KEBIJAKAN HUKUM PIDANA DAN UPAYA PENCEGAHANNYA TERHADAP PENERAPAN KEJAHATAN CARDING DALAM
J. Analisis Putusan PN Jakarta Selatan No 1193/Pid/B/2013/PN.Jkt.Sel a Kasus Posis
Suri Anni als Annie Tio als Chia als Chialing Vandezz sekitar tahun 2010 mengenal Fery Ardiansyah bin Hanafiah (didakwa dalam berkas terpisah) di mana saat bertemu, Suri Anni sedang bersama Andi (saat ini sedang menjalani proses hukum di Polres Pangkal Pinang Polda Bangka Belitung) berbelanja dengan menggunakan kartu kredit dan kartu debit yang datanya sudah dipalsukan milik Andi di beberapa tempat atau toko di wilayah DKI Jakarta. Pertengahan tahun 2012, Suri Anni berkenalan dengan Kyno Nathaniel als Kyno (didakwa dalam berkas terpisah) yang dikenalkan oleh Fery Ardiansyah bin Hanafiah (didakwa dalam berkas terpisah) di Hotel Sun City Sidoarjo, di mana Suri Anni mengetahui bahwa Fery Ardiansyah bin Hanafiah (didakwa dalam berkas terpisah) dan Kyno Nathaniel als Kyno (didakwa dalam berkas terpisah)
sering mengakses nomor-nomor atau data-data kartu kredit atau kartu debit palsu dari berbagai macam bank, menggunakannya untuk belanja, dan juga menjual nomor atau data kartu kredit atau kartu debit milik orang lain tanpa sepengetahuan pemiliknya, di mana Fery Ardiansyah bin Hanafiah (didakwa dalam berkas terpisah) dan Kyno Nathaniel als Kyno (didakwa dalam berkas terpisah) memperoleh nomor-nomor atau data-data kartu kredit atau kartu debit milik orang lain tanpa sepengetahuan pemiliknya dari berbagai macam bank dengan mengakses melalui media www.icq.com
dan www.topdumpspro.com, juga mengakses nomor-nomor atau data-data kartu kredit atau kartu debit milik orang lain melalui media
www.liberty.reserve.com, di mana kedua saksi tersebut mengetahui bahwa di website tersebut menjual nomor-nomor atau data-data kartu kredit atau kartu debit milik orang lain tanpa dengan cara mengambil data-data kartu kredit atau kartu debit orang lain tanpa sepengetahuan pemiliknya.
Setelah mengenal kedua saksi, kemudian Suri Anni als Annie Tio als Chia als Chialing Vandezz sering berkomunikasi dengan kedua saksi untuk mendapatkan nomor-nomor atau data-data kartu kredit atau kartu debit milik orang lain, yaitu dengan Fery Ardiansyah bin Hanafiah (didakwa dalam berkas terpisah), Suri Anni berkomunikasi melalui situs
www.icq.com, di mana di dalam situs tersebut Suri Anni berkomunikasi dengan saksi yang berdomisili di Sidoarjo, Jawa Timur dengan nama
account di www.icq.com dengan nama Ferrenz, saksi memberikan data kartu debit Mandiri kepada Suri Anni termasuk data kartu-kartu yang
lainnya. Di mana Suri Anni harus membayar kepada saksi dengan harga masing-masing data kartu bervariasi ada yang harga Rp. 300.000,- (tiga ratus ribu rupiah) dan Rp. 400.000,- (empat ratus ribu rupiah) maupun Rp. 500.000,- (lima ratus ribu rupiah). Kemudian nomor-nomor atau data-data kartu kredit atau kartu debit yang diberikan saksi digandakan Suri Anni tanpa sepengetahuan pemiliknya dengan cara di-input saksi ke kartu kredit atau kartu debit yang baru (kartu palsu) dengan menggunakan mesin
encoder milik Suri Anni, selain itu Suri Anni juga sering berkomunikasi dengan menggunakan telepon dengan saksi melalui nomor telepon 082142480000 dan 03191728528. Bersama dengan Kyno Nathaniel als Kyno (didakwa dalam berkas terpisah), Suri Anni membuka situs
www.topdumps.pro atau www.dumps777.com atau www.icq.com dan di situs www.greatdumps.cc dengan username Kelvin Thio, dengan password
