BAB V ANALISIS DATA
WAKTU PERTEMUAN
5.8 Analisis Peserta Family Development Session (FDS) Terhadap Anggota PKH
yang hadir sangat berkurang mengingat sebagian keluarga peserta PKH mengadakan liburan natal di luar Daerah dan diluar Kota Medan ini. Tetapi FDS ini tergolong sukses dan FDS tahun 2016 di Kelurahan Titi Rantai telah selesai pada tanggal 24 desember 2016.
Dari hasil data yang telah diperoleh FDS di Kecamatan Medan Baru pada tahun 2016 ini telah selesai dan dinyatakan Sukses dalam Program Keluarga Harapan (PKH).
5.8 Analisis Peserta Family Development Session (FDS) Terhadap Anggota PKH
Nama : Ibu Ina Ribani Bu’ulolo
Usia : 45 Tahun
Alamat : Jl.Bahagia Kelurahan Titi Rantai Pekerjaan : Wiraswasta
Penghasilan/Bln : 1.000.000 / Bln
Kendala tidak hanya ada pada Tim Pelaksana PKH saja, tetapi anggota penerima PKH yang telah mengikuti FDS juga mengalami kendala, seperti yang diungkap oleh Ibu Ina Ribani bu’ulolo dengan menggunakan bahasa daerah nias yang artinya :
“saya sebenarnya sangat senang mengikuti FDS ini dan pertemuan-pertemuan yang sudah disepakati. Hanya saja terkadang saya juga malu ketika saya dikasi materi atau buku pada hal saya tidak tau membaca dan menulis. Tapi ketika saya mengikuti tahap pertama FDS ini ternyata ada pembagian kelompoknya jadi saya sedikit sangat terbantu bisa dikelompokkan dalam jumlah yang sedikitlah jadi saya pun tidak malu-malu ketika bertanya apa yang tidak saya mengerti. Dari awal mengikuti PKH ini sampai FDS ini pun saya selalu hadir mengikuti pertemuan tidak pernah absen. Menurut saya ini sangat sangat penting bagi saya dan keluarga apalagi FDS yang telah dilaksanakan. Namanya juga dari
segala hal. Sebelum ikut ini mau anak saya sekolah atau tidak itu terserah dia malah saya senang mereka hanya tamat SD saja yang penting mereka tau membaca karna biaya juga sangat minim untuk mereka disekolahkan. Tapi setelah mengikuti FDS ini di topik “Pengelolaan Keuangan dan Perencanaan Usaha” saya baru mengerti sedikit uang itu diarahkan kemana. Karna selama ini kalau ada uang bukan untuk sekolah anak tapi untuk bisa makan dan ditabung aja menurut saya sekolah cukup tau membaca saja anak-anak saya. Saya punya 3 anak, anak pertama kelas 6 SD mau tamat, anak kedua kelas 4 SD dan anak ke tiga masih umur 5 tahun. Sebenarnya saya dan suami saya sudah memutuskan tidak meneruskan anak pertama saya lanjut SMP lagi cukup saja SD tapi kembali saya mikir juga siapa yang membuat keluarga saya berubah lebih baik kedepan ya anak saya juga jadi saya ambil keputusan terus lanjutin anak saya sekolah lah semampu kami.”
Terkadang membaca dan menulis aja masih menjadi pedoman bagi orang tua yang tidak mau mengubah menseat pikirannya dengan baik. Dari hasil observasi saya juga Ibu Ina Ribani juga merupakan anggota yang sangat aktif mengikuti setiap pertemuan sekalipun dia tidak mengerti tapi dia tetap berusaha bertanya sampai dia benar-benar mengerti.
