TINJAUAN PUSTAKA
A. Teori Terkait
3. Analisis Rasio Keuangan
Analisis rasio keuangan merupakan suatu cara guna menganalisis hubungan dari berbagai pos dalam suatu laporan keuangan. Hasil dari analisis ini merupakan dasar untuk menginterpretasikan kondisi keuangan perusahaan.
Terdapat cara untuk membandingkannya yaitu dengan membandingkan rasio sekarang dengan rasio waktu yang lalu dan membandingkan rasio perusahaan dengan rasio industri pada waktu yang sama (Hamidah, 2019). Analisis rasio keuangan digunakan untuk menilai risiko dan peluang pada masa yang akan datang. Analisis rasio keuangan dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
a. Rasio Likuiditas
Rasio likuiditas adalah kemampuan perusahaan untuk membayar kewajiban-kewajibannya yang segera harus dipenuhi (Sartono, 2011).
Kewajiban yang segera dipenuhi adalah utang jangka pendek, oleh karena itu rasio ini bisa digunakan untuk mengukur tingkat keamanan kreditor jangka pendek, serta mengukur apakah operasi perusahaan tidak akan terganggu bila kewajiban jangka pendek ini segera ditagih. Ukuran rasio likuiditas terdiri dari tiga alat ukur yaitu:
17 1) Current Rasio
Current Rasio merupakan rasio yang membandingkan antara aktiva lancar yang dimiliki perusahaan dengan hutang jangka pendek.
Aktiva lancar meliputi kas, piutang dagang, efek, persediaan, dan aktiva lancar lainnya. Sedangkan hutang jangka pendek meliputi hutang dagang, hutang wesel, hutang bank, hutang gaji, hutang lainnya segera harus dibayar (Sutrisno, 2017). Rumus current rasio adalah:
2) Quick Rasio atau Acid Test Ratio
Quick Rasio merupakan aktiva lancar sesudah dikurangi persediaan dengan hutang lancar. Quick Rasio ini menunjukan besarnya alat likuid yang paling cepat yang bisa digunakan untuk melunasi hutang lancar (Sutrisno, 2017). Rumus quick rasio adalah:
3) Cash Ratio
Cash Ratio adalah rasio yang membandingkan antara kas dan aktiva lancar yang bisa segera menjadi uang kas dengan hutang lancar (Sutrisno, 2017). Rumus Cash Ratio adalah:
πΆπ’πππππ‘ π ππ ππ = Aktiva Lancar Hutang Lancar
ππ’πππ π ππ‘ππ =Aktiva Lancar β Persediaan Hutang Lancar
πΆππ β π ππ‘ππ = Kas + Efek Hutang Lancar
18 b. Rasio Aktivitas
Rasio aktivitas yaitu rasio yang munjukan tingkat aktivitas perusahaan dihubungkan dengan pencapaian penjualan. Semakin tinggi nilai rasio aktivitas, maka tingkat aktivitas perusahaan akan semakin tinggi pula dan sebaliknya (Anwar, 2019). Adapun yang tergolong rasio aktivitas yaitu:
1) Inventory Turn Over atau Perputaran Persediaan
Rasio Inventory Turn Over menunjukan tingkat perputaran persediaan yang dikelola perusahaan. Perusahaan dinilai memiliki aktivitas yang tinggi jika tingkat perputaran persediaannya juga tinggi.
