BAB II. LANDASAN TEORI
B. Audit Operasional
4. Tahap – Tahap Audit Operasional
Dalam melaksanakan audit operasional seringkali auditor memerlukan suatu kerangka tugas dan tahapan tugas yang berguna sebagai pedoman didalam melaksanakan pemeriksaan. Tanpa adanya kerangka yang disusun dengan baik, auditor akan banyak mengalami kesulitan dalam melaksanakan pekerjaannya, mengingat bahwa struktur perusahaan kegiatannya sekarang ini suda semakin maju dan rumit.
Setiap tahap dalam audit operasional menurut Boynton, Dkk (2003:499) akan dijelaskan sebagai berikut :
1. Memilih Objek
Pemilihan auditee biasanya dimulai dengan survei pendahuluan terhadap calon – calon auditee dalam entitas untuk mengidentifikasi aktivitas yang mempunyai potensi audit tertinggi dilihat dari segi perbaikan efektivitas, efisiensi, dan kehematan operasi. Pada intinyasurvei pendahuluan merupakan proses penyaringan yang akan menghasilkan peringkat dari calon auditee. Titik awal dari survei pendahuluan adalah memperoleh pemahaman yang komprehensif mengenai struktur organisasional entitas serta karakteristik operasi.
Titik awal dari survei pendahuluan ini adalah memperoleh pemahaman yang komprehensif mengenai struktur organisasional entitas serta karakteristik operasinya. Selain itu, auditor juga harus
memahami industri tempat entitas beroperasi serta sifat dan luas peraturan pemerintah yang berlaku. Selanjutnya perhatian difokuskan pada aktifitas, unit, atau fungsi yang akan diaudit.
Pemahaman tentang calon auditee diperoleh dengan : a. Mereview data arsip latar belakang setiap auditee
b. Meninjau fasilitas auditee untuk memastikan bagaimana audit mencapai tujuannya.
c. Mempelajari dokumentasi yang relevan tentang operasi audit seperti buku petunjuk kebijakan dan prosedur, bagan arus, standar kinerja dan pengendalian mutu, serta deskripsi tugas.
d. Menerapkan prosedur analitis untuk mengidentifikasi trend atau hubungan yang tak biasa.
e. Melakukan pemeriksaan (pengujian) audit mini untuk menegaskan atau menjernihkan pemahaman auditor tentang masalah yang potensial
2. Merencanakan Audit
Perencanaan audit yang cermat sangat penting baik bagi efektivitas maupun efisiensi audit operasional. Perencanaan terutama penting dalam jenis audit ini karena sangat beragamnya audit operasional. Landasan utama dari perencanaan audit adalah pengembangan program audit, yang harus dibuat sesuai dengan keadaan auditee yang ditemui pada tahap survei pendahuluan itu.
Seperti dalam audit laporan keuangan, program audit berisi seperangkat prosedur yang dirancang untuk memperoleh bukti yang berkaitan dengan satu atau lebih tujuan. Bukti yang diperiksa biasanya didasarkan pada sampel data. Jadi, dalam perencanaan audit harus dipertimbangkan penggunaan teknik – teknik sampling statistik.
Disamping itu, auditor juga harus mengetahui apakah teknik – teknik berbantuan komputer (computer-assisted techniques) akan efisieb dari segi biaya.
Perencanaan audit juga mencangkup pemelihian tim audit dan penjadwalan pekerjaan. Tim audit harus terdiri dari auditor yang memiliki keahlian teknis yang diperluksn untuk memenuhi tujuan audit. Pekerjaan harus dijadwalkan melalui konsultasi dengan auditee agar ada kerja sama maksimum dari personil auditee selama audit.
3. Melaksanakan Audit
Selama melaksanakan audit, auditor secara ekstensif harus mencari fakta – fakta yang berhubungan dengan masalah yang teridentifikasi dalam auditee selama survei pendahuluan. Pelaksanaan audit adalah tahap yang paling memakan waktu dalam audit operasional. Tahap ini sering kali disebut sebagai pelaksanaan audit yang mendalam.
