BAB II KERANGKA TEORITIS
2.6. Analisis Rasio Keuangan
Mengadakan analisis terhadap hubungan dari berbagai pos dalam suatu laporan keuangan merupakan dasar untuk bisa menginterpretasikan kondisi keuangan dan hasil operasi dalam suatu perusahaan. Untuk mengadakan interpretasi tersebut tentunya seorang analisis memerlukan suatu ukuran. Ukuran yang umum digunakan untuk mengetahui kinerja perusahaan dibidang keuangan adalah analisis keuangan. Rasio merupakan alat yang digunakan dalam artian relative maupun absolute untuk menjelaskan hubungan tertentu antara angka yang satu dengan angka yang lain dari suatu laporan keuangan (Alwi, 1994:107). Rasio keuangan adalah rasio merupakan alat yang dinyatakan dalam arithmaticalterm yang dapat dipergunakan untuk menjelaskan hubungan antara dua macam data financial (Riyanto, 2001:329).
Rasio keuangan adalah perbandingan antara dua elemen laporan keuangan yang menunjukkan suatu indikator kesehatan keuangan pada waktu tertentu (Helfert, 1996 : 87). Rasio keuangan adalah angka yang diperoleh dari hasil perbandingan dari satu pos laporan keuangan dengan pos lainnya yang mempunyai hubungan yang relevan dan signifikan (Syarif, 1998). Tujuan analisis rasio keuangan adalah untuk mengetahui hubungan-hubungan antara pos-pos neraca dan laba rugi dan merupakan alat untuk mengukur kemampuan dan kelemahan suatu perusahaan berdasarkan dari data yang diperoleh dari laporan keuangan perusahaan yang bersangkutan.
Menurut Riyanto (1996:331) analisis rasio keuangan dibagi menjadi tiga bagian yaitu :
1. Rasio Likuiditas
Rasio likuiditas adalah rasio yang digunakan untuk menganalisis dan menginterpretasikan posisi keuangan jangka pendek. Rasio ini sangat bermanfaat bagi manajemen untuk mengecek efisiensi modal kerja yang digunakan dalam perusahaan maupun bagi kreditur jangka panjang dan pemegang saham untuk mengetahui prospek deviden dan pembayaran bunga di masa yang akan datang. Rasio likuiditas terdiri dari current ratio, cash ratio dan quick ratio.
2. Rasio Leverage
Rasio leverage adalah rasio yang digunakan untuk mengetahui besarnya aktiva perusahaan dibiayai dengan hutang. Rasio leverage terdiri dari total debt to equity ratio, total debt to total capital assets, long term debt to equity ratio, dan time interest earned ratio.
Financial leverage menunjukkan proporsi atas penggunaan utang untuk membiayai investasinya. Perusahaan yang tidak mempunyai leverage berarti menggunakan modal sendiri 100%.
3. Rasio Aktifitas
Rasio aktifitas adalah rasio yang digunakan untuk mengukur efektifitas perusahaan dalam menggunakan sumber-sumber dananya. Rasio ini terdiri dari inventory turnover, total asset turnover, receivaible turnover, average collection period dan working capital turnover.
2.7. Analisa Rasio Berdasarkan KEPMEN BUMN No. KEP-100/MBU/2002
Penilaian kinerja BUMN melalui Surat Keputusan Menteri Badan Usaha Milik Negara Nomor Kep-100/MBU/2002 tanggal 14 Juni 2002 tentang penilaian Tingkat Kesehatan Badan Usaha Milik Negara, yakni :
a. Return on Equity (ROE)
Rasio ini digunakan untuk mengukur tingkat pengembalian dari investasi para pemilik (pemegang saham).
Untuk menghitung nilai ROE ini digunakan rumus :
% 100 x Sendiri Modal Pajak Setelah Laba E O R
b. Return on Investment (ROI)
Rasio ini digunakan untuk mengukur efektivitas perusahaan dalam memanfaatkan seluruh sumber-sumbernya. ROI dihitung dengan cara:
Investasi Total Income Operating ROI c. Rasio Kas
Rasio kas ini menggambarkan kemampuan perusahaan untuk membayar utangnya yang akan jatuh tempo dengan kas yang dimiliki perusahaan (baik yang ada dalam perusahaan maupun yang ada di bank yang sewaktu-waktu dapat digunakan) dan surat berharga jangka pendek. Untuk menghitung rasio ini digunakan rumus sebagai berikut :
100% x s Liabilitie Current Pendek Jangka Berharga Surat Bank Kas Kas Rasio
d. Rasio lancar
Current Ratio menunjukkan seberapa jauh kewajiban jangka pendek kepada kreditur dipenuhi oleh harta yang segera (biasanya satu tahun) menjadi kas. Atau dengan kata lain rasio ini digunakan untuk mengetahui kesanggupan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Untuk menghitung rasio ini digunakan rumus sebagai berikut :
% 00 1 x s Liabilitie Current Assets Current Ratio Current e. Collection Period
Collection Period menunjukkan lamanya piutang dagang tersebut beredar sehingga menjadi kas. Untuk menghitung collection period digunakan rumus sebagai berikut : % 100 x Usaha Pendapatan Total Usaha Piutang Total Period Collection f. Perputaran Persediaan
Perputaran Persediaan adalah berapa lama persediaan tersebut disimpan dalam satu tahun untuk mengetahui perputaran persediaan. Untuk menghitung perputaran persediaan digunakan rumus sebagai berikut :
hari 365 x Usaha Pendapatan Total Persediaan Total Persediaan Perputaran
g. Perputaran Total Asset
Perputaran total asset adalah perbandingan antara pendapatan dengan total asset dengan rumus sebagai berikut :
% 100 x Employed Capital Pendapatan Total Asset Total Perputaran
h. Rasio Modal Sendiri terhadap Total Asset
Rasio ini menunjukkan seberapa besar porsi modal sendiri terhadap total asset. Rasio modal sendiri dihitung dengan rumus sebagai berikut :
% 100 x Asset Total Sendiri Modal Total TA / TM
Setiap perusahaan bertujuan untuk mendapatkan laba namun yang lebih penting lagi yaitu bagaimana perusahaan ini dapat melakukan efisiensi penggunaan modal. Sebab laba yang maksimal belumlah menunjukkan perusahaan tersebut telah bekerja dengan efisien, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana perusahaan dapat mempertinggi rentabilitas/profitabilitasnya
Penelitian ini akan berfokus pada analisa Rasio Profitabilitas. Ada banyak cara melakukan Analisa Rasio Profitabilitas seperti Profit Margin, BOPO, ROA, ROI, ROE dan EPS. Namun demikian Analisa Rasio Profitabilitas yang akan digunakan dalam penelitian ini akan difokuskan pada ROI dan ROE.
Defenisi ROI dan ROE yang dipakai dalam penelitian ini adalah : 1. Return On Investment (ROI)
Return on Investment termasuk ke dalam profitabilitas yang menggambarkan kemampuan perusahaan mendapatkan laba melalui semua kemampuan dan sumber daya yang ada. Rasio ini digunakan untuk mengukur kekuatan penghasilan dari aktiva. Rasio tersebut menyatakan kemampuan perusahaan dalam memperoleh penghasilan terhadap operasi bisnis dan menjadi ukuran keefektifan manajemen. Rasio ini menunjukkan berapa persen diperoleh laba bersih bila diukur dari modal pemilik, semakin besar semakin bagus (Mukhtaruddin, 2007).
ROI merupakan salah satu jenis rasio profitabilitas perusahaan, dimana semakin tinggi profitabilitas biasanya perusahaan akan lebih memilih menggunakan sumber dana internal dari laba ditahan, sehingga penggunaan hutang perusahaan akan berkurang. ROI merupakan perbandingan antara tingkat laba operasi setelah pajak dengan total investasinya. Skala pengukur ROI adalah rasio dengan satuan persen (%) (Brigham dan Houston, 2001).
Return on investment adalah salah satu bentuk dari profitabilitas yang dimaksudkan untuk mengukur kemampuan perusahaan dengan keseluruhan dana yang ditanamkan dalam aktiva yang digunakan untuk operasi perusahaan untuk menghasilkan keuntungan (Munawir: 1981:89).
ROI tidak memberikan indikasi berapa lamanya suatu investasi. Namun demikian, ROI sering dinyatakan dalam satuan tahunan atau sering juga dinyatakan untuk suatu tahun kalendar atau fiskal.
Untuk memperoleh aset maka suatu perusahaan memerlukan dana yang dapat diperoleh baik dengan melakukan hutang atau dari modal sendiri yang sumbernya adalah sisa laba ditahan. Aset yang diperoleh nantinya akan dijadikan sebagai sumber daya perusahaan untuk meningkatkan hasil usahanya. Rumusan Return on Investment menunjukkan seberapa besar kemampuan perusahaan menghasilkan laba bersih dengan total aset yang dimiliki dan digunakan dalam kegiatan operasionalnya.
ROI (Return on Investment) merupakan salah satu indikator dari tingkat profitabilitas perusahaan. ROI merupakan perbandingan dari return
investasi terhadap total investasi perusahaan. Profitabilitas perusahaan yang tinggi akan mengurangi nilai Debt to Equity Ratio (DER) perusahaan, karena semakin profitable suatu perusahaan, biasanya perusahaan cenderung untuk melakukan pendanaan yang bersumber dari laba ditahan dan modal sendiri (Brigham dan Houston, 2001). Nilai rata-rata ROI yang digunakan sebagai proksi untuk profitabilitas perusahaan memiliki nilai yang fluktuatif selama periode penelitian.
2. Return On Equity (ROE)
Return on Equity merupakan kemampuan modal sendiri untuk menghasilkan keuntungan bagi pemegang saham. Return on Equity merupakan statistik yang mencerminkan keuntungan pemilik usaha. ROE mengukur pengembalian modal dari pemilik perusahaan (Mukhtaruddin, 2007).
Dalam melaksanakan operasi perusahaan, pemilik atau pemegang saham perusahaan menginginkan hasil yang optimal. Return on Equity dipergunakan untuk menggambarkan kemampuan perusahaan memberikan imbalan atau hasil kepada pemilik atau pemegang saham perusahaan. Rumusan ROE akan menghubungkan antara laba bersih dalam perhitungan rugi laba dengan equity yang ada dalam neraca.
Rasio ini merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen dalam mengelola modal yang ada untuk mendapatkan net income, dengan rumus :
Capital Equity
Income Net
Semakin tinggi angka pencapaian ROE menunjukkan kinerja perusahaan semakin baik sehingga meningkatkan daya tarik saham yang ditawarkan di pasar modal.
Selanjutnya, rasio profitabilitas/rentabilitas digunakan untuk mengukur efektifitas manajemen dalam mengelola perusahaan. Efektivitas yang dimaksud adalah meliputi kegiatan fungsional manajemen yang terdiri dari keuangan, pemasaran, sumber daya manusia dan operasional. Efektivitas pada faktor tersebut akan menyebabkan peningkatan atau penurunan laba bagi perusahaan. Penurunan laba yang berlangsung terus-menerus akan mengarah pada kebangkrutan perusahaan.
Menurut tujuannya, rasio keuangan khususnya perusahaan dikelompokkan sebagai berikut :
1. Rasio likuiditas adalah rasio yang menunjukkan tingkat kemudahan relatif suatu aktiva untuk segera dikonversikan ke dalam kas dengan sedikit atau tanpa penurunan nilai serta tingkat kepastian tentang jumlah kas yang dapat diperoleh. Rasio-rasio yang tergolong dalam rasio likuiditas ini adalah current ratio, quick ratio dan cash ratio. masing-masing rasio ini mempunyai perspektif yang berbeda dalam mengukur tingkat likuiditas perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Current ratio untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya dengan asumsi bahwa semua aktiva lancarnya dikonversi menjadi kas. Quick ratio/acid test ratio mempunyai tujuan yang sama dengan current ratio, akan tetap dalam perspektif yang lebih cepat yakni rasio ini tidak memperhitungkan persediaan, karena memerlukan waktu yang relatif lama
untuk dikonversi menjadi uang kas aehingga dengan demikian rasio ini lebih tajam dari current ratio. Cash ratio digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya dengan memperhitungkan aktiva yang paling likuid.
2. Rasio Profitabilitas/Rentabilitas digunakan untuk mengukur efektivitas manajemen dalam mengelola perusahaan. Efektivitas yang dimaksud adalah meliputi kegiatan fungsional manajemen yang terdiri dari keuangan, pemasaran, sumber daya manusia dan operasional. Efektivitas pada faktor tersebut akan menyebabkan peningkatan atau penurunan laba bagi perusahaan. Yang tergolong dalam rasio ini adalah ; (1) Net Profit Margin (NPM), (2) Return on Investment (ROI), (3) Return on Equity (ROE). Penurunan laba yang berlangsung terus menerus akan mengarah pada kebangkrutan perusahaan.
Pada umumnya rentabilitas dapat diartikan sebagai suatu perbandingan antara laba yang diperoleh dalam operasi perusahaan dengan modal. Rentabilitas atau profitabilitas adalah menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode tertentu (Munawir, 1981:33). Rentabilitas suatu perusahaan menunjukkan perbandingan antara laba dengan aktiva atau modal yang menghasilkan laba tersebut. Dengan kata lain rentabilitas adalah kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode tertentu (Riyanto, 2001:28). Rentabilitas adalah kemampuan suatu perusahaan untuk menghasilkan keuntungan dibandingkan dengan modal yang digunakan dan dinyatakan dengan persentase.
Dari beberapa pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa rentabilitas suatu perusahaan merupakan pencerminan kemampuan modal perusahaan yang bersangkutan untuk mendapatkan keuntungan. Oleh karena rentabilitas merupakan pencerminan efisiensi suatu perusahaan di dalam menggunakan modal kerjanya, maka cara menggunakan tingkat rentabilitas untuk ukuran efisiensi suatu perusahaan merupakan cara yang baik.
Dengan demikian maka jelaslah bahwa rentabilitas merupakan suatu hal yang sangat penting bagi suatu perusahaan, sebagai suatu usaha efisiensi di mana setiap perusahaan dalam operasinya selalu berusaha meningkatkan labanya agar asset rentabilitas sesuai dengan standar.
3. Rasio Permodalan/solvabilitas digunakan untuk menggambarkan apakah permodalan perusahaan telah mencukupi untuk mendukung kegiatan usaha yang akan dilakukan secara efisien, apakah permodalan tersebut akan mampu untuk menyerap kerugian-kerugian yang tidak dapat dihindarkan, apakah kekayaan (kekayaan pemegang saham) semakin besar atau semakin kecil. 4. Rasio Efisiensi Usaha, digunakan untuk mengukur performance manajemen
apakah telah menggunakan semua faktor-faktor produksinya dengan tepat guna dan berhasil guna.