• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sebagai penutup dalam penyusunan skripsi ini, beberapa kesimpulan ditarik berdasar ats perumusan masalah, perumusan hipotesis, analisa hasil penelitian, dan persyaratan – persyaratan analisis.

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Auditing

1. Pengertian Auditing

Untuk melaksanakan audit, diperlukan informasi yang dapat diferifikasi dan sejumlah standart (kriteria) yang dapat digunakan sebagai pegangan pengevaluasian informasi tersebut. Informasi yang dapat diukur (yang dapat dikualifikasi) memiliki berbagai bentuk adalah mungkin untuk mengaudit hal – hal seperti laporan keuangan perusahaan, mendorong dipatuhinya kebijaksanaan manajemen serta untuk menjaga agar terciptanya informasi manajemen dan sistem yang baik, ada berbagai pendekatan yang dilakukan dalam melaksanakan pengawasan salah satunya adalah dengan auditing.

Menurut Sukrisno Agoes (2004:3) yaitu :

“Suatu pemeriksaan yang dilakukan secara kritis dan sistematis, oleh pihak yang independent, terhadap laporan keuangan yang telah disusun oleh manajemen, berserta catatan – catatan pembukuan dan bukti – bukti pendukungnya, dengan tujuan untuk dapat memberikan pendapat mengenai kewajaran laporan keuangan tersebut”.

Menurut Sukrisno Agoes (2002:5) mendefinisikan auditing sebagai berikut :

“Suatu proses sistematis untuk secara objektif mendapatkan dan mengevaluasi bukti mengenai asersi tentang kegiatan – kegiatan dan kejadian – kejadian ekonomi untuk menyakinkan tingkat keterkaitan antara asersi tersebut dan kriteria yang telah ditetapkan dan mengkomunikasikan hasilnya kepada pihak – pihak yang berkepentingan”.

Menurut Alvin A.Arens, Rendal J. Eld (2001:15) yaitu :

“Auditing adalah suatu pengumpulan serta pengevaluasian bukti – bukti atas informasi untuk menentukan dan melaporkan tingkat kesesuaian informasi tersebut dengan kriteria – kriteria yang telah ditetapkan, Auditing harus dilaksanakan oleh seseorang yang kompeten dan independent”.

Sedangkan menurut Dan. M. Guy (2001:5) adalah :

“Suatu proses sistematis yang secara objektif memperoleh dan mengevaluasi bukti yang terkait dan pernyataan mengenai tindakan atau kejadian ekomoni untuk menilai tingkat kesesuaian antara pernyataan tersebut dan kriteria yang telah ditetapkan serta mengkomunikasikan kepada pihak yang berkepentingan.

Dari pengertian auditing yang telah disebutkan diatas dapat disimpulkan bahwa auditing mencangkup beberapa hal antara lain :

a. Orang yang kompeten dan independen

Seorang auditor harus mempunya kemampuan memahami kriteria yang digunakan serta mampu menentukan jumlah bukti yang dibutuhkan untuk mendukung kesimpulan yang akan diambilnya.

b. Suatu proses pengumpulan serta pengevaluasian bukti

Audit merupaman suatu proses yang sistematik dalam rangka mengumpulkan dan mengevaluasi informasi yang digunakan oleh auditor dalam menentukan kesesuaian informasi yang sedang diaudit dengan kriteria yang ditetapkan.

c. Informasi audit

Informasi audit yang dapat diukur dengan kriteria yang telah ditetapkan untuk melaksanakan suatu pemeriksaan selalu diperlukan

informasi dalam bentuk yang dapat dibuktikan kebenarannya oleh auditor sebagai pedoman untuk mengevaluasi informasi tersebut.

d. Pelaporan

Laporan hasil audit harus menggambarkan dengan jelas tingkat penyesuaian informasi yang diperiksa dengan kriteria – kriteria yang telah ditetapkan.

