• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PANDANGAN KRITIS TERHADAP KOMODIFIKASI PADA

A. Gaya Narasi Pada Masing-Masing Novel

1. Gaya Narasi Bekisar Merah

Novel Bekisar Merah pertama kali terbit tahun 1993 dan kembali diterbitkan lagi pada tahun 2011. Terbitan tahun 2011 ini adalah seri yang saya teliti karena telah menggabungkan Bekisar Merah dengan seri keduanya yaitu Belantik. Seperti pada novel Ahmad Tohari yang lain, juga sebagian novel semasanya, Bekisar Merah ditulis dengan gaya realis dengan narasi yang relatif linier tanpa banyak eksperimental. Melalui frase atau kalimat, narasi mampu menunjukkan karakteristik dan sisi emosional lewat bahasa untuk mengekspresikan diri pembicara (narrator atau karakter) dalam teks terkait dengan persoalan yang ada dalam cerita. Dari gaya bernarasi ini maka akan terlihat emosi siapa yang dieksperesikan dalam teks, siapa yang bicara, dan sudut pandang siapa yang ditunjukkan dalam fabula. Novel Bekisar Merah memiliki ciri-ciri yang cukup menonjol, seperti (1) naratornya tidak berganti, (2) narator sebagai orang ketiga yang berbicara, (3) narator bukan bagian dari cerita ataupun tokoh, (4) narator

123

memiliki otoritas sehingga ia menjadi sosok yang maha tahu, dan (5) narasinya bersifat linier. Dari sini lima hal yang menjadi ciri khas narasi Bekisar Merah, dan sejauh pengalaman saya membaca novel ini, saya tidak menemukan adanya embedded text atau cerita dalam cerita.

Pada masalah yaitu tentang perempuan sebagai simbol prestis114, saya bagi menjadi tiga poin (3.i), (3.ii), dan (3.iii). Di kutipan (3.i), bagian ini menjelaskan tentang perniagaan Bu Lanting yang memasok perempuan muda untuk kalangan elit demi menjaga posisinya, dan dari mana selera elit itu berasal yaitu dari Pempimpin Besar. Lalu apa hubungan semua ini dengan nasib Lasi? Hubungannya adalah pembaca sudah diberi rambu tentang bagaimana nasib Lasi selanjutnya. Narator sudah memberi rambu pada pembaca bahwa akan ada praktik komodifikasi tubuh perempuan menimpa Lasi. Narasi tentang kaum elit ini memberi sedikit jeda sebelum melanjutkan kembali bagaimana kisah Lasi.

Dari fokalisasi di kutipan ini, kita tidak hanya tahu bahwa sosok Bu Lanting itu money oriented, tapi kita juga diajak melihat persoalan dari perspektif Bu Lanting, sehingga pembaca jadi tahu betul apa yang sedang menimpa Lasi tanpa Lasi sendiri tahu. Pembaca diposisikan lebih tahu permasalahan Lasi dari pada Lasi sendiri, tokoh utama dalam cerita. Maka di titik ini ketegangan mulai dibangun, pembaca merasa iba, dan kasihan dengan keluguan dan ketidaktahuan Lasi.

Di kutipan (3.i)115, hal yang sebenarnya dinarasikan oleh narator adalah kehidupan para elit dengan nada menyindir, dan rasa tidak suka terhadap gaya hidup

114Lihat kembali poin 3 di BAB III hal 91 115Lihat hal.91

124

elit. Hal yang sekiranya bisa saya tangkap dari nada tidak suka itu bahwa gadis Jepang itu seperti dihadirkan hanya untuk meramaikan suasana, hanya sebagai tempelan penghias saja demi menjaga mutu pemimpin itu sendiri seperti pada baris [Kecantikan gadis Jepang itu, yang sering muncul mendampingi Pemimpin Besar dengan kain kebaya Jawa, konon mampu membikin oleng hati banyak orang.]. Ketika narator mengkisahkan bagian ini, ada nada mengkritik kepada pemimpin yang ingin menunjukkan supremasinya dengan gaya sarkas pada elit.

