• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.3 Kajian Pustaka

2.3.4 Semiotika

Secara etimologis, istilah semiotika berasal dari bahasa Yunani yaitu Semeion yang memiliki arti “tanda”. Tanda didefenisikan sebagai sesuatu yang atas dasar konvensi sosial yang terbangun sebelumnya,dapat dianggap mewakili sesuatu yang lain. Tanda bermakna sesuatu hal yang menunjuk adanya hal lain (Bungin, 2009: 164). Sedangkan secara terminologis, semiotika dapat didefenisikan sebagai ilmu yang mempelajari sederetan luas objek-objek, peristiwa-peristiwa seluruh kebudayaan sebagai tanda (Eco,1979:6) dalam buku Sobur, 2004:95.

Suatu tanda menandakan sesuatu selain dirinya sendiri, konsep dasar ini mengikat bersama seperangkat teori yang amat luas berurusan dengan simbol, bahasa, wacana dan bentuk-bentuk nonverbal, teori-teori yang menjelaskan bagaimana tanda berhubungan dengan maknanya dan bagaimana tanda sisusun.

Secara umum, studi tentang tanda merujuk kepada semiotika. Semiotika menaruh

perhatian apapun yang dapat dinyatakan sebagai tanda. Sebuah tanda adalah semua hal yang dapat diambil sebagai penanda yang mempunyai arti penting untuk menggantikan sesuatu yang lain. Sesuatu yang lain itu tidak semestinya ada, atau tanda itu secara nyata ada disuatu tempat pada waktu tertentu. Dengan begitu, semiotika pada prinsipnya adalah sebuah disiplin yang mempelajari apapun yang bisa digunakan untuk mengatakan sesuatu kebohongan sebaliknya, tidak bisa digunakan untuk mengatakan kebenaran (Berger, 2000: 11-12)

Saussure memasukkan semiotika sebagai suatu hal yang berkaitan dengan kehidupan langsung. Saussure mengemukakan bahwa seseorang menggunakan tanda untuk mengirim makna tentang objek dan orang lain akan menginterpretasikan tanda tersebut. Menurut saussure, bahasa itu merupakan suatu sistem tanda (sign). Tanda merupakan sebuah kesatuan dari suatu bentuk penanda (signifier) dengan sebuah ide atau petanda (Signified). Penanda adalah bunyi yang bermakna atau coretan bermakna (Sobur, 2004:46)

2.3.4.1 Semiotika Roland Barthes

Roland Barthes berpendapat bahwa bahasa adalah sebuah tanda yang mencerminkan asumsi-asumsi dari suatu masyarakat tertentu dalam waktu tertentu (Sobur, 2004:63). Barthes melontarkan konsep tentang konotasi dan denotasi sebagai kunci analisisnya. Sebuah sistem tanda primer dapat menjadi sebuah elemen dari sebuah sistem tanda yang lebih lengkap dan memiliki makna yang berbeda ketimbang semula. Dengan begitu, primary sign adalah denotative sedangkan secondary sign adalah satu dari connotative semiotics (Wibowo, 2013:

21).

Hal-hal yang dibahas Barthes dalam studinya tentang tanda adalah peran pembaca. Konotasi walaupun merupakan sifat asli tanda, membutuhkan keaktifan pembaca agar dapat berfungsi. Barthespun menerangkan apa yang sering disebutnya sebagai sistem pemaknaan tataran kedua, yang dibangun diatas sistem lain yang telah ada sebelumnya. Sistem kedua ini oleh Barthes disebut dengan konotatif, yang didalam Mythologies nya ia membedakan denotatif atau sistem pemaknaan tataran pertama.

1. Signifier (Penanda)

2. Signified (Petanda) 3. Denotative Sign (Tanda Denotatif) 4. Connotative Signifier

(Penanda Konotatif)

5. Connotative Signified (Pertanda Konotatif)

6. Connotative Sign (Tanda Konotatif)

2.1 Peta Tanda Roland Barthes

Sumber: (Sobur,Alex. Semiotika Komunikasi, 2004:69)

Berdasarkan tabel diatas terlihat bahwa tanda denotative (3) terdiri dari penanda (1) dan petanda (2), namun bersamaan pula dengan tanda denotatif menjadi penanda konotatif (4). Tanda konotatif tidak sekedar memiliki makna tambahan tapi mengandung kedua bagian tanda denotatif yang melandasi keberadaannya.

Barthes menjelaskan bahwa konotasi identik dengan operasi ideologi yang disebut sebagai “mitos” dan berfungsi untuk mengungkapkan dan memberikan pembenaran bagi nilai-nilai dominan yang berlaku dalam suatu periode tertentu (Budiman, 2003: 28). Didalam mitos terdapat pola tiga dimensi penanda, pertanda dan tanda. Namun sebagai suatu sistem yang unik, mitos dibangun oleh rantai pemaknaan tataran kedua. Barthes menempatkan ideologi dengan mitos karena baik didalam mitos dengan ideologi, hubungan antara penanda konotatif terjadi secara termotivasi (Budiman, 2003: 28).

Berikut konsep penting dalam analisis semiotika Rolands Barthes:

1. Penanda dan Petanda

Menurut saussure, bahasa merupakan sebuah sistem tanda, dan setiap tanda itu tersusun dari dua bagian, yaitu penanda (signifier) dan petanda (Signified). Tanda merupakan kesatuan dari suatu bentuk penanda (signifier) dengan sebuah idea atau petanda (signified). Dengan kata lain penanda adalah “bunyi yang bermakna” atau “coretan yang bermakna”.

Jadi penanda adalah aspek material dari bahasa apa yang dikatakan atau didengar dan apa yang ditulis atau dibaca. Petanda adalah gambaran

mental, pikiran atau konsep. Menurut saussure, penanda dan petanda merupakan kesatuan seperti dua sisi dari sehelai kertas. Saussure menggambarkan tanda yang terdiri signified itu sebagai berikut:

Elemen-Elemen Makna Saussure Sign

Composed of

Signification

Signifier Signified Reality of Meaning

Sumber: (Sobur, Alex. 2004. Analisis Teks Media ) 2. Denotasi dan Konotasi

Denotasi biasanya dimengerti sebagai makna harfiah, makna yang sesungguhnya, bahkan dirancukan dengan refeensi atau acuan. Proses signifikasi yang secara tradisional disebut dengan apa yang terucap (Sobur, 2004: 70). Denotasi merupakan sebuah hubungan yang digunakan didalam tingkat pertama dalam sebuah kata yang secara bebas memegang peranan penting didalam ujaran. Makna denotasi bersifat langsung, yaitu makna khusus yang terdapat dalam sebuah tanda, dan pada intinya dapat disebut sebagai gambaran sebuah pertanda (Berger, 2000: 55). Sedangkan konotasi diartikan sebagai aspek makna sebuah atau sekelompok kata yang didasarkan atas perasaan atau pikiran yang timbul atau ditimbulkan pada pembicara dan pendengar. Dengan kata lain, makna konotatif merupakan makna leksikal + X (Sobur, 2004: 263)

3. Mitos

Mitos adalah suatu sikap yang lari dari kenyataan dan mencari perlindungan dalam dunia khayal. Menurut Urban, mitos adalah cara utama yang unik untuk memahami realitas. Atau seperti kata Molinowski, mitos adalah suatu pernyataan purba tentang realitas yang lebih relevan.

Dalam nada yang sama, Langer menilai mitos sebagai pandangan yang

serius jauh kemuka tentang kebenaran yang paling mendasar (Rahardjo, 1996:203) dalam buku (Sobur, 2003: 222).

Roland Barthes didalam teks beroperasi lima kode pokok (Five Major Code) yang didalamnya terdapat petanda teks (Leksia). Lima kode ditinjau Barthes (dalam Sobur, 2004: 65-66) yaitu:

1. Kode Hermeneutik

Kode teka-teki berkisar pada harapan pembaca untuk mendapatkan suatu

“Kebenaran” bagi pertanyaan yang muncul dalam teks. Kode teka-teki merupakan unsur struktur yang utama dalam narasi tradisional. Didalam narasi terdapat suatu cerita atau kesinambungan atau pemunculan suatu peristiwa teka-teki dan penyelesaian cerita.

2. Kode Proaretik

Kode tindakan dianggap sebagai pelengkap utama teks yang dibaca orang, yang artinya antara lain semua teks bersifat naratif. Secara teoritis Barthes melihat semua tindakan dapat dikodifikasi. Pada Praktiknya ia menerapkan beberapa prinsip seleksi. Kita mengenal kode lakuan atau peristiwa karena kita dapat memahaminya.

3. Kode Simbolik

Aspek pengkodean fiksi yang paling khas bersifat struktural atau tepatnya menurut konsep Barthes, pascastruktural. Hal ini didasarkan pada gagasan bahwa makna berasal dari beberapa oposisi biner atau pembedaan baik dalam taraf bunyi menjadi fonem dalam proses wicara. Maupun pada oposisi psikoseksual yang melalui proses. Pemisahan dunia secara kultural dan primitif menjadi kekuatan dan nilai-nilai yang berlawanan yang secara mitologis dapat dikodekan.

4. Kode Gnomik

Merupakan acuan teks ke benda-benda yang sudah diketahui dan dikodefikasi oleh budaya. Rumusan suatu budaya atau sub budaya adalah hal-hal kecil yang telah dikodefikasi.

5. Kode Semik

Menawarkan banyak sisi. Dalam proses pembacaan, pembaca menyusun tema suatu teks. Ia melihat bahwa konotasi kata atau frase tertentu dalam

teks dikelompokkan dalam konotasi melekat pada suatu nama tertentu, dan dapat mengenali suatu tokoh atribut tertentu.

Dokumen terkait