• Tidak ada hasil yang ditemukan

UANG DI INDONESIA

F. Kerangka Teori dan Konseps

Penulis menggunakan pisau analisis berikut dalam kerangka teori dan konsepsi, antara lain:

a. Grand Theory

Adapun yang menjadi Grand Theory atau Teori Besar yang

digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah Teori Legal System dari

Lawrence Friedman, bahwa hukum terdiri dari sistem hukum (legal

system) memiliki cakupan yang luas dari hukum itu sendiri. Kata “hukum” sering hanya mengacu pada aturan dan peraturan, padahal menurut Lawrence Friedman, sistem hukum membedakan antara aturan dan peraturan, struktur serta lembaga dan proses yang ada dalam sistem itu. Bekerjanya hukum dalam suatu sistem ditentukan oleh 3 (tiga) unsur, yaitu struktur hukum (legal structure), substansi hukum (legal substance), dan budaya hukum (legal culture).25

Struktur hukum (legal structure) merupakan kerangka berpikir

yang memberikan pengertian dan bentuk bagi bekerjanya sistem yang ada dengan batasan yang telah ditentukan. Jadi, struktur hukum dapat dikatakan sebagai institusi yang menjalankan penegakan hukum dengan

25 Lawrence Friedman, American Law in an Intorduction, W.W. Norton & Company,

New York, halaman 4, dikutip dari buku Marlina, Peradilan Pidana Anak di Indonesia: Pengembangan Konsep Diversi dan Restorative Justice, PT. Refika Aditama, Bandung, 2009, halaman 14.

segala proses yang ada di dalamnya. Struktur hukum (legal structure) dalam sistem peradilan pidana (criminal justice system) yang menjalankan proses peradilan pidana adalah Kepolisian, Kejaksaan, Kehakiman, dan

Lembaga Pemasyarakatan.26

Substansi hukum (legal substance) merupakan aturan, norma, dan pola perilaku manusia yang berada di dalam sistem hukum dan substansi hukum (legal substance) berarti produk yang dihasilkan oleh orang yang berada di dalam sistem hukum itu, baik berupa keputusan yang telah dikeluarkan maupun aturan-aturan baru yang telah dan/atau akan disusun. Substansi hukum (legal substance) tidak hanya terdapat pada hukum yang

tertulis (law in the book), tetapi juga mencakup hukum yang hidup di

masyarakat (living law).27

Budaya hukum (legal culture) merupakan sikap manusia terhadap

hukum dan sistem hukum. Sikap ini meliputi kepercayaan, nilai-nilai, ide- ide, serta harapan masyarakat terhadap hukum dan sistem hukum. Budaya hukum juga merupakan kekuatan sosial yang menentukan bagaimana

hukum disalahgunakan. Budaya hukum (legal culture) mempunyai

peranan yang besar dalam sistem hukum. Tanpa budaya hukum (legal

culture), maka sistem hukum (legal system) akan kehilangan kekuatannya, seperti ikan mati yang terdampar di keranjangnya, bukan ikan hidup yang

26Ibid.

berenang di lautan (without legal culture, the legal system is meet-as dead fish lying in a basket, not a living fish swimming in its sea).28

Menurut Masaki Hamano dalam tulisannya yang berjudul

Comparative Study in the Approach to Jurisdiction in Cyberspace (Studi

Banding dalam Pendekatan Yurisdiksi di Mayantara), mengemukakan

terlebih dahulu adanya yurisdiksi yang didasarkan pada prinsip-prinsip tradisional, menurutnya ada 3 (tiga) kategori yurisdiksi tradisional, yaitu yurisdiksi legislatif (legislative jurisdiction atau jurisdiction to prescribe), yurisdiksi yudisial (judicial jurisdiction atau jurisdiction to adjudicate), dan yurisdiksi eksekutif (jurisdiction atau jurisdiction to enforce).29

Penulis mengamati bagaimana terjadinya kejahatan carding yang

menggunakan sarana dunia maya atau cyberspace untuk mencapai tujuan

akhir yaitu mengambil hak orang lain dengan mencuri atau menipu yang melanggar norma-norma hukum.

b. Middle Theory

Adapun yang menjadi Middle Theory atau Teori Tengah yang

digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah Penulis menggunakan Teori

Pertanggungjawaban Pidana (Responsiblity Crimes), yaitu teori yang

terdiri dari 2 (dua) istilah yang menunjuk pada pertanggungjawaban

dalam kamus hukum, yaitu liability dan responsibility. Sebagaimana

liability merupakan istilah hukum yang luas yang menunjuk hampir semua karakter risiko atau tanggung jawab, yang pasti, yang bergantung, atau

28Ibid.

29 Barda Nawawi Arief, Tindak Pidana Mayantara: Perkembangan Kajian Cyber Crime di Indonesia, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2006, halaman 28.

yang mungkin meliputi semua karakter hak dan kewajiban secara aktual atau potensial seperti kerugian, ancaman, kejahatan, biaya, atau kondisi yang menciptakan tugas untuk melaksanakan undang-undang.

Responsibility berarti hal yang dapat dipertanggungjawabkan atas suatu kewajiban, dan termasuk putusan, keterampilan, kemampuan, dan kecakapan meliputi juga kewajiban bertanggung jawab atas undang- undang yang dilaksanakan. Menurut pengertian dan penggunaan praktis,

istilah liability menunjuk pada pertanggungjawaban hukum, yaitu

tanggung jawab akibat kesalahan yang dilakukan oleh subjek hukum,

sedangkan istilah responsibility cenderung merujuk pada

pertanggungjawaban politik.30

c. Applied Theory

Adapun yang menjadi Applied Theory atau Teori Terapan yang

digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah Teori Kebijakan Hukum Pidana. Istilah kebijakan berasal dari bahasa Inggris, yaitu policy atau dalam bahasa Belanda, politiek, yang secara umum dapat diartikan sebagai prinsip-prinsip umum yang berfungsi untuk mengarahkan pemerintah dalam arti luas termasuk aparat penegak hukum dalam mengelola, mengatur, menyelesaikan urusan-urusan publik, masalah-masalah masyarakat atau bidang-bidang penyusunan peraturan perundang- undangan, dan pengaplikasian hukum atau peraturan, dengan tujuan (umum) yang mengarah pada upaya mewujudkan kesejahteraan atau

30 Ridwan H. R., Hukum Administrasi Negara, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta,

kemakmuran masyarakat (warga negara).31 Bertolak dari kedua istilah asing tersebut, maka istilah kebijakan hukum pidana dapat juga disebut dengan istilah politik hukum pidana, dalam kepustakaan asing istilah politik hukum pidana ini sering dikenal dengan berbagai istilah, antara lain

penal policy, criminal law policy, atau staftrechtspolitiek.32

Sebagai tujuan akhir dari penulisan skripsi ini, maka yang

merupakan final goal atau tujuan akhirnya adalah bahwa kejahatan

carding atau kejahatan kartu kredit merupakan kejahatan yang dilakukan secara terstruktur dan sistematis, maka sangat diperlukan suatu kebijakan hukum pidana berkaitan dengan kejahatan kartu kredit tersebut untuk melakukan pencegahan agar tidak terjadi tindak kriminal yang merugikan orang lain atas perbuatan tindak pidana dan penalisasi, yaitu sanksi apa yang sebaiknya dikenakan pada si pelaku tindak pidana, khususnya kejahatan kartu kredit (carding). Perbuatan kriminal dan/atau penal

dan/atau sanksi hukum menjadi masalah sentral dalam penanganannya diperlukan pendekatan yang berorientasi pada kebijakan (policy oriented approach). Kriminalisasi (criminalisation) mencakup lingkup perbuatan

melawan hukum (actus reus), pertanggungjawaban pidana (mens rea),

sanksi yang dapat dijatuhkan baik berupa pidana (punishment), maupun

tindakan (treatment). Kriminalisasi harus dilakukan secara hati-hati, jangan sampai menimbulkan kesan represif yang melanggar prinsip

31 Barda Nawawi Arief, Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana, PT. Citra Aditya

Bakti, Bandung, 2010, halaman 23-24.

32 Aloysius Wisnubroto, Kebijakan Hukum Pidana dalam Penanggulangan Penyalahgunaan Komputer, Universitas Atmajaya, Yogyakarta, 1999, halaman 10.

ultimum remedium atau ultima ratio principle dan menjadi bumerang

dalam kehidupan sosial berupa kriminalisasi yang berlebihan (over

criminalisation), yang justru mengurangi wibawa hukum. Kriminalisasi dalam hukum pidana materiil akan diikuti pula oleh langkah-langkah pragmatis dalam hukum pidana formil untuk kepentingan penyidikan dan penuntutan.33 Pada tahap selanjutnya, hukum yang telah dipilih sebagai sarana untuk mengatur kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang berwujud peraturan perundang-undangan melalui aparatur negara, maka perlu ditindaklanjuti usaha pelaksanaan hukum sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. Tahap ini termasuk ke dalam bidang penegakan hukum, dalam hal ini perlu diperhatikan komponen- komponen yang terdapat dalam sistem hukum, yaitu struktur, substansi, dan kultur.34

d. Pengertian Kejahatan

Kejahatan adalah suatu perbuatan-perbuatan tertentu sebagai perbuatan jahat, dengan demikian si pelaku disebut penjahat. Pengertian mengenai penjahat sangatlah relatif karena pengertian tersebut bersumber dari alam, yaitu sangat bergantung pada manusia yang memberikan penilaian.