Makin tinggi nilai rasio Inventory Turn Over, maka perusahaan semakin tinggi juga aktivitasnya dan berlaku sebaliknya (Anwar, 2019). Rumus Inventory Turn Over adalah:
2) Receivable Turnover atau Perputaran Piutang
Receivable Turnover adalah ukuran efektivitas pengelolaan piutang. Perputaran piutang yang semakin cepat, maka dapat dikatakan semakin efektif perusahaan dalam mengelola piutangnya (Sutrisno, 2017). Rumus Receivable Turnover adalah:
Perputaran Persediaan =Harga Pokok Penjualan Rata β rata Persediaan
Perputaran Piutang = Penjualan Kredit Rata β rata Piutang
19
3) Fixed Asset Turnover atau Perputaran Aktiva Tetap
Fixed Assets Turnover adalah perbandingan penjualan dengan total aktiva tetap yang dimiliki perusahaan. Rasio ini dipakai guna mengukur efektifitas penggunaan aktiva tetap dalam mendapatkan penghasilan (Sutrisno, 2017). Rumus Fixed Assets Turnover adalah:
4) Total Asset Turnover atau Perputaran Aktiva
Perputaran aktiva adalah ukuran efektivitas pemanfaatan aktiva dalam menghasilkan penjualan, perputaran aktiva yang semakin besar maka semakin efektif perusahaan mengelola aktivanya (Sutrisno, 2017).
Rumus Total Asset Turnover adalah:
c. Rasio Profitabilitas
Rasio profitabilitas merupakan rasio yang mendeskripsikan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba. Semakin besar nilai rasio profitabilitas maka perusahaan dapat dikatakan semakin profitable, serta semakin kecil rasio ini menunjukan perusahaan makin tidak profitable (Anwar, 2019).
Perputaran Aktiva Tetap = Penjualan Aktiva Tetap
πππ‘ππ π΄π π ππ‘ ππ’ππππ£ππ = Penjualan Total Aktiva
20 1) Gross Profit Margin
Rasio ini mendeskripsikan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba kotor dari penjualannya. Apabila nilai rasio ini semakin tinggi maka perusahaan profitable, dan berlaku sebaliknya (Anwar, 2019). Rumus Gross Profit Margin adalah:
2) Net Profit Margin
Menunjukan kinerja perusahaan dilihat dari kemampuan pendapatan bersih terhadap nilai penjualan perusahaan. Perusahaan dipandang baik jika nilai penjualan besar juga berdampak besar terhadap keuntungan bersih (Lukman, 2018). Rumus Net Profit Margin adalah:
3) Return on Asset
Return on Asset mendeskripsikan kemampuan perusahaan dalam memperoleh keuntungan bersih (Harmono, 2016). Nilai rasio yang semakin besar maka perusahaan akan makin profitable, dan semakin kecil nilai rasio ini maka perusahaan tidak profitable. Rumus Return on Asset adalah:
πΊπππ π ππππππ‘ ππππππ = Laba Kotor Penjualan
πππ‘ ππππππ‘ ππππππ = EBIT Penjualan
π ππ‘π’ππ ππ π΄π π ππ‘ = Laba Bersih Total Aktiva
21 4) Return on Equity
Mengukur seberapa besar imbal hasil (return) dari keuntung bersih yang diperoleh terhadap nilai ekuitas (investasi yang dimiliki oleh pemegang saham biasa). Nilai rasio yang tinggi menunjukan seberapa besar rupiah yang ditanam oleh investor untuk menghasilkan keuntungan bersih (Lukman, 2018).
Return on Equity dirumuskan sebagai berikut:
5) Return on Investmen
Return on Investmen adalah kemampuan perusahaan guna menghasilkan laba yang nantinya digunakan untuk investasi yang dikeluarkan. Rumus Return on Investmen adalah:
6) Earning Per Share
Earning Per Share digunakan untuk mengukur seberapa besar keuntungan yang didapat pemegang saham per lembar saham yang dimilikinya (Hastuti, 2020). Rumus Earning Per Share adalah:
π ππ‘π’ππ ππ πΈππ’ππ‘π¦ = Laba Bersih Total Ekuitas
π ππ‘π’ππ ππ πΌππ£ππ π‘πππ = EAT Investasi
πΈππ = πΈππππππ π΄π£πππππ πππ πΆπππππ ππ‘πππβππππππ ππ’ππππ ππ πβππππ ππ πΆπππππ ππ‘πππ ππ’π‘π π‘ππππππ
22 d. Rasio Leverage
Rasio leverage mengukur seberapa jauh perusahaan menggunakan hutang. Beberapa analisis menggunakan istilah rasio sovabilitas, yang berarti mengukur kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban keuangannya (Husnan & Pudjiastuti, 2006). Beberapa rasio yang tergolong di antaranya:
1) Debt to Equity Ratio (DER)
Debt to Equity Ratio menunjukan perbandingan antara hutang dengan modal sendiri. Debt to Equity dihitung dengan rumus:
2) Debt to Asset Ratio (DAR)
Debt to Asset merupakan rasio untuk mengukur seberapa besar perusahaan memakai hutang dalam pembiayaan jumlah asset atau aktivanya. Rumus Debt to Asset:
π·πππ‘ π‘π πΈππ’ππ‘π¦ π ππ‘ππ =Total Kewajiban Modal Sendiri
π·πππ‘ π‘π π΄π π ππ‘ =Total Hutang Total Aktiva
23 3) Rasio Hutang
Penghitungan rasio hutang dilakukan berdasarkan hutang jangka panjang (termasuk kewajiban membayar sewa guna), serta seluruh hutang (Husnan & Pudjiastuti, 2006). Rasio hutang dihitung dengan rumus sebagai berikut:
4) Times Interst Earned Ratio
Times Interst Earned Ratio merupakan rasio yang mengukur berapa banyak laba operasi dan terkadang terdapat penambahan penyusutan dapat membayar bunga utang (Husnan, 1997).Rumus Times Interst Earned Ratio adalah:
5) Debt Service Coverage
Kewajiban finansial yang timbul karena menggunakan hutang tidak hanya karena membayar bunga serta sewa guna (leasing).
Terdapat kewajiban dalam bentuk pembayaran angsuran pokok pinjaman. Debt service coverage dirumuskan, dengan t adalah tarif pajak penghasilan (income tax) (Husnan, 1997). Rumus Debt Service Coverage sebagai berikut:
Rasio Hutang = Hutang Jangka Panjang +Sewa
Hutang Jangka Panjang+Sewa Guna+Modal Sendiri
πππππ πΌππ‘πππ π‘ πΈπππππ =Laba Operasi (+ penyusutan) Bunga
π·πππ‘ π πππ£πππ πΆππ£πππππ = (Laba Operasi + penyusutan) Bunga + Sewa Guna +angs. pokok pinj
1 β t
24 4. Ukuran Perusahaan
Ukuran perusahaan mengukur atas besar aset yang dimiliki oleh perusahaan dimana perusahaan yang besar umumnya memiliki total aset yang besar juga (Sari et al., 2021). Nilai perusahaan mendeskripsikan kemakmuran pemegang saham dalam jangka panjang oleh karena itu tujuan perusahaan dalam jangka panjang adalah memaksimalkan nilai perusahaan (Ulfah & Abbas, 2018).
Mengukur perusahaan yang diproksikan menggunakan Log Natural total aset ini bertujuan guna mengurangi fluktuasi data yang lebih menggunakan Log Natural, jumlah aset menggunakan nilai ratusan miliar bahkan triliun akan disederhanakan tanpa mengganti proporsi jumlah aset yang sebenarnya.
Nilai perusahaan merupakan harga yang bersedia dibayar oleh calon investor seandainya suatu perusahaan akan dijual (Husnan, 1997). Investor akan lebih tertarik pada perusahaan yang ukuran besar karena perusahaan tersebut memiliki aset dalam jumlah besar yang akan berdampak pada peningkatan laba yang dihasilkan perusahaan. Rumus Ukuran Perusahaan:
ππΌππΈ = πΏπ πππ‘ππ π΄π π ππ‘
25 5. Nilai Perusahaan
Nilai perusahaan adalah harga yang disetujui oleh calon pembeli pada saat membeli perusahaan tersebut. Nilai perusahaan adalah konsep penting bagi penanam modal, karena menjadi indikator bagi pasar menilai perusahaan secara menyeluruh (Anggraini & Widhiastuti, 2020). Pentingnya memaksimalkan nilai perusahaan karena dengan adanya nilai perusahaan yang maksimum juga akan memaksimumkan tujuan utama dari perusahaan tersebut.
Nilai perusahaan juga memberikan gambaran kinerja perusahaan baik, dengan adanya gambaran maka akan meyakinkan investor bahwa perusahaan memiliki propek yang baik. Peran untuk nilai perusahaan dalam perusahaan ini sangatlah penting karena semakin tinggi nilai perusahaan maka akan diikuti dengan tingkat kemakmuran pemilik saham tersebut. Tujuan dari perusahaan yaitu guna meningkatkan nilai perusahaan yang dapat dilihat dari harga saham (Noviyanti & Ruslim, 2021). Terdapat rasio nilai pasar yaitu:
a. Price Earning Ratio
Price Earning Ratio merupakan harga pasar perlembar saham dibandingkan dengan laba perlembar saham. Semakin tinggi Price Earning Ratio maka pertumbuhan laba yang diharapkan juga akan mengalami kenaikan hal ini disukai bagi investor (Fahmi, 2018). Adapun rumus Price Earning Ratio adalah:
πππππ πΈππππππ π ππ‘ππ =ππππππ‘ πππππ ππππ βπππ πΈππππππ ππππ βπππ
26 b. Price Book Value (PBV)
Price Book Value (PVB) merupakan rasio yang berfokus lebih pada nilai ekuitas perusahaan. Rasio Price Book Value diartikan sebagai harga pasar suatu saham dibagi dengan Book Value-nya. Semakin tiggi Price Book Value, maka akan semakin mahal pula harga sahamnnya dan Price Book Value juga mencerminkan seberapa jauh perusahaan mampu menciptakan nilai perusahaannya (Fahmi, 2018). Adapun rumus Price Book Value adalah:
c. Tobinβs Q
Penelitian keuangan sebelumnya menggunakan pengukuran nilai perusahaan dilakukan menggunakan Tobinβs Q. Bila nilai Tobinβs Q suatu perusahaan tinggi, akan membentuk investor untuk menanamkan modal pada perusahaan tersebut karena prospek perusahaan akan terlihat baik kedepan. Semakin tinggi tingkat rasio Tobinβs Q suatu perusahaan maka perusahaan tersebut bisa dikatakan mampu serta berhasil dalam menciptakan nilai bagi pemegang saham. Rumus Tobinβs Q adalah:
πππππ π΅πππ ππππ’π =ππππππ‘ πππππ ππππ βπππ π΅πππ π£πππ’π πππ π βπππ
πππππβπ π =Nilai Pasar Ekuitas + Total Hutang Total Aktiva
27 B. Penelitian Terdahulu
Tabel 2. 1 Penelitian Terdahulu
No Judul Penulis Hasil Persamaan Perbedaan
1 Pengaruh
Secara bersamaan variabel IC, DER, DPR, CR, ROE, DR, TATO dan DY terhadap nilai perusahaan berpengaruh, sedangkan DER, CR dan DR terhadap nilai perusahaan berpengaruh secara parsial, sisanya IC, DPR, ROE, TATO dan DY secara individu tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan. berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan pada perusahaan Kosmetik dan Barang Keperluan Rumah Tangga yang Terdaftar di BEI.
Hasil uji t, CR tidak berpengaruh terhadap Tobinβs Q. Sedangkan DER dan NPM
28 Rumah
Tangga yang terdaftar di BEI.
berpengaruh terhadap Tobinβs Q. ROE berpengaruhi terhadap variabel terikat yaitu Tobinsβ
Q. Secara parsial
menunjukkan bahwa variabel
CR dan QR tidak
berpengaruhi terhadap nilai perusahaan. Sedangkan NPM
dan ROA, dan ROE
berpengaruh terhadap nilai perusahaan. (DER) dan Debt to Asset Ratio (DAR) secara simultan tidak memiliki pengaruh yang terhadap Price Book Value
29 (DER) dan Debt to Asset Ratio (DAR) tidak terdapat pengaruh terhadap Price Book Value (PBV).
Hasil penelitian menunjukan bahwa CAR memiliki pengaruh terhadap nilai perusahaan, sedangkan ROA, BOPO, LDR dan NPL tidak memiliki pengaruh terhadap nilai perusahaan. Secara simultan, variabel CAR, ROA,
BOPO, LDR, NPL
berpengaruh terhadap nilai perusahaan.
investasi, terkait dengan penetapan harga aset, kebijakan mitigasi opsi yang akan mempengaruhi nilai investasi dan aset, dan tingkat
30
kedatangan vaksin yang lebih tinggi mengarah pada strategi investasi perusahaan yang lebih agresif. berpengaruh negatif dan signifikan, Leverage berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan. Sedangkan Ukuran perusahaan tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Secara simultan Corporate governance, ukuran perusahaan, dan Leverage berpengaruh terhadap nilai perusahaan (Tobinβs Q).
Hasil menunjukkan bahwa masih ada perusahaan yang memiliki nilai perusahaan
dibawah satu atau
31 perusahaan tersebut memiliki potensi untuk berkembang. pengelolaan aset pada perusahaan berhasil dan saham overvalued sedangkan periode 2018 nilai Q lebih memiliki arti pengelolaan aset berhasil dan saham
32 lebih besar daripada perusahaan independen dan tingkat investasi perusahaan grup lebih tinggi daripada perusahaan independen.
Kedua, Tobin's Q adalah determinan signifikan dari investasi, dan koefisien Tobin's Q lebih besar di perusahaan grup daripada di perusahaan independen, yang menyiratkan bahwa biaya penyesuaian investasi adalah lebih kecil di perusahaan grup daripada di perusahaan independen. antara volatilitas return saham dan Tobin's Q.
(1) investasi tergantung pada rasio Tobinβs Q terhadap nilai likuiditas, dan hubungan antara investasi dan Tobinβs Q perubahan dengan sumber pendanaan; (2) pembiayaan
Variabel
33 and Risk
Management
eksternal yang optimal dan pembayaran dicirikan oleh kebijakan penghalang ganda endogen untuk rasio modal tunai perusahaan; dan (3) manajemen likuiditas dan lindung nilai derivatif adalah alat manajemen risiko yang secara keseluruhan dan domestik memiliki efek yang berbeda pada kinerja perusahaan hotel Cina. Ada yang terbalik hubungan berbentuk U antara
kepemilikan institusional dan kinerja hotel diukur dengan Tobin's Q, dan hubungan berbentuk U yang tegak antara kepemilikan institusional domestik dan pengembalian aset/pengembalian ekuitas.
Namun, tingkat kepemilikan institusional asing ditemukan tidak mempunyai dampak signifikan terhadap kinerja pada perusahaan hotel di Cina.
Menggunakan
34
Tobinβs Q menjadi faktor yang signifikan dalam penjelasan
35 C. Kerangka Pemikiran
Gambar 2. 1. Kerangka Pemikiran
Laporan Keuangan Perusahaan Jakarta Islamic Index (JII) Periode 2011-2020
Teori Dasar
Variabel Independen:
DAR, CR, TATO, ROA, ROE, SIZE
Model Estimasi Data Panel Debt to Asset
Nilai Perusahaan
Common Effect Fixed Effect Random Effect
Uji Chow Uji Hausman
Uji Langrange Multipiler
Normalitas Multikolinearitas Heterokedastisitas Autokorelasi
Uji F Uji t Adjusted π 2
Interpretasi Hasil Current Ratio
DAR
ROE ROA
Firm Size
36 D. Keterkaitan antar Variabel dan Hipotesis
1. Hubungan Debt to Asset terhadap Nilai Perusahaan
Penggunaan hutang bagi perusahaan memiliki beberapa dampak penting:
(i) dengan memakai hutang pemilik ekuitas tidak perlu berbagi kepemilikan dengan pemasok dana, (ii) apabila perusahaan bisa menghasilkan laba yang berasal dari investasi yang dibiayai dengan hutang tersebut, serta keuntungan tersebut lebih besar dari biaya bunga yang harus dibayar, maka tingkat laba pemilik perusahaan akan diperbesar sebagai akibat atas penggunaan hutang tersebut, meskipun risikonya semakin tinggi, dan (iii) para kreditur, sewaktu memberi pinjaman, akan memperhatikan jumlah ekuitas yang dimiliki perusahaan. Semakin besar ekuitasnya maka semakin aman bagi mereka (Husnan & Pudjiastuti, 2018).
