BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG UPACARA PERKAWINAN
3.3 Analisis Perbandingan Upacara Perkawinan Pada Masyarakat
Dari penjelasan pada sub bab sebelumnya dapat dikatakan di dalam upacara perkawinan masyarakat Jepang dan masyarakat Tapanuli Selatan banyak terdapat persamaan dan perbedaan. Persamaan mendasar adalah pada tahapan upacaranya dimana sama-sama memiliki tiga tahapan, yaitu sebelum upacara, upacara perkawinan, dan sesudah upacara perkawinan. Kegiatan-kegiatan pada tahapan tersebut juga memiliki persamaan dan perbedaan.
Persamaan dapat juga dilihat dari adanya hubungan bentuk keluarga dengan sistem perkawinan. Perkawinan di Jepang sangat didasarkan pada tujuan keluarga tradisional untuk pelestarian keluarga Kazoku ataupun Ie. Di Tapanuli Selatan bentuk keluarga batih sangat mempengaruhi sistem perkawinan di daerah ini
Untuk perbedaan salah satunya terdapat dalam makna perkawinan. Makna perkawinan dalam masyarakat Jepang disamping sebagai pengukuhan hak dan kewajiban suami-isteri tetapi juga sebagai sarana untuk pelestarian keluarga tradisional Jepang. Dalam masyarakat Tapanuli Selatan, perkawinan selain bermakna sebagai sarana untuk meneruskan keturunan namun hal yang terpenting adalah perkawinan dianggap sebagai suatu ibadah dalam menjalankan perintah agama.
Jenis perkawinanpun terdapat perbedaan. Di Jepang ada 5 jenis perkawinan, yaitu Shinzen kekkon shiki, Butsuzen kekkon shiki, Kiritsutokyoo kekkon shiki, Hitomae kekkon shiki, dan Katei kekkon shiki. Tetapi sekarang ini yang paling banyak dilakukan adalah Shinzen kekkon shiki, Butsuzen kekkon shiki, dan
Kiritsutokyoo kekkon shiki. Dan di Jepang juga hanya ada perkawinan menurut
agama dan pemerintah/hukum. Sedangkan di Tapanuli Selatan jenis perkawinan menurut adat, agama dan pemerintah/hukum.
3.3.1 Sebelum Upacara Perkawinan
Sebelum upacara perkawinan antara masyarakat Jepang dan masyarakat Tapanuli Selatan sangat berbeda dalam acara-acara yang dilakukan. Tahapan sebelum upacara perkawinan pada masyarakat Jepang meliputi kegiatan menentukan pasangan, pertunangan, Kimecha (pemberian teh kepada saudara), penentuan hari perkawinan, Hocha, Wakare (perpisahan dengan keluarga),
Choodohin dan lain-lain mengenai tahapan menjelang upacara perkawinan.
Sedangkan pada masyarakat Tapanuli Selatan meliputi kegiatan menentukan pasangan (Martandang), meneliti (Mangaririt boru), meminang, antar
tanda/antaran (Manulak sere), musyawarah keluarga, berinai, tepung tawar dan akad nikah.
Persamaan dalam tahapan upacara kedua masyarakat tersebut terdapat pada cara menentukan pasangan. Di Jepang, menentukan pasangan dikenal dengan istilah Ren’ai dan Miai. Ren’ai merupakan cara menentukan pasangan tanpa ada paksaan dari pihak manapun, namun sebaliknya Miai adalah perjodohan dengan menggunakan bantuan orang lain atau seorang perantara yang dikenal dengan istilah Nakoodo. Begitu juga dengan masyarakat Tapanuli Selatan, pada mulanya perjodohan dengan bantuan perantara yaitu Anak boru (pihak laki-laki) menjadi cara utama dalam menentukan pasangan. Tapi seiring dengan perkembangan zaman serta pengaruh budaya luar, cara tersebut mulai berkurang dan muncul kebiasaan baru menentukan pasangan. Rasa cinta menjadi hal dasar membentuk sebuah rumah tangga bagi masyarakat. Namun sekarang ini masih ada masyarakat yang memilih untuk dijodohkan.
Perantara sangat penting di dalam kegiatan mencari jodoh. Di Jepang,
Nakoodo melakukan kegiatan yang disebut Kagemi, yaitu melihat dan sembunyi untuk menentukan pilihan yang akan diputuskan. Anak boru (pihak laki-laki) sebagai perantara dalam masyarakat Tapanuli Selatan juga melakukan kegiatan yang dikenal dengan istilah Mangaririt boru. Tujuannya adalah untuk mendapatkan informasi-informasi tentang seorang wanita. Tidak hanya itu, fungsi antara Nakoodo dan Anak borupun hampir sama yaitu disamping memperkenalkan, juga bertanggung jawab dalam pelaksanaan upacara dan menjaga hubungan baik berkelanjutan antara kedua pasangan yang menikah.