Secara empiris, pengertian kejahatan dapat dilihat dari dua perspektif, pertama adalah kejahatan dalam perspektif yuridis, kejahatan

33 Muladi, Kebijakan Kriminal terhadap Cybercrime, Majalah Media Hukum Vol. 1

No. 3 tanggal 22 Agustus 2003, halaman 1-2.

34 Hakristuti Harkrisnowo, Reformasi Hukum: Menuju Upaya Sinergistis untuk Mencapai Supremasi Hukum yang Berkeadilan, Jurnal Keadilan Vol. 3 No. 6, tahun 2003/2004.

dirumuskan sebagai perbuatan oleh negara diberi pidana. Pemberian pidana ini dimaksudkan untuk mengembalikan keseimbangan yang

terganggu akibat perbuatan itu.35 Kejahatan dalam arti yuridis dapat

dilihat, misalnya di dalam sistem KUHPidana di Indonesia. KUHPidana membedakan antara perbuatan yang digolongkan “pelanggaran” dan perbuatan yang digolongkan “kejahatan”.36 Kedua, kejahatan dalam arti (perspektif) sosiologis (kriminologis) merupakan suatu perbuatan yang dari sisi sosiologis merupakan kejahatan, sedangkan dari segi yuridis (hukum positif) bukan merupakan suatu kejahatan.37 Artinya, perbuatan tersebut oleh negara tidak dijatuhi pidana. Perbuatan ini dalam ilmu

hukum pidana disebut dengan strafwaardig, artinya perbuatan tersebut

patut atau pantas dipidana, dikarenakan penjatuhan pidana merupakan upaya untuk mengembalikan keseimbangan yang terganggu akibat perbuatan (kejahatan) tersebut.38

Secara sosiologis, kejahatan adalah semua bentuk ucapan, perbuatan, dan tingkah laku yang secara ekonomis, politis, dan sosial- psikologis sangat merugikan masyarakat, melanggar norma-norma susila, dan menyerang keselamatan warga masyarakat (baik yang telah tercakup

35 B. Simanjuntak, Pengantar Kriminologi dan Patologi Sosial, Tarsito, Bandung,

1981, halaman 70.

36 Gerson W. Bawengan, Op.cit., halaman 9.

37 B. Simanjuntak, Op.cit., halaman 70.

dalam undang-undang, maupun yang belum tercakup dalam undang- undang pidana).39

e. Pengertian Kejahatan Carding

Carding atau credit card fraud, suatu kejahatan kartu kredit, merupakan salah satu bentuk dari pencurian (theft) dan kecurangan (fraud)

di dunia internet yang dilakukan oleh pelakunya dengan menggunakan

kartu kredit (credit card) curian atau kartu kredit palsu yang dibuat sendiri dengan tujuan untuk membeli barang secara tidak sah atas beban rekening dari pemilik kartu kredit yang sebenarnya (yang asli) atau untuk menarik dana secara tidak sah dari suatu rekening bank milik orang lain.40

Sudut pandang dalam mengkaji permasalahan dengan mengasumsikan adanya berbagai perubahan akibat dunia yang semakin global dan tanpa batas (globalized and borderless world) berarti tidak terpaut adanya jarak, ruang, dan waktu, maka dapat dianggap pula semakin tidak terbatasnya kemungkinan perubahan dalam bidang teknologi, politik, ekonomi, dan informasi-informasi lain.41

Perkembangan teknologi dengan berbagai bentuk kecanggihan informasi, komunikasi, dan transportasi menjadi salah satu faktor yang

39 Kartini Kartono, Patologi Sosial, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2001,

halaman 126.

40 Wikipedia, Credit Card Fraud, http://en.wikipedia.org/wiki/credit_card_fraud,

diakses pada tanggal 21 Januari 2016, pukul 13.00 WIB.

41 Johannes Ibrahim, Kartu Kredit: Dilematis Antara Kontrak dan Kejahatan, PT.

membuat modus kejahatan semakin marak dilakukan oleh pelaku-pelaku kejahatan, diantaranya dengan menggunakan kartu kredit.42

Modus dalam kejahatan kartu kredit merupakan salah satu bentuk kejahatan bisnis. Memahami makna dari kejahatan bisnis, perlu kiranya untuk mencermati perkembangan yang terjadi dalam praktik bisnis dengan berbagai modus, diantaranya adalah dalam bidang kompetisi yang dikenal dengan unfair competion, yaitu berupa tindakan tying contract, exclusive dealing, price discrimination, price fixing, penggabungan perusahaan,

false advertising (penipuan iklan), dan kejahatan lingkungan hidup (environmental crime).43

Selanjutnya dipertegas bahwa kejahatan bisnis:44

“Meliputi serangkaian perbuatan salah atau jahat yang lebih luas yang walau bagaimanapun juga merugikan dan selain itu tidak diinginkan karena berakibat paksaan, kurang kompeten, kelalaian, kecerobohan, kurangnya latihan, kurang jelasnya peraturan, peluang, pelanggaran teknis, atau pikiran jahat belaka, bukannya penipuan yang dikalkulasi saja dan bermotivasi kerakusan atau ketamakan”.

Sebelum memahami kejahatan bisnis dengan lebih lanjut, perlu diketahui mengenai pengertian dari kejahatan bisnis, pertama, yaitu kelakuan tidak senonoh atau perbuatan jahat yang terjadi dalam lingkungan bisnis dan kejahatan bisnis ini terjadi dalam kegiatan bisnis

yang legal. Permasalahan yang terutama dalam kejahatan bisnis adalah

sejauh mana konteks bisnis ini menyusun peluang-peluang bagi perbuatan jahat dan bagaimana cara menangani perbuatan jahat dan tidak senonoh

42Ibid.

43Ibid.

ini, kedua, adalah disediakannya kesempatan legal untuk eksploitasi dan konsekuensi kunci pokok mengenai ini adalah dapat dipertandingkannya delik tersebut. Dua hal yang dapat disimpulkan untuk menarik pengertian tentang kejahatan bisnis adalah, pertama, perbuatan tidak senonoh atau jahat yang terjadi dalam lingkungan yang sah dan yang kedua adalah lingkungan itu menyediakan kejahatan bisnis dan ciri yang dapat dipertandingkan.45

f. Pengertian Tindak Pidana

Istilah tindak pidana berasal dari istilah yang dikenal dalam hukum pidana Belanda, yaitu “strafbaar feit”. Para ahli hukum mengemukakan istilah yang berbeda-beda dalam upaya memberikan arti dari strafbaar feit. Adami Chazawi telah menginventarisir sejumlah istilah-istilah yang pernah digunakan baik dalam perundang-undangan yang ada maupun dalam berbagai literatur hukum sebagai terjemahan dari istilah strafbaar feit, yaitu sebagai berikut:46

a. Tindak pidana, dapat dikatakan berupa istilah resmi dalam

perundang-undangan pidana. Hampir seluruh peraturan perundang-undangan menggunakan istilah tindak pidana, seperti dalam Undang-undang RI Nomor 15 Tahun 2002 dengan perubahannya, yaitu Undang-undang RI Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang, Undang-undang RI Nomor 6

45Ibid., halaman 95.

46 Adami Chazawi, Pelajaran Hukum Pidana Bagian I, PT. Raja Grafindo Persada,

Tahun 1982 tentang Hak Cipta, Undang-undang RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Undang-undang RI Nomor 20 Tahun 2001, dan perundang-undangan lainnya. Ahli hukum yang menggunakan istilah ini, misalnya pendapat Wirjono Prodjodikoro dan Andi Hamzah;

b. Peristiwa pidana, digunakan oleh beberapa ahli hukum,

misalnya: R. Tresna dalam bukunya “Asas-asas Hukum Pidana”, H. J. van Schravendijk dalam buku “Pelajaran tentang Hukum Pidana Indonesia”, A. Zainal Abidin, dalam bukunya “Hukum Pidana”. Pembentuk Undang-undang juga pernah menggunakan istilah peristiwa pidana, yaitu dalam UUDS RI 1950 [baca Pasal 14 ayat (1)];

c. Delik, yang sebenarnya berasal dari bahasa Latin

delictum” juga digunakan untuk menggambarkan tentang apa yang dimaksud dengan strafbaar feit. Istilah ini dapat dijumpai dalam berbagai literatur, misalnya E. Utrecht, walaupun juga beliau menggunakan istilah lain yakni peristiwa pidana (dalam buku “Hukum Pidana I”). A. Zainal Abidin dalam buku beliau “Hukum Pidana I”. Moeljatno pernah juga menggunakan istilah ini seperti pada judul buku “Delik-delik Percobaan, Delik-delik Penyertaan”, walaupun

menurutnya lebih tepat dipergunakan istilah perbuatan pidana;

d. Pelanggaran pidana, dapat dijumpai dalam buku M. H. Tirta

Amidjaja yang berjudul “Pokok-pokok Hukum Pidana”;

e. Perbuatan yang boleh dihukum, istilah tersebut digunakan

oleh M. Karni dalam buku beliau “Ringkasan tentang Hukum Pidana”, begitu juga H. J. van Schravendijk dalam bukunya “Buku Pelajaran tentang Hukum Pidana Indonesia”;

f. Perbuatan yang dapat dihukum, digunakan oleh Pembentuk

Undang-undang di dalam Undang-undang Darurat RI Nomor 12 Tahun 1951 tentang Senjata Api dan Bahan Peledak (Pasal 3);

g. Perbuatan pidana, digunakan oleh Moeljatno dalam

berbagai tulisan beliau, misalnya dalam buku “Asas-asas Hukum Pidana”.

Tidak ditemukan penjelasan tentang apa yang dimaksud dengan

Perbuatan Pidana (strafbaar feit) di dalam KUHPidana maupun di luar

KUHPidana, oleh karena itu para ahli hukum berusaha untuk memberikan arti dan isi dari istilah itu, yang sampai saat ini belum ada keseragaman pendapat. Pengertian tindak pidana penting dipahami untuk mengetahui unsur-unsur yang terkandung di dalamnya. Unsur-unsur tindak pidana ini

dapat menjadi patokan dalam upaya menentukan apakah perbuatan seseorang itu merupakan tindak pidana atau tidak.47

Barda Nawawi Arief menyebutkan48 bahwa di dalam KUHPidana

hanya ada asas legalitas (Pasal 1 KUHPidana) yang merupakan “landasan yuridis” untuk menyatakan suatu perbuatan (feit) sebagai perbuatan yang

dapat dipidana (strafbaar feit), sedangkan yang dimaksud dengan

strafbaar feit” tidak dijelaskan, sehingga tidak ada pengertian atau batasan yuridis tentang tindak pidana. Pengertian tindak pidana (strafbaar feit) hanya ada dalam teori atau pendapat para sarjana.

g. Pengertian Tindak Pidana Pencucian Uang

Tak seorangpun yang benar-benar yakin kapan tepatnya tindak pidana pencucian uang itu pertama kali dimulai, namun dapat dikatakan bahwa hal tersebut telah berjalan sejak beberapa ribu tahun yang lalu. “Lords of the Rim” Sterling Seagrave telah menjelaskan bagaimana para pedagang di Tiongkok sekitar 2000 tahun sebelum kelahiran Nabi Isa Almasih telah menyembunyikan kekayaan mereka dari pihak penguasa yang akan mengambil harta mereka dan akan menghukum mereka. Mereka menyembunyikan hartanya dengan cara menyimpan harta tersebut di provinsi yang terpencil atau bahkan di luar Tiongkok, cara tersebut telah melahirkan industri lepas pantai dan penghindaran pajak. Prinsip utama

47 Mohammad Ekaputra, Dasar-dasar Hukum Pidana Edisi 2, USU Press, Medan,

2015, halaman 78.

48 Barda Nawawi Arief, Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana (Pengembangan Penyusunan Konsep KUHP Baru), Kencana, Jakarta, 2008, halaman 73-74.

itulah dari pencucian uang, yaitu menyembunyikan, memindahkan, dan menginvestasikan harta kekayaan tersebut kepada pihak lain.49

Berbagai kejahatan, baik yang dilakukan oleh orang perserorangan maupun oleh korporasi dalam batas wilayah suatu negara maupun yang dilakukan melintasi batas wilayah negara lain makin meningkat. Para penjahat tersebut bisa saja pengedar narkotika, organisasi kejahatan,

teroris, pedagang senjata, blackmailers, pemalsu kartu kredit, dan

sebagainya, berusaha menghilangkan asal usul uang kejahatan, sehingga dapat menghindarkan pendeteksian dan risiko tuntutan pidana.50

