FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR
MERAH 61 7.1 Sistem Usahatani Cabai Rawit Merah
2.5. Penelitian Terdahulu 1 Penelitian Usahatan
Penelitian mengenai usahatani cabai rawit yang terkait dengan kemitraan belum pernah dijadikan sebagai topik penelitian di IPB. Adapun berbagai macam penelitian usahatani yakni yang dilakukan pada spesies cabai lainnya seperti cabai merah besar dan cabai keriting. Diantaranya adalah penelitian yang dilakukan oleh Nurliah (2002), dengan judul Analisis Pendapatan Usahatani dan Pemasaran Cabai Merah Keriting di Desa Sindangmekar, Kecamatan Wanaraja, Kabupaten Garut. Hasil pennelitian diperoleh bahwa hasil produksi cabai merah keriting petani dalam satu musim tanam untuk luasan satu hektar sebesar 10.714,3 kg, harga jual rata- rata yang terjadi di tingkat petani sebesar Rp. 3.000,00 sehingga total penerimaan sebesar Rp. 32.142.900,00. Biaya tunai terbesar yang
16 dikeluarkan adalah untuk tenaga kerja luar keluarga sebesar Rp. 4.032.480,00 atau sebesar 26,86%. Biaya tunai terbesar kedua adalah pestisida sebesar Rp. 3.375.710,00 atau sebesar 22,49%. Selain biaya tunai, dihitung pula biaya yang diperhitungkan yang terdiri dari tenaga kerja dalam keluarga, penyusutan alat dan sewa tanah. Petani memperoleh pendapatan atas biaya total sebesar Rp. 17.131.413,00 per hektar dengan R/C yang diperoleh sebesar 2,14.
Khairina (2006), juga melakukan penelitian mengenai Analisis Pendapatan Usahatani dan Pemasaran Wortel dengan Budidaya Organik (Studi Kasus: Desa Citeko, Kecamatan Cisarua, Bogor), dengan hasil bahwa analisis pendapatan terbesar, baik atas biaya tunai maupun atas biaya total diterima oleh petani wortel organik sebesar Rp.8.577.806,08 per hektar dan Rp.6.715.338,37 per hektar. Besarnya nilai perbandingan R/C petani wortel organik atas biaya total dan biaya tunai adalah 2,28 dan 3,53. Artinya setiap Rp 1,00 biaya yang dikeluarkan oleh petani wortel organik menghasilkan penerimaan sebesar Rp 2,28 untuk biaya total yang dikeluarkan dan Rp 3,53,- untuk biaya tunai yang dikeluarkan. Sedangkan nilai perbandingan R/C atas biaya total dan R/C atas biaya tunai petani wortel konvensional adalah 1,70 dan 2,48. Dari nilai perbandingan R/C atas biaya tunai dan biaya total petani responden wortel organik memiliki nilai perbandingan yang lebih tinggi dibandingkan petani wortel konvensional. Hal ini menunjukkan bahwa usahatani wortel organik lebih menguntungkan dibandingkan usahatani wortel konvensional.
