ANALISIS, VALIDASI DAN IMPLEMENTASI AWAL SISTEM
5.2. Analisis Perbandingan Unsur Manajemen Inkubator
Pada sub bab ini akan dilakukan perbandingan 5 unsur manajemen antara PIT UNS dengan inkubator lain yang dijadikan sebagai subjek benchmarking.
Unsur manajemen yang dibandingkan terdiri atas 5M unsur yaitu (Man, Machine, Money, Methods, Material). Perbandingan ini berfungsi sebagai pertimbangan untuk mengembangkan desain sistem yang ada di PIT UNS.
V - 20 5.2.1. Unsur Man
Analisis unsur man atau sumber daya manusia dapat dilihat dari sumber daya manusia pengelola inkubator. Pengelola inkubator di perguruan tinggi seperti di PIT UNS, LPIK ITB dan ICC UTM pada umumnya berasal dari kalangan perguruan tinggi itu sendiri. Sedangkan untuk BIT BPPT dikelola oleh pegawai dari pemerintah.
Pengelola inti PIT UNS terdiri atas empat orang dengan tingkat pendidikan magister dan dikepalai oleh pengelola dengan tingkat pendidikan doktor.
Pengelola inti LPIK ITB terdiri atas tujuh orang dengan tingkat pendidikan doktor dan dikepalai oleh pengelola dengan tingkat pendidikan profesor. Pengelola inti ICC UTM terdiri atas dua profesor madya dan dikepalai oleh seorang profesor.
Dari segi tingkat pendidikan pengelola, PIT UNS masih belum unggul bila dibandingkan dengan inkubator-inkubator bandingan.
Selain dari tingkat pendidikan terakhir pengelola inkubator, analisis juga dapat dilakukan dengan melihat jumlah penelitian mengenai inkubasi teknologi dan komersialisasi yang telah dilakukan oleh para pengelola tersebut. Untuk mendapatkan standar penelitian yang seragam atau mendekati seragam maka perbandingan dilakukan dengan melihat jumlah penelitian yang telah terindeks oleh Scopus sebagai pengindeks publikasi ilmiah tingkat internasional. Penelitian yang dihitung adalah penelitian dengan tema inkubasi dan komersialisasi teknologi termasuk manajemen inovasi dan teknologi. Pengelola inkubator harus menjadi penulis dari penelitian tersebut walaupun bukan menjadi penulis pertama.
Hingga akhir November 2015, jumlah penelitian mengenai inkubasi dan komersialisasi teknologi yang telah dilakukan oleh pengelola PIT UNS dan terindeks Scopus berjumlah 10 penelitian. Jumlah tersebut lebih tinggi dibandingkan LPIK ITB yang berjumlah 8 penelitian. Namun jumlah penelitian terbesar yang terindeks Scopus masih dimiliki oleh ICC UTM.
Dari segi unsur man atau sumber daya manusia pengelola inkubator, PIT UNS masih belum unggul dalam hal tingkat pendidikan pengelola. Namun PIT UNS memiliki sedikit keunggulan dibandingkan LPIK ITB dari jumlah penelitian terkait inkubasi dan komersialisasi teknologi kendati jumlah pengelola inti PIT
V - 21
UNS lebih kecil. Keunggulan ini perlu dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan performansi PIT UNS.
Perbandingan sumber daya pengelola inkubator dapat dilihat pada tabel 5.2.
Tabel 5.2 Perbandingan Sumber Daya Pengelola Inkubator
Inkubator Rasio Tingkat Pendidikan
Jumlah Penelitian Terindeks Scopus
Jumlah Pengelola Inti
PIT UNS Master: 80%
Doktor: 20% 10 5
LPIK ITB Doktor: 88%
Profesor: 12% 8 8
ICC UTM Doktor: 67%
Profesor: 33% 13 3
Rendahnya tingkat pendidikan yang dimiliki oleh pengelola PIT UNS dibandingkan dengan LPIK ITB dan ICC UTM dapat menjadi kendala PIT UNS dalam menjalankan operasional bisnisnya. Kendala ini bisa lebih menyulitkan apabila pengelola PIT UNS belum memiliki latar belakang dan wawasana mengenai bisnis dan manajemen yang cukup. Hal ini akan berakibat pada kurang efektifnya kegiatan pendampingan tenant.