Debt to Asset (DAR) dipergunakan untuk mengukur bagian aset yang dibiayai mengunakan hutang. Kebijakan penggunaan hutang oleh manajer memberikan suatu sinyal positif bagi investor bahwa dengan adanya kebijakan dalam penggunaan dana oleh perusahaan dapat mempengaruhin nilai perusahaan. Rasio ini melihat perbandingan utang perusahaan yang berasal dari perbandingan total utang dibagi dengan total aset. Maryati dan Achmad (2020) menunjukan adanya pengaruh Debt to Asset terhadap nilai perusahaan (Tobinβs Q). Investor melihat tingkat risiko berdasarkan Debt to Asset ratio untuk menanamkan investasinya pada perusahaan. Sehingga dapat dikatakan bahwa
37
Debt to Asset dapat memberikan signal kepada investor sebagai dasar mengambil keputusan dalam berinvestasi.
2. Hubungan Current Ratio terhadap Nilai Perusahaan
Likuiditas perusahaan membuktikan kemampuan untuk membayar kewajiban finansial jangka pendek tepat di waktunya. Likuiditas perusahaan ditunjukan pada besar kecilnya aktiva lancar yaitu aktiva yang praktis untuk diubah sebagai kas meliputi kas, surat berharga, piutang, dan persediaan (Sartono, 2011). Rasio Current Ratio ini mengukur seberapa jauh aktiva lancar mampu digunakan untuk memenuhi kewajiban lancarnya. Perusahaan yang mampu memenuhi kewajiban keuangan ketika jatuh tempo berarti perusahaan tersebut dalam keadaan likuid.
Current Ratio yang semakin tinggi maka laba bersih yang didapatkan perusahaan semakin sedikit, karena rasio lancar yang tinggi memberikan adanya kelebihan aktiva lancar yang tidak baik terhadap profitabilitas perusahaan karena aktiva lancar membentuk return yang lebih rendah dibandingkan menggunakan aktiva tetap (Anggraini & Widhiastuti, 2020).
Rasio keuangan dipergunakan guna mengukur tingkat keamanan (Kasmir, 2010). Hal ini dapat memberikan signal kepada investor terkait keadaan perusahaan guna sebagai dasar pengambilan keputusan dalam berinvestasi.
Current Ratio terdapat pengaruh terhadap nilai perusahaan (Tobinβs Q) (Nafisah & Halim 2018) .
38
3. Hubungan Return on Assets terhadap Nilai Perusahaan
Return on Assets merupakan rasio yang dipergunakan dalam mengukur kemampuan perusahaan dalam memperoleh keuntungan. Rasio keuntungan ini menjelaskan informasi seberapa bagus sebuah perusahaan dilihat dari sisi penjualan, keuntungan, aset, investasi yang dimilikinya. Bagi penanam modal yang akan investasi di suatu perusahaan sering terlalu sensitif terhadap trend pendapatan dan keuntungan bersih perusahaan. Profitabilitas yang tinggi sangat diharapkan oleh beberapa pihak dan perusahaan dengan profitabilitas yang tinggi ini akan cenderung lebih banyak diminati oleh investor karena investor berasumsi sebagai sinyal positif yang akan mempengaruhi tingkat pengembalian atas investasinya dimasa yang akan datang. Sesuai dengan teori sinyal, maka profitabilitas yang tinggi akan memberikan sinyal yang dapat dilihat dalam harga sahamnya (Husnan, 1997). Hasil ini sesuai dengan penelitian Return On Assets berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan (Tobinβs Q) (Pangestuti, 2018).
4. Hubungan Return on Equity terhadap Nilai Perusahaan
Return on Equity (ROE) disebut juga dengan keuntungan atas equity.