Nama : Ibu Ina Yaia Ndruru
Usia : 47 Tahun
Alamat : Kelurahan Darat
Pekerjaan : Wiraswasta
Penghasilan/Bln : 1.000.000/Bln
Dari Family Development Session (FDS) yang telah dilaksanakan Ibu Ina Yaia Ndruru mengungkapkan :
“saya sebenarnya malas ikut-ikut pertemuan seperti ini, berapa kali saya dapat bantuan dari pemerintah tidak pernah ada pelayanan seperti begini yang mengarahkan pola pikir kami yang salah, ya ada raskin ya tingggal diambil, ada bantuan uang tunai ya tinggal diambil, tidak ada ibaratnya pembekalan buat kamilah yang penerima PKH ini. Awalnya saya ikut karna berkali-kali diinformasikan ke saya sampai ada relawan yang
kerumah menginformasikanya jadi saya datang saja, saya juga dapat PKH masa saya tidak datang itu pikir saya. Keluarga kami dapat PKH ini juga karna ada anak saya cacat 1 orang dan itu anak satu-satunya, saya tidak mau kasi dipanti juga saya terus rawat anak saya itu perempuan usia 13 tahun cacat fisik kakinya lumpuh dan matanya tidak normal seperti kita melihat. Saya hanya 3 kali datang pertemuan mengikuti FDS ini karna jaga anak saya dirumah juga, dan ketiga kali ini yang saya ketahui saya punya kenalan, banyak teman jadinya. Dan saya mengerti semua yang dijelaskan tapi saya harus buat apa pendidikan juga anak saya tidak punya jadi saya lebih senang saja punya banyak teman dan terus memberikan saya semangat dan motivasi ini disini ada bu nurhaidah, rosmiyati selalu kasi semangat juga iyah itu saja“
Dalam hal ini Ibu Ina Yaia Ndruru memiliki pola pikir yang berbeda juga, dalam FDS ini dia senang bisa memiliki banyak teman dan Ibu ini juga sangat membutuhkan banyak motivasi, semangat sehingga Ibu bisa kuat mempertahankan keluarganya.
Nama : Daryati Usia : 40 Tahun
Alamat : Keluarahan Padang Bulan Penghasilan/Bln : 1.000.000/bln
Dari pemaparan FDS tadi ibu daryati selaku relawan dalam PKH ini sangat aktif mengabarkan setiap info yang didapatkan. Seperti yang didungkapkan oleh Ibu Daryati :
“saya senang jadi relawan buktinya saya sudah 3 kali berturut-turut mendapatkan PKH ini. saya tidak dibayar kok, jika pak Azwir telfon saya buat kabari berita atau info kepada teman-teman yang penerima PKH saya pasti kerumah-rumah ibu-ibu ini semua naik sepeda kabari info. Dan kalau FDS ini menurut saya ini sangat penting, kenapa saya bilang begitu buktinya, jika saya kerumah-rumah ibu-ibu ini saya tidak hanya kasi tau saja jadwal pertemuan saja tapi bahkan saya mencoba meyakinkan mereka kalau ketika mereka datang mengikuti FDS tidak ada yang sia-sia, biar saya juga jangan sia-sia dayung-dayung sepeda kesana-kemari tapi toh tidak datang. Dan sekarang kita bisa lihat sendiri 5 kali ngadain FDS ini awalnya tidak semua yang hadir tapi lama-lama semakin banyak juga yang hadir. Saya mau juga ibu-ibu ini mampu berpikir yang baik sekalipun tidak punya pendidikan yang tinggi tapi anak-anak kita jangan sampai seperti kita gitu. Sejauh ini saya tetap aktif mengikuti semua kegiatan di PKH kalau ada pertemuan ya saya ikut dan
sempat datang karna ada halangan juga. Saya mendapat PKH juga karna dikeluarga saya anak saya 1 orang yang cacat fisik dan satu orang yang masih sekolah SMP. Trus ibu saya juga tinggal bersama saya dirumah dan ibu saya dapat PKH lansia juga.”
