7.2 Keputusan Produksi Optimal
7.2.3. Analisis Perubahan Keuntungan dan Ketersediaan Sumberdaya Hasil Olahan optimal memberikan dua analisis lainnya, yaitu analisis
7.2.3.2. Analisis Perubahan Ketersediaan Sumberdaya
Analisis perubahan ketersediaan sumberdaya menunjukkan selang perubahan ketersediaan sumberdaya dan batasan produksi yang mempengaruhi kombinasi produksi optimal dan tidak mengubah dual price. Jika ketersediaan sumberdaya dan maupun perubahan permintaan masih berada di dalam selang peningkatan dan penurunan yang diperbolehkan, maka dual pricenya tetap.
Jika sumberdaya merupakan kendala pembatas, maka sumberdaya tersebut memiliki peningkatan dan penurunan yang terbatas. Sebaliknya jika sumber daya tersebut bukan merupakan kendala pembatas, maka akan memiliki peningkatan yang tidak terbatas dan penurunan sebesar nilai slack/surplusnya.
58 Pada pola produksi pertama lahan, serbuk kayu, dan modal untuk pembelian dedak dan plastik memiliki batas peningkatan yang tidak terbatas, namun batas penurunannya adalah terbatas sebesar nilai slack/surplus nya. Nilai penurunan yang diperbolehkan untuk lahan pembibitan 18,39 m², untuk lahan budidaya sebesar 130,73 m², serbuk kayu 75,96 karung, modal untuk pembelian dedak dan plastik Rp 44.798 (Lampiran 9).
Bibit dan tenaga kerja memiliki batas penurunan ketersedian masing- masing adalah 14 paket dan 320 jam. Batas peningkatan ketersediaannya masing- masing adalah 3 paket dan 1.016,25 jam. Batas Peningkatan penjualan bibit siap panen ukuran 17 x 35 cm adalah 760,5 log, sedangkan batas peningkatan untuk penjualan jamur tiram yang berasal dari bibit 18 x 35 cm adalah 199,5 log (Lampiran 9).
Pada pola produksi kedua nilai penurunan yang diperbolehkan untuk lahan pembibitan 19,55 m², untuk lahan budidaya sebesar 130,55 m², serbuk kayu 75 karung, modal untuk pembelian dedak dan plastik Rp 866.230 (Lampiran 9).
Bibit dan tenaga kerja memiliki batas penurunan ketersedian masing- masing adalah 17 paket dan 340 jam. Batas peningkatan ketersediaannya masing- masing adalah 28 paket dan 1.267,50 jam. Batas Peningkatan penjualan bibit siap panen ukuran 20 x 30 cm adalah 788,5 log, sedangkan batas peningkatan untuk penjualan jamur tiram yang berasal dari bibit 18 x 35 cm adalah 211,5 log (Lampiran 9).
7.2.4. Analisis Post Optimalitas
Analisis post optimalitas dilakukan untuk mencari kemungkinan- kemungkinan dan besarnya perubahan pada solusi optimal atau nilai dual jika terjadi perubahan pada koefisien nilai fungsi tujuan dan nilai ruas kanan kendala di luar batas perubahan yang diperbolehkan dalam solusi optimal sebelumnya.
P4S Nusa Indah berencana untuk meningkatkan harga jual bibit siap panen ukuran 20 x 30 cm menjadi Rp 2.250 per log. Hal ini dilakukan karena menurut penilaian P4S Nusa Indah bahwa penjualan bibit siap panen ukuran 20 x 30 cm ini kurang menguntungkan. Peningkatan harga jual bibit siap panen ukuran 20 x 30 cm menjadi Rp 2.250 berada diluar selang batas peningkatan yang diperbolehkan,
59 sehingga perlu dilakukan analisis optimalisasi yang baru. Untuk harga jual jamur tiram putih cenderung meningkat sehingga tidak dilakukan post optimalitas akibat perubahan harga jual jamur tiram putih.
Biaya yang dikeluarkan baik untuk pembibitan maupun budidaya berdasarkan pengalaman P4S Nusa Indah, rata-rata meningkat sebesar 30 persen. Peningkatan biaya ini akan mengurangi keuntungan per lognya sehingga koefisien fungsi tujuan menjadi menurun.
Tabel 15. Keuntungan setelah Perubahan dan Keuntungan Minimum pada Pola Produksi Pertama
No Produk Keuntungan setelah Peningkatan Biaya
dan Harga Jual Bibit 20 x 30 cm (Rp/log) Keuntungan Minimum (Rp/log) Keterangan terhadap Sensitivitas Awal 1. Bibit 17x35cm 427,0 628,1 Di luar batas 2. Bibit 18x35cm 375,0 Infinity Di dalam batas
3. Bibit 20x30cm 594,0 Infinity Di dalam batas
4. Jamur 17x35cm 1.249,0 Infinity Di dalam batas
5. Jamur 18x35cm 1.337,6 1.803 Di luar batas
6. Jamur 20x30cm 1.324,0 Infinity Di dalam batas
Tabel 15 menunjukkan bahwa peningkatan biaya dan peningkatan harga jual bibit siap panen ukuran 20 x 30 cm mengakibatkan penurunan keuntungan yang diperoleh. Bibit siap panen ukuran 18 x 35 cm dan 20 x 30 cm serta jamur tiram putih yang berasal dari bibit 17 x 35 cm dan 20 x 30 cm keuntungan minimumnya tidak terbatas sehingga masih berada dalam batas yang diperbolehkan solusi optimal awal. Untuk bibit siap panen ukuran 17 x 35 cm dan jamur tiram yang berasal dari bibit 18 x 35 cm berada di luar batas yang diperbolehkan. Keuntungan bibit siap panen ukuran 17 x 35 cm dan jamur tiram yang berasal dari bibit 18 x 35 cm setelah perubahan masing-masing adalah Rp 427 dan Rp 1.337,6 lebih kecil dari keuntungan minimum yaitu Rp 628,1 dan Rp 1.803. dengan demikian perlu dilakukan analisis post optmalitasnya.
Berdasarkan analisis post optimal pada pola produksi pertama, maka diperoleh kombinasi produksi yang seharusnya dilakukan adalah perusahaan memproduksi bibit siap panen ukuran 17 x 35 cm sebanyak 5.760,5 log dan jamur tiram putih yang berasal dari bibit siap panen ukuran 18 x 35 cm sebanyak 199,5 log. Total keuntungan yang diperoleh menurun menjadi Rp 2.734.662. Total
60 keuntungan aktual Rp 3.720.000. Perbedaan keuntungan dengan kondisi aktual adalah Rp 985.338. Perbedaan persentase sebesar 26,49 persen. Jika dibandingkan dengan solusi sebelumnya yang menghasilkan keuntungan sebesar Rp 4.653.825. Perbedaannya sebesar Rp 1.919.163 yaitu sebesar 41,24 persen.
Tabel 16. Keuntungan setelah Perubahan dan Keuntungan Minimum pada Pola Produksi Kedua
No Produk Keuntungan setelah peningkatan biaya dan harga jual bibit 20 x 30 cm (Rp/log) Keuntungan minimum (Rp/log) Keterangan terhadap sensitivitas awal 1. Bibit 17x35cm 427,0 Infinity Di dalam batas 2. Bibit 18x35cm 375,0 Infinity Di dalam batas
3. Bibit 20x30cm 594,0 147,73 Di dalam batas
4. Jamur 17x35cm 1.249,0 Infinity Di dalam batas
5. Jamur 18x35cm 1.337,6 1.803 Di luar batas
6. Jamur 20x30cm 1.324,0 Infinity Di dalam batas Tabel 16 menunjukkan bahwa peningkatan biaya dan peningkatan harga jual bibit siap panen ukuran 20 x 30 cm mengakibatkan penurunan keuntungan yang diperoleh. Bibit siap panen ukuran 17 x 35 cm dan 18 x 35 cm serta jamur tiram putih yang berasal dari bibit 17 x 35 cm dan 20 x 30 cm keuntungan minimumnya tidak terbatas sehingga masih berada dalam batas yang diperbolehkan solusi optimal awal. Untuk bibit siap panen ukuran 20 x 30 cm masih berada dalam batas. Jamur tiram yang berasal dari bibit 18 x 35 cm berada di luar batas yang diperbolehkan. Keuntungan bibit siap panen ukuran 17 x 35 cm yaitu Rp 594 lebih besar dari Rp 147,73. Jamur tiram yang berasal dari bibit 18 x 35 cm setelah perubahan 1.337,6 lebih kecil dari keuntungan minimum yaitu Rp Rp 1.803. Dengan demikian perlu dilakukan analisis post optmalitasnya.
Berdasarkan analisis post optimal pada pola produksi kedua, maka diperoleh kombinasi produksi yang seharusnya dilakukan adalah perusahaan memproduksi bibit siap panen ukuran 20 x 30 cm sebanyak 4788,5 log dan jamur tiram putih yang berasal dari bibit siap panen ukuran 18 x 35 cm sebanyak 211,5 log. Total keuntungan yang diperoleh meningkat menjadi Rp 3.135.738. Total keuntungan aktual Rp 2.904.000. Perbedaan keuntungan dengan kondisi aktual
61 adalah Rp 231.738. Perbedaan persentase sebesar 7,98 persen. Jika dibandingkan dengan solusi sebelumnya yang menghasilkan keuntungan sebesar Rp 3.866.466. keuntungannya menurun sebesar Rp 730.728 yaitu sebesar 18,90 persen.
