• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

C. Metode Penelitian

6. Analisis Prosedur Penjualan

Pada perusahaan PT. Deltasiuplindo Internusa yang menjual berbagai alat berat kontraktor mempunyai prosedur :

1. Mencari rekanan untuk proyek

Pada tahap ini perusahaan mencari partner dari beberapa sumber untuk melakukan penawaran terhadap barang – barang yang akan dijual. Proses penjualan barang barang ini dilakukan oleh pihak perusahaan dengan berbagai cara, yaitu melalui:

- Media online

Cara ini dilakukan pihak perusahaan dengan cara memperkenalkan dan menawarkan barang – barang dagangan melalui website perusahaan.

- Face to face

Cara ini dilakukan pihak perusahaan dengan cara mendatangi calon customer, dan menawarkan barang – barang yang akan dijual.

Setelah melakukan hal tersebut dan berhasil mendapatkan customer, maka pihak perusahaan akan membuatkan list customer yang nantinya diharapkan dapat terus menjalin kerja sama sebagai partner kerja.

2. Melakukan pencarian tender pengadaan barang yang diadakan secara online maupun lelang barang.

Pada tahap ini perusahaan melakukan pencarian tender, hal ini dimaksudkan agar perusahaan mengetahui minat pasar, barang apa saja yang dibutuhkan oleh para calon customer/partner.

3. Mencari principle/produsen pengaadaan barang

Dalam tahap ini setelah melakukan tender dan partner menyutujui untuk melakukan pembelian kepada perusahaan maka perusahaan mencari produsen pengadaan barang yang dibutuhkan dalam melaksanakan tender tersebut, pencarian ini dimaksudkan untuk melakukan pembelian barang dengan jumlah harga yang sesuai dengan perincian harga yang sesuai dengan harga yang ditawarkan kepada customer/partner.

4. Melakukan tender

Pada tahap ini perusahaan melakukan penawaran harga barang atau dalam penawaran kepada partner yang sudah direncanakan dengan cara online maupun secara lelang langsung.

Perusahaan akan menawarkan harga barang yang akan dibutuhkan oleh partner sehingga partner mendapat gambaran atas jumlah biaya yang akan dikeluarkan pada pembelian barang kepada perusahaan ini.

5. Proses penjualan

Prosedur penjualan ini dimulai pada saat partner menyetujui pengajuan penawaran atas tender tersebut. Apabila barang yang dipesan ada dan telah mendapat persetujuan kredit, maka bagian penjualan berdasarkan pemesanan dari partner atau pembeli akan mengisi suara order penjualan atau sales order (SO) rangkap sembilan. Aliran dokumen Sales Order tersebut akan didistribusikan oleh bagian penjualan kepada bagian gudang.

Dokumen Sales order tersebut akan disesuaikan dengan persediaan barang yang ada menurut data dari bagian Elektronik Data Processing (EDP). Dimana tugas perusahaan terhadap prosedur penjualan ini adalah :

a. Menginput data yang dilakukan oleh data entry

b. Mencetak data, lalu dibandingkan data barang yang ada digudang

c. Diproses harian d. Data dibackup

e. Menyajikan data yang sudah dibandingkan dengan persediaan barang yang ada digudang.

Setelah itu bagian EDP mengarsip sales order lembar satu, setelah bagian EDP mengembalikan sales order tersebut kepada bagian penjualan dan kemudian bagian penjualan mencatatnya kedalam buku

daftar sales order per partner yang kemudian bagian penjualan mendistribusikan sebagai berikut :

Lembar 2 dan 3 : pembelian atau partner Lembar 4 : arsip bagian penjualan

Setelah menyesuaikan sales order tersebut, kemudian bagian EDP berdasarkan data dari sales order itu embuat Delivery Order (DO) ragkap Sembilan dan faktur penjualan ( FPJ ) rangkap tujuh oleh bagian EDP diarsipkan, sementara delivery order sisanya diberikan kepada bagian keuangan untuk ditandatangani oleh sistem manajer keuangan, kemudian dikembalikan kepada bagian EDP untuk diberikan kepada bagian gudang.

