BAB I
PENETAPAN ILMU-ILMU KELAUTAN TERMASUK
HUKUM LAUT SEBAGAI POLA ILMIAH POKOK
A.Pengertian Pola Ilmiah Pokok
Setiap lembaga pendidikan tinggi diharapkan
mene-rapkan apa yang dinamakan Pola Ilmiah Pokok (PIP) atau
da-lam bahasa Inggeris disebut The Main Scientific Pattern (MSP).
PIP atau MSP yang menunjukkan orientasi atau arah
pengem-bangan lembaga pendidikan tinggi yang bersangkutan.
Pene-rapan PIP oleh setiap lembaga pendidikan tinggi harus di
da-sarkan atas keunggulan atau kompetensi spesifik yang di
mi-likinya, dan kompetensi ini merupakan prasyarat untuk
mela-kukan kerjasama intensif antarberbagai lembaga pendidikan
tinggi.
Tanpa memiliki kompetensi spesifik, tidak mungkin
suatu perguruan tinggi, dapat berpartisipasi dalam kerjasama
dengan perguruan tinggi lain atau instansi lainnya. Kerjasama
intensif itu sendiri adalah suatu unsur dari sistem pendidikan
nasional, dan merupakan salah satu program jangka panjang
dari Pola Kebijaksanaan Dasar Pengembangan Pendidikan
Tinggi di negeri ini yang ditetapkan sejak tahun 1975.
PIP bukanlah sebuah disiplin ilmu, melainkan
meru-pakan orientasi pemikiran strategis, dalam pendidikan yang
sejauh mungkin mencakup setiap disiplin ilmu, sehingga
dengan demikian, PIP diharapkan dapat memberikan arah
atau perguruan tinggi, serta sekaligus dapat memberikan
nuansa spesifik kepada pelbagai disiplin ilmu yang
dikem-bangkan perguruan tinggi yang bersangkutan (Universitas
Hasanuddin, 1999:1).
Pilihan atau penetapan PIP bagi setiap perguruan
tinggi, dilakukan melalui pemikiran-pemikiran yang sifatnya
fundamental, yang berkaitan dengan keadaan lingkungan,
kebudayaan, dan sejarah kehidupan masyarakat luas, dimana
perguruan tinggi tersebut berada atau berdomisili. PIP
diha-rapkan memberikan warna dan nuansa spesifik, terhadap
perguruan tinggi yang bersangkutan, sehingga setiap
luaran-nya diharapkan, memiliki kemampuan untuk memberikan
warna dan nuansa spesifik, nuansa PIP terhadap disiplin ilmu
yang dikembangkannya.
Nuansa PIP dikembangkan secara tersebar, melalui
pelbagai disiplin ilmu pengetahuan yang dibina oleh berbagai
fakultas, sekaligus juga dapat dikembangkan secara terpusat,
pada sekumpulan disiplin ilmu yang membentuk program
studi, yang mendukung PIP itu secara melembaga di dalam
dan melalui satu fakultas.
B.Sejarah Penetapan Ilmu-Ilmu Kelautan Sebagai PIP
Universitas Hasanuddin
Universitas Hasanuddin (UNHAS) sebagai lembaga
pendidikan tinggi atau perguruan tinggi, telah memilih dan
menetapkan Ilmu-Ilmu Kelautan (Marine Sciences) sebagai
dikembangkan, dengan harapan dapat memberikan nuansa
spesifik bagi uni-versitas, dalam rangka melakukan kerjasama
intensif dengan lembaga pendidikan tinggi lain serta instansi
lain, baik milik pemerintah ataupun swasta.
Ditetapkannya Ilmu-Ilmu Kelautan sebagai PIP
UNHAS didasarkan atas kesepakatan yang dica-pai melalui
pelbagai pertemuan ilmiah yang puncaknya terjadi pada
Seminar Administrasi UNHAS di Kabupaten Soppeng (salah
satu kabupaten di Propinsi Sulawesi Selatan) pada tahun
1975. Kesepakatan tersebut kemudian dikukuhkan melalui
Rapat Senat UNHAS dan selanjutnya dituangkan ke dalam
Surat Keputusan Rektor UNHAS No.1149/UP-UH/1975
tang-gal 27 Desember 1975.
Salah satu tonggak penting dalam perjalanan sejarah
pengembangan PIP UNHAS adalah adanya dukungan strategis
yang diucapkan sendiri oleh Presiden RI kala itu (Bapak
Soeharto), ketika UNHAS merayakan Dies Natalisnya (hari
jadi) yang ke-25 pada bulan September 1981 (Kerangka
Kebijakan Pengembangan PIP UNHAS:2). Beliau mengatakan
antara lain, Universitas Hasanuddin mempunyai kedudukan
yang khas dalam pengembangan studi ilmu-ilmu kelautan,
karena letak geografis UNHAS berada di belahan Timur
Nu-santara yang luas wilayah lautnya. Karena itu saya minta
agar usaha Universitas Hasanuddin untuk mengkhususkan
diri dalam pengembangan studi ini diteruskan dan tidak boleh
Kenyataan menunjukkan bahwa, lautan di wilayah
Indonesia yang luas dan kaya itu, sebagian terbesar belum
diolah. Adalah wajar dan bahkan sudah seharusnya jika
Universitas Hasanuddin tidak hanya memikirkan, tetapi
memegang peranan dalam perkembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi di bidang ini.
Tonggak penting lainnya adalah pembentukan
Prog-ram Studi Ilmu dan Teknologi Kelautan sebagai jurusan yang
ditempatkan pada Fakultas Peternakan UNHAS pada tahun
1988, dimana pembentukan program studi tersebut dilakukan
berdasarkan Surat Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan
Tinggi No.19/Dikti/Kep/ 1988 tanggal 16 Juni 1988. Program
Studi Ilmu dan Teknologi Kelautan merupakan embrio dan
cikal bakal bagi terbentuknya Fakultas Ilmu dan Teknologi
Kelautan.
Jurusan Program Studi Ilmu dan Teknologi Kelautan,
maupun Jurusan Program Studi Ilmu Perikanan, pada
akhir-nya ditetapkan sebagai bagian dari sebuah Fakultas yang
disebut Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan pada tahun
1996, yang penetapannya didasarkan atas Surat Keputusan
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No.036/O/1996 tanggal
29 Januari 1996. Keberadaan Fakultas Ilmu Kelautan dan
Perikanan merupakan salah satu langkah maju dalam
pengembangan PIP UNHAS, tetapi sekaligus mendorong
academica, terutama dari kalangan Fakultas MIPA, dan
Fa-kultas Teknik.
Semoga ketidakpuasan dan gejolak yang pernah
ter-jadi, dalam hubungan dengan eksistensi Fakultas Ilmu
Kelautan dan Perikanan sudah teratasi, dan hal ini hanya
dapat dilakukan melalui dialog di antara pihak-pihak yang
berkepentingan, guna menemukan solusi terbaik dari kemelut
memalukan yang pernah kronis dan berlarut-larut. Solusi
terbaik hanya dapat diwujudkan dengan mempergunakan
pendekatan win-win solution, dimana tidak ada pihak yang
kalah dan tidak ada pihak yang menang, sebab semua
menang, sehingga Ilmu-Ilmu Kelautan yang dicanangkan
sebagai PIP UNHAS ini benar-benar dapat berkembang dan
memberi manfaat, serta kontribusi positif bagi pembangunan
nasional pada umumnya, dan pembangunan masyarakat
Su-lawesi Selatan pada khususnya dalam rangka mencapai dan
meningkatkan kesejahteraan terutama bagi rakyat Sulawesi
Selatan.
C.Ilmu-Ilmu Kelautan Masih Memiliki Relevansi
Mengenai Relevansi Ilmu-Ilmu Kelautan termasuk
pula Ilmu Hukum Laut sebagai PIP UNHAS, pertanyaan yang
dapat diajukan adalah, apakah Ilmu-Ilmu Kelautan yang
ditetapkan sebagai PIP UNHAS sejak tahun 1975 masih
relevan, dan sesuai dengan tuntutan kebutuhan masyarakat
pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi secara
umum.
Pertanyaan strategis ini dapat dijawab dengan
menga-mati beberapa kecenderungan perkembangan, baik yang
ber-sifat lokal maupun global yang sedang terjadi pada saat ini,
antara lain adalah sebagai berikut (Kerangka Kebijakan
Pengembangan PIP Unhas:3) :
1. Ketergantungan manusia pada sumber daya alam (
natu-ral resources), menghadapi kendala dengan semakin
ber-kurangnya ketersediaan sumber daya alam, yang
terda-pat di wilayah daratan, sehingga memaksa manusia
un-tuk beralih, kepada kemungkinan pemanfaatan sumber
daya alam yang berlokasi di lautan. Kecenderungan ini
antara lain, dapat dilihat dengan semakin meningkatnya
kegiatan eksplorasi dan eksploitasi di wilayah laut,
seperti kegiatan penangkapan ikan, penambangan
minyak dan gas bumi, pemanfaatan energi laut dan
sebagainya.
