, melainkan oleh beberapa negara. Pada selat seperti itu segala jenis kapal dan pesawat udara asing diperkenankan untuk melaksanakan hak lintas transit. Hak lintas transit berarti pelaksanaan kebe- basan pelayaran dan penerbangan berdasarkan bab ini (bab III mengenai Selat yang digunakan untuk pelayaran inter- nasional) untuk tujuan transit yang terus menerus, langsung dan secepat mungkin antara satu bagian laut lepas atau zona ekonomi eksklusif dan bagian laut lepas dan zona ekonomi eksklusif lainnya.

Namun demikian persyaratan transit secara terus menerus, langsung dan secepat mungkin tidak menutup ke- mungkinan bagi lintas melalui selat untuk tujuan memasuki, meninggalkan atau kembali dari suatu negara yang berbata- san dengan selat itu, dengan tunduk pada syarat-syarat masuk negara itu. Oleh karena itu setiap kegiatan yang bukan

merupakan pelaksanaan hak lintas transit melalui suatu selat tetap tunduk pada ketentuan-ketentuan lain Konvensi ini.

Demikian gambaran makro mengenai hak lintas transit yang berlakunya di Selat yang digunakan untuk Pelayaran Internasional. Selanjutnya mengenai hak lintas alur-alur laut kepulauan ditentukan di dalam Pasal 53 KHL 1982. Suatu negara kepulauan dapat menentukan alur-alur laut dan rute penerbangan di atasnya, yang cocok digunakan untuk lintas kapal dan pesawat udara asing yang terus menerus, langsung dan secepat mungkin melalui atau di atas perairan kepulauannya dan laut territorial yang berdam- pingan dengannya. Semua kapal dan pesawat udara menik- mati hak lintas alur laut kepulauan di dalam alur laut dan rute penerbangan di atasnya. Hak Lintas alur laut kepulauan

(the right of archipelagic sealanes passage) berarti pelaksa-

naan hak pelayaran dan penerbangan sesuai dengan ketentuan-ketentuan konvensi ini dalam cara yang normal

(normal mode) semata-mata untuk melakukan transit yang

terus menerus, langsung dan secepat mungkin serta tidak terhalang antara satu bagian laut lepas atau ZEE dan bagian laut lepas atau ZEE lainnya. Demikian ketentuan Pasal 53 KHL 1982.

Sedang Pasal 52 KHL 1982 menyatakan bahwa de- ngan tunduk pada ketentuan Pasal 53 dan tanpa mengurangi arti ketentuan Pasal 50, kapal semua negara menikmati hak

lintas damai melalui perairan kepulauan sesuai dengan ketentuan dalam Bab II, Bagian 3.

Dalam dokumen Hukum Laut Indonesia dan id (Halaman 91-96)