BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG UPACARA PERKAWINAN
3.2 Tahapan Upacara Perkawinan Pada Masyarakat Tapanuli Selatan
Dalam adat-istiadat Tapanuli Selatan secara umum, kegiatan yang pertama dilakukan dalam tahapan perkawinan adalah menentukan pasangan/memilih jodoh. Penentuan pasangan dapat dilakukan dengan dijodohkan oleh kedua orang tua ataupun karena telah ada pilihan masing-masing sehingga orang tua hanya tinggal menyetujui saja.
Pencarian jodoh atau calon isteri pada masa dahulu dapat dilakukan oleh seorang laki-laki melalui kegiatan Martandang atau Marbondong ataupun dengan cara lain. Dan apabila ia telah menemukan calon isteri yang diinginkannya atau
telah sepakat dengan seorang gadis untuk melakukan perkawinan, maka laki-laki tersebut akan meminta tolong kepada Namboru atau neneknya untuk memberitahukan kepada orang tuanya bahwa ia bermaksud hendak berumah tangga.
Jika maksud laki-laki tersebut disetujui oleh orang tuanya, maka selanjutnya pihak orang tua laki-laki dengan bantuan kerabat dekatnya akan menyelidiki berbagai hal mengenai keadaan gadis yang dicalonkan untuk jadi isterinya. Kegiatan menyelidiki itu disebut Mangaririt boru (meneliti keadaan calon isteri).
Selain itu orang tua laki-laki juga menyelidiki keadaan orang tua kaum kerabat gadis yang bersangkutan. Dan kalau hasil penyelidikan itu menunjukkan keadaan yang baik menurut penilaian orang tua laki-laki, maka sebelum melakukan peminangan, orang tua laki-laki baik secara langsung atau dengan perantaraan Anak boru mereka, lebih dahulu melakukan pembicaraan dengan pihak orang tua perempuan. Pada kesempatan itu, pihak orang tua laki-laki menyampaikan keinginan anak mereka untuk mempersunting anak gadis mereka. Setelah mengetahui hal itu, biasanya pihak orang tua perempuan meminta tenggang waktu buat berunding dengan anak perempuannya dan para kerabat dekat mereka sebelum upacara peminangan dilakukan.
Selama berlangsungnya tenggang waktu yang telah disepakati pihak orang tua perempuan berunding dengan para kerabatnya mengenai maksud dari pihak orang tua laki-laki untuk meminang anak mereka, di samping itu juga pihak orang tua perempuan menyelidiki berbagai keadaan dari laki-laki dan keadaan orang tuanya serta kaum kerabatnya. Dalam hal ini asal usul atau keturunan dan status
sangat diperhitungkan sebagai kriteria untuk menentukan dapat atau tidaknya perkawinan dilangsungkan.
Setelah tenggang waktu berakhir yang berarti waktu untuk melakukan upacara peminangan telah tiba, maka utusan dari pihak orang tua laki-laki datang ke rumah orang tua perempuan untuk melaksanakan upacara peminangan. Kedatangan utusan itu diterima oleh orang tua perempuan bersama-sama dengan sejumlah kerabat dekat yang tergolong sebagai Kahanggi, Mora dan Anak boru
mereka. Dan menurut tradisi, utusan orang tua laki-laki yang bertugas melakukan upacara peminangan terdiri dari:
a. Abang atau adik laki-laki (Kahanggi) dari pihak ayah bersama isterinya. b. Kakak atau adik perempuan dari pihak ayah bersama suaminya (Anak
boru).
c. Abang atau adik laki-laki dari pihak ibu bersama isterinya (Mora).
Dalam melakukan peminangan, mereka diwajibkan Manungkus (membawa oleh-oleh berupa makanan yang dibungkus dengan daun pisang) dan membawa sirih adat untuk dipersembahkan kepada pihak keluarga perempuan yang menerima kedatangan mereka untuk meminang.
Apabila semua orang yang diperlukan untuk melaksanakan upacara peminangan telah hadir dan duduk berhadapan di tempat upacara (rumah orang tua perempuan), maka upacara peminangan dimulai dengan mempersilahkan Anak
boru dan rombongan dari utusan orang tua laki-laki untuk Manyuruduhon
(mempersembahkan) sirih adat kepada masing-masing kerabat orang tua perempuan yang hadir dalam upacara itu. Setelah sirih adat tersebut diterima maka Anak boru tadi memulai pembicaraan untuk menyampaikan maksud
kedatangan mereka. Selanjutnya pembicaraan peminangan disampaikan oleh utusan orang tua laki-laki secara bergiliran. Dan kata-kata mereka dibalas pula secara bergiliran oleh para kerabat orang tua perempuan yang ikut serta dalam upacara tersebut.