2. Pergeseran kutub-kutub perdagangan dunia dari benua
Eropa dan Amerika ke wilayah basin Pasifik, yaitu
kawa-san negara-negara yang wilayahnya terletak di tepian
atau pinggiran Samudera Pasifik. Karena ciri geografis
yang dimiliki oleh negara-negara, tersebut didominasi
oleh laut, maka dapat diramalkan bahwa, karakteristik
diwarnai oleh pemanfaatan sumber daya kelautan,
ter-masuk jasa lingkungan laut.
3. Perhatian terhadap interaksi antara atmosfir dan
per-mukaan tanah, dalam menelaah siklus iklim ternyata
sudah tidak dapat menjelaskan lebih jauh, tentang
terja-dinya anomaly iklim, atau penyimpangan iklim yang
se-dang berlangsung saat ini. Dewasa ini mulai disadari
bahwa adanya penyimpangan iklim itu, hanya dapat
dipahami dengan mengamati interaksi antara atmosfir
dengan lautan. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya
peran lautan sebagai regulator, proses alamiah yang
terjadi di atas permukaan bumi (termasuk di daratan)
yang secara langsung maupun tidak langsung
mempe-ngaruhi kehidupan umat manusia. Dengan kata lain,
kedudukan Ilmu-Ilmu Kelautan menjadi semakin penting
dikaitkan dengan upaya-upaya untuk meningkatkan
kualitas kesejahteraan umat manusia.
4. Dicetuskannya konsepsi Benua Maritim Indonesia
(konsepsi BMI), dan Deklarasi Bunaken pada tanggal 26
September 1998 yang pada prinsipnya menegaskan
bahwa laut adalah peluang, tantangan dan harapan
(opportunity, challenge, and hope) bagi masa depan
per-satuan, kesatuan dan pembangunan Indonesia,
menun-jukkan secara jelas dan meyakinkan mengenai posisi
strategis laut bagi masa depan Republik ini. Hal ini
seca-ra geogseca-rafis terletak di Kawasan Timur Indonesia, yang
memiliki wilayah laut yang jauh lebih luas, dibandingkan
dengan wilayah daratannya, dan secara budaya terletak
di lingkungan masyarakat bahari, dengan latar belakang
sejarah dan budaya bahari yang kental.
5. Faktor terakhir, yang juga tak kalah pentingnya adalah
apa yang dinamakan dengan Agenda 21 yang antara lain
mencanangkan sekian banyak azas atau prinsip yang
perlu diimplementasikan oleh negara-negara di seluruh
dunia dalam menghadapi pelbagai tantangan yang
demi-kian berat dalam millenium III. Salah satu azas yang
dimaksud adalah azas pelestarian lingkungan, termasuk
di dalamnya pelestarian lingkungan laut, serta
pemba-ngunan yang berkelanjutan, yang dengan sendirinya
menempatkan Ilmu-Ilmu Kelautan (termasuk di
dalam-nya Hukum Laut) tetap memiliki relevansi untuk terus
dikaji dan dikembangkan, dalam rangka mewujudkan
kesejahteraan masyarakat Indonesia pada umumnya dan
masyarakat Sulawesi Selatan pada khususnya.
D.Visi dan Misi dari PIP Universitas Hasanuddin (Tujuan
dan Pendekatan)
Secara sederhana dan singkat dapat dikatakan bahwa
pengelolaan sumber daya kelautan, hanya dapat dilakukan
dengan menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi maju,
karena potensi sumber daya tersebut sulit dijangkau dengan
pengenalan iptek seyogyanya tidak dalam wujud kelembagaan
asing yang dicangkokkan ke dalam sistem budaya
masyara-kat, tetapi harus sesuai dengan nilai dan karakteristik budaya
masyarakat setempat. Visi Pola Ilmiah Pokok UNHAS dapat
dirumuskan sebagai berikut, yakni UNHAS sebagai pusat
pengembangan budaya bahari yang bercirikan kemandirian
dalam konteks kesadaran interkoneksitas universal (Kerangka
Kebijakan Pengembangan PIP Unhas:10-13).
Seiring dengan visi tersebut, maka misi PIP UNHAS
dapat dirumuskan dalam bentuk sebagai berikut :
1. Menghasilkan alumni yang mempunyai wawasan
ke-UNHAS-an dalam pelbagai disiplin ilmu dan strata
pendidikan, terutama yang berkaitan dengan ilmu dan
teknologi kelautan;
2. Mengembangkan ilmu dan teknologi yang berkaitan
de-ngan pengelolaan sumber daya kelautan;
3. Mempromosikan dan mendorong proses terwujudnya
masyarakat bahari yang berkualitas, sejahtera, dan
ber-orientasi kepada prestasi.
Wawasan ke-UNHAS-an mengandung pengertian
bahwa setiap lulusan Unhas memiliki jiwa dan potensi
kemandirian, dan senantiasa memiliki dan memelihara
komit-men terhadap pengembangan budaya bahari.
Sejalan dengan visi dan misi tersebut di atas, maka
1. Mampu berperan sebagai pusat konservasi dan
pengem-bangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni di bidang
kelautan yang berskala dunia.
2. Terwujudnya kampus sebagai masyarakat akademik
yang berwawasan kelautan yang mampu mendorong
ber-kembangnya kegiatan tridarma perguruan tinggi, yang
bernuansa kelautan dan berciri kemandirian serta
tang-gap terhadap dinamika perubahan lokal maupun global.
3. Mengembangkan dan memanfaatkan ilmu pengetahuan,
teknologi, dan seni yang berkaitan dengan pengelolaan
sumber daya kelautan, melalui penyelenggaraan
prog-ram-program studi, penelitian, pengembangan
kelem-bagaan serta pengembangan sumber daya manusia
akademik.
4. Meningkatkan produktivitas dan kualitas luaran,
khususnya yang berkaitan dengan kebutuhan
pemba-ngunan kelautan.
5. Berkembangnya budaya bahari yang berciri kemandirian
di kalangan masyarakat kawasan pesisir di Indonesia.
Dalam upaya mencapai tujuan tersebut di atas,
UNHAS melaksanakan pola pendekatan melalui
institusio-nalisasi, fungsioinstitusio-nalisasi, integrasi, partisipasi dan kemitraan.
Institusionalisasi (Institutionalization) mengandung pengertian
bahwa seluruh unsur dari Universitas Hasanuddin
bertang-gungjawab untuk mengembangkan dan memperkuat
manajemen, pembinaan kepemimpinan dan kelembagaan,
pe-ngenalan prosedur, cara kerja dan pelbagai aspek
kelemba-gaan, berdasarkan potensi dan masalah dari masing-masing
lembaga atau unit kerja yang ada. Fungsionalisasi (
Functiona-lization) diartikan bahwa program-program yang ada
dilaksa-nakan dengan memfungsikan secara berdaya guna dan
berha-sil guna semua sumber daya yang dimliki.
Selanjutnya integrasi (integration) atau keterpaduan
dimaksudkan mengintegrasikan potensi kelembagaan
mau-pun unsur-unsur universitas dan fakultas sedemikian rupa,
sehingga terwujud pencapaian tujuan PIP secara optimal.
Kemudian partisipasi (participation) diartikan bahwa dalam
semua kegiatan diupayakan pencapaian kesuksesan dengan
mengundang partisipasi maksimal semua pihak yang terkait.
Sedangkan kemitraan (partnership) dimaksudkan bahwa
dalam mengoptimalkan pencapaian tujuan PIP,
dikembang-kan kerjasama dengan pelbagai pihak di luar universitas,
terutama dengan pemerintah (pusat dan daerah), dunia usaha
dan industri, perguruan tinggi, lembaga IPTEK dan
kelemba-gaan masyarakat lainnya. seperti LSM, di dalam maupun di
BAB II
PRINSIP NEGARA NUSANTARA
(ARCHIPELAGIC STATE PRINCIPLE)
A.Pelbagai Istilah dan Pengertiannya
Ada istilah yang dinamakan konsepsi nusantara (
Ar-chipelagic Concept), ada istilah wawasan nusantara (
Archipe-lagic Outlook), ada istilah negara nusantara atau negara
kepu-lauan (Archipelagic State), dan ada pula istilah Benua Maritim
Indonesia (The Indonesian Maritime Continent), dan mungkin
ke depan akan muncul lagi istilah-istilah lain terkait dengan
konsepsi nusantara di masa-masa mendatang. Istilah
wawa-san nuwawa-santara adalah suatu wawawawa-san atau outlook atau cara
pandang yang mencita-citakan terwujudnya persatuan dan
kesatuan bangsa dalam pelbagai bidang yang esensial bagi
eksistensi kehidupan serta kelangsungan hidup bangsa dan
negara Republik Indonesia.
Adanya wawasan seperti ini, tentu saja tidak terlepas
dari latarbelakang perjuangan bangsa dalam menghadapi
pelbagai tantangan, baik yang berasal dari luar negeri atau
dari negara kolonial, dengan politik divide et impera, dengan
tujuan untuk memecah belah bangsa dan negara, maupun
yang berasal dari dalam negeri Indonesia sendiri, khususnya
kelompok separatis dengan tujuan untuk memisahkan diri
dari negara kesatuan. Di samping itu, tantangan tersebut bisa
berasal dan bersumber dari adanya perpaduan dari kedua
Selanjutnya istilah Konsepsi Nusantara untuk
pertama kalinya dikemukakan oleh Mochtar Kusumaatmadja,
dimana konsepsi ini pada hakekatnya tersirat dan termuat di
dalam, dan melalui Pernyataan Pemerintah RI pada tanggal 13
Desember 1957 yang kemudian terkenal dengan nama
Deklarasi Juanda (mantan Perdana Menteri Republik
Indo-nesia pada zaman Presiden RI pertama, Bapak Ir. Sukarno)
menyangkut wilayah perairan Indonesia (Mochtar
Kusuma-atmadja, 1978:25-30). Menurut Mochtar KusumaKusuma-atmadja,
ka-rena bersangkut paut dengan masalah kewilayahan (terutama
wilayah perairan RI), maka Konsepsi Nusantara adalah suatu
konsepsi yang bersifat geografis, yang menunjukkan wilayah
Indonesia yang terdiri dari wilayah daratan, namun sebagian
besar adalah wilayah laut atau wilayah perairan harus dilihat
dan dianggap sebagai suatu kesatuan utuh.
Wilayah perairan negeri ini yang luasnya sekitar dua
pertiga dari seluruh wilayah Indonesia tidak dapat
dipisah-kan, tetapi harus dianggap sebagai bagian integral dari
wilayah daratannya (berupa pulau-pulau, baik pulau yang
ukurannya besar maupun kecil) sehingga harus dipandang
sebagai suatu kesatuan yang utuh (Mochtar Kusumaatmadja,
1978:28).
Karena konsepsi nusantara termuat di dalam
Dekla-rasi Juanda mengenai wilayah perairan Indonesia, maka
menurut Mochtar Kusumaatmadja, konsepsi ini sebenarnya
bertuju-an untuk menyatukbertuju-an wilayah Indonesia, ybertuju-ang merupakbertuju-an
wilayah nusantara atau wilayah kepulauan. Dengan
tercapai-nya kesatuan atas seluruh wilayah kepulauan melalui
konsepsi yuridis, atau konsepsi pengaturan hukum mengenai
terintegrasinya wilayah perairan dengan wilayah daratan atau
antara laut dengan pulau, maka diharapkan akan tercapai
dan terwujud pula adanya kesatuan dalam berbagai aspek
kehidupan bangsa dan negara.
Tercapai dan terwujudnya kesatuan bangsa dan
nega-ra dalam berbagai aspek kehidupan, senantiasa harus terus
diperjuangkan sebagaimana halnya dengan perjuangan untuk
mewujudkan secara aktual kesatuan wilayah Indonesia yang
terdiri dari daratan dan perairan. Konsepsi nusantara
sema-kin kukuh dengan ditetapkannya wawasan nusantara melalui
ketetapan MPR RI Nomor IV Tahun 1973 yang menetapkan
wawasan nusantara sebagai salah satu landasan dari
Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN). Harapan dan cita-cita
untuk mewujudkan adanya kesatuan dalam berbagai aspek
kehidupan bangsa dan negara (aspek ideologi, politik,
ekono-mi, sosial-budaya, aspek pertahanan dan keamanan) tertuang
dalam suatu konsepsi yang disebut Wawasan Nusantara, yang
dikukuhkan melalui GBHN berdasarkan TAP MPR RI No. IV
Tahun 1973 yang meliputi berbagai aspek kehidupan dan
pembangunan bangsa dan negara.
Dengan demikian, istilah wawasan nusantara
poli-tis demi mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa dan
negara dalam berbagai aspek kehidupannya. Bagi Mochtar
Kusumaatmadja, konsepsi nusantara adalah suatu konsepsi
yuridis geografis yang berfungsi sebagai wadah fisik bagi
pengembangan wawasan nusantara.
Istilah Negara Nusantara atau dalam bahasa Inggeris
disebut “Archipelagic State” ditegaskan di dalam ketentuan
Pasal 46 Konvensi Hukum Laut 1982 serta Pasal 1
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 1996 tentang
Wilayah Perairan Indonesia yang pada dasarnya menyatakan
bahwa Negara Nusantara atau Negara Kepulauan adalah
negara yang wilayahnya terdiri dari satu kepulauan atau lebih
dan dapat mencakup pulau-pulau lain. Indonesia dinamakan
sebagai negara kepulauan karena wilayah Indonesia
seluruh-nya terdiri dari satu kepulauan atau lebih serta mencakup
pulau-pulau lain. Ada kepulauan Maluku, ada kepulauan
Riau, ada kepulauan Seribu, kepulauan Sangir-Talaud,
kepu-lauan Natuna dan pelbagai macam kepukepu-lauan lain yang
dimi-liki oleh Indonesia.
Di samping itu ada pula Pulau Sumatera, Pulau Jawa,
Pulau Kalimantan, Pulau Sulawesi, Pulau Irian dan
beribu-ribu pulau lain yang tidak perlu dipaparkan, sebab semuanya
ini hanya untuk menunjukkan bahwa wilayah Indonesia
mencakup lebih dari satu kepulauan serta memiliki
pulau-pulau baik besar maupun kecil dalam jumlah yang sangat
gugusan atau kumpulan pulau-pulau, termasuk
bagian-bagi-an pulau, perairbagian-bagi-an ybagian-bagi-ang terletak di bagian-bagi-antarbagian-bagi-anya atau di bagian-bagi-antara
satu pulau dengan pulau lainnya, dan bentuk-bentuk alamiah
lainnya yang hubungannya satu sama lain sedemikian
erat-nya sehingga pulau-pulau, perairan dan wujud alamiah
lain-nya itu membentuk suatu kesatuan geografi, kesatuan
ekonomi dan kesatuan politik yang hakiki atau secara historis
dianggap sebagai suatu kesatuan seperti itu (United Nations
Convention on the Law of the Sea, A/ Conf.62/ 122, 7 October
1982).
Istilah Konsepsi Benua Maritim Indonesia (BMI)
dicetuskan melalui Konvensi Nasional Indonesia yang
di-selenggarakan di Makassar (Ujung Pandang) pada tahun 1998
(Kerangka Kebijakan Pengembangan Pola Ilmiah Pokok
Universitas Hasanuddin:14). Di dalam konvensi atau
perte-muan yang dihadiri oleh pelbagai kalangan dicapai
kesepaka-tan atau komitmen untuk mengkonsepsikan negeri kepulauan
Indonesia sebagai Benua Maritim Indonesia (BMI), dan
pem-bangunannya adalah Pembangunan Benua Maritim Indonesia
(PBMI). Pengkonsepsian BMI dan PBMI bertujuan untuk
mengaktualisasikan wawasan nusantara yang telah dikenal
sejak lama.
Dengan konsepsi dan aktualisasi, maka pemahaman
terhadap wilayah Indonesia dewasa ini, bukannya
pulau-pulau yang dikelilingi dengan laut, seolah-olah wilayah laut
ini, melainkan wilayah laut yang ditaburi dengan pulau-pulau
baik besar maupun kecil. Dengan demikian, Konsepsi Benua
Maritim Indonesia menitikberatkan negara Indonesia sebagai
sebuah benua laut atau benua maritim yang di atasnya
bertaburan dengan pulau-pulau, baik pulau yang berukuran
besar maupun kecil, sehingga menggambarkan pulau-pulau
yang demikian banyaknya seakan-akan menempel pada
wila-yah laut yang begitu luas.
Secara berangsur-angsur, tetapi pasti konsepsi BMI
sebagai konsepsi baru mewarnai pembangunan di Indonesia.
Perhatian terhadap pembangunan kini dan di masa
mendatang akan banyak, bahkan terutama tercurah kepada
adaptasi atau pemanfaatan sumber daya perairan, terutama
perairan laut atau sumber daya kelautan. Dalam konsepsi
BMI, wilayah perairan Indonesia adalah sesuatu yang
domi-nan karena bukan hanya wilayah lautnya yang jauh lebih luas
daripada wilayah daratannya, melainkan juga karena wilayah
perairan berinterseksi dengan wilayah daratan (Kerangka
Kebijakan Pengembangan PIP Unhas:14).
Mengapa dikatakan berinterseksi? Sebabnya adalah
karena di perairan Nusantara atau di laut Nusantara terdapat
wilayah darat yang berbentuk pulau-pulau kecil, sedangkan
di wilayah daratan yang berbentuk pulau-pulau besar,
terda-pat perairan terutama perairan danau yang luas dan dalam,
seperti misalnya di Pulau Sulawesi terdapat Danau Tempe,
pula perairan sungai yang lebar dan panjang, seperti misalnya
di Sumatera Selatan (Sungai Musi) dan Kalimantan (Sungai
Kapuas). Demikian gambaran sederhana tentang berbagai
istilah dalam hubungan dengan Negara Kesatuan Republik
Indonesia sebagai negara nusantara atau negara kepulauan.
B.Sejarah Perkembangan Hukum Laut Indonesia
Pada zaman Hindia Belanda, berlaku suatu peraturan
yang disebut Ordonansi laut teritorial, serta lingkungan
maritim Indonesia (Territoriale Zee en Maritieme Kringen
Ordonnantie atau disingkat menjadi TZMKO) yang berlaku
sejak tahun 1939. Berdasarkan ordonansi ini, setiap pulau
baik pulau yang berukuran besar maupun pulau yang
berukuran kecil di dalam lingkungan wilayah Hindia Belanda
mempunyai laut teritorial sendiri-sendiri.
Laut territorial Hindia Belanda atau laut teritorial
Indonesia adalah jalur laut yang membentang ke arah laut
sampai jarak 3 mil laut yang diukur dari garis air rendah
pada setiap pulau atau bagian pulau yang merupakan wilayah
daratan Indonesia. Dengan demikian wilayah perairan
Indo-nesia meliputi jalur-jalur laut yang mengelilingi setiap pulau
atau bagian pulau Indonesia yang lebarnya hanya 3 mil laut
(Mochtar Kusumaatmadja:187)
Karena masing-masing pulau ataupun bagian pulau
mempunyai laut teritorial sendiri-sendiri dengan lebar hanya
sejauh 3 mil laut terhitung dari garis air rendah pada setiap
terben-tuknya ruangan-ruangan dan kantung-kantung laut bebas
atau perairan internasional antara satu pulau atau bagian
pulau dengan pulau lain atau bagian pulau lainnya, sehingga
membawa dampak yang sangat negatif dan merugikan bagi
kedaulatan serta keutuhan teritorial Indonesia.
Dampak yang begitu merugikan akibat pengaturan
hukum kolonial (TZMKO) yang bernafaskan kebebasan di laut
(freedom of the seas) harus dihentikan atau diatasi, melalui
pengaturan hukum nasional. Hal ini telah dirintis sejak
Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17
Agustus 1945, lahirnya UUD 1945 pada tanggal 18 Agustus
1945 yang di dalamnya terdapat Aturan Peralihan (Pasal II),
dan disusul dengan terbitnya Deklarasi Juanda pada tanggal
13 Desember 1957, yang merupakan pengumuman
pemerin-tah mengenai wilayah perairan Indonesia. Deklarasi ini
me-nyatakan bahwa segala perairan di sekitar, di antara dan yang
menghubungkan pulau-pulau atau bagian pulau-pulau yang
termasuk daratan Negara Republik Indonesia, tanpa
meman-dang luas atau lebarnya adalah bagian-bagian yang wajar
daripada wilayah daratan Negara Republik Indonesia dan
dengan demikian merupakan bagian dari perairan nasional
yang berada di bawah kedaulatan mutlak dari Negara
Repub-lik Indonesia.
Lalu lintas yang damai di perairan pedalaman ini, bagi
kapal asing terjamin selama dan sekedar tidak bertentangan
batas laut teritorial yang lebarnya 12 mil yang diukur dari
garis-garis yang menghubungkan titik-titik terluar pada
pulau-pulau Negara Republik Indonesia akan ditentukan
dengan undang-undang.
Pernyataan Pemerintah tentang wilayah perairan
Indonesia pada tanggal 13 Desember tahun 1957 dilakukan
berdasarkan beberapa pertimbangan (Mochar
Kusumaatma-dja, 1978:187) sebagai berikut :
1. Bahwa bentuk geografi Republik Indonesia sebagai suatu
negara kepulauan yang terdiri dari beribu-ribu pulau
mempunyai sifat, dan corak tersendiri sehingga
memer-lukan pengaturan tersendiri;
2. Bahwa demi kesatuan wilayah (teritorial) Negara
Repub-lik Indonesia, semua kepulauan serta laut yang terletak
di antaranya harus dianggap sebagai satu kesatuan yang
bulat;
3. Bahwa penetapan batas-batas laut teritorial yang
diwarisi dari Pemerintah kolonial sebagaimana
tercan-tum di dalam “Territoriale Zee en Maritieme Kriengen
Ordonnantie” 1939 Pasal 1 ayat (1) tidak sesuai lagi
de-ngan kepentide-ngan keselamatan dan keamanan Negara
Republik Indonesia;
4. Bahwa setiap negara berdaulat berhak dan berkewajiban
untuk mengambil tindakan-tindakan yang dipandangnya
perlu untuk melindungi keutuhan dan keselamatan
Pengaturan perairan Indonesia yang dasar-dasarnya
telah ditetapkan dalam Deklarasi Juanda pada tanggal 13
Desember 1957 kemudian ditetapkan menjadi
undang-undang dengan menggunakan prosedur Peraturan Pemerintah
Pengganti Undang-Undang (Perpu). Adapun isi dari Perpu
yang diundangkan berlakunya pada tanggal 18 Februari
1960 dan kemudian lebih dikenal dengan Undang-Undang
No.4/Prp.1960 adalah sebagai berikut (Mochtar
Kusuma-atmadja, 1978:194) :
1. Untuk kesatuan bangsa, integritas wilayah dan kesatuan
ekonominya ditarik garis-garis pangkal lurus yang
menghubungkan titik-titik terluar dari pulau-pulau
terluar;
2. Negara berdaulat atas segala perairan yang terletak di
dalam garis-garis pangkal lurus, ini termasuk dasar laut
dan tanah di bawahnya, maupun ruang udara di atasnya
dengan segala kekayaan alam yang terkandung di
dalamnya;
3. Jalur laut wilayah (laut teritorial) selebar 12 mil diukur
atau terhitung dari garis-garis pangkal lurus ini;
4. Lalu lintas damai kendaraan air (kapal) asing melalui
perairan nusantara (archipelagic waters) dijamin selama
tidak merugikan kepentingan negara pantai dan
meng-ganggu keamanan serta ketertibannya.
Undang-Undang Nomor 4/ Prp. 1960 yang hanya
laut wilayah Indonesia dari suatu cara penetapan laut wilayah
selebar 3 mil diukur dari garis pasang surut atau garis air
rendah (low water line), menjadi laut wilayah selebar 12 mil
diukur dari garis pangkal lurus yang ditarik dari ujung ke
ujung. Seperti diketahui, cara penetapan garis pangkal lurus
ini untuk pertama kalinya memperoleh pengakuan dalam
hukum internasional melalui putusan Mahkamah
Internasio-nal (International Court of Justice) dalam perkara sengketa
perikanan Inggeris-Norwegia (Anglo-Norwegian Fisheries Case)
tahun 1951 (lihat kasusnya dalam L.C. Green, International
Law through the Cases, 1978:325) dan kemudian dikukuhkan
dalam Pasal 5 Konvensi Geneva 1958 tentang Laut Teritorial,
dan Jalur Tambahan maupun secara mutatis mutandis dalam
Pasal 7 Konvensi Hukum Laut 1982.
Penarikan garis-garis pangkal lurus dari ujung ke
ujung pulau-pulau terluar nusantara ini mempunyai dua
akibat :
1. Jalur laut wilayah yang terbentuk melingkari kepulauan
Indonesia;
2. Perairan yang terletak pada bagian dalam dari garis-garis
pangkal lurus tersebut berubah statusnya dari laut
wilayah ataupun laut lepas (high seas) menjadi perairan
pedalaman (internal waters). Agar supaya perubahan
status ini tidak mengganggu hak lalu lintas kapal asing
yang telah ada sebelum cara penetapan batas wilayah,
tersebut terbuka bagi lalu lintas damai kendaraan air
asing.
Beberapa tahun setelah diundangkannya
Undang-Undang Nomor 4/Prp. 1960 tentang Perairan Indonesia, maka
para petugas di laut merasakan adanya kebutuhan atau
keperluan untuk mempertegas, serta menterjemahkan
ketentuan hak lintas damai bagi kapal asing di perairan
nusantara yang pada prinsipnya telah dijamin dalam
Undang-Undang Nomor 4/Prp. 1960. Untuk mempertegas ketentuan
lintas damai bagi kapal asing yang berada atau berlayar
melalui perairan nusantara, maka Pemerintah menetapkan
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 8 Tahun
1962 tentang Lalu Lintas Damai Kendaraan Asing di Perairan
Indonesia.
Peraturan pemerintah yang ditetapkan pada tahun
1962, dan merupakan tindak lanjut atas Undang-Undang
Nomor 4/Prp. 1960, dalam hal ini ketentuan hak lintas damai
kapal asing memuat beberapa ketentuan, seperti apa yang
dimaksud dengan lalu lintas damai, syarat-syarat lintas
damai, serta lintas damai bagi kapal-kapal yang bersifat
spesifik atau kapal-kapal jenis khusus (kapal penelitian, kapal
nelayan, kapal perang dan kapal pemerintah yang bukan
kapal niaga).
Pengertian lalu lintas damai sebagaimana diatur di
dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 8
melintasi laut wilayah dan perairan pedalaman Indonesia, dari
laut bebas ke suatu pelabuhan Indonesia dan sebaliknya dan
dari laut bebas ke laut bebas. Lalu lintas kapal asing dianggap
damai selama tidak bertentangan dengan keamanan,
keter-tiban umum, kepentingan dan atau tidak mengganggu
perda-maian Negara Republik Indonesia.
Lalu lintas damai kapal asing dianjurkan untuk
melalui alur-alur yang dicantumkan dalam buku-buku
kepanduan bahari yang berlaku dalam dunia pelayaran.
Berhenti, membuang sauh atau jangkar kapal dan atau
mondar mandir tanpa alasan yang sah di perairan Indonesia
tidak termasuk dalam pengertian lalu lintas damai menurut
peraturan pemerintah ini. Juga terdapat ketentuan mengenai
larangan bagi kapal asing untuk melewati atau melintasi
bagian-bagian tertentu dari perairan pedalaman untuk
sementara waktu, apabila hal ini dianggap perlu untuk
menjamin kedaulatan dan keselamatan negara. Kapal asing
yang akan melakukan riset ilmiah di perairan Indonesia
disyaratkan untuk meminta izin dari Presiden Republik
Indo-nesia.
Kapal perang asing yang akan melintasi perairan
Indonesia harus terlebih dahulu menyampaikan
pemberitahu-an atau notifikasi kepada Menteri/KSAL (Kepala Satupemberitahu-an
Ang-katan Laut). Kapal selam (submarine) harus berlayar di atas
permukaan laut selama melintasi perairan Indonesia, dan
tentu dimaksudkan untuk mengetahui dan mengidentifikasi
negara yang merupakan negara bendera (Flag State).
Dalam Peraturan Pemerintah tersebut ada ketentuan
tentang alur-alur pelayaran. Apabila alur-alur ini sudah
ditetapkan oleh Kepala Staf Angkatan Laut, maka kapal
perang dan kapal pemerintah yang bukan kapal niaga serta
kapal nelayan atau kapal ikan harus melalui alur-alur
tersebut. Kapal perang asing yang lewat di alur-alur pelayaran
tidak perlu memenuhi syarat notifikasi yang berlaku bagi
lintas damai di perairan nusantara. Karena alur-alur
pelayaran itu belum ditetapkan pada waktu itu, maka dalam
praktek kapal perang umumnya melaksanakan kewajiban
pemberitahuan ketika melintasi perairan nusantara.
Juga diatur ketentuan mengenai kewajiban bagi kapal
nelayan asing yang sering melanggar ketentuan Peraturan
Pemerintah Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1962 yang
antara lain mewajibkan kapal tersebut meletakkan dan
menyimpan alat tangkapnya di bawah palkah kapal. Akan
tetapi ketentuan itu seakan-akan menjadi huruf mati, karena
banyaknya kapal ikan asing yang ditangkap, tetapi kemudian
dilepaskan. Kalau sampai ke pengadilan kasus-kasus
pencu-rian ikan (illegal fishing), kapal asing yang terlibat pada
umumnya dibebaskan. Kendati pengadilan menghukumnya,
kebanyakan hukumannya sangat ringan, sehingga kerugian
yang begitu besar, akibat pencurian ikan di perairan
Untuk mengakomodasi perkembangan hukum laut
pada tahun 1960-an, terkait dengan berlakunya Konvensi
Geneva 1958 mengenai hukum laut (Konvensi mengenai laut
teritorial dan jalur tambahan, Konvensi mengenai laut bebas,
Konvensi mengenai perikanan dan perlindungan kekayaan
hayati di laut bebas,.dan Konvensi mengenai landas
kontinen), maka pada tanggal 17 Februari 1969 Pemerintah
Indonesia mengeluarkan Pengumuman Pemerintah Republik
Indonesia tentang Landas Kontinen Indonesia yang memuat
pokok-pokok sebagai berikut (Mochtar kusumatmadja,
1978:37-38) :
1. Segala sumber kekayaan mineral dan sumber kekayaan
alam non hayati lainnya, termasuk organisme-organisme
hidup yang merupakan jenis sedentair, yang terdapat di
landas kontinen Indonesia adalah merupakan asset atau
milik dari bangsa dan negara Republik Indonesia dan
dengan demikian tunduk di bawah yurisdiksinya yang
bersifat eksklusif. Pengertian landas kontinen Indonesia
adalah dasar laut dan tanah di bawahnya yang berada di
luar laut teritorial Indonesia, tetapi berbatasan
dengan-nya sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor
4/Prp Tahun 1960, hingga suatu batas kedalaman 200
meter dari permukaan laut atau melebihi batas
kedala-man tersebut sepanjang kemampuan teknologi Indonesia
2. Pemerintah Indonesia bersedia menyelesaikan soal garis
batas landas kontinen dengan Negara tetangga melalui
perundingan.
3. Jika tidak ada perjanjian garis batas, maka batas landas
kontinen Indonesia adalah suatu garis yang ditarik di
tengah-tengah antara pulau terluar Indonesia dengan
titik terluar wilayah negara tetangga.
4. Ketentuan-ketentuan tersebut di atas tidak akan
mem-pengaruhi sifat serta status daripada perairan di atas
landas kontinen Indonesia sebagai laut lepas, demikian
pula ruang udara di atasnya yang tetap berstatus
seba-gai ruang udara internasional.
Bagian ketiga dari Pengumuman Pemerintah tersebut
memperlihatkan adanya keterkaitan antara konsepsi landas
kontinen Indonesia dengan konsepsi nusantara. Arti nyata
konsepsi landas kontinen Indonesia sebagaimana diatur di
dalam Pengumuman tersebut, adalah bertambahnya lagi luas
daerah di bawah permukaan laut (submarine areas) dengan
jumlah yang tidak sedikit untuk dapat mengeksplorasi dan
mengeksploitasi sumber daya alam yang terdapat di landas
kontinen Indonesia. Pengumuman Pemerintah tahun 1969 ini
lahir atas dorongan kebutuhan untuk mengeksplorasi dan
mengeksploitasi sumber daya mineral yang terdapat di
daerah-daerah di bawah permukaan laut, terutama di Laut
Cina Selatan di luar batas-batas perairan Indonesia. Karena
mem-punyai hak yang sama atas landas kontinen yang sama, maka
pemerintah Republik Indonesia perlu menyelesaikan masalah
garis batas landas kontinen dengan negara-negara tetangga
sebelum ditemukan deposit atau cadangan minyak dan gas
bumi di landas kontinennya.
Untuk maksud itu lalu dibentuk Team Teknis Landas
Kontinen pada Departemen Pertambangan yang ditugaskan
terutama untuk menyelesaikan masalah garis batas landas
kontinen dengan negara-negara tetangga. Misalnya perjanjian
garis batas landas kontinen antara Republik Indonesia
dengan Malaysia tahun 1969 menyangkut garis batas landas
kontinen di Selat Malaka dan Laut Cina Selatan; perjanjian
antara Republik Indonesia dengan Thailand tahun 1971
mengenai garis batas landas kontinen di Selat Malaka bagian
Utara dan di Laut Andaman; perjanjian antara Republik
Indonesia Thailand dan Malaysia pada tahun 1971 mengenai
garis batas landas kontinen di Selat Malaka bagian Utara;
perjanjian antara Republik Indonesia dengan Australia
tentang penetapan garis batas dasar laut tertentu (Laut
Arafura dan Daerah Utara Irian Jaya dan Papua Nugini) tahun
1973; perjanjian antara Republik Indonesia dengan Australia
tahun 1973 mengenai penetapan garis batas daerah-daerah
dasar laut tertentu (Selatan Pulau Tanimbar dan Pulau
Timor); perjanjian antara Republik Indonesia dengan India
mengenai penetapan garis batas landas kontinen tahun 1974.
Per-tambangan, terutama Team Teknis Landas Kontinen yang
dibentuk oleh Departemen tersebut.
Prinsip-prinsip yang terkandung di dalam konsepsi
landas kontinen Indonesia sebagaimana termaktup di dalam
Pengumuman Pemerintah tahun 1969 kemudian dituangkan
ke dalam suatu bentuk peraturan perundang-undangan yang
dinamakan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1
Tahun 1973 tentang landas kontinen Indonesia.
Prinsip-prinsip atau ketentuan-ketentuan pokok tersebut mengacu
pada Konvensi Geneva 1958 tentang landas kontinen (Geneva
Convention on the Continental Shelf), seperti pengertian landas
kontinen Indonesia, hak-hak berdaulat (souvereign rights),
penetapan garis batas landas kontinen Indonesia dengan
negara-negara tetangga maupun status hukum dari perairan
yang berada di atas landas kontinen Indonesia, namun
dengan tetap mengutamakan kepentingan nasional.
Selain daripada hak-hak berdaulat atas kekayaan
alam yang terdapat di landas kontinen yang artinya
pengua-saan dan pemilikannya ada pada negara Republik Indonesia,
juga negara memiliki yurisdiksi atau kewenangan atas
peneli-tian ilmiah kelautan yang di dalam Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 1 Tahun 1973 penyelengaraannya diatur
dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 1
Tahun 1973. Dalam Undang-Undang ini juga dikemukakan
mengenai instalasi, kapal dan atau alat lainnya yang dapat
melak-sanakan eksplorasi, eksploitasi kekayaan alam yang terdapat
di landas kontinen Indonesia.
Untuk melindungi instalasi, kapal dan atau alat
lainnya yang terdapat di landas kontinen terhadap gangguan
pihak ketiga, maka Pemerintah dapat menetapkan apa yang
disebut daerah terlarang (prohibited area) yang radiusnya 500
meter terhitung dari titik terluar instalasi, kapal dan atau alat
lainnya. Di samping daerah terlarang, juga dapat ditetapkan
daerah terbatas (restricted area) yang radiusnya 1250 meter
terhitung dari titik-titik terluar dari daerah terlarang itu di
mana kapal pihak ketiga dilarang membuang atau
membong-kar sauh. Di landas kontinen Indonesia, pada instalasi, kapal
dan alat-alat lain di landas kontinen, maka hukum dan segala
peraturan perundang-undangan Indonesia dapat diterapkan
atau diberlakukan, bahkan instalasi dan alat-alat lain yang
dipergunakan untuk melakukan eksplorasi dan eksploitasi
kekayaan alam dinyatakan sebagai daerah Kepabeanan
Indonesia atau daerah bea cukai, daerah fiscal, daerah
karantina dan daerah keimigrasian.
Perkembangan selanjutnya adalah lahirnya
Pengumu-man Pemerintah Republik Indonesia mengenai Zona Ekonomi
Eksklusif Indonesia pada tanggal 20 Maret 1980 (Mochtar
Kusumaatmadja, 1980:384). Hal ini dimaksudkan untuk
mengakomodasi perkembangan hukum laut yang selain
diwarnai dengan berlangsungnya Konferensi PBB mengenai
menghasilkan rancangan konvensi hukum laut baru (Draft
Convention on the Law of the Sea) yang di dalamnya memuat
pengaturan hukum tentang zona ekonomi eksklusif secara
umum, juga diwarnai berbagai klaim atau pernyataan sepihak
yang dilakukan oleh negara-negara pantai dari berbagai
kawasan sehubungan dengan zona ekonomi eksklusif yang
diwujudkan dalam berbagai bentuk, seperti zona 200 mil,
zona perikanan sejauh 200 mil (dari pantai atau garis
pangkal), zona ekonomi 200 mil maupun zona ekonomi
eksklusif.
Pengumuman Pemerintah Republik Indonesia tanggal
20 Maret 1980 yang berpedoman pada praktek negara-negara
yang telah diterima secara luas terkait dengan rezim hukum
Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) menyatakan bahwa, ZEE
Indonesia adalah jalur laut yang berada di luar laut territorial
Indonesia, tetapi berbatasan dengannya, di mana jalur laut
itu lebarnya dapat mencapai maksimal 200 mil laut terhitung
dari garis pangkal sebagaimana diatur berdasarkan
Undang-Undang Nomor 4/Prp. Tahun 1960. Demikian rumusan
pe-ngertian ZEE Indonesia yang mengikuti kecenderungan
perkembangan hukum laut internasional pada waktu itu,
tetapi dengan tetap mengutamakan kepentingan nasional
Indonesia yang berlandaskan wawasan nusantara.
Selanjutnya di dalam Pengumuman Pemerintah
Re-publik Indonesia tersebut, ditegaskan mengenai hak-hak
atau negara Kepulauan. Republik Indonesia mempunyai
hak-hak berdaulat (souvereign rights), yaitu hak-hak untuk
melakukan eksplorasi, eksploitasi, konservasi maupun
pengelolaan sumber daya alam baik hayati maupun non
hayati yang terdapat di dalam badan air (water column), dasar
laut dan tanah di bawahnya (seabed and subsoil); juga hak
untuk melakukan kegiatan yang bertujuan ekonomi seperti
membangkitkan energi yang berasal dari arus laut, ombak
dan gelombang laut maupun angin yang berada di dalam jalur
laut 200 mil.
Sebagai konsekuensi dari adanya hak-hak ber-daulat
ini, maka Republik Indonesia juga memiliki yurisdiksi atau
kewenangan yang berkaitan dengan pembangunan dan
pe-manfaatan pulau-pulau buatan (artificial islands), instalasi
(installation) dan bangunan (structure) di jalur atau zona
tersebut; juga yurisdiksi terkait dengan penelitian ilmiah
ke-lautan (marine scientific research) di ZEEI; juga yurisdiksi
yang berkaitan dengan perlindungan dan pelestarian
lingku-ngan laut (protection and preservation of the marine
environ-ment).
Selanjutnya dinyatakan bahwa apabila di
bagian-bagian laut tertentu ZEE Indonesia (ZEEI), tumpang tindih
(overlapping) dengan ZEE negara-negara tetangga, maka
Pemerintah Republik Indonesia bersedia untuk mengadakan
perundingan dalam usaha mencapai kesepakatan
Sela-ma belum tercapai kesepakatan soal garis batas tersebut,
maka ZEE Indonesia garis batas luarnya terletak di
tengah-tengah antara garis pangkal laut teritorial Indonesia dengan
wilayah pantai dari negara tetangga yang bersangkutan.
Pengumuman Pemerintah Republik Indonesia tersebut
juga menegaskan bahwa sepanjang dasar laut dan tanah di
bawahnya dari ZEEI adalah merupakan landas kontinen
Indonesia, maka hak-hak berdaulat, yurisdiksi serta
kewa-jiban-kewajiban Indonesia akan dilaksanakan menurut
Undang-Undang Landas Kontinen Indonesia tahun 1973,
perjanjian-perjanjian garis batas landas kontinen dengan
negara-negara tetangga dan ketentuan-ketentuan hukum
internasional lainnya. Akhirnya dalam Pengumuman
Pemerin-tah tersebut dinyatakan bahwa status perairan ZEE Indonesia
yang tidak dapat terpengaruh di mana perairannya tetap
ber-status sebagai perairan internasional sehingga di perairan
tersebut tetap diakui berlakunya kebebasan laut lepas dalam
bidang-bidang tertentu, seperti kebebasan untuk berlayar
(freedom of navigation), kebebasan untuk melakukan
pener-bangan di ruang udara yang berada di atas perairan ZEE
Indonesia serta kebebasan untuk memasang kabel-kabel dan
saluran pipa bawah laut di ZEE Indonesia sesuai dengan
prinsip-prinsip hukum laut internasional yang berlaku.
Azas-azas yang termaktub di dalam Pengumuman
Pemerintah Republik Indonesia tahun 1980, sebagaimana
(Deklarasi Juanda), dan Pengumuman Pemerintah Republik
Indonesia tahun 1969, pada akhirnya dituangkan pula ke
dalam suatu peraturan perundang-undangan yang
dinama-kan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun
1983 tentang Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia sehingga
memiliki kekuatan yuridis formal dan tidak sekedar suatu
pengumuman dan pernyataan semata-mata.
Undang-undang itu antara lain memuat ketentuan
umum yang mencakup definisi dari berbagai istilah seperti
sumber daya alam hayati, sumber daya alam non hayati dan
lain-lain, pengertian ZEE Indonesia, hak-hak berdaulat,
yurisdiksi dan kewajiban-kewajiban, berbagai kegiatan yang
dapat dilakukan di ZEE Indonesia, soal gantirugi, masalah
penegakan hukum, ketentuan pidana dan lain-lainnya (lihat
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1983).
Undang-Undang ini kemudian ditindaklanjuti dengan
peratu-ran pelaksanaan yang berupa Peratuperatu-ran Pemerintah Republik
Indonesia Nomor 15 Tahun 1984 yang mengatur tentang
pengelolaan sumber daya alam hayati di ZEE Indonesia.
Sumber daya alam hayati yang istilah populernya
ada-lah ikan tidak mengenal batas-batas wilayah negara sesuai
dengan sifat-sifat alaminya. Namun sejalan dengan praktek
negara-negara yang telah dikembangkan oleh masyarakat
internasional serta ketentuan-ketentuan hukum laut
inter-nasional yang melandasi Undang-Undang Republik Indonesia
haya-ti yang terdapat di daerah ZEE Indonesia adalah milik
Republik Indonesia walaupun dalam pengelolaannya masih
harus memperhatikan ketentuan-ketentuan hukum
inter-nasional, misalnya kewajiban RI untuk menetapkan jumlah
tangkapan yang diperbolehkan (Total Allowable Catch),
besarnya kemampuan tangkap dari usaha-usaha perikanan
Indonesia (Capacity to Harvest), langkah-langkah untuk
pelaksanaan konservasi serta kesediaan Indonesia untuk
memberikan kesempatan kepada usaha perikanan asing,
untuk ikut serta memanfaatkan ZEE Indonesia sepanjang
jumlah tangkapan yang diperbolehkan belum sepenuhnya
dimanfaatkan melalui usaha-usaha perikanan Indonesia.
Dari segi kepentingan pembangunan nasional,
khu-susnya di sub sektor perikanan, maka sumber daya alam
hayati di ZEE Indonesia memiliki dua fungsi penting, yaitu
sebagai potensi yang dapat dimanfaatkan secara langsung
melalui kegiatan penangkapan ikan serta sebagai pendukung
sumber daya alam hayati di perairan Indonesia. Mengingat
fungsinya yang demikian penting, maka pemanfaatannya
perlu diarahkan secara tepat, terarah dan bijaksana. Hal ini
berkaitan pula dengan sifat sumber daya alam hayati yang
tidak tak terbatas. Demikian antara lain dasar pemikiran yang
melatarbelakangi terbitnya Peraturan Pemerintah Republik
Indonesia Nomor 15 Tahun 1984 tentang pengelolaan sumber
daya alam hayati di ZEE Indonesia (lihat Lembaran negara
Perkembangan berikutnya dalam hukum laut
Repub-lik Indonesia adalah diundangkannya Undang-Undang
Perika-nan Indonesia, yakni Undang-Undang Republik Indonesia
Nomor 9 Tahun 1985 tentang Perikanan. Di dalamnya antara
lain diatur mengenai beberapa istilah disertai dengan batasan
atau pengertiannya, seperti misalnya istilah perikanan yang
artinya semua kegiatan yang berhubungan dengan
pengelola-an dpengelola-an pempengelola-anfaatpengelola-an sumber daya ikpengelola-an. Sedpengelola-ang sumber daya
ikan adalah semua jenis ikan termasuk biota perairan
lain-nya.
Pengelolaan sumber daya ikan adalah semua upaya
yang bertujuan agar sumber daya ikan dapat dimanfaatkan
secara optimal dan berlangsung terus menerus. Pemanfaatan
sumber daya ikan adalah kegiatan penangkapan ikan dan
atau pembudidayaan ikan. Demikian antara lain, pelbagai
istilah yang mengemuka dalam Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 9 Tahun 1985 sebab masih banyak lagi
istilah yang tidak perlu diulangi (lihat Pasal 1 undang-undang
ini). Selanjutnya dalam Pasal 2 dikemukakan bahwa wilayah
perikanan Republik Indonesia meliputi perairan Indonesia
(laut teritorial, perairan kepulauan, perairan pedalaman),
sungai, danau, waduk, rawa dan genangan air lainnya di
dalam wilayah Republik Indonesia, maupun perairan zona
ekonomi eksklusif Indonesia.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun
dalam wilayah perikanan Republik Indonesia yang ditujukan
bagi tercapainya manfaat maksimal bagi bangsa Indonesia,
dan untuk mencapai hal ini Pemerintah melaksanakan
penge-lolaan sumber daya ikan secara terpadu dan terarah dengan
melestarikan sumber daya ikan beserta lingkungannya bagi
kesejahteraan dan kemakmuran bangsa Indonesia.
Dalam melaksanakan pengelolaan sumber daya ikan,
Menteri menetapkan ketentuan-ketentuan mengenai alat
tangkap ikan; syarat teknis perikanan yang harus dipenuhi
oleh kapal perikanan tanpa mengurangi ketentuan peraturan
perundang-undangan yang berlaku mengenai keselamatan
pelayaran; jumlah ikan yang boleh ditangkap, jenis serta
ukuran ikan yang tidak boleh ditangkap; daerah, jalur dan
waktu atau musim penangkapan; pencegahan pencemaran
dan kerusakan, rehabilitasi dan peningkatan sumber daya
ikan serta lingkungannya; penebaran ikan jenis baru,
pem-budidayaan ikan dan perlindungannya.
Juga diatur tentang pemanfaatan sumber daya ikan
melalui usaha perikanan di dalam wilayah perikanan
lik Indonesia hanya boleh dilakukan oleh warganegara
Repub-lik Indonesia atau badan hukum Indonesia, dengan
penge-cualian sepanjang hal tersebut menyangkut kewajiban Negara
Republik Indonesia berdasarkan ketentuan persetujuan
inter-nasional atau hukum interinter-nasional yang berlaku. Pihak yang
melakukan usaha perikanan diwajibkan memiliki izin usaha
perorangan lainnya yang sifat usahanya merupakan mata
pencaharian untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari
tidak dikenakan kewajiban tersebut.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun
1985 telah dicabut berlakunya sejak diundangkannya
Undang-Undang Perikanan berdasarkan Undang-Undang
Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 2004 yang azas-azasnya
pada waktunya akan dibahas secara lengkap dalam Pokok
Bahasan mengenai Hukum Perikanan Indonesia (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 118,
Tamba-han Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4433). Di
dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun
2004, dikemukakan pelbagai macam istilah yang terkait
dengan masalah perikanan, seperti istilah perikanan yang
diartikan sebagai semua kegiatan yang berhubungan dengan
pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya ikan dan
lingku-ngannya mulai dari praproduksi, produksi, pengolahan
sampai dengan pemasaran, yang dilaksanakan dalam suatu
sistem bisnis perikanan.
Sumber daya ikan adalah potensi semua jenis ikan.
Lingkungan sumber daya ikan adalah perairan tempat
kehidupan sumber daya ikan, termasuk biota dan faktor
alamiah sekitarnya. Ikan adalah segala jenis organisme yang
seluruh atau sebagian dari siklus hidupnya berada di dalam
lingkungan perairan. Penangkapan ikan adalah kegiatan
dibudidayakan dengan alat atau cara apapun, termasuk
kegi-atan yang menggunakan kapal untuk memuat, mengangkut,
menyimpan, mendinginkan, menangani, mengolah dan atau
mengawetkannya. Pengelolaan perikanan adalah semua
upa-ya, termasuk proses yang terintegrasi dalam pengumpulan
informasi, analisis, perencanaan, konsultasi, pembuatan
ke-putusan, alokasi sumber daya ikan, dan implementasi serta
penegakan hukum dan peraturan perundang-undangan di
bidang perikanan, yang dilakukan oleh pemerintah atau
oto-ritas lain yang diarahkan untuk mencapai kelangsungan
produktivitas sumber daya hayati perairan dan tujuan yang
telah disepakati.
Demikian antara lain istilah-istilah yang terdapat di
dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun
2004. Sedang mengenai azas pengelolaan perikanan
dikemu-kakan bahwa pengelolaan perikanan dilakukan berdasarkan
atas azas manfaat, keadilan, kemitraan, pemerataan,
keter-paduan, keterbukaan, efisiensi dan kelestarian yang
berkelan-jutan. Tujuan pengelolaan perikanan adalah: a) meningkatkan
taraf hidup nelayan kecil dan pembudidaya ikan kecil.; b)
meningkatkan penerimaan dan devisa negara; c) mendorong
perluasan dan kesempatan kerja; d) meningkatkan
keter-sediaan dan konsumsi sumber potensi ikan; e)
mengoptimal-kan pengelolaan sumber daya imengoptimal-kan; f) meningkatmengoptimal-kan
produk-tivitas, mutu, nilai tambah dan daya saing; g) meningkatkan
mencapai pemanfaatan sumber daya ikan, lahan
pembudi-dayaan ikan, dan lingkungan sumber daya ikan secara
opti-mal; i) menjamin kelestarian sumber daya ikan, lahan
pembu-didayaan ikan dan tata ruang.
