• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEBIJAKAN HUKUM PIDANA DAN UPAYA PENCEGAHANNYA TERHADAP PENERAPAN KEJAHATAN CARDING DALAM

H. Kebijakan Penal atau Penal Policy 1.1 Politik Hukum Pidana

I. Kebijakan Non-Penal atau Non-Penal Policy

a. Upaya Pencegahan terhadap Penerapan Kejahatan Carding dalam Kaitannya dengan Tindak Pidana Pencucian Uang

Upaya pencegahan terhadap penerapan kejahatan carding dalam kaitannya dengan tindak pidana pencucian uang dapat dilakukan dengan 2 (dua) cara, antara lain:

i. Upaya Pre-Entif terhadap Pencegahan Kejahatan Carding183

1. Pengamanan terhadap Kartu Kredit

Berikut ini adalah upaya pre-entif pengamanan terhadap kartu kredit, antara lain:

a. Kartu kredit sebaiknya jangan pernah dipinjamkan kepada orang lain;

b. Sebaiknya hanya membawa 1 (satu) atau paling banyak 2 (dua) kartu kredit;

c. PIN (Personal Identification Number) sebaiknya tidak ditulis di atas kartu kredit untuk dapat menarik uang tunai dari ATM (Automated Teller Machine atau Anjungan Tunai Mandiri);

d. Nomor telepon perusahaan atau bank penerbit kartu kredit sebaiknya ditulis dan disimpan dalam suatu tempat yang aman;

e. Segera melaporkan kehilangan kartu kredit kepada perusahaan atau bank penerbit yang bersangkutan untuk diblokir;

f. Batas pemakaian kartu kredit (limit) yang dipilih sebaiknya tidak terlalu tinggi karena hal ini dapat menghalangi pelaku kejahatan

carding (carder);

g. Kartu kredit tersebut sebaiknya

ditandatangani atau menulis kata-kata “periksa KTP” atau “check ID” di bagian belakang kartu kredit agar di rahasiakan; h. Batalkan kartu kredit yang tidak digunakan

segera gunting kartu kredit yang telah jatuh tempo menjadi beberapa potong;

i. Selalu meminta tanda terima pembayaran kartu kredit (stroke);

j. Amankan PIN (Personal Identification Number). PIN adalah password yang berwujud angka-angka yang hanya diketahui oleh pemegang kartu kredit dan PIN pada umumnya digunakan untuk dapat mengakses ATM (Automated Teller Machine atau Anjungan Tunai Mandiri);

2. Pengamanan terhadap Nomor Kartu Kredit

Pencuri kartu kredit cenderung lebih tertarik untuk memperoleh nomor kartu kredit daripada menggunakan kartu kredit itu sendiri secara langsung. Pencuri kartu kredit akan menggunakan nomor kartu kredit untuk berbelanja melalui telepon atau internet. Sehubungan dengan hal itu, perlu kiranya dilakukan pengamanan terhadap nomor kartu kredit dengan langkah-langkah berikut, antara lain:

a. Apabila membayar dengan kartu kredit di kasir (store register) di mall atau di tempat perbelanjaan lainnya, upayakan agar orang lain di sekitar tidak sampai melihat kartu kredit tersebut ketika diserahkan ke kasir; b. Jangan memberikan nomor kartu kredit

kepada petugas pemasar yang tidak langsung dihadapkan, tetapi melalui komunikasi jarak jauh (telemarketers);

c. Waspada terhadap penipu yang berpura-pura mewakili perusahaan atau bank penerbit kartu kredit dan mengatakan sedang melakukan pengecekan terhadap kartu kredit tersebut karena perusahaan atau bank penerbit tersebut sedang mengalami masalah

dengan sistem komputernya (computer problem), jika nomor telepon yang digunakan oleh penelepon tersebut adalah nomor telepon palsu;

d. Pastikan bahwa transaksi-transaksi yang telah dilakukan memang benar adanya. Waspada terhadap merchant-merchant yang nakal yang mungkin menukar credit card slip

setelah ditandatangani;

e. Hendaknya setiap pemegang kartu kredit yang sah selalu memastikan bahwa tertera dengan benar jumlah total dari harga belanja dengan charge slip sebelum ditandatangani. 3. Perlindungan terhadap Tanda Terima

a. Simpan dengan baik tanda terima

pembayaran kartu kredit sebagai bukti (authorized purchases);

b. Baca dengan sebaik-baiknya billing statement bulanan untuk memastikan bahwa di dalamnya tidak terdapat pembelanjaan yang tidak dilakukan atau dicurigai atau fiktif (unauthorized transaction). Laporkan segera kepada perusahaan atau bank penerbit kartu

kredit tersebut jika dalam billing statement- nya terdapat transaksi-transaksi semacam itu; c. Hendaknya selalu melakukan pengecekan

apakah billing statement yang diterima dari bank perusahaan atau bank penerbit kartu kredit telah sesuai dengan tanda terima pembayaran kartu kredit tersebut (credit card slip atau receipt);

d. Hancurkan (dengan menggunakan

penghancur kertas atau shredder) semua tanda terima kartu kredit karena pelaku kejahatan kartu kredit dapat menemukan tanda terima tersebut dari tempat pembuangan sampah.