Setelah pihak orang tua perempuan menerima pinangan yang disampaikan oleh utusan orang tua laki-laki, maka acara selanjutnya adalah Manyapai batang boban. Yang dimaksud dengan Batang boban ialah antaran yang harus dipenuhi oleh pihak laki-laki kepada pihak perempuan. Yang menentukan besar kecilnya
Batang boban adalah Mora dari pihak perempuan.
Jika pinangan tidak dapat diterima oleh pihak orang tua perempuan, maka dalam kesempatan itu mereka menyampaikan penolakan dengan cara halus sambil mengemukakan berbagai alasan yang dapat diterima oleh utusan orang tua laki- laki tanpa merasa sakit hati.
Dalam adat Tapanuli Selatan Batang boban yang harus diserahkan oleh pihak laki-laki kepada pihak perempuan sewaktu acara Manulak sere
(menyerahkan antaran) terdiri dari 2 macam, yaitu:
1. Sere Na Godang (okuandar)
Pengertian Sere Na Godang secara hakiki adalah Sere (emas) yang jumlahnya banyak atau merupakan barang-barang yang harus diserahkan oleh pihak laki-laki kepada pihak perempuan. Yang termasuk Sere Na Godang ialah:
- Kerbau - Lembu - Padi
Berhubung besarnya jumlah Sere Na Godang yang harus diserahkan oleh pihak laki-laki, maka sudah dipastikan pihak laki-laki yang telah menjadi Anak boru dari pihak perempuan tidak akan mampu melunasinya sehingga dikatakanlah pihak laki-laki itu sebagai orang yang berhutang sepanjang masa kepada Moranya yaitu pihak perempuan.
Adapun tujuan para leluhur terdahulu di Tapanuli Selatan menciptakan keadaan seperti ini adalah untuk mengikat tali kekeluargaan yang kekal antara pihak Anak boru dengan pihak Moranya.
Kemudian Sere Na Godang itu diganti dengan seseorang yaitu perwakilan
Kahanggi dan Anak boru dari pihak laki-laki yang menjamin hutang Sere Na
Godang yang tidak mungkin dapat terbayar itu. Perwakilan Kahanggi dan Anak boru itu disebut Okuandar yaitu pihak yang menjamin dan bertanggung jawab apabila dikemudian hari terjadi hal-hal yang tidak diinginkan di antara kedua pengantin.
2. Sere Na Lamot
Pengertian Sere Na Lamot adalah “tuhor ni boru” (sejumlah uang) ditambah dengan barang keperluan pengantin perempuan yang harus disediakan pihak laki- laki sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak.
Selain Sere Na Lamot yang diserahkan pada acara Manulak sere
(menyerahkan antaran), ada lagi tambahan yang juga harus diserahkan, yaitu:
- Parkayan
Ialah sejumlah kain pelekat yang jumlahnya ganjil, yang diserahkan kepada pihak perempuan sebagai ubat ni tondi bagi yang menerimanya. Dan yang berhak menerimanya adalah:
a) Uduk api (kain adat/kain bugis), untuk ibu calon pengantin perempuan, b) Apus ilu (kain sarung), untuk bou (saudara perempuan dari pihak ayah
calon pengantin perempuan),
c) Tutup uban (kain sarung), untuk nenek calon pengantin perempuan, d) Upa tulang, untuk tulang atau saudara laki-laki dari calon pengantin
perempuan,
e) Hariman markahanggi, untuk amangtua (abang dari pihak ayah) atau uda (adik laki-laki dari pihak ayah calon pengantin perempuan),
f) Tompas handang, untuk Anak boru,
g) Parorot tondi, untuk orang yang telah menjaga calon pengantin perempuan ketika dia masih anak-anak.
- Ingot-ingot
Ialah sejumlah uang yang dibagikan kepada peserta yang hadir sewaktu acara Manulak sere dilakukan, yang jumlahnya tidak ditentukan tergantung kepada kesepakatan kedua belah pihak. Biasanya jumlahnya dibagi dua, separuh dari pihak laki-laki dan separuh dari pihak perempuan.
