Persentase Luas Lahan (%)
7.3. Analisis Perbandingan Pendapatan Usahatani Cabai Rawit Merah Petani Mitra dan Nonmitra
Bedasarkan analisis pendapatan usahatani yang dilakukan pada petani yang menjalin kemitraan dengan PT Indofood Fritolay Makmur dan petani yang tidak menjalin kemitraan maka dapat diketahui bahwa besar pendapatan usahatani atas biaya total yang diperoleh petani mitra yaitu sebesar Rp 224.233.027,36 lebih besar dibandingkan pendapatan usahatani atas biaya total yang diperoleh petani nonmitra yaitu sebesar Rp 120.096.125,06. Hal tersebut terjadi karena adanya perbedaan penerimaan yang dipengaruhi oleh produktivitas cabai rawit merah. Perbedaan produktivitas dipengaruhi oleh perbedaan perlakuan antara petani mitra dan nonmitra terhadap tanaman cabai rawit merah yang dibudidayakan.
Petani mitra memiliki kemampuan produktivitas lebih tinggi dibandingkan petani nonmitra. Dalam menjalankan kegiatan usahataninya petani mitra cenderung berfokus pada peningkatan produktifitas karena harga dan pasar yang sudah jelas. Sedangkan bagi petani nonmitra motivasi pada kegiatan usahatani yang dijalankan lebih kepada penambah pendapatan dari tanaman tumpang sari
77 yang di budidayakan. Selain itu harga yang diterima oleh petani nonmitra juga tidak jelas sehingga petani hanya berperan sebagai price taker.
Pendampingan dan pembinaan yang dilakukan oleh pada agrofield Indofood dilakukan untuk menjaga kestabilan pasokan cabai rawit merah ke perusahaan. Hal itu berdampak pada kestabilan produktivitas usahatani cabai rawit merah yang dijalankan petani mitra. Sedangkan petani nonmitra hanya menjalankan usahatani cabai rawit merahnya tanpa tujuan tujuan tertentu sehingga perlakuan terhadap kegiatan usahataninya belum maksimal. Usia produktif tanaman merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi produktifitas tanaman. Pada petani responden nonmitra terdapat beberapa responden yang memiliki usia produktif tanaman cabai rawit merah lebih rendah dibandingkan usia produktif tanaman pada petani mitra. Intensitas panen juga mempengaruhi produktivitas tanaman cabai rawit merah per hektar. Intensitas panen satu kali dalam satu minggu merupakan intensitas yang paling tepat untuk dilakukan karena mencegah buah terlalu matang di pohon sehingga mengurangi potensi terkena serangan hama dan penyakit.
Perbedaan nilai R/C rasio antara petani mitra dengan petani nonmitra dapat menunjukkan perbedaan efisiensi atas kegiatan usahatani yang dilakukkan. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai R/C rasio atas biaya total pada usahatani cabai rawit merah yang dilakukan petani mitra lebih besar dibandingkan dengan usahatani cabai rawit merah yang dilakukan petani nonmitra di Desa Cigedug. Bagi petani mitra, setiap Rp 1,00 biaya total yang dikeluarkan mampu menghasilkan penerimaan sebesar Rp 3,69 sedangkan petani nonmitra hanya menghasilkan Rp 2,43 sehingga petani mitra dapat dikatakan memiliki efisiensi usahatani lebih tinggi daripada petani nonmitra di Desa Cigedug.
Secara umum berdasarkan pada hasil perbandingan pendapatan usahatani cabai rawit merah antara petani mitra dan nonmitra tersebut dapat dilihat bahwa proses kemitraan lebih memberikan manfaat bagi usahatani yang dijalankan oleh petani cabai rawit di Desa Cigedug. Namun, tidak semua petani yang tertarik untuk menjalin kemitraan dengan PT Indofood Fritolay Makmur. Hal ini terjadi karena faktor harga pasar yang dapat meningkat secara drastis menjadi harapan utama bagi para petani nonmitra. Hal ini juga dibuktikan dengan banyaknya
78 petani yang tidak berkomitmen saat harga cabai rawit merah di pasar mengalami peningkatan drastis melebihi harga kontrak yang di tetapkan.