“anniethio898788”, dan dengan e-mail “[email protected]”. Kyno Nathaniel menggunakan nama Raja Bintang dan Qno Kingstar Tasmania dan Fresh Dump dan juga via Facebook, telepon, dan BBM (BlackBerry Messenger) dengan nomor PIN 22BF2E27 dan 21DF6872, untuk memesan dan mendapatkan nomor-nomor atau data-data kartu kredit melalui media ICQ dan Liberty Reserver kepada saksi dan untuk harga satu nomor atau data kartu kredit atau kartu debit milik orang lain yang diberikan saksi, maka Suri Anni harus membayar sekitar Rp. 300.000,- (tiga ratus ribu rupiah). Bahwa setiap kali Suri Anni dan Thiam Kim berkomunikasi dan membeli nomor-nomor atau data-data kartu kredit
atau kartu debit milik orang lain dari berbagai macam bank dari Fery Ardiansyah bin Hanafiah (didakwa dalam berkas terpisah) dan Kyno Nathaniel als Kyno (didakwa dalam berkas terpisah) diketahui oleh Thiam Kim als Acuan yang merupakan suami dari Suri Anni als Annie Tio als Chia als Chialing Vandezz dan setelah Suri Anni mendapatkan nomor- nomor atau data-data kartu kredit atau kartu debit milik orang lain dari kedua saksi, kemudian oleh Suri Anni, data kartu tersebut digandakan Suri Anni tanpa sepengetahuan pemiliknya dengan dibantu dan disaksikan Thiam Kim di rumah Jalan Krakatau Pembangunan IV No. 67 N, Kelurahan Glugur Darat, Kecamatan Medan Timur, Medan, Sumatera Utara, milik Suri Anni dan Thiam Kim, dengan cara di-input oleh Suri Anni ke kartu kredit atau kartu debit yang baru (kartu palsu) dengan menggunakan mesin encoder milik Suri Anni.
Setelah kartu kredit atau kartu debit tersebut di-input datanya oleh Suri Anni, kemudian Suri Anni mencetak nomor kartu dan nama kartu pada kertas stiker yang dapat ditempelkan pada fisik kartu yang di-input
oleh Suri Anni tadi, sehingga nomor kartu kredit kartu debit yang di-input
oleh Suri Anni sesuai dengan nomor kartu yang di luar (fisiknya), maka kartu kartu kredit atau kartu debit palsu tersebut siap digunakan berbelanja sebagai alat pembayaran.
Bahwa setelah kartu kredit atau kartu debit palsu dari berbagai macam bank yang dibuat oleh Suri Anni tersebut siap digunakan berbelanja, selanjutnya Suri Anni als Annie Tio als Chia als Chialing
Vandezz dan Thiam Kim als Acuan, menggunakan kartu tersebut bertransaksi di toko-toko di wilayah Medan, Sumatera Utara, diantaranya digunakan bertransaksi pada tanggal 12 Maret 2013 di Toko Wijaya Fasion Jalan Platina Raya No. 294 J, Medan, Sumatera Utara, untuk membeli pakaian-pakaian yang nilainya sebesar Rp. 3.000.000,- (tiga juta rupiah) dengan kartu Mandiri dengan nomor “4465400039953072” dan selanjutnya Suri Anni dan Thiam Kim juga pergi ke Pekanbaru, Riau, untuk bertransaksi di toko-toko di wilayah Pekanbaru, diantaranya bertransaksi untuk membeli jam tangan pada tanggal 21 Maret 2013 di Toko Jam City Time di Jalan Senanpelan, Pekanbaru, Riau, yang nilai transaksinya sebesar Rp. 1.500.000,- (satu juta lima ratus ribu rupiah)
decline atau tidak disetujui.
Suri Anni dan Thiam Kim mengambil dan menggunakan untuk bertransaksi nomor-nomor atau data-data kartu kredit atau kartu debit dari berbagai macam bank milik orang lain tanpa ijin dan sepengetahuan pemilik kartu atau bank pemilik kartu kredit yang tergabung dalam Asosiasi Kartu Kredit Indonesia (AKKI) yang menyebabkan pemilik kartu atau bank pemilik kartu kredit yang tergabung dalam Asosiasi Kartu Kredit Indonesia (AKKI) mengalami kerugian materiil yang besar atau setidaknya kurang lebih Rp. 3.000.000,- (tiga juta rupiah) atau setidak- tidaknya lebih dari Rp. 250,- (dua ratus lima puluh rupiah).