Di Jepang ada kegiatan peresmian pertunangan yang disebut Yuinoo,
dimana dilakukan pertukaran barang-barang pihak pria dan wanita. Pada masyarakat Tapanuli Selatan ada juga kegiatan yang bernama upacara Manulak
sere (menyerahkan antaran/antar tanda) sebagai peresmian pertunangan. Pihak
laki-laki juga memberikan barang-barang kepada pihak perempuan berupa bahan- bahan makanan, pakaian dan sebagian mahar atau mas kawin. Sedangkan pada masyarakat Jepang barang-barang yang biasanya diberikan adalah berupa uang sebanyak tiga bulan gaji. Namun ada juga beberapa daerah di Jepang yang memiliki kebiasaan memberikan barang-barang tunangan berupa teh, Konbu, Surume, dan ikan tai (ikan kakap).
Ada hal yang menarik pada kebiasaan masyarakat Tapanuli Selatan sebelum upacara perkawinan, dimana hal ini tidak terdapat pada kebiasaan masyarakat Jepang. Beberapa hari sebelum upacara perkawinan terdapat rentetan kegiatan yang sangat padat sekali yaitu kegiatan berinai, musyawarah bersama, mendaftarkan diri di kantor urusan agama, akad nikah dan tepung tawar.
Lain halnya di Jepang, sebelum upacara perkawinan kegiatan yang dilakukan adalah pengiriman hadiah-hadiah dari pihak laki-laki kepada pihak perempuan, pengiriman Hocha, Wakare dan ke kantor catatan sipil.
3.3.2 Upacara Perkawinan
Tahapan kegiatan upacara perkawinan antara masyarakat Jepang dan masyarakat Tapanuli Selatan jelas berbeda. Di Jepang kegiatan yang dilakukan adalah Karishugen, Noshi no gi, San-san-ku-do dan resepsi perkawinan. Sedangkan di Tapanuli Selatan kegiatan yang dilakukan adalah berhias,
mengantarkan pengantin laki-laki menuju ke rumah pengantin perempuan, arak- arak pengantin, upacara Mangupa, makan bersama, bersanding dan berfoto. Kemudian penentuan hari perkawinan dalam masyarakat Jepang didasarkan pada keuntungan siklus enam hari. Banyaknya tamu-tamu yang bekerja pada hari biasa, maka hari Minggu banyak dipilih. Dalam masyarakat Tapanuli Selatan hari perkawinan banyak dilakukan setelah hari besar agama Islam yaitu hari raya Idul Fitri dan Idul Adha.
Hal yang terpenting dari perkawinan dalam masyarakat Jepang biasanya adalah suatu perjanjian yang ditetapkan dengan cara saling memberikan cangkir berisi sake antara pengantin wanita dan pengantin pria. Acara ini disebut
Karishugen dan dilakukan sebelum upacara utama yang disebut San-san-ku-do.
Begitu juga dengan masyarakat Tapanuli Selatan, kegiatan yang tidak boleh ditinggalkan adalah akad nikah yaitu ikrar sehidup semati di antara kedua mempelai. Namun acara ini dilakukan sebelum upacara perkawinan.
Kesamaan yang nampak pada tahapan upacara perkawinan adalah adanya kegiatan berhias dan memakai gaun pengantin dari mempelai wanita di pagi hari dan juga mempelai pria. Tetapi jelaslah berbeda gaun yang dipakai antara kedua suku bangsa tersebut. Masyarakat Jepang dengan pakaian kimononya, sedangkan masyarakat Tapanuli Selatan memakai pakaian adat Tapanuli Selatan. Namun di zaman modern sekarang ini, kedua masyarakat ini sama-sama sudah terpengaruh oleh budaya luar dimana ada juga yang memakai gaun pengantin gaya Eropa dan pengantin prianya memakai jas.
masyarakat Tapanuli Selatan melakukan acara resepsi perkawinan di rumah mempelai wanita sedangkan di Jepang dilakukan di rumah pengantin laki-laki.
Puncak dari kegiatan upacara perkawinan dalam masyarakat Jepang adalah
San-san-ku-do yang dilanjutkan dengan Hiroen (resepsi). Upacara San-san-ku-do
yaitu upacara saling memberi secangkir sake antara kedua pengantin sebanyak 9 kali dan Hiroen sebagai resepsi resmi dengan mengundang seluruh tamu dalam satu ruangan. Pada masyarakat Tapanuli Selatan puncak upacara perkawinan adalah kegiatan arak-arakan mengantarkan pengantin pria ke rumah pengantin wanita. Pada saat itu barang-barang antaran dibawa oleh orang-orang tua dengan menggunakan dulang. Sedangkan di Jepang barang-barang rumah tangga diberikan sebelum resepsi perkawinan.
Terakhir yang menjadi kesamaan dari perbandingan ini adalah setelah acara puncak kedua mempelai dalam tradisi kedua masyarakat ini adalah berfoto dengan keluarga, kerabat dekat, teman dan lain-lain.
3.3.3 Setelah Upacara Perkawinan
Kegiatan yang biasa dilakukan oleh masyarakat Jepang setelah upacara perkawinan adalah upacara minum sake bersama dengan tujuan saling berkenalan dengan keluarga besar. Sedangkan pada masyarakat Tapanuli Selatan diadakan upacara Pabuat boru, yaitu memberangkatkan pengantin perempuan ke rumah mertuanya, dan upacara Mangalap boru, yaitu menjemput pengantin perempuan dari rumah orang tuanya.
