IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian
4.4. Metode Pengolahan dan Analisis Data
4.5.4. Analisis Rasio Keuangan
Analisis kinerja keuangan merupakan analisis kuantitatif dengan pendekatan akuntansi terhadap laporan keuangan. Analisis laporan keuangan ini dilakukan dengan analisis rasio keuangan untuk mengetahui kinerja keuangan KUD. Rasio keuangan adalah angka yang diperoleh dari hasil perbandingan dari satu laporan keuangan dengan yang lain yang mempunyai hubungan yang relevan
dan signifikan (Harahap 2008; Jumingan 2008). Analisis rasio keuangan digunakan untuk melihat perkembangan kinerja keuangan koperasi sebagai bagian dari kinerja koperasi secara keseluruhan dan untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap jalannya koperasi. Menganalisis rasio keuangan membantu seorang manajer untuk mengambil keputusan mengenai keuangan perusahaan untuk masa yang akan datang (Kasmir & Jakfar 2003). Analisis rasio yang digunakan terdiri dari rasio likuiditas, solvabilitas, rentabilitas, dan aktivitas. 1. Rasio Likuiditas
Rasio likuiditas menggambarkan kemampuan perusahaan untuk menyelesaikan kewajiban jangka pendeknya (Kasmir & Jakfar 2003). Likuiditas diukur dengan menggunakan rasio di bawah ini:
a. Rasio Lancar (Current Ratio)
Rasio lancar menunjukkan kemampuan koperasi untuk memenuhi hutang lancar dengan aktiva lancar yang dimiliki. Semakin besar perbandingan aktiva lancar dengan utang lancar semakin tinggi kemampuan perusahaan menutupi kewajiban jangka pendeknya (Harahap 2008). Menurut Jumingan (2008) current ratio yang rendah menunjukkan bahwa manajemen telah mengoperasikan aktiva lancar secara efektif. Rasio lancar lebih aman adalah jika berada di atas 200 persen (Suwandi 1986). Rasio ini dirumuskan sebagai berikut:
b. Rasio Cepat (Quick Ratio)
Rasio ini menunjukkan kemampuan aktiva lancar yang paling likuid untuk menutupi utang lancar tanpa memperhitungkan persediaan, karena persediaan memiliki sifat yang kurang likuid karena memerlukan waktu yang relatif lama untuk dicairkan. Standar yang baik rasio ini adalah 150 persen (Suwandi 1986). Rasio ini dirumuskan sebagai berikut:
QR
=Aktiva Lancar − persediaanUtang Lancar � % CR =Aktiva LancarUtang Lancar � %
ETFAR =Total Modal SendiriTotal Aktiva Tetap � % 2. Rasio Solvabilitas
Rasio solvabilitas menggambarkan kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka panjangnya atau kewajiban-kewajibannya apabila perusahaan dilikuidasai (Harahap 2008). Rasio solvabilitas diukur dengan menggunakan rasio di bawah ini:
a. Rasio Modal Sendiri dengan Total Aktiva (Equity To Total Asset Ratio) Rasio ini menunjukkan tingkat solvabilitas koperasi dengan anggapan bahwa semua aktiva akan dapat direalisir sesuai dengan yang dilaoprkan dalam neraca. Standar yang baik untuk rasio ini adalah minimal 50 persen (Suwandi 1986). Semakin tinggi rasio ini berarti semakin kecil jumlah pinjaman yang digunakan untuk membiayai aktiva koperasi. Rasio ini dirumuskan dengan:
b. Rasio Modal Sendiri dengan Aktiva Tetap (Equity To Fixed Asset Ratio) Rasio ini menunjukkan proporsi aktiva tetap yang dibiayai oleh modal sendiri. Standar yang baik untuk rasio ini adalah minimal 150 persen (Suwandi 1986). Rumus rasio ini adalah:
c. Rasio Aktiva Tetap dengan Hutang Jangka Panjang (Fixed Asset To Long Term Debt Ratio)
Rasio ini menunjukkan kemampuan untuk memperoleh pinjaman baru dengan jaminan aktiva tetap. Standar yang baik untuk rasio ini adalah minimal 150 persen (Suwandi 1986). Semakin tinggi rasio semakin besar jaminan, kreditur jangka panjang semakin aman atau terjamin, dan semakin besar kemampuan koperasi untuk mencari pinjaman. Rumus rasio ini adalah:
d. Rasio Total Hutang dengan Total Aktiva (Debt Ratio)
Rasio ini menunjukkan berapa bagian dari keseluruhan dana yang dibiayai dari hutangnya. Standar yang baik untuk rasio ini adalah maksimum 50 persen (Suwandi 1986). Semakin kecil rasio ini maka semakin kecil risiko yang akan ditanggung oleh koperasi. Rumus rasio ini adalah:
e. Rasio Total Hutang dengan Total Modal Sendiri (Debt Equity Ratio) Rasio ini menunjukkan proporsi hutang yang dijamin oleh modalnya sendiri. Standar yang baik untuk rasio ini adalah maksimum 67 persen (Suwandi 1986). Jika nilai rasio ini lebih dari satu berarti kemampuan modal sendiri untuk menjamin hutang semakin rendah. Namun jika rasio lebih kecil dari satu maka kemampuan modal sendiri untuk menjamin seluruh hutangnya lebih besar. Rasio in dirumuskan:
3. Rasio Rentabilitas
Rasio rentabilitas atau disebut juga profitabilitas dipergunakan untuk mengukur tingkat efektivitas manajemen dalam mengelola koperasi (Suwandi 1986). Rentabilitas dapat diukur dengan beberapa rasio, yaitu:
a. Rasio Laba Bersih (Net Profit Margin Ratio)
Rasio laba bersih menunjukkan besarnya laba bersih yang dapat dihasilkan koperasi setiap satu rupiah penjualan. Standar yang baik untuk rasio ini adalah minimal empat persen (Suwandi 1986). Semakin besar rasio ini maka semakin besar kemampuan koperasi dalam memperoleh laba. Rasio ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
b. Rasio Operasional (Operating Margin Ratio)
Rasio operasional menunjukkan tingkat efisiensi koperasi dalam menjalankan usahanya. Standar yang baik untuk rasio ini adalah minimal
DR =Total HutangTotal Aktiva � %
DER = Total Hutang
Total Modal Sendiri � %
NPMR
RONWR = Total Modal Sendiri � Laba Bersih %
dua persen (Suwandi 1986). Semakin besar rasio ini maka semakin besar kemampuan koperasi dalam memperoleh laba operasi. Rasio ini dirumuskan:
c. Ratio Tingkat Pengembalian Modal Sendiri (Return on Net Worth Ratio) Rasio ini menunjukkan tingkat produktivitas modal yang digunakan koperasi, suatu pengukuran penghasilan yang tersedia bagi koperasi atas modal yang diinvestasikan. Standar yang baik untuk rasio ini minimal 15 persen. Semakin besar rasio ini maka modal sendiri semakin produktif dalam menyumbangkan laba bersih bagi koperasi. Rasio ini dirumuskan sebagai berikut:
d. Rasio Tingkat Pengembalian Investasi (Return On Invesment)
ROI menunjukkan kemampuan koperasi dalam menghasilkan dan mengindikasikan koperasi menggunakan seluruh aset yang tersedia dengan baik. Rasio ini digunakan untuk mengevaluasi aktivitas keseluruhan koperasi. Analisis ROI merupakan hubungan antara pendapatan dengan investasi pada aktiva yang ditanamkan koperasi. Standar yang baik adalah minimal 4 persen. ROI dapat diukur dengan rumus:
4. Rasio Aktivitas
Rasio aktivitas dapat menunjukkan tingkat efisiensi koperasi dalam mengelola aset yang dimilikinya. Rasio aktivitas disebut juga rasio perputaran (turnover ratio) karena rasio ini dapat menjelaskan kecepatan antara perputaran dengan aset. Keseimbangan antara penjualan dan aset menunjukkan manajemen tekah bekerja secara optimal. Rasio-rasio yang digunakan dalam rasio aktivitas usaha sebagai berikut:
OMR
= Laba OperasiPenjualan � %
TATR =Total Aktiva � Penjualan %
�� == − d
� =� N N −
a. Rasio Perputaran Total Aktiva (Total Assets Turn-Over Ratio)
Rasio ini menunjukkan tingkat efisiensi dari operasi koperasi tersebut. Standar yang baik untuk rasio ini adalah minimal 5 kali (Suwandi 1985). Semakin besar rasio perputaran total aktiva, maka akan semakin besar tingkat efisiensi penggunaan harta dari suatu koperasi. Rasio ini dapat diukur dengan menggunakan rumus:
b. Rasio Perputaran Piutang (Account Receivable Turn-Over Ratio)
Rasio ini menginformasikan berapa kali piutang diputar dalam satu tahun. Semakin tinggi rasio, semakin singkat waktu antara penjualan dan penagihan kas. Standar rasio piutang ini adalah kurang dari 30 hari (Baga et al. 2011). Rumus rasio perputaran piutang yaitu: