• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Rasio Keuangan

TINJAUAN PUSTAKA

A. Teori Terkait

3. Analisis Rasio Keuangan

Analisis rasio keuangan merupakan suatu cara guna menganalisis hubungan dari berbagai pos dalam suatu laporan keuangan. Hasil dari analisis ini merupakan dasar untuk menginterpretasikan kondisi keuangan perusahaan.

Terdapat cara untuk membandingkannya yaitu dengan membandingkan rasio sekarang dengan rasio waktu yang lalu dan membandingkan rasio perusahaan dengan rasio industri pada waktu yang sama (Hamidah, 2019). Analisis rasio keuangan digunakan untuk menilai risiko dan peluang pada masa yang akan datang. Analisis rasio keuangan dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

a. Rasio Likuiditas

Rasio likuiditas adalah kemampuan perusahaan untuk membayar kewajiban-kewajibannya yang segera harus dipenuhi (Sartono, 2011).

Kewajiban yang segera dipenuhi adalah utang jangka pendek, oleh karena itu rasio ini bisa digunakan untuk mengukur tingkat keamanan kreditor jangka pendek, serta mengukur apakah operasi perusahaan tidak akan terganggu bila kewajiban jangka pendek ini segera ditagih. Ukuran rasio likuiditas terdiri dari tiga alat ukur yaitu:

17 1) Current Rasio

Current Rasio merupakan rasio yang membandingkan antara aktiva lancar yang dimiliki perusahaan dengan hutang jangka pendek.

Aktiva lancar meliputi kas, piutang dagang, efek, persediaan, dan aktiva lancar lainnya. Sedangkan hutang jangka pendek meliputi hutang dagang, hutang wesel, hutang bank, hutang gaji, hutang lainnya segera harus dibayar (Sutrisno, 2017). Rumus current rasio adalah:

2) Quick Rasio atau Acid Test Ratio

Quick Rasio merupakan aktiva lancar sesudah dikurangi persediaan dengan hutang lancar. Quick Rasio ini menunjukan besarnya alat likuid yang paling cepat yang bisa digunakan untuk melunasi hutang lancar (Sutrisno, 2017). Rumus quick rasio adalah:

3) Cash Ratio

Cash Ratio adalah rasio yang membandingkan antara kas dan aktiva lancar yang bisa segera menjadi uang kas dengan hutang lancar (Sutrisno, 2017). Rumus Cash Ratio adalah:

πΆπ‘’π‘Ÿπ‘Ÿπ‘’π‘›π‘‘ π‘…π‘Žπ‘ π‘–π‘œ = Aktiva Lancar Hutang Lancar

π‘„π‘’π‘–π‘π‘˜ π‘…π‘Žπ‘‘π‘–π‘œ =Aktiva Lancar βˆ’ Persediaan Hutang Lancar

πΆπ‘Žπ‘ β„Ž π‘…π‘Žπ‘‘π‘–π‘œ = Kas + Efek Hutang Lancar

18 b. Rasio Aktivitas

Rasio aktivitas yaitu rasio yang munjukan tingkat aktivitas perusahaan dihubungkan dengan pencapaian penjualan. Semakin tinggi nilai rasio aktivitas, maka tingkat aktivitas perusahaan akan semakin tinggi pula dan sebaliknya (Anwar, 2019). Adapun yang tergolong rasio aktivitas yaitu:

1) Inventory Turn Over atau Perputaran Persediaan

Rasio Inventory Turn Over menunjukan tingkat perputaran persediaan yang dikelola perusahaan. Perusahaan dinilai memiliki aktivitas yang tinggi jika tingkat perputaran persediaannya juga tinggi.