Cakrasiwi (2015) dalam penelitiannya mengungkapkan terdapat tiga alternatif untuk mengatasi kendala tersebut. Alternatif-alternatif tersebut adalah:
1. Rekrutmen khusus untuk SDM atau mentor yang memiliki pengalaman bisnis cukup.
2. Pelatihan SDM dan mentor mengenai bisnis dan manajemen.
3. Mengadakan temu bisnis antara tenant yang sudah lulus dengan tenant yang sedang diinkubasi.
Dari ketiga alternatif tersebut, pelatihan SDM dan mentor mengenai bisnis dan manajemen merupakan alternatif yang paling mungkin untuk dilaksanakan.
Pelatihan atau workshop dapat diberikan oleh lembaga-lembaga mitra PIT UNS yang lebih berpengalaman seperti BIT BPPT, ICC UTM dan PT. Nipress.
Rekrutmen SDM baru kurang cocok dilakukan oleh PIT UNS karena usia PIT UNS yang masih terlampau muda dan sedang dalam tahap pemantapan organisasi.
Rekrutmen dapat dilakukan untuk mentor tenant baru yang akan masuk ke PIT
V - 22
UNS selanjutnya. Sedangkan temu bisnis antara tenant yang sudah lulus dengan tenant yang sedang diinkubasi dapat diganti dengan temu bisnis antara tenant PIT UNS dengan tenant inkubator lain yang sudah lulus. Hal ini disebabkan oleh belum adanya tenant PIT UNS yang sudah dinyatakan lulus. Selain alternatif-alternatif tersebut dapat juga ditambahkan alternatif-alternatif untuk meningkatkan jumlah penelitian mengenai inkubasi dan komersialisasi teknologi oleh pengelola PIT UNS. Penelitian tersebut dapat meningkatkan wawasan dan pengetahuan pengelola PIT UNS mengenai inkubasi dan komersialisasi teknologi.
5.2.2. Unsur Material
Unsur material dilihat pada komponen-komponen yang menjadi masukan inkubator. Berdasarkan proses bisnis PIT UNS, unsur material tersebut dapat berupa sumber daya manusia dan sumber daya teknologi yang akan diinkubasi.
Sumber teknologi dapat dilihat dari riset-riset yang telah dilakukan oleh sumber daya manusia dan perolehan HKI dari riset-riset tersebut.
1. Sumber Daya Manusia
Sumber daya manusia yang dijadikan sebagai masukan inkubator adalah tenant sebagai peserta inkubasi maupun inventor sebagai pemilik teknologi. PIT UNS sebagai inkubator di perguruan tinggi memiliki calon tenant dan inventor yang dapat berasal dari mahasiswa maupun kalangan akademik lainnya seperti dosen dan mahasiswa, begitu pula dengan LPIK ITB dan ICC UTM. Sedangkan BIT BPPT sebagai inkubator nasional di Indonesia memiliki cakupan yang jauh lebih luas.
UNS memiliki jumlah mahasiswa terbesar dibandingkan ITB maupun UTM. UNS memiliki lebih dari 30.000 mahasiswa aktif sedangkan UTM memiliki sekitar 25.000 mahasiswa aktif, dan ITB sekitar 20.000 mahasiswa aktif. Untuk dosen, UNS memiliki sekitar 1.500 tenaga pendidik, lebih banyak dibandingkan ITB yang memiliki sekitar 1.200 tenaga pendidik namun jauh lebih sedikit dibandingkan UTM yang memiliki sekitar 3.600 tenaga pendidik. Dari segi jumlah, UNS memiliki keunggulan dalam jumlah mahasiswa, namun jumlah tenaga pendidik masih unggul UTM.