ii. Upaya Preventif terhadap Pencegahan Kejahatan Carding

Demi mengurangi angka kejahatan kartu kredit di Indonesia, perlu penanggulangan dengan sarana non-penal atau

non-penal policy yang lebih menekankan pada tindakan preventif sebelum terjadinya suatu kejahatan. Menurut pandangan dari sudut politik kriminil secara makro, non-penal policy merupakan kebijakan penanggulangan kejahatan yang paling strategis, hal itu dikarenakan non-penal policy lebih bersifat sebagai tindakan pencegahan terjadinya suatu kejahatan. Sasaran utama non-penal

policy adalah menangani dan menghapuskan faktor-faktor kondusif yang menyebabkan terjadinya suatu kejahatan.

Upaya preventif tersebut meliputi:184

1. Pedagang harus lebih teliti memperhatikan nomor kartu kredit dengan daftar nomor kartu kredit yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia untuk memastikan kartu tersebut adalah kartu kredit asli dan untuk penerbit kartu kredit dapat meng-otomatiskan sistem otorisasi pada setiap kartu kredit agar kartu kredit yang sudah melebihi limit transaksi tidak dapat digunakan lagi sebelum pemegang kartu membayar tagihannya. Pencegahan dan penanggulangan kejahatan kartu kredit dengan sarana non-penal ini merupakan suatu tindakan preventif yang juga dapat dilakukan dengan memperbaiki sistem pembayaran pada proses transaksi bisnis melalui kartu kredit. Langkah-langkah yang dapat dilakukan, yaitu dengan melindungi aset yang digunakan dalam dunia cyberspace, seperti data dan informasi, sehingga tidak dapat diserang atau dicuri oleh

184 Kompas, BI Dorong Penerapan Teknologi Chip pada Kartu Kredit, http://www.kompas.com/kompas-cetak/0506/13/finansial/1809942. htm, diakses pada tanggal 14 Februari 2016, pukul 16.00 WIB.

pelaku untuk digunakan sebagai bahan untuk melakukan kejahatan;

2. Pihak merchant, diharuskan untuk melindungi

cardholder ketika melakukan transaksi, sehingga data-data mengenai kartu kredit seperti nomor PIN (Personal Identification Number), identitas

cardholder tidak dapat dilihat oleh orang yang tidak berkepentingan. Dapat dikatakan bahwa konsumen pemakai jasa layanan internet ketika melakukan transaksi juga membutuhkan privasi. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, maka digunakan beberapa cara, seperti pemakaian tanda tangan

digital (digital signature) dan sertifikat digital

(digital certificate). Guna meningkatkan keamanan, maka pihak-pihak pengguna jasa tersebut membungkus kunci publik mereka ke dalam sertifikat digital atau digital certificate. Pengamanan ini menggunakan metode kriptografi. Kriptografi adalah ilmu yang mempelajari bagaimana membuat suatu pesan yang dikirim oleh pengirim dapat disampaikan kepada penerima dengan aman. Kriptografi ini dapat memenuhi kebutuhan umum suatu transaksi, antara lain:

a. Kerahasiaan (confidential) melakukan enkripsi (penyandian);

b. Keutuhan (integrity) atas data-data yang dilakukan dengan fungsi hash satu arah;

c. Jaminan atas identitas keabsahan (authenticity) pihak-pihak yang melakukan transaksi dilakukan dengan menggunakan

password atau sertifikat digital;

d. Transaksi dapat dijadikan barang bukti yang tidak bisa disangkal (non-repudiation) dengan memanfaatkan tanda tangan digital

(digital signature) dan sertifikat digital

(digital certificate).

Upaya kriptografi menggunakan kunci public/private key

sebagai syarat untuk membuka.185 Fungsi-fungsi mendasar pada kriptografi adalah enkripsi dan deskripsi. Enkripsi adalah proses mengubah suatu pesan asli (plain text) menjadi suatu pesan dalam bahasa sandi (clipher text), sedangkan deskripsi adalah proses mengubah suatu pesan dalam suatu bahasa sandi menjadi bahasa pesan asli kembali.

Dari uraian diatas, dapat dilihat bahwa penanggulangan kejahatan kartu kredit dengan sarana non-penal dapat dilakukan

185 Iman Sjahputra, Problematika Hukum Internet Indonesia, PT. Prenhallindo, Jakarta, 2002, halaman 142.

dengan meningkatkan pengamanan bertransaksi, hal ini dapat dilakukan dengan membuat sertifikat digital (digital certificate) dan tanda tangan digital (digital signature), sehingga pelaku kejahatan kartu kredit akan sulit dalam melakukan aksinya. Setiap orang yang melakukan transaksi akan diharuskan untuk memiliki sertifikat digital (digital certificate), di mana nomor dan password- nya hanya diketahui oleh pemiliknya. Peningkatan pengamanan ini merupakan suatu hal yang tidak kalah pentingnya untuk menekan angka pelaku kejahatan carding.

J. Analisis Putusan PN Jakarta Selatan No. 1193/Pid/B/2013/PN.Jkt.Sel.