• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II GAMBARAN UMUM RELASI GENDER DAN SEKSULITAS

B. Evaluasi Hasil Literatur Terdahulu tentang Seksualitas dan

5. Analisis Post-Feminis Pada Novel Namaku Mata Hari karya

Novel yang berangkat dari kisah nyata ini menceritakan tentang perempuan barat berjiwa timur bernama Margeretha Geertruida yang bekerja sebagai agen mata-mata ganda. Dia menggunakan nama panggung Mata Hari ketika ia berada di

59

panggung sebagai penari Jawa erotis. Cerita ini menarik perhatian Hidayat untuk melakukan analisis Post-Feminis pada novel Namaku Mata Hari. Dikisahkan dalam perjalanannya menjadi agen spionase dan penari erotis, Margeretha digambarkan sebagai sosok yang berusaha menentang dominasi patriarki dalam ruang domestik. Perlawanannya ia lakukan dengan menjalin hubungan dan tidur dengan banyak pejabat Eropa sebagai bentuk protes dan balas dendam atas tindakan suaminya. Tindakan ini Margeretha klaim sebagai tindakan perempuan modern dan feminis, karena tidak terikat pada apapun dan bebas melakukan apapun. Analisis yang Hidayat lakukan ini melihat bahwa ada kesalahan interpretasi feminis yang Margeretha lakukan. Menurut Hidayat, kesalahan itu terletak pada adanya penyimpangan moral, nilai serta norma sosial.

Di awal tulisan Hidayat membuka dengan memberikan sejarah singkat tentang feminisme itu sendiri. Gerakan feminisme ia catatkan mulai muncul pada abad pencerahan sekitar tahun 1785 dan gerakan ini menjadi populer di Amerika pada tahun 1960. Lahirnya gerakan ini dilatarbelakangi oleh adanya konstruksi sosial yang mengharuskan perempuan berperan di ranah domestik dan perempuan mulai dipekerjaan sebagai buruh pabrik pada masa Perang Dunia I. Hal mendasar yang ingin diperjuangkan lewat gerakan ini yaitu adanya kesetaraan perempuan dan perlakuan yang adil sebagiaimana manusia, dalam artian kesetaraan yang dituntut ini menyangkut persoalan perempuan yang seharusnya dihargai, dihormati dan tidak direndahkan hanya karena jenis kelamin. Perlakuan adil yang dituntut yaitu tidak ada diskriminasi membeda-bedakan hanya karena jenis kelamin, serta jangan ada steriotipe hegemoni, dominasi dan kekerasan lagi yang menimpa perempuan.

60

Terkait dengan feminisme yang ada dalam Namaku Mata Hari maka ada tiga topik diskusi yang Hidayat bahas dalam penelitiannya, (1) Perempuan Yang Tertindas Dalam Lingkaran Imperialisme, (2) Penaklukan Melalui Politisasi Tubuh: Profesi Yang Didasarkan Pada Kecantikan, (3) Interpretasi Margeretha Geertruida: Perempuan Memandang Zaman. Di poin bahasan pertama diceritakan Margeretha Geetruida mengalami ketimpangan dalam relasi gender yang terjadi dalam ranah domestik. Perlawanan yang Margeretha lakukan ini digambarkan lewat suara perempuan tetapi dengan pemikiran maskulin dengan tag line "kalau lelaki bisa, kenapa perempuan tidak bisa?". Pernyataan ini mengandung unsur ingin bersaing dan persaingan itu adalah salah satu sifat maskulin. Selain itu pernyataan ini juga sebagai usaha perempuan untuk menunjukkan eksistensinya supaya terlepas dari dominasi laki-laki.

Usaha perlawanannya ini Margeretha lakukan dengan cara tidak membatasi pergaulan dan relasinya. Ia mengkalim tindakannya ini sebagai aksi feminis, tanda modernisasi pada perempuan yang bebas, sekaligus bentuk dari pemberontakan. Tetapi menurut Ann Brooks (2009), tindakan seperti ini dinilai kontradiktif dengan perjuang feminisme. Hal yang dinilai kontrakdiftif di sini terletak pada ambisi Margeretha yang terlalu besar sehingga ia tidak sadar kalau dirinya justru malah semakin terjerumus dalam kuasa laki-laki yang semakin banyak. Dia jadi tidak sadar bahwa dirinya dieksploitasi. Di poin ke dua, Hidayat semakin memfokuskan diskusinya, tentang praktik penaklukan lewat tubuh yang dilakukan Margeretha Geertruida. Dalam diskusi ini, tubuh dapat berfungsi sebagai bahasa yang mampu memunculkan persepsi dan citra visual, melalui tarian yang lentur dan gemulai.

61

Dalam kasus ini, tarian Jawa erotis ini justru bergeser menjadi komoditas dan penakluk lewat gerak tubuh karena mampu untuk menarik perhatian. Modal kecantikan dan gerak tubuh erotis Margeretha semakin memperkuat komodifikasi karena selain dia mendapatkan uang, dia juga mendapat popularitas.

Di poin terakhir, diskusi bergeser ke topik tentang bagaimana perempuan didefinisikan dan dikonstruksi sesuai zaman. Di sini dikatakan bahwa Margeretha Geertruida berusaha untuk mencitrakan dirinya sebagai perempuan modern, yang bebas dan tanpa ikatan dari siapapun. Dari kejauhan, tampaknya ia menjadi “feminis transnasional” karena dapat begitu bebas menaklukan laki-laki antara negara yang satu dengan negara lainnya. Aksi feminis yang Margeretha lakukan di sini dinilai keliru menurut pandangan Hidayat. Kekeliruan itu karena Margeretha dinilai justru menurunkan martabat perempuan dengan menjadi penari telanjang dan bergaul dengan lelaki tanpa batas. Meskipun Margeretha mengalami kesalahan interpretasi tentang pandangan perempuan modern abad ke-20, namun ia berkontribusi besar dalam usaha untuk berani melawan ketertindasan, tetapi bukan berarti tindakannya ini bisa begitu saja ditiru.

Tanggapan yang ingin saya berikan dari literatur ini, yaitu dalam novel ini tersangka utamanya adalah suami Mata Hari itu sendiri, yang suka melakukan KDRT, dan singgah di lokalisasi prostitusi. Margeretha di sini tidak bisa dihakimi begitu saja sebagai orang yang amoral, pihak yang memanfaatkannya sebagai mata-mata juga pasti melihat dulu kelebihan apa yang dimiliki oleh Margeretha. Kebetulan kelebihan yang ia miliki bisa sangat membantu untuk tugas mata-mata, yaitu poligot, pandai bergaul, dan ahli di bidang seni tari Jawa. Jika Hidayat

62

mengatakan sosok Margeretha ini menyimpang secara moral, saya pikir ini keliru karena Margeretha orang barat, yang pasti punya sistem nilai dan norma sosial sendiri, tidak sama dengan sistem nilai dan norma sosial orang timur. Terlebih setelah saya membaca buku Namaku Mata Hari, saya justru malah simpatik dengan Margeretha, apa yang dia lakukan itu bentuk ekspresi kemarahan dia. Dia berusaha mereduksi ketimpangan yang dia alami beserta emosinya dengan cara yang lebih intelek. Soal dia tidur dengan banyak lelaki itu bukan berarti dia bisa dengan mentah dinilai sebagai sundal, dia melakukan itu juga tidak murni kemauan dia sendiri, justru sistem konstruksi sosial yang membuat dia menjadi seperti itu. Hal terakhir yang ingin saya sampaikan yaitu Hidayat seperti menilai masalah orang barat dengan kacamata timur sehingga terkesan moralis, dan ini menjadi kurang tepat jika diterapkan dalam novel Namaku Mata Hari.

6. Seks, Birahi, dan Cinta Dalam Karya Nh. Dini oleh Aquarini Priyatna