Makin tinggi nilai rasio Inventory Turn Over, maka perusahaan semakin tinggi juga aktivitasnya dan berlaku sebaliknya (Anwar, 2019). Rumus Inventory Turn Over adalah:

2) Receivable Turnover atau Perputaran Piutang

Receivable Turnover adalah ukuran efektivitas pengelolaan piutang. Perputaran piutang yang semakin cepat, maka dapat dikatakan semakin efektif perusahaan dalam mengelola piutangnya (Sutrisno, 2017). Rumus Receivable Turnover adalah:

Perputaran Persediaan =Harga Pokok Penjualan Rata βˆ’ rata Persediaan

Perputaran Piutang = Penjualan Kredit Rata βˆ’ rata Piutang

19

3) Fixed Asset Turnover atau Perputaran Aktiva Tetap

Fixed Assets Turnover adalah perbandingan penjualan dengan total aktiva tetap yang dimiliki perusahaan. Rasio ini dipakai guna mengukur efektifitas penggunaan aktiva tetap dalam mendapatkan penghasilan (Sutrisno, 2017). Rumus Fixed Assets Turnover adalah:

4) Total Asset Turnover atau Perputaran Aktiva

Perputaran aktiva adalah ukuran efektivitas pemanfaatan aktiva dalam menghasilkan penjualan, perputaran aktiva yang semakin besar maka semakin efektif perusahaan mengelola aktivanya (Sutrisno, 2017).

Rumus Total Asset Turnover adalah:

c. Rasio Profitabilitas

Rasio profitabilitas merupakan rasio yang mendeskripsikan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba. Semakin besar nilai rasio profitabilitas maka perusahaan dapat dikatakan semakin profitable, serta semakin kecil rasio ini menunjukan perusahaan makin tidak profitable (Anwar, 2019).

Perputaran Aktiva Tetap = Penjualan Aktiva Tetap

π‘‡π‘œπ‘‘π‘Žπ‘™ 𝐴𝑠𝑠𝑒𝑑 π‘‡π‘’π‘Ÿπ‘›π‘œπ‘£π‘’π‘Ÿ = Penjualan Total Aktiva

20 1) Gross Profit Margin

Rasio ini mendeskripsikan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba kotor dari penjualannya. Apabila nilai rasio ini semakin tinggi maka perusahaan profitable, dan berlaku sebaliknya (Anwar, 2019). Rumus Gross Profit Margin adalah:

2) Net Profit Margin

Menunjukan kinerja perusahaan dilihat dari kemampuan pendapatan bersih terhadap nilai penjualan perusahaan. Perusahaan dipandang baik jika nilai penjualan besar juga berdampak besar terhadap keuntungan bersih (Lukman, 2018). Rumus Net Profit Margin adalah:

3) Return on Asset

Return on Asset mendeskripsikan kemampuan perusahaan dalam memperoleh keuntungan bersih (Harmono, 2016). Nilai rasio yang semakin besar maka perusahaan akan makin profitable, dan semakin kecil nilai rasio ini maka perusahaan tidak profitable. Rumus Return on Asset adalah:

πΊπ‘Ÿπ‘œπ‘ π‘  π‘ƒπ‘Ÿπ‘œπ‘“π‘–π‘‘ π‘€π‘Žπ‘Ÿπ‘”π‘–π‘› = Laba Kotor Penjualan

𝑁𝑒𝑑 π‘ƒπ‘Ÿπ‘œπ‘“π‘–π‘‘ π‘€π‘Žπ‘Ÿπ‘”π‘–π‘› = EBIT Penjualan

π‘…π‘’π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘› π‘œπ‘› 𝐴𝑠𝑠𝑒𝑑 = Laba Bersih Total Aktiva

21 4) Return on Equity

Mengukur seberapa besar imbal hasil (return) dari keuntung bersih yang diperoleh terhadap nilai ekuitas (investasi yang dimiliki oleh pemegang saham biasa). Nilai rasio yang tinggi menunjukan seberapa besar rupiah yang ditanam oleh investor untuk menghasilkan keuntungan bersih (Lukman, 2018).

Return on Equity dirumuskan sebagai berikut:

5) Return on Investmen

Return on Investmen adalah kemampuan perusahaan guna menghasilkan laba yang nantinya digunakan untuk investasi yang dikeluarkan. Rumus Return on Investmen adalah:

6) Earning Per Share

Earning Per Share digunakan untuk mengukur seberapa besar keuntungan yang didapat pemegang saham per lembar saham yang dimilikinya (Hastuti, 2020). Rumus Earning Per Share adalah:

π‘…π‘’π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘› π‘œπ‘› πΈπ‘˜π‘’π‘–π‘‘π‘¦ = Laba Bersih Total Ekuitas

π‘…π‘’π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘› π‘œπ‘› πΌπ‘›π‘£π‘’π‘ π‘‘π‘šπ‘’π‘› = EAT Investasi

𝐸𝑃𝑆 = πΈπ‘Žπ‘Ÿπ‘›π‘–π‘›π‘” π΄π‘£π‘Žπ‘–π‘π‘™π‘’ π‘“π‘œπ‘Ÿ πΆπ‘œπ‘šπ‘šπ‘œπ‘› π‘†π‘‘π‘œπ‘π‘˜β„Žπ‘œπ‘™π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘  π‘π‘’π‘šπ‘π‘’π‘Ÿ π‘œπ‘“ π‘†β„Žπ‘Žπ‘Ÿπ‘’π‘  π‘œπ‘“ πΆπ‘œπ‘šπ‘šπ‘œπ‘› π‘†π‘‘π‘œπ‘π‘˜ π‘‚π‘’π‘‘π‘ π‘‘π‘Žπ‘›π‘‘π‘–π‘›π‘”

22 d. Rasio Leverage

Rasio leverage mengukur seberapa jauh perusahaan menggunakan hutang. Beberapa analisis menggunakan istilah rasio sovabilitas, yang berarti mengukur kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban keuangannya (Husnan & Pudjiastuti, 2006). Beberapa rasio yang tergolong di antaranya:

1) Debt to Equity Ratio (DER)

Debt to Equity Ratio menunjukan perbandingan antara hutang dengan modal sendiri. Debt to Equity dihitung dengan rumus:

2) Debt to Asset Ratio (DAR)

Debt to Asset merupakan rasio untuk mengukur seberapa besar perusahaan memakai hutang dalam pembiayaan jumlah asset atau aktivanya. Rumus Debt to Asset:

𝐷𝑒𝑏𝑑 π‘‘π‘œ πΈπ‘žπ‘’π‘–π‘‘π‘¦ π‘…π‘Žπ‘‘π‘–π‘œ =Total Kewajiban Modal Sendiri

𝐷𝑒𝑏𝑑 π‘‘π‘œ 𝐴𝑠𝑠𝑒𝑑 =Total Hutang Total Aktiva

23 3) Rasio Hutang

Penghitungan rasio hutang dilakukan berdasarkan hutang jangka panjang (termasuk kewajiban membayar sewa guna), serta seluruh hutang (Husnan & Pudjiastuti, 2006). Rasio hutang dihitung dengan rumus sebagai berikut:

4) Times Interst Earned Ratio

Times Interst Earned Ratio merupakan rasio yang mengukur berapa banyak laba operasi dan terkadang terdapat penambahan penyusutan dapat membayar bunga utang (Husnan, 1997).Rumus Times Interst Earned Ratio adalah:

5) Debt Service Coverage

Kewajiban finansial yang timbul karena menggunakan hutang tidak hanya karena membayar bunga serta sewa guna (leasing).