V - 23
Apabila dilihat dari komposisi mahasiswa yang ada mahasiswa UNS masih didominasi oleh mahasiswa undergraduate (diploma dan sarjana) sekitar 90%. Begitu pula dengan ITB namun dengan nilai yang lebih kecil yaitu sekitar 60%, namun untuk UTM hanya 45%
yang merupakan mahasiswa undergraduate. Sedangkan untuk tingkat pendidikan tenaga pendidik, UNS masih didominasi tenaga pendidik bergelar Master yaitu sekitar 68% sedangkan untuk tenaga pendidik bergelar Doktor baru sekitar 28%. Untuk ITB, tenaga pendidik yang ada didominasi oleh tenaga pendidik bergelar Doktor sekitar 70%, tenaga pendidik begelar Master hanya sekitar 28%. Untuk UTM, tenaga pendidik yang sudah bergelar Doktor hanya sekitar 34%.
Namun karena jumlah tenaga pendidik di UTM yang sangat besar, jumlah tenaga pendidik bergelar Doktor di UTM lebih banyak dibandingkan UNS dan ITB. Sehingga apabila dilihat dari segi jenjang pendidikan mahasiswa maupun tenaga pendidik, UTM paling unggul yang disusul oleh ITB kemudian UNS.
Perbandingan sumber daya masukan inkubator antara UNS, ITB dan UTM dapat dilihat pada tabel 5.3.
Tabel 5.3 Perbandingan Sumber Daya Masukan Inkubator
Universitas Mahasiswa Aktif Tenaga Pendidik
Jumlah Rasio Jumlah Rasio
UNS 30.000 undergraduate: 90%
post graduate: 10% 1.500 master: 68%
doktor dan prof: 28%
ITB 20.000 undergraduate: 60%
post graduate: 40% 1.200 master: 28%
doktor dan prof: 70%
UTM 25.000 undergraduate: 45%
post graduate: 55% 3.600 master:
doktor dan prof:
Dilihat dari sumber daya manusia, UNS memiliki keunggulan dalam kuantitas dibandingkan ITB dan UTM. Tingginya jumlah sumber daya masukan ini dapat menjadi modal yang baik bagi PIT UNS. Kuantitas tinggi yang dimiliki oleh UNS juga harus disertai dengan kualitas yang baik. Salah satu indikator kualitas tersebut adalah tingkat pendidikan terakhir SDM. Oleh karena itu UNS perlu meningkatkan
V - 24
tingkat pendidikan akademisi yang akan menjadi SDM PIT UNS seperti dengan meningkatkan jumlah mahasiswa tingkat master dan doktor dan meningkatkan tingkat pendidikan tenaga pendidik seperti pada Rencana Strategi Bisnis UNS 2015-2019.
Selain tingkat pendidikan, ada beberapa kendala lain yang sering dihadapi oleh akademisi UNS ketika telah menjadi tenant.
Permasalahan yang sering dihadapi oleh tenant di perguruan tinggi menurut Panggabean (2005) adalah masih lemahnya kemampuan dan keterampilan berbisnis, lemah dalam permodalan, belum mampu mengakses pasar dan belum mampu akses dengan teknologi. Masih lemahnya kemampuan dan keterampilan berbisnis pada umumnya didasari oleh pola pikir yang masih terbatas hanya pada kegiatan akademis. Lemah dalam permodalan biasanya didasari oleh kurangnya informasi mengenai penyediaan permodalan. Ketidakmampuan dalam mengakses pasar dapat disebabkan oleh kurangnya pengetahuan mengenai pasar dan manajemen pemasaran. Ketidakmampuan dalam mengakses teknologi dapat disebabkan oleh kurangnya informasi mengenai hasil invensi akademisi UNS.
Beberapa kebijakan telah diterapkan oleh UNS untuk menghadapi tantangan-tantangan tersebut. Salah satu kebijakan UNS adalah dengan mengadakan mata kuliah umum kewirausahaan untuk semua program studi yang ada di UNS. Mata kuliah kewirausahaan diharapkan dapat memberikan bekal wawasan dan pengetahuan kepada para mahasiswa di UNS khususnya dalam bidang bisnis.