Jaksa Penuntut Umum mengajukan Suri Anni dan Thiam Kim sebagai para Terdakwa di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dengan Dakwaan Kombinasi Kumulatif karena telah melakukan perbuatan pidana sebagai berikut:
Pertama : Pasal 363 ayat (1) ke-4 KUHPidana;
Kedua (Primair) : Pasal 3 Undang-undang RI Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan
Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana;
Kedua (Subsidair) : Pasal 5 Undang-undang RI Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan
Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana;
Ketiga : Pasal 363 ayat (1) ke-4 KUHPidana jo. Pasal 56 ayat (1) KUHPidana (khusus untuk
Terdakwa II).
c. Tuntutan
Jaksa Penuntut Umum menuntut agar Pengadilan Negeri Jakarta Selatan:
1. Menyatakan Terdakwa I SURI ANNI als ANNIE TIO als CHIA als CHIALING VANDEZZ dan Terdakwa II THIAM KIM als ACUAN tidak terbukti secara sah dan meyakinkan terbukti bersalah melakukan tindak pidana “secara bersama-sama yang menempatkan, mentransfer, mengalihkan, membelanjakan, membayarkan, menghibahkan, menitipkan, membawa ke luar negeri, mengubah bentuk, menukarkan dengan mata uang atau surat berharga atau perbuatan lain atas harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) dengan tujuan menyembunyikan atau menyamarkan asal usul harta kekayaan”, sebagaimana dalam Dakwaan Kedua Primair, yakni Pasal 3 Undang-undang RI Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana;
2. Membebaskan Terdakwa I SURI ANNI als ANNIE TIO als CHIA als CHIALING VANDEZZ dan Terdakwa II THIAM KIM als ACUAN dari Dakwaan Kedua Primair tersebut;
3. Menyatakan Terdakwa I SURI ANNI als ANNIE TIO als CHIA als CHIALING VANDEZZ dan Terdakwa II
THIAM KIM als ACUAN secara sah dan meyakinkan terbukti bersalah melakukan tindak pidana “Pencurian dalam keadaan memberatkan dan secara bersama-sama menerima, mentransfer, pembayaran, hibah, sumbangan, penitipan, penukaran, atau menggunakan harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1)”, sebagaimana dalam Dakwaan Pertama, yakni Pasal 363 ayat (1) ke-4 KUHPidana dan Dakwaan Kedua Subsidair, yakni Pasal 5 Undang-undang RI Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana;
4. Menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa I SURI ANNI als ANNIE TIO als CHIA als CHIALING VANDEZZ dan Terdakwa II THIAM KIM als ACUAN dengan pidana penjara selama 2 (dua) tahun 6 (enam) bulan serta membayar denda sebesar Rp. 1.000.000,- (satu juta rupiah) subsidair 1 (satu) bulan kurungan, sedangkan untuk Terdakwa II THIAM KIM als ACUAN dengan pidana penjara selama selama 1 (satu) tahun 6 (enam) bulan dikurangi selama para Terdakwa menjalani masa tahanan sementara dengan perintah para Terdakwa tetap ditahan;
5. Menyatakan barang bukti berupa:
a. 2 (dua) buah HP merek BlackBerry Gemini berwarna putih dan hitam;
b. 1 (satu) buah HP merek Samsung Type 6T-E1195 berwarna merah;
c. 1 (satu) buah printer merek HP Type Deskjet 2010; d. 1 (satu) buah printer merek HP Type Laserjet Pro
P1102;
e. 1 (satu) buah printer merek Epson Type IP 2770; f. 1 (satu) buah laptop merek ACER ASPIRE 4738; g. 1 (satu) buah laptop merek E-MACHINES. Dirampas untuk negara;
a. 3 (tiga) buah kipas pendingin laptop;
b. 1 (satu) buah mesin EDC Bank BII dengan IMEI “355976003583699” dengan S/N “601-305-567”; c. 2 (dua) buah mouse komputer;
d. 1 (satu) bundel catatan berisi nomor kartu kredit; e. 1 (satu) lembar bahan membuat kartu kredit;
f. 1 (satu) bundel printout website
www.dumps777.com;
g. 1 (satu) bundel stiker bergambar kartu kredit siap tempel;
h. 16 (enam belas) keping berbagai CD program
komputer;
i. 59 (lima puluh sembilan) kartu kredit dan kartu debit berbagai bank;
j. 1 (satu) buah KTP atas nama THIAM KIM dengan nomor KTP “1271202604760001”;
k. 1 (satu) buah KTP atas nama SURI ANNI dengan nomor KTP “1471115801770042”;
l. 37 (tiga puluh tujuh) buah kartu magnetik elektrik; m. 2 (dua) buah USB Flashdisk masing-masing
berkapasitas 4 GB merek Kingston dan 8 GB merek Kingston;
n. 1 (satu) unit laptop HP;
o. 1 (satu) buah kartu perdana AS dengan nomor “082388271446”;
p. 1 (satu) bundel bukti transaksi bank; q. 1 (satu) unit HP Nokia berwarna merah; r. 1 (satu) bundel tiket pesawat;
s. 1 (satu) buah Router Telkom Speedy merek TP- Link;
t. 1 (satu) buah Encoder; Dirampas untuk dimusnahkan;
6. Menetapkan supaya Terdakwa membayar biaya perkara sebesar Rp 2.000,- (dua ribu rupiah).
d. Putusan
Majelis Hakim akan mulai terlebih dahulu mempertimbangkan Dakwaan Pertama, yaitu Pasal 363 ayat (1) ke-4 KUHPidana dan kemudian Dakwaan berikutnya dan selanjutnya akan dibuktikan pasal yang terbukti yang dilakukan oleh para Terdakwa dengan unsur-unsur sebagai berikut:
1. Barangsiapa;
2. Mengambil barang sesuatu yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum;
3. Dilakukan 2 (dua) orang atau lebih dengan bersekutu; Menimbang, bahwa selanjutnya Majelis Hakim akan membuktikan Dakwaan Kedua Primair, yaitu melanggar Pasal 3 Undang-undang RI Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana, dengan unsur-unsur sebagai berikut:
1. Unsur setiap orang;
2. Unsur yang menempatkan, mentransfer, mengalihkan, membelanjakan, membayarkan, menghibahkan, menitipkan, membawa ke luar negeri, mengubah bentuk, menukarkan dengan mata uang atau surat berharga atau perbuatan lain
atas harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) dengan tujuan menyembunyikan atau menyamarkan asal usul harta kekayaan;
3. Unsur sebagai yang melakukan, menyuruh melakukan, dan turut serta melakukan.
M E N G A D I L I
1. Menyatakan Terdakwa I SURI ANNI als ANNIE TIO als CHIA als CHIALING VANDEZZ dan Terdakwa II THIAM KIM als ACUAN tidak terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana dalam “Dakwaan DAN KEDUA PRIMAIR” dan ”Dakwaan DAN KEDUA SUBSIDAIR”;
2. Membebaskan para Terdakwa dari Dakwaan-dakwaan tersebut;
3. Menyatakan Terdakwa I SURI ANNI als ANNIE TIO als CHIA als CHIALING VANDEZZ telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana kejahatan “pencurian memberatkan” dan Terdakwa II THIAM KIM als ACUAN telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana kejahatan “membantu pencurian memberatkan”;
4. Mempidana Terdakwa I SURI ANNI als ANNIE TIO als CHIA als CHIALING VANDEZZ oleh karena itu dengan pidana penjara selama 2 (dua) tahun dan Terdakwa II THIAM KIM als ACUAN oleh karena itu dengan pidana penjara selama 1 (satu) tahun;
5. Memerintahkan masa penangkapan dan penahanan yang telah dijalani para Terdakwa dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan;
6. Memerintahkan para Terdakwa tetap berada dalam tahanan; 7. Memerintahkan barang bukti berupa:
a. 2 (dua) buah HP merek BlackBerry Gemini berwarna putih dan hitam;
b. 1 (satu) buah HP merek Samsung Type 6T-E1195 berwarna merah;
c. 1 (satu) buah printer merek HP Type Deskjet 2010; d. 1 (satu) buah printer merek HP Type Laserjet Pro
P1102;
e. 1 (satu) buah printer merek Epson Type IP 2770; f. 1 (satu) buah laptop merek ACER ASPIRE 4738; g. 1 (satu) buah laptop merek E-MACHINES; Dirampas untuk negara;
b. 1 (satu) buah mesin EDC Bank BII dengan IMEI “355976003583699” dengan S/N “601-305-567”; c. 2 (dua) buah mouse komputer;
d. 1 (satu) bundel catatan berisi nomor kartu kredit; e. 1 (satu) lembar bahan membuat kartu kredit;
f. 1 (satu) bundel printout website
www.dumps777.com;
g. 1 (satu) bundel stiker bergambar kartu kredit siap tempel;
h. 16 (enam belas) keping berbagai CD program
komputer;
i. 59 (lima puluh sembilan) kartu kredit dan kartu debit berbagai bank;
j. 1 (satu) buah KTP atas nama THIAM KIM dengan nomor KTP “1271202604760001”;
k. 1 (satu) buah KTP atas nama SURI ANNI dengan nomor KTP “1471115801770042”;
l. 37 (tiga puluh tujuh) buah kartu magnetik elektrik; m. 2 (dua) buah USB Flashdisk masing-masing
berkapasitas 4 GB merek Kingston dan 8 GB merek Kingston;
o. 1 (satu) buah kartu perdana AS dengan nomor “082388271446”;
p. 1 (satu) bundel bukti transaksi bank; q. 1 (satu) unit HP Nokia berwarna merah; r. 1 (satu) bundel tiket pesawat;
s. 1 (satu) buah Router Telkom Speedy merek TP- Link;
t. 1 (satu) buah Encoder; Dirampas untuk dimusnahkan;
8. Membebani para Terdakwa membayar biaya perkara masing-masing sebesar Rp. 2.000,- (dua ribu rupiah);
e. Analisis Kasus
Berdasarkan kasus yang Penulis dapatkan dari Pengadilan Negeri Jakarta Selatan terhadap putusan Pidana No. 1193/Pid/B/2013/PN.Jak.Sel. yang sudah inkracht van gewijsde mengenai pencurian memberatkan dan tindak pidana pencucian uang dengan menggunakan kartu kredit dan kartu debit palsu, maka Penulis akan memberikan tanggapan atau analisis sebagai berikut:
Kejahatan yang dilakukan oleh para Terdakwa dalam kasus ini diatur dalam Pasal 363 ayat (1) ke-4 KUHPidana dengan unsur-unsur sebagai berikut:
2. Mengambil barang sesuatu yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum;
3. Dilakukan 2 (dua) orang atau lebih dengan bersekutu. Unsur barangsiapa dapat dilihat dari adanya pelaku kejahatan, yaitu Suri Anni dan Thiam Kim yang harus bertanggung jawab atas perbuatan yang didakwakan kepadanya yang terbukti secara sah dan meyakinkan. Suri Anni dan Thiam Kim melakukan transaksi di Medan, Pekanbaru, dan DKI Jakarta dengan menggunakan kartu kredit milik Andi yang telah dipalsukan. Perbuatan atau cara-cara yang dilakukan oleh Suri Anni dan Thiam Kim adalah perbuatan melawan hukum karena dalam buku “Asas Hukum Pidana” oleh S. R. Sianturi, melawan hukum atau melawan hak adalah bersifat melawan hukum atau tidak sesuai dengan larangan atau kekuasaan hukum atau menyerang suatu kepentingan yang dilindungi oleh hukum. Suri Anni juga dibantu oleh Thiam Kim yang tidak lain adalah suaminya sendiri untuk dapat memperlancar aksinya dalam melakukan pencurian nomor kartu kredit, di mana nomor kartu kredit tersebut didapat dari Fery Ardiansyah dan Kyno Nathaniel melalui website-website yang menjual nomor-nomor kartu kredit secara online dan menjualnya kepada Suri Anni dengan harga yang bervariasi, mulai dari Rp. 300.000,- (tiga ratus ribu rupiah) hingga Rp. 500.000,- (lima ratus ribu rupiah), setelah itu Suri Anni dibantu oleh suaminya, Thiam Kim untuk menggandakan kartu kredit tanpa sepengetahuan pemiliknya di rumah pribadinya dengan cara
di-input oleh Suri Anni ke kartu kredit yang baru (kartu palsu) dengan menggunakan mesin encoder milik Suri Anni. Setelah kartu kredit tersebut di-input datanya, kemudian Suri Anni mencetak nomor kartu dan nama kartu pada kertas stiker yang dapat ditempelkan pada fisik kartu yang di-
input tadi, sehingga nomor kartu kredit kartu debit yang di-input sesuai dengan nomor kartu yang di luar (fisiknya), maka kartu kredit palsu tersebut siap digunakan berbelanja sebagai alat pembayaran. Suri Anni dan Thiam Kim menggunakan kartu kredit yang telah dipalsukan tersebut di beberapa kota, yaitu Medan, Pekanbaru, dan DKI Jakarta.
Bahwa dengan terbuktinya seluruh unsur-unsur yang dilakukan oleh para Terdakwa sesuai dengan Pasal 363 ayat (1) ke-4 KUHPidana, maka pasal tersebut yang didakwakan oleh Jaksa Penuntut Umum dinyatakan telah terbukti secara sah dan meyakinkan menurut hukum.
Dilihat dari perbuatan dan cara yang dilakukan para Terdakwa, maka Jaksa Penuntut Umum telah menggunakan dasar hukum yang tepat dalam merumuskan Dakwaannya, yaitu secara kombinasi kumulatif karena terdapat 3 (tiga) Dakwaan dengan menggunakan Pasal 2 ayat (1), sebagaimana dalam Dakwaan Pertama, yakni Pasal 363 ayat (1) ke-4 KUHPidana dan Dakwaan Kedua Subsidair, yakni Pasal 5 Undang-undang RI Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana dan dalam tuntutannya, Jaksa Penuntut Umum berkesimpulan bahwa Pasal 363 ayat (1) ke-4 KUHPidana lebih tepat digunakan sebagai dasar tuntutan pidana
bagi para Terdakwa. Penulis juga sangat sepakat dengan apa yang dilakukan oleh Jaksa Penuntut Umum karena perbuatan para Terdakwa lebih cenderung sebagai perbuatan yang merugikan masyarakat, khususnya para pengguna kartu kredit, akan tetapi akan lebih tepat lagi jika Jaksa Penuntut Umum juga menggunakan undang-undang yang lebih khusus (lex specialis) mengenai kejahatan yang berkaitan dengan teknologi komputer dan/atau sistem komputer, yaitu Undang-undang RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, khususnya pada Pasal 30 ayat (3), Pasal 32 ayat (1), Pasal 32 ayat (2), dan Pasal 35 ayat (1).
Majelis Hakim juga menjatuhkan vonis yang lebih ringan daripada yang dituntut oleh Jaksa Penuntut Umum, yaitu menuntut agar Majelis Hakim menjatuhkan pidana terhadap Suri Anni dan Thiam Kim dengan pidana penjara selama 2 (dua) tahun 6 (enam) bulan serta membayar denda sebesar Rp. 1.000.000,- (satu juta rupiah) dan subsidair 1 (satu) bulan kurungan, sedangkan untuk Thiam Kim dihukum dengan pidana penjara selama selama 1 (satu) tahun 6 (enam) bulan dan dikurangi selama para Terdakwa menjalani masa tahanan sementara dengan perintah para Terdakwa tetap ditahan, yang pada akhirnya Majelis Hakim memberikan vonis yang lebih ringan, yaitu memidana Suri Anni dengan pidana penjara selama 2 (dua) tahun dan Thiam Kim dengan pidana penjara selama 1 (satu) tahun.
Dengan diterapkannya ketentuan pidana dalam kasus tersebut di atas memperlihatkan bahwa hukum pidana (penal) telah digunakan dalam menangani kejahatan yang berkaitan dengan kartu kredit yang dilakukan oleh Terdakwa. Penerapan pasal pada KUHPidana tersebut diharapkan dapat membawa manfaat bagi si korban, yaitu walaupun tidak dapat mengembalikan barang atau materi milik si korban, tetapi setidaknya dapat memberikan rasa kepuasan batin bagi si korban, berupa pemberian pidana terhadap para Terdakwa.
Hukum pidana merupakan ultimum remedium (sarana terakhir) dan hukum pidana dengan sarana penal mempunyai keterbatasan dalam menanggulangi kejahatan. Sarana penal dianggap berfungsi setelah kejahatan terjadi, sehingga hukum pidana tidak dapat berfungsi maksimal sebagai efek pencegah sebelum kejahatan terjadi, oleh karena itu, dalam upaya penanggulangan kejahatan kartu kredit atau credit card fraud atau
BAB V