Terdapat kewajiban dalam bentuk pembayaran angsuran pokok pinjaman. Debt service coverage dirumuskan, dengan t adalah tarif pajak penghasilan (income tax) (Husnan, 1997). Rumus Debt Service Coverage sebagai berikut:

Rasio Hutang = Hutang Jangka Panjang +Sewa

Hutang Jangka Panjang+Sewa Guna+Modal Sendiri

π‘‡π‘–π‘šπ‘’π‘  πΌπ‘›π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘ π‘‘ πΈπ‘Žπ‘Ÿπ‘›π‘’π‘‘ =Laba Operasi (+ penyusutan) Bunga

𝐷𝑒𝑏𝑑 π‘ π‘’π‘Ÿπ‘£π‘–π‘π‘’ πΆπ‘œπ‘£π‘’π‘Ÿπ‘Žπ‘”π‘’ = (Laba Operasi + penyusutan) Bunga + Sewa Guna +angs. pokok pinj

1 βˆ’ t

24 4. Ukuran Perusahaan

Ukuran perusahaan mengukur atas besar aset yang dimiliki oleh perusahaan dimana perusahaan yang besar umumnya memiliki total aset yang besar juga (Sari et al., 2021). Nilai perusahaan mendeskripsikan kemakmuran pemegang saham dalam jangka panjang oleh karena itu tujuan perusahaan dalam jangka panjang adalah memaksimalkan nilai perusahaan (Ulfah & Abbas, 2018).

Mengukur perusahaan yang diproksikan menggunakan Log Natural total aset ini bertujuan guna mengurangi fluktuasi data yang lebih menggunakan Log Natural, jumlah aset menggunakan nilai ratusan miliar bahkan triliun akan disederhanakan tanpa mengganti proporsi jumlah aset yang sebenarnya.

Nilai perusahaan merupakan harga yang bersedia dibayar oleh calon investor seandainya suatu perusahaan akan dijual (Husnan, 1997). Investor akan lebih tertarik pada perusahaan yang ukuran besar karena perusahaan tersebut memiliki aset dalam jumlah besar yang akan berdampak pada peningkatan laba yang dihasilkan perusahaan. Rumus Ukuran Perusahaan:

𝑆𝐼𝑍𝐸 = 𝐿𝑛 π‘‡π‘œπ‘‘π‘Žπ‘™ 𝐴𝑠𝑠𝑒𝑑

25 5. Nilai Perusahaan

Nilai perusahaan adalah harga yang disetujui oleh calon pembeli pada saat membeli perusahaan tersebut. Nilai perusahaan adalah konsep penting bagi penanam modal, karena menjadi indikator bagi pasar menilai perusahaan secara menyeluruh (Anggraini & Widhiastuti, 2020). Pentingnya memaksimalkan nilai perusahaan karena dengan adanya nilai perusahaan yang maksimum juga akan memaksimumkan tujuan utama dari perusahaan tersebut.

Nilai perusahaan juga memberikan gambaran kinerja perusahaan baik, dengan adanya gambaran maka akan meyakinkan investor bahwa perusahaan memiliki propek yang baik. Peran untuk nilai perusahaan dalam perusahaan ini sangatlah penting karena semakin tinggi nilai perusahaan maka akan diikuti dengan tingkat kemakmuran pemilik saham tersebut. Tujuan dari perusahaan yaitu guna meningkatkan nilai perusahaan yang dapat dilihat dari harga saham (Noviyanti & Ruslim, 2021). Terdapat rasio nilai pasar yaitu:

a. Price Earning Ratio

Price Earning Ratio merupakan harga pasar perlembar saham dibandingkan dengan laba perlembar saham. Semakin tinggi Price Earning Ratio maka pertumbuhan laba yang diharapkan juga akan mengalami kenaikan hal ini disukai bagi investor (Fahmi, 2018). Adapun rumus Price Earning Ratio adalah:

π‘ƒπ‘Ÿπ‘–π‘π‘’ πΈπ‘Žπ‘Ÿπ‘›π‘–π‘›π‘” π‘…π‘Žπ‘‘π‘–π‘œ =π‘€π‘Žπ‘Ÿπ‘˜π‘’π‘‘ π‘ƒπ‘Ÿπ‘–π‘π‘’ π‘ƒπ‘’π‘Ÿπ‘ β„Žπ‘Žπ‘Ÿπ‘’ πΈπ‘Žπ‘Ÿπ‘›π‘–π‘›π‘” π‘ƒπ‘’π‘Ÿπ‘ β„Žπ‘Žπ‘Ÿπ‘’