Adat menetap sangat menjadi perhatian utama pada kedua masyarakat ini. Ada beberapa pilihan yang akan diputuskan oleh pasangan pengantin, antara lain
apakah mereka tinggal di rumah orang tua pengantin laki-laki atau disekitar pusat kediaman kaum kerabat suami atau mungkin tinggal di rumah sendiri. Di daerah pedesaan Jepang, masih umum diharapkan bahwa pengantin perempuan akan masuk ke dalam rumah tangga suaminya. Namun lama-kelamaan terlihat tanda- tanda perubahan ke arah posisi pasangan baru sebagai keluarga inti yang mandiri.
Di daerah perkotaan Jepang, pasangan baru lebih suka hidup terpisah dari orang tua mereka. Tetapi secara keseluruhan, kecenderungan untuk membangun rumah sendiri setelah menikah belumlah sepenuhnya merupakan cara hidup yang mapan. Orang menganggap wajar bila pasangan baru tetap tinggal dengan orang tuanya apalagi di daerah pedesaan, dengan tujuan kelanjutan generasi Ie. Adat menetap dalam masyarakat Tapanuli Selatan biasanya mula-mula pasangan pengantin baru menetap untuk beberapa hari di rumah orang tua pengantin laki- laki, kemudian selanjutnya mereka pindah ke rumah sendiri. Karena kaidah adat perkawinan Tapanuli Selatan tidak memperkenankan suami tinggal menetap di rumah orang tua isterinya.
Persamaan dan perbedaan tersebut terdapat dalam tahapan upacaranya seperti pada tabel di bawah ini:
No Tahapan Upacara Persamaan
1. Sebelum Upacara - Cara menentukan pasangan pada dasarnya adalah dijodohkan dan atas dasar cinta.
- Adanya perantara di dalam mencari jodoh, di Jepang disebut Nakoodo sedang di Tapanuli Selatan disebut Anak boru (pihak laki-laki).
- Kegiatan perantara dalam melakukan pencarian jodoh dilakukan dengan cara bersembunyi (dirahasiakan).
- Kedua suku bangsa tersebut juga sama-sama melakukan acara pertunangan setelah jodoh ditentukan.
- Adanya pemberian barang-barang pada saat acara pertunangan.
- Sekarang ini di Jepang sebelum upacara perkawinan dilakukan pasangan pengantin terlebih dahulu harus mendaftarkan diri di kantor catatan sipil, begitu juga di Tapanuli Selatan, sebelum Ijab Qabul diharuskan mendaftar di kantor urusan agama.
- Di Jepang dan di Tapanuli Selatan sama-sama melakukan pernikahan berdasarkan agama dan pemerintahan/hukum.
2. Upacara Perkawinan
- Upacara perkawinan pada kedua masyarakat tersebut sama-sama telah banyak mengadopsi kebudayaan barat walaupun kebudayaan asli tetap dipertahankan.
3. Setelah Upacara - Masyarakat Jepang dan masyarakat Tapanuli Selatan sama-sama melakukan acara perkenalan dengan keluarga setelah upacara.
-Pada kedua masyarakat tersebut akan memikirkan tempat tinggal mereka setelah menikah.
No. Tahapan Upacara Perbedaan
1. Sebelum Upacara -Barang-barang yang diberikan pada saat pertunangan berbeda. Di Jepang barang yang diberikan adalah uang sebanyak tiga bulan gaji, sake, ikan tai dan lain-lain. Sedangkan di Tapanuli Selatan adalah bahan-bahan makanan, pakaian dan mas kawin atau mahar.
2. Upacara Perkawinan
-Di Jepang tempat melakukan resepsi biasanya di rumah pengantin laki-laki, sedangkan pada masyarakat Tapanuli Selatan resepsi dilakukan di rumah pengantin perempuan.
-Di Jepang upacara dimulai dari Karishugen
dan dilanjutkan dengan acara San-san-ku-do
dan Hiroen, yaitu pemberitahuan kepada
masyarakat luas. Di Tapanuli Selatan upacara ditandai dengan arak-arakan pengantin laki- laki ke rumah pengantin perempuan, dilanjutkan dengan upacara Mangupa dan acara bersanding.
3. Setelah Upacara -Acara perkenalan keluarga di Jepang dilakukan dengan cara mengundang keluarga kedua mempelai dan disetai dengan minum sake bersama, sedangkan di Tapanuli Selatan perkenalan dilakukan dengan cara mengunjungi rumah keluarga dekat mereka.
-Di Tapanuli Selatan setelah selesai upacara pernikahan biasanya dilakukan lagi upacara adat yaitu, Pabuat boru (memberangkatkan pengantin perempuan ke rumah mertuanya) dan upacara Mangalap boru (menjemput pengantin perempuan dari rumah orang tuanya). Sedangkan di Jepang tidak ada lagi acara setelah selesai upacara perkawinan.