• Tidak ada hasil yang ditemukan

Komunikasi Nonverbal Pertunjukan Tari Serampang Dua belas

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Komunikasi Nonverbal Pertunjukan Tari Serampang Dua belas"

Copied!
113
0
0

Teks penuh

(1)

Komunikasi Nonverbal Pertunjukan Tari Serampang Dua belas

(Analisis Semiotika Komunikasi Nonverbal Pertunjukan Tari Serampang Dua belas Menurut Budayawan Melayu Sumatera Utara)

SKRIPSI

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana Program Strata1 (S1) pada Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas

Sumatera Utara

RIZQHA SYAFFIRA 160904011 PUBLIC RELATIONS

PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2021

(2)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI

LEMBAR PERSETUJUAN Skripsi int disetujui untuk dipertahankan :

Nama : RIZQHA SYAFFIRA Nim : 160904011

Judul Skripsi : KOMUNIKASI NON VERBAL PERTUNJUKAN TARI SERAMPANG DUA BELAS

(Analisis Semiotika Komunikasi Nonverbal Pertunjukan Tari Sernmpang Dua belas Menuiut Budayawan Melayu Sumatera Utara)

Dosen Pembimbing

NIP. 196704051990032002

Ketua Program Studi

h.D Dra. Dewi urniawati, M.Si. Ph.D NIP. 196505241989032001

Dekan

(3)
(4)
(5)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur peneliti panjatkan kepada Allah SWT yang senantiasa memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan tugas akhir peneliti yang berjudul Komunikasi Nonverbal Pertunjukan Tari Serampang Dua belas. Skripsi ini peneliti buat dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik dengan almamater Universitas Sumatera Utara. Peneliti menyadari bahwa tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak sejak masa perkuliahan sampai pada penyusunan skripsi ini, sangatlah sulit bagi peneliti hingga ke tahap ini. Dukungan dan bantuan dari berbagai pihak menjadi dorongan agar peneliti dapat menyelesaikan skripsi dengan sebaik-baiknya. Maka dalam kesempatan ini, peneliti ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada kedua orang tua peneliti yang selalu berada disisi peneliti. Kedua orang tua peneliti, abah Syafril dan Ibu Fauziah. Terima kasih telah sabar memberikan pengalaman, nasihat hidup, dorongan, serta doa yang tidak pernah putus. Terima kasih karena telah memberikan banyak cinta untuk peneliti. Terima kasih atas segala hal sehingga peneliti dapat tumbuh hingga seperti ini. Tanpa doa dari mereka peneliti tidak akan bisa sekuat ini. Peneliti bukanlah orang yang mudah merangkai kata, namun peneliti ingin terima kasih kepada:

1. Bapak Drs. Hendra Harahap M.Si., Ph.D selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.

2. Ibu Dra. Kurniawati, M.Si., Ph.D., selaku Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi.

3. Ibu Emilia Ramadhani, M.A., selaku Sekretaris Program Studi Ilmu Komunikasi.

4. Ibu Dra. Dayana M.Si, Selaku Dosen Pembimbing Akademik yang telah membimbing saya sejak awal perkuliahan.

5. Ibu., Prof. Lusiana Andriani Lubis. MA, Ph.D, selaku dosen pembimbing skripsi peneliti. Terima kasih karena ibu sudah banyak memberikan peneliti banyak penjelasan, masukan, dukungan dan doa hingga peneliti bisa menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

(6)

6. Bapak dan ibu dosen yang berada di lingkungan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, khususnya dosen Ilmu Komunikasi. Terima kasih atas ilmu yang telah diberikan selama peneliti menjalani masa perkuliahan.

7. Kak Maya dan kak Yanti yang selalu siap sedia bila peneliti membutuhkan dokumen mengenai perkuliahan.

8. Syifana Nurfadila, Riska Apsari, Nur annisa Terima kasih karena telah menemani masa-masa senang maupun duka selama perkuliahan sejak awal perkuliahan ini. Semoga kita dapat lulus bersama.

9. Radif company Mhd abdul fattah, Dwi harizki, Retno Rifqi Andini Damanik, Intan Sari, Rahma Saitri Hutasuhut, Terima kasih telah memberikan warna di masa perkuliahan peneliti. Terima kasih atas canda dan tawa di sela masa perskripsian. Dan terima kasih atas bantuan ide dan semangat.

10. Manna Nadhira Nasution, Ayu Safitri, Monica Dwi Gita yang telah bersedia membantu dan menyemangati peneliti.

11. Ijar yang selalu membantu peneliti dalam menemukan informan

12. Seluruh informan saya yang sudi kiranya menyempatkan waktu ditengah kesibukannya. Namun masih bisa memberikan informasi kepada peneliti

13. Mahasiswa angkatan 2016. Terima kasih karena kalian telah memberikan warna bagi kehidupan perkuliahan peneliti. Terima kasih telah bekerja sama hingga kita bisa sampai pada masa akhir perkuliahan.

Medan, April 2021

(7)
(8)

ABSTRAK

Penelitian ini berjudul Komunikasi Nonverbal Pertunjukan Tari Serampang Dua Belas. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui apa saja makna komunikasi yang terkandung didalam tari serampang dua belas, baik berupa gerak, busana hingga properti yang digunakan. Teori yang relevan dalam penelitian ini adalah komunikasi nonverbal dan semiotika Roland Barthes agar dapat lebih rinci menjelaskan mengenai makna denotasi dan konotasi didalamnya. Kemudian tari ini memiliki 12 ragam yang mengandung makna tersirat. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan paradigma kritis dengan mengumpulkan data primer dan sekunder serta analisis semiotika Roland Barthes didalam dua tahap yaitu analisis leksia kemudian tataran lima kode pembaca.

Adapun Informan dalam penelitian ini berjumlah tiga informan yang mana informan tersebut berperan sebagai pemberi argumentasi pada pengaplikasian makna tari serampang dua belas terhadap kehidupan masyarakat Melayu saat ini.

Tarian merupakan sebuah gerakan yang indah dalam menarikannya dan enak dipandang. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa makna pesan yang disampaikan dalam tari ini adalah sebagai tari pergaulan yang memiliki arti pejalanan dalam mencari jodoh sepasang muda mudi mulai dari tahap perkenalan sampai ke tahap pernikahan. Tahapan ini yang diajarkan kepada generasi muda dalam pencarian jodoh diera modern saat ini. Terdapat pula makna simbolik dari properti yang digunakan seperti bunga, kopiah, kain samping, sapu tangan hingga makna pada warna. Secara keseluruhan sarat akan makna karena masyarakat Melayu erat kaitannya dengan istilah masyarakat beradab serta beradat.

Kata Kunci : Tari Serampang Dua belas, Komunikasi Nonverbal, Semiotika

(9)

ABSTRACT

This research is titled Nonverbal Communication of Serampang Dua belas Dance Performance. The purpose of this research is to find out what are the meanings of communication contained in the Serampang Dua belas dance, in the form of movement, clothing to the properties used. The relevant theories in this study are nonverbal communication and Roland Barthes’ semiotics in order to explain in more detail the meaning of denotation and the connotations therein. Then this dance has 12 varieties which contain implied meanings. This study uses a qualitative research method with a critical paradigm by collecting primary and secondary data and semiotic analysis of Roland Barthes in two stages, lexia analysis and then level of five code readers. The informants in this study amounted to three informants in which the informant acted as an argumentation giver on the application of the meaning of Serampang Dua belas dance to the life of the Malay community. Dance is a movement that is beautiful and pleasing to the eye. The results of this study indicate that meaning of the messege conveyed in this dance is as a social dance which means a journey in finding a mate for a young couple starting from the introductory stage to the marriage stage. This stage is taught to the youger generation in the search for a mate in today’s modern era. There are also symbolic meanings of the properties used such as flowers, skullcaps, side cloths, handkerchiefs and the colors. Overall, it is full of meaning because the Malay community is closely related to the term civilized and civilized society.

Keywords : Serampang Dua belas Dance, Nonverbal Communication, Semiotic

(10)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL...i

LEMBAR PERSETUJUAN ... ii

HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS ... iii

HALAMAN PENGESAHAN ... iv

KATA PENGANTAR ... v

HALAMAN PERNYATAAN DAN PERSETUJUAN PUBLIKASI...vii

ABSTRAK ... viii

ABSTRACT... ix

DAFTAR ISI...x

DAFTAR TABEL ...xiii

DAFTAR GAMBAR...xiv

DAFTAR LAMPIRAN ...xv

BAB I PENDAHULUAN... ...1

1.1 Konteks Masalah...1

1.2 Fokus Masalah ...7

1.3 Tujuan Penelitian ...7

1.4 Manfaat Penelitian ...8

BAB II KAJIAN PUSTAKA...9

2.1 Paradigma Kajian ...9

2.1.1 Paradigma Kritis... ...10

2.2 Penelitian Terdahulu...11

2.3 Kajian Pustaka ...13

2.3.1 Komunikasi...13

2.3.1.1 Karakteristik Komunikasi...14

2.3.1.2 Unsur-Unsur Komunikasi...15

2.3.1.3 Fungsi Komunikasi...16

2.3.2 Komunikasi Budaya...17

2.3.2.1 Fungsi Komunikasi Budaya...18

2.3.2.2 Kesenian Sebagai Media Komunikasi Budaya...19

2.3.3 Komunikasi Nonverbal...21

(11)