Rasio ini mempelajari sejauh mana suatu perusahaan mempergunakan sumber daya yang dimiliki guna mampu memberikan keuntungan atau sekuritas (Fahmi, 2018). Return on Equity memberikan gambaran kepada investor mengenai tingkat pengembalian atas modal yang telah diinvestasikan investor terhadap perusahaan. Sinyal ini dapat digunakan untuk menjadi dasar
39
pengambilan keputusan dalam berinvestasi. Semakin banyak investor yang tertarik pada perusahaan maka akan menaikan harga saham perusahaan yang akan mencerminkan nilai perusahaan tersebut naik juga. Rahmantio et al., (2018) dalam penelitiannya menunjukan Return on Equity berpengaruh terhadap nilai perusahaan (Tobinβs Q).
5. Hubungan Ukuran Perusahaan terhadap Nilai Perusahaan
Ukuran perusahaan (SIZE) adalah besar kecilnya perusahaan berdasarkan jumlah aktiva yang dimiliki perusahaan. Sari et al. (2021), Ulfah dan Abbas (2018) menunjukan ukuran perusahaan tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan (Tobinβs Q). Perusahaan besar umumnya lebih mudah dalam mengakses pasar modal dengan demikian perusahaan tersebut memiliki fleksibilitas serta kemampuan untuk mendapatkan dana. Dengan mudahnya mengakses pasar modal maka akan memberikan sinyal dan prospek perusahaan yang baik kepada investor.
40 E. Hipotesis
Hipotesis yaitu pernyataan dugaan sementara tentang hubungan antara dua variabel bahkan lebih. Pengujian hipotesis bertujuan untuk mengetahui kebenaran atau tidak atau guna menerima atau menolak jawaban tentative (Ismayani, 2019). Berdasarkan kerangka pemikiran tentang pengaruh Debt to Asset, Current Ratio, Return on Assets, Return on Equity, dan Ukuran Perusahaan terhadap Nilai Perusahaan maka hipotesis yang dikembangkan dalam penelitian ini sebagai berikut:
1. Hipotesis uji signifikansi simultan (Uji F)
a. H Tidak terdapat pengaruh antara variabel Debt to Asset (DAR), Current Ratio (CR), Return on Assets (ROA), Return on Equity (ROE), dan Ukuran (SIZE) Perusahaan terhadap nilai perusahaan (Tobinβs Q) secara simultan.
b. Ha Terdapat pengaruh antara variabel Debt to Asset (DAR), Current Ratio (CR), Return on Assets (ROA), Return on Equity (ROE), dan Ukuran Perusahaan (SIZE) terhadap nilai perusahaan (Tobinβs Q) secara simultan.
41 2. Hipotesis uji signifikansi parsial (Uji T)
a. H Tidak terdapat pengaruh variabel Debt to Asset (DAR) terhadap nilai perusahaan (Tobinβs Q).
Ha Terdapat pengaruh variabel Debt to Asset (DAR) terhadap nilai perusahaan (Tobinβs Q).
b. H Tidak terdapat pengaruh variabel Current Ratio (CR) terhadap nilai perusahaan (Tobinβs Q).
Ha Terdapat pengaruh variabel Current Ratio (CR) terhadap nilai perusahaan (Tobinβs Q).
c. H Tidak terdapat pengaruh variabel Return on Assets (ROA) terhadap nilai perusahaan (Tobinβs Q).
Ha Terdapat pengaruh variabel Return on Assets (ROA) terhadap nilai perusahaan (Tobinβs Q).
d. H Tidak terdapat pengaruh variabel Return on Equity (ROE) terhadap nilai perusahaan (Tobinβs Q).
Ha Terdapat pengaruh variabel Return on Equity (ROE) terhadap nilai perusahaan (Tobinβs Q).
e. H Tidak terdapat pengaruh variabel Ukuran (SIZE) terhadap nilai perusahaan (Tobinβs Q).
Ha Terdapat pengaruh variabel Ukuran (SIZE) terhadap nilai perusahaan (Tobinβs Q).
42