Selanjutnya mengenai ruang lingkup berlakunya
Undang-Undang Perikanan yang baru adalah bahwa
undang-undang ini berlaku untuk a) setiap orang, baik warganegara
Indonesia maupun warganegara asing, badan hukum
Indo-nesia maupun badan hukum asing, yang melakukan kegiatan
perikanan di wilayah pengelolaan perikanan Republik
Indo-nesia; b) setiap kapal perikanan berbendera Indonesia dan
kapal perikanan berbendera asing yang melakukan kegiatan
perikanan di wilayah pengelolaan perikanan Republik
Indo-nesia; c) setiap kapal perikanan berbendera Indonesia yang
melakukan penangkapan ikan di luar wilayah pengelolaan
perikanan Republik Indonesia; d) setiap kapal perikanan
berbendera Indonesia yang melakukan penangkapan ikan,
baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama, dalam bentuk
kerjasama dengan pihak asing.
Selanjutnya untuk penangkapan ikan dan atau
pembudidayaan ikan maka wilayah pengelolaan perikanan
Republik Indonesia meliputi perairan Indonesia, ZEE
Indonesia, sungai, danau, waduk, rawa dan genangan air
lainnya yang dapat diusahakan serta lahan pembudidayaan
ikan yang potensial di wilayah Republik Indonesia.
Repub-lik Indonesia sebagaimana di maksud di atas diselenggarakan
berdasarkan peraturan perundang-undangan, persyaratan
dan atau standar internasional yang diterima secara umum.
Demikian antara lain beberapa ketentuan penting yang
terda-pat dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31
Tahun 2004.
Pada bulan Desember 1985 Pemerintah Republik
In-donesia mengesahkan atau meratifikasi Konvensi Hukum
Laut 1982 (KHL 1982) dengan mengundangkan
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 1985 sehingga
sejak waktu itu Konvensi Hukum Laut yang dihasilkan
melalui konferensi yang diprakarsai PBB sejak tahun 1973
hingga tahun 1982 Konvensi tersebut telah menjadi hukum
positif Indonesia. Melalui Undang-Undang Republik Indonesia
Nomor 17 Tahun 1985, maka Konvensi yang isinya bersifat
komprehensif dan sekaligus menyatakan tidak berlakunya
lagi Konvensi Geneva 1958 mengenai Hukum Laut, telah
menjadi hukum positif kita.
Walaupun KHL 1982 belum berlaku secara efektif
pada waktu itu atau belum “come into force”, namun bagi
Indonesia sendiri Konvensi itu telah berlaku secara individual
sejak lahirnya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17
Tahun 1985. Hal ini sesuai dengan ketentuan Pasal 308 ayat
(2) KHL 1982 yang menyatakan bahwa bagi setiap negara
yang meratifikasi atau menyatakan aksesi pada konvensi ini
mulai berlaku pada hari ketiga puluh setelah saat
pendeposit-an piagam ratifikasi atau aksesinya, dengpendeposit-an tunduk pada
ketentuan ayat (1). Ayat 1 pasal yang sama (Pasal 308, ayat 1)
menyatakan bahwa Konvensi ini mulai berlaku 12 bulan
setelah tanggal pendepositan piagam ratifikasi atau aksesi
yang ke-60.
Demikian kendati KHL 1982 belum berlaku secara
internasional pada tahun 1985 sebab ketika itu jumlah
ratifikasi yang dibutuhkan belum memenuhi persyaratan,
namun bagi Indonesia sendiri konvensi tersebut telah berlaku
secara individual. KHL baru berlaku secara internasional atau
secara umum pada tanggal 16 November 1994, sebab satu
tahun sebelumnya yakni pada tanggal 16 November 1993,
Guyana menjadi negara yang ke-60 dalam meratifikasi KHL
1982 dan mendepositkan piagam ratifikasinya pada Sekjen
PBB.
Selanjutnya Pemerintah Republik Indonesia
menin-daklanjuti Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17
Tahun 1985 mengenai pengesahan Indonesia terhadap KHL
1982, dengan mengundangkan Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 6 Tahun 1996 tentang Perairan Indonesia.
Undang ini selain mencabut berlakunya
Undang-Undang Nomor 4/Prp. Tahun 1960, juga pada dasarnya
undang-undang ini menguatkan kembali dasar-dasar
penga-turan wilayah perairan Indonesia, sebagaimana tercantum di
disesuaikan dengan ketentuan-ketentuan KHL 1982, dengan
mencantumkan ketentuan-ketentuan dasar Negara
Kepulau-an (Archipelagic State), sebagaimana diatur di dalam Bab IV
KHL 1982. Demikian di dalam undang-undang ini terdapat
pengertian Indonesia sebagai Negara Kepulauan, berbagai
ma-cam garis pangkal, terutama garis pangkal lurus kepulauan
yang tidak berdiri sendiri, sebab harus dipergunakan secara
silih berganti dengan garis-garis pangkal lainnya, seperti garis
pangkal normal, garis pangkal lurus, garis penutup pada
teluk, pelabuhan, sungai dan lain-lainnya.
Di dalam Undang-Undang Wilayah Perairan Indonesia
yang baru (Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 6
Tahun 1996) juga diatur secara makro mengenai berbagai
macam lintas pelayaran, seperti lintas damai, lintas transit
dan lintas alur kepulauan serta hak akses dan komunikasi
(terutama yang terkait dengan kepentingan negara tetangga).
Pemerintah Republik Indonesia kemudian
menindak-lanjuti ketentuan pasal dari Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 6 Tahun 1996 menyangkut garis pangkal
lurus kepulauan atau garis pangkal kepulauan, dengan
mengundangkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
Nomor 61 Tahun 1998 sebagai salah satu peraturan
pelaksanaan undang-undang tersebut. Peraturan pemerintah
tersebut mengatur tentang Daftar Koordinat Geografis
Titik-Titik Pangkal dari Garis Pangkal Lurus Kepulauan di Laut
tambal sulam, sebab hanya mengatur masalah penarikan
garis pangkal lurus kepulauan di wilayah Kepulauan Natuna,
namun dikeluarkannya Peraturan pemerintah tersebut
dila-tarbelakangi dengan pemikiran di mana panjang maksimal
setiap garis pangkal lurus kepulauan Indonesia bisa mencapai
100 mil laut, malahan kadang-kadang (dengan persentase
tertentu) bisa mencapai maksimal 125 mil laut sehingga tidak
semua pulau-pulau terluar terutama yang terletak di sekitar
laut Natuna lalu dengan sendirinya dapat dijadikan dan
digunakan sebagai titik pangkal.
Tujuannya tentu tidak lain daripada mewujudkan
ke-sempatan untuk memperoleh atau memiliki wilayah perairan
khususnya perairan kepulauan yang jauh lebih luas daripada
kita menggunakan seluruh pulau terluar sebagai titik
pang-kal. Selanjutnya sesuai dengan ketentuan KHL 1982 yang
mensyaratkan Republik Indonesia untuk membuat peta garis
pangkal lurus kepulauan atau sebagai gantinya harus
membuat daftar koordinat geografis titik-titik garis pangkal
lurus kepulauan, maka ketentuan pasal mengenai garis
pangkal lurus kepulauan Indonesia sebagaimana diatur di
dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun
1996 ditindaklanjuti lagi melalui pengundangan Peraturan
Pemerintah RI mengenai Daftar Koordinat Geografis Titik-Titik
Garis Pangkal Kepulauan Indonesia berdasarkan Peraturan
Pemerintah Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2002 (lihat
Di dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
Nomor 38 Tahun 2002 ditegaskan bahwa Pemerintah
Repub-lik Indonesia dapat menarik garis pangkal kepulauan
Indo-nesia. Dalam menarik garis pangkal kepulauan, maka dapat
dipergunakan garis pangkal lurus kepulauan, garis pangkal
biasa, garis pangkal lurus, garis penutup pada teluk yang
tentu saja teluk ini terdapat pada pulau terluar, garis penutup
pada sungai atau muara sungai, garis penutup pada
pela-buhan, pada kuala, terusan dan lain-lainnya sepanjang
semuanya itu berada pada suatu pulau terluar.
C.Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil Terluar
Perkembangan hukum laut Republik Indonesia
selan-jutnya adalah ketika Pemerintah Republik Indonesia pada
tahun 2005 lalu mengundangkan Peraturan Presiden
Repub-lik Indonesia Nomor 78 Tahun 2005, yaitu Peraturan Presiden
tentang pengelolaan pulau-pulau kecil terluar. Pengelolaan
pulau-pulau kecil terluar adalah rangkaian kegiatan yang
dilakukan secara terpadu untuk memanfaatkan dan
mengem-bangkan potensi sumber daya pulau-pulau kecil terluar dari
wilayah RI untuk menjaga keutuhan NKRI (lihat Perpres
Nomor 78 Thun 2005, 29 Desember 2005) Sedangkan
penger-tian pulau kecil terluar adalah pulau dengan luas area kurang
atau sama dengan 2000 kilometer persegi yang memiliki
titik-titik dasar geografis yang menghubungkan garis pangkal
lurus kepulauan sesuai dengan hukum internasional dan