2.3.3.1 Unsur Komunikasi Nonverbal ...22

2.3.3.2 Fungsi Komunikasi Nonverbal...24

2.3.3.3 Bentuk Komunikasi Nonverbal...25

2.3.3.4 Jenis-Jenis Perilaku Nonverbal...26

2.3.3.5 Pesan-Pesan Nonverbal...27

2.3.3.6 Kode Pesan Nonverbal...27

2.3.4 Semiotika...31

2.3.4.1 Semiotika Roland Barthes...32

2.4 Kerangka Pemikiran...36

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ...37

3.1 Metode Penelitian...37

3.2 Objek Penelitian...38

3.3 Subjek Penelitian...38

3.4 Teknik Pengumpulan Data...39

3.5 Teknik Analisis Data...40

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ...41

4.1 Sejarah Tari Serampang Dua belas...41

4.2 Ragam Tari Serampang Dua belas...42

4.2.1 Analisis Ragam I...42

4.2.2 Analisis Ragam II...44

4.2.3 Analisis Ragam III...46

4.2.4 Analisis Ragam IV...48

4.2.5 Analisis Ragam V...50

4.2.6 Analisis Ragam VI...52

4.2.7 Analisis Ragam VII...54

4.2.8 Analisis Ragam VIII...56

4.2.9 Analisis Ragam IX...57

4.2.10 Analisis Ragam X...59

4.2.11 Analisis Ragam XI...61

4.2.12 Analisis Ragam XII...62

4.4 Representasi Simbolik dalam Tari Serampang Dua belas...65

4.4.1 Properti dalam Tari Serampang Dua belas...65

(12)

4.4.2 Warna...69

4.5 Serampang Dua belas Menurut Budayawan Melayu Sumatera Utara.71 BAB V SIMPULAN DAN SARAN...75

5.1 Simpulan...75

5.2 Saran...77

DAFTAR REFERENSI...78

(13)

DAFTAR TABEL

Nomor Judul Halaman

3.1 Data Informan 38

4.2 Analisis Makna Bunga 65

4.3 Analisis Makna Kopiah 66 4.4 Analisis Makna Kain Samping 67 4.5 Analisis Makna Sapu Tangan 68

4.6 Analisis Warna 70

(14)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Judul Halaman

1.1 Penari Serampang Dua Belas 2

2.1 Peta Tanda Roland Barthes 33

2.2 Kerangka Pemikiran 36

4.1 Analisis Ragam I 42

4.2 Analisis Ragam II 44

4.3 Analisis Ragam III 46

4.4 Analisis Ragam IV 48

4.5 Analisis Ragam V 50

4.6 Analisis Ragam VI 52

4.7 Analisis Ragam VII 54

4.8 Analisis Ragam VIII 56

4.9 Analisis Ragam IX 57

4.10 Analisis Ragam X 59

4.11 Analisis Ragam XI 61

4.12 Analisis Ragam XII 62

4.13 Makna Bunga 65

4.14 Makna Kopiah 66

4.15 Makna Kain Samping 67

4.16 Makna Sapu Tangan 78

(15)

DAFTAR LAMPIRAN

- Pedoman wawancara - Dokumentasi Penelitian - Transkrip Wawancara - Biodata Peneliti - Daftar Bimbingan

- Surat Persetujuan Informan

(16)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Konteks Masalah

Sumatera Utara merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang terletak di bagian utara Pulau Sumatra. Provinsi ini beribu kota di Medan. Luas wilayahnya 72.981 km2. Sumatera Utara adalah provinsi dengan jumlah penduduk terbesar keempat setelah Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah, dan pada tahun 2019, jumlah penduduknya adalah sebesar 14.908.036 jiwa. Sumatera Utara merupakan provinsi multietnis diantaranya Batak, Nias, Siladang, Melayu sebagai penduduk asli wilayah ini. Daerah pesisir timur Sumatra Utara, pada umumnya dihuni oleh orang-orang Melayu. Pantai barat dari Barus hingga Natal, banyak bermukim orang Minangkabau. Wilayah tengah sekitar Danau Toba, banyak dihuni oleh Suku Batak yang sebagian besarnya beragama Kristen. Suku Nias berada di kepulauan sebelah barat. (https://id.wikipedia.org/wiki/Sumatra_Utara)

Dari banyaknya etnis yang tersebar di Sumatera Utara maka banyak pula tari- tarian yang memiliki ciri khas masing-masing disetiap etnisnya. Seni tari tradisional meliputi berbagai jenis. Ada yang bersifat magis, berupa tarian sakral, dan ada yang bersifat hiburan saja yang berupa tari profan. Di samping tari adat yang merupakan bagian dari upacara adat, tari sakral biasanya ditarikan oleh dayu-datu.

Termasuk jenis tari ini adalah tari guru dan tari tungkat. Datu menarikannya sambil mengayunkan tongkat sakti yang disebut Tunggal Panaluan.

Tari profan biasanya ialah tari pergaulan muda-mudi yang ditarikan pada pesta gembira. Tortor ada yang ditarikan saat acara perkawinan. Biasanya ditarikan oleh para hadirin termasuk pengantin dan juga para muda-mudi. Tari muda-mudi ini, misalnya morah-morah, parakut, sipajok, patam-patam sering dan kebangkiung. Tari magis misalnya tari tortor nasiaran, tortor tunggal panaluan.

Tarian magis ini biasanya dilakukan dengan penuh kekhusukan. Selain tarian Batak terdapat pula tarian Melayu seperti Tari Serampang Duabelas.

(17)

Gambar: 1.1

(Sumber : https://www.instagram.com/p/Bwmat7BnHiT/?igshid=1dvkg1n2ye0b3) Tari Serampang Dua belas pada awalnya diciptakan oleh seorang seniman tari bernama Sauti dengan nama tari pulau sari. Dinamakan seperti itu karena mulanya tarian ini diiringi oleh lagu berjudul pulau sari. Para penari memperagakan gerakan indah dengan pesan yang terkandung didalamnya. Tari pulau sari terus dikenalkan Sauti kepada murid-muridnya. Kemudian pada tahun 1950-1960an tarian ini mengalami perubahan sesuai gerakannya yang cepat dan enerjik, menjadi tari serampang dua belas.

Tarian ini merupakan tari tradisional yang dimainkan sebagai tari pergaulan yang memiliki arti perjalanan dalam mencari jodoh, mulai dari perkenalan sampai kepernikahan. Cara inilah yang diajarkan kepada generasi muda dalam pencarian jodoh. Sehingga Tari Serampang Duabelas menjadi kegemaran bagi generasi muda untuk mempelajari proses dalam membangun rumah tangga. Pada awal perkembangannya, Tari Serampang Duabelas hanya boleh dibawakan oleh laki-laki, karena pada saat itu perempuan tidak diperbolehkan tampil di depan umum, apalagi menunjukkan lenggak-lenggok tubuhnya. Tetapi seiring perkembangan zaman, di mana perempuan sudah dapat berpartisipasi dalam segala kegiatan, maka tarian ini dimainkan secara berpasangan antara laki-laki dan perempuan. Tari Serampang Duabelas memiliki ciri khas tersendiri sebagaimana terdapat unsur komunikasi nonverbal disetiap

(18)

Komunikasi dan Budaya berinteraksi secara erat dan dinamis. Inti budaya adalah komunikasi, karena budaya muncul melalui komunikasi. Akan tetapi pada gilirannya budaya yang terciptapun mempengaruhi cara berkomunikasi anggota budaya bersangkutan (Mulyana, 2005: 14). Menurut pandangan Talcott Parsons (Irewati, et.al.: 11), setiap masyarakat harus dipandang secara integratif dan setiap perilaku sosial atau suatu kelompok sangat dipengaruhi oleh nilai dan kebudayaannya.

Komunikasi dan kebudayaan merupakan dua konsep yang tidak dapat dipisahkan. Pusat perhatian komunikasi dan kebudayaan terletak pada variasi langkah dan cara bagaimana manusia berkomunikasi dengan melintasi komunitas manusia maupun kelompok sosialnya. Pelintasan komunikasi tersebut menggunakan kode-kode pesan baik secara Verbal maupun Nonverbal yang secara alamiah selalu digunakan dalam konteks interaksi. Komunikasi verbal adalah bentuk komunikasi yang disampaikan komunikator kepada komunikan dengan cara tertulis (written) atau lisan (oral). Komunikasi non-verbal adalah proses komunikasi dimana pesan disampaikan tidak menggunakan kata-kata tetapi menggunakan gerak isyarat, bahasa tubuh, ekspresi wajah dan kontak mata

Pesan verbal merupakan semua jenis komunikasi lisan yang menggunakan satu kata atau lebih (Deddy Mulyana,2011). Pesan nonverbal adalah setiap informasi atau emosi yang di komunikasikan tanpa menggunakan kata-kata atau nonlinguistik. Komunikasi nonverbal dikatakan penting, sebab apa yang sering kita lakukan mempunyai makna jauh lebih daripada apa yang kita katakan (Butyatna, 2011).

Perilaku nonvebal, tidak hanya dapat memahami beberapa pesan dihasilkan selama berinteraksi namun demikian juga dapat mengumpulkan petunjuk mengenai asas dari nilai yang mendasarinya. Rosenblat juga mengungkpan bahwa berbudaya mengajarkan manusia melakukan tindakan nonvebal yang di tunjukan, sebuah arti dari tindakan tersebut ialah latar belakang dari kontekstual dari tindakan tersebut. sehingga dapat dikatakan bahwasanya komunikasi nonverbal memainkan peranan yang sangat penting dalam melakukan beberapa interaksi komunikasi antar manusia dengan berbudaya

(19)

berbeda. Sehingga dalam hal ini untuk memahami komunikasi nonverbal tersebut akan menimbulkan beberapa paradigma yang akan muncul yaitu salah satunya paradigma yang di ungkapkan oleh Lary A. Samovar dan Richard E dalam bukunya Deddy Mulyana yang mengklasifikasikan beberapa pesan nonverbal ke dalam dua kategori utama yaitu gerak, postur tubuh, ekspresi wajah, kontak mata, sentuhan, bau – bauan, pribahasa, ruang dan diam.

Dengan demikian tampak jelas bahwa setiap simbol yang tertangkap secara inderawi sarat akan pemaknaan dan filosofi yang terkandung didalamnya.

Apalagi masyarakat Melayu dalam proses penciptaan sebuah kesenian tidak sekedar menciptakan kesenian tanpa makna dari cerita didalamnya. Oleh karena itu timbul ketertarikan penulis untuk mencari dan mempelajari makna semiotika (tanda) yang terkandung dalam tari Serampang Dua belas.

Pertunjukan tari terdapat pada fungsi komunikasi ketiga yakni menghibur (entertain) yang dikemukakan oleh (Effendy, 1997:36). Ia mengemukakan terdapat 4 fungsi komunikasi yaitu menginformasikan (to inform), mendidik (to educated), menghibur (to entertain), dan juga mempengaruhi (to influnce).

Seni tari merupakan salah satu media pernyataan kegiatan manusia dalam mewujudkan nilai-nilai dan keluhan melalui gerak. Tari yang dinyatakan sebagai ungkapan perasaan manusia melalui gerakan tubuh sehingga tampak dengan jelas bahwa hakikat dasar dari tari adalah gerak. Disamping itu ada pula unsur penunjang atau pendukung penting bagi tari seperti irama, kostum, tempat serta tema (Hartati dan Nurlaili, 2007:6)

Tarian terlahir akan memiliki keistimewaan tersendiri dengan penyampaian pesan dan juga makna yang terkandung didalamnya. Gerak tari adalah suatu unsur paling utama dari setiap gerak yang dilakukan. Dalam hal ini gerak bukanlah suatu yang realistis, tetapi gerak terbentuk karena ekpresi dan juga estetis. Berbudaya adalah merupakan salah satu cara hidup untuk dikembangkan sehingga akan dimiliki bersama – sama oleh sebuah kelompok sehingga dapat diwariskan dari generasi ke generasi selanjutnya. Dalam budaya akan, terbentuk dari suatu unsur yang cukup rumit, karena di dalamnya terdapat sistem sosial yang

(20)

dianut masing – masing. seperti agama, adat istiadat bahasa, pakaian, politik dan ciri khas seni di dalammnya.

Kebudayaan di Indonesia harus dijaga dari sekarang. Melihat kemajuan teknologi, rasanya senang bisa dipermudah. Namun, untuk urusan budaya sepertinya rentan terkena dampak negatif dari kemajuan teknologi. Para penerus bangsa ini yang memainkan gadgetnya untuk mengikuti budaya luar yang tidak semestinya diikuti. Kebudayaan Indonesia saat ini memasuki tahap

"memprihatinkan" artinya kurang di budayakan oleh para penerus bangsa ini.

Para kawula muda Indonesia harus melihat perjuangan leluhur dalam melestarikan budaya. "Bangsa akan kehilangan jati dirinya apabila telah kehilangan budaya aslinya"

Pelestarian sebagai kegiatan atau yang dilakukan secara terus menerus, terarah dan terpadu guna mewujudkan tujuan tertentu yang mencerminkan adanya sesuatu yang tetap dan abadi, bersifat dinamis, luwes, dan selektif.Pelestarian budaya adalah upaya untuk mempertahankan nilai-nilai seni budaya, nilai tradisional dengan mengembangkan perwujudan yang bersifat dinamis, luwes dan selektif. Widjaja (1986) mengartikan pelestarian sebagai kegiatan atau yang dilakukan secara terus menerus, terarah dan terpadu guna mewujudkan tujuan tertentu yang mencerminkan adanya sesuatu yang tetap dan abadi, bersifat dinamis, luwes dan selektif (Widjaja dalam Ranjabar, 2006:56). Menjaga dan melestarikan budaya Indonesia dapat dilakukan dengan berbagai cara.

Terdapat dua cara yang dapat dilakukan masyarakat khususnya sebagai generasi muda dalam mendukung kelestarian budaya dan ikut menjaga budaya lokal (Sendjaja, 1994: 286). yaitu : 1. Culture Experience Culture Experience Merupakan pelestarian budaya yang dilakukan dengan cara terjun langsung kedalam sebuah pengalaman kultural. contohnya, jika kebudayaan tersebut berbentuk tarian, maka masyarakat dianjurkan untuk belajar dan berlatih dalam menguasai tarian tersebut, dan dapat dipentaskan setiap tahun dalam acara-acara tertentu atau diadakannya festival-festival. Dengan demikian kebudayaan lokal selalu dapat dijaga kelestariannya. 2. Culture Knowledge Culture Knowledge

(21)

Merupakan pelestarian budaya yang dilakukan dengan cara membuat suatu pusat informasi mengenai kebudayaan yang dapat difungsionalisasi ke dalam banyak bentuk. Tujuannya adalah untuk edukasi ataupun untuk kepentingan pengembangan kebudayaan itu sendiri dan potensi kepariwisataan daerah.

Pada penelitian ini akan dibahas mengenai kesenian tari Serampang Dua belas, Hal tersebut sangat menarik untuk ditelaah dari sudut pandang Ilmu Komunikasi. Peneliti juga menemukan fakta bahwa tari ini merupakan satu- satunya tarian yang pernah ditarikan di Istana Negara bersama dengan Presiden pertama RI bapak Soekarno dan sampai sekarang tarian ini di perlombakan sampai ke tingkat Nasional. Serta ditetapkan pemerintah sebagai warisan budaya non benda pada tahun 2015. Dari kenyataan tersebut serampang dua belas termasuk dalam tarian hiburan yang bertahan dalam memberikan pedoman nilai- nilai kepada masyarakat.

Seni budaya dapat berfungsi sebagai media yang baik untuk menyebar luaskan pesan. Tindakan komunikasi dapat dilakukan dalam berbagai cara, baik secara verbal (dalam bentuk kata-kata, baik lisan maupun tulisan) dan nonverbal (tidak dalam bentuk kata-kata, misalnya gesture, sikap, tingkah laku, gambar- gambar dan bentuk-bentuk lainnya yang mengandung arti).

Peran artinya fungsi dan guna, hampir sebagian besar tari tradisional memiliki peranan besar dalam aktivitas masyarakat dimana tarian tersebut tumbuh dan berkembang. Peranan dalam tarian itulah yang membuat masyarakat dikenali sebagai ciri khas daerah, apalagi sebagai media komunikasi budaya sudah pasti tari tradisional Serampang Dua belas dikemas untuk menyampaikan pesan-pesan kepada masyarakat dan dapat mempengaruhi kehidupan agar lebih baik.

Pesan yang terkandung didalamnya ada makna yang mendidik masyarakat untuk berbudi pekerti yang baik terhadap orang lain. Mendidik anak-anak calon generasi selanjutnya untuk mencintai kebudayaan asli dengan cara menanamkan rasa suka dan kecintaan terhadap tanah air, membentuk jati diri seseorang serta mengajarkan kepada anak-anak muda zaman sekarang cara melestarikan budaya tradisional seni tari berhubungan dengan aktifitas orang banyak, yang bertujuan untuk menciptakan keadaan yang harmonis, baik dalam adat, agama maupun

(22)

Peneliti memilih tari Serampang Dua belas karena tari ini merupakan tarian yang banyak dipertunjukkan dalam berbagai acara. Namun tidak semua masyarakat mengetahui dengan baik tujuan dan pesan yang terkandung dalam setiap gerakan yang disampaikan oleh penari. Diantara berbagai teori yang ada, penulis menggunakan teori semiotika yang berfokus pada teori simbolik Roland Barthes. Analisis semiotika digunakan untuk menggali dan menganalisis makna- makna yang terdapat dalam seni tari terutama pada makna gerakan tari tersebut baik yang terlihat maupun yang tak terlihat.

Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan di atas, peneliti tertarik untuk mengkaji lebih dalam mengenai “ Komunikasi Nonverbal Pertunjukan Tari Serampang Dua belas ”.

1.2 Fokus Masalah

Berdasarkan konteks masalah yang telah diuraikan di atas, maka fokus masalah dalam penelitian ini adalah:

1. Bagaimanakah makna penyampaian pesan dari tari Serampang Dua belas dalam setiap ragam tarian tersebut?

2. Bagaimana representasi simbolik dalam tari Serampang Dua belas?

1.3.Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian dari fokus masalah adalah sebagai berikut : 1. Untuk mengetahui makna pesan dalam ragam yang terdapat dalam tari

Serampang dua belas

2. Untuk mendeskripsikan bagaimana penerapan makna kedalam kehidupan masyarakat Melayu

(23)

1.4 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian sebagai berikut:

1. Manfaat penelitian secara teoritis penelitian ini diharapkan dapat memperkaya pengetahuan dan wawasan bagi peneliti, mahasiswa, serta masyarakat tentang makna pesan komunikasi non verbal khususnya dalam sebuah tari.

2. Manfaat penelitian secara akademis penelitian ini diharapkan dapat memperkaya keanekaragaman wacana penelitian di Departemen Ilmu Komunikasi FISIP USU dan di harapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi pembaca.

3. Manfaat secara praktis penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dan memberikan sumbangan informasi bagi masyarakat tentang makna komunikasi didalam sebuah tarian, agar masyarakat sadar bahwa pentingnya mempelajari serta melestarikan sebuah kebudayaan khususnya tari.

(24)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA 2.1 Paradigma Kajian

Menurut Guba & Lincoln (dalam Erlina, 2011: 10), paradigma penelitian merupakan kerangka berfikir yang menjelaskan bagaimana cara pandang peneliti terhadap fakta kehidupan sosial dan perlakuan peneliti terhadap ilmu dan teori.

Paradigma penelitian juga serta merta menjelaskan bagaimana peneliti memahami suatu masalah, serta kriteria penelitian sebagai landasan untuk menjawab masalah penelitian. Sedangkan menurut Sugeng Pujileksono, paradigma adalah satu set asumsi, konsep, nilai-nilai praktek dan cara pandang realitas dalam disiplin ilmu.(Pujileksono, 2015: 26)

Pujileksono, (2015: 26) menyatakan bahwa terdapat beberapa alasan peneliti dalam menentukan paradigma penelitian:

1. Paradigma penelitian menggambarkan pilihan suatu kepercayaan yang akan mendasari dan memberi pedoman seluruh proses penelitian.

2. Paradigma penelitian menekankan rumusan masalah, tujuan penelitian dan tipe penjelasan yang digunakan.

3. Pemilihan paradigma memiliki implikasi terhadap pemilihan metode teknik, penentuan subjek penelitian/sampling, teknik pengumpulan, teknik uji keabsahan data dan analisis data.

Menurut Neuman (2013: 142) dalam bukunya “Metodologi Penelitian Sosial Pendekatan Kualitatif dan Kuantitatif” menjelaskan bahwa ada tiga paradigma pada ilmu sosial yang menyediakan perbedaan dalam asumsi mengenai cara melakukan suatu penelitian sosial. Ketiga paradigma tersebut adalah:

1. Paradigma positivisme, yaitu paradigma paling tertua yang digunakan dalam ilmu sosial. Paradigma ini melihat suatu kejadian atau gejala sosial maupun fenomena yang ada sebagai suatu yang kausal (hukum sebab akibat), sesuatu yang terjadi karena disebabkan oleh suatu alasan.

(25)

2. Paradigma konstruktivisme, yaitu ilmu sosial interpretif atau pandangan secara konstruktivisme menekankan pada aksi sosial yang bermakna, makna itu terbentuk secara sosial dan memiliki relativisme nilai. Jadi melalui pendekatan konstruktivisme kita melihat aksi-aksi atau kejadian sosial yang terjadi sebagai sesuatu yang bermakna dan juga memiliki makna bagi subjek-subjek yang melakukannya.

3. Paradigma kritis, paradigma yang tujuan utamanya bukan untuk sekadar mempelajari dunia sosial, tetapi juga mengubahnya. Kritis juga berusaha untuk mengkritik dan mengubah hubungan sosial dengan cara mengungkapkan sumber-sumber yang mendasari kontrol sosial, hubungan kekuasaan, dan ketidaksetaraan.

Berdasarkan defenisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa paradigma merupakan acuan dari seperangkat konsep dan keyakinan terhadap suatu hal yang kemudian membentuk kerangka pemikiran terhadap pelaksanaan sebuah penelitian.

2.1.1 Paradigma Kritis

Dalam buku Pujileksono, 2016: 29 menjelaskan bahwa paradigma kritis memiliki beberapa karakteristik yaitu:

1. Paradigma kritis melihat suatu realita secara kritis sebagai objek penelitian. Paradigma penelitian ini melihat realita yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang sebaliknya terjadi pada masyarakat (ketimpangan, ketidakadilan, penindasan, peminggiran, dsb). Realita inilah yang menjadi objek penelitian paradigma kritis.

2. Keberadaan realita terjadi pada diri peneliti dan terjadi di luar peneliti.

3. Jarak peneliti dengan objek peneliti sangat dekat, peneliti terlibat langsung dengan objek yang diteliti.

4. Penelitian dengan paradigma kritis bersifat kualitatif dimana peneliti memasukkan nilai pendapatnya pada penelitian.

5. Tujuan untuk membangun kesadaran kolektif demi mengubah struktur untuk menjadi lebih baik. Pada intinya perubahan yang ditujukan pada

(26)

penelitian paradigma kritis merupakan upaya untuk perbaikan pada struktur yang ada di masyarakat.

6. Realita yang dijadikan sebagai objek penelitianmerupakan proses sejarah dan kekuatan sosial yang semu dalam masyarakat. Penelitian ini sangat subjektif karena penilaian terhadap suatu realita berasal dari peneliti sendiri. Dalam memasukkan penelitian pada penelitian, peneliti juga melihat penilaian masyarakat pada umumnya, peneliti melihat kesesuaian dan ketepatan teori dengan praksis yang ada pada realita.

2.2 Penelitian Terdahulu 1. Penelitian Pertama

Makna komunikasi non verbal tari “Pagaruyung” pada pernikahan adat di Kec. Delang Kab. Lamandau. Sebuah penelitian yang ditulis oleh Botina Dijaraya Lamande. Mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga 2015. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan mengenai pesan komunikasi non verbal yang terjadi pada kegiatan tradisi tari Pagaruyung dalam prosesi pernikahan adat suku Dayak Delang. Bagaimana proses pelaksanaannya, apa pesan-pesan yang terkandung dalam setiap prosesi, serta apa makna yang terkandung dalam prosesi tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif, serta studi Etnografi komunikasi. Subjek informan berjumlah delapan orang dan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam, observasi partisipatif, dokumentasi, studi pustaka, dan internet searching. Hasil penelitian, makna komunikasi non verbal tari Pagaruyung pada pernikahan adat Dayak Delang di Kecamatan Delang Kabupaten Lamandau.

Melalui beberapa tahap yaitu waktu pelaksanaan:upacara adat (1) bepinta, (2) bejadi:pelaksanaan tarian Pagaruyung, ruang/tempat:terdapat dua pola ruang yang berbeda pada tarian lama dan baru, gerakan:terdapat dua motif gerakan yaitu sembahan dan gerakan burung. busana:penari mengenakan tapih sarung, kemeja, tutup kepala,selendang.

(27)

2. Penelitian Kedua

Penelitian kedua yaitu berjudul Makna Pesan Komunikasi Non Verbal dalam Kesenian Tari Topeng Cirebon di Jawa Barat oleh Nurul Fitri Mahasiswa Universitas Komputer Indonesia Bandung 2013. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna pesan nonverbal komunikasi dalam seni tari topeng Cirebon Jawa Barat. Untuk menjawab tujuan ini. Penelitian tersebut kemudian dikemukakan lima sub makna ekspresi mikro, yaitu makna arti sandang, arti gerak, arti ruang/ tempat dan arti waktu.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan data menggunakan studi pustaka, observasi, wawancara mendalam, dokumentasi, pencarian internet. Adapun teknik analisis data yang digunakan dalam data pengumpulan, penyajian data, reduksi data, penarikan kesimpulan dan evaluasi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna pesan nonverbal komunikasi dalam seni tari topeng Cirebon terkandung dalam pengertian makna pesan nonverbal itulah arti dari ekspresi sebelum menggunakan samaran penari tersebut serius dan tetap menghayati cerita masing-masing topeng. Begitu juga saat penari menggunakan topeng.

Makna busana penari topeng memiliki makna dan nilai religius, kesusilaan, timbal balik siat menolong, kebaikan, dan lain-lain. Makna gerak terlihat pada gerak-gerik penari, tetapi tidak semua gerakan yang memiliki makna, hanya sembilan titik gerakan pada bagian tersebut, dan ditambah dengan panji- panji memiliki arti yang lebih dalam karena dilakukan diawal tarian dan sosok manusia yang digambarkan sebagai bayi baru lahir. Makna tempat dan waktu dimana dalam praktiknya seni tari topeng cirebon tidak terbatas, tetapi karena seni tari sakral diadakan setahun sekali sesuai dengan kalender jawa. Seni ini dilakukan diberbagai tempat seperti panggung, jalanan, sanggar, dan lain-lain.

Dan kesenian Topeng Cirebon bertujuan untuk menyebarkan agama dan kebaikan kepada masyarakat cirebon.

Kesimpulan dari penelitian ini adalah komunikasi non verbal merupakan pesan pada setiap elemen tari topeng cirebon, elemen seni seperti ekspresi, pakaian, pergerakan, ruang dan waktu. Para wali menggunakan kesenian tersebut

(28)

sebagai dakwah dan menyebarkan islam. Akhirnya peneliti menyarankan agar kami mengerti setiap unsur komunikasi non verbal yang terkandung dalam seni Tari Topeng Cirebon.

2.3 Kajian Pustaka

Kajian pustaka sangat diperlukan untuk mendukung permasalahan yang diungkapkan dalam usulan penelitian. Studi kepustakaan yang baik akan menyediakan dasar untuk menyusun kerangka teoritis yang komprehensif. Kajian teori yang berkaitan dengan permasalahan yang akan diteliti. Hal ini dimaksudkan agar para peneliti mempunyai wawasan yang luas sebagai dasar untuk mengembangkan atau mengidentifikasi variabel-variabel yang akan diteliti.

Disamping itu, kajian pustaka ini juga dimaksudkan agar peneliti dapat mengidentifikasi masalah yang ingin diteliti dalam konteks ilmu pengetahuan yang relevan.

Oleh karena itu, Kajian pustaka ini menjadi dasar dalam merumuskan Kerangka Teori yang selanjutnya menjadi dasar untuk mengembangkan Kerangka Konsep penelitian. Pengertian kajian pustaka umumnya dimaknai berupa ringkasan atau rangkuman dan teori yang ditemukan dari sumber bacaan (literatur) yang ada kaitannya dalam penelitian. Oleh karena itu untuk menjelaskan bagaimana Komunikasi Non Verbal Pertunjukan Tari Serampang Dua Belas, Maka penelitian akan menggunakan teori sebagai berikut :

2.3.1 Komunikasi

Istilah komunikasi atau dalam bahasa Inggris Communication berasal dari kata Latin communicatio, dan bersumber dari kata communis yang berarti sama.

Sama disini maksudnya adalah satu makna. “jika dua orang terlibat dalam komunikasi maka komunikasi akan terjadi atau berlangsung selama ada kesamaan makna mengenai apa yang dikomunikasikan, yakni baik penerima maupun pengirim sepaham dari suatu pesan tertentu”. (Effendy, 2002: 9)

McCroskey, (1998) mengatakan bahwa komunikasi merupakan proses yang menggambarkan bagaimana seseorang memberikan stimulasi pada makna

(29)

verbal dan nonverbal ke dalam pikiran orang lain. Kemudian Ruben & Stewart (dalam liliweri 2011:35) juga berpendapat bahwa komunikasi meliputi respons terhadap pesan yang diterima lalu menciptakan pesan baru, karena setiap orang berinteraksi dengan orang lain melalui proses penciptaan dan interpretasi pesan yang dikemas dalam bentuk simbol atau kumpulan simbol bermakna yang sangat berguna.

Begitu banyaknya definisi komunikasi yang dikemukakan oleh para ahli namun tidak bisa dikatakan definisi mana yang lebih benar dan tepat, karena masing-masing definisi harus dilihat dari manfaat untuk menjelaskan suatu fenomena yang dapat didefinisikan dan mengevaluasinya.

2.3.1.1 Karakteristik Komunikasi

Beberapa karakteristik komunikasi yang dikemukakan oleh (Wiryanto, 2005: 22) adalah sebagai berikut :

1. Komunikasi suatu proses. Komunikasi sebagai suatu proses artinya bahwa komunikasi merupakan serangkaian tindakan atau peristiwa yang terjadi secara berurutan serta berkaitan satu sama lainnya dalam kurun waktu tertentu. Proses komunikasi melibatkan banyak faktor atau unsur, antara lain mencakup pelaku atau peserta, pesan (meliputi bentuk, isi dan cara penyampaiannya), saluran atau alat yang digunakan menyampaikan pesan, waktu, tempat, hasil atau akibat yang terjadi.

2. Komunikasi adalah upaya yang disengaja serta mempunyai tujuan.

Komunikasi adalah kegiatan yang dilakukan secara sadar, disengaja serta sesuai dengan tujuan atau keinginan dari perilakunya.

3. Komunikasi menuntut adanya partisipasi dan kerja sama dari para pelaku yang terlibat.

4. Komunikasi bersifat simbolis, komunikasi pada dasarnya menggunakan lambang-lambang, misalnya bahasa.

(30)

5. Komunikasi bersifat transaksional, yaitu melibatkan dua tindakan, memberi dan menerima.

6. Komunikasi menembus faktor ruang dan waktu, komunikasi menembus ruang dan waktu maksudnya bahwa para peserta atau pelaku yang terlihat dalam komunikasi tidak harus hadir pada waktu serta tempat yang sama.

2.3.1.2 Unsur-Unsur Komunikasi

Mengutip pendapat dari Harold Lasswell, menurut Deddy Mulyana dalam bukunya Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar (2009 : 147-148), menggambarkan Unsur- unsur komunikasi yakni :

a. Sumber (Who)

Sumber merupakan pihak yang berinisiatif atau mempunyai kebutuhan untuk berkomunikasi. Sumber boleh jadi seorang individu, kelompok, organisasi, perusahaan atau bahkan suatu negara. Dalam penyampaian informasi, sumber harus mengubah apa yang ada dalam pikiran perasaannya kedalam simbol verbal dan nonverbal sehingga dapat dipahami oleh penerima pesan. Sumber disebut juga sebagai komunikator.

b. Pesan (Says What)

Pesan adalah apa yang dikomunikasikan oleh sumber kepada penerima pesan dapat berupa verbal yang mewakili perasaan, nilai, gagasan dan pikiran.

c. Saluran atau Media (In Which Channel)

Saluran atau media merupakan alat atau wahana yang digunakan sumber untuk menyampaikan pesannya kepada penerima. Media dapat berupa media cetak (surat kabar atau majalah) dan media elektronik (radio atau televisi) atau dapat juga secara langsung (tatap muka).

d. Penerima (To Whom)

Penerima (receiver), sering juga disebut sasaran atau tujuan (destination), komunikate (communicate), penyandi balik (decoder) atau khalayak (audience), pendengar (listener), penafsir (interpreter),

(31)

yakni orang yang menerima pesan verbal dan nonverbal dari sumber yang menjadi suatu gagasan yang ia pahami.

e. Efek (With What Effect ?)

Efek adalah apa yang terjadi pada penerima setelah ia menerima pesan tersebut. Efek tersebut misalnya penambahan pengetahuan (dari tidak tahu menjadi tahu), terhibur, perubahan sikap (dari tidak bersedia membeli barang yang ditawarkan menjadi bersedia membeli barang yang ditawarkan menjadi bersedia membeli barang yang ditawarkan).

2.3.1.3 Fungsi Komunikasi

Berikut fungsi komunikasi menurut Onong Uchjana Effendy mengemukakan bahwa fungsi komunikasi adalah :

1. Menginformasikan (to inform)

Adalah memberikan informasi kepada masyarakat, memberitahukan kepada masyarakat mengenai peristiwa yang terjadi, ide (pikiran dan tingkah laku orang lain), serta segala sesuatu yang disampaikan orang lain.

2. Mendidik (to educated)

Adalah komunikasi merupakan sarana pendidikan. Dengan komunikasi, manusia dapat menyampaikan ide dan pikirannya kepada orang lain, sehingga orang lain mendapatkan informasi dan ilmu pengetahuan.

3. Menghibur (to entertain)

Adalah komunikasi selain berguna untuk menyampaikan komunikasi.

Pendidikan dan mempengaruhi juga berfungsi untuk menyampaikan hiburan atau menghibur orang lain.

4. Mempengaruhi (to influnce)

Adalah fungsi mempengaruhi setiap individu yang berkomunikasi, tentunya berusaha saling mempengaruhi jika pikiran komunikan dan lebih jauh lagi berusaha merubah sikap dan tingkah laku komunikan sesuai dengan yang diharapkan. (Effendy, 1997:36)

(32)

2.3.2 Komunikasi Budaya

Pengertian komunikasi semakin luas hingga ranah budaya, karena terdapat ketertarikan erat antara unsur-unsur budaya dan komunikasi dalam membangun relasi dan kehidupan bersama. Komunikasi merupakan bentuk-bentuk suara yang dipakai melalui bahasa sehari-hari oleh sebab itu untuk mengerti dan mengkomunikasikan suatu kebenaran harus dipelajari dalam kebudayaan itu sendiri. “Budaya adalah komunikasi dan komunikasi adalah budaya”. Manusia mempelajari budaya melalui kegiatan komunikasi, sedangkan pada saat yang sama komunikasi merupakan refleksi budaya tertentu.

Budaya adalah cara manusia berbicara dan berpakaian, makanan yang manusia makan dan cara manusia menyiapkan dan mengkonsumsinya. Perspektif tentang budaya ini mengimplikasikan bahwa tidak ada budaya yang secara inhern lebih unggul dari budaya yang lainnya dan bahwa kekayaan budaya tidak ada kaitannya dengan status ekonomi, budaya sebagai kehidupan sehari-hari merupakan ide yang tetap demokratis.

Budaya adalah sebuah konsep yang membangkitkan minat. Secara formal budaya didefinisikan sebagai tatanan pengetahuan, pengalaman, kepercayaan, waktu, peranan, konsep alam semesta, objek-objek materi yang diperoleh sekelompok besar generasi ke generasi melalui usaha individu maupun kelompok.

Budaya menampakkan diri dalam pola-pola bahasa dan dalam bentuk-bentuk kegiatan dan perilaku yang berfungsi sebagai model-model bagi tindakan- tindakan penyesuaian diri dan gaya komunikasi yang memungkinkan orang-orang tinggal dalam suatu masyarakat disuatu lingkungan geografis tertentu pada suatu tingkat perkembangan teknis tertentu dan pada suatu saat tertentu.

Budaya komunikasi dan budaya tidak dapat dipisahkan oleh karena itu budaya tidak menentukan apa, berbicara dengan siapa, tentang apa dan bagaimana komunikasi berlangsung, tetapi juga turut menentukan orang menjadi pesan, makna yang ia miliki untuk pesan dan kondisi-kondisinya untuk mengirim, memperhatikan dan menafsirkan pesan. Sebenarnya seluruh pembendaharaan perilaku tergantung pada budaya dimana masyarakat bertempat tinggal dan dibesarkan.

(33)

Hal inilah yang menandakan bahwa budaya adalah landasan komunikasi, bila budaya beraneka ragam maka beragam pula praktek model komunikasinya.

Komunikasi budaya juga dapat diartikan sebagai proses kehidupan bermasyarakat, yang mana proses pesan dan informasi itu muncul melalui kesamaan dalam menangkap suatu makna dan sandi-sandi yang ada dalam tubuh masyarakat.

Untuk komunikasi budaya adalah komunikasi yang terjadi dalam kebudayaan yang sama.

2.3.2.1 Fungsi Komunikasi Budaya

William I. Gorden mengemukakan empat fungsi komunikasi yakni:

Pertama, Komunikasi sosial, fungsi komunikasi sebagai komunikasi sosial setidaknya mengisyaratkan bahwa komunikasi penting untuk membangun konsep diri, aktualisasi diri, untuk kelangsungan hidup, untuk memperoleh kebahagiaan, terhindar dari tekanan dan ketegangan, antara lain lewat komunikasi yang menghibur, dan memupuk hubungan dengan orang lain.

Kedua, komunikasi ekspresif, erat kaitannya dengan komunikasi sosial adalah komunikasi ekspresif yang dapat dilakukan sendiri atau kelompok.

Komunikasi ekspresif tidak otomatis bertujuan mempengaruhi orang lain, namun dapat dilakukan sejauh komunikasi tersebut menjadi instrumen untuk menyampaikan perasaan-perasaan (emosi). Perasaan tersebut dikomunikasikan terutama melalui pesan-pesan nonverbal. Perasaan sayang, peduli, rindu, sedih, bahagia, marah, dan lain-lain dapat disampaikan melalui kata-kata, namun terutama lewat perilaku nonverbal.

Ketiga, komunikasi ritual, erat kaitannya dengan komunikasi ekspresif adalah komunikasi ritual yang biasanya dilakukan secara kolektif. Suatu komunitas sering melakukan upacara-upacara berlainan sepanjang tahun yang disebut dengan rites of pasage, mulai dari upacara kelahiran, khitan, ulang tahun pertunangan, siraman, pernikahan, dalam acara-acara tersebut orang-orang menampilkan perilaku-perilaku simbolik. Mereka yang berpartisipasi dalam bentuk komunikasi ritual tersebut menegaskan kembali komitmen mereka terhadap tradisi keluarga, komunitas, suku, bangsa, negara, ideologi atau agama mereka.

(34)

Keempat, komunikasi instrumental, mempunyai beberapa tujuan umum, yaitu menginformasikan, mengajar, mendorong, mengubah sikap, dan keyakinan, dan mengubah perilaku atau menggerakkan tindakan, dan juga menghibur.

Apabila diringkas, maka kesemua fungsi tersebut dapat disebut membujuk (bersifat persuasif). Komunikasi yang berfungsi memberitahukan atau menerangkan (to inform) mengandung muatan persuasif dalam arti bahwa pembicara menginginkan pendengarnya mempercayai bahwa fakta atau informasi yang disampaikannya akurat dan layak diketahui.

Kebudayan memiliki fungsi integratif yang memberikan dasar dan orientasi bagi anggota masyarakatnya sehingga menimbulkan semangat, rasa aman, rasa memiliki, cita rasa sebagai masyarakat itu. Kebudayaan juga menimbulkan tertib damai hidup bermasyarakat dengan adat istiadat, kebatinan dan kesusilaan, angan-angan manusia yang menimbulkan keseluruhan bahasa, kesusastraan dan dalam masyarakat itu akan merasa bahwa ia orang baru atau orang luar yang tidak berbagi pemahaman pengetahuan, cita rasa, semangat, ekspresi, dan apresiasi dengan masyarakat itu. Fungsi komunikasi dalam kesenian tari serampang dua belas memberikan enkulturasi dan pendidikan moral khusus muda-mudi . Dengan adanya kesenian tari serampang-dua belas berbagai nilai dan moral ditransmisikan dari seorang kepada orang lain. Nilai-nilai pendidikan moral ini mencakup norma sopan santun dan etika, keindahan atau estetika, penampilan diri, penempatan diri, hidup dalam kepentingan individu dan kelompok, bertingkah laku baik, dan lain-lain.

2.3.2.2 Kesenian Sebagai Media Komunikasi Budaya

Kesenian berasal dari kata dasar seni. Seni berarti keahlian membuat karya yang bermutu, karya yang diciptakan dengan keahlian yang luar biasa seperti tari, lukisan ukiran. Kesenian mengacu pada nilai keindahan (estetika) yang berasal dari ekspresi hasrat manusia akan keindahan. Kesenian merupakan sarana yang digunakan untuk mengekspresikan keindahan dan berasal dari dalam jiwa manusia. Selain itu kesenian juga merupakan media komunikasi bagi masyarakat dan lingkungannya atau dengan kelompok masyarakat lainnya (Sumaryono, 2011:

26).

(35)

Kesenian sebagai unsur kebudayaan terdiri berbagai cabang seni, salah satu diantaranya adalah tari. Tari memiliki wujud yang berkaitan dengan perasaan, yang bersifat menggembirakan, mengharukan, atau mungkin mengecewakan.

Dikatakan menggembirakan dan mengharukan karena tarian dapat menyentuh perasaan seseorang menjadi gembira setelah menikmati pertunjukan dengan puas.

Tari dalam budaya atau masyarakat tertentu merupakan realisasi atau perwujudan dari ekspresi kehidupan masyarakat.

Dalam proses komunikasi budaya, media merupakan saluran yang dilalui oleh pesan atau simbol. Terdapat dua tipe saluran yakni sensory channel, yakni saluran yang memindahkan pesan sehingga akan ditangkap oleh lima indera manusia, yakni cahaya, bunyi, tangan, hidung, dan lidah.

Media komunikasi merupakan seluruh sarana yang digunakan untuk memproduksi, mereproduksi, mendistribusi, dan menyampaikan informasi.

Dizaman yang serba modern ini, media dan komunikasi tidak lagi bisa dipisahkan.

Media komunikasi memegang peran besar dalam kehidupan masyarakat. Tanpa media, masyarakat kini akan kesulitan dalam melakukan proses komunikasi.

Media komunikasi juga sangat dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat dikarenakan oleh fungsinya yang sangat membantu proses komunikasi menjadi lebih baik. Dengan adanya media komunikasi, memberikan kemudahan pada penyampaian informasi menjadi lebih efektif dan efisien. Selain itu dengan menggunakan media komunikasi, bisa mempercepat isi pesan yang bersifat abstrak (konkrit). Bahkan media komunikasi juga memiliki fungsi motivatif yang membuat para komunikator dan komunikan lebih semangat dalam melangsungkan proses komunikasi.

Kesenian di Indonesia berasal dari satu tempat dimana ia tumbuh dalam lingkungan yang berbeda satu sama lainnya. Kesenian berkembang dikalangaan masyarakat yaitu berakar dan bersumber dari tradisi masyarakat lingkungannya.

Seni merupakan media ekspresi untuk para seniman ditengah masyarakat dan menjadi kehidupan sehari-hari. Disamping menjadi kreator dia juga bisa berpartisipasi dalam perkembangan kesenian. Sehingga kesenian menjadi bagian dari kegiatan rutinitas sekaligus hiburan.

(36)

Seni juga memiliki fungsi sebagai sarana hiburan. Kesenian yang memiliki fungsi utama sebagai sarana upacara kini sudah bergeser menjadi sarana hiburan yang memuat nilai-nilai moral didalamnya dan berkembang di lingkungan masyarakat tradisional. Selain sebagai sarana hiburan seni juga memiliki fungsi sebagai sarana pendidikan. Kesenian sebagai sarana pendidikan untuk menemukan nilai-nilai leluhur yang terkandung melalui simbol-simbol pada pertunjukan. Muatan pendidikan yang bersifat moralitas dan pesan-pesan mudah diterima oleh masyarakat tradisional, hal ini terjadi karena keakraban cerita pada audio penonton. Fungsi kesenian yang selama ini sudah mengalami pergeseran seharusnya disikapi dengan bijaksana oleh seluruh pihak, baik pemimpin pemerintahan, pimpinan keagamaan dan seniman itu sendiri.

Kesenian sebagai salah satu unsur kebudayaan dalam narasi yang lebih besar tidak seharusnya berhenti sementara. Kebudayaan itu terus mengalami perkembangan seiring berkembangnya teknologi dan zaman. Sumber-sumber tradisi harus memilih, tinggal dalam kegagapan mencari identitas semu atau mengaitkan diri dengan perubahan dunia dan karena itu tidak minder menyejajarkan diri dengan kesenian dimanapun sebagai ide penciptaan maupun pemaknaan yang segar.

2.3.3Komunikasi Nonverbal

Albert Mehrabian (1971) dalam (Liliweri,2011: 383) mengatakan bahwa orang dapat berkomunikasi melalui berbagai saluran dan bukan hanya sekedar kata-kata yang diucapkan. Albert berkesimpulan setelah melalui serangkaian pengalaman dan penelitian bahwa to feeling = 7% verbal feeling + 38% vocal feeling + 55% facial feeling.

Pesan nonverbal adalah semua isyarat yang bukan kata-kata. Menurut Larry A. Samovar dan Richard E. Porter (dalam Mulyana,2008: 343), komunikasi nonverbal mencakup semua rangsangan (kecuali rangsangan verbal) dalam suatu setting komunikasi, yang dihasilkan oleh individu dan penggunaan lingkungan oleh individu, yang mempunyai nilai pesan potensial bagi pengirim atau penerima.

(37)

Goffman (dalam Mulyana, 2008: 348) mengatakan :

Meskipun seorang individu dapat berhenti berbicara, ia tidak dapat berhenti berkomunikasi melalui idiom tubuh, ia harus mengatakan suatu hal yang benar atau salah. Secara paradoks, cara ia memberikan informasi sedikit tentang dirinya sendiri, meskipun hal ini masih bisa dihargai.

Menyesuaikan diri dan bertindak sebagaimana orang sejenis itu diharapkan bertindak.

Komunikasi nonverbal tidak bersifat universal, melainkan terikat oleh budaya dan kebiasaan, intinya dapat dipelajari dan bukan bawaan. Kebanyakan ahli sepakat bahwa di mana, kapan, dan kepada siapa kita menunjukkan komunikasi nonverbal, dipengaruhi oleh konteks dan budaya. Sebagian budaya, sering memiliki bahasa non verbal khas. Dalam suatu budaya boleh terdapat variasi bahasa non verbal, misalnya bahasa tubuh, bergantung pada jenis kelamin, agama, usia, pekerjaan, pendidikan, kelas social, tingkat ekonomi, lokasi geografis, dan sebagainya. Beberapa subkultur tari dan musik menunjukan ciri khas perilaku non verbal dari penari dan penyanyinya. Bahasa tubuh penari yang menarikan tari Bali sangat khas, sekhas bahasa tubuh penari India ketika menarikan tari India.

2.3.3.1 Unsur Komunikasi Nonverbal

Lary A. Samovar dan Richard E. Porter (dalam Mulyana,2008: 343), dimana komunikasi non verbal meliputi tujuh unsur sebagai pertanyaan yang diajukan itu, yaitu:

1. Ekspresi Wajah

Ekspresi wajah merupakan salah satu bentuk komunikasi nonverbal, dan dapat menyampaikan keadaan emosi dari seseorang kepada orang yang mengamatinya. Ekspresi wajah merupakan salah satu cara penting dalam menyampaikan pesan sosial dalam kehidupan manusia.

Ekspresi wajah merupakan salah satu bentuk komunikasi non verbal penari Serampang Duabelas ketika sedang mementaskan tari, sehingga

(38)

penari dapat menyampaikan keadaan emosi dari para penari kepada penonton yang menontonnya sehingga terlihat menjiwai.

2. Waktu

Untuk proses penyampaian pesan diperlukan waktu yang tepat dalam tujuan penyampaian pesan bisa dilakukan dan diterima oleh komunikan dengan baik tanpa adanya hambatan. Waktu yang tepat untuk melakukan seni tari Serampang Duabelas sehingga penyampaian pesan bisa dilakukan dan diterima oleh penonton dengan baik tanpa ada hambatan.

3. Ruang

Untuk proses peyampaian komunikasi non verbal ruang merupakan tempat atau posisi dimana proses pesan non verbal itu terjadi. Ruang untuk proses penyampaian tari Serampang Duabelas harus tepat sehingga kita mengetahui dimana proses non verbal itu terjadi.

4. Gerakan

Dalam komunikasi non verbal cara orang berjalan dan melakukan suatu tindakan dapat menimbulkan kesan terhadap orang lain yang melihatnya. Dalam tari Serampang Duabelas memiliki makna dan pesan disetiap gerakannya.

5. Busana

Dalam proses penyampaian pesan non verbal penampilan fisik menunjukan cerminan dari cara penyampaian terhadap publik. Salah satunya dapat terlihat dari busana yang dikenakan. Busana dari para penari Serampang Dua belas menunjukan cerminan dari cara penyampaian pesan terhadap penontonnya.

6. Bau-bauan

Aspek-aspek terjadinya proses komunikasi non verbal yang di timbulkan melalui bunga dan minyak wangi yang dipergunakan yang tercium wangi oleh publik.

(39)

7. Sentuhan

Sentuhan dapat memiliki arti multimakna, seperti pada foto dimana terdapat pesan non verbal yang di dalamnya terkandung banyak makna.

2.3.3.2 Fungsi Komunikasi Nonverbal

Di kutip dari buku Ilmu komunikasi suatu pengantar (Mulyana 2008: 347 ) mengatakan :

“Istilah non verbal biasanya digunakan untuk melukiskan semua peristiwa komunikasi diluar kata-kata terucap dan tertulis. Pada saat yang sama kita harus menyadari bahwa banyak peristiwa dan perilaku non verbal ini ditafsirkan melalui simbol-simbol verbal. Dalam pengertian ini, peristiwa dan perilaku non verbal itu tidak bersungguh-sungguh bersifat non verbal.

“ ( Mulyana 2008 : 347 )

Dilihat dari fungsinya, perilaku nonverbal mempunyai beberapa fungsi.

Paul Ekman menyebutkan lima fungsi pesan nonverbal, seperti yang dapat dilukiskan dengan perilaku mata, yakni sebagai :

- Emblem. Gerakan mata tertentu meurpakan simbol yang memiliki kesetaraan dengan simbol verbal. Kedipan mata dapat mengatakan “Saya tidak sungguh-sungguh”

- Ilustrator. Pandangan kebawah dapat menunjukkan depresi atau kesedihan - Regulator. Kontak mata berarti saluran percakapan terbuka. Memalingkan

muka menandakan ketidaksediaan berkomunikasi

- Penyesuaian. Kedipan mata yang dapat meningkat ketika orang berada dalam tekanan. Itu merupakan respons tidak disadari yang merupakan upaya tubuh untuk mengurangi kecemasan

(40)

- Affect Display. Pembesaran manik mata (pupil dilation) menunjukkan peningkatan emosi. Isyarat wajah lainnya menunjukkan perasaan takut, terkejut, atau senang

2.3.3.3 Bentuk Komunikasi Non verbal

Bentuk komunikasi non verbal sendiri di antaranya adalah, bahasa isyarat, ekspresi wajah, sandi, symbol-simbol, pakaian seragam, warna dan intonasi suara.

contoh :

a. Sentuhan

Sentuhan dapat termasuk: bersalaman, menggenggam tangan, berciuman, sentuhan di punggung, mengelus-elus, pukulan dan lain-lain.

b. Gerakan tubuh

Dalam komunikasi non verbal, kinesik atau gerakan tubuh meliputi kontak mata,ekspresi wajah, isyarat dan sikap tubuh. Gerakan tubuh biasanya digunakan untuk menggantikan suatu kata atau frase, misalnya mengangguk untuk mengatakan ya; untuk mengilustrasikan atau menjelaskan sesuatu; menunjukkan perasaan,

c. Vokalik

Vokalik atau paralanguage adalah unsur non verbal dalam suatu ucapan,yaitu cara berbicara. Contohnya adalah nada bicara,nada suara,keras atau lemahnya suara, kecepatan berbicara, kualitas suara,intonasi dan lain-lain.

d. Kronemik

Kronemik adalah bidang yang mempelajari penggunaan waktu dalam komunikasi non verbal. Penggunaan waktu dalam komunikasi nonverbal meliputi durasi yang dianggap cocok bagi suatu aktivitas, banyaknya aktivitas yang dianggap patut dilakukan dalam jangka waktu tertentu, serta ketepatan waktu (punctuality). Secara kontekstual, komunikasi

(41)

interpersonal digambarkan sebagai suatu komunikasi antara dua individu atau sedikit individu, yang mana saling berinteraksi, saling memberikan umpan balik satu sama lain. Namun, memberikan definisi kontekstual saja tidak cukup untuk menggambarkan komunikasi interpersonal karena setiap interaksi antar satu individu dengan individu lain berbeda-beda.

Muhammad menyatakan bahwa komunikasi interpersonal adalah proses pertukaran informasi diantara seseorang dengan paling kurang seorang lainnya atau biasanya diantara dua orang yang dapat langsung diketahui balikannya (Muhammad, 2005 : 15).

2.3.3.4 Jenis-Jenis Perilaku Non verbal

Adapun jenis-jenis Perilaku non-verbal menurut Ruben (dalam Lubis, 2012: 119-121) adalah:

1. Penampilan (Objectives)

Komunikasi objek yang paling umum adalah penggunaan pakaian.Orang sering dinilai dari jenis pakaian yang digunakannya, walaupun ini dianggap termasuk salah satu bentuk stereotipe. Misalnya orang sering lebih menyukai orang lain yang cara berpakaiannya menarik. Selain itu, dalam wawancara pekerjaan seseorang yang berpakaian cenderung lebih mudah mendapat pekerjaan dari pada yang tidak. Contoh lain dari penggunaan komunikasi objek adalah cara berpakaian.

2. Gerakan Badaniah (Kinesics)

Studi kinesics mempelajari bagaimana isyarat-isyarat non-verbal ini, baik yang sengaja maupun tidak sengaja, dapat dipengaruhi komunikasi.

Setiap kebudayaan mempertunjukan gerakan badan dan sikap badan yang baik, misalnya dalam hal: postur atau sikap badan, gerak, isyarat badan, gerak kepala, ekspresi muka, kontak mata dan tatapan, serta gerakan tangan dan lengan.

3. Persepsi Inderawi (Sensoric) a. Rabaan atau Sentuhan b. Penciuman

(42)

4. Penggunaan ruang jarak (Proxemics)

Cara kita menggunakan ruang jarak sering kali menyatakan kepada orang lain sesuatu mengenai diri kita secara pribadi maupun kebudayaan. Aturan-aturan dan prosedur-prosedur yang menentukan ruang jarak dipelajari sebagai bagian dari masing-masing kebudayaan.

5. Sikap terhadap Waktu (Chronemics)

Chronemics adalah bidang yang mempelajari penggunaan waktu dalam komunikasi non-verbal. Penggunaan waktu dalam komunikasi non- verbal meliputi durasi yang dianggap cocok bagi suatu aktivitas, banyaknya aktivitas yang dianggap patut dilakukan dalam jangka waktu tertentu.

2.3.3.5 Pesan-Pesan Nonverbal

Lary A. Samovar dan Richard E. Porter mengklafikasikan pesan-pesan non verbal kedalam 2 kategori utama, yaitu:

1. Perilaku yang terdiri dari penampilan dan pakaian, gerakan, dan postur tubuh, ekspresi wajah, kontak mata, sentuhan, bau -bauan, dan parabahasa.

2. Ruang, waktu, dan diam. Salah satu jenis komunikasi yaitu pesan komunikasi non verbal disebut dengan bahasa tubuh. Komunikasi non verbal adalah penyampaian pesan tanpa kata -kata dan pesan komunikasi non verbal memberikan arti pada komunikasi verbal.

2.3.3.6 Kode Pesan Nonverbal

Kode nonverbal yang digunakan dalam berkomunikasi, sangat menarik perhatian para ahli ilmuan, terutama dengan munculnya tulisan Charles Darwin tentang bahasa ekspresi wajah manusia. Hal menarik dari kode nonverbal adalah studi Albert Mahrabian (1971) dalam (Cangara,2007: 103) menyimpulkan bahwa tingkat kepercayaan dari pembicaraan orang hanya 7 persen berasal dari bahasa verbal, 38 persen dari vokal suara dan 55 persen dari ekspresi muka. Ia juga menambahkan bahwa jika terjadi pertentangan antara apa yang diucapkan seseorang dengan perbuatannya, orang lain cenderung mempercayai hal-hal yang bersifat non verbal.

(43)

Mark Knapp (1978) dalam (Cangara,2007: 104) menyebut bahwa penggunaan kode nonverbal dalam berkomunikasi memiliki fungsi untuk :

a. Meyakinkan apa yang diucapkan (repetition)

b. Menunjukkan perasaan dan emosi yang tidak bisa diutarakan dengan kata- kata (substitution)

c. Menunjukkan jati diri sehingga orang lain bisa mengenalnya (identity) d. Menambah atau melengkapi ucapan-ucapan yang dirasakan belum

sempurna

Kode non verbal dapat dikelompokkan dalam beberapa bentuk, yaitu : a. Kinesics

Yaitu kode nonverbal yang ditunjukkan oleh gerakan-gerakan badan.

Gerakan-gerakan badan bisa dibedakan atas lima macam berikut : 1. Emblems

2. Ilustrators 3. Affect displays 4. Regulators 5. Adaptory

b. Gerakan Mata (eye gaze)

Mata adalah alat komunikasi yang paling berarti dalam memberi isyarat tanpa kata. Ungkapan “pandangan mata mengundang” atau lirikan matanya memiliki arti adalah isyarat yang ditimbulkan oleh gerakan- gerakan mata. Bahkan ada yang menilai bahwa gerakan mata adalah pencerminan isi hati seseorang.

Mark Knapp dalam risetnya menemukan empat fungsi utama gerakan mata, yaitu :

1. Untuk memperoleh umpan balik dari seorang lawan bicara-nya. Misalnya dengan mengucapkan bagaimana pendapat anda tentang hal itu ?

2. Untuk menyatakan terbukanya saluran komunikasi dengan tibanya waktu untuk bicara.

3. Sebagai sinyal untuk menyalurkan hubungan, dimana kontak mata akan meningkatkan frekunsi bagi orang yang saling memerlukan. Sebaliknya

(44)

orang yang merasa malu akan berusaha untuk menghindari terjadinya kontak mata.

4. Sebagai pengganti jarak fisik. Bagi orang yang berkunjung kesuatu pesta, tetapi tidak dapat berdekatan karena banyaknya pengunjung, maka melalui kontak mata mereka dapat mengatasi jarak pemisah yang ada.

c. Sentuhan (touching)

Ialah isyarat yang dilambangkan dengan sentuhan badan. Menurut bentuknya sentuhan terbagi dalam tiga macam yakni :

1. Kinesthetic

Ialah isyarat yang ditunjukkan dengan bergandengan tangan dengan satu sama lain, sebagai simbol keakraban atau kemesraan.

2. Sociougal

Yaitu isyarat yang ditunjukkan dengan jabat tangan atau saling merangkul.

3. Thermal

Adalah isyarat yang ditunjukkan dengan sentuhan badan yang terlalu emosional sebagai tanda persahabatan yang begitu intim. Misalnya menepuk punggung karena sudah lama tidak bertemu.

d. Paralanguange

Ialah isyarat yang ditimbulkan dari tekanan atau irama suara sehingga penerima dapat memahami sesuatu dibalik apa yang diucapkan. Misalnya

“datanglah” bisa diartikan betul-betul mengundang kehadiran kita atau sekedar basa-basi.

e. Diam

Max picard menyatakan bahwa diam tidak semata-mata mengandung arti bersikap negatif, tetapi bisa juga melambangkan sikap positif. Untuk memahami sikap diam, kita perlu belajar terhadap budaya atau kebiasaan- kebiasaan seseorang. Pada suku-suku tertentu ada kebiasaan tidak senang menyatakan “tidak” tetapi juga tidak berarti “ya”. Diam adalah perilaku komunikasi makin banyak dilakukan oleh orang-orang yang bersikap netral dan mau aman.

f. Postur Tubuh

(45)

Orang lahir ditakdirkan dengan berbagai bentuk tubuh. Well and Siegel (1961) dua orang ahli psikologi melalui studi yang mereka lakukan, berhasil menggambarkan bentuk-bentuk tubuh manusia dengan karakternya. Kedua ahli ini membagi bentuk tubuh atas tiga tipe, yaitu ectomorphy bagi mereka yang memiliki bentuk tubuh kurus tinggi, mesomorphy bagi mereka yang memiliki bentuk tubuh tegap, tinggi dan atletis, dan endomorphy bagi mereka yang memiliki bentuk tubuh pendek, bulat, dan gemuk.

g. Kedekatan dan ruang (proximity and spatial)

Proximity adalah kode nonverbal yang menunjukkan kedekatan dari dua objek yang mengandung arti. Proximity dapat dibedakan atas territory atau zone. Edward T. Hall (1959) dalam (Cangara, 2007: 111) membagi kedekatan menurut territory atas empat macam, yaitu :

1. Wilayah intim (rahasia), yakni kedekatan yang berjarak antara 3-18 inchi.

2. Wilayah pribadi, ialah kedekatan yang berjarak antara 18 inchi hingga 4 kaki

3. Wilayah sosial, ialah kedekaatan yang berjarak antara 4 sampai 12 kaki

4. Wilayah umum (publik), ialah kedekatan yang berjarak antara 4 sampai 12 kaki atau sampai suara kita terdengar dalam jarak 25 kaki.

h. Artifak dan Visualisasi

Artifak adalah hasil kerajinan manusia (seni), baik yang melekat pada diri manusia maupun yang ditujukan untuk kepentingan umum. Artifact ini selain dimaksudkan untuk kepentingan estetika, juga untuk menunjukkan status atau identitas diri seseorang atau suatu bangsa. Misalnya baju, topi, pakaian dinas, cincin, gelang, alat transportasi, alat rumah tangga, arsitektur, monumen, patung, dan sebagainya.

i. Warna

Hampir semua bangsa di dunia memiliki arti tersendiri pada warna. Hal ini bisa dilihat pada bendera nasional masing-masing, serta upacara-upacara ritual lainnya yang sering dilambangkan dengan warna-warni.

Gambar

Gambar   2.2 Kerangka Pemikiran  (Sumber : Peneliti)  TARI SERAMPANG  DUA BELAS ANALISIS LEKSIA MODEL ANALISIS  SEMIOTIKA ROLAND BARTHES DENOTASI  KONOTASI KOMUNIKASI NONVERBAL
Tabel 3.1  Data Informan
Gambar 4.3  a.  Analisis Leksia
Gambar 4.4  a.  Analisis Leksia
+7

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Robot merupakan suatu perangkat yang tersusun dari berbagai komponen elektronika yang membentuk suatu sistem otomatisasi sehingga mempunyai kemampuan fungsi sesuai dengan kebutuhan

[r]

Apabila cahaya infra merah tersebut terputus atau terhalang oleh sesuatu benda maka detektor langsung bekerja dan mengaktifkan alarm, buzzer dan menampilkan pada LCD rumah mana

Pengaruh penambahan kadar filler 1,5% terhadap berat total campuran dapat memberikan peningkatan nilai ITS pada gradasi batas atas dengan nilai sebesar 212.554 kPa,

Ketersediaan ruangan ASI di dasari dari adanya faktor terutama pada pegawai yang memiliki bayi usia 0- 6 bulan, mereka dapat memompa ASI di ruang yang tersedia, setelah

Namun instalasi pada sistem ini cenderung mahal dan hasil deposit yang dihasilkan tidak homogen Studi ini mensintesa hafnium carbonitride menggunakan mesin mechanical milling

(1) Kewajiban Rumah Sakit untuk membuat daftar tenaga medis dan  Tenaga Kesehatan lainnya yang berpraktik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf h dilaksanakan