Berdasarkan hasil optimalisasi maka sebaiknya P4S Nusa Indah melakukan kombinasi produksi yang optimal meskipun ada permintaan terhadap bibit siap panen ukuran 20 x 30 cm. Produksi optimal tersebut yaitu menghasilkan bibit siap panen ukuran 17 x 35 cm sebanyak 5.223 log dan jamur tiram yang berasal dari bibit siap panen ukuran 18 x 35 cm sebanyak 647 log.
Jika harga jual bibit siap panen ukuran 20 x 30 cm dinaikkan menjadi Rp 2.250, maka perusahaan memproduksi bibit siap panen ukuran 20 x 30 cm sebanyak 4.291 log dan jamur tiram yang berasal dari bibit siap panen ukuran 18 x 35 cm sebanyak 647 log.
Berdasarkan hasil analisis optimalisasi dapat diketahui bahwa lebih menguntungkan mengusahakan usaha bibit siap panen ukuran 17 x 35 cm, dibandingkan dengan bibit siap panen yang lain dan budidaya jamur tiram putih. Hal ini terlihat dari produksi bibit siap panen ukuran 17 x 35 cm yang lebih tinggi dibandingkan dengan produksi jamur tiram dan bibit siap panen lainnya.
Sebaiknya perusahaan meningkatkan ketersediaan bibit dan menambah tenaga kerja untuk memperluas usaha. Ketersediaan bibit dan tenaga kerja dapat dilakukan dengan cara meningkatkan modal melalui kerja sama dengan pihak lain. Hal ini dilakukan agar peluang tingginya permintaan dapat dimanfaatkan oleh P4S Nusa Indah.
Perusahaan sebaiknya mempertimbangkan harga jual bibit siap panen, karena harga jual bibit siap panen tidak mengalami perubahan sejak tahun 2008. Dengan peningkatan harga jual bibit diharapkan dapat meningkatkan pendapatan perusahaan. Pada pola produksi pertama, agar kombinasi produksi tetap sama, maka harga jual bibit siap panen ukuran 17 x 35 cm boleh ditingkatkan sebesar Rp 249,13, bibit siap panen ukuran 18 x 35 cm sebesar Rp 139,43, dan bibit siap panen ukuran 20 x 30 cm sebesar Rp 164,43. Pada pola produksi kedua, agar
62 kombinasi produksi tetap sama, maka harga jual bibit siap panen ukuran 17 x 35 cm boleh ditingkatkan sebesar Rp 464,14.
Harga jual jamur tiram putih, tidak dapat ditingkatkan oleh perusahaan, karena harga jual ini ditentukan oleh pasar. Produksi jamur tiram yang dilakukan harus efisien, karena analisis optimalisasi menunjukkan bahwa harga jual jamur tiram putih yang berasal dari bibit ukuran 18 x 35 cm hanya boleh turun harga jualnya sebesar Rp 41 per log baik pada pola produksi pertama maupun kedua. Efisiensi dapat dilakukan dengan cara meningkatkan produktivitas tenaga kerja dan penggunaan sumberdaya atau input sesuai dengan komposisi.
Peningkatan biaya sebesar 30 persen akan menurunkan keuntungan yang diperoleh. Pada pola produksi pertama peningkatan biaya mengakibatkan keuntungan yang diperoleh menurun sebesar 26,49 persen dari kondisi aktual. Pada pola produksi kedua peningkatan biaya menurunkan keuntungan yang diperoleh, tetapi karena ada peningkatan harga jual bibit siap panen ukuran 20 x 30 cm maka keuntungan masih meningkat sebesar 7,98 persen dari kondisi aktual. Dengan demikian, jika terjadi peningkatan biaya, sebaiknya harga jual bibit siap panen pun di tingkatkan, hal ini agar P4S Nusa Indah tetap memperoleh keuntungan.
63
VIII KESIMPULAN DAN SARAN
8.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil olahan optimalisasi produksi jamur tiram putih di P4S Nusa Indah, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Kombinasi produksi yang optimal pada pola produksi pertama di P4S Nusa Indah memproduksi jamur tiram putih yang berasal dari bibit 18 x 35 cm sebanyak 199,5 log dan bibit 17 x 35 cm sebanyak 5.760,5 log. Total keuntungan yang diperoleh adalah Rp 4.653.825. Total keuntungan ini meningkat sebesar 25,10 persen jika dibandingkan dengan kondisi aktualnya. Pola produksi kedua di P4S Nusa Indah memproduksi jamur tiram putih yang berasal dari bibit 18 x 35 cm sebanyak 211,5 log dan bibit 20 x 30 cm sebanyak 4.788,5 log. Total keuntungan yang diperoleh adalah Rp 3.866.466. Total keuntungan ini meningkat sebesar 33,14 persen jika dibandingkan dengan kondisi aktualnya.