Setelah perlengkapan Batang boban (antaran) seperti yang dijelaskan di atas sudah lengkap, maka dilaksanakan acara berikutnya yaitu Manulak sere
(menyerahkan antaran/antar tanda). Dalam proses Manulak sere ini pihak laki-laki membawa Batang boban yang telah disepakati sebelumnya di rumah pihak perempuan dan membawa perlengkapan Manulak sere yang berupa:
1) Pahar (sejenis wadah/tampah), 2) Abit tonun patani (kain ulos adat),
4) Beras kuning,
5) Keris, sebagai tanda na marutang, 6) Puntu (gelang tangan),
7) Jagar-jagar,
8) Uang tali dari logam, sebagai simbol pertalian keluarga, 9) Arihir atau tali pengikat kerbau.
Perlengkapan Manulak sere mulai dari 2 sampai 9 semuanya diletakkan secara beraturan di atas Pahar (nomor 1).
Yang harus hadir dari pihak perempuan dalam acara ini ialah: a. Pimpinan adat setempat
b. Mora
c. Suhut (orang tua, abang dan adik) d. Kahanggi (pariban)
e. Anak boru f. Kerabat terdekat
Sedangkan dari pihak laki-laki yang harus hadir ialah: a. Suhut (abang, adik dan orang tua)
b. Kahanggi (pariban) c. Anak boru
Yang memimpin acara Manulak sere ini adalah pimpinan adat setempat/kepala kampung. Dapat dilakukan pada siang atau malam hari.
Parkayan dan Ingot-ingot langsung dibagikan pada saat acara, sedangkan ”tuhor ni boru” diberikan Anak boru kepada ibu calon pengantin perempuan.
a) Mas kawin,
b) Waktu yang baik untuk menikah dan bersanding,
c) Dan lain-lain yang dirasa perlu sehubungan dengan upacara berlangsungnya perkawinan tersebut.
Setelah semuanya selesai, maka acara ditutup dengan makan bersama.
Dengan telah diserahkannya antaran dari pihak calon pengantin laki-laki kepada pihak calon pengantin perempuan, maka beberapa selang waktu sebelum menuju hari perkawinan, kedua belah pihak membicarakan apakah nanti dalam pelaksanaan perkawinan akan dilangsungkan kenduri sekedarnya atau secara besar-besaran. Dan pada saat itu juga diadakan pembentukan panitia resepsi yang tugasnya nanti adalah bertanggung jawab atas segala kelengkapan yang berhubungan dengan resepsi, seperti mengundang, mendirikan dapur, pelaminan, undangan, dan lain-lain.
Perlu diperhatikan bahwa di antara acara pernikahan dengan acara Pabuat boru (memberangkatkan pengantin perempuan) jangan terlalu lama. Karena menurut agama Islam setelah pernikahan, pengantin perempuan sudah menjadi hak pengantin laki-laki.
Apabila hari perkawinan semakin dekat, maka panitia akan sibuk membuat kelengkapan-kelengkapan yang berhubungan dengan pelaksanaan pesta.
Sehari sebelum upacara perkawinan, diadakan pula kegiatan berinai di rumah calon pengantin perempuan. Kegiatan ini tidak harus dilakukan, karena ini hanya merupakan keinginan dari calon pengantin perempuan saja.
di kantor urusan agama. Acara ini dihadiri oleh masing-masing utusan kedua mempelai dan wali yang menikahkan beserta para saksi. Wali pernikahan selain orang tua dari bapak/ayah pengantin perempuan, bisa juga diwakilkan kepada
Qadhi (sebutan orang yang bertugas sebagai wali pernikahan). Qadhi didampingi oleh dua orang saksi disamping majelis lainnya yang dianggap juga sebagai saksi. Kemudian mahar diperlihatkan kepada majelis dan hadirin untuk diketahui bahwa mahar tersebut sudah lunas. Selanjutnya dimulai dengan khutbah nikah oleh
Qadhi lalu membaca do’a nikah serta lafadz akad nikah dengan fasih yang diikuti oleh pengantin laki-laki. Kemudian ditutup dengan do’a.
Setelah selesai acara akad nikah, maka mereka sudah sah sebagai suami isteri berdasarkan agama dan hukum/pemerintah. Kemudian dilanjutkan dengan acara tepung tawar. Tepung tawar merupakan tahapan upacara yang mengandung do’a selamat serta simbol-simbol kehidupan rumah tangga. Setelah itu barulah pengantin laki-laki pulang kerumahnya beserta rombongan.
3.2.2 Upacara Perkawinan
Upacara perkawinan dalam masyarakat Tapanuli Selatan dikenal dengan sebutan upacara bersanding, tetapi zaman sekarang lebih dikenal dengan istilah resepsi pernikahan atau pesta perkawinan. Waktu pelaksanaan upacara ini berbeda-beda atau tidak ada aturan yang mengaturnya. Bisa saja dilaksanakan sehari setelah akad nikah, ada juga yang langsung pada siang hari setelah akad nikah yang diadakan pagi hari, dan ada juga yang dilaksanakan dalam rentan waktu yang lama, tergantung kesepakatan dan kondisi dari masing-masing keluarga mempelai.
Umumnya waktu yang banyak dilakukan oleh masyarakat Tapanuli Selatan untuk melangsungkan resepsi perkawinan adalah setelah hari raya Idul Fitri atau hari raya Idul Adha. Kemudian tempat resepsi ini adalah di masing-masing rumah mempelai, namun puncak acaranya dilangsungkan di rumah pengantin perempuan.
Di hari perkawinan, pada pagi harinya mempelai wanita berhias dahulu sebelum duduk di pelaminan. Adapun busana yang dipakai adalah busana adat Mandailing (Tapanuli Selatan). Secara umum pakaian untuk mempelai wanita adalah pakaian kebesaran dari adat Tapanuli Selatan, yaitu: baju kurung berwarna hitam dengan memakai ornamen-ornamen berbentuk bunga melati atau bintang yang berwarna kuning keemasan, kain sarung, anting-anting emas, kalung emas, ikat pinggang berwarna kuning keemasan, kuku emas, sisir emas yang diletakkan pada sanggul, puntu (gelang tangan berwarna keemasan yang dipakai pada kanan dan kiri tangan di atas sikut), dua buah keris adat yang diselitkan pada kanan dan kiri pinggang sebelah depan, dua helai ulos yang diselempangkan di atas baju kurung atau terletak di bawah kalung emas, sanggul, dan bulang yang dipakai di kepala (dipakaikan juga jarunjung dan tusuk sanggul yang menjulang ke atas).
Sedangkan untuk pengantin laki-laki pakaian yang dipakai adalah pakaian adat Tapanuli Selatan, yaitu: baju godang berwarna hitam (model jas dengan leher baju tegak karena disulam dengan benang emas, dan pinggir baju serta penutup kantongnya juga disulam dengan benang emas serta disekelilingnya ditaburi ornamen berbentuk bunga cempaka yang berwarna kuning keemasan), celana panjang yang juga berwarna hitam dan dibalut dengan kain sarung sampai di atas
berwarna hitam dan disulam dengan benang emas bermotif bunga cempaka, puntu (semacam gelang tangan yang besar dengan warna kuning keemasan dan dipakai pada kedua belah tangan di atas sikut), keris adat dua buah yang diselitkan dipinggang kiri dan kanan, dan hampu (berbentuk kopiah yang dililit oleh lingkaran bulat disekelilingnya dengan dasar warna hitam. Lingkaran bulat berwarna hitam menunjukkan genggaman kekuasaan dan ujung kedua lingkaran itu bertemu pada sudut kanan dalam keadaan yang berbelit, satu ujung menunjuk ke atas dan satu ujung lagi menunjuk ke bawah. Hampu ini dihiasi dengan ornamen berbentuk bunga melati atau bintang berwarna kuning keemasan).
Biasanya acara pesta perkawinan dimulai pada pukul 10.00 Wib. Dimulai dengan upacara mengantar pengantin laki-laki dari rumahnya ke rumah pengantin perempuan.
Sebelum rombongan berangkat terlebih dahulu pimpinan adat setempat/kepala kampung membaca do’a selamat bagi kesejahteraan pengantin laki-laki. Setelah segala sesuatunya selesai, rombongan bergerak dari rumah pengantin laki-laki menuju ke rumah pengantin perempuan, dipimpin oleh pimpinan adat setempat/kepala kampung dan pemuka-pemuka masyarakat lainnya. Susunan rombongan dalam perjalanan mempunyai aturan-aturan tertentu. Adapun kebiasaan susunan rombongan dalam perjalanan adalah: didepan sekali beberapa orang wanita tua dan beberapa wanita pembawa makanan, kelompok wanita muda dan wanita-wanita tua, kelompok pemuka musyawarah yang didalamnya termasuk pimpinan adat setempat/kepala kampung. Pengantin laki- laki diapit oleh kedua orang tuanya. Seterusnya dibelakang pengantin ialah kelompok orang-orang muda laki-laki dan kelompok laki-laki tua serta beberapa
orang pemuda terkemuka. Dalam hal ini regu kesenian boleh ditempatkan dimana saja.