Selain itu ketika narator mengisahkan apa yang Bu Lanting lakukan, ada nuansa kengerian yang narator bawa sambil memberi tanda ke pembaca tentang sisi gelap gaya hidup elit seperti bapada baris [Dan perempuan muda… Bu Lanting giat

menjalankan niaga istimewa untuk melayani pasar istimewa] narator secara implisit

memperlihatkan sisi negatif dari aktivitas mucikari sebagai penyedia 'santapan' untuk elit. Hal lain yang ingin narator perlihatkan lewat fokalisasinya ini, adalah sebuah visi masyarakat modern yang justru mengalami degradasi moral demi sebuah gengsi dan materi. Sikap menyepelekan sosok perempuan, membuat mereka dan mucikari melihat perempuan itu sebagai ‘barang’ kebutuhan hidup.

Penjelasan lebih lanjutnya ada di kutipan (3.ii)116 yang narator sampaikan dengan cukup kronologis. Narator menarasikannya dengan nada sinis dan mengejek ketika ia menunjukkan isi kepala para elit di baris [apa salahnya sekedar gundik. Yang penting, meniru langkah Pemimpin Besar dijamin tidak mungkin keluar dari rel revolusi, suatu ungkapan dan slogan politis yang sangat dipopulerkan oleh Pemimpin Besar sendiri]. Di sini narator langsung mengkritik sambil memberi tahu pembaca tentang kebiasaan

125

buruk elit politik, tetapi tidak memberi tahu tokoh utama seperti Lasi. Narator di momen ini menempatkan dirinya sebagai pihak oposisi yang mengkritik, narator kurang menjaga jarak layaknya dalang yang menceritakan sebuah cerita.

Persoalan di (3.ii) sebenarnya adalah persoalan sosial yang cukup berat, tetapi narator mencoba menyederhanakan gaya penyampaiannya, sehingga kesan berat tersebut menjadi samar. Meskipun demikian, kutipan (3.ii) tetap memberikan highlight tentang tindak-tanduk golongan elit dalam relasi gender. Apa yang menjadi highlight di deskripsi ini narator sampaikan dengan sikap sinis dan menyindir seperti di (3.i) ketika menggambarkan para elit sebagai golongan orang kota modern yang buruk, karena menjadikan perempuan sebagai komoditas. Di poin (3.i) dan (3.ii), fokalisasi yang narator lakukan hanya menyorot hal-hal mayornya saja, sehingga membangun kesan narator mengkisahkan peristiwa dengan cepat, dan interval yang renggang.

Di poin (3.iii)117 mulai hadir penggambaran karakter cerita lain yaitu Pak Handarbeni. Karakter Handarbeni di sini sebagai karakter yang juga mudah dibaca isi pikirannya, dan pembaca tinggal lihat dan ikuti lewat jalan cerita. Handarbeni ini dikisahkan adalah mantan tentara berpangkat jendral yang kini jadi direktur suatu perusahaan. Artinya bisa dibayangkan dan dirasakan sendiri bagaimana 'power' yang ia miliki. Fokalisasi di (3.iii) adalah uangkapan Handarbeni tentang bagaimana dia menggambarkan identitas suku Jawa, di mana citra suku Jawa umumnya dikenal sebagai golongan suku yang berbudi, bermartabat, beradab membuat suku ini selalu dilebihkan dibanding suku lain. Ada sikap hati-hati dari

126

nada bicara Handarbeni ini, namun sikap itu tidak membuat pembaca simpatik karena di baris akhir. Selain itu ada dana yang menunjukkan sikapnya yang rakus dan tamak karena ia menjadikan perempuan muda sebagai simpanan penghias rumah gedong. Meskipun demikian, dari perkataan Handarbeni ini, pembaca jadi tahu kalau filosofi politik Jawa itu perlu dikritisi.

Masalah kedua yaitu tentang perdagangan perempuan118 yang lebih mengkrucut pada masalah komodifikasi tubuh perempuan. Di sini saya telah membaginya menjadi lima poin (4.i), (4.ii), (4.iii), (4.iv), dan (4.v). Pada kutipan (4.i)119 narator menceritakannya dengan suasana yang sedikit mencekam seperti pada baris [Maka pencarian gadis-gadis peninggalan tentara Jepang, dalam beberapa kasus tak peduli dia sudah bersuami, pun dimulai]. Cara penyampaian narator mampu membuat pembaca menjadi emosi sekaligus takut. Tapi dari sini narator menempatkan dirinya sebagai orang yang paham betul dengan dunia elit, dan ingin membongkarnya dihadapan pembaca. Pembaca dibuat percaya dengan apa yang dilakukan elit dan perniagaan Bu Lanting ini. Karakter Bu Lanting ini semakin terdefinisi sebagai sosok materialistis hedonis, begitupun para golongan elit yang digambarkan percuma dalam beragama karena masih memakai jimat, dan ini sebenarnya disindir oleh narator lewat narasinya yang secara implisit mengatakan bahwa para elit ini telah kehilangan sisi religius dan makna hidup.