Setelah delivery order rangkap Sembilan sampai kebagian gudang dan telah ditanda tangani oleh bagian gudang dan diarsipkan, maka berdasarkan delivery order tersebut bagian gudang menyiapkan barang – barang yang akan dikirim. Delivery order rangkap delapan oleh bagian gudang diberikan kepada bagian ekspedisi untuk dimuatkan Packing List (PL).

Bagian ekspedisi berdasarkan deliveri order dari bagian gudang memuat packing list rangkap tiga dan mengarsip lembar pertama, kemudian delivery order rangkap delapan oleh bagian ekspedisi didistribusikan sebagai berikut :

Lembar 1 sampai 4 : bagian EDP

Lembar 5 : bagian penjualan

Lembar 6 dan 7 : pembelian dan distributor Lembar 8 : perusahaan jasa pengangkut

Berdasarkan delivery order dan packing list, bagian ekspedisi akan melakukan pencocokan barang yang diterima dari bagian gudang dan kemudian oleh bagian ekspedisi diberikan nomor dan packing beserta delivery order lembar enam dan tujuh serta packing list lembar kedua ditujukan untuk pembeli dan distributor. Barang yang telah dipacking oleh bagian ekspedisi ditimbangkan dan kemudian diberikan kepada perusahaan jasa pengangkut.

Setelah barang dikirim maka bagian penagihan akan membuat faktur penjualan dan surat tagihan kepada pelanggan, selanjutnya pelanggan harus membayar kewajibannya menurut sistem pembayaran yang telah ditentukan oleh perusahaan ini terbagi menjadi tiga bagian : i. Pembayaran dengan uang muka

Yaitu sales order pembayaran di muka dan 50% dilunasi setelah pesanan diterima

ii. Pembayaran tanpa uang muka

Yaitu pembayaran bagian partner tetap atau yang dapat dipercaya, misalnya konsumen pemerintah atau instalasi lain, dimana dalam hal ini PT. Deltasuplindi Internusa terkait pada prosedur dan aturan yang telah diatur sebelumnya, misalnya

terkait pada syarat penjualan kredit, yaitu syarat penjualan kredit selama 30 hari dan 45 hari.

iii. Pembayaran perusahaan didepan

Yaitu pembayaran yang berdasarkan pemesanan yang relative kecil dan konsumen yang belum dikenal.

Adapun dokumen – dokumen yang digunakan untuk melaksanakan penjualan pada PT. Deltasuplindo Internusa terdiri dari :

a. Sales order ( pesanan penjualan)

Dokumen ini dibuat dalam beberapa rangkap, yang berfungsi sebagai lembar otorisasi penjualan informasi pada dokumen ini pada umumnya terdiri dari identitas pembeli, nomor dan tanggal pesanan penjualan. Jenis produk yang dipesan, kualitas, harga satuan dan jumlah harga keseluruhan

b. Delivery order (perintah pengiriman barang)

Dokumen ini dibuat untuk memproses penjualan kredit kepada pelanggan dan untuk mengirimkan jenis barang dengan jumalh dan spesifikasi seperti yang tertera pada dokumen tersebut.

c. Purchase order (pesanan pembelian)

Dokumen ini memuat tentang pesanan pembeli atau distributor biasanya pembeli atau distributor melakukan pemesanan melalui telepon, fax, atau pun melalui salesman.

d. Faktur penjualan

Faktur penjualan merupakan dokumen yang dipakai sebagai dasar untuk mencatat timbulnya piutang.

BAB IV

ANALISI DAN PEMBAHASAN

E. Audit Operasional atas Penjualan

1. Audit Operasional untuk Pengukuran Ekonomis, Efisiensi dan Efektifitas Penjualan

Amin Widjaja Tunggal (2001:1) menyebutkan bahwa audit operasional merupakan penelaahan atas bagian manapun dari prosedur dam metode operasi suatu organisasi untuk menilai efisiensi dan efektivitasnya.

Umumnya pada saat selesainya audit operasional, auditor akan memberikan sejumlah saran kepada manajemen untuk memperbaiki jalannya operasi perusahaan.

Audit operasional merupakan alat pengawasan dan suatu bentu audit yang paling luas, dan mempunyai cakupan audit atas semua fungsi operasi perusahaan. Audit operasional yang dilakukan atas suatu objek mempunyai manfaat – manfaat. Menurut Amin Widjaja Tunggal (2001:24) manfaat yang diperoleh perusahaan dari adanya audit operasional adalah sebagai berikut : (1) Kemampulabaan yang meningkat, (2) Alokasi sumber daya yang lebih efisien, (3) Identifikasi masalah pada tahap awal, (4) Komunikasi yang lebih baik.

Dalam audit operasional, tinjauan yang dilakukan tidak terbatas pada masalah – masalah akuntansi, tetapi juga meliputi evaluasi terhadap struktur organisasi, metode produksi, pemasaran, dan bidang – bidang lain

sesuai dengan keahlian auditor. Pelaksanaan audit operasional dan hasil yang dilaporkan lebih sulit untuk didefinisikan dari pada jenis audit lainnya, karena efisiensi dan efektivitas operasi suatu organisasi jauh lebih sulit pengevaluasiannya dibandingkan penerapan dan penyajian laporan keuangan.

Efektivitas dan efisiensi operasi merupakan hal pokok yang penting di dalam suatu perusahaan, karena dari kegiatan itu sasarannya adalah penghematan (waktu, tenaga, dan biaya) dan pencapaian tujuan perusahaan. Efektivitas dan efisiensi memang berhubungan satu dengan yang lain. Oleh karena itu, diperlukan suatu upaya untuk mengendalikan tingkat efektifitas dan efisiensi dalam pelaksanannya.

Untuk mengetahui hal tersebut, diperlukan adanya suatu audit operasional atas fungsi penjualan guna mengetahui tercapainy atau tidaknya efektivitas dan efisiensi yang telah ditetapkan perusahaan sebelumnya.

Menurut Sukrisno Agoes (2002:182), pengertian efektifitas, efisiensi, dan ekonomis dalam manajemen audit dapat diuraikan sebagai berikut :

a. Jika Goal, objective, program dapat tercapai dalam batas waktu yang ditargetkan, tanpa memperdulikan biaya yang dikeluarkan, maka hal tersebut disebut efektif.

b. Jika dengan biaya (input) yang sama bisa dicapai hasil (output) yang lebih besar, maka hal ini disebut efisien.

c. Jika suatu hasil (output) bisa diperoleh dengan biaya (input) yang lebih kecil atau murah, dengan mutu output yang sama, maka hal tersebut ekonomis.

Dari definisi di atas dapat di tarik kesimpulan bahwa :

a. Efisien adalah suatu proses kegiatan yang menggunakan biaya dengan secermat mungkin.

b. Efektif adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan tepat sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.

c. Ekonomis adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan penggunaan biaya sehemat mungkin serta mencapai hasil dari kegiatan tersebut.

F. Pengendalian Intern Atas Penjualan

Pelaksanaan audit operasional tidak lepas dari pengetahuan akan sistem pengendalian intern. Penilaian terhadap pengendalian intern dilakukan untuk mengetahui apakah suatu sistem yang dilaksanakan pada suatu perusahaan telah berjalan dengan cukup baik ataukah memerlukan perbaikan.

Setelah mengetahui tingkat sistem pengendalian intern suatu perusahaan, ruang lingkup audit yang dilakukan dapat dipersempit.

Pengendalian intern dianggap cukup memadai jika didalamnya terdapat pengendalian yang dapat meminimalisir dan menekan tingkat kesalahan yang terjadi baik yang dilakukan dengan sengaja maupun tanpa di sengaja. Berikut

adalah tujuan mempelajari dan menilai pengendalian intern perusahaan, yaitu :

1. Menentukan luasnya audit yang dilakukan dalam perusahaan

2. Memberi rekomendasi perbaikan pengendalian intern kepada manajemen perusahaan.

Langkah – langkah yang akan ditempuh dalam mengevaluasi sistem pengendalian intern penjualan adalah :

a) Menyusun suatu daftar pertanyaan pengendalian intern (internal control questionaire) untuk menilai kecukupan dari pengendalian intern perusahaan. Dalam hal ini seringkali dilakukan wawancara ataupun tanya jawab dengan beberapa karyawan perusahaan untuk menanyakan hal – hal mengenai perusahaan, contohnya dengan menanyakan struktur organisasi, sistem pencatatan dan kebijakan akuntansi yang dianut selama periode berjalan.

b) Mengevaluasi hasil jawaban internal control questionnaire. Hal ini dilakukan sehingga dapat ditarik kesimpulan mengenai kelebihan dan kelemahan yang dimiliki oleh sistem pengendalian intern perusahaan.

Semakin baik pengendalian, makin sempit pemeriksaan yang dilakukannya dan sebaliknya semakin lemah pengendalian intern, maka semakin luas pemeriksaannya.

Pemeriksaan menggunakan daftar pertanyaan yang diajukan untuk pengendalian intern atas penjualan. Bentuk daftar pertanyaan biasanya memiliki kolom jawaban Y (ya), T (tidak), dan keterangan. Yang diisi

dengan cara mengadakan wawancara dengan orang – orang yang berwenang. Bila “ya” akan menunjukan prosedur pengendalian yang baik sedangkan bila jawabannya “tidak” maka prosedur pengendaliannya lemah. Orang yang diwawancarai harus memiliki kemampuan untuk menjawab pertanyaan dengan tepat dan benar sehingga dapat membantu pemeriksaan dilakukan dengan seefektif mungkin.

Berdasarkan jawaban atas pertanyaan pengendalian intern (ICQ) atas penjualan, ditemukan beberapa hal yang berkaitan dengan kekuatan dan kelemahan perusahaan.

1. Kekuatan

a) Berdasarkan quisioner (lampiran) dapat diketahui bahwa prosedur penjualan di PT. Deltasuplindo Internusa telah sesuai denga prinsip – prinsip umum penjualan dan prinsip audit.

b) Struktur organisasi menunjukan adanya pemisahan tugas sesuai dengan ukuran organisasi dan mempunyai tujuan yang jelas.

c) Organisasi mempunyai strategi untuk mengantisipasi aksi dan reaksi para pesaingnya.

d) Organisasi mempunyai proses anggaran yang efektif sehingga dapat melakukan pengawasan yang ketat

e) Organisasi mempunyai tujuan, susunan dan kebijakan yang saling menguntungkan secara konsisten, bersifat saling mendukung dan saling berkomunikasi dengan baik.

f) Perusahaan mempunyai sistem prosedur dan kebijakan secara tertulis sehingga tugas dan tanggung jawab dapat di berikan kepada karyawan yang kompeten

g) Organisasi telah melakukan pembinaan dan diklat bagi karyawan secara periodik.

h) Organisasi telah menyusun prosedur yang baik sehingga dapat menjamin kelancaran kegiatan.

2. Kelemahan

a) Belum dijadwalkan rapat tingkat manajemen secara rutin, dapat dijalankan secara acidential menurut situasi dan kondisi tertentu dirasa perlu oleh pihak manajemen

b) Penyediaan laporan yang dibutuhkan oleh pamakai laporang kadang tidak tepat waktu sehingga dapat menghambat pengecakan atas laporan.

G. Rencana Kerja Auditor

1. Menyusun suatu daftar pertanyaan pengendalian intern (Internal Control Questionare) untuk menilai kecukupan dari pengendalian intern perusahaan.

2. Mengevaluasi hasil jawaban atas internal Control questionare sehingga mendapat suatu kesimpulan mengenai kelebihan dan kelemahan dari sistem pengendalian internal perusahaan.

Hasil evaluasi menunjukan bahwa adanya pelaksanaan kegiatan penjualan cukup taat terhadap pengendalian intern dalam prosedur dan kebijakan penjualan, sehingga untuk pengujian lebih lanjut tidak memerlukan sampel yang benar, kemungkinan terjadi Fraud dan kolusi kecil karena pengendalian intern yang baik. Dengan prosedur yang jelas dan mudah dipahami maka dalam melakukan fungsi pengawasan akan lebih mudah. Organisasi telah memberikan tugas dan tanggung jawab kepada karyawan yang kompeten sehingga dapat mengurangi penyalahgunaan wewenang dan melakukan kaji ulang secara periodic terhadap prosedur yang berlaku.

H. Pengujian Audit Operasional atas Penjualan

Setelah mempelajari jawaban dari internal Control questionare, maka pemeriksaan melakukan Contol Test (pengujian pengendalian) terhadap penjualan untuk memastikan bahwa prosedur audit operasional atas penjualan akan benar – benar dilaksanakan seperti yang tercantum dalam ICQ.

Pengujian dilakukan dengan mengambil beberapa sampel dari dokumen – dokumen yang menunjang penjualan yang terjadi. Dari hasil penelitian yang dilakukan atas penjualan maka pemeriksa membuat suatu program audit.

Program audit merupakan suatu daftar dari langkah – langkah atau prosedur audit yang akan dilakukan, yaitu :

1. Meneliti (mereview) kembali kertas kerja audit atas penguji pengendalian dan pengujian dan penguji subtantive terhadap penjualan.

2. Mewawancarai pihak yang terkait dengan penjualan

3. Tindak lanjut laporan hasil audit

Sebelum menyusun suatu program audit, pemeriksa harus mengetahui terlebih dahulu tujuan audit yang hendak dicapai. Penetapan tujuan adalah sangat membantu dalam pemilihan prosedur audit agar dalam pelaksanaan auditnya lebih terarah.

Tujuan dari program audit terhadap penjualan adalah sebagai berikut :

1. Memastikan bahwa prosedur penjualan sesuai dengan Standart Operational Prosedure yang telah ditetapkan.

2. Meyakini bahwa hasil penjualan yang tercatat merupakan milik perusahaan bukan penjualan fiktif.

3. Meyakini semua transaksi penjualan telah dicatat sesuai dengan seharusnya.

4. Meyakini pencatatan penjualan dengan jumlah barang yang dijual.

5. Meyakini bahwa transaksi penjualan sesuai dengan jumlah barang yang dijual.

6. Meyakini bahwa penjualan sesuai dengan tanggal penjualan.

7. Untuk mengetahui atau mengevaluasi apakah terjadi penyimpangan antara realisasi dengan anggaran penjualan dan memberikan rekomendasi dan tindak lanjut.

I. Audit Lanjutan Atas Penjualan

Berdasarkan pengujian audit operasional terhadap penjualan dan seperti yang diuraikan sebelumnya, audit operasional atas penjualan berjalan dengan baik

tetapi masih ditemukan beberapa kelemahan. Berikut ini adalah daftar temuan dan langkah kerjaq yang dibuat berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan atas kegiatan penjualan PT. Deltasuplindo Internusa :

1. Penyimpangan atau penyediaan laporan penjualan yang tidak tepat waktu sehingga mengganggu proses pelaporan dan pemeriksaan penjualan.

Langkah kerja :

Memberikan saran perbaikan :

a. Memberi batas waktu penyusunan laporan penjualan, apabila batas waktu dilanggar dapat dikenakan sanksi.

b. Meningkatkan fungsi pengawasan kepada para supervisor penjualan agar penyediaan laporan penjualan tepat waktu.

c. Memberikan insentif kepada para penjual yang melampaui target penjualanan dan ketepatan waktu penyedia laporan penjualan.

2. Pada tingkat manajemen belum melakukan penjadwalan rapat secara rutin yang membahas mengenai pencapaian penjualan dan faktor – faktor lain yang mempengaruhi penjualan. Rapat hanya dilaksanakan incidential apabila ada hal – hal yang mendesak perlu dibicarakan.

Langkah kerja :

Memberi saran perbaikan :

a. Membuat jadwal rapat secara rutin yang membahas mengenai pencapaian target penjualan.

b. Menyampaikan progress review penjualan dalam sebulan untuk membahas pada rapat yang telah dijadwalkan untuk menentukan target penjualan pada bulan berikutnya.

3. Adanya penyimpangan standart operasional prosedure dimana petugas penjual memberikan discount lebih sedikit dari yang ditentukan oleh manajemen

Langkah kerja :

Memberikan saran perbaikan :

a. Meningkatkan fungsi control para supervisior penjualan terhadap anak buahnya

b. Melakukan sosialosasi kepada para penjual lapangan mengenai segala kebijakan maupun peraturan yang dikeluarkan yang berhubungan dengan kebijakan penjualan.

Laporan audit dan rekomendasi

Kepada Yth

Direktur PT. Deltasuplindo Internusa Di Jakarta

Prihal : peranan audit operasional dalam meningkatkan efektifitas penjualan

Dengan hormat,

Kami telah melakukan audit operasional atas penjualan periode 2011. Audit operasional yang kami lakukan bertujuan untuk menilai kinerja fungsi penjualan perusahaan dalam kaitannya dengan kegiatan penjualan tunai. Kinerja fungsi penjualan yang kami nilai

adalah efektifitasnya dan kepatuhan atas pelaksanaan prosedru – prosedur penjualan. Adapun temuan – temuan hasil audit operasional atas penjualan yang dilaksanakan perusahaan adalah sebagai berikut :

1. Penyimpangan atau penyediaan laporan penjualan yang tidak tepat waktu sehingga mengganggu proses pelaporan dan pemeriksaan penjualan.

2. Pada tingkat manajemen belum melakukan penjadwalan rapat rutin yang membahas mengenai pencapaian penjualan dan faktor – faktor lain yang mempengaruhi penjualan. Rapat hanya dilaksanakan incidential apabila ada hal – hal yang mendesak perlu dibicarakan.

3. Penyimpangan atau penyediaan laporan penjualan yang tidak tepat waktu sehingga mengganggu proses pelaporan dan pemeriksaan penjualan

4. Pada tingkat manajemen belum melakukan penjadwalan rapat rutin yang membahas mengenai pencapaian penjualan dan faktor – faktor lain yang mempengaruhi penjualan. Rapat hanya dilaksanakan incidential apabila ada hal – hal yang mendesak perlu dibicarakan.

adanya penyimpangan standart operasional prosedure dimana petugas penjual memberikan discount lebih sedikit dari yang ditentukan oleh manajemen Setelah diketahui dari ringkasan temuan di atas dapat kami sampaikan beberapa rekomendasi yang terkait dengan hasil temuan, yaitu :

Dari hasil audit operasional yang didapat dari perusahaan maka ditemukan adanya kondisi, kriteria, sebab, akibat, dan rekomendasi antara lain sebagai berikut :

1. Kondisi : Pada tingkat manajemen belum melakukan penjadwalan rapat secara rutin yang membahas mengenai pencapaian penjualan dan faktor – faktor lain yang mempengaruhi

penjualan. Rapat hanya dilaksanakan incidential apabila ada

hal – hal yang mendesak perlu dibicarakan.

1. Membuat surat usulan kepada board of director (BOD) untuk mengadakan temuan (meeting) secara rutin dan terjadwal yang membahas berbagai perkembangan perusahaan, terutama mengenai penjualan, dimana dalam rapat tersebut diikuti oleh pimpinan semua departemen

2. Departemen penjulan berkoordinasi dengan departemen audit dan marketing menyusun standart operational procedur (SOP) yang mengatur tentang pemberian diskon minimal maupun maksimal yang diperbolehkan diberikan kepada pembeli.

Jakarta, 16 Oktober 2012

(Jefry Jonathan )

2. Kriteria : a. Koordinasi dilakukan secara periodik top manajemen b. Rapat secara rutin dilakukan hanya oleh pempinan

departemen yang terkait langsung dengan penjualan, yaitu departemen penjualan dan departemen pemasaran

3. Sebab : Belum ditetapkannya jadwal rapat tingkat manajemen secara

rutin oleh BOD (Board Of Director)

4. Akibat : Koordinasi antar departemen kurang optimal, misalnya departemen penjualan dan departemen pemasaran dengan departemen produksi dalam penentuan target penjualan yang

berpengaruh juga dalam penentuan target produksi.

5. Rekomendasi : Dari BOD menetapkan jadwal rapat manajemen (management review meeting) secara rutin, misalnya

seminggu atau sebulan sekali.

1. Kondisi : Adanya penyimpangan standar operational prosedur dimana

petugas penjual memberikan discount lebih sedikit dari yang

ditentukan oleh manajemen

2. Kriteria : Pemberian discount dengan tujuan meningkatkan volume penjualan untuk produk slow moving atau produk yang

kurang laku dipasaran

3. Sebab : Belum ada standar yang berlaku untuk toleransi pemeriksaan

discount langsung kepada konsumen, apakah sesuai dengan

yang ditentukan manajemen atau BA diperbolehkan mengurangi discount yang ditentukan margin yang timbul menjadi hak BA.

4. Akibat : a. Untuk produk yang sama ( yang didiscount ) harga jual

dilain tempat dapat berbeda – berbeda

b. Dapat mempengaruhi volume penjualan karena perbedaan

pemberian discount.

5. Rekomendasi : Perlu ditetapkan standar atau aturan yang mengatur

pemberian discount ke BA dan pemberian discount kepembeli sehingga terdapat keseragaman harga jual

untuk produk yang sama.

Efektivitas, Realisasi dan Anggaran Penjualan Alat Berat Kontraktor Efektivitas penjualan alat berat kontraktor dapat dilihat dari tingkat penjualan alat berat kontraktor yang berhasil dilakukan oleh pihak perusahaan.

Berdasar hasil penjualan alat berat kontraktor dalam periode masa kerja tahun 2012, pencapaian PT Deltasuplindo Internusa telah cukup memuaskan, hal ini terlihat dari pencapaian penjualan pada setiap bulannya. Berikut akan disajikan tabel penjualan yang telah diolah dari data yang diberikan oleh pihak PT DeltaSuplindo Internusa.

Persentase atas pencapaian anggaran penjualan alat berat kontraktor diperoleh dengan cara :

Selisih Realisasi Penjualan dan Anggaran

100%

Anggaran Penjualan

Dengan adanya anggaran penjualan alat berat kontraktor, manajemen akan terbantu dalam usaha mengendalikan operasi penjualan, dengan tujuan dapat tercapainya anggaran penjualan tersebut.

BAB V

KESIMPULAN DAN IMPLIKASI

A. Kesimpulan

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Audit Operasional dalam Meningkatkan efektifitas Penjualan pada PT. Deltasuplindo Internusa.

Pemeriksaan Operasional (operational audit) dilakukan pemeriksaan terhadap kegiatan operasional, termasuk kebijakan akuntansi dan kebijakan operasional yang telah ditentukan oleh manajemen, untuk mengetahui apakah kegiatan operasional tersebut sudah dilaksanakan secara efektif, efisien, dan ekonomis.

Berdasarkan audit operasional pada PT. Deltasuplindo Internusa, yang telah dilaksanakan dengan memperhatikan pokok masalah yang ada, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

a. Peranan Audit Atas Kebijakan Penjualan

Ada beberapa peranan atas kebijakan yang diterapkan oleh PT.

Deltasuplindo Internusa yaitu :

a. Peranan audit sudah dapat meningkatkan efektifitas karena Perusahaan melakukan perencanaan mencari rekanan untuk proyek, dalam hal ini melakukan penawaran terhadap barang-barang yang akan di jual. Melalui media online dan face to face.

b. Perusahaan melakukan penawaran harga barang kepada partner yang sudah di rencanakan dengan secara online maupun lelang langsung.

c. Penjualan pada PT Deltasuplindo Internusa dilakukan dengan

c. Penjualan pada PT Deltasuplindo Internusa dilakukan dengan

Dokumen terkait