Iryanti (2005), melakukan penelitian dengan judul Analisis Usahatani Komoditas Tomat Organik dan Anorganik (Studi Kasus: Desa Batulayang, Kecamatan Cisarua, Bogor). Dari analisis ini diperoleh bahwa sistem usahatani tomat organik yang dilakukan oleh petani di Desa Batulayang secara umum sama dengan sistem usahatani tomat secara konvensional/ anorganik. Perbedaan yang terdapat dalam usahatani tomat secara organik dan anorganik adalah tidak adanya penggunaan pupuk kimia dalam sistem usahatani organik. Rata- rata produksi tomat yang dihasilkan petani organik untuk luasan rata- rata lahan 0,18 ha sebanyak 4.589,24 kg dan untuk 1 ha yaitu sebanyak 25.495,75 kg, sedangkan produksi tomat yang dihasilkan petani anorganik untuk luasan rata- rata lahan 0,15 ha sebanyak 4.515,95 kg dan untuk 1 ha yaitu sebanyak 30.106,33 kg. Hal ini
17 menunjukkan bahwa penggunaan pupuk kimia dapat mempengaruhi produksi tomat. Namun hasil penelitian ini menunjukkan bahwa petani yang berusahatani tomat secara organik memperoleh pendapatan atas biaya tunai pada luasan lahan 0,18 ha sebesar Rp. 6.280.275,85 sedangkan pada luasan lahan 1 ha pendapatan atas biaya tunai sebesar Rp. 34.890.421,39. Pendapatan atas biaya total yang diperoleh pada luasan lahan 0,18 ha untuk tomat organik sebesar Rp. 5.728.221,46 sedangkan pendapatan total pada luas lahan 1 ha sebesar Rp. 31.823.452,55. Pendapatan atas biaya tunai yang diperoleh dari tomat anorganik untuk lahan 0,15 dan 1 ha masing-masing adalah Rp. 4.083.678,56 dan Rp. 27.224.490,96 sedangkan pendapatan atas biaya total yang diperoleh pada lahan 0,5 dan 1 ha masing-masing adalah Rp. 3.579.549,60 dan Rp. 23.863.631,23.
Berdasarkan penelitian terdahulu, maka dapat dilihat bahwa terdapat persamaan dan perbedaan penelitian terdahulu dengan penelitian ini. Persamaannya adalah sama-sama menganalisis tentang pendapatan yang dihasilkan oleh petani, baik pada komoditas cabai ataupun komoditas lainnya seperti tomat dan wortel. Ada juga yang bertujuan melihat pendapatan usahatani dari organik dan organik sedangkan dalam penelitian ini bertujuan untuk melihat pendapatan usahatani kemitraan dan non-kemitran. Untuk perbedaanya yaitu lokasi penelitian yang berbeda, komoditi yang berbeda dan responden/ petani yang digunakan juga berbeda, sehingga hasil yang diharapkan juga berbeda dengan penelitian lainnya.
2.5.2. Penelitian Kemitraan
Penelitian tentang kemitraan telah banyak dilakukan oleh beberapa peneliti terdahulu. Achmad (2008) meneliti tentang manfaat kemitraan agribisnis bagi petani (kasus: kemitraan PT Pupuk Kujang dengan kelompok tani Sri Mandiri yang berlokasi di Desa Majalaya, Kecamatan Majalaya, Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat. PT Pupuk Kujang melakukan kemitraan dengan petani khususnya yang dekat dengan lokasi PT Pupuk Kujang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola kemitraan yang dilakukan perusahaan dengan petani yaitu kemitraan saham. Hasil analisis kuantitatif menggunakan regresi berganda dengan bantuan sofware SPSS 13, menunjukkan bahwa variabel-variabel yang
18 sangat kuat mempengaruhi manfaat kemitraan bagi petani mitra yaitu luas lahan, jarak tempuh rumah ke lahan, sumber informasi yang digunakan, ketersediaan modal kredit, dan proses manajemen kemitraan. Manfaat ekonomi yang diperoleh petani mitra dari pola kemitraan yaitu produktivitas yang lebih tinggi, pendapatan yang lebih tinggi, harga produk yang lebih baik dan meningkatkan teknologi pertanian (pangan) melalui penggunaan pupuk yang merupakan produk perusahaan mitra. Manfaat sosial yang diperoleh petani yaitu keberlanjutan kerjasama antara perusahaan dengan petani, dan juga pola kemitraan yang dilaksanakan berhubungan dengan kelestarian lingkungan.
Penelitian mengenai kemitraan yang dilakukan oleh Purnaningsih dan Sugihen (2008) dengan judul “Manfaat Keterlibatan Petani Dalam Pola Kemitraan Agribisnis Sayuran Di Jawa Barat” menyimpulkan bahwa keterlibatan petani dalam pola kemitraan terbukti merupakan salah satu peubah yang berpengaruh terhadap penggunaan teknologi yang lebih baik yang berpengaruh terhadap pendapatan petani dengan memberi manfaat baik secara teknis maupun secara ekonomi.