Sejauh yang telah saya Observasi juga, Ibu Daryati merupakan seorang relawan yang bertugas untuk mengabarkan info-info seputar PKH kepada teman-teman atau ibu-ibu yang menerima PKH. Ibu Daryati juga salah satu yang selalu aktif dalam pertemuan dan sangat menghimbau keluarga yang mendapat kan PKH untuk aktif mengikuti setiap pertemuan. Bagi ibu Daryati semua tidak sia-sia ketika datang mengikuti pertemuan terlebih-lebih FDS yang telah dilaksanakan.
BAB VI PENUTUP 6.3 Kesimpulan
Berdasarkan uraian hasil analisis mengenai “Pelayanan Sosial Bagi Keluarga Miskin Melalui Program Keluarga Harapan di Kecamatan Medan Baru”. Studi pada kegiatan Family Development Session (FDS) di Kelurahan Titi Rantai Kecamatan Medan Baru, yang sudah dipaparkan sebelumnya maka dapat disimpulkan bahwa pelayanan sosial pemberdayaan yang dilakukan dapat dilihat dari tiga pendekatan pelayanan pemberdayaan yaitu :
1. Tahap penyadaran dan pembentukan perilaku merupakan tahap menuju perilaku sadar dan peduli sehingga merasa membutuhkan peningkatan kapasitas diri. Pada tahap ini pihak pelaku pelayanan PKH berusaha menciptakan pra-kondisi supaya dapat memfasilitasi berlangsungnya proses pelayanan sosial yang efektif. Sentuhan penyadaran akan membuka keinginan dan kesadaran keluarga tentang kondisi saat ini dan dengan demikian akan dapat merangsang kesadaran mereka tentang perlunya memperbaiki kondisi untuk menciptakan masa depan semangat yang diharapkan dapat mengantarkan masyarakat untuk sampai pada kesadaran dan kemauan untuk belajar.Kehadiran guru PAUD juga dirasakan manfaatnya ketika pendamping menyampaikan materi Perlindungan Anak, dimana kehadiran guru ini sangat menarik perhatian para peserta pelatihan yang masih terlihat pasif saat awal pelaksanaan kegiatan FDS ini. Pada sesi Pengasuhan dan Pendidikan anak, pendamping bersama guru tersebut menyampaikan bagaimana cara mengasuh anak yang baik, mulai yang balita hingga usia dewasa, dengan perlakuan dan
usianya.Pendamping juga sangat terbantu dengan mengundang guru PAUD pada sesi Perlindungan Anak, karena guru juga membantu menyampaikan bagaimana cara memahami anak, dimulai dari usianya yang masih dini, agar bisa terhindar dari tindak kekerasan yang dapat melukai dan mencederai anak. Cara yang sama juga dilakukan pendamping untuk dapat menarik minat para peserta pelatihan FDS pada sesi Kesehatan Ibu dan Anak. Pada sesi ini, pendamping mengundang seorang bidan desa yang membantu menjelaskan lebih detail kepada para peserta tentang bagaimana bergaya hidup sehat. Hanya pada sesi Pengelolaan Keuangan dan Perencanaan Usaha, pendamping tidak mengundang narasumber, namun pendamping tetap mampu menarik minat para peserta dengan bekal modul, poster, flipchart, dan video tutorial yang memang sudah dipersiapkan sebelumnya. Pada sesi ini, peserta berperan serta lebih aktif daripada sesi yang lainnya, sebab pendamping mengajarkan secara langsung bagaimana cara berhitung keuangan keluarga yang baik, mengetahui apa yang disebut ‘keinginan dan kebutuhan’, bagaimana membuat jurnal kas harian atau bulanan, dan meminta para peserta untuk mempraktekkannya secara langsung. Dengan begitu, diharapkan peserta akan langsung memahami materi yang diberikan dengan lebih mudah.