Di kutipan (4.ii)120, karakter Bu Lanting digambarkan secara eksplisit bahwa dia bukan orang baik, apa yang akan dilakukan dan apa yang ia pikirkan

118Lihat poin 4. Perdagangan Perempuan, BAB III. hal.93, 119 Lihat hal.93

127

mudah untuk pembaca ikuti dan lihat. Karakter Bu Lanting ini narator gambarkan dengan cara yang membuat pembaca langsung tidak suka dengan kehadirannya di awal kemunculannya, seperti pada baris [Kegembiraan hati karena menemukan mata dagangan bagus disembunyikannya baik-baik] mengumpamakan Lasi sebagai ‘mata dangangan’ saja pembaca sudah bisa langsung menebak apa yang akan terjadi selanjutnya sekaligus tidak suka dengan gaya Bu Lanting.

Cara penggambaran karakter Bu Lanting ini narator bawakan secara eksplisit guna menunjukkan bahwa ia adalah tokoh antagonis yang licik, dan bermulut manis dengan tujuan supaya bisa menggiring Lasi demi mencapai tujuan pribadi. Pembaca diperlihatkan sisi Bu Lanting yang negatif menurut pembaca, sehingga dari situlah pembaca sudah diarahkan untuk membenci tokoh ini. Dari sini juga kita jadi tahu bagaimana Bu Lanting melihat Lasi, memandangnya dengan lekat dan teliti, mulai dari wajah blasteran Jepang yang Lasi punya, umur yang masih muda dan postur tubuh ideal sesuai pasar, maka kriteria ini cocok di mata Bu Lanting sebagai "pedagang". Dia sudah bisa membayangkan banyaknya pesanan atau tawaran yang datang untuk bisa memboyong Lasi dan tentu yang membayar dengan harga tertinggi akan mendapatkan Lasi.

Pada kutipan (4.iii)121 masih menampilkan karakter Bu Lanting dan Handarbeni yang dinarasikan lewat ucapan tokoh. Narasi ini mengajak dan menempatkan pembaca sebagai orang yang melihat obrolan Bu Lanting dan Handarbeni, sementara mereka para tokoh ini tidak tahu kalau ada yang menyaksikan mereka yaitu pembaca. Pembaca tahu maksud buruk dari obrolan dua

128

orang ini tapi tidak bisa memberitahukannya pada Lasi. Dengan cara narasi seperti ini maka emosi pembaca mulai dipermainkan, dan pembaca bisa kesal sendiri meskipun yang dilihat ini adalah cerita fiksi.

Kutipan (4.iii) menampilkan detil tentang Handarbeni sikap aslinya yang menilai segala urusan bisa diselesaikan dengan uang seperti pada baris [Untuk nyicip seorang gadis Jepang, mudah. Aku ada uang], kalimat ini secara teknis bernada meremehkan, dan membuat pembaca tidak suka karena uang dianggap sebagai lambang kekuatan. Sementara karakter Bu Lanting digambarkan narator sebagai karakter yang tua namun masih bersemangat dalam mencari untung lewat perdagangan perempuan. Motivasinya selain urusan finansial juga untuk mendapatkan akses ke golongan elit yang nantinya akan memperluas relasinya dan semakin mendatangkan keuntungan finansial.

Fokalisasidi (4.iii) menggambarkan perkataan dari Bu Lanting ini terdengar seperti sedang menguji dan menantang kekuatan Handarbeni, tapi di sisi lain juga terdengar menyindir laki-laki yang menurut Bu Lanting, bagi mereka yang berduit urusan membawa perempuan manapun dan siapa-pun pasti mudah, apa lagi perempuan Jepang asli. Kutipan ini menggunakan bahasa yang politis dan diplomatis sebagai bentuk usaha untuk menunjukkan sisi buruk politik dan sisi jahat tokoh Bu Lanting itu sendiri. Focalizor di (4.iii) seperti ingin mengeksplisitkan sisi jahat orang-orang elit itu sendiri tanpa melibatkan Lasi yang bisa jadi memang di plot sebagai tokoh yang tidak tahu apa-apa dan lugu.

129

Di kutipan (4.iv)122, karakter Bu Lanting dengan eksplisit digambarkan sebagai karakter yang tamak, seperti dengan sengaja memeras Handarbeni dengan halus, dan anehnya Handarbeni sebagai laki-laki hanya menyepakati permintaan Bu Lanting hanya demi bisa mendapatkan Lasi. Maka bisa dilihat bahwa narator menunjukkan kalau laki-laki bisa gila dan jadi bodoh jika sudah menyangkut urusan perempuan lagi cantik. Ambisi untuk mendapatkan perempuan seperti Lasi dihitung sebagai kesempatan langka, suatu persaingan yang ketat terlebih dengan adanya contoh dari Pemimpin Besar. Karakter Handarbeni ini bisa dicirkan selain sebagai mata keranjang dan penjilat kekuasaan, ia juga ambisus untuk bisa memenangkan persaingan. Sementara Bu Lanting sebagai sosok licik yang memasang harga tanpa mufakat, harga yang ia pasang hanya disesuaikan dengan apa yang ia mau.

Fokalisasi di kutipan (4.iv), narator memperlihatkan arah narasinya ke sosok Bu Lanting yang sedang melelang barang dagangan. Cara Bu Lanting melelang barang dagangan ini terbilang tegas karena tidak ada tawar menawar harga dan sikap tegas itu identik dengan sisi maskulin. Artinya ada kemungkinan narator memfokalisasi sisi maskulin tidak hanya dari aktor laki-laki, tapi juga bisa dari aktor perempuan. Selain itu, internal focalizor di bagian ini mengajak pembaca untuk melihat bagaiman orang menilai Lasi. Nilai dari sosok seperti Lasi ini di setarakan dengan mobil mahal dan uang, artinya disamakan nilainya seperti benda langka, memiliki patokan, dan bila selera pasar berubah otomatis nilai itu akan jatuh.

130

Analogi Lasi dengan barang dagangan semakin diperkuat di kutipan (4.v)123, yaitu ketika Bu Lanting semakin mengeksplisitkan Lasi dengan barang dagangan. Internal focalization otomatis semakin mengeksplisitkan juga bagaimana orang menilai dan melihat Lasi, yaitu dia dipuji karena kecantikannya tapi sekaligus direndahkan karena dianggap bisa dikomodifikasi dengan mudahnya, memiliki nilai ekonomi, dan bisa memperkuat simbol maskulinitas seperti gengsi Pak Handarbeni ini. Selain itu, di (4.v) fokalisasi narator mengajak pembaca untuk melihat dunia batin Lasi yang kompleks, yang tidak sulit dinarasikan seperti di baris [Lasi yang tak enak karena merasa jadi dagangan yang terlalu banyak dipuji, bangkit]. Hal ini menyita perhatian saya yaitu kenapa Lasi tiba-tiba timbul kesadaran bahwa dirinya dibicarakan seperti barang dagangan? Karena sebelum memasuki kutipan ini, sebenarnya Lasi mengaku kalau dirinya bodoh dan tidak sekolah. Tapi di sisi lain saya curiga bahwa yang merasa Lasi adalah barang dagangan adalah narator, karena kalau Lasi sendiri yang merasakan hal itu, harusnya sudah sedari awal dia kabur dan kembali ke desa. Lasi ini saya pikir hanya merasa tidak nyaman dan dia tidak bisa menyuarakan perasaan tidak nyaman itu, justru di baris itu narator yang menerjemahkan perasaan tidak nyaman Lasi pada pembaca.

Masalah ketiga dari teks ini yaitu tentang Arogansi Makulinitas yang saya bagi dalam tiga poin (5.iii), (5.iv), dan (5.v). Pada kutipan (5.iii)124 yang dibawakan oleh tokoh Bu Lanting, kita diperlihatkan tentang bagaimana Bu Lanting mendefinisikan sosok Lasi dan perempuan ideal di mata laki-laki pada zaman itu.

123Lihat hal.96 124Lihal hal.98

131

Di sini pembaca diperlihatkan bahwa Bu Lanting menilai Lasi tidak lebih dari fisik yang muda dan cantik, sehingga itu membangitkan niat Bu Lanting untuk mencari keuntungan dari Lasi yang lugu ini. Bu Lanting sendiri di sini diperlihatkan bahwa dia mengafirmasi maskulinitas yang berpikir jika perempuan memiliki potensi atau kapasitas yang sama dengan laki-laki maka akan sulit diatur. Akan lebih baik jika perempuan itu menurut saja seperti pada baris [Bagi lelaki, perempuan yang kurang pendidikan dan miskin tidak jadi soal asal dia cantik. Apalagi bila si cantik itu penurut], kutipan ini disuarakan dengan nada yang memuji tapi sebenarnya merendahkan. Bu Lanting membangun frame atau konsep perempuan dalam diri Lasi yang masih lugu agar mudah diatur. Di kutipan (5.iv)125 mulai muncul karakter baru bernama Bambung. Karakter ini digambarkan sebagai pelobi ulung di tingkat elit dan pemerintahan, dia juga dikenal sebagai sosok broker politik dan kekuasaan. Di kutipan ini, fokalisasi tentang Bambung digambarkan sangat dikuasai hasrat untuk bisa menahklukan Lasi tanpa perlu kerja keras, hanya butuh kalung mahal. Ia beranggapan begitu karena ia percaya bahwa kalung mahal bisa menarik atau mendatangkan perempuan manapun dengan sendirinya, bahkan pemberian kalung ia rasa bisa sebagai pengikat anatra dia dan Lasi. Narator juga memperlihatkan bagaimana Bambung melihat Lasi dan dan keinginanya memperlakukan Lasi dengan gentle sebagaimana Bambung meyakini dirinya adalah gentleman sejati. Di bagian ini cukup jelas narator menampilkan bagaimana Bambung memaknai dirinya, dan bagaimana dia memaknai Lasi yang ia samakan dengan perempuan lain yang pernah ia kencani,

132

mudah di buat terpikat hanya dengan barang mahal, Bambung tidak tahu kalau Lasi ini berbeda dari yang lain.

Di kutipan (5.v)126 bagian ini masih membawa perkenalan singkat tentang siapa Bambung, bagaimana latar belakang dan sejarahnya terutama soal menangani perempuan. Kutipan (5.v) seperti menampilkan perbandingan antara Bambung yang dulu dan yang sekarang, sekaligus menyampaikan perspektif bagaimana Bambung memaknai dirinya sendiri dan mengusung image tentang dirinya. Di kutipan ini focalizernya adalah Bambung karena bagian ini memperlihatkan bagian dari sisi kepala Bambung saat mengamati Lasi, dan apa yang ia lamunkan ketika memikirkan Lasi. Strategi naratif yang dilakukan pada kutipan ini yaitu pembaca langsung dibuat mudah sajah menghakimi Bambung sebagai sex predator tua, yang tidak ingin kalah, ingin selalu tampak perkasa, tidak punya perasaan, dan kesan negatif lainnya. Hal yang menyita perhatian saya, yaitu ketika menceritakan kejahatan Bambung ini bahasanya tidak blak-blakan dengan mengatakan dia sudah beberapa kali memperkosa perempuan, alih-alih aksinya ini malah diceritakan dengan bahasa yang puitis, tetapi tetap bisa pembaca rasakan tentang apa yang Bambung rasakan atas aksinya itu.

Di kutipan ini diceritakan Bambung merasa apa yang ia lakukan itu tetap tidak membawa kepuasan karena dia selalu merasa ada yang kurang, dia merasa seperti playboy tanpa skill, dan playboy tanpa skill itu pantasnya menjadi sebutan untuk laki-laki yang kurang pendidikan, tidak punya kekuatan finansial seperti kuli, atau preman jalanan, dan Bambung tidak mau masuk golongan orang-orang itu.

133

Bambung ingin menjadi orang yang berpengaruh tidak hanya dalam politik tapi juga soal relationship.

Alasan yang paling mungkin yaitu ia ingin menjadi pusat yang justru menarik si betina dengan materi, ia ingin menjadi pihak yang dikejar-kejar betina dan dengan begitu ia baru merasa hebat. Dari narasi seperti ini, maka narator membangun frame pembaca dan sisi psikologis pembaca untuk langsung tidak menyukai atau malah jijik dengan sosok Bambung yang berusaha bersikap gentleman untuk menutupi niat buruknya itu. Hal terakhir tentang Bambung yaitu dari awal kemunculannya hingga akhir tidak ada bagian yang menceritakan kompleksitas dirinya, kenapa dia menjadi seperti ini, dan hal apa saja yang mempengaruhinya menjadi sosok seperti ini.

Masalah ke-empat di Bekisar Merah yaitu tentang cara memandang sosok

perempuan yang saya bagi menjadi dua poin (6.vi) dan (6.vii). Di kutipan (6.vi)127

menampilkan karakter lain yaitu Sapon salah satu warga Karangsoga yang bekerja sebagai sopir truk gula antar kota yang diam-diam juga menyukai Lasi. Fokalisasi di kutipan ini mencoba memperlihatkan dengan jelas bagaimana orang melihat dan memperhatikan Lasi dengan ciri-ciri fisiknya yang berbeda. Dari sini maka focalizor memperlihatkan bahwa orang-orang lebih meyakini Lasi sebagai orang Jepang ketimbang orang Karangsoga meskipun ia telah lahir dan besar di desa itu di mana kondisi ini mempengaruhi bagaimana mana pemaknaan identitas tokoh Lasi itu dibentuk. Lalu di kutipan (6.vi), focalizor mengisahkan momen ketika orang menatap Lasi itu ada kesenangan tersendiri sebagai suatu sifat yang natural

134

dengan nada yang seperti penuh kegaguman, terutama soal “kulit putih” yang hingga kini selalu ditempatkan sebagai sesuatu yang istimewa. Narator ini seperti mengajak pembaca untuk ikut mengagumi kecantikan Lasi seperti apa Sapon tangkap lewat matanya.

Sementara pada kutipan (6.vii)128, digambarkan bagaimana tokoh Bambung ketika sedang menatap Lasi. Ketika Bambung menatap Lasi, di sini focalizor menarasikan tatapan Bambung dengan memberi kesan bahwa Bambung sedang bergairah atau bisa dibilang mesum ketika melihat tengkuk Lasi, yang menurut Bambung mirip tengkuk gadis Jepang asli. Dari gerak-gerik Bambung pembaca sudah bisa menebak bagaimana kira-kira imajinasi Bambung tentang Lasi dengan jelas kalau Bambung digambarkan semakin penasaran dengan Lasi. Di kutipan ini yang menggambarkan bagaimana sudut pandang Bambung saat menatap Lasi maka secara tidak langsung narator, atau internal focalizor juga menyampaikan sebuah perkspektif tentang konstruksi yang membuat seperti Lasi menjadi komoditas seksual di masa itu.

Masalah ke-lima yaitu tentang gambaran kecantikan perempuan yang terdiri dari empat poin (8.i), (8.ii), (8.iii) dan (8.iv). Pada kutipan di poin (8.i)129 menampilkan tokoh Darsa sebagai suami Lasi dan ia bekerja sebagai penyadap nira. Pada kutipan ini pembaca disuguhkan cara pandang dan penilaian Darsa tentang Lasi yang begitu detil seperti ciri-ciri fisik Lasi itu seperti apa, dan seberapa menariknya Lasi di mata orang. Focalizor memfokuskan pada sudut pandang Darsa

128Lihat hal.106 129Lihat hal.111

135

dalam menilai dan memaknai Lasi sebagai Liyan. Narator menarasikan dunia bantin Darsa ini dengan kesan kegaguman dan rasa syukur, tetapi ada angle atau sudut deskripsi fisik Lasi yang tidak melibatkan perasaan emosional atau intimasi. Sudut deskripsi ciri fisik Lasi ini seperti memisahkan entitas Lasi dengan tubuhnya yang blasteran Jepang, sehingga mungkin ada unsur objektivikasi pada Lasi. Di bagian ini, pembaca sudah dikenalkan tentang sosok Lasi lewat perspketif Darsa secara eksplisit, sehingga kesan penilaian memang sudah dibangun sejak awal oleh narator, bahwa sosok Lasi mudah disukai, dikagumi karena parasnya yang blasteran Jepang yang artinya sejak awal narator menarasikan bahwa kecantikan itu tidak hanya penanda untuk mengevaluasi sosok perempuan tetapi juga sebagai penanda identitasnya.

Sementara di kutipan (8.ii)130, sosok Darsa oleh focalizor digambarakan dengan pesan implisit bahwa laki-laki akan jumawa ketika bisa mendapatkan apa yang orang idam-idamkan terlebih jika kasusnya mendapatkan perempuan cantik seperti Lasi. Kesan jumawa Darsa ini identik dengan sifat-sifat maskulinitas yang gemar bersaing dan selalu ingin menang. Di sini narator masih menggambarkan