Manfaat ekonomi yang diperoleh petani dari keterlibatannya dalam pola kemitraaan selain pendapatan yang lebih tinggi, adalah harga yang lebih pasti, produktivitas lahan lebih tinggi, penyerapan tenaga kerja dan modal yang lebih tinggi, dan resiko usaha ditanggung bersama. Manfaat teknis yang diperoleh petani dari pola kemitraan adalah penggunaan teknologi yang lebih baik dalam rangka mencapai mutu produk yang lebih baik sesuai harapan konsumen.
Manfaat sosial yang diperoleh petani dari pola kemitraan adalah ada kesinambungan kerjasama antara petani dan perusahaan, koperasi maupun pedagang pengumpul, serta pola kemitraan mempunyai kontribusi terhadap kelestarian lingkungan. Keterlibatan petani dalam pola kemitraan berpengaruh terhadap tingkat kesejahteraan petani, di mana pendapatan yang diperoleh dari usahatani kemitraan memberi sumbangan yang sangat signifikan terhadap pengeluaran total.
Saptana et al (2009) yang meneliti mengenai “ Strategi Kemitraan Usaha Dalam Rangka Peningkatan Daya Saing Cabai Merah Di Jawa Tengah” menyimpulkan bahwa salah satu prinsip dasar dari sebuah kemitraan adalah
19 Keterbukaan (tranparancy) diantara pihak-pihak yang bermitra. Keterbukaan tersebut iterutama dalam hal pembagian hak dan kewajiban, penetapan kontrak atau penetapan harga, dan penegakkan kontrak berdasarkan prisisp kesetaraan. Selain itu kemampuan dalam menembus dan memperluas jaringan pasar oleh perusahaan mitra dan kemampuan pendalaman industry pengolahan melalui pengembangan produk juga dapat menjadi manfaat dari sebuah pola kemitraan.
Menurut penenlitian Nurdiniyawati (1997) disimpulkan bahwa jalinan hubungan kemitraan membawa banyak manfaat antara lain adanya jaminan pasar, jaminan keberlanjutan, jaminan harga dan keuntungan. Hal tersebut juga tidak berbeda jauh dengan penelitian yang dilakukan Marliana (2008) yang meneliti tentang “Analisis Manfaat Dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keputusan Petani Terhadap Pelaksanaan Kemitraan LettuceDi PT Saung Mirwan”.
Hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa petani yang bermitra akan mendapatkan banyak manfaat diantaranya adalah Manfaat yang dirasakan petani diantaranya yaitu kemudahan dalam pemasaran, harga lebih baik, keuntungan lebih tinggi, bantuan budidaya, serta memiliki ikatan kuat atau jalinan kekeluargaan dengan petani. Manfaat teknis lainnya dengan menjadi mitra yaitu adanya penyediaan bibit, sehingga petani mitra tidak perlu melakukan pembibitan sendiri.pendapatan usahatani yang lebih tinggi dibandingkan petani yang tidak bermitra. Hal itu berdasarkan analisis pendapatan usahatani lettuce yang dilihat dari pendapatan tunai dan non tunai serta R/C rasio.
Berdasarkan beberapa contoh penelitian terdahulu diatas terlihat bahwa salah satu manfaat dari kemitraan adalah adanya jaminan harga dan pasar sehingga mampu menjamin penerimaan petani. Oleh karena itu, pendapatan petani tidak akan berfluktuasi akibat harga yang didapat oleh petani bermitra telah tetap. Jaminan keberlanjutan bagi petani juga menjadi sebuah kepastian bagi petani yang bermitra sedangkan yang tidak bermitra sewaktu-waktu bisa tidak mendapat jaminan keberlanjutan.
20
III.
KERANGKA PEMIKIRAN
3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis