BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2 Ragam Tari Serampang Dua belas
4.2.12 Analisis Ragam XII
Gambar 4.12 a. Analisis Leksia
Pada menit 3.25-3.34 disebut sebagai ragam sapu tangan. Gerakan melingkar menyatukan sapu tangan langkah biasa 1 kali 8, gerakan maju
kebelakang 1 kali 4 dan kedepan 1 kali 4, gerakan beredar kebelakang mengangkat sapu tangan, berputar langkah dua 1 kali 8, gerakan beredar ke depan mengangkat sapu tangan berputar langkah dua 1 kali 8. Untuk wanita ragam ini pada bilangan satu dimulai kaki kiri Hal ini bermakna bertemulah sepasang insan untuk saling berkasih mesra.
b. Lima Pola Pembaca
1. Kode Hermeneutik (kode teka-teki) Mengapa mereka berputar-putar?
2. Kode Semik (kode konotatif)
Bermakna setelah diadakan upacara adat maka dipertemukanlah kedua pengantin baru dengan diiringi doa restu agar hidup kekal dan peroleh keturunan. Sebuah ikatan perkawinan akan terjadi ketika kedua insan saling dipertemukan, layaknya anak adam dan hawa yang mengalami pertemuan hingga menjalani kehidupan bersama.
3. Kode Simbolik (kode fiksi)
Menjepit sapu tangan sebagai simbol kasih sayang, sehingga jepit terus kasih sayang agar kebahagiaan selalu datang menghampiri. Sapu tangan adalah media yang diibaratkan untuk menjalin sebuah hubungan. Sapu tangan adalah aspek simbol yang tepat untuk melakukan tarian ini. Laki-laki menyelipkan sapu tangan didekat pinggang dan berbalut tali pinggang dan disembunyikan dekat kain songket berwarna kuning. Sedangkan perempuan menyelipkannya di gerah baju kurung Melayu. Khas dalam tarian Serampang Dua belas yaitu sapu tangan yang berakhir dengan makna yang besar.
4. Kode Proaretik (logika atau tindakan)
Sepasang penari jalan bersama menggambarkan gembira muda-mudi yang telah bersatu dalam ikatan perkawinan. Laki-laki dan perempuan telah mengekpresikan raut wajah gembira. Serta properti sapu tangan yang dimainkan memiliki arti kelembutan dalam membina rumah tangga atau janji yang mereka ikat sebagai sebuah ikatan pasangan.
Menyilangkan sapu tangan menggambarkan sebuah sepasang kekasih
yang menyatu untuk menjalin keluarga yang sakinah mawaddah warahmah.
5. Kode Gnomik (kode kultural)
Pada budaya Melayu saat itu tidak diperbolehkan bersentuhan antara laki-laki dan perempuan sebelum adanya ikatan yang sah. Untuk itu adanya sapu-tangan sebagai simbol ikatan sebuah hubungan.
Pada ragam terakhir ini pula ragam yang menjadi simbol tarian ini, karena menggunakan sapu tangan ditiap gerakannya yang biasa disebut juga sebagai pertemuan kasih. Untuk perempuan jemari lentik ujung sapu tangan disepitkan diantara tiga jari telunjuk, tengah dan manis, jari tengah disebelah bawah dan jari telunjuk serta manis disebelah atas, dan ibu jari turut memegang sapu tangan.
Untuk penari laki-laki, jari ibu dan telunjuk menjeput ujung sapu tangan dan jari tengah serta jari manis ikut bersama jari telunjuk. Kedua tangan merentangkan sapu tangan hingga merentang. Hal ini dipaparkan oleh informan pertama :
“Ragam terakhir yaitu ragam sapu tangan, tidak saling bersentuhan namun menggunakan sapu tangan, artinya bertemulah kasih mesra”.
Ditambahkan oleh informan kedua :
“Dan selanjutnya ragam sapu tangan yang berartikan terjadinya pernikahan. Sapu tangan bermakna ikatan perkawinan. Dan pesan moral khususnya anak muda bagaimanapun cintanya dengan seseorang jangan sampai menghilangkan nilai kesopanan dan tetap harus menjaga resam kita sebagai masyarakat Melayu”
Informan ketiga juga mengatakan :
“Pesan moral itu bermacam-macam sebagaimana dengan etika, karakter, kemudian nilai pendidikannya, bagaimana seorang laki-laki berusaha mendekati seorang wanita”.