Harta kekayaan atau uang yang berasal dari berbagai kejahatan atau tindak pidana, pada umumnya tindak langsung dibelanjakan atau digunakan oleh para pelaku karena apabila langsung digunakan, akan mudah dilacak oleh penegak hukum tentang sumber diperolehnya uang atau harta kekayaan tersebut. Para pelaku biasanya terlebih dahulu mengupayakan agar uang atau harta kekayaan yang diperoleh dari kejahatan tersebut masuk ke dalam sistem keuangan (financial system), terutama ke dalam sistem perbankan (banking system) karena dengan cara demikianlah, asal usul uang atau harta kekayaan tersebut diharapkan tidak dapat dilacak oleh para penegak hukum.51

Secara garis besar, yang dipahami dari pendapat para pakar, baik dari dalam maupun luar negeri, dapat disimpulkan bahwa kegiatan

49 H. Soewarsono dan Reda Manthovani, Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang di Indonesia, CV. Malibu, Jakarta, 2004, halaman 1.

50Ibid., halaman 2.

pencucian uang atau money laundering adalah suatu proses untuk menyembunyikan atau menyamarkan harta kekayaan yang diperoleh dari hasil kejahatan untuk menghindari penuntutan dan/atau penyitaan. Hasil akhir dari proses itu adalah hasil tindak pidana yang “menjelma” menjadi uang yang sah.52

Pasal 1 angka 1 Undang-undang RI Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang menyatakan bahwa:

“Pencucian uang adalah segala perbuatan yang memenuhi unsur- unsur tindak pidana sesuai dengan ketentuan dalam undang-undang ini”.

Unsur-unsur yang dimaksud tersebut dijelaskan lebih lanjut pada Pasal 3 Undang-undang RI Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang, yaitu:

“Setiap orang yang menempatkan, mentransfer, mengalihkan, membelanjakan, membayarkan, menghibahkan, menitipkan, membawa ke luar negeri, mengubah bentuk, menukarkan dengan mata uang atau surat berharga atau perbuatan lain atas harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) dengan tujuan menyembunyikan atau menyamarkan asal usul harta kekayaan dipidana karena tindak pidana pencucian uang dengan pidana penjara paling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda paling banyak Rp. 10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah)”.

Pasal tersebut dapat dijadikan gambaran bagi masyarakat luas mengenai apa yang dimaksud dengan kegiatan pencucian uang, akan tetapi di lain pihak, pengertian tersebut akan membatasi ruang gerak para penegak hukum dalam menentukan kejahatan pencucian uang yang

notabene akan selalu mencari pola dan mekanisme kerja yang selalu berubah-ubah dalam rangka menghindarkan diri dari pendeteksian, baik dari Otoritas Keuangan maupun aparat penegak hukum.53

h. Pengertian Cyber Law

Hukum Siber atau Cyber Law adalah istilah hukum yang terkait

dengan pemanfaatan teknologi informasi. Istilah lain yang juga digunakan

adalah Hukum Teknologi Informasi (Law of Information Techonology)

Hukum Dunia Maya (Virtual World Law), dan Hukum Mayantara.54

Istilah-istilah tersebut lahir mengingat kegiatan yang dilakukan melalui jaringan sistem komputer dan sistem komunikasi, baik dalam lingkup lokal

maupun global (internet) dengan memanfaatkan teknologi informasi

berbasis sistem komputer yang merupakan sistem elektronik yang dapat dilihat secara virtual.55

Hukum pada prinsipnya merupakan pengaturan terhadap sikap tindak (perilaku) seseorang dan masyarakat yang terhadap pelanggarannya dikenakan sanksi oleh negara. Meskipun dunia siber adalah dunia virtual, hukum tetap diperlukan untuk mengatur sikap tindak masyarakat yang setidaknya karena 2 (dua) hal, yaitu pertama, yang berasal dari dunia nyata. Masyarakat memiliki nilai dan kepentingan, baik secara sendiri- sendiri maupun bersama-sama yang harus dilindungi. Kedua, walaupun

53Ibid.

54 Ahmad M. Ramli, Op.cit., halaman 1-2.

55 Budi Suhariyanto, Tindak Pidana Teknologi Informasi (Cybercrime): Urgensi Pengaturan dan Celah Hukumnya, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2012, halaman 3.

terjadi di dunia virtual, transaksi yang dilakukan oleh masyarakat memiliki pengaruh ke dunia nyata, baik secara ekonomis maupun non ekonomis.56