2. Jenis Auditing

Menurut Sukrisno Agoes (2004:10) jenis pemeriksaan audit bisa dibedakan atas :

a. Management Audit (Operational Audit)

Pemeriksaan terhadap kegiatan operasi suatu perusahaan, termasuk kebijakan akuntansi dan kebijakan operasional yang telah ditentukan oleh manajemen, untuk mengetahui apakah kegiatan operasi tersebut sudah dilakukan secara efektif, efisien, dan ekonomis.

b. Compliance Audit (Pemeriksaan Ketaatan)

Pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui apakah perusahaan sudah menaati peraturan – peraturan dan kebijakan – kebijakan yang berlaku, baik yang ditetapkan oleh pihak intern perusahaan (manajemen, dewan Komisaris) Maupun Pihak Ekstern ( Pemerintah, Bapepam, Bank Indonesia dan lain – lain ). Pemeriksaan bisa dilakukan baik oleh KAP maupun Bagian Internal Audit.

c. Internal Audit ( pemeriksaan internal)

Pemeriksaan yang dilakukan oleh bagian internal audit perusahaan, baik terhadap laporan keuangan dan catatan akuntansi perusahaan, maupun ketaatan terhadap kebijakan manajemen yang telah ditentukan.

Menurut Arens and Loebbecke (2000:11), Audit dapat digolongkan menjadi tiga jenis, yaitu :

a. Audit atas Laporan Keuangan

Adalah audit yang dilakukan untuk menentukan apakah laporan keuangan secara keseluruhan yang merupakan informasi telah disajikan dengan kriteria tertentu.

b. Audit Operasional

Merupakan penelaahan atas bagian maupun dari prosedur dan metode operasi organisasi untuk menilai efisiensi dan efektivitasnya.

Dalam pelaksanaan audit operasional, tinjauan yang dilakukan tidak hanya terbatas pada masalah akuntansi saja, melainkan dapat meliputi evaluasi terhadap struktur organisasi, penggunaan komputer, metode produksi, pemasaran, dan bidang – bidang lain yang menjadi bidang keahlian auditor. Dan setelah audit operasional dilakukan, auditor akan mengajukan saran kepada pihak perusahaan tetntang pemeriksaan operasionalnya.

c. Audit Kepatuhan

Adalah audit yang bertujuan untuk melihat apakah suatu badan usaha atau perusahaan yang di audit, telah melakukan prosedur dan peraturan yang telah ditetapkan oleh pihak yang berwewenang.

B. Audit Operasional

1. Pengertian Audit Operasional

Menurut Alvin A.Arens, Rendal J. Elder, Marks. Beasley (2001:19) menyatakan :

“Bahwa Audit Operasional adalah tinjauan atas bagian tertentu dari prosedur serta metode operasional organisasi tertentu yang bertujuan mengevaluasi efisiensi serta efektifitas prosedur serta metode tersebut’.

Sedangkan menurut Boynton Jahnson Kell (2002:498) mendefinisikan:

“Audit Operasional adalah suatu proses sistematis yang mengevaluasi efektifitas, ekonomis, dan kehematan operasional perusahaan yang berada dalam pengendalian manajemen serta melaporkan kepada orang – orang yang tepat hasil evaluasi tersebut beserta rekomendasi perbaikan”.

Dari definisi diatas dapat diambil kesimpulan bahwa audit operasional merupakan suatu pemeriksaan terhadap prosedur dan metode operasional organisasi termasuk kebijakan akuntansi yang dibuat oleh manajemen untuk mengetahui apakah kegiatan tersebut sudah dilaksanakan secara efektif, efisien dan ekonomis serta

melaporkan hasilnya kepada orang yang tepat beserta rekomendasi perbaikan.

Bagian – bagian penting dari definisi diatas adalah sebagai berikut:

1. Proses yang sistematis

Seperti dalam audit laporan keuangan, audit operasional menyangkut serangkaian langkah atau prosedur yang logis, tersetruktur, dan terorganisasi. Aspek ini meliputi perencanaan yang baik, serta perolehan dan evaluasi secara obyektif.