Sehingga keterampilan civitas akademika UNS khususnya para mahasiswa UNS dalam bidang bisnis meningkat termasuk pengetahuan mengenai akses pasar. Selain mata kuliah kewirausahaan, UNS juga telah mencangkan mata kuliah kewirausahaan berbasis teknologi atau teknoprenersip untuk menjadi salah satu mata kuliah pilihan di UNS. Bahkan di beberapa program studi, mata kuliah tersebut telah menjadi mata kuliah wajib seperti kewirausahaan. Mata kuliah tersebut dapat menjadi jembatan
V - 25
penghubung antara inventor UNS dan produk teknologi mereka dengan para calon tenant khususnya yang berasal dari kalangan mahasiswa. Beberapa kebijakan lain juga sudah diterapkan untuk mendukung tumbuhnya budaya berwirausaha di lingkungan UNS seperti program kewirausahaan mahasiswa. Program tersebut mendukung minat mahasiswa UNS yang ingin berwirausaha dengan memberikan modal bisnis. Kebijakan-kebijakan tersebut merupakan bentuk implementasi dari pencanganan budaya kerja UNS “Active”
yang meliputi kewirausahaan sebagai salah satu budayanya.
2. Sumber Daya Teknologi
PIT UNS, LPIK ITB dan ICC UTM merupakan inkubator yang beroperasi di dalam suatu perguruan tinggi. Sehingga riset yang akan menjadi masukan inkubator berasal dari akademisi perguruan tinggi tersebut. Sedangkan masukan riset BIT BPPT dapat berasal dari berbagai pihak baik akademisi maupun non akademisi. Sehingga BIT BPPT tidak bisa dibandingkan dengan PIT UNS dari aspek masukan riset.
Riset akademisi UNS, ITB dan UTM yang akan dibandingkan adalah riset yang sudah dipublikasikan secara internasional agar memiliki standar riset yang seragam. Dalam hal ini, riset yang akan digunakan adalah riset yang telah diindeks oleh Scopus. Hingga pada November 2015, jumlah penelitian yang telah terindeks Scopus dari UTM kurang lebih berjumlah 32.800 publikasi, ITB sejumlah kurang lebih 4.800 publikasi, sedangkan UNS masih jauh tertinggal dengan sekitar 475 publikasi. Tingginya jumlah publikasi yang dilakukan dapat meningkatkan peluang menarik perhatian umum terhadap hasil penelitian yang telah dilakukan oleh civitas akademika. Secara tidak langsung hal tersebut akan meningkatkan potensi komersialisasi produk riset. Sehingga UNS perlu untuk meningkatkan jumlah riset terutama yang dipublikasikan di dunia internasional.
Dari segi HKI yang sudah diperoleh, UTM memiliki jumlah HKI tertinggi. Untuk HKI berjenis paten, UNS baru memperoleh 6 paten
V - 26
hingga akhir tahun 2014, sedangkan ITB sudah memperoleh 18 paten, dan UTM telah memperoleh paten jauh lebih banyak dibandingkan dengan UNS dan ITB yaitu 123 paten. Banyaknya jumlah paten yang sudah diperoleh oleh UTM menjadi sumber daya komersialisasi yang sangat besar. Oleh karena itu pertumbuhan PPBT yang dihasilkan oleh ICC UTM cukup tinggi dibandingkan UNS dan ITB walaupun usia ICC UTM masih tergolong muda.
Perbandingan publikasi riset dan paten yang diperoleh oleh inkubator dapat dilihat pada tabel 5.4.
Tabel 5.4 Perbandingan Publikasi Riset dan Paten Inkubator
Universitas Publikasi Riset Perolehan Paten
UNS 475 6
ITB 4.800 18
UTM 32.800 123
Selain jumlah publikasi dan HKI yang diperoleh, kendala yang mungkin dihadapi oleh PIT UNS mengenai sumber daya teknologi adalah tingkat kesiapan dari teknologi tersebut. Permasalahan tingkat kesiapan teknologi dapat diukur menggunakan skema Technology Readiness Level (TRL). Untuk memasuki kegiatan inkubasi di PIT UNS, suatu produk teknologi harus memiliki nilai TRL lebih dari 6.