2. Tahap transformasi pengetahuan dan kecakapan, keterampilan dapat berlangsung dengan baik dan penuh semangat dan juga efektif, jika tahap pertama sudah terkondisi. Masyarakat akan menjalani proses belajar tentang pengetahuan dan kecakapan-keterampilan yang memiliki relevansi dengan apa yanh menjadi tuntutan kebutuhan tersebut.Dalam Tahap Transformasi kemampuan, terjadi keterbukaan di dalam masyarakat akan pentingnya pemberdayaan yang nantinya akan mempengaruhi wawasan, kecakapan -
ketrampilan dasar yang mereka miliki. Dimana Pada tahap ini, menjadi seorang pendamping berarti harus mampu memiliki kemampuan dalam inovasi dan leadership yang kuat. Pendamping dituntut untuk mampu berimprovisasi di setiap kondisi apapun yang terjadi dilapangan, agar target dan tujuan yang akan dicapai dapat terlaksana dengan baik, sesuai deadline, dan juga maksimal.
3. Tahap ketiga adalah tahap peningkatan intelektualitas dan kecakapan-ketrampilan yang diperlukan supaya mereka dapat membetuk kemampuan kemandirian. Kemandirian tersebut akan ditandai oleh kemampuan masyarakat didalam membentuk inisiatif, melahirkan kreasi-kreasi dan melakukan inovasi-inovasi di dalam lingkungannya. Masyarakat yang mandiri tidak dapat dibiarkan begitu saja masyarakat tersebut tetap memerlukan perlindungan supaya dapat terpupuk dan terpelihara dengan baik dan selanjutnya dapat membentuk kedewasaan sikap dari masyarakat tersebut.ketika peneliti mengamati proses pemberdayaan, terlihat para RTSM antusias dalam menjawab soal-soal yang di berikan, mereka juga terlihat mulai percaya diri, kemampuan baca tulisnya pun mulai meningkat, meskipun sesekali masih harus mengeja huruf dan angka yang dibaca. Kemampuan berhitung pun meningkat. Selain itu juga ada pernyataan dari RTSM, bahwa dia juga mencoba menularkan ilmu yang didapat dari pelatihan kepada keluarga lainnya walaupun itu hanya terbatas sesuai dengan kemampuan yang mereka bisa.
6.4 SARAN
Berdasarkan uraian hasil penelitian, bahwa peneliti memberikan beberapa saran yang dapat berguna agar pemberdayaan yang dilakukan melalui kegaiatan Family Development Session kedepannya bisa lebih baik lagi. Saran tersebut antara lain:
1. Melihat dari target yang harus dipenuhi, serta waktu yang terbatas, mungkin sebaiknya program FDS harus dimulai bersamaan dengan program PKH dilaksanakan. Sehingga tujuan utama dari program bisa tercapai dengan lebih optimal.
2. Dukungan financial juga sebaiknya diberikan untuk menunjang semua pengeluaran dalam kegiatan ini. Pendamping juga menyayangkan tidak adanya dukungan financial dari pemerintah daerah setempat. Semua pengeluaran yang dibutuhkan selama melaksanakan pelatihan, termasuk fotokopi, kertas-kertas, dan peralatan ATK yang lain, semua ditanggung oleh pendamping. Sedangkan, di beberapa daerah di kabupaten lain, para pendamping FDS-PKH sudah menerima tambahan financial untuk mendukung kelancaran berjalannya program FDS. Tentunya pendamping akan sangat terbantu dengan diberikannya dukungan financial dari pemerintah daerahnya.
3. Jumlah pendamping yang ada tidak sebanding dengan jumlah kegiatan dan jumlah RTSM yang didampingi. Ini juga disebabkan target waktu berakhirnya program FDS juga pendek. Sebaiknya jumlah SDM pendamping bisa ditambah sesuai dengan standart pelayanan, untuk memaksimalkan hasil program pemberdayaan. Misalnya, satu pendamping untuk mendampingi maksimal 15 sampai 20 orang saja per pertemuan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA