• Tidak ada hasil yang ditemukan

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.4. Analisis Laporan Keuangan

2.4.3. Analisis Rasio

Mengadakan analisa hubungan dari berbagai pos dalam suatu laporan keuangan adalah merupakan dasar untuk dapat menginterpretasikan kondisi keuangan dan hasil operasi suatu perusahaan. Dengan menggunakan laporan yang diperbandingkan, termasuk data tentang perubahan-perubahan yang terjadi dalam rupiah, persentase serta trendnya, analisis rasio akan membantu dalam menganalisis dan menginterpretasikan posisi keuangan suatu perusahaan.

Menurut Riyanto (1995), pengertian rasio itu sebenarnya hanyalah alat yang dinyatakan dalam arithmetical terms yang dapat digunakan untuk menjelaskan hubungan antara dua macam data finansial.

Menurut Munawir (2002), rasio menggambarkan suatu hubungan atau perimbangan (mathematical relationship) antara suatu jumlah tertentu dengan jumlah yang lain, sementara itu analisis rasio merupakan suatu metode analisis untuk mengetahui hubungan dari pos-pos tertentu dalam

neraca atau laporan rugi laba secara individu atau kombinasi dari kedua laporan tersebut.

Dalam melakukan analisis rasio, pada dasarnya dapat dilakukan dengan dua macam perbandingan, yaitu dengan membandingkan rasio sekarang perusahaan dengan rasio-rasio di waktu lalu (historical ratio), atau dengan membandingkan rasio suatu perusahaan dengan perusahaan lain yang sejenis untuk waktu yang sama (Riyanto, 1995). Dalam penelitian ini rasio yang digunakan adalah historical ratio.

Menurut Riyanto (1995), angka-angka rasio keuangan dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

1. Rasio likuiditas, adalah rasio-rasio yang dimaksudkan untuk mengukur likuiditas perusahaan yang terbagi dalam rasio lancar (current ratio) dan rasio cepat (quick ratio).

Rasio lancar (current ratio) adalah rasio yang dihitung dengan membagi aktiva lancar dengan kewajiban lancar. Rasio ini merupakan ukuran yang paling umum digunakan untuk mengetahui kesanggupan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendeknya karena rasio ini menunjukkan seberapa jauh tuntutan atau tagihan dari pada kreditur segera dapat berubah menjadi tunai dalam periode yang sama dengan jatuh tempo hutang atau tagihan tersebut.

Rasio cepat (quick ratio) adalah rasio yang dihitung dengan menggunakan aktiva lancar tanpa memperhitungkan persediaan dibagi dengan kewajiban lancar. Persediaan merupakan unsur aktiva lancar yang paling tidak likuid dan unsur tersebut seringkali merupakan kerugian jika terjadi likuiditas. Oleh karena itu rasio cepat merupakan ukuran penting untuk mengetahui kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendeknya tanpa memperhitungkan penjualan persediaan. Nilai rasio cepat sebesar satu dinggap sudah menunjukkan kondisi keuangan jangka pendek yang cukup baik karena itu berarti adanya kepastian bahwa hutang lancarnya dapat dibayar dengan aktiva lancar yang adatanpa menunggu realisasi nilai persediaan menjadi kas.

2. Rasio solvabilitas (leverage), adalah rasio-rasio yang mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi seluruh kewajiban keuangannya, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang atau memenuhi kewajiban-kewajibannya apabila perusahaan dilikuidasi dan dimaksudkan juga untuk mengukur sampai berapa jauh aktiva perusahaan dibiayai dengan hutang, yang terdiri rasio total hutang dengan total aktiva (debt ratio), rasio total hutang dengan modal sendiri (total debt to equity ratio), rasio modal sendiri dengan total aktiva (equity to total active ratio), rasio antara laba sebelum pajak dengan beban bunga (time interest earned ratio).

Rasio total hutang dengan total aktiva (debt ratio) mengukur sejauh mana kewajiban perusahaan digunakan untuk mendanai pembelian atau investasi atas aktiva perusahaan. Semakin besar nilai rasio berarti semakin besar resiko yang ditanggung perusahaan. Semakin kecil nilainya berarti semakin baik, karena jumlah aktiva yang dibiayai dengan hutang semakin kecil.

Rasio total hutang dengan modal sendiri (total debt to equity ratio) menunjukkan perbandingan antara jumlah seluruh hutang (baik jangka pendek maupun jangka panjang) dengan jumlah modal sendiri perusahaan. Bila nilai rasio lebih besar dari satu, maka kemampuan modal sendiri untuk menjamin hutang semakin rendah, demikian pula sebaliknya.

Rasio modal sendiri dengan total aktiva (equity to total active ratio) menunjukkan besarnya modal sendiri yang digunakan untuk membiayai aktiva. Standar yang baik untuk rasio ini adalah 50 persen. Rasio antara laba sebelum pajak dengan beban bunga (time interest earned ratio), rasio ini mengukur kemampuan perusahaan memenuhi beban tetapnya berupa bunga, atau mengukur seberapa jauh laba dapat berkurang tanpa perusahaan mengalami kesulitan keuangan.

3. Rasio aktivitas, yaitu rasio-rasio yang dimaksudkan untuk mengukur sampai barapa besar efektifitas perusahaan dalam mengerjakan sumber-sumber dananya, yang terdiri dari rasio perputaran total aktiva

(total assets turnover ratio), rasio perputaran aktiva tetap (fixed assets turnover ratio), rasio perputaran piutang (receivable turnover ratio), dan rasio perputaran persediaan (inventory turnover ratio).

Rasio perputaran total aktiva (total assets turnover ratio) memberikan gambaran relatif mengenai efisiensi perusahaan dalam memanfaatkan aktiva yang ada dalam perusahaan untuk menghasikan penjualan. Dengan kata lain adalah kecepatan berputarnya total aktiva dalam satu periode tertentu. Semakin cepat perputarannya yang ditunjukkan dengan angka rasio yang lebih besar adalah semakin baik karena perusahaan dapat memanfaatkan total aktivanya dengan efisien untuk menghasilkan penjualan.

Rasio perputaran aktiva tetap (fixed assets turnover ratio) berguna untuk mengukur efisiensi perusahaan dalam penggunaan aktiva tetapnya untuk menghasilkan penjualan.

Rasio perputaran piutang (receivable turnover ratio) merupakan kemampuan dana yang tertanam dalam piutang untuk berputar dalam suatu periode tertentu. Semakin tinggi angka rasio berarti semakin cepat perputaran piutang dalam satu periode, maka modal kerja yang tertanam dalam piutang semakin turun karena semakin cepat pencairan piutang menjadi bentuk kas. Untuk mengetahui efektifitas dari pada penagihan piutang dapat dilihat dari rata-rata periode penagihan piutang (average collection period). Jika hari rata-rata lebih besar daripada batas waktu pembayaran yang telah ditentukan, berarti cara penagihannya kurang efektif.

Rasio perputaran persediaan (inventory turnover ratio) menunjukkan kemampuan dana yang tertanam dalam persediaan untuk berputar dalam suatu periode terentu. Dengan kata lain merupakan likuiditas dari persediaan untuk mengukur tendensi kelebihan dalam persediaan atau over stock.

4. Rasio profitabilitas, yaitu rasio-rasio yang menunjukkan hasil akhir dari sejumlah kebijaksanaan dan keputusan-keputusan perusahaan, yang terdiri dari marjin laba kotor (gross profit margin), rasio operasi

(operating ratio), marjin laba bersih (net profit margin), ROI (return on investment), dan ROE (return on equity).

Marjin laba kotor (gross profit margin) adalah rasio keuntungan yang menunjukkan kemampuan dari penjualan untuk mendapat laba kotor dan berguna untuk memberikan indikasi mengenai efisiensi operasi perusahaan dan penetapan harga jual. Dari rasio ini dapat diketahui bahwa semakin tinggi angka rasio berarti laba kotor yang diperoleh adalah lebih baik, begitu pula sebaliknya.

Rasio operasi (operating ratio) adalah rasio yang menunjukkan besarnya bagian penjualan yang digunakan untuk beban pokok penjualan dan operasi. Rasio ini menunjukkan tingkat efisiensi perusahaan dalam operasi guna menghasilkan laba dalam setiap rupiah penjualannya. Nilai rasio yang tinggi menunjukkan keadaan yang kurang baik, karena setiap rupiah penjualan yang terserap dalam biaya juga tinggi dan yang tersedia untuk laba kecil.

Marjin laba bersih (net profit margin) adalah rasio keuntungan yang memnujukkan kesanggupan perusahaan dalam melakukan penjualan untuk memperoleh laba bersih dan memberikan gambaran relatif mengenai efisiensi perusahaan setelah memperhatikan semua pengeluaran biaya maupun pajak.

ROI (return on investment) adalah rasio yang menunjukkan kemampuan dari seluruh dana yang tertanam dalam keseluruhan aktiva untuk menghasilkan keuntungan bersih pada tahun berjalan, yaitu laba bersih setelah dikurangi bunga dan pajak. Rasio ini menunjukkan hasil yang diperoleh atas semua investasi yang ditanamkan pada suatu perusahaan sehingga dapat digunakan untuk mengukur efektivitas dari keseluruhan operasi perusahaan.

ROE (return on equity) merupakan perbandingan antara laba bersih setelah pajak dengan modal sendiri. Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan bersih berdasarkan modal sendiri. Selain itu, rasio ini menunjukkan penghasilan yang tersedia bagi pemilik perusahaan atas modal yang

mereka investasikan dan tingkat produktivitas modal yang digunakan perusahaan. Semakin tinggi nilai rasio berarti semakin produktif tingkat pemakaian modal dalam menyumbangkan laba bersih bagi perusahaan yang berarti juga semakin tingginya kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan. Rasio ini merupakan salah satu determinan yang menentukan bagi pihak-pihak yang ingin menanamkan modal dalam bentuk pemilikan saham dari perusahaan yang bersangkutan.

Dalam menggunakan analisis rasio, perlu juga diketahui adanya keterbatasan-keterbatasan maupun kendala-kendala yang dapat mengakibatkan kekeliruan dalam penafsiran sehingga keputusan yang diambil juga akan keliru. Kendala yang dihadapi adalah sulitnya memperoleh data perusahaan lain yang sejenis maupun rasio industri yang dapat digunakan sebagai pembanding, penggunaan data perusahaan lain yang sejenis maupun rasio industri sebagai pembanding dapat mengakibatkan kekeliruan dalam penafsiran karena adanya perbedaan product lines maupun kekhususan produk serta perbedaan dalam penerapan metode

akuntansi. Di samping itu rasio-rasio periode yang lalu bukan merupakan alat yang baik untuk meramalkan keadaan di masa mendatang (Wibisono, 1997).

Dokumen terkait