2. Mengevaluasi operasi organisasi

Evaluasi atas operasi ini harus berdasarkan pada beberapa kriteria yang ditetapkan dan disepakati dalam audit operasional, kriteria sering kali dinyatakan dalam bentuk standar kinerja yang sitetapkan oleh manajemen. Namun beberapa kasus, standar itu mungkin ditetapkan oleh suatu badan pemerintah atau oleh industri kriteria ini kerap kali didefinisikan secara kurang jelas bila dibandingkan dengan kriteria yang digunakan dalam audit atas laporan keuangan.

3. Efektifitas, efisiensi dan kehematan operasi

Tujuan utama dari audit operasional adalah membantu manajemen organisasi yang diaudit untuk meningkatkan efektifitas, efisiensi dan kehematan operasi. Jadi, audit operasional terfokus pada masa depan. Hal ini sangat berlawanan dengan audit atas laporan keuangan, yang mempunyai fokus histories.

4. Melaporkan kepada orang – orang yang tepat

Penerimaan laporan audit operasional yang tepat adalah manajemen atau individu atau badan yang meminta audit kecuali jika audit diminta oleh pihak ketiga, pembagian laporan itu tetap berada dalam lingkungan entitas. Pembagian laporan itu tetap berada dalam lingkungan entitas. Dalam sebagian besar kasus, dewan komisaris atau komite audit adalah pihak menerima salinan laporan audit operasional.

5. Rekomendasi perbaikan

Tidak seperti audit laporan keuangan, audit operasional tidak berakhir dengan menyajikan laporan mengenai temuan. Audit operasional juga mencangkup pembuatan rekomendasi perbaikan.

Pengembangan rekomendasi. Sebenarnya, merupakan salah satu aspek yang paling menantang dalam jenis auditing ini.

2. Jenis – jenis Audit Operasional

Menurut Alvin A.Arens, et al (2003:740) ada tiga kategori audit operasional, yaitu:

1. Audit Fungsional

Fungsi ini merupakan suatu alat untuk penggolongan kegiatan suatu perusahaan, seperti fungsi penerimaan kas atau fungsi produksi.

Ada banyak cara untuk menggolongkan dan membagi fungsi – fungsi yang ada. Keunggulan audit fungsional adalah memungkinkan adanya

spesialisasi oleh auditor. Auditor – auditor tertentu dalam staf audit internal dapat mengembangkan banyak keahlian dalam suatu bidang, seperti rekayasa produksi. Mereka dapat lebih efisien memakai seluruh waktu mereka untuk memeriksa dalam bidang itu. Kekurangan audit fungsional adalah dievaluasinya fungsi yang saling berkaitan. Fungsi rekayasa berinteraksi dengan pabrikasi dengan fungsi lainnya dalan suatu organisasi.

2. Audit Operasional

Audit operasional atas suatu organisasi menyangkut keseluruhan unit organisasi, seperti departemen, cabang atau anak perusahaan.

Penekanan dalam suatu audit operasional adalah seberapa efisien dan efektif fungsi – fungsi saling berinteraksi. Rencana organisasi dan metode – metode untuk mengkoordinasikan aktifitas yang ada, sangat penting dalan audit jenis ini.

3. Penugasan khusus

Penugasan audit operasional khusus timbul atas permintaan manajemen. Ada banyak variasi dalam audit seperti ini, contoh – contohnya mencangkup penentuan penyebab tidak efektifnya sistem PDE, penyelidikan kemungkinan kecurangan dalam suatu divisi, dam membuat rekomendasi untuk mengurangi biaya produksi atau barang.

Melalui audit operasional diharapkan tersusun suatu rekomendasi yang bersifat mambangun, dan pada langkah selanjutnya meningkatkan pelaksanan aktivitas kegiatan perusahaan, program maupun fungsi

tersebut menjadi lebih baik. Atau secara ringkas dapat dikatakan bahwa sasaran audit operasional adalah bagaimana mengusahakan kegiatan itu dapat berjalan secara lebih efektif dan efisien.

3. Perbedaan Audit Operasional dengan Audit Financial

Audit operasional sering kali dianggap sebagai perluasan dari audit financial. Hal ini disebabkan karena semakin dibentuknya hasil dari audit operasional untuk membantu meningkatkan efektivitas dan efisiensi kegiatan manajemen.

Tujuan dari audit finansial adalah untuk pemeriksaan kewajaran laporan keuangan perusahaan dalam jangka waktu tertentu dan memprioritaskan pada terselenggaranya pengendalian internal perusahaan.

Sedangkan tujuan dari audit operasional adalah untuk meninjau setiap bagian dari produksi dan metode operasi suatu organiasasi yang bertujuan untuk menilai ketepat gunaan (efisiensi) dan kedaya gunaan (efektif) dari organisasi perusahaan.

Arens and Loebbecke (1999:764), mengemukakan ada tiga perbedaan yang mendasar antara manajemen audit dan financial audit, yaitu : tujuan audit, distribusi pelaporan dan keterlibatan bidang bukan keuangan.

Tujuan audit dalam operasional audit menekankan pada efektifitas dan efisiensi, distribusi laporan dalam audit operasional audit ditujukan untuk manajemen, dan keterlibatan bidang bukan keuangan maksudnya

banyaknya aspek efisiensi dan efektifitas dalam sebuah perusahaan, maka banyak melibatkan kegiatan yang luas.

Sukrisno Agoes (2004:177) mengemukakan ada beberapa perbedaan antara operasional audit dengan financial audit, antara lain :

Tabel II.3

Perbedaan antara operasional audit dengan financial audit 1. Bisa dilakukan oleh internal

auditor, atau managemen consultan, selain itu di Indonesia Managemen audit juga bisa dilakukan oleh BPK

Harus dipimpin oleh seseorang registered accountant dari sebuah kantor akuntan public

2. Pada akhir pemeriksaan nya auditor memberikan laporan kepada manajemen berupa temuan – temuan audit mengenai efektivitas sistem pengendalian manajemen, apakah kegiatan operasi perusahaan sudah dijalankan secara efektif, efisien dan ekonomis, beserta saran –

Pada akhir pemeriksaannya auditor harus memberikan pendapat mengenai kewajaran laporan keuangan yang tekah disusun manajemen salain memberikan management letter yang memberi tahukan kepada manajemen mengenai kelemahan – kelemahan dalam pengendalian intenal dan saran – saran perbaikan.

saran untuk memperbaiki kelemahan yang di temukan selama pelaksanaan operasional audit.

3. Ikatan akuntansi Indonesia belum menyusun standar pemeriksaan untuk manajemen audit, namun BPKP dan BPK, sudah

memiliki pedoman

manajemen audit

Pemeriksaan dilakukan dengan berpedoman pada Standar Profesi Akuntan Publik yang disusun oleh Ikatan Akuntansi Indonesia.

4. Kriteria dalam suatu management audit bisa berupa kebijakan yang ditentukan manajemen, peraturan pemerintah, peraturan asosiasi dan lain – lain.

Kriteria dalam financial audit sudah jelas, yaitu prinsip akuntansi yang berlaku umum. (Standar Akuntansi Keuangan).

Sumber : Sukrisno Agoes, Auditing Jilid II Halaman 177

Dari perbedaan yang dikemukakan pakar tersebut diatas disimpulkan bahwa operasional audit sangat berbeda dengan financial audit. Pada operasional audit tidak hanya terfokus pada data – data histories seperti

kewajaran laporan keuangan seperti halnya dengan financial audit, melainkan keseluruhan dari proses kegiatan manajemen.

4. Tahap – Tahap Audit Operasional

Dalam melaksanakan audit operasional seringkali auditor memerlukan suatu kerangka tugas dan tahapan tugas yang berguna sebagai pedoman didalam melaksanakan pemeriksaan. Tanpa adanya kerangka yang disusun dengan baik, auditor akan banyak mengalami kesulitan dalam melaksanakan pekerjaannya, mengingat bahwa struktur perusahaan kegiatannya sekarang ini suda semakin maju dan rumit.

Setiap tahap dalam audit operasional menurut Boynton, Dkk (2003:499) akan dijelaskan sebagai berikut :

1. Memilih Objek

Pemilihan auditee biasanya dimulai dengan survei pendahuluan terhadap calon – calon auditee dalam entitas untuk mengidentifikasi aktivitas yang mempunyai potensi audit tertinggi dilihat dari segi perbaikan efektivitas, efisiensi, dan kehematan operasi. Pada intinyasurvei pendahuluan merupakan proses penyaringan yang akan menghasilkan peringkat dari calon auditee. Titik awal dari survei pendahuluan adalah memperoleh pemahaman yang komprehensif mengenai struktur organisasional entitas serta karakteristik operasi.

Titik awal dari survei pendahuluan ini adalah memperoleh pemahaman yang komprehensif mengenai struktur organisasional entitas serta karakteristik operasinya. Selain itu, auditor juga harus

memahami industri tempat entitas beroperasi serta sifat dan luas peraturan pemerintah yang berlaku. Selanjutnya perhatian difokuskan pada aktifitas, unit, atau fungsi yang akan diaudit.

Pemahaman tentang calon auditee diperoleh dengan : a. Mereview data arsip latar belakang setiap auditee

b. Meninjau fasilitas auditee untuk memastikan bagaimana audit mencapai tujuannya.

c. Mempelajari dokumentasi yang relevan tentang operasi audit seperti buku petunjuk kebijakan dan prosedur, bagan arus, standar kinerja dan pengendalian mutu, serta deskripsi tugas.

d. Menerapkan prosedur analitis untuk mengidentifikasi trend atau hubungan yang tak biasa.

e. Melakukan pemeriksaan (pengujian) audit mini untuk menegaskan atau menjernihkan pemahaman auditor tentang masalah yang potensial

2. Merencanakan Audit

Perencanaan audit yang cermat sangat penting baik bagi efektivitas maupun efisiensi audit operasional. Perencanaan terutama penting dalam jenis audit ini karena sangat beragamnya audit operasional. Landasan utama dari perencanaan audit adalah pengembangan program audit, yang harus dibuat sesuai dengan keadaan auditee yang ditemui pada tahap survei pendahuluan itu.

Seperti dalam audit laporan keuangan, program audit berisi seperangkat prosedur yang dirancang untuk memperoleh bukti yang berkaitan dengan satu atau lebih tujuan. Bukti yang diperiksa biasanya didasarkan pada sampel data. Jadi, dalam perencanaan audit harus dipertimbangkan penggunaan teknik – teknik sampling statistik.

Disamping itu, auditor juga harus mengetahui apakah teknik – teknik berbantuan komputer (computer-assisted techniques) akan efisieb dari segi biaya.

Perencanaan audit juga mencangkup pemelihian tim audit dan penjadwalan pekerjaan. Tim audit harus terdiri dari auditor yang memiliki keahlian teknis yang diperluksn untuk memenuhi tujuan audit. Pekerjaan harus dijadwalkan melalui konsultasi dengan auditee agar ada kerja sama maksimum dari personil auditee selama audit.

3. Melaksanakan Audit

Selama melaksanakan audit, auditor secara ekstensif harus mencari fakta – fakta yang berhubungan dengan masalah yang teridentifikasi dalam auditee selama survei pendahuluan. Pelaksanaan audit adalah tahap yang paling memakan waktu dalam audit operasional. Tahap ini sering kali disebut sebagai pelaksanaan audit yang mendalam.

Dalam suatu audit yang mendalam, auditor sangat mengandalkan pada pengajuan pertanyaan dan pengamatan.

Pendekatan yang biasa dilakukan adalah mengembangkan kuisioner untuk auditee dan menggunakannya sebagai dasar untuk mewawancarai personil auditee. Wawancara yang efektif sangat penting dalam audit operasional. Melalui pengamatan terhadap personil auditee, auditor akan dapat mendeteksi inefisiensi dan kondisi – kondisi lainnya yang ikut menyebabkan masalah ini.

Auditor juga harus menggunakan analisis dalam audit operasional, yang melibatkan survei dan pengukuran kinerja aktual dalam hubungannya dengan kriteria tertentu. Kriteria ini dapat dikembangkan secara internal oleh entitas seperti sasaran produktivitas dan anggaran yang ditetapkan.

4. Melaporkan Temuan

Auditing operasional serupa dengan jenis – jenis auditing lainnya karena produk akhir dari auditing adalah laporan audit. Akan tetapi, ada banyak situasi unik yang berkaitan dengan pelaporan dalam audit operasional. Misalnya, berlawanan dengan bahasa standar yang terdapat dalam laporan auditor dalam audit laporan keuangan, bahasa laporan dalam audit operasional bervariasi untuk setiap auditee.

Laporan itu harus memuat :

a. Suatu pernyataan tentang tujuan dan ruang lingkup audit b. Uraian umum mengenai pekerjaan yang dilakukan dalam audit c. Ikhtisar temuan – temuan

d. Rekomendasi perbaikan’

e. Komentar Audit

5. Melakukan Tindak Lanjut

Tahap terakhir atau tahap tindak lanjut ( follow up phase) dalam audit operasional adalah tahap bagi auditor untuk menindak lanjuti tanggapan auditee terhadap laporan audit. Idealnya, kebijakan entitas sebaiknya mengharuskan manajer unit yang diaudit untuk melaporkan secara tertulis selama periode waktu yang ditetapkan. Akan tetapi, tindak lanjut ini juga harus mencakup penentuan kelayakan tindakan yang diambil oleh auditee dalam mengimplementasikan rekomendasi.

Kegagalan auditor untuk menerima tanggapan yang tepat harus dikomunikasikan kepada manajemen senior.

Dalam peleksanaannya, audit operasional mempunyai tahapan yang cukup panjang dibanding audit keuangan. Persamaan dan perbedaan tahap – tahap diantara kedua jenis ini diperlihatkan dari gambar

Audit Laporan Keuangan Audit Operasional

Gambar 1

Persamaan dan Perbedaan Tahap – tahap antara Pelaksanaan Audit Laporan Keuangan dan Audit Operasional

Sumber : Amin Widjaja Tunggal (2004,27)

C. Pengendalian Internal

Sistem Pengendalian Internal merupakan suatu sistem yang dibuat untuk ikut membantu pimpinan perusahaan dalam mengendalikan kelancaran jalannya kegiatan-kegiatan perusahaan. Sistem Pengendalian Interen ini meliputi struktur organisasi perusahaan serta segala cara dan tindakan-tindakan yang dilakukan dalam perusahaan. Semua saling dikoordinasikan dengan maksud untuk mengamankan harta-harta perusahaan, menguji kebenaran serta ketelitian dalam pencatatan-pencatatan, sekaligus untuk mendorong ketaatan atas segala kebijaksanaan yang telah digariskan oleh pimpinan perusahaan.

Dalam teori akuntansi dan organisasi, pengendalian intern atau internal control didefinisikan sebagai suatu proses, yang dipengaruhi oleh sumber daya manusia dan sistem teknologi informasi, yang dirancang untuk membantu organisasi mencapai suatu tujuan atau objektif tertentu.

Pengendalian intern merupakan suatu cara untuk mengarahkan, mengawasi, dan mengukur sumber daya suatu organisasi. Ia berperan penting untuk mencegah dan mendeteksi penggelapan (fraud) dan melindungi sumber daya organisasi baik yang berwujud (seperti mesin dan lahan) maupun tidak (seperti reputasi atau hak kekayaan intelektual seperti merek dagang).

1. Pengertian Pengendalian Internal

Definisi pengendalian internal menurut COSO:

“Suatu proses yang dijalankan oleh dewan direksi, manajemen, dan staff, untuk membuat reasonable assurance mengenai:

Efektifitas dan efisiensi operasional Reliabilitas pelaporan keuangan

Kepatuhan atas hukum dan peraturan yang berlaku."

Sedangkan definisi pengendalian internal menurut The American Institute or Certified Publik Acciunting (AICPA), adalah :

“The plan of organization, and all of the coordinate methods and meansures adopted within a business, to safeguard its asset, check the reability of its accounting data, promote operational effciency, and encourage adherence to prescribed managerial policies”.(AU SECTION 320;08).

Wareen, reeve dan fees mendefinisikan pengendalian internal sebagai :

“Internal Control are the policies and procedures that protect assets from misuse, ensure that bussiness information are accurate, and ensure that law and regulation are being followed.”

Sedangkan definisi pengendalian internal adalah :

“Internal control are processes, effected by board of trustees, managemen and other personal, designed to provide reasonable assurance regarding the achievement of objective in the following categories.”

2. Tujuan Pengendalian Internal

Dari definisi di atas dapat kita lihat bahwa tujuan adanya pengendalian intern adalah sbb:

Menjaga kekayaan organisasi.

Memeriksa ketelitian dan kebenaran data akuntansi.

Mendorong efisiensi.

Mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen.

3. Sistem Pengendalian Internal

Sistem pengendalian intern dapat dibagi menjadi dua yaitu : Pengendalian Internal Akuntansi (Preventive Controls)

Pengendalian Intern Akuntansi dibuat untuk mencegah terjadinya inefisiensi yang tujuannya adalah menjaga kekayaan perusahaan dan memeriksa keakuratan data akuntansi. Contoh : adanya pemisahan fungsi dan tanggung jawab antar unit organisasi.

Pengendalian Internal Administratif (Feedback Controls)

Pengendalian Administratif dibuat untuk mendorong dilakukannya efisiensi dan mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen (dikerjakan setelah adanya pengendalian akuntansi). Contoh : pemeriksaan laporan untuk mencari penyimpangan yang ada, untuk kemudian diambil tindakan.

4. Unsur – Unsur Pokok Pengendalian Internal Menurut Mulyadi (2001:164) adalah sebagai berikut :

1. Struktur organisasi yang memisahkan tanggung jawab fungsional secara tegas. Struktur organisasi merupakan bagian tanggung jawab fungsional kepada unit – unit organisasi yang dibentuk untuk melaksanakan kegiatan – kegiatan pokok perusahaan.

Pembagian tanggung jawab fungsional dalam organisasi ini didasarkan pada prinsip – prinsip sebagai berikut :

a. Harus dipisahkan fungsi – fungsi operasi dan penyimpanan dari fungsi akuntansi. Perlu dibedakan secara kewenangan antra fungsi operasi, yaitu melaksanakan operasi perusahaan, operasi penyimpanan, yaitu yang menyimpan aktiva perusahaan dan fungsi akuntansi, yang membentuk peristiwa keuangan perusahaan.

b. Suatu fungsi tidak boleh diberi tanggung jawab penuh untuk melaksanakan semua tahap suatu transaksi, contoh kasus : dalam

suatu transaksi pembelian dalam perusahaan, fungsi yang terkait adalah fungsi gudang, merupakan fungsi penyimpanan, fungsi pembelian dan penerimaan merupakan fungsi operasi, dan fungsi akuntansi merupakan fungsi pencatatan.

2. Sistem wewenang dan prosedur pencatatan yang memberikan perlindungan yang cukup terhadap kekayaan, hutang, pendapatan dan biaya. Dalam organisasi, setiap transaksi hanya atas dasar otoritas dari penjabat yang memiliki wewenang untuk menyetujui untuk transaksi tersebut.

3. Praktek yang sehat dalam melaksanakan tugas dan fungsi setiap unit organisasi. Pembagian tanggung jawab fungsional dan sistem wewenang dan prosedur pencatatan yang telah ditetapkan akan terlaksana dengan baik jika tidak diciptakan cara - cara menjamin praktek yang sehat dalam pelaksanaannya.

4. Karyawan yang mutunya sesuai dengan tanggung jawabnya bagaimanapun baiknya struktur organisasi dan prosedur pencatatan, serta berbagai cara yang diciptakan untuk mendorong praktek yang sehat, semua tergantung kepada manusia yang melaksanakannya.

5. Hubungan Struktur Pengendalian Internal dengan Audit Operasional Sudah dijelaskan bahwa tujuan utama audit operasional adalah untuk

5. Hubungan Struktur Pengendalian Internal dengan Audit Operasional Sudah dijelaskan bahwa tujuan utama audit operasional adalah untuk

Dokumen terkait