4.3 Representasi Simbolik dalam Tari Serampang Dua belas
Untuk menganalisis makna pesan simbolik nonverbal di dalam tari serampang dua belas, penelitian ini menggunakan metode analisis semiotika Roland Barthes yang menyelidiki hubungan petanda dan penanda dalam sebuah tanda. Di dalam analisis semiotika Barthes, terdapat dua tataran pertandaan.
Tatanan pertama adalah denotasi yaitu makna harfiah dari sebuah kata, atau objek.
Tataran kedua adalah konotasi yaitu makna-makna kultural yang melekat pada sebuah objek. Dalam konteks tari Serampang Dua belas makna denotasi adalah makna fisik dari unsur-unsur nonverbal dan makna konotatif merupakan makna-makna substansi unsur-unsur tersebut.
Berikut adalah analisis makna dari unsur-unsur nonverbal dalam tari Serampang Dua belas yaitu:
4.3.1 Properti dalam Tari Serampang Dua belas
Penanda
Gambar 4.13 : Bunga Petanda
Makna Denotasi
Bunga berwarna merah adalah properti yang digunakan pemain saat tarian berlangsung.
Petanda Makna Konotasi
Bentuk menyerupai bunga mawar yang sedang mekar ini memiliki fungsi sebagai penambah keindahan. Selain itu dengan memakai bunga di kepala mencerminkan keanggunan seorang perempuan melayu
Tabel 4.2 : Analisis Makna Bunga
Tari serampang dua belas bukan hanya sebagai tarian hiburan, namun sering juga sebagai tari pertunjukan seperti halnya penyambutan tamu-tamu
penting. Untuk itu unsur pendukung dalam tari harus di persiapkan dengan sangat baik. Meskipun hanya berupa aksesoris yang sederhana seperti bunga tersebut namun sangat berpengaruh untuk menambah nilai keindahannya. Pak Yose mengatakan bahwa :
” Untuk perempuan memakai model sanggul tinggi, namun tidak memiliki arti yang gimana-gimana, sama dengan bunga yang dipakai. Fungsi keduanya hanya sebagai perindah pertunjukan saja”.
Penanda
Gambar 4.14 : Kopiah Petanda
Makna denotasi
Kopiah yang dipakai biasanya berwarna hitam, terbuat dari bahan kain dan tidak bisa dilipat layaknya kopiah pada umumnya
Petanda Makna Konotasi
Biasanya dimaknai sebagai lambang nasionalis.
Penggunaan kopiah pada pemain laki-laki memperkuat keindahan dan kegagahan pada tariannya. Digunakan sedikit miring dan sedikit lebih menutupi dahi
Tabel 4.3 Analisis Makna Kopiah
Kopiah merupakan salah satu atribut pada busana laki-laki yang digunakan pada tari Serampang Dua belas. Menggunakan warna hitam sekaligus melambangkan sebuah nasionalisme bagi si pemakainya. Ibu Tengku Lisa mengungkapkan :
“ Kopiah Melayu itu biasanya tidak bisa dilipat, dan cara memakainya agak sedikit dimiringkan. Si pencipta tari yaitu pak Sauti mengatakan pemakaian kopiah dalam serampang dua belas itu melambangkan
Kalau misalnya tari ini menggunakan tengkulak (hiasan khas melayu) tentu akan nampak budaya melayunya.
Penanda
Gambar 4.15 : Kain Samping Petanda
Makna Denotasi
Kain yang berbentuk seperti kain sarung ini dipakai hanya setinggi lutut saja. Dengan diberi simpulan di sebelah kiri pemakai, Model simpulannya pun dapat bervariasi, bisa berbentuk kelopak bunga, berbentuk pedang dll tergantung kreatifitas si pemakai
Petanda Makna Konotasi
Pengakaian kain samping atau kain adat disetiap acara masyarakat Melayu sering kali digunakan.
Bentuk kain samping ini sangatlah sederhana, dihiasi hanya satu dengan bentuk yang berbeda-beda. Sedangkan warna kuning ditiap busana melayu melambangkan seorang yang sangat dihormati dan merupakan tingkatan warna tertinggi pada suku Melayu
Tabel 4.4 Analisis Makna Kain Samping
Kain samping merupakan salah satu atribut yang digunakan pada tari Serampang Dua belas. Kain ini bisanya dilipat dua atau ada juga kain yangb sudah memiliki ukuran kecil. Berfungsi untuk menutupi bagian yang harus ditutupi agar terlihat sopan, kemudian diikat sebelah kiri karena memiliki filosofi bahwa dulu seorang panglima menaruh pedang disebelah kiri agar mudah diambil. Pak Yose Rizal mengatakan bahwa :
“Ikat pinggang diberi nama kain samping, yaitu kain dilipat dua atau ada juga kain yang sudah memiliki ukuran kecil. Kemudian diikat dikiri. Jadi begini asal muasalnya begini, awalnya itu raja sedang ngga ada kegiatan jadi dipanggilnya panglima dan dipanggilnya mak inang trus disuruhnya menari. Jadi panglima itu mengikat kain untuk meletakkan di kain samping itu tadi”.
Penanda
Gambar 4.16 : Sapu Tangan Petanda
Makna Denotasi
Sapu tangan yang memakai bahan ringan dan polos dilipat sedemikian rupa hingga berbentuk seperti pada gambar. Biasanya warna yang digunakan disesuaikan dengan warna kain samping pada perempuan. Sapu tangan merupakan properti wajib yang ada pada tarian Serampang Dua belas
Petanda Makna Konotasi
Sebelum sapu tangan dimainkan dalam tarian ini, biasanya pemain laki-laki menyelipkan sapu tangan ini di saku baju mereka, sedangkan perempuan di dalam kerah bajunya. Kemudian mereka menarik sapu tangan tersebut lalu memainkannya. Bentuk sapu tangan ini juga sangat sederhana yaitu dengan menggulung sapu tangan tersebut. Sapu tangan juga memiliki makna tersendiri yaitu sebagai simbol ikatan cinta sepasang muda-mudi.
Tabel 4.5 Analisis Makna Sapu tangan
Tari Serampang Dua belas tidak terlepas dari peran sapu tangan. Sapu tangan ini melambangkan sebuah ikatan cinta yang mana laki-laki dan perempuan tidak boleh bersentuhan sebelum ada ikatan yang sah. Untuk itu diibaratkan sapu tangan ini sebagai jembatan pengerat antara cinta sepasang muda-mudi. Pesan moral yang didapat yaitu meskipun sangat mencintai seseorang janganlah sampai adab ditinggalkan. Tengku Lisa mengatakan bahwa :
“Sapu tangan melambangkan pertalian kasih sayang, kalau dalam tarian melayu tidak pernah bersentuhan antara laki-laki dan perempuan, dalam tarian ini tanda jadinya sebuah ikatan diibaratkan dengan sebuah sapu tangan yang melambangkan berkasih mesra dan cintanya telah diterima”.
Ditambahkan oleh informan kedua yaitu Pak Yose Rizal, beliau mengatakan bahwa :
“ Sapu tangan bermakna ikatan perkawinan. Itulah halusnya tari Serampang Dua belas ini sebab ngga ada persentuhan antara laki-laki dan perempuan. Ketika menggambarkan ikatan perkawinanpun menggunakan sapu tangan. Pesan moral khususnya bagi anak muda yaitu bagaimanapun kita mabuk kepayang dengan sang pujaan hati tetap harus kita jaga resam dan adab kita, jadi jangan ikut—ikutan budaya yang ada diluat”.
Tak sampai disitu saja, mengenai properti sapu tangan ini, ibu Dilinar juga memberikan pendapatnya yaitu:
“ Sapu tangan itulah properti yang menandakan sudah menjadi suami isteri yakni dengan proses, tahap perkenalan, melihat dia, kemudian ada gerakan maju mundur lalu antar, inikan semua bermakna. Diakhiri dengan pakai properti sapu tangan yang melambangkan mereka telah menyatu”.
4.3.2 Warna
Pada properti yang digunakan dalam tari Serampang Dua belas, terdapat beberapa warna yang sering digunakan masyarakat Melayu. Hal ini diperoleh berdasarkan wawancara dengan ke tiga informan. Berikut analisis warna dari properti yang digunakan.
Penanda adalah orang yang dihormati dan disegani seperti raja maupun petinggi-petingginya Merah Warna dasar yang serupa
dengan warna darah
Merah dimaknai sebagai karakter yang pemberani dan mencerminkan sebuah biasa dipakai oleh guru-guru atau orang yang mengajar Hijau Warna hijau diidentikkan
dengan alam. Warna dasar
Tabel 4.6 Analisis warna dalam properti Serampang Dua belas
Pada dasarnya properti dalam tari Serampang Dua belas menggunakan berbagai macam warna. Namun tingkatan warna pada suku Melayu yaitu Kuning, Biru, Hijau dan putih. Informan II menjelaskan makna warna-warna tersebut:
“..Kalau didalam tari tidak ada ketentuan warna, hanya saja kita tahu bahwa warna kuning dalam suku Melayu itu adalah orang yang dihormati sekali, rajakah dia atau petinggi-petingginya. Pokoknya warna yang paling tinggi itu adalah warna kuning. Kemudian ada warna biru mencerminkan ketenagan, keteguhan, dan biasa dipakai oleh guru-guru atau orang yang mengajar. Kalau hijau biasanya melambangkan agama, kedamaian orang yang arif dan lebih kepada moral. Kalau warna putih biasanya suci dan identik dengan pemuka agama ”
4.4 Serampang Dua belas menurut Budayawan Melayu Sumatera Utara Dari hasil wawancara dengan ketiga informan serta analisis semiotika Roland Barthes yang digunakan, pembahasan berkaitan dengan tujuan penelitian yaitu mengetahui makna pesan dalam gerakan yang terdapat dalam tari Serampang Dua belas sekaligus mendeskripsikan bagaimana penerapan makna kedalam kehidupan masyarakat Melayu hingga saat ini.
Manusia adalah makhluk yang tidak dapat dipisahkan dari kebudayaan, sehingga manusia pada hakikatnya dapat disebut sebagai makhluk budaya.
Kebudayaan itu sendiri merupakan kesatuan dari gagasan simbol-simbol dan nilai-nilai yang mendasari hasil karya dan perilaku manusia, sehingga tidak berlebihan apabila dilanjutkan bahwa begitu eratnya kebudayaan dan simbol-simbol yang diciptakan oleh manusia.
Dijelaskan pada Bab II bahwa simbol adalah tanda-tanda nonverbal yang tidak mempunyai hubungan alami dengan hal-hal yang disebutkannya. Makna-makna dalam simbol dipelajari dalam budaya tertentu. Didalam tari Serampang Dua belas terdapat simbol-simbol nonverbal yang terlihat dari gerakan tubuh para pemain (muda-mudi). Properti busana yang digunakan, gerakan-gerakan yang terkandung didalam tarian ini. Simbol dalam tari Serampang Dua belas merupakan kultural karena dilatarbelakangi oleh suatu kebudayaan tertentu.
Simbol-simbol tersebut tidak memiliki hubungan alami dengan apa yang
disebutkan sehingga dibutuhkan proses pemaknaan dengan mempelajari budaya dari suku Melayu untuk memahaminya.
Tarian merupakan bentuk kebudayaan yang diturunkan secara turun temurun, yang biasa berkembang dari asal muasal dibentuknya tarian. Sebagai salah satu bentuk kebudayaan, tarian juga merupakan bagian dari aktivitas yang melibatkan tubuh, pikiran, jiwa serta komunikasi nonverbal. Didalam sebuah tarian terkandung makna-makna, baik yang mudah dimengerti maupun makna simbolis yang memerlukan kesadaran manusia untuk mengartikannya.
Tari serampang dua belas bukan hanya seni yang berfungsi sebagai hiburan, namun tari ini juga memiliki makna yang seharusnya masyarakat ketahui.
Penari Serampang Dua belas dituntut untuk bisa menyampaikan pesan dengan baik dan mudah sehingga pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik oleh masyarakat. Pada dasarnya komunikasi yang terjadi dalam tari serampang dua belas merupakan suatu proses penyampaian, pemberian, dan pertukaran ide, pengetahuan dan lain-lain yang dapat dilakukan melalui tanda-tanda (Semiotika).
Komunikasi yang dilakukan dalam tari serampang dua belas yaitu komunikasi non verbal. Aspek komunikasi non verbal meliputi simbol-simbol dalam pakaian yang dikenakan dalam tari serampang dua belas. Dalam tari serampang dua belas menggunakan gerakan-gerakan yang sebagian tidak dimengerti oleh penonton, yaitu gerakan pujangga yang melambangkan kegagahan, kegigihan, keberanian dan ketegasan seorang lelaki. Gerakan yang ditarikan oleh penari perempuan terlihat bagaimana mereka menari dengan kelembutan, keanggunan dan seakan tersipu malu.
Serampang dua belas dulunya hanya ditarikan oleh muda-muda, menurut informan I dulunya perempuan tidak diperbolehkan menunjukkan lenggak lenggok tubuhnya sehingga tarian ini hanya bisa ditarikan oleh laki-laki. Namun seiring perkembangan zaman tarian ini mulai ditarikan berpasangan dan adapula yang menarikannya (mudi-mudi) jika mudi-mudi maka makna kisahnya akan berubah menjadi kisah persahabatan.
Tarian ini juga mengekspresikan aspek paling universal dalam kehidupan manusia, yaitu cinta antara laki-laki dan perempuan yang berusaha membentuk rumah tangga yang sakinah mawaddah warahmah. Cinta adalah anugerah tuhan kepada semua makhluknya. Dengan cinta dunia akan menjadi damai, melalui cinta pula perbedaan dapat berubah menjadi persamaan. Begitu pula kelompok yang awalnya berseteru dapat menjadi bersama dalam kebersamaan, karena diikat oleh perkawinan yang biasanya dilandasi cinta terlebih dahulu.
Perkawinan merupakan sebuah institusi yang paling tua dalam kebudayaan manusia. Perkawinan selalu melibatkan unsur-unsur religi, kekerabatan, keadilan, hubungan klen, dll. Perkawinan adalah salah satu yang harus dilalui manusia dalam menjalankan hidupnya. Perkawinan juga mengabsahkan seseorang itu menjadi sempurna dengan membentuk rumah tangga. Nilai-nilai inilah yang terdapat dalam Serampang Dua belas, sehingga tarian ini bukan hanya sekedar gerak, rentak, estetik audiovisual saja, tetapi lebih jauh dari itu didalamnya terkandung nilai-nilai budaya, yang mengedepankan etika, estetika, agama islam, sosial dan budaya. (Takari, Fadlin 2014: 128)
Lebih jauh lagi orang melayu dalam menentukan jodoh harus pula mengetahui atau mengenal pasangannya, yang secara adat telah diatur dengan sistem kesopanan Melayu. Saling mengenal antara pasangan ini misalnya dilakukan dalam pesta panen, dalam masa perayaan pernikahan dan lainnya.
Memang didalam ajaran islam tidak dibenarkan berpacaran, tetapi mengenal calon suami atau istri tentu saja diperbolehkan, dan dilandasi pula oleh adat.
Berdasarkan hasil wawancara dengan informan II dikatakan bahwa dalam kebudayaan Melayu Pesisir Timur Sumatera Utara, upacara perkawinan memilki berbagai tahapan. Dimulai dari merisik, yaitu bertanya secara informal pihak calon mempelai laki-laki kepada kepada kedua orang tua calon mempelai wanita.
Setelah itu dilakukan kegiatan merisik resmi, yaitu diantarnya utusan pihak lelaki untuk menanyakan seputar keberadaan calon mempelai perempuan. Utusan ini disebut dengan telangkai. Selanjutnya dilakukan acara peminangan. Setelah itu ada kenduri. Diteruskan dengan acara menghantar bunga sirih. Kemudian diteruskan dengan upacara berinai. Seterusnya akad nikah dan bersanding.
Diteruskan dengan mandibedimbar. Selanjutnya meminjam pengantin. Setelah itu silaturahmi kedua mempelai kerumah-rumah kerabat terdekat. Oleh sebab itu sampai sekarang sebagian masyarakat melalui masih memegang teguh tahapan tahapan tersebut.
Melalui simbol-simbol dalam tarian Serampang Dua belas, masyarakat melayu dapat melihat identitas mereka sebagai suku Melayu. Akan tetapi kini kebudayaan Melayu mulai terkikis semakin berkembangnya zaman. Bahkan pengetahuan tentang makna yang terkandung dalam tari Serampang Dua belas mulai berkurang. Adanya simbol-simbol ini tidak akan ada dan memberi makna tanpa adanya sebuah keinginan manusia untuk menginterpretasikannya. Usaha yang dilakukan untuk mempertahankan kebudayaan masih terlihat dalam tari Serampang Dua belas. Contohnya dengan sering diadakan festival hingga perlombaan tingkat Nasional. Hal tersebut dilakukan guna menjaga kebudayaan dan seni tari Serampang Dua belas berjalan terus dan dipertahankan kebudayaannya.
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan
Penelitian yang berjudul Komunikasi Nonverbal Pertunjukan Tari Serampang Dua belas menghasilkan kesimpulan yang diperoleh melalui analisis semiotika Rolands Barthes. Kesimpulan dari penelitian ini tentunya akan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang menjadi tujuan dari penelitian.
1. Berdasarkan analisis yang telah didapatkan dari 12 ragam yang terdapat dalam tari Serampang Dua belas mulai dari ragam permulaan sampai ragam sapu tangan., maka makna pesan dalam tari Serampang Dua belas berawal dari kisah tentang cinta suci dua anak manusia yang muncul sejak pandangan pertama dan diakhiri dengan pernikahan yang direstui oleh kedua orang tua sang dara dan taruna. Keseluruhan ragam tidak terdapat sedikitpun gerakan yang saling bersentuhan antara penari pria dan wanita.
Hal tersebut bermakna mengenai muhrim antara lawan jenis yang diaplikasikan pencipta dalam tarian ini. Dalam tari ini pula wanita mengutamakan sopan santun yaitu tidak menantang tatapan mata penari lelaki. Penari wanita digambarkan sebagai sosok yang mengekpresikan sikap jinak-jinak merpati atau malu-malu kucing.
2. Di era modern saat ini mengaplikasian makna budaya dalam kehidupan masyarakat sungguhlah minim untuk ditemukan. Namun makna yang terkandung dalam tari Serampang Dua belas ini masih juga ada masyarakat melayu yang menerapkannya terutama dalam hal pencarian jodoh muda mudi Melayu yang memiliki beberapa tahapan yang di lakukan.
Menurut Knapp simbol-simbol nonverbal dibagi dalam beberapa bentuk, terdapat 3 bentuk simbol nonverbal yang terdapat dalam tari Serampang Dua belas yaitu:
a. Kinesics, Simbol-simbol nonverbal juga terlihat dari gerakan-gerakan yang terdapat dalam tari Serampang Dua belas. Berdasarkan hasil wawancara, para informan mengatakan bahwa gerakan-gerakan yang digunakan dalam tarian Serampang Dua belas memiliki makna bagi masyarakat, khususnya masyarakat Melayu. Yaitu dalam hal percintaan diartikan sebagai sesuatu
yang bisa dilakukan dengan cara dan tahapan yang santun dan beradab sehingga pada akhirnya menuju sebuah ikatan perkawinan, selain itu tarian Serampang Dua belas banyak melakukan gerakan kaki serentak yang memiliki makna bahwa sesulit apapun rintangan yang dihadapi jika dilakukan bersama-sama maka akan terasa mudah.
b. Artifak, dalam tari Serampang Dua belas, simbol-simbol nonverbal terdapat pada properti memiliki makna simbolik tersendiri. Kearifan budaya suku Melayu terdapat pada simbol-simbol nonverbal dapat dipertahankan apabila ada proses interaksi simbolik dalam masyarakat Melayu. Interaksi simbolik dapat dikatakan sebagai proses interpretasi sebuah tindakan.
c. Warna, hampir semua budaya memiliki ciri khas warna yang melekat pada suatu kebudayaan tertentu, sama halnya pada kebudayaan Melayu yang memilih warna kuning sebagai ciri khas kebudayaannya.
Berdasarkan wawancara dengan ketiga informan, masing-masing argumentasi memiliki kesamaan satu sama lain mengenai makna gerak, properti hingga warna. Hal ini dikarenakan mereka mempelajari kebudayaan Melayu berdasarkan pengetahuan yang diajarkan para gurunya dahulu.
5.2 Saran
Pada sebuah penelitian tentu ada beberapa hal yang menjadi masukan dari peneliti untuk keperluan berbagai pihak. Maka dari itu, berdasarkan kesimpulan diatas peneliti mengajukan beberapa saran, yaitu:
1. Secara Akademis, diharapkan penelitian ini memberikan manfaat serta sebagai bahan referensi bagi penelitian selanjutnya, serta mampu memperkaya khasanah, penelitian dibidang Ilmu Komunikasi khususnya mengenai komunikasi budaya ataupun makna komunikasi nonverbal khususnya dalam sebuah tarian.
2. Secara Teoritis, diharapkan penelitian ini dapat dikembangkan lagi untuk penelitian selanjutnya dengan memperkaya teori dan hasil temuan dalam ruang lingkup komunikasi budaya ataupun makna komunikasi nonverbal khususnya dalam sebuah tarian.
3. Secara Praktis, diharapkan dapat menjadi referensi tentang memahami makna komunikasi nonverbal dalam sebuah tarian, karena tanpa disadari banyak sekali makna yang memiliki unsur moral maupun agama yang tentunya dapat memberikan masukan yang baik untuk diri pembacanya.
DAFTAR REFERENSI Sumber Buku:
Berger, Arthur Asa. (2000), Media Analysis Technique, California: Sage
Berger, Arthur Asa. (2000), Media Analysis Technique, California: Sage