Sebelum rombongan pengantin laki-laki tiba di halaman rumah, dari kejauhan sayup-sayup terdengar regu kesenian membunyikan beberapa Gondang
(gong), suling bambu serta zikir dan salawat kepada Nabi, sehingga kedatangan rombongan dapat diketahui oleh pihak penunggu. Pihak pemuka-pemuka dalam masyarakat Tapanuli Selatan mempersiapkan diri untuk kedatangan pengantin laki-laki.
Rombongan pengantin laki-laki berhenti dimuka gerbang halaman rumah pengantin wanita sambil mengucapkan salam dan tegur sapa tanda penghormatan. Setelah adanya isyarat-isyarat tertentu, terjadilah suatu pembicaraan dalam bentuk pantun dan syair antara kedua belah pihak.
Selanjutnya pengantin laki-laki ditempatkan pada tempat duduk yang sudah dipersiapkan sebelumnya untuk acara selanjutnya, sedangkan rombongan pengantin laki-laki tetap berada disekelilingnya. Rombongan pengantin wanita ditempatkan pada ruang tengah rumah atau diserambi belakang. Tidak lama kemudian masuklah pengantin wanita yang dibawa oleh ibunya menuju ke tempat duduk pengantin laki-laki tadi.
Setelah itu dimulailah upacara Mangupa. Mangupa adalah upacara adat di Tapanuli Selatan yang nilainya amat penting sebagai perwujudan dari kasih sayang dan persatuan, sehingga dapat dikatakan bahwa Mangupa adalah pernyataan kegembiraan.
disebut Tabir. Sebagian lantai ruangan biasanya dilapisi dengan ambal dan tikar pandan. Untuk tempat duduk para pimpinan adat setempat.
Seluruh peserta dan pimpinan upacara serta kedua pengantin yang akan dipersembahkan Upa-upa (Pangupa) duduk bersama-sama di atas lantai rumah yang dilapisi dengan tikar. Benda-benda untuk Upa-upa tersebut, yaitu:
1) Telur ayam, 2) Nasi putih, 3) Garam, 4) Air putih, 5) Ikan sungai, 6) Udang, 7) Ayam panggang, 8) Induri atau tampah, dan 9) Bulung ujung.
Pada waktu mempersembahkan Upa-upa kepada kedua pengantin, masing- masing pelaksana upacara yang terdiri dari orang tua pengantin laki-laki dan kaum kerabatnya. Para pelaksana terdiri dari laki-laki dan perempuan yang sudah berumah tangga saja. Kemudian pemimpin upacara menyampaikan pidato adat yang isinya berupa do’a dan harapan agar kedua pengantin mendapat kemaslahatan dalam kehidupan mereka berumah tangga.
Setelah upacara Mangupa selesai, dilanjutkan dengan makan bersama. Kemudian kedua pengantin ditempatkan di pelaminan dan menunggu undangan yang akan mengucapkan selamat.
3.2.3 Setelah Upacara Perkawinan
Sesudah pelaksanaan upacara perkawinan selesai dilaksanakan, maka keesokan harinya dilaksanakan acara selanjutnya yaitu pihak keluarga pengantin perempuan melakukan berbagai persiapan untuk penyelenggaraan upacara Pabuat
boru (memberangkatkan pengantin perempuan). Dan di lain pihak, keluarga
pengantin laki-laki melakukan pula persiapan untuk pelaksanaan upacara
Mangalap boru (menjemput pengantin perempuan dari rumah orang tuanya).
Kedua upacara tersebut akan dilaksanakan serentak pada waktu yang telah ditentukan. Karena pengantin perempuan diberangkatkan pada saat keluarga pengantin laki-laki datang menjemputnya.
Dalam proses mempersiapkan upacara pemberangkatan pengantin perempuan, pertama-tama orang tua calon pengantin tersebut melakukan musyawarah dengan pihak Kahanggi, Mora dan Anak boru mereka. Dalam musyawarah itu dibicarakan segala sesuatu yang diperlukan untuk upacara pemberangkatan pengantin perempuan. Berikutnya mereka melakukan pula musyawarah dengan mengikutsertakan pihak pimpinan adat setempat dan tokoh- tokoh masyarakat setempat. Musyawarah tersebut didahului dengan makan nasi ketan.