Hal tersebut bertujuan untuk mendukung proses inkubasi di PIT UNS agar tidak terlalu lama dan lebih efektif. Namun pada umumnya produk inovasi teknologi di UNS sebagian besar belum mencapai nilai TRL minimal yang disyaratkan.
Untuk mengatasi masalah tersebut perlu adanya peningkatan kualitas penelitian agar memperoleh nilai TRL yang cukup. Beberapa indikator kualitas penelitian yang mudah diukur adalah adanya publikasi, perolehan HKI dan besar dana penelitian. Publikasi dan perolehan HKI dari penelitian yang dilakukan oleh akademisi UNS relatif masih rendah dibandingkan ITB maupun UTM. Selain itu diperlukan juga usaha untuk merubah pola pikir para peneliti di UNS agar penelitian yang dilakukan berorientasi pada perolehan HKI dan komersialisasi hasil riset. Hal tersebut didukung pada fakta bahwa
V - 27
jumlah buku ajar yang dihasilkan oleh peneliti UNS lebih banyak dibandingkan dengan peneliti ITB (Astuti, 2014).
5.2.3. Unsur Machine
Unsur machine dalam inkubator dapat berupa fasilitas-fasilitas dan layanan yang diberikan oleh inkubator dalam menjalankan program inkubasinya. Fasilitas dan layanan tersebut ada yang dimiliki oleh inkubator secara penuh dan tidak dimiliki oleh inkubator.
1. Fasilitas kepemilikan inkubator
Fasilitas kepemilikan inkubator adalah fasilitas yang hak penggunaan dan kepemilikannya dipegang oleh inkubator tersebut secara penuh.
Selain fasilitas fisik, unsur machine kepemilikan inkubator juga meliputi layanan yang disediakan langsung oleh inkubator tersebut.
Contoh fasilitas tersebut adalah gedung, sarana dan pra sarana perkantoran, dan layanan konsultasi.
BIT BPPT memiliki fasilitas fisik gedung khusus kegiatan inkubasi yang terletak tidak jauh dari kantor BIT BPPT. Di dalam gedung tersebut tenant in wall BIT menjalankan kegiatan inkubasi termasuk menjadikan ruangan sebagai kantor tenant. Beberapa produk tenant juga dipamerkan di gedung tersebut. LPIK ITB memiliki gedung khusus yang terletak di lingkungan ITB. Di dalam gedung tersebut terdapat fasilitas berupa ruangan pertemuan, sarana perkantoran dan buku-buku perpustakaan. Selain itu terdapat kantor sentra pengurusan HKI yang disediakan khusus oleh LPIK ITB sebagai pilot project dari Direktorat Jenderal HKI. Namun hingga saat observasi dilaksanakan belum ada produk tenant yang dipamerkan melainkan hanya dalam wujud poster. ICC UTM memiliki gedung dan kawasan khusus yang juga terletak tidak jauh dari pusat UTM. Berbagai fasilitas inkubasi dan perkantoran tersedia di gedung ICC tersebut. Bahkan terdapat perusahaan spin off UTM yang melakukan kegiatan produksi di lingkungan ICC UTM tersebut. Seperti inkubator lainnya, PIT UNS juga telah memiliki gedung tersendiri yang belum lama diresmikan.
Namun gedung PIT UNS tersebut terletak relatif lebih jauh yaitu
V - 28
sekitar 10 km dari pusat UNS. Di dalam gedung tersebut terdapat ruang pertemuan, ruang konsultasi, ruang pameran dan bahkan wisma tamu. Namun penggunaan fasilitas fisik di gedung PIT UNS belum efektif. Baik tenant maupun pengelola inkubator masih sering memilih untuk berada di kantor kampus atau laboratorium selama menjalankan kegiatan inkubasi. Secara fisik fasilitas PIT UNS sudah cukup memenuhi namun sayangnya belum dimanfaatkan secara optimal.