2. Sebagian besar sumberdaya masih berlebih, yaitu lahan, serbuk kayu, tenaga kerja. Pada pola produksi pertama lahan lahan untuk pembibitan terpakai sebesar 78,91 m² dan untuk budidaya sebesar 2,87 m². Serbuk kayu yang digunakan sebanyak 324 karung. Modal yang digunakan untuk pembelian dedak dan plastik sebanyak Rp 1.799.202. Pada pola produksi kedua, lahan untuk pembibitan terpakai sebesar 77,75 m² dan untuk budidaya sebesar 3,05 m². Serbuk kayu yang digunakan sebanyak 325 karung. Modal yang digunakan untuk pembelian dedak dan plastik sebanyak Rp 1.875.770.
3. Bibit dan tenaga kerja untuk budidaya habis terpakai. Pada pola produksi pertama setiap penambahan satu paket bibit maka akan meningkatkan keuntungan sebesar Rp 33.640,79, sedangkan pada pola produksi kedua akan meningkatkan keuntungan sebesar Rp 26.192,97. Penambahan jam kerja selama satu jam maka akan meningkatkan keuntungan sebesar Rp 593,20 pada pola produksi pertama, sedangkan pada pola produksi kedua akan meningkatkan keuntungan sebesar Rp 695,49.
64 4. Agar kombinasi produksi optimal tetap, maka pada pola produksi pertama harga jual bibit siap panen ukuran 17 x 35 cm boleh ditingkatkan sebanyak Rp 249,13 per log, dan jamur tiram putih yang berasal dari bibit 18 x 35 cm hanya boleh turun harga jualnya sebanyak Rp 41. Pada pola produksi kedua harga jual bibit siap panen ukuran 20 x 30 cm boleh ditingkatkan sebanyak Rp 464,14 per log, dan jamur tiram putih yang berasal dari bibit 18 x 35 cm hanya boleh turun harga jualnya sebanyak Rp 41.
5. Analisis perubahan ketersediaan sumberdaya menunjukkan batas peningkatan dan penurunan ketersediaan sumberdaya agar kombinasi produksi optimal tetap. Pada pola produksi pertama bibit hanya boleh ditingkatkan sebanyak 3 paket dan dikurangi ketersediaannya sampai 14 paket. Untuk tenaga kerja ketersediaan jam kerja hanya boleh ditambah sebanyak 1.016,25 jam dan dikurangi sebanyak 320 jam. Pada pola produksi kedua bibit hanya boleh ditingkatkan sebanyak 28 paket dan dikurangi ketersediaannya sampai 17 paket. Untuk tenaga kerja ketersediaan jam kerja hanya boleh ditambah sebanyak 1.267,50 jam dan dikurangi sebanyak 340 jam.
6. Analisis post optimal peningkatan harga jual bibit 20 x 30 cm dan peningkatan biaya, pada pola produksi pertama dan kedua diperoleh kombinasi produksi yang sama dengan kombinasi produksi optimal sebelumnya. Keuntungan total pola produksi pertama menurun 26,49 persen dari kondisi aktualnya. Keuntungan total pola produksi kedua meningkat sebesar 7,98 persen dari kondisi aktualnya.
8.2. Saran
Berdasarkan hasil yang diperoleh pada penelitian, maka penulis menyarankan beberapa hal sebagai berikut :
1. Sebaiknya P4S melakukan kombinasi produksi yang optimal, karena akan memberikan keuntungan yang lebih besar dibandingkan dengan keuntungan aktual.
65 2. Sebaiknya perusahaan meningkatkan ketersediaan bibit dan menambah tenaga kerja dengan cara meningkatkan modal melalui kerja sama. Selain itu dipertimbangkan kembali ketersediaan sumber daya yang berlebih. 3. Perusahaan sebaiknya mempertimbangkan kembali harga jual bibit siap
panen untuk mengantisipasi terjadinya peningkatan biaya input. Hal ini mengingat bahwa harga jual bibit siap panen tidak mengalami perubahan sejak tahun 2008. Agar kombinasi produksi tetap sama, maka pada pola produksi pertama harga jual bibit siap panen ukuran 17 x 35 cm boleh ditingkatkan sebesar Rp 249,13, bibit siap panen ukuran 18 x 35 cm sebesar Rp 139,43, dan bibit siap panen ukuran 20 x 30 cm sebesar Rp 164,43. Pada pola produksi kedua harga jual bibit siap panen ukuran 20 x 30 cm hanya boleh meningkat sebesar Rp 464,14.
4. Produksi jamur tiram yang dilakukan harus lebih efisien, karena harga jual jamur tiram putih tidak dapat ditingkatkan oleh perusahaan tetapi ditentukan oleh pasar.