Selesai makan kemudian acara dimulai dengan pembicaraan yang dilakukan oleh pimpinan adat setempat, Kahanggi, Mora dan Anak boru. Inti dari pembicaraan itu ialah mengucapkan terima kasih atas kedatangannya mulai dari awal acara perkawinan sampai hari ini, serta memberikan nasihat kepada pengantin perempuan agar pandai-pandai hidup berumah tangga dan
Sementara menunggu diselenggarakannya upacara Pabuat boru, keluarga pengantin perempuan menyediakan barang-barang (keperluan rumah tangga) yang akan diberikan kepada pengantin perempuan. Barang-barang yang diberikan oleh kedua orang tuanya kepada pengantin perempuan antara lain: peralatan dapur, barang pecah belah, seperangkat perhiasan dan pakaian pengantin perempuan, perlengkapan tempat tidur dan barang-barang tradisional.
Dari abang dan adik laki-laki ayahnya, pengantin perempuan juga menerima sejumlah barang. Mereka masing-masing memberikan barang pecah belah, selembar tikar adat, sebuah bantal, kain dan baju serta selembar kain adat. Dari abang ibunya, pengantin perempuanpun menerima pemberian sebuah piring, sebuah mangkok besar, sebuah tempat nasi, sebuah bantal, selembar tikar adat, selembar kain adat dan sebungkus nasi adat yang akan dibawa ke rumah mertuanya. Dari pimpinan adat setempat, pengantin perempuan menerima pemberian berupa sabun, kain dan baju serta sebungkus nasi adat sebagai tanda pemberitahuan bahwa ia diberangkatkan dengan upacara adat.
Ketika hari pemberangkatan pengantin perempuan sudah tiba, di rumah orang tuanya diselenggarakan acara memberi makan pengantin perempuan sebelum rombongan pengantin laki-laki datang menjemputnya. Acara tersebut dinamakan Mangalehen mangan (memberi makan) dan khusus dihadiri oleh para kerabat dekat dari pengantin perempuan. Setelah selesai makan bersama dilakukan pemberian kata-kata nasihat kepada pengantin perempuan. Yang pertama memberikan kata nasihat ialah ibunya. Kemudian secara bergiliran disusul dengan neneknya, isteri dari abang ayahnya, isteri dari adik ayahnya dan isteri dari saudara ibunya. Selesai golongan perempuan memberi kata-kata
nasihat, barulah disusul oleh golongan laki-laki yang dimulai oleh ayah pengantin perempuan. Kemudian disusul secara bergiliran oleh abang dan adik ayahnya (yang sudah berumah tangga), kakeknya dan saudara laki-laki ibunya (yang sudah berumah tangga). Selain itu bergiliran pula para kerabatnya yang hadir memberi kata-kata nasihat kepada pengantin perempuan. Acara tersebut biasanya berlangsung dengan penuh rasa haru dan suasana kesedihan. Karena tidak lama kemudian akan terjadi perpisahan dengan pengantin perempuan yang segera akan dijemput oleh suaminya.
Inti dari semua kata-kata nasihat yang mereka berikan ialah anjuran agar pengantin perempuan membawakan diri dengan sebaik-baiknya di tengah keluarga dan para kerabat suaminya kalau ia nanti sudah berada bersama mereka.
Sesudah kata-kata nasihat selesai diberikan, pengantin perempuan diberi kesempatan menyampaikan sepatah dua patah kata sebagai jawaban. Biasanya ia mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tuanya dan para kerabatnya serta memohon agar mereka mendoakan keselamatan baginya dalam hidup berumah tangga. Setelah itu, pengantin perempuan dibawa masuk ke kamarnya untuk mempersiapkan diri karena tidak lama kemudian rombongan pengantin laki-laki akan datang menjemputnya.
Biasanya sesuai dengan perjanjian, tidak lama kemudian pengantin laki-laki datang diiringi oleh rombongan kerabatnya laki-laki dan perempuan yang terdiri dari unsur Dalihan na tolu. Begitu tiba mereka dipersilahkan masuk dan duduk dalam rumah pengantin perempuan. Di ruang tengah rumah sudah menunggu kedua orang tua dan kaum kerabat pengantin perempuan.
Tidak lama setelah kedua belah pihak duduk berhadapan di ruang tengah rumah, dimulailah upacara resmi Pabuat boru serentak dengan upacara Mangalap