Layanan administrasi, konsultasi, mentoring dan HKI merupakan contoh fasilitas non fisik yang disediakan oleh inkubator. Secara umum semua inkubator menyediakan layanan konsultasi dan mentoring bisnis kepada tenant karena kegiatan tersebut merupakan salah satu fungsi utama dari sebuah inkubator. Namun tidak semua inkubator dapat memberikan pelayanan HKI. Pada umumnya inkubator hanya membantu dalam memberikan masukan pengurusan HKI. Sedangkan proses pengurusannya dilakukan oleh tenant secara mandiri. Namun LPIK ITB memiliki memiliki layanan khusus HKI karena mendapatkan pilot project khusus dari Direktorat Jenderal HKI. Sedangkan ICC UTM membantu tenant dalam pengurusan HKI tetapi tidak dapat memberikan HKI.
2. Fasilitas bukan kepemilikan inkubator
Fasilitas bukan kepemilikan inkubator merupakan fasilitas yang disediakan oleh inkubator untuk mendukung kegiatan inkubasi namun tidak dimiliki oleh inkubator. Pada umumnya fasilitas tersebut berbentuk kemitraan dengan berbagai pihak. Melalui kemitraan inkubator dapat menyediakan fasilitas untuk mendukung aktivitas inkubasi tenant tanpa harus memiliki fasilitas tersebut.
BIT BPPT, LPIK ITB dan ICC UTM memiliki berbagai kemitraan dengan instansi pemerintah, lembaga litbangyasa, perusahaan dan organisasi swasta. Sedangkan PIT UNS belum memperoleh kemitraan dengan organisasi swasta.
V - 29
Terbentuknya jejaring kemitraan antara inkubator dengan berbagai pihak dapat membantu tenant dalam menjalankan proses inkubasi.
Contoh fasilitas yang diperoleh dari hasil kemitraan adalah adanya akses untuk melakukan uji produksi, akses ke pasar dan akses permodalan. Namun permodalan akan dibahas lagi pada analisis unsur money.
5.2.4. Unsur Money
Unsur money dalam inkubator berupa pendanaan dari berbagai sumber yang diperoleh inkubator dalam menjalankan berbagai aktivitas inkubasinya.
Sumber pendanaan BIT BPPT diperoleh dari dana pemerintah, investor maupun crowdfunding. Pendanaan LPIK ITB diperoleh dari anggaran ITB, sponsor/sumbangan, kerjasama dengan stakeholder dan dana tenant pribadi.
Pendanaan ICC UTM hampir sama dengan LPIK ITB yaitu dana pemerintah, anggaran UTM, sponsor/sumbangan dan kerjasama dengan berbagai pihak.
Sedangkan pendanaan PIT UNS hingga saat ini diperoleh dari hibah dari UNS, dana pemerintah dan kerjasama dengan berbagai pihak. Jika dilihat dari variasi sumber pendanaan, pada umumnya semua inkubator memiliki sumber pendanaan yang serupa. Namun BIT BPPT memiliki skema sumber pendanaan yang belum banyak digunakan, yaitu sumber pendanaan crowdfunding.
Sumber pendanaan crowdfunding merupakan sumber pendanaan yang merupakan wujud kerjasama antara BIT BPPT dengan organisasi non profit kitabisa.com. Sistem pendanaan tersebut adalah sistem dengan skema pendanaan gotong royong, dimana sebuah proyek/produk akan dipublikasikan untuk menarik perhatian masyarakat agar dibiayai secara gotong royong dan sukarela oleh masyarakat. Skema pendanaan ini dapat menghasilkan sumber pendanaan yang cukup besar karena melibatkan seluruh masyarakat umum. Sumber pendanaan crowdfunding dapat menjadi pilihan pendanaan kegiatan inkubasi oleh inkubator termasuk PIT UNS.