26 b. Price Book Value (PBV)

Price Book Value (PVB) merupakan rasio yang berfokus lebih pada nilai ekuitas perusahaan. Rasio Price Book Value diartikan sebagai harga pasar suatu saham dibagi dengan Book Value-nya. Semakin tiggi Price Book Value, maka akan semakin mahal pula harga sahamnnya dan Price Book Value juga mencerminkan seberapa jauh perusahaan mampu menciptakan nilai perusahaannya (Fahmi, 2018). Adapun rumus Price Book Value adalah:

c. Tobin’s Q

Penelitian keuangan sebelumnya menggunakan pengukuran nilai perusahaan dilakukan menggunakan Tobin’s Q. Bila nilai Tobin’s Q suatu perusahaan tinggi, akan membentuk investor untuk menanamkan modal pada perusahaan tersebut karena prospek perusahaan akan terlihat baik kedepan. Semakin tinggi tingkat rasio Tobin’s Q suatu perusahaan maka perusahaan tersebut bisa dikatakan mampu serta berhasil dalam menciptakan nilai bagi pemegang saham. Rumus Tobin’s Q adalah:

π‘ƒπ‘Ÿπ‘–π‘π‘’ π΅π‘œπ‘œπ‘˜ π‘‰π‘Žπ‘™π‘’π‘’ =π‘€π‘Žπ‘Ÿπ‘˜π‘’π‘‘ π‘ƒπ‘Ÿπ‘–π‘π‘’ π‘ƒπ‘’π‘Ÿπ‘ β„Žπ‘Žπ‘Ÿπ‘’ π΅π‘œπ‘œπ‘˜ π‘£π‘Žπ‘™π‘’π‘’ π‘π‘’π‘Ÿ π‘ β„Žπ‘Žπ‘Ÿπ‘’

π‘‡π‘œπ‘π‘–π‘›β€™π‘  𝑄 =Nilai Pasar Ekuitas + Total Hutang Total Aktiva

27 B. Penelitian Terdahulu

Tabel 2. 1 Penelitian Terdahulu

No Judul Penulis Hasil Persamaan Perbedaan

1 Pengaruh

Secara bersamaan variabel IC, DER, DPR, CR, ROE, DR, TATO dan DY terhadap nilai perusahaan berpengaruh, sedangkan DER, CR dan DR terhadap nilai perusahaan berpengaruh secara parsial, sisanya IC, DPR, ROE, TATO dan DY secara individu tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan. berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan pada perusahaan Kosmetik dan Barang Keperluan Rumah Tangga yang Terdaftar di BEI.

Hasil uji t, CR tidak berpengaruh terhadap Tobin’s Q. Sedangkan DER dan NPM

28 Rumah

Tangga yang terdaftar di BEI.

berpengaruh terhadap Tobin’s Q. ROE berpengaruhi terhadap variabel terikat yaitu Tobins’

Q. Secara parsial

menunjukkan bahwa variabel

CR dan QR tidak

berpengaruhi terhadap nilai perusahaan. Sedangkan NPM

dan ROA, dan ROE

berpengaruh terhadap nilai perusahaan. (DER) dan Debt to Asset Ratio (DAR) secara simultan tidak memiliki pengaruh yang terhadap Price Book Value

29 (DER) dan Debt to Asset Ratio (DAR) tidak terdapat pengaruh terhadap Price Book Value (PBV).

Hasil penelitian menunjukan bahwa CAR memiliki pengaruh terhadap nilai perusahaan, sedangkan ROA, BOPO, LDR dan NPL tidak memiliki pengaruh terhadap nilai perusahaan. Secara simultan, variabel CAR, ROA,

BOPO, LDR, NPL

berpengaruh terhadap nilai perusahaan.

investasi, terkait dengan penetapan harga aset, kebijakan mitigasi opsi yang akan mempengaruhi nilai investasi dan aset, dan tingkat

30

kedatangan vaksin yang lebih tinggi mengarah pada strategi investasi perusahaan yang lebih agresif. berpengaruh negatif dan signifikan, Leverage berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan. Sedangkan Ukuran perusahaan tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Secara simultan Corporate governance, ukuran perusahaan, dan Leverage berpengaruh terhadap nilai perusahaan (Tobin’s Q).

Hasil menunjukkan bahwa masih ada perusahaan yang memiliki nilai perusahaan

dibawah satu atau

31 perusahaan tersebut memiliki potensi untuk berkembang. pengelolaan aset pada perusahaan berhasil dan saham overvalued sedangkan periode 2018 nilai Q lebih memiliki arti pengelolaan aset berhasil dan saham

32 lebih besar daripada perusahaan independen dan tingkat investasi perusahaan grup lebih tinggi daripada perusahaan independen.

Kedua, Tobin's Q adalah determinan signifikan dari investasi, dan koefisien Tobin's Q lebih besar di perusahaan grup daripada di perusahaan independen, yang menyiratkan bahwa biaya penyesuaian investasi adalah lebih kecil di perusahaan grup daripada di perusahaan independen. antara volatilitas return saham dan Tobin's Q.

(1) investasi tergantung pada rasio Tobin’s Q terhadap nilai likuiditas, dan hubungan antara investasi dan Tobin’s Q perubahan dengan sumber pendanaan; (2) pembiayaan

Variabel

33 and Risk

Management

eksternal yang optimal dan pembayaran dicirikan oleh kebijakan penghalang ganda endogen untuk rasio modal tunai perusahaan; dan (3) manajemen likuiditas dan lindung nilai derivatif adalah alat manajemen risiko yang secara keseluruhan dan domestik memiliki efek yang berbeda pada kinerja perusahaan hotel Cina. Ada yang terbalik hubungan berbentuk U antara

kepemilikan institusional dan kinerja hotel diukur dengan Tobin's Q, dan hubungan berbentuk U yang tegak antara kepemilikan institusional domestik dan pengembalian aset/pengembalian ekuitas.

Namun, tingkat kepemilikan institusional asing ditemukan tidak mempunyai dampak signifikan terhadap kinerja pada perusahaan hotel di Cina.

Menggunakan

34

Tobin’s Q menjadi faktor yang signifikan dalam penjelasan

35 C. Kerangka Pemikiran

Gambar 2. 1. Kerangka Pemikiran

Laporan Keuangan Perusahaan Jakarta Islamic Index (JII) Periode 2011-2020

Teori Dasar

Variabel Independen:

DAR, CR, TATO, ROA, ROE, SIZE

Model Estimasi Data Panel Debt to Asset

Nilai Perusahaan

Common Effect Fixed Effect Random Effect

Uji Chow Uji Hausman

Uji Langrange Multipiler

Normalitas Multikolinearitas Heterokedastisitas Autokorelasi

Uji F Uji t Adjusted 𝑅2

Interpretasi Hasil Current Ratio

DAR

ROE ROA

Firm Size

36 D. Keterkaitan antar Variabel dan Hipotesis

1. Hubungan Debt to Asset terhadap Nilai Perusahaan

Penggunaan hutang bagi perusahaan memiliki beberapa dampak penting:

(i) dengan memakai hutang pemilik ekuitas tidak perlu berbagi kepemilikan dengan pemasok dana, (ii) apabila perusahaan bisa menghasilkan laba yang berasal dari investasi yang dibiayai dengan hutang tersebut, serta keuntungan tersebut lebih besar dari biaya bunga yang harus dibayar, maka tingkat laba pemilik perusahaan akan diperbesar sebagai akibat atas penggunaan hutang tersebut, meskipun risikonya semakin tinggi, dan (iii) para kreditur, sewaktu memberi pinjaman, akan memperhatikan jumlah ekuitas yang dimiliki perusahaan. Semakin besar ekuitasnya maka semakin aman bagi mereka (Husnan & Pudjiastuti, 2018).

Debt to Asset (DAR) dipergunakan untuk mengukur bagian aset yang dibiayai mengunakan hutang. Kebijakan penggunaan hutang oleh manajer memberikan suatu sinyal positif bagi investor bahwa dengan adanya kebijakan dalam penggunaan dana oleh perusahaan dapat mempengaruhin nilai perusahaan. Rasio ini melihat perbandingan utang perusahaan yang berasal dari perbandingan total utang dibagi dengan total aset. Maryati dan Achmad (2020) menunjukan adanya pengaruh Debt to Asset terhadap nilai perusahaan (Tobin’s Q). Investor melihat tingkat risiko berdasarkan Debt to Asset ratio untuk menanamkan investasinya pada perusahaan. Sehingga dapat dikatakan bahwa

37

Debt to Asset dapat memberikan signal kepada investor sebagai dasar mengambil keputusan dalam berinvestasi.

2. Hubungan Current Ratio terhadap Nilai Perusahaan

Likuiditas perusahaan membuktikan kemampuan untuk membayar kewajiban finansial jangka pendek tepat di waktunya. Likuiditas perusahaan ditunjukan pada besar kecilnya aktiva lancar yaitu aktiva yang praktis untuk diubah sebagai kas meliputi kas, surat berharga, piutang, dan persediaan (Sartono, 2011). Rasio Current Ratio ini mengukur seberapa jauh aktiva lancar mampu digunakan untuk memenuhi kewajiban lancarnya. Perusahaan yang mampu memenuhi kewajiban keuangan ketika jatuh tempo berarti perusahaan tersebut dalam keadaan likuid.

Current Ratio yang semakin tinggi maka laba bersih yang didapatkan perusahaan semakin sedikit, karena rasio lancar yang tinggi memberikan adanya kelebihan aktiva lancar yang tidak baik terhadap profitabilitas perusahaan karena aktiva lancar membentuk return yang lebih rendah dibandingkan menggunakan aktiva tetap (Anggraini & Widhiastuti, 2020).

Rasio keuangan dipergunakan guna mengukur tingkat keamanan (Kasmir, 2010). Hal ini dapat memberikan signal kepada investor terkait keadaan perusahaan guna sebagai dasar pengambilan keputusan dalam berinvestasi.

Current Ratio terdapat pengaruh terhadap nilai perusahaan (Tobin’s Q) (Nafisah & Halim 2018) .

38

3. Hubungan Return on Assets terhadap Nilai Perusahaan

Return on Assets merupakan rasio yang dipergunakan dalam mengukur kemampuan perusahaan dalam memperoleh keuntungan. Rasio keuntungan ini menjelaskan informasi seberapa bagus sebuah perusahaan dilihat dari sisi penjualan, keuntungan, aset, investasi yang dimilikinya. Bagi penanam modal yang akan investasi di suatu perusahaan sering terlalu sensitif terhadap trend pendapatan dan keuntungan bersih perusahaan. Profitabilitas yang tinggi sangat diharapkan oleh beberapa pihak dan perusahaan dengan profitabilitas yang tinggi ini akan cenderung lebih banyak diminati oleh investor karena investor berasumsi sebagai sinyal positif yang akan mempengaruhi tingkat pengembalian atas investasinya dimasa yang akan datang. Sesuai dengan teori sinyal, maka profitabilitas yang tinggi akan memberikan sinyal yang dapat dilihat dalam harga sahamnya (Husnan, 1997). Hasil ini sesuai dengan penelitian Return On Assets berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan (Tobin’s Q) (Pangestuti, 2018).

4. Hubungan Return on Equity terhadap Nilai Perusahaan

Return on Equity (ROE) disebut juga dengan keuntungan atas equity.

Rasio ini mempelajari sejauh mana suatu perusahaan mempergunakan sumber daya yang dimiliki guna mampu memberikan keuntungan atau sekuritas (Fahmi, 2018). Return on Equity memberikan gambaran kepada investor mengenai tingkat pengembalian atas modal yang telah diinvestasikan investor terhadap perusahaan. Sinyal ini dapat digunakan untuk menjadi dasar

39

pengambilan keputusan dalam berinvestasi. Semakin banyak investor yang tertarik pada perusahaan maka akan menaikan harga saham perusahaan yang akan mencerminkan nilai perusahaan tersebut naik juga. Rahmantio et al., (2018) dalam penelitiannya menunjukan Return on Equity berpengaruh terhadap nilai perusahaan (Tobin’s Q).

5. Hubungan Ukuran Perusahaan terhadap Nilai Perusahaan

Ukuran perusahaan (SIZE) adalah besar kecilnya perusahaan berdasarkan jumlah aktiva yang dimiliki perusahaan. Sari et al. (2021), Ulfah dan Abbas (2018) menunjukan ukuran perusahaan tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan (Tobin’s Q). Perusahaan besar umumnya lebih mudah dalam mengakses pasar modal dengan demikian perusahaan tersebut memiliki fleksibilitas serta kemampuan untuk mendapatkan dana. Dengan mudahnya mengakses pasar modal maka akan memberikan sinyal dan prospek perusahaan yang baik kepada investor.

40 E. Hipotesis

Hipotesis yaitu pernyataan dugaan sementara tentang hubungan antara dua variabel bahkan lebih. Pengujian hipotesis bertujuan untuk mengetahui kebenaran atau tidak atau guna menerima atau menolak jawaban tentative (Ismayani, 2019). Berdasarkan kerangka pemikiran tentang pengaruh Debt to Asset, Current Ratio, Return on Assets, Return on Equity, dan Ukuran Perusahaan terhadap Nilai Perusahaan maka hipotesis yang dikembangkan dalam penelitian ini sebagai berikut:

1. Hipotesis uji signifikansi simultan (Uji F)

a. H Tidak terdapat pengaruh antara variabel Debt to Asset (DAR), Current Ratio (CR), Return on Assets (ROA), Return on Equity (ROE), dan Ukuran (SIZE) Perusahaan terhadap nilai perusahaan (Tobin’s Q) secara simultan.

b. Ha Terdapat pengaruh antara variabel Debt to Asset (DAR), Current Ratio (CR), Return on Assets (ROA), Return on Equity (ROE), dan Ukuran Perusahaan (SIZE) terhadap nilai perusahaan (Tobin’s Q) secara simultan.

41 2. Hipotesis uji signifikansi parsial (Uji T)

a. H Tidak terdapat pengaruh variabel Debt to Asset (DAR) terhadap nilai perusahaan (Tobin’s Q).

Ha Terdapat pengaruh variabel Debt to Asset (DAR) terhadap nilai perusahaan (Tobin’s Q).

b. H Tidak terdapat pengaruh variabel Current Ratio (CR) terhadap nilai perusahaan (Tobin’s Q).

Ha Terdapat pengaruh variabel Current Ratio (CR) terhadap nilai perusahaan (Tobin’s Q).

c. H Tidak terdapat pengaruh variabel Return on Assets (ROA) terhadap nilai perusahaan (Tobin’s Q).

Ha Terdapat pengaruh variabel Return on Assets (ROA) terhadap nilai perusahaan (Tobin’s Q).

d. H Tidak terdapat pengaruh variabel Return on Equity (ROE) terhadap nilai perusahaan (Tobin’s Q).

Ha Terdapat pengaruh variabel Return on Equity (ROE) terhadap nilai perusahaan (Tobin’s Q).

e. H Tidak terdapat pengaruh variabel Ukuran (SIZE) terhadap nilai perusahaan (Tobin’s Q).

Ha Terdapat pengaruh variabel Ukuran (SIZE) terhadap nilai perusahaan (Tobin’s Q).

42

BAB III

Dokumen terkait