79
VIII.
KESIMPULAN DAN SARAN
8.1. Kesimpulan
1. Keragaan usahatani cabai rawit merah yang dilakukan para petani responden baik petani mitra maupun nonmitra di Desa Cigedug pada umumnya memiliki persamaan pada proses budidayanya. Namun terdapat beberapa perbedaan proses budidaya yang dapat menyebabkan tingkat produktifitas per hektar lahan. Perbedaan terdapat pada jarak tanam serta penggunaan faktor-faktor input seperti jumlah dan jenis pupuk yang digunakan, jumlah dan dosis obat-obatan yang digunakan, penggunaan tenaga kerja, perawatan dan proses pemanenan yang dilakukan. Perbedaan tersebut merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat produktifitas usahatani cabai rawit merah pada petani mitra lebih tinggi di bandingkan dengan petani nonmitra.
2. Besar penerimaan yang berasal cabai rawit merah yang dihasilkan petani nonmitra lebih sedikit dibandingkan yang dihasilkan oleh petani mitra yaitu sebesar Rp 102.516.233,43 sedangkan petani mitra mampu menghasilkan penerimaan yang berasal dari cabai rawit merah sebanyak Rp 199.793.382,50. Hal tersebut disebabkan produktivitas petani mitra lebih tinggi dibandingkan produktivitas petani nonmitra.
3. Usahatani cabai rawit merah yang dijalankan petani mitra di Desa Cigedug juga dapat disimpulkan lebih menguntungkan karena memiliki nilai pendapatan yang lebih tinggi daripada pendapatan petani nonmitra. Besar pendapatan usahatani cabai rawit merah pada petani mitra adalah sebesar Rp 224.233.027,36 sedangkan pendapatan usahatani cabai rawit merah petani nonmitra hanya sebesar Rp 120.096.125,06.
4. Nilai R/C rasio petani mitra sebesar 3,69 sedangkan nilai R/C rasio petani nonmitra di Desa Cigedug adalah sebesar 2,43. Nilai tersebut menunjukan bahwa kegiatan usahatani pada petani mitra lebih efisien daripada petani nonmitra.
80
8.2. Saran
Dari hasil penelitian ini terdapat beberapa saran yang dapat dikembangkan antara lain :
1. Proses kemitraan dapat menjadi pilihan untuk dilakukan bagi petani cabai rawit merah di Desa Cigedug karena lebih efisiean dan dapat memberikan keuntungan yang lebih besar dilihat dari pendapatan usahatani cabai rawit merah, kepastian harga dan pasar, kemudahan pinjaman modal dan sarana produksi pertanian serta pembinaan pada usahatani cabai rawit merah dari
agrofield Indofood.
2. Peran vendor pada proses kemitraan seharusnya dapat melibatkan petani cabai rawit yang bermitra secara langsung agar margin sebesar Rp 5.000,00/kg cabai rawit merah dapat pula dirasakan oleh petani cabai rawit merah yang menjadi anggota Gapoktan Cagarit dalam proses kemitraan yang dijalankan.
3. Dalam menjalankan kegiatan usahatani cabai rawit merah petani nonmitra tidak mendapatkan pembinaan dari agrofield Indofood, sehingga peran pemerintah daerah setempat melalui Penyuluh Pertanian Lapang (PPL) sangat dibutuhkan untuk meningkatkan produktivitas per hektar lahan usahatani cabai rawit merah yang dijalankan oleh petani nonmitra.
4. Penelitian ini belum dapat memberikan informasi mengenai seberapa besar pengaruh perubahan penggunaan faktor input produksi terhadap tingkat produktivitas cabai rawit merah sehingga masih diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai pengaruh perubahan penggunaan faktor input produksi terhadap tingkat produktivitas cabai rawit merah.
A