Selain dilihat dari jenis sumber pendanaan, analisis unsur money dalam inkubator juga dapat dilihat dari aktivitas yang didanai dan besarnya dana itu sendiri. Aktivitas yang dapat dibiayai oleh inkubator meliputi aktivitas pengembangan dan penelitian (R&D) produk, aktivitas pra komersialisasi atau
V - 30
inkubasi teknologi dan aktivitas komersialisasi. Aktivitas R&D merupakan aktivitas yang berkaitan dengan pengembangan produk dan teknologi sebelum memasuki kegiatan inkubasi. Aktivitas pra komersialisasi atau inkubasi teknologi meliputi aktivitas pengembangan produk saat telah memasuki kegiatan inkubasi seperti uji produksi, sertifikasi dan lisensi. Aktivitas komersialisasi meliputi aktivitas uji pasar, pendirian PPBT dan produksi awal.
BIT BPPT merupakan inkubator milik pemerintah dan tidak berkedudukan di perguruan tinggi sehingga tidak ada aktivitas R&D yang diberikan dukungan dana oleh BIT BPPT. Sedangkan untuk aktivitas pra komersialisasi dan komersialisasi diberikan dukungan dana oleh BIT BPPT. Namun, BIT BPPT tidak pernah memberikan dukungan berupa mesin/peralatan produksi karena berkaitan dengan masalah kepemilikan aset. LPIK ITB, ICC UTM dan PIT UNS merupakan inkubator yang berkedudukan di perguruan tinggi sehingga mereka memberikan dukungan pendanaan dalam aktivitas R&D yang pada umumnya berasal dari dana pemerintah. Aktivitas pra komersialisasi dan komersialisasi tetap dibiayai oleh inkubator-inkubator perguruan tinggi tersebut. Khusus ICC UTM, mereka juga memberikan dukungan berupa pengadaan fasilitas mesin/peralatan produksi.
Perbedaan ini bisa disebabkan oleh perbedaan kebijakan yang ada di Indonesia dan Malaysia. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ICC UTM memiliki nilai tertinggi bila dilihat dari segi aktivitas yang diberikan dukungan pendanaan.
Besar dukungan dana yang difasilitasi oleh inkubator di Indonesia rata-rata sama khususnya yang berasal dari dana pemerintah. Sumber pendanaan Pemerintah Indonesia yang disediakan untuk aktivitas inkubator dapat berasal dari Kementerian Koperasi dan UKM, Dikti dan Kementerian Pendidikan Nasional, Kementerian Riset dan Teknologi dan institusi pemerintah lainnya dengan besar dana mencapai sekitar 100 milyar rupiah. Untuk aktivitas R&D sebelum memasuki kegiatan inkubasi, dukungan dana disediakan oleh pemerintah dengan berbagai skema hibah maupun disediakan secara mandiri oleh universitas. Pada tahun 2014 dana penelitian di ITB yang disediakan secara mandiri sekitar 50 milyar rupiah, untuk dana penelitian di UNS yang disediakan secara mandiri sekitar 80 milyar rupiah. Sedangkan besar dukungan dana yang difasilitasi ICC UTM dari dana pemerintah untuk aktivitas inkubator mencapai sekitar 3 trilyun
V - 31
rupiah begitu pula dengan pendanaan untuk aktivitas R&D. Dilihat dari besar dana yang didukung, ICC UTM memiliki nilai paling tinggi. Namun besar dana ICC UTM kurang tepat bila dibandingkan dengan inkubator di Indonesia karena perbedaan kondisi ekonomi dan standar pengeluaran yang berbeda. Sehingga UNS memiliki keunggulan dalam pendanaan. Tabel perbandingan mengenai unsur money dalam inkubator dapat dilihat pada tabel 5.5.
Tabel 5.5 Perbandingan Potensi Dana Inkubator Inkubator Aktivitas R&D Aktivitas Pra
Komersialisasi
BIT merupakan salah satu skema pendanaan pemerintah
LPIK – ITB
√ dana mandiri: 50
√ dana mandiri: 50