Dalam suatu audit yang mendalam, auditor sangat mengandalkan pada pengajuan pertanyaan dan pengamatan.
Pendekatan yang biasa dilakukan adalah mengembangkan kuisioner untuk auditee dan menggunakannya sebagai dasar untuk mewawancarai personil auditee. Wawancara yang efektif sangat penting dalam audit operasional. Melalui pengamatan terhadap personil auditee, auditor akan dapat mendeteksi inefisiensi dan kondisi – kondisi lainnya yang ikut menyebabkan masalah ini.
Auditor juga harus menggunakan analisis dalam audit operasional, yang melibatkan survei dan pengukuran kinerja aktual dalam hubungannya dengan kriteria tertentu. Kriteria ini dapat dikembangkan secara internal oleh entitas seperti sasaran produktivitas dan anggaran yang ditetapkan.
4. Melaporkan Temuan
Auditing operasional serupa dengan jenis – jenis auditing lainnya karena produk akhir dari auditing adalah laporan audit. Akan tetapi, ada banyak situasi unik yang berkaitan dengan pelaporan dalam audit operasional. Misalnya, berlawanan dengan bahasa standar yang terdapat dalam laporan auditor dalam audit laporan keuangan, bahasa laporan dalam audit operasional bervariasi untuk setiap auditee.
Laporan itu harus memuat :
a. Suatu pernyataan tentang tujuan dan ruang lingkup audit b. Uraian umum mengenai pekerjaan yang dilakukan dalam audit c. Ikhtisar temuan – temuan
d. Rekomendasi perbaikan’
e. Komentar Audit
5. Melakukan Tindak Lanjut
Tahap terakhir atau tahap tindak lanjut ( follow up phase) dalam audit operasional adalah tahap bagi auditor untuk menindak lanjuti tanggapan auditee terhadap laporan audit. Idealnya, kebijakan entitas sebaiknya mengharuskan manajer unit yang diaudit untuk melaporkan secara tertulis selama periode waktu yang ditetapkan. Akan tetapi, tindak lanjut ini juga harus mencakup penentuan kelayakan tindakan yang diambil oleh auditee dalam mengimplementasikan rekomendasi.
Kegagalan auditor untuk menerima tanggapan yang tepat harus dikomunikasikan kepada manajemen senior.
Dalam peleksanaannya, audit operasional mempunyai tahapan yang cukup panjang dibanding audit keuangan. Persamaan dan perbedaan tahap – tahap diantara kedua jenis ini diperlihatkan dari gambar
Audit Laporan Keuangan Audit Operasional
Gambar 1
Persamaan dan Perbedaan Tahap – tahap antara Pelaksanaan Audit Laporan Keuangan dan Audit Operasional
Sumber : Amin Widjaja Tunggal (2004,27)
C. Pengendalian Internal
Sistem Pengendalian Internal merupakan suatu sistem yang dibuat untuk ikut membantu pimpinan perusahaan dalam mengendalikan kelancaran jalannya kegiatan-kegiatan perusahaan. Sistem Pengendalian Interen ini meliputi struktur organisasi perusahaan serta segala cara dan tindakan-tindakan yang dilakukan dalam perusahaan. Semua saling dikoordinasikan dengan maksud untuk mengamankan harta-harta perusahaan, menguji kebenaran serta ketelitian dalam pencatatan-pencatatan, sekaligus untuk mendorong ketaatan atas segala kebijaksanaan yang telah digariskan oleh pimpinan perusahaan.
Dalam teori akuntansi dan organisasi, pengendalian intern atau internal control didefinisikan sebagai suatu proses, yang dipengaruhi oleh sumber daya manusia dan sistem teknologi informasi, yang dirancang untuk membantu organisasi mencapai suatu tujuan atau objektif tertentu.
Pengendalian intern merupakan suatu cara untuk mengarahkan, mengawasi, dan mengukur sumber daya suatu organisasi. Ia berperan penting untuk mencegah dan mendeteksi penggelapan (fraud) dan melindungi sumber daya organisasi baik yang berwujud (seperti mesin dan lahan) maupun tidak (seperti reputasi atau hak kekayaan intelektual seperti merek dagang).
1. Pengertian Pengendalian Internal
Definisi pengendalian internal menurut COSO:
“Suatu proses yang dijalankan oleh dewan direksi, manajemen, dan staff, untuk membuat reasonable assurance mengenai:
Efektifitas dan efisiensi operasional Reliabilitas pelaporan keuangan
Kepatuhan atas hukum dan peraturan yang berlaku."
Sedangkan definisi pengendalian internal menurut The American Institute or Certified Publik Acciunting (AICPA), adalah :
“The plan of organization, and all of the coordinate methods and meansures adopted within a business, to safeguard its asset, check the reability of its accounting data, promote operational effciency, and encourage adherence to prescribed managerial policies”.(AU SECTION 320;08).
Wareen, reeve dan fees mendefinisikan pengendalian internal sebagai :
“Internal Control are the policies and procedures that protect assets from misuse, ensure that bussiness information are accurate, and ensure that law and regulation are being followed.”
Sedangkan definisi pengendalian internal adalah :
“Internal control are processes, effected by board of trustees, managemen and other personal, designed to provide reasonable assurance regarding the achievement of objective in the following categories.”
2. Tujuan Pengendalian Internal
Dari definisi di atas dapat kita lihat bahwa tujuan adanya pengendalian intern adalah sbb:
Menjaga kekayaan organisasi.
Memeriksa ketelitian dan kebenaran data akuntansi.
Mendorong efisiensi.
Mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen.
3. Sistem Pengendalian Internal
Sistem pengendalian intern dapat dibagi menjadi dua yaitu : Pengendalian Internal Akuntansi (Preventive Controls)
Pengendalian Intern Akuntansi dibuat untuk mencegah terjadinya inefisiensi yang tujuannya adalah menjaga kekayaan perusahaan dan memeriksa keakuratan data akuntansi. Contoh : adanya pemisahan fungsi dan tanggung jawab antar unit organisasi.
Pengendalian Internal Administratif (Feedback Controls)
Pengendalian Administratif dibuat untuk mendorong dilakukannya efisiensi dan mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen (dikerjakan setelah adanya pengendalian akuntansi). Contoh : pemeriksaan laporan untuk mencari penyimpangan yang ada, untuk kemudian diambil tindakan.
4. Unsur – Unsur Pokok Pengendalian Internal Menurut Mulyadi (2001:164) adalah sebagai berikut :
1. Struktur organisasi yang memisahkan tanggung jawab fungsional secara tegas. Struktur organisasi merupakan bagian tanggung jawab fungsional kepada unit – unit organisasi yang dibentuk untuk melaksanakan kegiatan – kegiatan pokok perusahaan.
Pembagian tanggung jawab fungsional dalam organisasi ini didasarkan pada prinsip – prinsip sebagai berikut :
a. Harus dipisahkan fungsi – fungsi operasi dan penyimpanan dari fungsi akuntansi. Perlu dibedakan secara kewenangan antra fungsi operasi, yaitu melaksanakan operasi perusahaan, operasi penyimpanan, yaitu yang menyimpan aktiva perusahaan dan fungsi akuntansi, yang membentuk peristiwa keuangan perusahaan.
b. Suatu fungsi tidak boleh diberi tanggung jawab penuh untuk melaksanakan semua tahap suatu transaksi, contoh kasus : dalam
suatu transaksi pembelian dalam perusahaan, fungsi yang terkait adalah fungsi gudang, merupakan fungsi penyimpanan, fungsi pembelian dan penerimaan merupakan fungsi operasi, dan fungsi akuntansi merupakan fungsi pencatatan.
2. Sistem wewenang dan prosedur pencatatan yang memberikan perlindungan yang cukup terhadap kekayaan, hutang, pendapatan dan biaya. Dalam organisasi, setiap transaksi hanya atas dasar otoritas dari penjabat yang memiliki wewenang untuk menyetujui untuk transaksi tersebut.
3. Praktek yang sehat dalam melaksanakan tugas dan fungsi setiap unit organisasi. Pembagian tanggung jawab fungsional dan sistem wewenang dan prosedur pencatatan yang telah ditetapkan akan terlaksana dengan baik jika tidak diciptakan cara - cara menjamin praktek yang sehat dalam pelaksanaannya.
4. Karyawan yang mutunya sesuai dengan tanggung jawabnya bagaimanapun baiknya struktur organisasi dan prosedur pencatatan, serta berbagai cara yang diciptakan untuk mendorong praktek yang sehat, semua tergantung kepada manusia yang melaksanakannya.
5. Hubungan Struktur Pengendalian Internal dengan Audit Operasional Sudah dijelaskan bahwa tujuan utama audit operasional adalah untuk menilai performance management dan fungsi – fungsi dalam perusahaan,
terutama efektivitas, efisiensi dan kehematan (economy) dari kegiatan perusahaan. Untuk mencapai tujuan tersebut, perusahaan harus memiliki struktur pengendalian internal yang baik, diterapkan secara efektif dan selalu ditelaah dan dimuktahirkan hingga selalu mengikuti perkembangan perusahaan. Hal – hal itulah yang membuktikan bahwa struktur pengendalian internal sangat berkaitan erat dengan audit operasional.
Sukrisno Agoes (1998:59) menyebutkan bahwa jika struktur pengendalian internal suatu satuan usaha lemah, maka kemungkinan terjadinya kesalahan, ketidak akuratan ataupun kecurangan dalam perusahaan sangat besar. Bagi auditor, hal tersebut menimbulkan resiko yang besar, dalam arti risiko untuk memberikan opini yang tidak sesuai dengan kenyataan, jika auditor kurang hati – hati dalam melakukan pemeriksaan dan tidak cukup banyak mengumpulkan bukti – bukti yang mendukung pendapay yang diberikan
Untuk mencegah kemungkinan tersebut, jika dari hasil pemahaman dan evaluasi atas pengendalian internal perusahaan, auditor menyimpulkan bahwa pengendalian intenal tidak berjalan efektif, maka auditor harus memperluas lingkup pemeriksaannya. Sebaliknya jika auditor menyimpulkan bahwa struktur pengendalian internal berjalan efektif, maka lingkup pemeriksaan bisa dipersempit.
Pemahaman ats struktur pengendalian internal merupakan bagian yang sangat penting dalam proses pemeriksaan operasional peusahaan. Karena
baik buruknya struktur pengendalian internal akan memberikan pengaruh yang besar terhadap :
1. Keamanan harta perusahaan
Untuk menjega keamanan harta perusahaan dapat dilakukan dengan beberapa cara sebagai berikut :
a. Penggunaan harta kekayaan perusahaan hanya melalui sistem otorisasi yang telah ditetapkan :
1) Pembatasan akses langsung terhadap kekayaan 2) Pembatasan akses tidak langsung terhadap kekayaan
b. Pertanggungjawaban kekayaan perusahaan yang dicatat dibandingkan dengan kekayaan yang sesungguhnya ada :
1) Perbandingan secara periodik antara catatan akuntansi dengan kekayaan yang sesungguhnya ada
2) Rekonsiliasi antara catatan akuntansi yang diselenggarakan 2. Dapat dipercayai atau tidaknya laporan keuangan perusahaan
a. pelaksanaan transaksi melalui sistem otorisasi yang telah di tetapkan:
1) pemberian otorisasi oleh penjabat yang berwenang
2) pelaksanaan transaksi sesuai dengan otorisasi yang diberikan oleh penjabat yang berwenang
b. pencatatan transksi yang terjadi dalam catatan akuntansi : 1) Pencatatan semua transaksi yang terjadi
2) Transaksi yang dicatat adalah benar – benar terjadi 3) Transaksi dicatat dalam jumlah yang benar
4) Transaksi dicatat dalam penggolongan 5) Transaksi dicatat dan diringkas dengan teliti
D. Penjualan
Penjualan merupakan pembelian sesuatu (barang atau jasa) dari suatu pihak kepada pihak lain dengan mendapatkan ganti uang dari pihak tersebut.
Penjualan juga merupakan suatu sumber pendapatan perusahaan, semakin besar penjualan maka akan semakin besar pula pendapatan yang diperoleh perusahaan.
1. Pengertian penjualan
Aktifitas penjualan merupakan pendapatan utama perusahaan karena jika aktifitas penjualan prodak maupun jasa tidak dikelola dengan baik maka secara langsung dapat merugikan perusahaan. Hal ini dapat di sebabkan karena sasaran penjualan yang diharapkan tidak tercapai dan pendapatanpun akan berkurang.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dari pengertian penjualan itu sendiri adalah sebagai berikut :
Pengertian penjualan menurut Hendry Simamora dalam buku
“Akutansi Basis Pengambilan Keputusan Bisnis” menyatakan bahwa
“Penjualan adalah pendapatan lazim dalam perusahaan dan merupakan jumlah kotor yang dibebankan kepada pelanggan atas barang dan jasa”. (2000;24)
Pengertian penjualan menurut Chairul Maron dalam buku “Sistem Akutansi Perusahaan Dagang” menyatakan bahwa:
“Penjualan artinya penjualan barang dagangan sebagai usaha pokok perusahaan yang biasanya dilakukan secara teratur” (2002;28)
Berdasarkan pengertian diatas maka dapat disimpulkan bahwa penjualan adalah persetujuan kedua belah pihak antara penjual dan pembeli, dimana penjual menawarkan suatu produk dengan harapan pembeli dapat menyerahkan sejumlah uang sebagai alat ukur produk tersebut sebesar harga jual yang telah disepakati.
Winardi (2000:13) mengatakan bahwa :
“Penjualan adalah proses dimana sang penjual memastikan, mengaktivasi dan memuaskan kebutuhan atau keinginan sang pembeli agar dicapai manfaat baik bagi sang penjual maupun bagi sang pembeli yang berkelanjutan dan menguntungkan”.
Sedangkan menurut Hadibroto (2000:168) bahwa :
“Penjualan adalah jumlah yang dibebankan kepada langganan dalam penjualan barang dan jasa dalam suatu periode tertentu”.
Menurut Sadeli (2005:5) bahwa :
“Menjual atau penjualan adalah suatu tindakan untuk menukar barang atau jasa dengan uang dengan cara mempengaruhi orang lain agar mau memiliki barang yang ditawarkan sehingga kedua belah pihak mendapatkan keuntungan dan kepuasan.”
Dari beberapa definisi tentang penjualan yang telah dikemukakan sebelumnya dapat disimpulkan bahwa dengan adanya penjualan maka akan tercipta proses pertukaran barang dan jasa. Penjualan atau menjual adalah ilmu dan seni mempengaruhi orang lain agar membeli barang dan jasa yang
ditawarkan sehingga memberikan kepuasan timbal balik antara penjual dan pembeli. Perusahaan yang menjual produk atau jasa, tentunya akan memperoleh pendapatan dari jumlah yang dibebankan kepada konsumen untuk produk atau jasa yang ditawarkan.
2. Bagian – bagian Penjualan
Menurut Krismiaji dalam bukunya “Sistem InformasiAakuntansi”
menyatakan bahwa bagian - bagian penjualan dibagi menjadi beberapa penjualan yaitu : (2002;275)
1. Bagian Penjualan
Adalah bagian penjualan menerima surat pesanan dari pihak pembeli dan membuat suatu order penjualan atas dasar surat pesanan tersebut.
2. Bagian Kredit
Adalah atas dasar surat pesanan dari pembeli yang diterima dibagian penjualan, bagian ini memeriksa data kredit pelanggan yang selanjutnya memberikan persetujuan terhadap surat pesanan tersebut dan memeriksanya kebagian gudang
3. Bagian Gudang
Adalah bagian gudang yang bertugas untuk menyimpan persediaan barang dagangan serta memepersiapkan barang dagangan yang akan dikirim kepada pembeli.
4. Bagian Pengiriman
Adalah bagian ini mengeluarkan surat order penjualan dan kemudian membuat nota pengiriman atas barang yang dipesan.
5. Bagian Penagihan
Adalah bagian ini bertugas untuk membuat faktur penjualan dan kemudian di distribusikan kepada :
a) Rangkap pertama (asli) diberikan kepada pelanggan b) Rangkap kedua diberikan kepada bagian piutang
c) Rangkap tiga diarsipkan berdasarkan nomer urut bersamaan dengan surat order penjualan.
3. Tujuan Penjualan
Dalam suatu perusahaan kegiatan penjualan adalah kegiatan yang penting, karena dengan adanya kegiatan penjualan tersebut maka akan berbentuk laba yang akan menjamin kelangsungan hidup perusahaan.
Tujuan umum penjualan yang dimiliki oleh perusahaan menurut Basu Swastha dalam bukunya “Manajemen Penjualan”, yaitu : (2005:404) 1. Mencapai Volume penjualan tertentu
2. Mendapat laba tertentu
3. Menunjang pertumbuhan perusahaan
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa tujuan umum perusahaan dalam kegiatan penjualan adalah untuk mencapai volume penjualan dan mendapatkan lama yang maksimal, sehingga perusahaan kiat bertumbuh.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Tujuan Penelitian
Dalam penelitian ini bertujuan untuk melihat sejauh mana peranan audit internal dalam mendorong efektivitas dalam PT. DELTASUPLINDO INTERNUSA terhadap sistem pengendalian internal fungsi penjualan.
Seperti yang dijelaskan pada bab sebelumnya telah dijelaskan bahwa tujuan penelitian untuk mengetahui :
3. Peranan audit atas kebijakan penjualan pada PT. Deltasuplindo Internusa?
4. Prosedur penjualan pada PT. Deltasuplino Internusa?
Dengan kata lain penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana peranan audit internal dalam mendorong efektivitas terhadap sistem pengendalian internal fungsi penjualan pada PT. DELTASUPLINDO INTERNUSA.
B. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian
Dalam rangka menunjang jalannya penelitian ini, penulis memerlukan bantuan dan dukungan dari pihak – pihak yang dapat memberikan informasi atau masukan – masukan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pemulisan skripsi ini. Oleh karena hal itulah
maka penulis memilih PT. Deltasuplindo Internusa yang terletak di Komplek Kebayoran Centre A/9 Kebayoran Baru – Jakarta Selatan dan mengambil data – data yang diperlukan melalui referensi buku – buku yang ada di perpustakaan – perpustakaan.
2. Waktu Penelitian
Adapun waktu penelitian yang dilakukan yaitu mulai pada bulan Februari 2013 sampai dengan bulan juni 2013.
C. Metode Penelitian
Penulisan skripsi ini diusahakan agar dapat mencapai mutu sebaik – baiknya terutama dari segi ilmiah. Untuk itu dalam penulis melakukan pengumpulan data dengan cara mengumpulkan rangkuman data dari perusahaan terkait dengan penulisan skripsi.
1. Jenis Data a. Data Primer
Jenis data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah data primer, data yang diambil oleh peneliti berupa data dan informasi mengenai prosedur – prosedur dan kebijakan – kebijakan yang diterapkan dalam kegiatan penjualan. Pengambilan data ini dilakukan setelah peneliti melakukan observasi dan mendapatkan data – data tersebut dari objek penelitian, kemudian diolah untuk keperluan skripsi ini..
b. Data Sekunder
Data yang diambil oleh peneliti berupa data dan informasi dari berbagai sumber, yaitu informasi dan data yang diambil dari buku – buku, makalah – makalah, internet yang berhubungan dengan objek penelitian dan ditambah data yang diperoleh dari perusahaan.
2. Metode Pengumpulan Data a. Penelitian Keperpustakaan
Metodologi pengumpulan data ini digunakan untuk mendapatkan berbagai informasi yang nantinya akan dipakai sebagai litelatur dalam pembahasan skripsi ini dan juga merupakan landasan teori guna mencapai alternatif – alternatif pemecahan masalah yang dihadapi, yaitu dengan membaca buku - buku, catatan perkuliahan serta litelatur – litelatur yang ada hubungannya dengan masalah dibahas.
b. Riset Lapangan
Pendekatan ini dilakukan dengan menggunakan penelitian langsung ke perusahaan yang bersangkutan untuk mengetahui data yang ada yang berkaitan dengan permasalahan skripsi ini. Untuk itu dipergunakan cara – cara sebagai berikut :
1) Wawancara
Merupakan teknik pengumpulan data dengan cara tanya jawab langsung secara lisan dengan pejabat yang berwenang yang ada
kaitannya dengan objek penelitian. Adapun data yang diharapkan dapat menjelaskan tentang kebijakan – kebijakan, sistem, prosedur dan pelaksanaan audit internal terhadap penjualan.
2) Kuisioner
Merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pertanyaan tertulis kepada responden untuk dijawabnya. Kuisioner ditujukan untuk pihak – pihak yang berwenang dan tanggung jawab terhadap kegiatan penjualan.
3) Observasi
Merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan pengamatan terhadap aktivitas perusahaan yang erat kaitannya dengan masalah audit internal penjualan yang diterapkan perusahaan dan dokumen – dokumen yang diperlukan.
3. Metode Analisis Data
Analisa data yang di lakukan oleh penulis dalam penyusunan skripsi ini menggunakan metode sebagai berikut :
a. Metode Deskriptif
Suatu metode analisis data yang mengumpulkan data, mengkelompokan kemudian di tafsirkan sehingga memberi keterangan yang lengkap bagi perusahaan.
b. Metode Kualitatif
Metode penelitian yang menggambarkan objek penelitian yang sebenarnya dengan cara mengumpulkan data relevan untuk interpretasikan dan dibandingkan dengan hasil analisis dari perumusan masalah. Hasil analisis ini kemudian akan dihubungkan dengan teori – teori yang ada untuk dapat diambil suatu kesimpulan.
4. Sejarah Singkat Perusahaan
PT. Deltasuplindo Internusa dibentuk sebagai perseroan terbatas yang secara aktif berpartisipasi dalam mengembangkan dan mengelola perdagangan umum, yang meliputi perdagangan impor dan ekspor antara pulau/daerah serta lokal serta bertindak sebagai agen, laveransir, supplier, waralaba, distributor. Serta perdagangan yang berhubungan dengan real estate yaitu penjualan dan pembelian bangunan – bangunan rumah, gedung perkantoran, gedung pertokoan, unit – unit ruangan apartemen, ruangan kondominium, ruangan kantor, serta perdagangan.
Pada awal berdirinya perusahaan ini pada tanggal 23 Desember 1995, di dirikan oleh Bpk Johanes Maria Eddy Susanto Nagaraharja.
Perusahaan ini beralamat di Komplek Kebayoran Center A/9, Jalan Kebayoran Baru Jakarta Selatan.
Kegiatan usaha yang dikelola oleh PT. DELTASUPLINDO INTERNUSA adalah sebagai berikut :
a. Menjalankan usaha dalam bidang perdagangan umum dari segala macam barang yang dapat dilakukan termasuk dagang impor, ekspor, dan interinsulair.
b. Menjalankan usaha bidang perencanaan, pelaksanaan, usaha – usaha pemborongan umum (general contractor) untuk segala macam dan jenis pekerjaan dalam segala hal dan segala bidang terutama pembangunan gedung – gedung, jembatan – jembatan, jalan – jalan, taman – taman, air irigrasi, dan lain sebagainya.
5. Visi dan Misi a. Visi
Menjadi pengelola dan pengembang bisnis dibidang sarana perdagangan umum general contractor yang terkemuka
Menjadi pengelola dan pengembang bisnis dibidang sarana perdagangan umum general contractor yang terkemuka